Sunday, January 17, 2010

Happiness Inside: A Book to Live By

"Kok saya belum lihat review tentang Happiness Inside?"

Pertanyaan si penulis itu sempat membuat gw gelagapan Selasa lalu. Jadi nggak enak, karena ketahuan belum mereview buku yang sudah gw terima (langsung dari tangan penulisnya) pada pertiga awal Desember 2009 - alias sebulan lalu. Tapi... on my defense, gw nggak merasa ditungguin review-nya ;-) After all, dengan 11 endorser dan 2 pemberi kata pengantar - yang semuanya "punya nama" sebagai motivator atau penulis buku2 populer - gw kira buku ini harus diterima sebagai given thing ;-) Nggak perlu di-review lagi... ;-)

*Oops... paragraf di atas bohong ;-) Itu namanya jurus berkelit sambil ngeles ;-)*

Tak urung, pertanyaan itu menggugah kembali pertanyaan yang gw ajukan kepada diri sendiri: why is it so hard to review the book? Gw tahu alasannya sangat klasik: I didn't feel the emotional push during or after reading it. Tapi... yang menjadi misteri buat diri gw sendiri adalah: kenapa emotional push itu tidak muncul? Apakah bukunya nggak bagus? Enggak juga. Gw pernah meriviu buku2 yang [menurut gw] jauh lebih jelek. Yang paling nyata kan riviu tentang buku ini ;-) Sedangkan Happiness Inside, secara isi, jauh lebih bagus. Tidak ada bolong yang membuat kening gw mengernyit, meskipun bukunya sudah gw baca dari berbagai sudut. Yang belum gw lakukan "cuma" membacanya secara terbalik aja... HAHAHAHA...

Separuh dari isi buku ini bahkan bukan sesuatu yang baru buat gw. Gw pernah mendengar Gobind Vashdev, si penulis, mengucapkannya secara langsung. Gw pernah juga dikirimi beberapa artikelnya di majalah Psikologi Plus; yang kemudian masuk juga di buku ini. Pendeknya, if I had issue with this guy's way of thinking (errr... should I say "way of feeling"?), I should've known for long. Boro2 gw bakal cari bukunya ;-) Jadi, ketidaksamaan cara pandang pasti bukanlah sesuatu yang membuat gw kesulitan meriviunya.

Mungkinkah karena bukunya bukan suatu kisah naratif, seperti buku2 yang biasa gw riviu? Tidak memiliki tokoh yang bisa gw gugat penggambarannya? Mestinya sih enggak juga. Kalau berkali2 episode sebuah film seri bisa menimbulkan emotional push buat gw, mestinya nggak ada alasan gw nggak bisa meriviu buku yang berupa kumpulan kisah. Lha wong lagu dan puisi aja bisa gw bahas kok ;-)

Pulang dari pertemuan Selasa lalu, gw kontan membuka lagi buku tersebut. Gw baca lagi, lagi, dan lagi.... (meskipun tetap tidak dicoba untuk membacanya secara terbalik ;-)), dan akhirnya gw menemukan alasannya: this book is not meant to be reviewed. This book is meant to live by ;-)

To live by. Ini penjelasan yang paling tepat untuk menjelaskan kesulitan gw meriviu. Buku2, lagu2, episode2, dan puisi2 yang pernah gw riviu adalah sesuatu yang sudah selesai. Gw adalah pengamat dari luar yang menilai produk2 jadi tersebut. Buku ini - sebaliknya - adalah sesuatu yang belum jadi. Kita si pembaca (termasuk gw tentunya) adalah karakter2 yang ada di dalamnya. Tokoh2 yang akan tertentukan hidupnya setelah ini. Bak seri Pilih Sendiri Petualanganmu, buku ini adalah pilihan di akhir sebuah segmen kisah. Pilihan yang harus diambil untuk menentukan akhir kisahnya. How can I review, if I haven't finished "reading" it?

Gw ambil contoh sebuah bagian yang menarik bagi gw. Pada halaman 47, Gobind menulis yang berikut ini:

Pada pria, sebuah persoalan harus diselesaikan, tetapi bagi wanita persoalan harus di-sharing, tanpa selalu harus ada penyelesaiannya. Fenomena yang terjadi di sekitar kita: bila seorang pria mendengar keluhan dari wanita, pria secara insting akan menyela dan memberikan solusi. Padahal ini tidak diperlukan oleh pasangannya, yang diperlukan adalah telinga untuk mendengar dan sebuah pelukan yang hangat untuk menentramkan.


Sebulan yang lalu, ketika gw membaca kalimat ini, yang gw lakukan hanyalah menjadikannya status di FB. Ditingkahi dengan tambahan komentar: Maya khawatir dirinya adalah laki-laki setelah membaca kutipan ini ;-)

Hehehe... buat gw, hal ini menarik. Tetapi tidak baru. Gw tahu tentang anima-animus dalam diri tiap manusia, dan sudah selalu curiga bahwa animus - sisi maskulin - adalah si pemenang dalam diri gw. So, karena gw membaca buku ini dalam tataran kognitif, gw "cuma" mendapatkan suatu angle baru dari pengetahuan yang sudah gw tahu. Suatu angle yang bisa diubah menjadi witty status FB, tetapi berhenti di sana.

Pengetahuan kognitif ini baru berubah menjadi sesuatu yang afektif ketika tadi pagi gw jengkel berat dengan my dearest mom ;-) Seperti biasa, animus yang bertahta di diri gw menginginkan suatu jawaban singkat dan jelas atas sebuah pilihan yang gw ajukan :-) Dan seperti biasa, anima yang berkuasa di diri my mom mengarahkan beliau untuk memperumit dan membuat tidak jelas jawaban ;-)

Tapi kemudian kata2 di atas gw terngiang lagi. Dan kejengkelan gw sedikit mereda. I now remember why she does what she does ;-) Serta teringat kesimpulan di akhir kisah itu:


Apabila kita mau dan belajar memahami perbedaan-perbedaan ini lebih luas, maka kita akan sangat mungkin menguraikan banyak kekecewaan dalam bergaul. Kesalahpahaman dalam lenyap dengan cepat atau dapat dicegah.

(hal 48)


And indeed, ketika gw mencoba menerapkannya dalam sebuah tingkah laku nyata, ketika gw berhenti ngomel and start trying to understand, kejengkelan gw menghilang. I found happiness, without changing the outside world.

Sesuatu yang sederhana, bukan sesuatu yang baru, tetapi... sesuatu yang harus kita segarkan lagi, lagi, dan lagi dalam kehidupan sehari-hari. Dan di situlah fungsi buku ini: to remind us what we've already known again and again, until we live by it.

Ada puluhan kisah dalam buku ini. Semuanya sederhana dan disampaikan dengan cara yang sangat sederhana. Jika yang dicari adalah sebuah pengetahuan baru dalam buku ini, mungkin kekecewaanlah yang akan didapat. Jika yang dicari adalah kecanggihan writing skill, apalagi kata2 canggih berbunga2, juga kekecewaan yang akan didapat.

Karena letak keistimewaan buku ini adalah ketidakistimewaannya.

Itu yang membuat gw kesulitan meriviunya. Gw terbiasa pada sesuatu yang "istimewa", sesuatu yang ekstrim - entah yang thought provoking, atau sesuatu yang sangat emotion provoking. Gw tidak terbiasa dengan nuansa2 hati yang tidak memprovokasi; sesuatu yang merasuk perlahan2 tanpa kita sadari.

Perhaps this is a long shot, tetapi.... buku ini membuat gw teringat pada sebuah puisi Pak Sapardi [Djoko Damono] yang gw sukai: Metamorfosis

ada yang sedang menanggalkan
kata-kata yang satu demi satu
mendudukkanmu di depan cermin
dan membuatmu bertanya

tubuh siapakah gerangan
yang kukenakan ini
ada yang sedang diam-diam
menulis riwayat hidupmu
menimbang-nimbang hari lahirmu
mereka-reka sebab-sebab kematianmu

ada yang sedang diam-diam
berubah menjadi dirimu


Puisi Pak Sapardi ini dulu selalu membuat gw bertanya2: siapa yang berubah menjadi diri gw? Who cares enough (or is busybody enough) to do that? Membaca buku ini membuat gw sadar: it's the other side of myself, if I care enough to find the happiness inside.