Sunday, January 20, 2013

Les Misérables: I Didn't Watch One Time Then Die

Mari kita bicara tentang "bencana". Nope, bukan bicara tentang banjir yang melanda beberapa hari lampau dan membuat ibukota tercinta berada dalam status darurat hingga 27 Januari. Banjir itu memang bencana, tapi... ah, sudahlah! Toh Mas Joko sudah turun langsung siang-malam jadi mandor di tanggul Kanal Barat yang jebol itu. Semoga tanggul lekas selesai perbaikannya, dan Mas Joko bisa konsentrasi ke langkah selanjutnya dalam mencegah banjir Jakarta. Biar orang2 macam ALAY ini tidak bisa komentar aneh2 lagi ;-)

Mari kita membicarakan bencana yang lain saja. Bencana yang dipenuhi pria2 ganteng bersuara bagus, atau setidaknya bersuara bagus, atau setidaknya ganteng doang ;-) Yup, mari kita bicara tentang "Les Misérables" - film adaptasi musikal West End of London yang sudah memenangkan 3 Golden Globe ini.

Gw termasuk khayalak umum perdana yang nonton film ini. Bukaaan, gw nggak diundang di acara sneak preview yang dihadiri oleh para selebriti itu. Pun bukan pemenang kuis apa pun yang dapat tiket gratis ;-) Gw bisa nonton film ini di tengah malam sebelum filmnya ditayangkan reguler, 12 Januari 2013, karena selama beberapa hari gw nongkrongin situsnya Blitz dan 21Cineplex untuk tahu tanggal tayang pastinya ;-) Yes, that's the price I paid for the chance to watch Les Mis ;-).

Dan... bagaimanakah kesan2 gw setelah menontonnya?

Well, setelah nonton 2x (yang kedua kemarin siang ;-)), beginilah tiga pendapat utama gw:

 **SPOILER ALERT! Run, reader, run! And don't come back ;-)*

1. Jangan nonton filmnya dengan tolok ukur teater musikal West End atau konsernya. 

Meskipun film ini benar2 adaptasi dari versi teater musikal West End, dan diperankan oleh banyak pekerja teater West End, film ini berbeda. For once, singing voice pemeran2 di film ini tidak sebaik pekerja teater ini. Hugh Jackman bermain bagus, aktingnya sebagai Jean Valjean sangat menyentuh. Tapi... meskipun memiliki latar belakang penyanyi musikal, dia jelas several leagues below Colm Wilkinson di masa muda (the first Valjean I watched :-)), John Owen-Jones (oh, that divine voice of his :-)), ataupun Alfie Boe (eargasm voice!). Sungguh, meskipun gw sangat menikmati akting Hugh Jackman, tak urung gw merindukan salah satu dari Valjean Quartet di lagu "Bring Him Home". Lagu ini, ketika dibawakan oleh keempat pemeran Jean Valjean, benar2 bikin gw multiple eargasm! Sementara, ketika dinyanyikan Hugh Jackman, membuat gw khawatir pita suaranya putus. He's so strained here!

Kalaupun kita mau membandingkan suara dengan konser 25 tahunnya, maka satu2nya yang menang adalah Eddie Redmayne ;-) He's far better than Nick Jonas as Marius Pontmercy :-) Di konser Nick Jonas membawakan Marius seperti pemuda menye2 yang jatuh cinta. Dan suaranya pun terlalu pop, sehingga jauuuuh terbanting ketika bernyanyi bersama pekerja teater papan atas yang memerankan anggota Friends of the ABC lainnya; seperti Ramin Karimloo, Hadley Fraser, dan Killian Donnely. Akting Eddie Redmayne benar2 memukau gw. Gw benar2 melihat Marius Pontmercy yang gw bayangkan ketika membaca bukunya dulu: intelligent, well-educated young man who knows what he is fighting for. Pemuda karismatik yang tidak tertutup bayang-bayang Enjolras, si pemimpin perjuangan. Class! Memang, kelihatan banget pedigree-nya sebagai alumni Eton College ;-) Dan pengalamannya sebagai soloist di koor Eton menjanjikan suara yang lebih tepat untuk membawakan peran ini. I love that deep voice of his... sama sekali nggak nge-pop kayak Nick Jonas.

In a way, Eddie Redmayne bahkan agak menutup sinar Enjolras yang diperankan Aaron Tveit. Well, Aaron bermain cukup bagus, dan adegan kematiannya sangat epik. Tapi... hampir di seluruh film dia lebih kelihatan sebagai pemimpin yang ragu dan takut. Ekspresinya nyaris datar sepanjang film; sama sekali tidak kelihatan sebagai "pusat" seperti Ramin di konser. Jujur, gw rada mempertanyakan mengapa bukan Killian Donnelly, atau Hadley Fraser, yang dipilih untuk memerankan Enjolras. They both have good facial expression as well as good voice ;-) Saksikan saja peran Hadley sebagai Grantaire di konser 25 tahun Les Mis - he's still my favorite Grantaire so far. Apalagi, mereka berdua toh juga ikutan di film ini - Killian sebagai Combeferre dan Hadley sebagai Kapten Angkatan Bersenjata.

2. Tontonlah film ini sebagai versi ringkas dari buku Victor Hugo

Gw punya 2 buku Les Misérables dalam bahasa Inggris. Versi cetak dan versi e-book. Dua2nya unabridged, alias diterjemahkan dari bahasa Prancis tanpa dipotong maupun diringkas sama sekali. Tapi... meskipun gw sudah punya buku ini bertahun2, gw nggak pernah membaca seutuhnya ;-) Dari 1463 halaman buku itu, mungkin sepertiganya gw skip atau speed reading doang ;-)

Lho, kok bisa? Dan apa hubungannya sama film ini? Hmm... mungkin gw musti cerita dari awal mulanya sedikit ;-)

Gw pertama kali mencoba membaca buku ini di SMA, setelah menemukannya di koleksi perpustakaan sekolah. Baru sekitar 250 halaman, gw menyerah. Salah satu faktornya adalah karena gw kesulitan mengingat nama2 dalam bahasa Prancis itu. Lha wong nyebutnya aja susah, apalagi mengingat ;-) Faktor kedua: Victor Hugo senang banget berahasia ;-) Bayangkan, salah satu tokoh yang muncul di awal cuma disebut sebagai Bishop of D___. D___ ini apa? Demak? Denpasar? Gimana gw mau ingat, kalau nggak tahu lokasinya ;-) Dan faktor ketiga: ceritanya detil banget! Menjelaskan tentang si Bishop of D___ ini aja sampai puluhan halaman, sebelum  pindah ke tokoh lain. Dan.... ngehe-nya.... Bishop ini bahkan bukan tokoh utama ;-)

So, ketika di Fakultas Psikologi seorang senior menyebutkan Les Misérables sebagai novel yang kaya bahan kajian psikologisnya, gw langsung cerita betapa painful pengalaman gw dengan buku ini. Di situlah, bak Valjean yang mendapatkan pencerahan dari sang rohaniwan, gw mendapatkan saran yang mengubah hidup gw *tsah!*:

"Ada versi ringkasnya. Tapi... saran gw sih jangan baca versi itu. Esensinya hilang. Mendingan loe dengerin versi musikalnya. Coba cari deh di British Council. Baru habis itu baca lagi bukunya biar paham"

Demikianlah. Gw pun mendengarkan laserdisc-nya di British Council. Berusaha memahami ceritanya melalui libretto yang ada. Plus membaca beberapa buku yang menceritakan tentang teater musikal di West End.

Mendengarkan versi musikal ini sungguh berguna, karena saat berikutnya gw membaca buku setebal bantal itu gw jadi tahu bagian mana yang bisa di-skip atau speed reading tanpa kehilangan esensi cerita. Serta bagian mana yang layak dapat perhatian khusus karena di musikalnya kurang jelas.

Segera, gw menemukan bahwa ada beberapa bagian yang diubah dari novel aslinya. Misalnya, di musikal tidak disebutkan bahwa Fantine juga menjual giginya. Bahwa yang menyampaikan surat Marius ke Cosette adalah Gavroche, bukan Eponine. Bahwa Fauchelevent bukan saja sekedar korban yang ditolong oleh Valjean, melainkan juga berkesempatan membalas jasa itu. Dan... bahwa Enjolras dan Friends of the ABC tidak segampang itu menerima Javert sebagai sukarelawan.

Naah... yang gw SUKA di film ini, hampir semua kelemahan yang gw temukan di musikal itu diatasi :-) Di film ini, beberapa adaptasi yang 'terpaksa' dilakukan di teater dikembalikan ke khitahnya. Mungkin inilah hikmah keajaiban teknologi *tsah!* ;-) Karena tanpa keharusan menyesuaikan dekor, mereka dapat membuat ceritanya lebih dekat ke buku.

Bagian Fantine menjual giginya ditunjukkan. And quite gruesome, I must say! Membuat gw ngeri :-) Demikian juga bagian Gavroche mengirimkan surat dan Fauchelevent membalas jasa. Hanya bagian tentang June Rebellion yang masih sedikit kabur.

Gw sempat baca juga riviunya Lea Salonga yang menyebutkan "kembalinya beberapa syair yang sudah lama dilupakan". Gw nggak tahu syair yang dimaksud, tapi... kemungkinan salah satunya adalah  Fantine's Death. Gw selalu bingung kenapa di teater Fantine menyanyikan syairnya sebagai "... Look Monsieur, where all the children play?". Anaknya kan cuma satu? Nah... di film ini, syairnya diubah menjadi "... Come Cosette, my child, where did you go?" dan disertai dengan bayangan Cosette yang memudar. Jleb banget! Berasa banget betapa berhalusinasinya Fantine!

Dan ah! Ya! Bicara tentang Anne Hathaway sebagai Fantine, I'd take back whatever doubt I have about her playing Fantine. Benar2 brutal! Pembawaannya tentang Fantine benar2 membuat salah satu lagu favorit gw, I Dreamed A Dream, berasa perih! Dipadu dengan penempatan lagu ini yang TIDAK seperti biasanya, ini benar2 killer song!

Soal penempatan lagu, satu lagi yang membuat gw terkesima adalah On My Own. Lagu ini di teater dinyanyikan saat Eponine mengantarkan surat untuk Cosette - salah satu adaptasi yang dikembalikan ke khitahnya dalam film ini. Lantas, nasib lagu ini gimana? Lagu ini ditempatkan pada situasi setelah Eponine melihat Marius dan Cosette jatuh cinta. Heartbreaking to the max! Apalagi, Samantha Barks memainkan peran ini dengan penuh penjiwaan. Honestly, I think she should change her last name into Roars. Samantha Roars. Obviously she is a lioness, not a dog or puppy ;-)

Satu lagi yang menarik buat gw di film ini berkaitan dengan "kembali ke khitah", yaitu adegan terakhir saat Jean Valjean meninggal. Di teater, arwah Fantine dan Eponine menjemput Valjean. Adegan ini selalu membuat gw bingung. Why Eponine? Eponine salah satu tokoh yang menarik buat gw, tapi... dia nggak pernah punya signifikansi dalam hidup Valjean. Kenapa dia yang jemput? Apa relevansinya?

Di film ini, hanya Fantine yang menjemput Valjean. Dan sekali lagi, Anne Hathaway menguras air mata gw ;-) She is no longer that girlish Princess of Genovia. She is a caring woman! A grateful mother! Perempuan yang secara signifikan mengubah hidup Valjean dengan memberikannya kesempatan "menebus dosa".

Tetapi dia tidak sendiri. Ada seseorang lain yang menunggu Valjean di penghujung lagu. And, Gosh! How meaningful it is that when Valjean is singing "... and remember the truth that once was spoken: To love another person is to see the face of God", there is someone waiting for him at the end of the corridor. The person who ".. bought your soul for God" 

Yup! The Bishop of Digne, orang yang mengembalikan kepercayaan Valjean tentang adanya Tuhan yang Maha Baik, adalah wajah yang dilihat Valjean ketika ajalnya tiba.

3. The Full Circle

Akhirnya, gw tiba di penghujung riviu gw yang maha panjang ini ;-)

*What do you expect? It's a 2.5 hour movie based on a very detail 1463 pages of novel, covering the saga of tens of years ;-)*

Gw yakin nggak perlu memberikan kajian filosofis terhadap jalan ceritanya. The world-wide web is full of them. Tapi ada satu hal yang ingin gw soroti dari film ini: ini adalah film yang membuat gw terdiam sepanjang perjalanan pulang. Too emotionally drained bahkan untuk berbincang tentang filmnya. Padahal, ini adalah kisah yang sangat akrab buat gw. Lagu2nya pun sudah gw kenal bertahun2. Tetapi tetap saja: 2x nonton, 2x terkuras air mata. It is so powerful, even for me ;-).

Gw nggak bilang film ini sempurna. Beberapa riviu yang nggak terlalu baik membuktikan itu. Tapi... buat gw, film ini benar2 full circle. The closure dari keterikatan gw terhadap kisah ini: setelah baca bukunya, mendengarkan musiknya, menonton konsernya, kini... gw melihat versi teaternya. Bukan benar2 di West End, memang, tetapi cukup dekat lah dari segi eksekusi. Juga the closure tentang pertanyaan gw yang selama ini tidak terjawab tentang beberapa syair dan adegan teaternya yang menurut gw kurang pas.

Menonton film ini, bagi gw, bak Valjean yang menatap wajah sang penyelamat (jiwa)nya di penghujung ajal. And the fact that it is Colm Wilkinson, the originator of West End's Jean Valjean, who plays the Bishop spices up the closure even more ;-)

Kalaupun ada yang gw menurut gw mengurangi lingkaran penuh ini, itu adalah fakta bahwa Tom Hooper tidak mendapatkan nominasi Oscar sebagai Best Director. I personally think he's brilliant... but perhaps I just don't know what the qualification for the Best Director is. Mungkin, salah satu penyebabnya, adalah beberapa bagian film yang dapat diinterpretasikan sebagai sangat disonan dari nilai2 Kristiani yang menjadi dasar tulisan Hugo. Seperti dibahas di sini. Tapi... jika ditelaah lebih jauh, bukankah Hugo sendiri memulai kisahnya dengan "kebohongan" sang Uskup. Ya, kebohongan itu untuk menyelamatkan Valjean, tapi... kebohongan juga sebuah pelanggaran terhadap 10 Perintah Allah yang diimaninya kan?

Buat gw, ini pun menunjukkan bahwa Hugo mempunya pemahaman tersendiri terhadap bagaimana menjadi "baik". Dan jika kita baca bukunya, maka kita akan menemukan suatu kutipan menarik di awal  kisah. Bagian yang menjelaskan mengapa si Uskup D___ ini mau melanggar perintah Tuhan demi sang mantan narapidana:

"What do you think of the Bossuet chanting the Te Deum during the persecution of the Huguenots?"
- page 42
Sejak awal, Hugo menunjukkan bahwa selalu ada 2 sisi dari sesuatu. Kebohongan yang menyelamatkan. Doa yang dilantunkan dalam kekejaman. Kebaikan di balik keburukan. Keburukan di balik kebaikan.

Dan itu adalah pemahaman yang melengkapi the closure dari film ini :-)

-----
Credit Title: judul "I Didn't Watch One Time Then Die" diilhami dari parodi lagu I Dreamed A Dream oleh Forbidden Broadway.