Showing posts with label Simply Review. Show all posts
Showing posts with label Simply Review. Show all posts

Tuesday, July 24, 2018

"Nama Besar" Memang Jaminan Mutu

Selasa, 17 Juli, malam tiba-tiba bapaknya ImaNara telfon menanyakan STNK ada di mana. Dengan santai gw jawab, "Ya di dompet kunci mobil lah!", sambil mikir dalam hati: ini orang kenapa sih? Emangnya tuh STNK bakal jalan2 kemana??

Nggak lama anaknya mertua ini telfon lagi: "Yakin? Periksa dulu deh! Soalnya ini ada yang WA aku bilang dia habis nganterin STNK atas nama Bapak Praj ke rumah"

Masih sotoy gw menjawab bahwa gw yakin. Tapi sambil bersungut2 ya memeriksa juga apakah STNK nggak ada. Dalam hati sudah berniat bakal gw jejelin tuh foto STNK ke mukanya kalau ada :D Paling juga yang ngaku2 nganter itu penipu! Macam penipu yang suka bilang kita menang undian apaan itu.

Eeeh ... ternyata ... STNK TIDAK ADA DI TEMPATNYA!!!

Bersamaan itu gw ditelfon lagi: "Aku baru lihat fotonya. Benar itu STNK kamu! Pasti nggak ada kan di dompet? Katanya jatuh di pelataran Starbucks, ini yang nganterin pegawai Starbucks"

***

Setelah mendapat kepastian bahwa itu adalah STNK yang hilang dan ditemukan di pelataran Starbucks, pertanyaan gw adalah: Starbucks yang mana? Maklum ... ada 3 Starbucks yang menghiasi (tsah!) hari2 gw secara teratur: Starbucks Pasaraya Blok M depan kantor (tempat kalau pagi "meeting" sama barista dulu biar melek), Starbucks Rawamangun di Jl Paus (tempat kerja kalau hari Jumat, harinya work from home sebelum jemput anak lanang), dan akhir2 ini Starbucks Green Pramuka Square (di bawah apartemen sewaan tempat kami mengungsi 2 bulan selama rumah direnovasi).

Iyaa ... hidup gw emang complicated banget ... sampai Starbucks pun harus tiga :-))

Kalau dipikir2, logikanya sih itu STNK nggak mungkin jatuh di Starbucks Pasaraya ataupun Green Pramuka. Gw nggak pernah bawa mobil ke kantor, ya keleus bahwa STNK doang. Ke Green Pramuka sih beberapa kali bawa kunci mobil, tapi ... kan gak ada pelataran di sana? Jadi ... mestinya jatuh di Starbucks Rawamangun.

Tapi kapan ke Starbucks Rawamangunnya? Wong sudah beberapa minggu terakhir mengendap di Green Pramuka :D 

Namun ... laksana dapat aha! moment, gw ingat bahwa gw mengunjungi Starbucks Rawamangun pada Friday, the 13th of July 2018. Sesuai dengan namanya, hari itu memang sial banget bagi gw. Udah lift di Green Pramuka ke parkir di basement P2 mati (sehingga gw mesti jalan ke bawah 3 lantai!!), kena denda bayar parkir IDR 450.000 plus ongkos parkir 8 hari sebesar IDR 80.000 jadi totalnya IDR 530.000 lagi! 

(Iya ... di Green Pramuka City tenant yang nggak mengeluarkan mobil dari parkiran lebih dari 5 hari akan kena denda IDR 150.000 per 24 jam. Berhubung gw baru balik dari bertugas ke KL, itu mobil otomatis sudah ngendon di parkiran selama 8 hari.  Jadi ... yaaah ... kena denda 3 hari deh! Huhuhu .... rugi bandar!)

Karena a series of unfortunate events itu, gw memutuskan untuk menghilangkan kesedihan (halah!) dengan ngopi dulu di Starbucks Rawamangun sebelum menengok rumah yang direnovasi bersama anak2 gw. Lha ... kok ndilalah mobil menolak dinyalakan setelah gw selesai ngopi!! Jadi ... dengan kesedihan dan kegalauan yang bertambah, gw dan anak2 gw mencari bantuan mendorong mobil.

Pak Dodi yang sebelah kiri, bukan kanan
Mungkin di saat itulah STNK gw jatuh. Tapi gw nggak sadar. Dan nggak akan pernah sadar jika Pak Dodi "Backbone", security officer di Starbucks Rawamangun, nggak mengantarkan STNK itu ke rumah. Pakai harus "berdebat" dengan suami gw pulak ... lantaran gw haqqul yaqqin STNK-nya nggak hilang.

Jadi ... dengan rasa penuh terima kasih, gw sempatkan menemui Pak Dodi pada Jumat, 20 Juli. Sangat mudah bagi beliau untuk gak peduli ... atau setidaknya membiarkan STNK itu di Starbucks sampai saya sadar dan mencarinya (yang entah sampai kapan itu). Tetapi beliau dengan baik hati bersusah payah mengantarkannya ke rumah saya. 

Terima kasih, Pak Dodi, atas kebaikan dan kepedulian Bapak. 

Dan mengutip bapaknya ImaNara: "'Nama besar' itu memang jaminan mutu ya? Mereka punya standard agar konsumen puas. Sampai security officer pun ikut memastikan konsumen puas"

Jadi ... terima kasih Starbucks Indonesia! Kalian beruntung punya pegawai seperti Pak Dodi yang ikut serta memastikan kepuasan pelanggannya!

(Eh ... tapi jangan jadi alasan buat teman2 untuk menjatuhkan STNK di Starbucks ya. LOL)

Sunday, May 27, 2018

Merajut “Lima” dalam Sonata

Gemar blogging dan suka menulis tentang film yang saya tonton. Mungkin kedua hal itu yang membuat saya beruntung ditawari menonton preview film “Lima”. Tentu dengan harapan saya kemudian menuliskan sebuah telaah setelahnya - yang dapat memantapkan calon penonton melangkahkan kaki ke cinema.

Tentu saya tersanjung diundang ke acara ini. Kan pengen juga lho ... macam blogger2 kondang yang wira-wiri di acara preview film. ;-) Namun ...  jujur saja saya berangkat ke acara ini dengan separuh hati. Bagaimana jika saya tidak suka filmnya?  Saya itu nggak bisa berbohong; nggak bisa sugar-coat tulisan saya. Kalau nggak suka, ya silet pasti beraksi.

Beberapa hal yang membuat saya sangsi adalah tema, sutradara, dan fakta bahwa ini film nasional. Tema Pancasila? Deuuuh .... saya terbayang jam2 membosankan ikut Penataran P4 dulu. Pasti membosankan! Dan klise! Lima sutradara dalam 1 film? Halaaah ... wong satu sutradara aja suka cemang-cemong kok filmnya! Apalagi berlima. Pasti nggak kompak. Nggak bakal mulus! Menyatukan kerja kreatif beberapa orang itu banyakan gagalnya daripada berhasilnya. Dan fakta bahwa ini adalah film Indonesia? Sejujurnya ... film Indonesia yang benar-benar memuaskan saya bisa dihitung dengan jari. Bahkan film macam “Laskar Pelangi” dan “?” saja saya cincang habis :-)

Dan siapa itu Lola Amaria? :-) Sebagai bintang, saya mengakui dia cukup ciamik. Sebagai sutradara? Hmmm ... belum pernah nonton hasil karyanya. Atau pernah, tapi nggak berkesan.

Sampai di lokasi acara, saya tambah senewen karena pembukaannya seremonial banget! Ada beberapa penjelasan tentang merchandise/promotional activity terkait yang membuat saya hampir menguap bosan. Salah satunya adalah Android App yang menurut saya ribet dan kurang user-friendly. Saya benar2 bersyukur ketika AKHIRNYA film dimulai. FINALLY! I can finish this as quick as possible and go home!

Tetapi ... pandangan saya berubah drastis dalam 30 menit pertama film ini.

Tentang filmnya saya tidak akan mengulas detil sinopsisnya. Nggak mau kasih spoiler ;-) Kan belum diputar untuk umum ;-) Namun saya bisa bilang bahwa ketiga pendapat awal saya yang kurang positif itu terpatahkan.

Meskipun temanya terdengar boring dan klise, Pancasila, ternyata penyampaiannya indah. Dan mulus! Tidak seperti Penataran P4 yang bikin ngantuk, nilai2 Pancasila dirajut secara membumi dan holistik. Tidak menjadi butir2 yang terpisah2.

Film dimulai dengan bahasan yang jelas2 terkait dengan sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa. Tentang keluarga yang anak2nya berbeda agama. Konflik muncul ketika ibu mereka meninggal, karena kita dipaksa untuk memilih antara mengikuti ajaran yang baku tentang menjaga kesucian jenazah dan sakralnya hubungan ibu-anak. Jika si anak yang beragama berbeda ingin ikut membaringkan ibunya di liang kubur, akankah kesucian jenazah si ibu terjaga? Apakah perbedaan agama ini lebih besar daripada hubungan darah ibu dan anak? 

Ini adalah konflik yang disajikan dengan mulus dan tidak klise, karena bicara lebih dari sekedar atribut keagamaan. Lebih dari sekedar "si X Muslim, si Y bukan Muslim", tetapi bicara tentang suatu kondisi dimana "jika si Y yang bukan Muslim merupakan anak dari si X yang Muslim, sampai di manakah batas yang tepat antara habluminallah dan habluminannas harus dipertahankan?". Menjaga kesucian jenazah dengan tidak tersentuh yang "tidak bersih" adalah habluminallah, karena kita semua harus kembali kepadaNya dalam keadaan sesuci saat kita lahir. Tetapi memberikan closure pada si anak yang ingin mengantar ibunya ke peristirahatan terakhir adalah habluminannas. Apakah kita harus menafikan hubungan baik dengan sesama (dalam hal ini memutuskan ikatan sakral ibu dan anak yang dimulai sejak si anak berada dalam kandungannya) hanya karena agamanya? Pertanyaan yang lebih dalam lagi: apakah agama si anak membuatnya sedemikian kotor sehingga tidak boleh menyentuh jazad ibunya? 

Buat saya pribadi, Allah SWT yang Maha Rahim itu begitu menyayangi umatnya. Ia terlalu agung untuk dibatasi dengan pemahaman manusia, sehingga saya pun tidak yakin Allah SWT akan memutuskan bahwa si anak "terlalu kotor" untuk ibunya. Dan saya senang bahwa fragmen ini diakhiri dengan cara yang menurut saya tetap menunjukkan secara tidak langsung bahwa semuanya kita kembalikan kepada Allah SWT. 

Adegan pemakaman ibu menjadi akhir dari bagian tentang sila pertama. Sampai di sini saya masih berpikir bahwa logikanya kemudian kita akan masuk ke sila kedua, lalu ketiga, keempat, dan kelima. Karena toh tiap sutradara kebagian menggarap satu sila ... jadi apa yang bisa mereka lakukan selain membuat film2 pendek per sila yang kemudian “dipaksa” nyambung?

Namun di sini saya kembali terkesima! Karena ternyata tidak seserampangan itu kerja mereka. 

Betul, awalnya kita diberi sajian sila kedua dengan adegan perundungan. Namun adegan segera bergeser ke sila 3 dan sila 5, balik lagi ke sila ke 2, lalu 3, lalu 5 ... dengan menyajikan konflik terkait. Baruuuu ... belakangan sila ke-4 menutup sebagai gong dan penyelesai konflik. Ini yang membuat saya kagum: mereka berlima benar2 bekerja sama!!! Bukan membuat film sendiri2 dan menjahitnya bak selimut perca!

Konflik yang dimunculkan semua nyata, ada di sekitar kita, dan perlu kita selesaikan segera. Sudah terlalu lama kita bagaikan memendam api dalam sekam dengan bersikap seolah konflik-konflik ini tidak pernah ada. IMHO, cukup sudah pengingkaran kita selama ini. Ini waktunya kita menerima kenyataan bahwa konflik ini ada ... dan menghadapinya. Film ini, menurut saya, dengan halus sudah memberikan alternatif cara menghadapi konflik dengan empatik.

Di titik inilah kebosanan dan keraguan saya sirna sepenuhnya. Film ini benar2 layak ditonton. Sebuah film yang “merajut” lima sila sebagai sesuatu yang utuh dan tidak terpecah2. Karena ... bukankah itu sebenarnya makna Pancasila dalam hidup kita? Sebagai sebuah ideologi yang secara organik muncul di tiap aspek kehidupan tanpa perlu dipilah2? 

To be honest, saya ingin mengajak anak saya yang berusia 10 tahun untuk menontonnya. Untuk menjelaskan padanya tentang kenyataan hidup, dan menempanya menjadi seseorang yang berpikiran terbuka meski tetap teguh beriman pada agamanya. Namun berhubung saya psikolog, saya manut ( = menurut) pada Jean Piaget untuk memberikan rating "13 Tahun ke Atas" untuk film ini. Mengapa "13 Tahun ke Atas"? Sebab di usia ini anak-anak sudah masuk tahap Formal Operational, dimana kemampuan kognitif mereka sudah dapat digunakan untuk memahami hal yang abstrak dan melakukan analisa yang kompleks. 

***
Selain kepiawaian dan kerjasama kelima sutradaranya, ada satu hal lagi yang membuat saya terkesan dengan film ini. Yaitu musiknya :-) Saya mengenali musik2 yang digunakan, dan ... tiga di antaranya adalah favorit saya! Membuat saya curiga: jangan2 Mbak Lola dkk bikin film ini untuk saya

(Maaf, kalimat terakhir ini waham kebesaran saya. Abaikan saja. LOL)

Fragmen tentang sila pertama diakhiri cukup manis dengan "Piano Sonata no 8 in C Minor, Opus 13, Part 2". Yep ... Pathetique Sonata: Adagio Cantabile. Ini adalah bagian favorit dari salah satu sonata Ludwig van Beethoven kesukaan saya.

Saya sudah cukup puas sebenarnya dengan sonata ini. Nah ... bayangkan betapa takjubnya saya ketika di bagian lain saya mendengar "Piano Sonata no 14 in C-Sharp Minor Opus 27 No 2 Movement 3: “Moonlight: Presto Agitato”. Two of my favourite Beethoven’s sonatas in one movie! This is awesome!

Selesai? Belum dong ;-)

Sebab ada satu lagi musik kesukaan saya yang muncul, bahkan seolah menjadi theme songnya. “Nocturne Opus  9 No 2 in E-Flat Major” dari Frédéric Chopin

Di sinilah saya bersujah pada mereka yang membuat film ini. Betul2 kolaborasi yang apik! Mereka benar2 “merajut” kelima sila dalam “sonata” yang indah.

Sonata, dalam musik, adalah komposisi yang dimainkan tanpa nyanyian. Nada yang menyatu dalam jiwa, karena didengarkan dan diresapi - tanpa dinyanyikan. Sementara nocturne, seperti gubahan Chopin itu, adalah komposisi yang diinspirasi oleh malam. Nocturne umumnya digunakan dalam matins, yaitu doa malam dalam agama Katholik.

Saya tidak tahu pasti apakah para penggagas film ini memasukkan unsur sonata dan nocturne karena alasan ini, tetapi itulah makna film ini bagi saya: sebuah karya yang merajut kelima sila Pancasila menjadi sesuatu yang perlu kita resapi dan menginspirasi kita. Menjadi doa kita bagi keutuhan NKRI.

Saya mengakhiri tulisan ini dengan ajakan tulus: yuk, nonton film yang mulai diputar 1 Juni 2018, bertepatan dengan hari lahir Pancasila, ini! 


Friday, December 30, 2016

Black Mirror

Sebelum 2016 berakhir, ada satu hal lagi yang ingin gw kenang dari tahun ini: "Black Mirror"

Seri TV dari Inggris ini pertama kali gw kenal saat membaca tulisan Ryan Aditya Achadiat yang dengan cerdas menyoroti tuntutan yang beredar di media untuk "membunuh" seorang pejabat. Menarik, karena menunjukkan bagaimana vox populi tidak selalu berarti vox Dei. Mengingatkan kita bahwa kadang populi adalah sekedar crowd. Bukan Dei. Sehingga mengikuti vox populi kadang hanya membuat kita euforia sesaat, untuk kemudian menyesalinya. Yaaah... persis dengan apa yang dirasakan rakyat Inggris dalam episode perdana "Black Mirror" ini. Mengutip kata Ryan Aditya Achadiat:

Semuanya tidak semenyenangkan seperti apa yang ada dipikiran mereka ketika hal ini benar-benar terjadi. Mereka baru menyadari kenapa mereka bisa bahagia saat reputasi dan harga diri seseorang dihancurkan di depan publik? 

Berbekal tulisan itu, plus fakta bahwa Netflix tersedia di rumah, gw pun menontonnya dengan khusyuk. Dan gw tidak menyesal! Seri TV ini benar2 menggambarkan "dark and satirical themes that examine modern society, particularly with regard to the unanticipated consequences of new technologies"

Konsekuensi gelap teknologi baru yang luput kita antisipasi. Itulah tema dasar dari hampir semua episodenya. Selain episode pertama yang bikin gw miris, karena turns out the Prime Minister Michael Callow fucked the pig for nothing, beberapa episode lain yang berkesan buat gw adalah episode kedua "Fifteen Millions Merits", episode ketiga "The Entire History of You" .... oh, shoot, I think I have to list down all the 13 episodes here!

Masing2 episode memiliki twistnya sendiri. Sebagian besar dari mereka menyayat hati. Tetapi temanya sama: pada satu titik, teknologi itu berbalik menghantam kita. Teknologi bagaikan api ... kecil jadi teman, besar jadi lawan. Dan ironisnya .... kita umumnya lupa dan tidak sadar kapan api itu menjadi besar. 

Ini yang membuat gw bergidik ... karena sangat mungkin terjadi in the near future. The TV series look so real!

Simak "Fifteen Million Merits" dimana manusia hidup hanya untuk mengayuh sepeda statis demi poin. Poin itu adalah mata uang untuk membeli sandang pangan dan virtual entertainment yang dinikmati sambil mengayuh sepeda. Jika kamu beruntung, poinmu cukup untuk membeli harapan: berupa tiket audisi reality show untuk menjadi bintang.

Tetapi ... benarkah ada harapan di situ? Tawaran yang didapat Abi lebih tepat dikatakan keluar kandang singa, masuk kandang buaya :-( Toh ... that's the best of the worst. Dan gw makin tercekat ketika Bing, yang ingin membalaskan dendam Abi, justru mendapatkan a different kind of the best of the worst. Yang juga terpaksa diterimanya. C'est la vie, mon ami! Life's a bitch!

Atau simaklah "White Bear". Bagaimana seorang accessory for murder dihukum dengan mengulang kengerian yang dirasakan korbannya berulang2. Setiap hari. Berbulan2. 

Buat gw yang Ratu Tega ini ... hukuman ini cocok sekali dengan my kinky imagination. Tetapi asli ... gw jadi bisa melihat ketidakmanusiawian yang selama ini gw abaikan. Melihat Victoria Skillane bangun setiap pagi, mengulang hidup sehari penuh kengerian, untuk kemudian di-reset ingatannya untuk besok paginya .... a bullet through the heart seems to be a better idea!

Simak juga "Men Against Fire" ... sebuah kisah sedih tentang bagaimana ilusi kebencian dapat menutup mata kita dari kebenaran. Kadang kita terjebak pada ilusi itu, hingga tak tahu bahwa yang tampak benar itu sebenarnya bukan kebenaran. 

Anyway .... I can't wait for the Season 4 to come! Sayang ... belum jelas kapan tanggal tayangnya. Sementara menunggu, gw mau mendengarkan lagu yang bolak-balik diputar di berbagai episodenya: 




Lagu yang aslinya dinyanyikan Irma Thomas ini sudah muncul 3x di "Black Mirror". Pertama, versi panjangnya muncul dinyanyikan Abi di audisi pada "Fifteen Millions Merits". Lagu ini muncul lagi di episode "White Christmas", dan kemudian "Men Against Fire". Sejauh ini sih belum ada klarifikasi kenapa lagu ini muncul bolak-balik. Mungkin karena produser cuma punya mampu beli hak tayang satu lagu, sehingga harus dimanfaatkan sebaik mungkin ya? HAHAHAHA .... Tapi gw gak akan heran jika ternyata lagu ini punya fungsi sebagai semacam benang merah.

Just wait and see ...

Friday, December 09, 2016

A Good Year: From all the things I did wrong ....

Hampir 2 tahun blog ini mati suri. Bukan berarti gw berhenti menulis; gw hanya lebih banyak berbagi di Facebook. Membuat siletan2 kecil melalui update status yang sifatnya lebih spontan tanpa harus meluangkan banyak waktu untuk menyusun kata seperti blog. Lagipula 2 tahun ini gw lebih banyak mengomentari situasi politik yang melelahkan ini ... jadi rasanya berbagi di Facebook yang restricted lebih nyaman (karena dibaca orang terbatas) dan lebih aman (resiko ada orang yang gagal paham lebih kecil ;-))

Tetapi bukan berarti hidup gw nyaris 2 tahun ini hampa. Sebaliknya ... this is a good year for me! Begitu banyak berkah yang gw dapatkah di tahun ini ... termasuk berbagai mimpi yang akhirnya gw dapatkan.

Dan berkah yang banyak itulah yang ingin gw abadikan dalam tulisan di penghujung tahun 2016 ini ... :-)

The First Blessing: Pride & Joy

Masih ingat bahwa cita2 masa kecil gw adalah jadi penulis? Sampai sekarang cita-cita itu belum terlaksana. Paling jauh gw baru mampu jadi blogger.... hehehe.... Tetapi, siapa nyana bahwa anak gadis gw Naima mewujudkan mimpi terpendam itu tahun ini? Bukan hanya sekali, tetapi 2x tulisannya diterbitkan!


"This Is not a Love Story" - Swastinika N. Moertadho
Terbitan pertama adalah cerpen berbahasa Inggris berjudul "This Is Not a Love Story", bersama tulisan teman-teman sekolahnya dalam buku kumpulan cerpen berbahasa Inggris "Effervescent Adolescence". Di situ dia tidak hanya menjadi penulis, tetapi juga menjadi editor :-)

Ceritanya gloomy tapi mendalam, seperti karya penulis2 Rusia semacam Fyodor Dostoyevsky yang gw kagumi semasa muda. Gw yakin gaya penulisannya yang "tidak biasa" ini yang membuat Ima diundang menulis di buku kedua, sebuah buku kumpulan cerpen berbahasa Inggris yang rencananya akan diikutsertakan di Frankfurt Book Fair 2017. Sebenarnya buku ini rencananya ikut dalam Frankfurt Book Fair 2016, tetapi karena terlambat cetak dan tidak sempat publikasi, akhirnya diundur menjadi tahun depan. Doakan saja yaaaa .... anak gw bisa jadi penulis terkenal :-)

Sebagai teaser, silakan dibaca halaman pertama tulisannya yang kedua itu. Judulnya "The Art of Learning to Love", dalam buku "The Melancholic Lullaby". Isinya masih mengingatkan pada keresahan yang philosophically gloomy ala Leo Tolstoy, meski judulnya seperti salah satu buku Erich Fromm :-)

Excerpt from "The Art of Learning to Love" - by Swastinika N. Moertadho

... dan ini sang penulis dengan proofread-nya .... :-)

Pengejawantahan (tsah!) cita2 terpendam gw bukanlah satu2nya kebanggaan yang dipersembahkan Ima, karena pada Mei 2016 ia berhasil diterima sebagai mahasiswa Ilmu Komputer, Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Indonesia melalui jalur SNMPTN.


Kalau menjadi penulis adalah cita2 ibunya sejak kecil, maka belajar ilmu komputer secara formal adalah cita2nya bapaknya :-)

Naima & temannya. They are the Yellow Jacket now!
Ngomong2 soal masuk Fasilkom UI ini sempat bikin kami ketar-ketir :-) Pasalnya, waktu daftar SNMPTN lalu, gw dan bapaknya menyarankan Ima memilih 2 bidang dari fakultas yang berbeda; Ilmu Komputer dan Psikologi. Pertimbangannya logis: jurusan Ilmu Komputer UI itu standardnya tinggi banget! Salah satu jurusan tersulit dimasuki di UI. Meski kami tahu anak kami ini insyaAllah pintar, tetapi jiper juga kalau cuma punya satu pilihan. Apalagi ini jurusan yang didominasi laki-laki... jadi kami agak cemas kans Ima kecil sekali. Bapaknya pun masih terbayang kegagalan masuk fakultas impiannya ini dulu. Naah... kalau di Psikologi insyaAllah kansnya lebih besar. Sebagai sesama lulusan Psikologi UI, kami percaya kemampuan Ima cukup untuk masuk ke almamater kami.

Sayangnya ... kami baru tahu bahwa Ima menghapus Psikologi UI sebagai pilihan kedua 2 hari sebelum pengumuman SNMPTN. Dia merasa Ilmu Komputer adalah panggilan jiwanya, jadi dia hanya mau ambil pilihan itu. Garuk2 aspallah bapak dan ibunya! Kalau nggak keterima gimanaaaa????

Makanya ... saat Ima mengirimkan pengumuman lulus masuk Ilkom, gw langsung teriak dan sujud syukur :-) Alhamdulillaaaah.... sungguh besar rahmat Allah SWT kepada kami :-) From all the things I did wrong, I must've done one thing good to deserve this pride and joy!

Anyway .... ada 2 berkah lagi yang ingin gw abadikan di blog ini. Tetapi kita simpan untuk lain hari ya :-)

Thursday, February 26, 2015

"Jamie is sure something wonderful died... and I'm still hurting"

Ketika setuju menemani Ima menonton The Last 5 Years, gw menganggapnya sebagai sekedar motherly duty. Meski si gadis mengatakan, "You're gonna like it, Mum, this is a MUSICAL", tapi... well... gw menata harapan dengan mengingat bahwa tidak semua musical adalah sekelas Les Misérables. Atau Rent. Atau The Phantom of the Opera.  After all, there was High School Musical ;-)

Lagu pertama yang dibawakan Anna Kendrick cukup mengusik gw. Lagu sendu patah hati ini tidak 'seringan', apalagi seceria, HSM. Puitis dan manis, meski menyayat hati. Padahal Anna Kendrick tidak membawakannya sebaik Lea Salonga di klip berikut ini:


Lagu kedua membuat gw agak ilfeel. Entah mengapa gw merasa agak terganggu dengan penampilan Jeremy Jordan. Oh, he's a good-looking fellow, indeed... but... kesan pertamanya kurang nendang! Dia tampil seperti bocah yang jatuh cinta dan mengambil keputusan terburu2. Definitely not my type of man... dan gw mulai tambah yakin bahwa ini cerita cinta monyet dua bocah kecil yang berakhir buruk.

Namun antena gw mulai tegak ketika di lagu ketiga gw menyadari gaya bertutur yang tak biasa di film ini. Gaya bertutur back-and-forth. Bukan sekedar kilas balik, tetapi bolak-balik. Baiklaaah... gw pasang mata untuk film ini.

... dan itu merupakan keputusan yang tepat, karena isi film ini ternyata sangat pantas direnungkan.

[SPOILER ALERT. Stop if you don't want to know]

Film ini menggunakan dua sudut pandang yang disajikan dalam urutan terbalik. Sudut pandang Cathy - sang istri - disajikan dengan urutan descending (akhir ke awal), sementara sudut pandang Jamie  - sang suami - disajikan dengan urutan ascending (awal ke akhir).

Itu sebabnya di awal kita mulai dengan patah hatinya Cathy karena Jamie pergi meninggalkannya. Itu sebabnya Cathy tampak begitu dewasa, dan sangat mudah bagi penonton (ehmmm... atau mungkin gw aja ya?) untuk men-judge Jamie sebagai pria brengsek kekanak-kanakan yang tidak cukup dewasa untuk setia pada komitmen. But in my defense, how could I ignore the statement like the following:

"Jamie arrived at the end of the line
Jamie's convinced that the problems are mine
Jamie is probably feeling just fine
And I'm still hurting

What about lies, Jamie?
What about things
That you swore to be true
What about you, Jamie
What about you"


Apalagi lagu ini disambung dengan penampilan pertama Jamie yang bak bocah yang pipis aja belum lurus tapi sudah sok tahu tentang cinta ;-)

Seiring berjalannya kisah, terlihatlah bagaimana Cathy bukan hanya korban. Dalam kisah yang dibalik, kita dapat melihat bahwa bagaimana seorang gadis penuh keyakinan bahwa "I Can Do Better than This" pelan-pelan menjadi frustrasi dan kehilangan mimpi - terpinggirkan oleh jalan hidup sang suami yang bertolak belakang.

Dan Jamie... bocah ini bukan saja berkembang menjadi penulis laris, melainkan juga menjadi pria dewasa yang sangat mencintai istrinya. Pria sukses yang tentu saja mendapatkan banyak godaan.

Begitu cintanya ia pada istrinya hingga akhirnya dia harus meninggalkan sang istri karena "kehabisan tali" untuk "menyelamatkan" sang istri dari "kepahitan"nya. Dan pahit, I must tell you, adalah sesuatu yang menular. Perlahan tapi pasti kepahitan sang istri meresap kepadanya dan melilitnya bak tali.

"We build a treehouse
I keep it from shaking
Little more glue every time that it breaks
Perfectly balanced
And then I start making
Conscious, deliberate mistakes

I grip and she grips
And faster we're sliding
Sliding and spilling
And what can I do?"


Jika lagu pembuka Cathy menyayat hati gw, maka lagu penutup Jamie melumatkan apa yang sudah tersayat-sayat itu:

"It's not about another shrink
It's not about another compromise
I'm not the only one who's hurting here
I don't know what the hell is left to do
You never saw how far the crack had opened
You never knew I had run out of rope and

I could never rescue you

No matter how I tried
All I could do was love you
God, I loved you so
So we could fight
Or we could wait
Or I could go..."


[SPOILER ENDS]

Mari kita bicara tentang tali. Tali yang membelit Jamie. Dari mana tali itu? Tali itu terbentuk karena Jamie sangat ingin mempertahankan treehouse-nya. Keep it from shaking by adding glue here and there every time it breaks. Maybe no one tells him that 'too much glue will kill you'... and it did! He started making mistakes.

But why does the treehouse keep shaking? Rentankah "rumah pohon" itu? Jika ditilik dari betapa bersemangat dan percaya dirinya Cathy di awal 5 tahun lalu, "rumah pohon" itu tidak lemah. Namun ia dilemahkan oleh rasa tak berdaya melihat bahwa life is not all unicorns and rainbows. Karena tidak siap bahwa it's not happily ever after.

...Or rather: because they do not realise that the description of 'happily ever after' constantly changes. It should be adjusted and revised every step of their life.

Mereka terlalu sibuk mengejar definisi mereka tentang "happiness". Sadly, it's a race they'll never win. And it costs them their relationship.

***
Saat film ini dimulai hanya ada 18 orang di dalam bioskop. Mungkin itu sebabnya BlitzMegaplex tidak segera memutar filmnya meski sudah 10 menit berlalu dari jadwal ;-). Dalam 15 menit pertama setelah film dimulai 3 pasang penonton bergabung. Namun.... belum lagi film diputar selama 45 menit, setidaknya 8 orang sudah hengkang.

I guess musical is never everyday dish for Indonesians ;-) Or perhaps the story is too heavy to digest ;-)

Sayang sekali. Padahal film yang diadaptasi dari kisah nyata sang komposernya, Jason Robert Brown, memberikan bahan renungan mengenai hakikat sebuah hubungan. Anyway.... filmnya terakhir tayang hari ini di bioskop, tapi sample lagu-lagunya bisa disimak di sini.

Sunday, January 20, 2013

Les Misérables: I Didn't Watch One Time Then Die

Mari kita bicara tentang "bencana". Nope, bukan bicara tentang banjir yang melanda beberapa hari lampau dan membuat ibukota tercinta berada dalam status darurat hingga 27 Januari. Banjir itu memang bencana, tapi... ah, sudahlah! Toh Mas Joko sudah turun langsung siang-malam jadi mandor di tanggul Kanal Barat yang jebol itu. Semoga tanggul lekas selesai perbaikannya, dan Mas Joko bisa konsentrasi ke langkah selanjutnya dalam mencegah banjir Jakarta. Biar orang2 macam ALAY ini tidak bisa komentar aneh2 lagi ;-)

Mari kita membicarakan bencana yang lain saja. Bencana yang dipenuhi pria2 ganteng bersuara bagus, atau setidaknya bersuara bagus, atau setidaknya ganteng doang ;-) Yup, mari kita bicara tentang "Les Misérables" - film adaptasi musikal West End of London yang sudah memenangkan 3 Golden Globe ini.

Gw termasuk khayalak umum perdana yang nonton film ini. Bukaaan, gw nggak diundang di acara sneak preview yang dihadiri oleh para selebriti itu. Pun bukan pemenang kuis apa pun yang dapat tiket gratis ;-) Gw bisa nonton film ini di tengah malam sebelum filmnya ditayangkan reguler, 12 Januari 2013, karena selama beberapa hari gw nongkrongin situsnya Blitz dan 21Cineplex untuk tahu tanggal tayang pastinya ;-) Yes, that's the price I paid for the chance to watch Les Mis ;-).

Dan... bagaimanakah kesan2 gw setelah menontonnya?

Well, setelah nonton 2x (yang kedua kemarin siang ;-)), beginilah tiga pendapat utama gw:

 **SPOILER ALERT! Run, reader, run! And don't come back ;-)*

1. Jangan nonton filmnya dengan tolok ukur teater musikal West End atau konsernya. 

Meskipun film ini benar2 adaptasi dari versi teater musikal West End, dan diperankan oleh banyak pekerja teater West End, film ini berbeda. For once, singing voice pemeran2 di film ini tidak sebaik pekerja teater ini. Hugh Jackman bermain bagus, aktingnya sebagai Jean Valjean sangat menyentuh. Tapi... meskipun memiliki latar belakang penyanyi musikal, dia jelas several leagues below Colm Wilkinson di masa muda (the first Valjean I watched :-)), John Owen-Jones (oh, that divine voice of his :-)), ataupun Alfie Boe (eargasm voice!). Sungguh, meskipun gw sangat menikmati akting Hugh Jackman, tak urung gw merindukan salah satu dari Valjean Quartet di lagu "Bring Him Home". Lagu ini, ketika dibawakan oleh keempat pemeran Jean Valjean, benar2 bikin gw multiple eargasm! Sementara, ketika dinyanyikan Hugh Jackman, membuat gw khawatir pita suaranya putus. He's so strained here!

Kalaupun kita mau membandingkan suara dengan konser 25 tahunnya, maka satu2nya yang menang adalah Eddie Redmayne ;-) He's far better than Nick Jonas as Marius Pontmercy :-) Di konser Nick Jonas membawakan Marius seperti pemuda menye2 yang jatuh cinta. Dan suaranya pun terlalu pop, sehingga jauuuuh terbanting ketika bernyanyi bersama pekerja teater papan atas yang memerankan anggota Friends of the ABC lainnya; seperti Ramin Karimloo, Hadley Fraser, dan Killian Donnely. Akting Eddie Redmayne benar2 memukau gw. Gw benar2 melihat Marius Pontmercy yang gw bayangkan ketika membaca bukunya dulu: intelligent, well-educated young man who knows what he is fighting for. Pemuda karismatik yang tidak tertutup bayang-bayang Enjolras, si pemimpin perjuangan. Class! Memang, kelihatan banget pedigree-nya sebagai alumni Eton College ;-) Dan pengalamannya sebagai soloist di koor Eton menjanjikan suara yang lebih tepat untuk membawakan peran ini. I love that deep voice of his... sama sekali nggak nge-pop kayak Nick Jonas.

In a way, Eddie Redmayne bahkan agak menutup sinar Enjolras yang diperankan Aaron Tveit. Well, Aaron bermain cukup bagus, dan adegan kematiannya sangat epik. Tapi... hampir di seluruh film dia lebih kelihatan sebagai pemimpin yang ragu dan takut. Ekspresinya nyaris datar sepanjang film; sama sekali tidak kelihatan sebagai "pusat" seperti Ramin di konser. Jujur, gw rada mempertanyakan mengapa bukan Killian Donnelly, atau Hadley Fraser, yang dipilih untuk memerankan Enjolras. They both have good facial expression as well as good voice ;-) Saksikan saja peran Hadley sebagai Grantaire di konser 25 tahun Les Mis - he's still my favorite Grantaire so far. Apalagi, mereka berdua toh juga ikutan di film ini - Killian sebagai Combeferre dan Hadley sebagai Kapten Angkatan Bersenjata.

2. Tontonlah film ini sebagai versi ringkas dari buku Victor Hugo

Gw punya 2 buku Les Misérables dalam bahasa Inggris. Versi cetak dan versi e-book. Dua2nya unabridged, alias diterjemahkan dari bahasa Prancis tanpa dipotong maupun diringkas sama sekali. Tapi... meskipun gw sudah punya buku ini bertahun2, gw nggak pernah membaca seutuhnya ;-) Dari 1463 halaman buku itu, mungkin sepertiganya gw skip atau speed reading doang ;-)

Lho, kok bisa? Dan apa hubungannya sama film ini? Hmm... mungkin gw musti cerita dari awal mulanya sedikit ;-)

Gw pertama kali mencoba membaca buku ini di SMA, setelah menemukannya di koleksi perpustakaan sekolah. Baru sekitar 250 halaman, gw menyerah. Salah satu faktornya adalah karena gw kesulitan mengingat nama2 dalam bahasa Prancis itu. Lha wong nyebutnya aja susah, apalagi mengingat ;-) Faktor kedua: Victor Hugo senang banget berahasia ;-) Bayangkan, salah satu tokoh yang muncul di awal cuma disebut sebagai Bishop of D___. D___ ini apa? Demak? Denpasar? Gimana gw mau ingat, kalau nggak tahu lokasinya ;-) Dan faktor ketiga: ceritanya detil banget! Menjelaskan tentang si Bishop of D___ ini aja sampai puluhan halaman, sebelum  pindah ke tokoh lain. Dan.... ngehe-nya.... Bishop ini bahkan bukan tokoh utama ;-)

So, ketika di Fakultas Psikologi seorang senior menyebutkan Les Misérables sebagai novel yang kaya bahan kajian psikologisnya, gw langsung cerita betapa painful pengalaman gw dengan buku ini. Di situlah, bak Valjean yang mendapatkan pencerahan dari sang rohaniwan, gw mendapatkan saran yang mengubah hidup gw *tsah!*:

"Ada versi ringkasnya. Tapi... saran gw sih jangan baca versi itu. Esensinya hilang. Mendingan loe dengerin versi musikalnya. Coba cari deh di British Council. Baru habis itu baca lagi bukunya biar paham"

Demikianlah. Gw pun mendengarkan laserdisc-nya di British Council. Berusaha memahami ceritanya melalui libretto yang ada. Plus membaca beberapa buku yang menceritakan tentang teater musikal di West End.

Mendengarkan versi musikal ini sungguh berguna, karena saat berikutnya gw membaca buku setebal bantal itu gw jadi tahu bagian mana yang bisa di-skip atau speed reading tanpa kehilangan esensi cerita. Serta bagian mana yang layak dapat perhatian khusus karena di musikalnya kurang jelas.

Segera, gw menemukan bahwa ada beberapa bagian yang diubah dari novel aslinya. Misalnya, di musikal tidak disebutkan bahwa Fantine juga menjual giginya. Bahwa yang menyampaikan surat Marius ke Cosette adalah Gavroche, bukan Eponine. Bahwa Fauchelevent bukan saja sekedar korban yang ditolong oleh Valjean, melainkan juga berkesempatan membalas jasa itu. Dan... bahwa Enjolras dan Friends of the ABC tidak segampang itu menerima Javert sebagai sukarelawan.

Naah... yang gw SUKA di film ini, hampir semua kelemahan yang gw temukan di musikal itu diatasi :-) Di film ini, beberapa adaptasi yang 'terpaksa' dilakukan di teater dikembalikan ke khitahnya. Mungkin inilah hikmah keajaiban teknologi *tsah!* ;-) Karena tanpa keharusan menyesuaikan dekor, mereka dapat membuat ceritanya lebih dekat ke buku.

Bagian Fantine menjual giginya ditunjukkan. And quite gruesome, I must say! Membuat gw ngeri :-) Demikian juga bagian Gavroche mengirimkan surat dan Fauchelevent membalas jasa. Hanya bagian tentang June Rebellion yang masih sedikit kabur.

Gw sempat baca juga riviunya Lea Salonga yang menyebutkan "kembalinya beberapa syair yang sudah lama dilupakan". Gw nggak tahu syair yang dimaksud, tapi... kemungkinan salah satunya adalah  Fantine's Death. Gw selalu bingung kenapa di teater Fantine menyanyikan syairnya sebagai "... Look Monsieur, where all the children play?". Anaknya kan cuma satu? Nah... di film ini, syairnya diubah menjadi "... Come Cosette, my child, where did you go?" dan disertai dengan bayangan Cosette yang memudar. Jleb banget! Berasa banget betapa berhalusinasinya Fantine!

Dan ah! Ya! Bicara tentang Anne Hathaway sebagai Fantine, I'd take back whatever doubt I have about her playing Fantine. Benar2 brutal! Pembawaannya tentang Fantine benar2 membuat salah satu lagu favorit gw, I Dreamed A Dream, berasa perih! Dipadu dengan penempatan lagu ini yang TIDAK seperti biasanya, ini benar2 killer song!

Soal penempatan lagu, satu lagi yang membuat gw terkesima adalah On My Own. Lagu ini di teater dinyanyikan saat Eponine mengantarkan surat untuk Cosette - salah satu adaptasi yang dikembalikan ke khitahnya dalam film ini. Lantas, nasib lagu ini gimana? Lagu ini ditempatkan pada situasi setelah Eponine melihat Marius dan Cosette jatuh cinta. Heartbreaking to the max! Apalagi, Samantha Barks memainkan peran ini dengan penuh penjiwaan. Honestly, I think she should change her last name into Roars. Samantha Roars. Obviously she is a lioness, not a dog or puppy ;-)

Satu lagi yang menarik buat gw di film ini berkaitan dengan "kembali ke khitah", yaitu adegan terakhir saat Jean Valjean meninggal. Di teater, arwah Fantine dan Eponine menjemput Valjean. Adegan ini selalu membuat gw bingung. Why Eponine? Eponine salah satu tokoh yang menarik buat gw, tapi... dia nggak pernah punya signifikansi dalam hidup Valjean. Kenapa dia yang jemput? Apa relevansinya?

Di film ini, hanya Fantine yang menjemput Valjean. Dan sekali lagi, Anne Hathaway menguras air mata gw ;-) She is no longer that girlish Princess of Genovia. She is a caring woman! A grateful mother! Perempuan yang secara signifikan mengubah hidup Valjean dengan memberikannya kesempatan "menebus dosa".

Tetapi dia tidak sendiri. Ada seseorang lain yang menunggu Valjean di penghujung lagu. And, Gosh! How meaningful it is that when Valjean is singing "... and remember the truth that once was spoken: To love another person is to see the face of God", there is someone waiting for him at the end of the corridor. The person who ".. bought your soul for God" 

Yup! The Bishop of Digne, orang yang mengembalikan kepercayaan Valjean tentang adanya Tuhan yang Maha Baik, adalah wajah yang dilihat Valjean ketika ajalnya tiba.

3. The Full Circle

Akhirnya, gw tiba di penghujung riviu gw yang maha panjang ini ;-)

*What do you expect? It's a 2.5 hour movie based on a very detail 1463 pages of novel, covering the saga of tens of years ;-)*

Gw yakin nggak perlu memberikan kajian filosofis terhadap jalan ceritanya. The world-wide web is full of them. Tapi ada satu hal yang ingin gw soroti dari film ini: ini adalah film yang membuat gw terdiam sepanjang perjalanan pulang. Too emotionally drained bahkan untuk berbincang tentang filmnya. Padahal, ini adalah kisah yang sangat akrab buat gw. Lagu2nya pun sudah gw kenal bertahun2. Tetapi tetap saja: 2x nonton, 2x terkuras air mata. It is so powerful, even for me ;-).

Gw nggak bilang film ini sempurna. Beberapa riviu yang nggak terlalu baik membuktikan itu. Tapi... buat gw, film ini benar2 full circle. The closure dari keterikatan gw terhadap kisah ini: setelah baca bukunya, mendengarkan musiknya, menonton konsernya, kini... gw melihat versi teaternya. Bukan benar2 di West End, memang, tetapi cukup dekat lah dari segi eksekusi. Juga the closure tentang pertanyaan gw yang selama ini tidak terjawab tentang beberapa syair dan adegan teaternya yang menurut gw kurang pas.

Menonton film ini, bagi gw, bak Valjean yang menatap wajah sang penyelamat (jiwa)nya di penghujung ajal. And the fact that it is Colm Wilkinson, the originator of West End's Jean Valjean, who plays the Bishop spices up the closure even more ;-)

Kalaupun ada yang gw menurut gw mengurangi lingkaran penuh ini, itu adalah fakta bahwa Tom Hooper tidak mendapatkan nominasi Oscar sebagai Best Director. I personally think he's brilliant... but perhaps I just don't know what the qualification for the Best Director is. Mungkin, salah satu penyebabnya, adalah beberapa bagian film yang dapat diinterpretasikan sebagai sangat disonan dari nilai2 Kristiani yang menjadi dasar tulisan Hugo. Seperti dibahas di sini. Tapi... jika ditelaah lebih jauh, bukankah Hugo sendiri memulai kisahnya dengan "kebohongan" sang Uskup. Ya, kebohongan itu untuk menyelamatkan Valjean, tapi... kebohongan juga sebuah pelanggaran terhadap 10 Perintah Allah yang diimaninya kan?

Buat gw, ini pun menunjukkan bahwa Hugo mempunya pemahaman tersendiri terhadap bagaimana menjadi "baik". Dan jika kita baca bukunya, maka kita akan menemukan suatu kutipan menarik di awal  kisah. Bagian yang menjelaskan mengapa si Uskup D___ ini mau melanggar perintah Tuhan demi sang mantan narapidana:

"What do you think of the Bossuet chanting the Te Deum during the persecution of the Huguenots?"
- page 42
Sejak awal, Hugo menunjukkan bahwa selalu ada 2 sisi dari sesuatu. Kebohongan yang menyelamatkan. Doa yang dilantunkan dalam kekejaman. Kebaikan di balik keburukan. Keburukan di balik kebaikan.

Dan itu adalah pemahaman yang melengkapi the closure dari film ini :-)

-----
Credit Title: judul "I Didn't Watch One Time Then Die" diilhami dari parodi lagu I Dreamed A Dream oleh Forbidden Broadway.

Thursday, October 20, 2011

Ferris Wheel of Love

Bulan Oktober 2011, bukan hanya satu pasang teman saja yang gw rayakan pernikahannya. Setelah pernikahan "Kemanusiaan dan Alam" pasangan ini pada Non-Violence Day, dua minggu kemudian tibalah resepsi pernikahan pasangan ini :-).

Konsep pernikahan mereka memang tidak spektakular seperti pasangan sebelumnya. Namun, setelah gw menemukan waktu untuk bertapa, gw menemukan bahwa it's not so much different from the previous wedding after all ... :-)

Begini ceritanya......

Januari lalu kami mendapat kabar bahwa mereka berdua akhirnya menentukan tanggal pernikahan. Ditetapkan tanggal 17 Juni 2011 sebagai Akad Nikah, dan 25 Juni 2011 sebagai resepsinya. Resepsinya nggak bisa dilaksanakan 18 Juni 2011 bukan karena mereka benci sama gw dan nggak mau berbagi tanggal perayaan yang sama dengan ultah gw... hehehe... Tapi karena masalah klasik calon pengantin: gak kebagian gedung :-p

Gw memutuskan untuk hadir ;-) Tentunya! Karena mereka adalah dua orang yang sangat berarti buat gw :-) Bukan saja gw sangat menikmati penampilan mereka (termasuk exposure terhadap cinlok mereka ;-)) sepanjang sebuah reality show di tahun 2004, tapi ... setelah 7 tahun berteman mereka sudah seperti adik2 gw sendiri. Dan lagi... secara tidak langsung mereka berdua telah menjadi perantara yang membuat gw menemukan beberapa teman terbaik. Baik yang gw kenal dari menongkrongi milis/forum acara tersebut seperti Jeng ini, ini, ini, maupun Bro ini. Atau si seleb-blog yang membuat gw rajin menulis lagi. Dan tak lupa "teman berantem" gw yang tautannya sebaiknya tidak diberikan :-p

Tapi ada satu masalah kecil: 25 Juni 2011 bertepatan dengan hari kelulusan Ima dari SD. Nggak mungkin kan gw nggak hadir di acara kelulusan anak gw sendiri ;-)? Dan gak mungkin kan, Ima nggak hadir di acara kelulusannya sendiri ;-)?

So, gw memutuskan datang pada Akad Nikah-nya saja. Meskipun dengan resiko gw akan mati gaya ;-) Yaaah... nggak akan semati gaya di Bali sih, kan gw datangnya bareng Ima. Lagipula masih ada beberapa teman yang gw kenal di acara yang pastinya lebih banyak dihadiri keluarga besar itu. Dan Surabaya mah gw kenal... ;-) Nggak bakal bingung mau ngapain di sana.

Berniat datang ke pesta, siap kamikaze mati gaya? Hmmm... sounds similar to the other wedding, eh ;-)? Dan kemiripan berlanjut, ketika ternyata gw nggak jadi mati gaya. Bukan dengan menemukan teman2 baru... melainkan karena teman2 lama yang tadinya berniat menghadiri resepsi berbondong2 rescheduled ke Akad Nikah :-)

Pindah jadwal itu terpaksa dilakukan karena sebuah kabar duka. Tanggal 25 April 2011, setelah semua persiapan untuk perhelatan dijalankan, tiba2 ibu mempelai pria meninggal dunia. Serangan jantung. Sebuah hal yang mengubah segalanya...

Sebagai bakti terakhir seorang putra pada almarhumah ibunya, kedua mempelai memutuskan mempercepat pernikahan. Mereka menikah di hadapan jenazah sebelum ibunda dikebumikan. Perhelatan yang rencananya dirayakan 25 Juni 2011 pun dibatalkan. Tak pantas rasanya membuat suatu perhelatan ketika ibunda baru 60 hari dikebumikan. Dan tak pantas pula rasanya membicarakan kapan resepsi akan diadakan, jikapun akan ada resepsi, sebelum duka benar2 berlalu.

Namun Akad Nikah di depan penghulu dari KUA tentu harus tetap dilaksanakan. Karena pernikahan di hadapan jenazah adalah pernikahan siri; pernikahan yang sah menurut Islam, namun tidak mendapatkan surat nikah dari negara karena tidak dihadiri oleh penghulu sebagai saksi dari pihak negara.

Dan itulah yang membuat teman2 berbondong2 mengubah jadwal pesawat untuk menghadiri Akad Nikah.

Menikah di hadapan jenazah ibunda? Mengorbankan kemungkinan pesta meriah demi sebuah Akad Nikah sederhana dalam suasana duka? That's another similarity with the previous wedding: bahwa pernikahan adalah bukan untuk diri sendiri. Walaupun itu sebentuk persatuan antara dua individu, di dalamnya ada bakti kepada orang tua. Karena dalam budaya kita, "menikahkan anak" adalah sebentuk pencapaian bagi orang tua. So it's worth to change all the plan.

***

Pada hari yang direncanakan, Akad Nikah di hadapan KUA berjalan dengan lancar. Kabut duka mulai terangkat, setelah lebih dari 40 hari ibunda berpulang. Kami sangat menikmati pesta sederhana di rumah mempelai putri tersebut. Sebuah pesta yang akrab, dengan sajian hiburan organ tunggal dan the singin' newlyweds ;-) Emang beda ya, kalau suami-istri penyanyi... hehehe... Nggak tahan nggak nyanyi kalau lihat mic :-p

Kabar bahagia pun kami terima. Bahwa setelah masa berkabung usai, kedua pihak keluarga sudah mampu memutuskan bahwa resepsi akan tetap diadakan. Tanggal 15 Oktober 2011 dipilih sebagai tanggal resepsi yang baru. Tanggal dimana mereka akan membagikan kebahagiaan ini kepada lebih banyak lagi orang.

Gw tidak yakin bisa hadir pada tanggal tersebut. Bulan Oktober adalah masa2 penuh pekerjaan buat gw. Oleh karenanya sebuah hadiah kecil dan sebentuk doa yang menyertainya gw sampaikan pada perhelatan Akad Nikah saja. Sebuah bingkai foto berbentuk "Bianglala". Ferris Wheel.

Kenapa Ferris Wheel? Yaaah... karena gw kan orangnya sok simbolis... HAHAHAHAHA....  Gw merasa ferris wheel adalah suatu simbol pernikahan yang tepat sekali. Seperti gw tuliskan di kartu ucapannya:

Dear Nia & Adit,
Pernikahan sejatinya adalah sebuah permainan bianglala.
Kadang di atas, kadang di bawah,
Kadang deg-degan, takut ketinggian dan diterpa angin
Kadang bete karena putarannya berjalan lambat.
Tapi... ketika akhirnya permainan berhenti, hanya satu rasa yang tersisa: BAHAGIA
Selamat menempuh hidup baru!
Semoga tetap sakinah, mawaddah, warrahmah
Enjoy your Ferris wheel ride of love!

*Note: naaah... ini bedanya pernikahan pasangan yang ini dengan pasangan di posting sebelumnya... hehehe... Kalau yang di sebelumnya, gw kan yang tercerahkan dengan kata2 bijak sang mempelai. Kalau di sini, gw yang sok gaya mengeluarkan kata2 mutiara dan analogi... ;-)*

Ada 12 tempat untuk foto di Ferris Wheel itu. Mereka dapat mengisinya dengan foto2 perjalanan cinta mereka. Dimulai dari ketika mereka bertemu di sebuah reality show, menjalani kebimbangan untuk menjadi pasangan, jatuh bangun meniti karir, akhirnya tiba di pelaminan, dan kebahagiaan2 selanjutnya yang akan menggenapi perjalanan cinta mereka.... (punya anak pertama ;-)?)

Once again... enjoy your ride, darlings ;-) Duka cita yang mewarnai awal langkah kalian ke pelaminan semoga menjadi sesuatu yang menguatkan untuk ke depannya :-)

----
Credit title: foto bingkai berbentuk bianglala dipinjam dari sini. Bingkainya mirip siiih... cuma yang dari gw gak seharga sekian poundsterling :-p

Saturday, October 08, 2011

A Very Give-away Wedding

Ketika mendapatkan kabar bahwa mereka akan menikah, gw langsung memutuskan untuk hadir. Bahkan sebelum gw melihat konsep acara yang luar biasa ini. Sebagai individu, meskipun belum kenal mereka secara pribadi dulu, they've already got me from hello :-) Dan gw sudah dengan sotoy-nya percaya mereka adalah pasangan yang cocok, seperti apa yang gw tulis di milis ini 21 Februari 2005:


Ketika akhirnya kenal dan menjadi teman di dunia nyata, gw makin kesengsem sama mereka. Gw memang belum pernah ketemu Tika di dunia nyata, tapi... setiap kali ketemu, ngobrol dengan, atau baca bukunya Gobind rasanya kematangan spiritual gw meningkat beberapa derajat ;-) Dan karena gw tahu bahwa peran Tika untuk Gobind itu persis seperti Kasturba terhadap Gandhi... ya gw tentunya kesengsem dengan mereka sebagai pasangan juga ;-)

So, atas nama pertemanan dan terima kasih gw atas "pencerahan" yang gw dapatkan selama ini (meskipun pencerahan itu sering kabur lagi akibat terlalu ramainya lalu lintas pikiran gw ;-)), gw HARUS berpartisipasi. Sebisa2nya. Termasuk HARUS datang :-)

Baru, setelah gw memutuskan untuk datang, gw bingung sendiri ... ;-)

Gw nggak kenal Bali! Terakhir kali gw ke Bali untuk senang2 adalah.... tahun 1987 ;-) Setelah itu gw beberapa kali kerja ke Bali, tapi ya nggak sempat ngapa2in juga. So, gw harus ngapain di Bali? Apalagi Sanur yang gw gak pernah injak sama sekali.

Masalah kedua: gw nggak kenal teman2nya Gobind dan Tika :-) Teman mereka kan buaaaaanyaaaakkk banget dari berbagai organisasi sosial dan kemasyarakatan. Sementara, gw ini teman di luar kumpulan itu. Nanti gw sama siapa di sana?  Mati gaya aja lah, kalau gw luntang-lantung gak ada teman :-)

Tapi... walau dengan kegalauan seperti ini, gw memutuskan untuk datang. Berharap Mas Boy (satu2nya teman mutual gw dan Gobind) bersedia hadir ke Bali. Atau... berharap bisa membajak Bayik yang emang kerjanya bolak-balik Jakarta dan BAli.

Pada awalnya, masalah tampak teratasi. Bayik bilang dia ada di Bali tanggal segitu. Dan Mas Boy bilang dia ingin sekali datang. Tapi.... pada H-2, kagetlah awak! Bayik tertahan di Jakarta karena boss besarnya datang. Sementara Mas Boy nggak bisa pesan pesawat karena satu dan lain hal. Mampus gw!! Rasanya malang benar gw ;-)

Tapi mosok gw harus membatalkan niat baik cuma karena gak ada teman? Nggak gw banget ;-)  Cemen ;-) Akhirnya gw tetap berangkat sesuai rencana. Meskipun siap mental untuk mati gaya ;-)

Dan di situlah baru gw menyadari betapa sebuah keikhlasan, sebuah niat baik yang no expectation, akan dimudahkan oleh Yang di Atas dan membawa keberuntungannya sendiri  :-)

Dimulai ketika gw sampai di Bali. Pada awalnya, Bayik merekomendasikan Werdhapura sebagai tempat menginap. Katanya dekat, 10 menit naik taksi dari tempat acara. Tapi.. karena Werdhapura nggak punya kamar dengan double bed, gw memilih memesan kamar di Abian Kokoro. Hotel ini rekomendasi kedua dari Bayik, katanya sedikit lebih jauh - sekitar 15 menit naik taksi ke tempat acara.

Ternyata... justru peristiwa ini adalah pangkal dari rangkaian "kemudahan" dan "keberuntungan" yang gw dapatkan :-)

Saat check in di Abian Kokoro, gw menemukan kejutan membahagiakan: perhitungan jarak Bayik tidak akurat :-) Alih2 lebih jauh dari tempat pesta, jaraknya malah sepelemparan batu :-) Menurut GPS gw, jarak garis lurus hanya 900m dari lokasi pesta! Total jalan yang dilalui jika menyusur pantai sekitar 1,2 km saja. Bisa ditempuh dengan jalan kaki. Jika ingin lebih nyaman, bisa pinjam fasilitas sepeda dari hotel ini. Gratis!

So, gw nggak perlu repot2 pesan taksi pagi2 buta, dan bingung cari taksi untuk kembali ke hotel setelah acara. Cukup bersepeda mini saja :-)

Kemudahan, atau keberuntungan, kedua yang gw dapat adalah ketika mengembalikan sepeda pinjaman setelah jalan2 sore. Biasa... gw survei dulu untuk tahu letak pestanya, dan ngukur kekuatan kaki untuk bike to wedding besoknya ;-). Di front desk sederhana, dimana nama tamu di ke-18 kamar hotel dituliskan di white board besar, mata gw menangkap bahwa 3 dari 6 kamar di lantai gw adalah "booked by Mr. Gobind". Nah lho? Could it be....?

Segera gw SMS sang calon mempelai, dan ... jawabannya merupakan kejutan yang menyenangkan:

"Hahaha... memang saya pesan untuk teman-teman yang membantu acara besok"

Yiiihaaa! Berarti gw gak akan sendirian! Gw bisa kenalan malam ini dengan beberapa orang sehotel. Setidaknya, besok gw gak jadi orang yang benar2 "asing" di pesta itu. Sukur2 gw bisa minta ikut dilibatkan, membantu apa pun yang bisa gw bantu, supaya gw gak mati gaya.

Gw sebutkan nomor kamar gw kepada sang mempelai, dengan tawaran silakan mengetuk pintu kapan pun malam ini jika temannya butuh bantuan. Meskipun gw nggak yakin teman2nya akan melakukan itu.

But we're talking about people who live to serve and help other human being here.... Orang2 yang nggak ragu ngetuk pintu kamar orang tengah malam jika itu untuk kebaikan. Dan itulah kemudahan (atau keberuntungan) ketiga yang gw dapatkan.

Jelang tengah malam, ketika gw sudah tak sengaja tertidur, pintu gw diketuk. Salah satu teman Gobind, Mbak Catur, datang dan mengajak gw membantu merapikan suvenir. Sejumlah 1.000 kalender abadi untuk suvenir baru datang malam itu, beserta kotak tempatnya. Keseribu suvenir itu harus masuk kotak sebelum fajar menyingsing kalau nggak kami akan dikutuk jadi candi :-). Jadilah, Mbak Catur mengumpulkan tenaga bantuan sebanyak2nya.

Tugas Sangkuriang itu dapat kami selesaikan sebelum tengah malam. Kerja yang menyenangkan, karena diisi obrolan akrab dan canda tawa. Padahal, gw baru kenal dengan teman2 Gobind ini. Sungguh kumpulan orang yang ramah dan menyenangkan :-)

Paginya, mereka menawari berangkat bersama2. Pagi2 buta :-) Tadinya sempat ragu menerima; bakal bengang-bengong nunggu acara nih... secara panitia pasti semua sudah punya kerjaan. Tapi gw putuskan ikut! Siapa tahu ada yang bisa dibantu lagi di sana. Lagian, bukankah gw sudah siap mental untuk bengang-bengong mati gaya?

Dan itulah kemudahan (atau keberuntungan) ketiga yang gw dapatkan.

Gw datang pagi2 bertepatan dengan kedatangan pohon2 kecil yang akan dijadikan suvenir. Pohon2 itu tentu harus ditata supaya mudah diambil tamu. Bayangkan... menata 1.000 pohon untuk suvenir!!! Butuh tenaga banyak :-) Apalagi di tiap pohon harus dikalungi nama pohonnya :-) Langsunglah gw ikut terlibat mengangkat2 pohon. Meski dengan rok panjang :-)

Daaaan.... kisah berakhir dengan bahagia. Pesta berjalan dengan lancar. Gw nggak jadi bengang-bengong mati gaya, karena sudah kenal beberapa orang panitia. Gw juga merasa lebih puas hadir di acara, karena bisa ikut "nyumbang tenaga". Ikut terlibat langsung untuk perayaan kebahagiaan sepasang teman. Nggak cuma datang sebagai tamu dan pengamat :-)

Sebuah nikmat yang tak terbayangkan bahkan hingga gw mendarat di Bali. Alhamdulillah yach... sesuatu banget *Syahrini mode: ON* ;-)

***

Dalam perjalanan pulang, gw merefleksikan pengalaman ini. Betapa semua menjadi begitu mudah, justru ketika gw melepaskan segala harapan. No expectation. Yang penting gw datang untuk berpartisipasi pada perayaan kebahagiaan teman.  The power of ikhlas... kekuatan dari berani melepaskan... seperti yang selalu coba Gobind sampaikan dalam setiap obrolannya (dan selalu gw lupakan tak lama setelah berpisah dari dirinya ;-)). Kebahagian bisa didapat dengan cara melepaskan. Melepaskan ikanan dari harapan terhadap hasil yang kita inginkan. Itu isi awareness insight di kalender abadi yang menjadi suvenir, untuk tanggal 1 Mei.

Itu refleksi tingkat pertama ;-) Masih self-oriented ;-)

Refleksi tingkat kedua terjadi setelah gw mulai berpikir tentang orang lain ;-) Dalam hal ini, gw mulai berpikir tentang kedua mempelai. Kedua mempelai yang mengabdikan hidupnya untuk perbaikan dunia. Yang bahkan begitu selfless dalam pernikahannya: alih2 menjadi raja dan ratu sehari di pesta, mereka justru memanfaatkan momen ini untuk memberi lebih kepada manusia2 lain. Dengan mengadakan donor darah di pesta pernikahannya. Dengan mengajak tamu beryoga. Dengan hanya menggunakan makanan/minuman/peralatan yang dapat didaurulang di pesta ini supaya tidak membebani bumi. Dengan mencanangkan satu suvenir kalender hanya dapat diambil jika tamu bersedia juga menanam sebatang pohon, karena kalender dibuat dari mengorbankan pohon. Dengan hanya menyediakan makanan vegetarian dan semua yang berasal dari tetumbuhan.

Dan gw berpikir.... jangan2 segala kemudahan dan keberuntungan ini bukan semata karena keikhlasan gw ;-) Tapi justru sebuah kemudahan bagi kedua mempelai yang sudah begitu ikhlas. Karena keikhlasan mereka, mereka mendapatkan satu lagi tenaga yang siap membantu. Satu teman lagi yang "percaya" dan akan berusaha menjadi lebih baik.

Atau... ini adalah kemudahan untuk kedua mempelai to give away another thing. Dengan gak sengaja gw nginap di hotel yang sama dengan panitia, itu memudahkan kedua mempelai memberikan gw "teman". Memudahkan mereka mengingatkan lagi pada gw tentang pentingnya ikhlas.

Jika demikian halnya, maka semua kemudahan gw di pesta lalu bukanlah apa yang gw dapatkan. Tetapi sebuah awal. Sebuah awal yang akan kembali lagi ke pelaku dalam bentuk yang berkat yang besar. Tangan yang memberi, adalah tangan yang memanen.. demikian awareness insight pada kalender abadi di tanggal 25 April :-)

Ah, how can I not admire them so much? Dalam pernikahan mereka pun, justru gw yang mendapatkan "kado" berupa teman2 baru dan diingatkan kembali akan keikhlasan. Manusia memang tidak akan pernah kehilangan apa-apa, karena manusia memang tidak pernah memiliki apa-apa.

Thank you for the beautiful gift, Gobind & Tika :-) Banyak berkat untuk kalian :-) Teruslah berusaha mengajak orang2 menjadikan dunia lebih baik. I rooted for the two of you during 'that game'... and I'm still rooting for the two of you in this even bigger game: LIFE.

***
Dan sebagai penutup, gw tadi bongkar2 arsip lama di milis tertaut di atas. Gw menemukan bahasan gw sendiri tentang bagaimana gw melihat kolaborasi mereka berdua, even when I haven't known that they'll be one entity :-)


That's the trust I have in them :-) And I think my trust will be the perfect gift for the couple who has given me so much :-)

Friday, August 26, 2011

Eclipse

Masih dalam rangka khataman nonton SYTYCD, rasanya ada yang kurang kalau nggak ngebahas yang satu ini. Terlebih karena dalam seminggu terakhir, this particular routine menjadi video yang paling sering gw putar baik di komputer maupun tablet.



Biasanya, tarian kontemporer nggak terlalu berkesan buat gw, karena genre ini cenderung membuat penari pria jadi kelihatan "melambai". Maklum, gw dibesarkan dalam tradisi tarian2 klasik dimana pembagian peran (dan gerakan) perempuan serta laki2 jelas ;-) Dalam tarian Jawa, misalnya, gerak perempuan dan laki2 memiliki pakem berbeda. Dalam ballet yang gerakannya kurang lebih sama pun, nuansa teknik untuk pria berbeda dengan perempuan.

Tarian kontemporer di atas menjadi berbeda dan berhasil memukau gw karena gerakan penari pria tetap maskulin. Dalam wawancara pra-tayang, koreografer Mandy Moore memang mengakui bahwa tarian ini dibuat extremely athletic untuk menggambarkan hi-and-low emotion yang terjadi. Tapi yang harus mendapatkan kredit juga di sini adalah si penari pria, Neil Haskell, yang berhasil menunjukkan keatletikan; yang biasanya tak lazim muncul pada penari kontemporer pria. Sebagai gymnast-turned-dancer, memang nggak heran kalau dia memiliki kualitas yang nggak biasa. Apalagi sebagai straight guy, jelas vibe-nya maskulin kan :-)

Kalau penari perempuannya nggak usah diomongin lagi deh... hehehe... Melanie Moore (yang kayaknya nggak ada hubungan saudara dengan Mandy Moore), memang dari awal jadi front-runner untuk musim ke-8 ini. Jadi nggak aneh kalau penampilannya ciamik juga :-) Wong akhirnya dia yang jadi juara ;-)

Fabulous choreography, fabulous dancers... is it too much to expect perfection? Ternyata enggak juga! Together, they make the perfect interpretation towards one of my all-time favorite song ;-)

Ah ya :-) Total Eclipse of the Heart adalah salah satu all-time favorite gw. Salah satu lagu yang selalu berhasil "nampol" dan mengaduk2 perasaan setiap kali gw dengar. Simply karena nada dan syairnya! Bukan karena gw asosiasikan dengan ingatan tertentu. Ini salah satu lagu yang gw intuitively feel dibuat dengan "jiwa" :-)

Lagunya, gw rasa semua yang pernah tahu syairnya pasti mengerti, bicara tentang patah hati. Tentang one-sided love; bertepuk sebelah tangan. Atau kalau syair2 awalnya yang bicara tentang "turn around" diartikan secara historikal, ini adalah kisah dimana seorang kekasih ditinggalkan orang yang dicintainya. Ini yg gw mengerti dari lagu ini, tapi nggak pernah benar2 bisa gw visualisasikan....

... sampai gw menemukan tarian ini di YouTube sekitar seminggu lalu.

Koreografi ini benar2 apik memvisualisasikan apa yang terjadi. Bagaimana di setiap bagian gerakan Neil dan Melanie bagaikan tarik-ulur dalam sebuah hubungan. Di satu bagian mereka menari bersama dengan sangat passionate, di bagian lain mereka bak bertarung satu sama lain. Love the part ketika mereka berdua menjatuhkan diri setelah half piroutte ke arah yang bertetangan.

[Background Sound: "And I need you now, tonight. And I need you more than ever..."]

Klimaksnya adalah leap of faith yang dilakukan Melanie, literally, dari jarak sekian meter ke pelukan Neil. And he caught her with perfect accuracy without losing any momentum!

[Background Sound: "I really need you tonight... forever's gonna start tonight..."]

Exquisite! Totally exquisite!

Bagian kesukaan gw?

Hmmm... justru bagian yang paling gw sukai ada pada momen2 setelah leap of faith yang mengesankan semua orang itu :-) Tepatnya di penghujung tarian, ketika Neil melepaskan diri dari pelukan Melanie. Melepaskan diri dari keintiman yang akhirnya berhasil mereka bangun. He says sorry with his eyes,.. while she looks longingly, heart brokenly, at him.

[Background Sound: "Once upon a time I was falling in love, now I'm only falling apart...
There's nothing I can do.. a total eclipse of the heart..."]

So painful, yet exquisite. Painfully exquisite!

Huffff.... nggak heran kalau gw can't get enough of this dance. Gw putar lagi, lagi, dan lagi. Dan yang menarik adalah: begitu terpukaunya gw pada tarian ini hingga luput memperhatikan betapa yummy-nya the shirtless Neil... HAHAHAHA... Mungkin itu efek gerhana total ya ;-)?

*oops, bagian terakhir kayaknya nggak cocok dengan mood keseluruhan tulisan ini ;-)? Yaah... maaf, kalau ada brondong manis gak dibahas, ntar mubazir dong :-p*