Monday, January 15, 2007

Making a Lifetime Decision

Rupanya gw memang sudah benar2 tergolong kaum urban yang individualistis (atau autistik?). Terbukti melalui tidak kenalnya gw dengan tetangga yang jaraknya cuma 300m dari rumah gw. Ini dihitung tidak tegak lurus lho ya, tapi mengikuti jalan yang berkelok, karena rumahnya berjarak 1 blok dari rumah gw. Kalau dihitung garis tegak lurusnya prestasi gw lebih bombastis lagi: karena jaraknya kurang lebih cuma 15m ke arah belakang rumah gw ;-)

Gw baru pertama kali lihat wajah tetangga gw, Jeng April ini, dari.. INFOTAINMENT! Hehehe.. iya, gara2 nonton infotainment acara Midodareni Koes Hendratmo dan ngerasa melihat familiar neighborhood, baru gw ngeh bahwa April yang rumahnya di belakang rumah gw adalah April yang itu.

Tapi hari ini gak mau ngebahas tentang keindividualisan (atau keautistikan?) gw. Gw lebih tertarik ngebahas sisi gosipnya.. hehehe..

Dari infotainment juga, gw baru tahu bahwa pernikahan kedua ini digelar hanya 3 bulan setelah bercerai. Ada gosip bahwa Jeng April adalah sosok di balik perceraian itu, makanya Oom Koes gak butuh waktu lama untuk nikah lagi. Tapi yang bersangkutan menolak tegas, dan mengatakan bahwa baru mau sama si Oom setelah proses perceraian beres.

Uhm.. lepas dari berapa lama hubungan mereka, ditinjau dari sudut mana pun gw menyayangkan jarak pernikahan kedua ini dari perceraian. Memang sih, dari aturan agama maupun hukum tidak ada yang salah. Tapi.. dalam hidup ini, selain ada aturan benar-salah yang disebut hukum, ada juga konsensus tentang baik-buruk yang lazimnya disebut etika.

Etika itu batasannya tidak sekaku hukum. Malah biasanya personal, regional, atau kultural. Makanya, apa yang baik bagi individu/lokasi/budaya tertentu belum tentu bisa diterapkan di setting yang berbeda. Tapi.. justru karena batasannya yang fleksibel ini, rasanya kita mesti lebih hati2 kalau mau melakukan sesuatu. Harus pintar2 mencari irisan himpunan antara apa yang kita anggap baik dengan apa yang dianggap baik oleh orang lain. Ya nggak sih?

Dalam kasus ini, gw kok ngerasa kedua mempelai kurang memperhatikan perasaan anak2nya si Oom. OK lah, kalau nggak mau mikirin perasaan mantan istrinya.. hehehe.. konon, lantaran suami dan istri tuh ketemunya udah sama2 gede, udah pernah jadi ”orang asing”, lebih mudah juga menjadi asing lagi (baca: tidak memperhatikan perasaan mantan pasangannya) jika sudah berpisah. Tapi.. kalau yang namanya anak kan nggak pernah jadi mantan anak ya? Apa nggak bisa empati sedikit dengan perasaan anak2nya?

Kalau gw jadi anaknya, gw juga bakal il-feel bokap gw menikahi perempuan lain hanya 3 bulan setelah menceraikan nyokap gw. Bukannya nggak rela bokap menikah lagi. Bukan juga menggantang asap ingin bo-nyok bersatu lagi. Cuma.. rasanya gimanaaaa gitu. Seolah2 nyokap cuma pelepah tebu yang habis manis sepah dibuang. Seolah2 pernikahan bertahun2 nggak ada artinya, nggak perlu disesali perpisahannya.. Seolah2 istri tuh cuma barang fungsional, nggak ada nilai historis dan emosionalnya, sehingga hanya dalam 3 bulan aja bisa ganti model.. hehehe.. Sebagai anak, gw juga bakal mikir: kalau nyokap gw hanya barang fungsional, lantas gw [sebagai by product pernikahan mereka] dianggap apaan?

Makanya.. gw ngerti banget kalau anak2nya si Oom tidak ada yang mau menghadiri acara ayahnya. Dan gw setuju banget kata2 mantan istri si Oom, ”Bukan menikahnya yang membuat anak2 marah. Tapi caranya.”

***

Selain masalah etika, ada juga landasan teori bahwa sebaiknya pernikahan berikutnya nggak terburu2. Perceraian adalah major life change dalam hidup manusia, dan termasuk yang paling menimbulkan stres berat. Tahapan emosionalnya ada empat, dan bukan saja dialami oleh pasangan yang bercerai, melainkan juga oleh kerabat dekatnya (termasuk anak):

1. Shock and Disbelief

2. Initial Adjustment

3. Active Reorganization

4. Life Reformation

Tahap 1 sih biasanya cepat. Ini hanya initial reaction terhadap perubahan besar. Mungkin berlangsung beberapa hari sampai beberapa bulan saja. Tahap 2 itu yang biasanya paling lama dan paling berat. Di sini benar2 terjadi yang disebut sebagai emotional roller coaster, dan bisa berlangsung hingga bertahun2. Karena emosi yang tidak stabil inilah maka tahap 2 menjadi saat yang paling buruk untuk mengambil keputusan seumur hidup. Setelah tahap 2 ini berlalu, maka baru dapat disarankan untuk menata ulang hidupnya, sebelum benar2 menjalani hidup baru di tahap 4.

Kurun 3 bulan setelah perceraian sih biasanya orang masih di tahap 2, tahap yang untuk berkencan pun kurang ideal, apalagi untuk menikah.

Dan jangan lupa, anak2 pasangan ini juga masih berada di tahap 2. Luka lamanya aja belum sembuh, udah ditambah luka baru.. :-( Gimana rasanya? Bagaimana akibatnya?

***

Kemarin infotainment membahas kasus ini dari sudut kebutuhan seksual laki2. Tapi menurut analisis bapaknyaima sih bukan masalah itu. Lebih ke arah masalah kasmaran. Kata bapaknyaima, dari cara bicara dan pemilihan kalimatnya, terlihat sekali si Oom sedang kasmaran. Yaah, kalau orang sedang kasmaran, memang harus dimaklumi kalau ulahnya agak gila2an. What do you expect? Konon t**i kambing pun terasa coklat kan? Hehehe.. Apalagi perempuan muda ;-)

Tapi kalau menurut gw sih justru kasmaran ini adalah another reason for not making a lifetime decision. Jangan sampai begitu mendarat ke bumi baru sadar bahwa ini bukan coklat yang disukainya.

*Eh, coklat pun ada jenis2nya kan? Ada coklat jenis enak, coklat jenis lebih enak, dan coklat jenis enak banget.. HAHAHA..*

Kalau yang laki2 tidak cukup mampu untuk menahan diri dari membuat keputusan (maklum, kata Robin Williams kanGod gave man a penis and a brain, but only enough blood to run one at a time”.. oops, no offense to the men ;-)), maka tugas ini jatuh ke tangan si perempuan. Toh ini keputusan seumur hidup buat dia juga kan?

Gw mencoba menempatkan diri sebagai si Jeng April ini. Kalau gw akan menikah dengan duda yang anaknya sudah besar2, maka gw justru akan lebih hati2 dan lebih taktis. Memenangkan hati anak2 tiri yang masih kecil cenderung lebih mudah karena mereka masih polos. Masih lebih mudah menyamakan sistem nilai dengan mereka. Tapi.. kalau anak tirinya sudah dewasa, kan menyamakan persepsinya jauh lebih susah. And making them my enemy is the last thing I want to do. Kalau gw harus masuk ke sebuah keluarga, jadi orang baru di lingkungan yang sudah relatif settled, nggak nyaman juga kalau gw harus teralienasi, apalagi dimusuhi ;-)

Tapi entahlah.. mungkin gw kelewat perasa untuk kasus yang satu ini.. hehehe.. kemana, coba, logika yang gw bangga2kan itu? HAHAHAHA.. Kan kalau secara logika nggak ada yang salah dengan keputusan mereka. Perasaan anak2nya? Meneketehe.. emangnya [harus] gw pikirin ;-)?

UPDATE 16 Januari 2007:

BTW busway, sebelum comment box gw jadi kolom gosip, gw mau menegaskan aja bahwa gw gak perduli kenapa bapak ini bercerai dan kenapa bapak ini nikah lagi. Gw cuma pingin mempermasalahkan kenapa nikah lagi secepat ini ;-). Sekali ini gw mempermasalah when, bukan why ;-) Jodoh memang di tangan Tuhan, tapi teknis pelaksanaannya kan di tangan manusia ;-).