Thursday, November 30, 2006

Maju Mundur Parkir Mobilku

Gw punya julukan manis buat mantan GA & HR Manager di kantor gw: Sulley. Secara fisik beliau memang mirip James P Sullivan aka Sulley, monster paling mengerikan (top scarer, bukan top scorer) yang sebenarnya paling baik hati di film Monsters Inc. Badannya tinggi gede, penuh bulu di kaki dan tangan *eh, kakinya gak pernah lihat ding, tapi kalau tangannya sering ;-)*, mana rambutnya rada gondrong dan berewokan pula! Intimidating appearance banget pokoknya ;-). Sifatnya? Juga mirip Sulley. Tampang Rambo hati Rinto. Dia manusia paling empatik di kantor gw; pendekatannya ke masing2 orang sangat personal, dan membuatnya dicintai oleh semua orang. Arbitrator yang baik sekali untuk semua orang yang bermasalah; karena dia selalu mendengarkan dengan seksama uneg2 kedua belah pihak, untuk kemudian membantu mencarikan solusi yang paling menyenangkan buat semua orang.


Jaman rame2nya isyu BBM bakal naik, tiba2 manajemen gedung bikin peraturan yang enggak banget: mematikan lift gedung parkir jam 18:00, dengan alasan penghematan listrik. Dengan peraturan ini, kalau tenant pulang kantor jam 18:05 saja sudah harus merayapi gedung parkir; karena akses penghubung ke gedung utama hanya ada di lantai 8 dan lantai dasar. Yang apes kalo dapat tempat parkir di lantai 4a, 4b, atau 5a yang pas di tengah. Mau naik dari lantai dasar, atau turun dari lantai 8, sama capeknya ;-)

Waktu itu, dengan empatiknya, Pak Sulley bisa meyakinkan manajemen gedung untuk memundurkan batas waktu hingga jam 20:00, mengingat di Jakarta jarang sekali orang bisa pulang tepat waktu. Pak Sulley juga bisa meyakinkan bahwa kalau kantor kami minta over-time (yang biayanya nggak sedikit itu), lantaran harus kerja sampai malam, sebenarnya biaya over-time yang kami bayarkan bisa mencakup perpanjangan waktu operasi lift gedung parkir tanpa membuat manajemen rugi.

Sejak beberapa bulan lalu, sayangnya, si bapak ini merasa sapi2 di Jawa Timur lebih menarik diurus daripada kami2 di sini. Semua orang kehilangan dia. Buat gw, hilangnya bapak ini paling berasa ketika seminggu terakhir manajemen gedung kantor mulai bikin peraturan aneh (lagi).. hehehe.. Sekali ini mengenai arah parkir mobil di gedung parkir ;-).

Gw jelasin dulu struktur gedung parkir kantor gw. Gedungnya memang sempit, sehingga pembatas roda di bagian dalam dibangun tepat di bawah lantai berikutnya. Mobil sedan bisa mundur sampai batas roda, karena bagasinya cukup pendek untuk menyelip di bawah lantai berikutnya. Mobil jenis minibus tidak bisa mundur sampai ke batas roda, kecuali kalau mau bagian belakang mobilnya hancur menabrak lantai berikutnya. Tapi, kalau parkir maju, maka moncong mesin minibus masih bisa menyelip di bawah lantai berikutnya, walaupun maju hingga pembatas roda.

Intinya, pilihan lain untuk minibus adalah parkir mundur tanpa mencapai batas roda, which is sangat tidak disarankan karena mengganggu hajat hidup orang banyak.. hehehe.. karena moncong mobilnya akan terlalu maju, menyulitkan mobil lain lewat dan parkir.

Naah.. seminggu yang lalu, waktu pulang kantor, gw menemukan sepucuk surat diselipkan di wiper mobil gw (which is, jenis City Car, kecil banget, dan nggak lebih dari 1,000cc). Bunyinya: MOHON MAAF, DEMI KEAMANAN MOBIL ANDA SENDIRI, MOBIL MINIBUS (KIJANG, KUDA, DLL) DILARANG PARKIR MUNDUR. Surat tersebut ditandatangani pihak manajemen gedung, dan harus gw tandatangani sebelum dikembalikan.

Ya sudah, gw tanda tangani dan kembalikan ke petugasnya, tapi dengan catatan kecil: apa alasan logisnya gw nggak boleh parkir mundur? Mobil gw jenisnya City Car, bukan Minibus. Gw tidak termasuk yang terancam bahaya, karena buntut mobil gw sangat pendek; diparkir mundur hingga ke batas roda pun buntutnya nggak akan nabrak lantai di atasnya. Dan gw selalu mundur hingga ke batas roda, sehingga moncong mobil gw tidak mengganggu siapa2.

Well, besoknya, seorang petugas parkir menghampiri gw. Mengatakan bahwa dia diminta manajernya untuk menyampaikan pada gw alasan berikut:

Memang mobil Ibu pendek sekali, jadi diparkir mundur pun tidak mengganggu siapa-siapa. Tapi kemarin ada APV ikut-ikutan parkir mundur di sebelah mobil Ibu, mengganggu jalan mobil lain. Waktu ditegur, bilangnya mobil itu aja boleh parkir mundur. Jadi tolong lain kali Ibu parkirnya jangan mundur, biar orang lain tidak ikut-ikutan.

Hmm.. memang cara menyampaikan alasannya simpatik. Tapi masih nggak menjawab pertanyaan gw ;-). So what gitu lho, kalau ada pemilik APV yang nggak bisa melihat perbedaan dimensi panjang-lebar-tinggi? Salah gw gitu? Hehehe.. Penyelesaiannya kan di bagian menjelaskan kepada si pemilik APV mengenai dimensi panjang-lebar-tinggi yang berbeda dengan mobil gw, bukan dengan melarang gw parkir mundur.

Jadi gw bilang kalau belum ada alasan yang jelas, nggak ada dasar buat gw untuk dipaksa mengikuti aturan itu.

Lhaa.. kok tiba2, kemarin manajemen gedung complain ke kantor gw, katanya gw melanggar peraturan. Peraturan yang mana yang gw langgar? Yang dilarang kan Minibus, sementara mobil gw bukan Minibus. Ya kalau memang mobil gw mau dikategorikan yang tidak boleh parkir mundur sih boleh2 aja.. hehehe.. Tapi peraturannya harus diubah dulu, bahwa bukan hanya Minibus yang dilarang parkir mundur. Atau berikan alasan kenapa City Car dimasukkan dalam kategori Minibus.

Kalau Pak Sulley masih belum ngangon sapi, gw yakin bahwa beliau juga akan mencoba menyelesaikan masalah ini dengan elegan seperti jaman kekisruhan lift gedung parkir dulu. Sayangnya, Pak Sulley udah nggak ada. Jadi yang gw terpaksa menerima kenyataan bahwa yang gw dapat hanya sepucuk surat cinta ini:

Sent: 29 Nopember 2006 10:08
Subject: Larangan Parkir Mundur untuk Minibus di area tengah gedung Parkir

Menanggapi surat dari Building Management mengenai LARANGAN PARKIR MUNDUR di area tengah gedung parkir untuk kendaraan sejenis minibus maka dengan ini kami himbau kepada rekan-rekan yang memakai jasa gedung parkir untuk dapat mematuhi ketentuan tersebut. Pihak building management menyediakan tempat parkir untuk kendaraan sejenis minibus di area parkir sisi selatan dan utara.

Bila ada rekan2 yang keberatan dan punya argumen atau logika berkenaan dengan larangan tersebut, kami mengingatkan bahwa mereka punya alasan untuk menerapkan peraturan tersebut dan kita sebagai penyewa atau pemakai jasa mereka, mau nggak mau harus mematuhi peraturan mereka sebagai pemilik atau pengelola gedung tersebut.

Demikian himbauan dari kami, atas perhatian dan kerjasamanya kami ucapkan terima kasih.


Well, suratnya memang sopan dan wajar. Tapi.. kalau diletakkan pada konteksnya, maka jadinya A-to-K* ;-). Gw nggak tahu mana yang lebih parah: pihak penguasa (Manajemen Gedung) yang bikin peraturan seenak udel dan memaksakan pendapatnya dengan menggunakan tangan besi atau.. orang2 yang menganggap bahwa peraturan manajemen itu adalah sabda pandhita ratu yang nggak boleh dipertanyakan? Bahkan tidak merasa perlu untuk klarifikasi pangkal masalahnya apa?

Lha.. kemana hak kita untuk mendapatkan penjelasan, let alone layanan dari manajemen gedung? Kami ini tenant atau kerbau yang dicocok hidungnya ;-)?
-------
*A-to-K : Aduh, Bo, Cape Deh! Eike Fisa Gila, Hay! Iiih, Jijay Kaleee! (dipinjam dari tebak2annya Ima)

UPDATE 1 Desember 06

Bukan sulap bukan sihir. Baru saja Pak Sulley berkunjung ke kantor kami! Nggak ada rencana sama sekali, katanya impulsif aja karena ada waktu kosong sebelum naik pesawat ke Surabaya nanti malam. Kebetulan? Atau memang semua peristiwa terjadi karena rangkaian kebetulan? HAHAHA.. For those who believe in coincidence.. ;-)

Wednesday, November 29, 2006

Percakapan Babi

Ini bukan percakapannya Snowball dan Napoleon, dua babi yang mengambil alih peternakan Mr Jones dalam satire klasik Animal Farm. Bukan pula percakapan Senir, Senar, dan Senor, tiga anak babi di majalah Donal Bebek. Ini adalah percakapan tentang babi yang gw comot dari sebuah tempat. Untuk sementara link ke tempatnya gak bisa gw sertakan, karena perijinan baru clear dari salah satu subyek. Kalau posting ini mendadak hilang, berarti nggak dapat ijin dari subyek yang satunya.. HAHA.. makanya, cepet2 disimpan ya, karena ini bisa jadi collectible item ;-)

Percakapan antara Subyek X (selanjutnya disebut X saja) dan Subyek Y (selanjutnya disebut Y saja) adalah sebagai berikut. Nggak dipotong apa2, langsung copy paste dan di-set supaya enak dibaca saja:
X: Science diperlukan. Tanpa science, hanya dogma dan retorika saja.

Y: Dalam beragama pun saya tidak meninggalkan science. Tapi akhirnya menemukan bahwa apa yang dikatakan agama adalah benar; hanya saja science belum menemukannya. Contoh kecil: larangan makan babi. Babi jelas2 diharamkan. Kenapa? Pertama2 ditemukan alasan bahwa babi tidak berleher, sehingga sulit disembelih secara halal. Setelah itu ditemukan babi adalah inang dari segala penyakit. Terakhir, 30 tahun terakhir ini, ditemukan bahwa babi memiliki struktur fisik yang paling mirip dgn manusia. Memakan sesuatu yang struktur fisiknya mirip tentu mendatangkan bahaya tersendiri, karena dalam tubuh akan terjadi dekomposisi bahan makanan yang setara dengan dekomposisi tubuh kita setelah mati.

X: Sekarang makan Ayam karena Flu Burung lebih berbahaya Anda tidak mengatakan berbahanya. Coba Anda hitung dana untuk menanggulangi Flu burung, Antrax berapa besar dibandingkan penyakit dari babi....dari penjelasan Anda menunjukan Anda sudah dibodohi agama (ini bukti, bukan saya yang omong) bukan? Babi diidentikan dengan manusia. Babi = Manusia. Jadi, tidak boleh dimakan karena strukturnya sama. Betapa mulianya hewan Babi. Anda tahu dalam kisah Sie Yu Cie, ada Dewa Babi (Pa Kai). Nah siapa tahu, saudagar Arab yang pulang dari China pada masa lalu takut makan babi, sehingga muncullah larangan makan babi itu.

Y: Flu burung dan sapi gila adalah virus, bukan struktur fisik. Virus bisa diatasi, tapi bagaimana mengatasi struktur fisik? Dan dasar ilmiah apa yang Anda punya untuk mengatakan bahwa larangan itu muncul karena pengaruh Cina, dalam hal ini kepercayaan tentang Dewa Babi? Kita bicarakan ini lagi kalau Anda sudah bisa membuktikan bahwa babi dicantumkan hal itu, bukan hanya berdasarkan siapa tahu, karena bukti ilmiah tentang larangan itu sudah ada. Jangan disangkal hanya dengan siapa tahu.

X: Point Anda mengatakan babi bisa menimbulkan penyakit. Tentang struktur Anda sangat naif. Coba Anda perhatikan: APA ADA BABI PERCOBAAN? Mengapa ada Kelinci Percobaan? Mengapa dalam penelitian medis, Tikus dan Monyet digunakan sebelum diterapkan pada manusia? Seharusnya babi kan yang mirip manusia ?????? Ini fakta yang berbicara! Jadi monyet lebih mirip manusia demikian Evolosi Darwinisme! Arkeologi menemukan fosil-fosil manusia purba bukan fosil Adam!!!

Y: Tidak ada babi percobaan ya? Coba perhatikan jurnal2 ini: penelitian tentang kulit dan penelitian tentang dekomposisi Bukankah keduanya adalah percobaan dengan babi untuk diaplikasikan pada manusia? Mengapa dulu dipakai kelinci dan monyet dalam percobaan? Karena ilmu pengetahuan belum mengerti tentang babi. Saat ini, setelah mereka menyadari, penelitian dengan babi mulai banyak. Poin saya tentang babi, hmm.. babi merupakan inang dari berbagai penyakit. Selalu tentang struktur fisiknya yang saya bahas, karena memag struktur fisik babi akhir2 ini terbukti sangat kondusif terhadap berbagai penyakit; bukan hanya penyakit tertentu seperti avian flu ataupun mad cow

X: Wait! Soal Babi itu mendatangkan penyakit menurut Anda dan agama...tapi di Indonesia...belum pernah ada penyakit babi gila yang ada sapi gila dan flu burung...mungkin Anda terpaku pada istilah Gila babi yang sering digunakan untuk memaki orang.. jadi Anda mengatakan manusia itu sama dengan babi.. hahaha.. Pokok persoalannya, agama hanya mempermasalahkan babi saja. Burung dan sapi tidak. Jadi masih kurang...dan itu wajar...karena zaman berkembang....sementara dogma tetap terbelenggu dan science berlenggang kangkung.

Y: Kemarin Anda mengatakan tidak ada babi percobaan, untuk menyangkal informasi (dari saya) bahwa babi memiliki struktur fisik mirip manusia. Saya berikan bukti ilmiah berupa jurnal bahwa ada babi percobaan, yang jelas mengatakan bahwa struktur fisik babi (dalam penelitian ini: kulit & lemak) mirip dengan manusia dan ideal untuk meneliti tentang jaringan manusia. Dan apa yang Anda lakukan? Anda tidak mau menerima informasi ini. Sebaliknya, justru Anda menceracau tentang ayam dan sapi, sementara sudah dijelaskan bahwa ayam dan babi menjadi medium sebuah virus, sementara pada babi masalahnya adalah struktur fisik yang menjadi inang (=induk/tempat tumbuh) berbagai penyakit dan memiliki kemiripan dengan manusia. Seorang ilmuwan yang perduli pada fakta tentu bisa membedakan medium dan induk, virus dan struktur fisik ;). Ayam dan sapi aman dimakan jika dipastikan tidak mengandung virus tertentu, sementara untuk babi.. bagaimana mengubah struktur fisiknya ;)? Satu sikap yang bertentangan dengan sikap ilmiah ;) Karena ilmuwan, ilmiah, selalu terbuka pada fakta/informasi baru ;).
Udah baca percakapan di atas? Nah.. sekarang pertanyaan dari gw ya.. HAHAHAHA..

Pertanyaan pertama: Dengan memperhatikan interaksi antara X dan Y saja (lupakan dulu topik percakapannya), construct apa yang bisa kita observasi (dan selanjutnya kita buat alat ukurnya) dari percakapan ini?

Pertanyaan kedua: Bisakah persamaan [science => logika => X <= faith <= agama] digunakan untuk menjelaskan percakapan di atas? Jika ya, sebutkan dimana letak X dan Y pada persamaan tersebut serta jabarkan alasannya. Jika tidak, sebutkan alasan Anda dan buat persamaan baru yang dapat menjelaskannya.

Yang bisa menjawab dengan baik dapat hadiah senyum manis dari gw ;-). Jangan khawatir, senyum manis gw mahal harganya; soalnya gw jarang senyum, biasanya ekstrim aja kalau gak cemberut, ya ngakak ;-).

Yang pingin jawab pertanyaan pertama, tapi masih bingung construct tuh apaan, boleh ngambil mata kuliah Konstruksi Tes asuhan Bapaknyaima and his vestal virgins dulu.. hehehe.. Mata kuliahnya nggak dijamin asyik dan gampang, tapi setidaknya asistennya semua layak pandang; cantik2 kok.. yang ganteng juga ada ;-) Ayo, ayo, yang asisten, yang asisten.. dipilih, dipilih.. duduknya rapat dikit, Neng, empat-enam, empat-enam..

Ohya, sayembara tertutup bagi PapanyaNaya yang udah kelanjur jawab sebelum ditanya. Katanya: apalah gunanya GPS kalau nggak punya peta, karena hanya jadi kumpulan koordinat tak bermakna ;-) Nice answer!

PS: Nggak usah serius2 mikirin jawabannya.. hehehe.. Tapi kalau mau serius nggak dilarang ;-)

Thursday, November 23, 2006

Pak Karman

Tiap akhir bulan, deket2 hari gajian, ada tamu tetap di kantor gw. Namanya Pak Karman. Profesinya bukan jual mobil, walaupun namanya car man (halah!), tapi jualan parfum. Entah parfumnya dapat darimana; yang dijual selalu tanpa kotak, kadang2 tutupnya juga udah nggak ada, atau punya cacat2 lainnya.. tapi mau nuduh palsu juga nggak berani, soalnya wanginya sama persis dan tahan sama lamanya seperti parfum2 yang dijual di outlet resmi. Gw duga sih dia punya akses ke parfum2 import yang di-reject karena cacat selama perjalanan.

Lantaran kualitas parfumnya sebanding sama yang di outlet resmi, sementara harganya setengah dari harga resmi plus boleh nyicil 2x, rata2 teman sekantor (termasuk gw yang agak parfum-mania) jadi pelanggannya Pak Karman. Tapi.. yang namanya beli parfum tuh kan emang nggak kayak beli kacang atom ya? Semurah2nya harga parfum Pak Karman, setahun tuh kita butuh beli berapa parfum sih? Paling banter 2 atau 3 parfum kan? Nah.. dari tahun ke tahun, selalu ada saat dimana nggak satu pun teman sekantor gw yang beli. Biasanya kalau sudah begitu, Pak Karman bakal off dulu 1-2 bulan sebelum menawarkan barang ke kantor kami lagi.

Waktu akhir Juli 2006 Pak Karman nggak datang, kita nggak mikir panjang. Paling juga dia lagi off karena bulan Juni nggak ada yang beli. Waktu akhir Agustus 2006 dia nggak muncul, kami juga masih belum cemas. Masih yakin akhir September 2006 Pak Karman bakal muncul. Lagipula, akhir September kan udah puasa; biasanya banyak yang beli parfum buat lebaran.

*atau setidaknya Pak Karman getol pakai momen lebaran untuk ngebujuk kami beli parfum ;-)*.

Nah.. waktu September 2006 dia nggak muncul juga, kami baru mulai mikir: ini orang kemana sih? Teman2 di kantor mulai ngitung jumlah cicilan yang belum dibayarkan ke Pak Karman. Jumlah totalnya (dari kantor gw) ternyata bukan jumlah yang kecil: hampir satu setengah juta rupiah. Lha, mosok uang segede gitu dicuekin sih? Apa Pak Karman menang lotere, atau menang Who Wants to be a Millionaire, kok nggak niat nagih piutangnya?

Mulailah teman2 sekantor gw sibuk menelepon Pak Karman. HP-nya nggak pernah diangkat, bahkan terakhir suara mekanis mengatakan bahwa nomor itu belum terdaftar.

Sampai pertengahan November 2006, yang berarti hampir 5 bulan, Pak Karman bak lenyap ditelan bumi. Dari yang nge-joke bahwa Pak Karman sudah kaya, kami jadi mulai cemas: jangan2 Pak Karman sudah tiada? Jangan2 Pak Karman kecelakaan, HP-nya tergilas atau dicuri orang, sehingga dia meninggal sendirian tanpa ada yang tahu identitasnya? Jangan2 dia sudah jadi cadaver mahasiswa FKUI?

*kan biasanya mayat tak dikenal dibawa ke RSCM, dan kalau nggak ada yang claim, bisa jadi cadaver buat mahasiswa*

Dan kemarin.. Rabu, 22 November 2006, tiba2 seorang teman berteriak..

Pak Karman datang! Di depan ada Pak Karman!

Langsung berbondong2 kami keluar. Semua kerjaan ditinggal. Pak Karman masih seperti yang dulu dengan tas besar berisi botol2 parfum yang dibungkus kain. Botol2 parfum yang ada cacatnya. Tapi kali ini parfum yang dibawa tidak sebanyak biasanya.

Kemana Pak Karman selama ini?

Saya pulang kampung, Bu, empat bulan saya di kampung. Waktu bulan Juni itu anak saya kecelakaan, jatuh dari sepeda motor, kakinya patah.

Kami semua mengangguk dan mengungkapkan duka cita kami. Tapi.. kalau pulang kampung, kenapa HP-nya nggak diangkat? Apa nggak ada sinyal?

Oh.. HP saya hilang, Bu. Ya itu, waktu mau pulang ke kampung nengok anak saya yang kecelakaan, HP saya dicopet orang di bis.

Sekali lagi kami kompak mengeluarkan paduan suara: ooooh.. kecopetan! Dan sekali lagi kami mengungkapkan ikut belasungkawa. Lha, tapi, kan pulang kampungnya 4 bulan. Yang sebulan lagi kemana?

Pulang dari kampung, ternyata kontrakan saya di Manggarai udah nggak ada, Bu. Kebakaran waktu saya di kampung. Botol parfum saya yang belum kejual, ada 50 botol, semua ikut kebakar. Jadi saya cari modal dulu sama cari kontrakan baru.

Sekali ini paduan suara kami terhenti. Terlalu banyak informasi yang kami serap. Sudah jatuh tertimpa tangga, demikian kata pepatah untuk menggambarkan kemalangan yang beruntun. Lha, kalau yang kayak Pak Karman ini, rasanya sudah lebih dari itu. Sudah jatuh, tertimpa tangga, sampai njebur selokan.

Buru2 semua teman yang punya hutang pada Pak Karman ambil uang di ATM sebelah kantor. Sambil menunggu teman2 yang ambil uang, gw sempat ngobrol2 sama Pak Karman. Gw bilang bahwa gw takjub, setelah semua yang dialaminya, Pak Karman masih nampak biasa sekali. Wajahnya tetap sabar, tetap tenang, seolah2 nggak ada kejadian apa2. Padahal jelas dia kehilangan penghasilan beberapa bulan, modalnya terbakar, dan sekarang dia harus mulai dari nol lagi.

Dan Pak Karman, masih dengan wajahnya yang tenang dan sabar, hanya menjawab begini:

Rejeki itu kan dari Gusti Allah, Bu. Nanti juga ada lagi rejeki saya. Kemarin balik dari kampung saya udah nggak punya apa2 lagi, tapi ternyata juga ada rejeki. Ada ibu-ibu yang lama nggak bayar2, susah ditemui, kemarin langsung bayar. Ada juga yang ngasih saya voucher perdana HP, katanya dapat gratis dan dia nggak butuh. Ini Insya Allah duit bayaran ibu-ibu di sini sebagian mau saya belikan HP bekas, jadi kalau ada yang nanyakan parfum gampang.

Ah.. gw jadi malu sama Pak Karman. Kadang, kehilangan materi yang nggak seberapa dibandingkan Pak Karman, udah bikin gw ngerasa nggak punya apa2. Di sini, di depan gw, ada orang yang kehilangan semua materinya, dan dia masih sangat percaya bahwa itu bukan apa2. Masih bisa bilang: rejeki akan datang lagi.

Sometimes we learn a lot from someone we expect the least.

Sunday, November 19, 2006

The LOST Quotes

My choice of entertainment this past 2 weeks is LOST.

Iya.. maksudnya film seri Lost, yang sempat diputar di Indosiar beberapa waktu lalu. Sekarang gw udah sampai season 2. Emang gw terusin nonton film yang alurnya super duper lambretta ini dan alurnya bolak-balik flashback (biarpun bapaknyaima sudah nyerah beberapa episode lalu; katanya mau nunggu summary dari gw aja.. hehehe..), karena ide ceritanya menarik. Puluhan survivors ditempatkan di sebuah pulau tanpa kontak dengan dunia lain, what do they have in common but the place of destination ;-)? Pasti menarik melihat bagaimana orang2 yang hanya punya kesamaan semu ini saling berinteraksi untuk tetap bisa selamat sampai God knows when.

Lepas dari detil2 yang agak mengganggu (i.e. si dokter bedah yang tetap ganteng bin klimis walaupun udah 50 hari terdampar, stok obat2an yang nggak habis2, komputer di bunker penelitian yang masih berfungsi dengan baik walaupun tidak pernah mati dalam 6 tahun terakhir dengan bentuk monitor dan tampilan layar yang mengingatkan gw pada WS-5 yang terakhir gw pakai tahun 1993-an), penggambaran karakter2 di film ini menarik. Banyak yang bisa dipelajari dari menonton karakter2 ini; karakter2 yang pastinya banyak kita temui dalam kehidupan nyata sehari2. Tokoh John Locke yang rada sufi dan Jack Shepphard, misalnya, benar2 menggambarkan pertentangan seorang yang sangat percaya pada rencana alam versus seseorang yang sangat rasional.

Locke: why do you find it so difficult to believe?
Jack: Why do you find it so easy?

Dialog model ini selalu mewarnai tiap kali ada sebuah keputusan yang harus diambil. Locke selalu percaya bahwa apa pun yang terjadi itu adalah bagian dari rangkaian peristiwa yang harus terjadi. Pun jika yang terjadi itu menyangkut hilangnya nyawa seseorang. Jack, on the other hand, punya masalah besar dengan letting go. Ini episode yang tiap saat selalu terjadi dalam kehidupan nyata, kan? Menarik melihat bagaimana Locke & Jack mengambil keputusan untuk mengatasi perbedaan ini.

Di lain waktu, si mantan polisi Ana Lucia Cortez bereaksi terlalu cepat dan menembak Shannon Rutherford hingga tewas. Diwarnai dengan pengalaman masa lalunya, ketika di kehidupan nyata dia diistirahatkan sementara karena terlibat dalam kasus tembak-menembak, Ana mengambil langkah tegas: semua yang terlibat dan menjadi saksi disanderanya. Tak boleh pergi karena yakin jika berita ini sampai ke telinga survivors lain, semua akan menyalahkannya juga.

Libby (to Ana Lucia): What is your plan?
Ana Lucia: *no answer*
Sayid Jarrah: She has no plan. She only has her guilt.. and a gun

Yup! Sering dalam kehidupan kita, kita sibuk sendiri dengan pikiran2 yang didasari perasaan kita sendiri. Yaah, kalau nggak powerful sih mungkin hanya membahayakan diri sendiri. Tapi akan menjadi sangat berbahaya jika dia punya power; seperti Ana Lucia yang memiliki sepucuk senjata. Memang harus sangat hati2 memberikan senjata dan kekuatan pada seseorang atau sekelompok orang. Nggak ada yang lebih membahayakan orang banyak daripada seseorang yang dikuasai pendapat2 subyektif dengan senjata di tangannya.

Cerita lain adalah tentang Mr Eko, seorang altar-boy di Nigeria yang menjadi penyelundup obat2an. Suatu hari dia mendatangi adik lelakinya, Yemi, yang menjadi pastur; ingin menyewa pesawat misionaris (satu2nya pesawat yang boleh keluar masuk Nigeria) untuk menyelundupkan narkoba ke luar Nigeria. Adiknya mengatakan bahwa Eko adalah pendosa besar, dan mengusirnya pergi untuk tidak kembali menginjakkan kaki di gereja lagi.

Eko: Have you forgotten how you became like this? What I did that day, was that a sin or a blessing, considering that it what made you a priest?

Yup! Segerombolan pengedar narkoba menangkap penduduk di depan gereja. Ada seorang pria yang melawan, dan si bandit menangkap Yemi, meletakkan pistol ke tangannya, dan memaksanya menembak si pria. Yemi, si altar boy, begitu ketakutan hingga hampir ditembak oleh si bandit. Eko, cutting the loss, mengambil alih tugas Yemi. Lebih baik satu mati, daripada keduanya mati. Tapi Eko tak pernah pulang; detik itu juga dia diambil oleh si bandit, dipaksa menjadi bagian dari mereka.

Dari sisi kita, mungkin kita bisa bilang: harusnya Eko lebih berprinsip. Lebih baik si pria dan Yemi mati daripada dia membunuh orang tak berdosa. Kalau nggak mau jadi bandit, ya kabur, atau terima disiksa, kalau perlu mati sebagai martir. Yeah! It is easy for us to say that. Masalahnya.. is that so easy for a boy around 12 or 13? Seorang bocah yang harus mengambil splitting second decision?

***

Nah.. yang di atas itu tadi sisi2 bagus dari film seri Lost. Tapi.. nonton beberapa episode terakhir, ada satu bagian yang menurut gw lemah banget. Bukan sekedar hal kecil yang nggak penting tentang staying-handsome-castaway ;), tapi masalah membangun karakter salah satu tokohnya: Sayid Jarrah. Sayid digambarkan sebagai seorang Iraq, mantan communication officer of Republican Guards di masa Perang Teluk. Seorang interogator (baca: torturer) yang kini menyesali apa yang diperbuatnya semasa perang. Hmm.. lihat port-folionya, kita terbayang a very integrated man, rite? Sayang sekali, tokoh yang bisa sangat menarik ini lebih banyak digambarkan sebagai tokoh menye2 yang meratapi cinta. Membujuk temannya menjadi bom hidup demi mendapatkan alamat Nadia, gadis idamannya, dari tangan CIA. Nangis2 darah sampai garuk2 tanah *not literally, but you know what I mean* ketika cin-loknya di pulau ini, Shannon, tertembak mati.

Well.. a member of Republican Guard, hardened by the Gulf War, cannot control himself so badly? Secara psikologis benar2 aneh! Bukaaan.. bukan gw bilang bahwa cowok nggak bisa jatuh cinta sampai segitunya.. ;-). Gw tahu kok, cowok2 kalau udah jatuh cinta reaksinya suka lebih ajaib daripada cewek ;-) Tapi.. it just does not fit the whole character. Apalagi jika kita tempatkan Sayid dalam konteks pria Iraq, yang dibesarkan dalam budaya kelompok etnis yang cenderung memandang wanita di bawah pria, dan tidak sepantasnya seorang pria menunjukkan afeksi terhadap wanita (apalagi yang bukan istrinya) di depan umum.

Forgive my not-so-objective judgment, but it seems like a propaganda to me ;) Entah propaganda anti-Iraq, atau propaganda pro-Amerika ;).

Makin kelihatan jadi propaganda ketika di episode yang baru gw tonton ini, Sayid menjadi tangan yang dipinjam tentara Amerika untuk menyiksa commanding officer-nya sendiri karena diberi tontonan rekaman pasar yang dihancurkan dengan gas sarin. Kalau dia segampang itu berbalik arah membantu Amerika, mestinya karakternya tidak kuat, dan kalau karakternya tidak kuat, why the hell did he become a Republican Guard in the first place? Dengan bahasa Inggris yang digambarkan bagus sekali (walaupun beraksen), sehingga bisa menjadi tawanan perang yang dipaksa menjadi penterjemah, bisa terbayangkan bahwa Sayid berasal dari kelompok sosial yang cukup tinggi di Iraq. Kelompok sosial yang lebih punya akses ke dunia barat, setidaknya punya pendidikan yang cukup tinggi. Orang seperti ini, logikanya, menjadi tentara karena punya niat dan keyakinan yang kuat; bukan sekedar pengikut buta ;).

Ya nggak tahu juga sih, ini propaganda atau bukan. Tapi yang jelas, perannya Sayid di film ini terbatas pada tukang ngebenerin alat2 elektronik, cinta2an sama Shannon.. dan tukang siksa ;-). Agak lucu buat gw melihat Sayid bisa bobok2 sama2 Shannon tanpa sungkan.. where in Iraq did he learn to hold the hand of a woman, yang tidak punya hubungan darah dengan dia ;-)?

Well, tampaknya, sutradara dan penulis lupa mengamalkan dialog yang mereka buat di film ini untuk tokoh the bad-boy-ex-con Sawyer: everything is in the details. Dialog ini muncul ketika Sawyer sedang mengajari pacarnya menipu orang:

Cassidy: These necklaces are junks. A 5-year-old will notice it immediately

Sawyer (writing the incredibly high price on each of the tag) : Yet they will see the price tag. Everything is in the details, Cass.

Yeah! You forget the details about Sayid, hon ;-)

Intermezzo: UPDATE 22 November 2006:

Penasaran dengan info Jeng Dian ini, gw ngublek2 episode guides dan berbagai sumber lainnya. Akhirnya nemu fictional biography ini, nggak jadi nge-revisi tulisan sesuai masukan Jeng Dian deh ;)

***

Anyway.. gara2 ngomongin propaganda, gw jadi ingat Bush besok mau datang ke sini. Sebagian orang menganggapnya propaganda; harus ditolak. Tadi udah ada demo yang bikin macet Jakarta. Gw? Gw termasuk yang menganggapnya propaganda juga. Entah karena Indonesia cukup strategis untuk dijadikan sekutu, dinetralkan, atau setidaknya nggak jadi sekutunya Iran *secara Ahmadinejad udah duluan ke sini, gitu loh ;-)*. Apalagi Indonesia kan terpilih sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB periode 2007-2008. Tapi gw cukup setuju dengan keputusan pemerintah untuk menerima Bush. Bagaimana pun kita bangsa yang ramah tamah, mosok mau nolak tamu ;-)? Kan nggak sopan ;-).

Setidaknya, dengar dulu apa tawaran Bush. Kalau bisa menguntungkan kita, dan tidak merugikan siapa2, kan enak. Tapi kalau proposalnya adalah membuat kita jadi boneka Amerika, ya setuju sama Amin Rais: kasih minum, suruh duduk, dijamu dikit2, lalu.. bubye Mr President, thank you for coming! Baru juga lepas dari mulut IMF, kan nggak lucu kalau masuk ke mulut Amerika ;-).

Saturday, November 18, 2006

Finish the Business

Sepertinya gw terlalu terburu2 menuliskan posting lalu. Setelah beberapa jam setuju dengan akar perbedaan kami, dan setuju untuk saling menghormati, ternyata ada yang masih menganggapnya unfinished business. Masih belum selesai jika gw belum mengaku kalah dan convert kali ya ;)? Bukan masalah menang atau kalah, katanya, tapi masalah fakta bahwa orang2 yang percaya agama itu telah mengalami pembodohan spiritual (duh, bahasanya, gw kira cuma gw yang suka pakai bahasa aneh.. HAHAHAHA.. ;)) dan terlalu takut untuk menghadapi kenyataan ;).

Teman ini mem-posting sebuah konsep yang [menurut dia] lebih murni dari agama2 yang [menurut dia] telah tercemar. Berikut kutipannya:

Dalam tubuh anda ada JIWA EGO dan JIWA ETERNAL.

Jiwa Ego yang dikendalikan pikiran-pikiran dari otak.

Jiwa Eternal dikendalikan oleh pikiran-pikiran dari hati.

Jiwa Ego adalah anda yang memilik nama atau panggilan.

Jiwa Eternal adalah anda yang tidak memilik nama atau panggilan. Sehingga seringkali Jiwa Eternal tidak dikenal anda sama sekali.

Manusia terdiri dari satu tubuh dan satu roh dengan dua jiwa. Jiwa Ego memilik tubuh (materi) dan Jiwa Eternal memilik tubuh energi (non materi) . Kedua Jiwa ini mengalami transformasi karena adanya tubuh manusia hidup.

Pikiran anda merupakan ekspresi Jiwa Ego anda sementara Suara Hari Nurani anda merupakan ekspresi Jiwa Eternal anda , kedua seiring bertentangan satu sama lain (pertentangan dalam batin), dan sering kali akan dimenangkan oleh Jiwa Ego anda. Dari sini dapat diketahui keberadaab Jiwa anda.

Ketika kesadaran Jiwa Ego lebih dominan dan berkuasa, maka Jiwa Eternal tidak disadari oleh kita. Kita kehilangan kontak dengan Jiwa Eternal (Yuen Shen) ini ketika usia anda semakin bertambah. Ini adalah anda yang sebenarnya, tanpa nama, tanpa bentuk. Jiwa Eternal anda semakin lemah dan bahkan suaranya tidak terdengar lagi. Kita kehilangan suara hati nurani yang kekal dan mengandung cinta kasih universal atau kebenaran sejati ----Suara Tuhan.

Secara sadar anda telah membesarkan Jiwa Ego dengan berbagai ilmu pengetahuan dan dogma agama dan semakin berkuasa..Bahkan cinta kasih, kebaikan, amal perbuatan yang diajarkan oleh agama-agama yang anda lakukan atau berikan semua sebenarnya untuk kepentingan dan keuntungan sang Jiwa Ego anda. Jiwa Ego menguasai pikiran-pikiran di dalam otak anda....yang selalu mencari keuntungan sebesar-besarnya dan kepentingan-kepentingan yang bersifat egoistik. Kesadaran Jiwa Ego adalah kesadaran duniawi.

Ketika raga anda mati, masa transformasi terhenti. Jiwa Ego ikut mati meninggalkan semua harta dan kekuasaan yang anda kumpul semasa hidup dengan berbagai cara, baik atau jahat. Sementara itu, Jiwa Eternal yang terabaikan masih tertidur untuk menuju ke Sumber Sejati.

(dari milis Psikologi Transformatif)

Hehehe.. I just smile and politely write back; saying that I agree with the essence of his concept.. and I have found the similar concept, with different terminology, in the religion I believe in. Dan gw juga katakan: karena itu gw tetap yakin bahwa apa yang diajarkan agama itu bukan sekedar untuk kepentingan/keuntungan apa yang disebutnya jiwa ego itu, tapi kalaupun tetap dianggap gw sudah terbodohi secara spiritual, buat gw juga gak masalah ;)

Nggak tahu deh, dia akan setuju enggak ;) Yang jelas, buat gw, I have tied the lose end ;) Well.. kita nggak tahu pasti kapan enough is enough itu, tapi kita bisa memutuskan kapan hendak menganggapnya begitu. Di kasus gw, gw memutuskan untuk berhenti karena gw sudah mendapatkan apa yang gw ingin dapatkan dari pembicaraan ini: mengerti cara berpikirnya dan mengetahui akar permasalahannya.

Hehehe.. satu yang tidak gw sertakan dalam reply kepada teman tersebut: kalau konsep agama sejati adalah demikian, maka sekitar 2 tahun lalu seorang teman sudah mendiskusikannya dengan gw ;). Tanpa jargon2 jiwa ego dan jiwa eternal, teman gw yang santun dan sangat eager belajar agama ini, juga sudah mengingatkan gw supaya pikiran dan hati nurani itu seimbang. Jangan cuma pikiran (baca: kepintaran) yang di-pursue, tapi dengarkan hati. Feel first, then think; begitu kalimat sederhana si bapak itu. Sama intinya, tanpa bungkusan jargon atau konsep macem2 ;).

Well.. tetap ada yang gw pelajari dari my short encounter with that thirst-for-new-religion flock ;). Pelajaran kesabaran, itu sudah pasti.. hehehe.. Tapi pelajaran yang sangat berharga adalah: gw mendapatkan info dari tangan pertama, sebuah contoh nyata, tentang betapa berbahayanya jika pikiran (baca: kepintaran) didewakan. Pada suatu titik, bisa2 kita berkhotbah tentang jangan sampai kehilangan suara hati.. tapi pada saat yang bersamaan suara hatinya sudah melemah, atau bahkan menghilang.

Sebab.. suara hati (jiwa eternal?) seperti apa yang membiarkan diri kita tidak mau mendengarkan orang lain, melihat kemungkinan fakta2 berbeda yang ditawarkan orang lain, dan memelihara pikiran (jiwa ego?) bahwa aku [dan hanya aku] yang benar ;)?

Sesuatu yang perlu direnungkan oleh kita semua ;).

Phieewww.. selama ini konsep diri gw adalah: gw kebanyakan berpikir, sulit mendengarkan kata hati ;). All brain, no feeling (all brain itu maksudnya kebanyakan pakai otak lho, ya, bukan berarti otak gw besar banget sampai memenuhi seluruh rongga tengkorak ;). Lagian, kepintaran kan ditentukan oleh sel-sel kelabu di lipatan otak, bukan di besarnya otak ;)). Ternyata gw over-confidence dalam menilai diri gw sendiri.. HAHAHAHA..

Have a nice weekend, everyone!

Friday, November 17, 2006

Siren is Gold

Tadinya hanya ingin jadi silent member di milis Psikologi Transformatif. Pingin menjadi pengamat saja, seperti apa sih pendekatan non konvensional dalam mempelajari manusia itu? Tapi gw hanya tahan beberapa minggu, lama2 nyemplung juga; karena pembicaraan yang hot di sana kok kebanyakan tentang berusaha menyalah2kan agama (secara global atau agama tertentu secara khusus), bukan tentang memahami kenapa ada manusia ada yang begini dan begitu (dalam memandang agama).

*yaah.. bukan salah milisnya kali, kalau gw gak bisa silent. Gw kan nggak cadel, makanya nggak bisa jadi siLent type. Bisanya jadi siRen type, alias suka nguing2 kayak sirene iring2an pejabat yang minta dikasih jalan ;-)*

Anyway, setelah nyemplung, gw menemukan beberapa kesimpulan menarik. Karena pas nyemplung lagi rame2nya menyalahkan terorisme yang disinonimkan dengan jihad, maka asumsi awalnya adalah:

1. Para penulisnya adalah penganut fanatik suatu agam; tidak pernah punya kesempatan/kemauan mendengarkan konsep agama lain. Keadaan ini mungkin bisa ditanggulangi dengan memberikan sedikit informasi tentang agama lain.

2. Para penulisnya adalah orang yang skeptis terhadap agama; oleh karena itu semua agama dipandang buruk, dan Islam hanya salah satu yang kena dampak keskeptisan ini. Kalau keadaannya seperti ini, maka sebenarnya memang tidak bisa diapa2kan lagi. Paling jauh dicari irisan himpunan keyakinan saja, dan agree to disagree terhadap dasar yang berbeda.

Setelah ngobrol2 seminggu (dan belasan email.. hehehe..), kesimpulannya adalah banyak dari mereka masuk kelompok ke-2. Ketemu irisan himpunan antara gw dan mereka. Kami sama2 skeptis bahwa penganut agama akan bisa mengamalkan agama sesuai grand design-nya Tuhan (whatever the grand design is). Manusia, dengan segala keterbatasannya, akan selalu jatuh ke lubang yang sama: salah interpretasi apa kata Tuhan, pakai persepsinya sendiri dan menggunakan kata2 Tuhan sebagai justifikasi.

Nah.. bedanya: lantaran keskeptisan terhadap penganut agama, mereka menafikan semua agama yang ada. Tepatnya sebenarnya adalah menafikan orang2 yang mengajarkan agama, karena mereka tidak yakin orang2 ini bebas dari bias. Mereka berusaha mencari agama yang sejati, inti dari seluruh agama, yang tidak dibungkus dengan label agama apa pun. Sementara gw, gw yakin bahwa agama diturunkan Tuhan, dan yang diturunkan Tuhan itu benar. Kesalahan2 perilaku (baik nyata maupun tidak nyata) yang dilakukan manusia, tidak membuat kesejatian dan kebenaran agama itu berkurang atau hilang.

Gw kasih analogi pelajaran Kimia. Konon kabarnya pelajaran Kimia ini kan killer banget buat anak IPA. Bisa2 separuh kelas dapat angka merah di raport. Nah.. lantaran separuh kelas dapat nilai merah, teman2 diskusi gw ini menganggap kurikulum Kimia harus diperbaiki, kalau perlu hapus pelajaran Kimia dan bikin pelajaran baru. Sementara gw yakin bahwa kurikulum Kimia-nya baik2 saja. Kalau separuh kelas dapat merah, maka pertanyaan gw adalah: apakah muridnya terlalu bodoh? Apakah gurunya kurang kompeten dalam menjelaskan? Apakah alat bantunya kurang? Jadi tidak perlu ubah kurikulum, apalagi bikin mata pelajaran baru.

So.. at the end, kami menemukan bagian yang bisa agree to disagree. Sama2 tidak bisa mengubah yang lain, tapi saling menghormatinya. Dan di masa depan, kalau ada perbedaan pendapat lagi di antara kami, kami tahu aspek mana yang harus dilihat untuk memahami cara berpikir kami masing2.

Akar permasalahan di dunia ini, menurut gw, adalah karena sebagian orang nggak bisa mendengarkan pendapat orang lain (merasa dirinya satu2nya yang benar) dan karena sebagian lagi tidak mau mengatakan pendapatnya pada orang lain (karena takut ribut). Jadi, bukannya tambah saling mengerti, malah tambah saling salah sangka.

We are heading to different directions, however, we come to conclusion that there is still a big probability that we will meet at the destination. Kalau dari Jakarta mau ke Solo kan bisa lewat jalur utara atau selatan, bisa lewat Yogya atau Semarang, malah kalau mau iseng terbang ke Malang dulu pun boleh. Nggak harus ribut soal kenapa pilih utara kenapa pilih selatan, yang penting sama2 tahu dan percaya bahwa tujuan akhirnya Solo.

Hehehe.. jadi inget Celebration of Diversity ;-). Kalau nggak diomongin, nggak diperdebatkan, apa iya kami bisa sampai konklusi bawa tujuan kami sama? Jangan2 malah nggak jadi berangkat gara2 ngeributin enakan makan lumpia di Semarang atau gudeg di Yogya ;-). Lupa bahwa tujuan ke Solo tuh mau makan nasi liwet ;-) Akar permasalahan di dunia ini, menurut gw, adalah karena sebagian orang nggak bisa mendengarkan orang lain (merasa dirinya satu2nya yang benar) dan karena sebagian lagi tidak mau mengatakan pendapatnya pada orang lain (karena takut ribut). Jadi, bukannya tambah saling mengerti, malah tambah saling salah sangka.

***

Masih soal milis ini, gw berkenalan dengan Mas Goenardjoadi Goenawan (note: bukan orang yg sama dengan siapa yang gw bahas di atas ;-)). Sempat ngobrol2 tentang konsep jiwa berkaitan dengan buku terbarunya Piramida 7 Kebutuhan Jiwa. Yang ditanyakan Mas Goen adalah konsep jiwa dalam Islam. Waduh.. sebenernya ilmu gw masih cetek banget, nggak berani ngasih pendapat atas nama Islam. Tapi.. kalau pendapat gw tentang isi bukunya yang dikaitkan dengan pendapat gw tentang konsep2 yang gw tahu dalam Islam, kurang lebih jawaban gw berikut ini (note: beberapa bagian sudah direvisi, disesuaikan dari bentuk diskusi dua orang menjadi tulisan untuk blog yang audiensnya lebih luas):


Mas Goen yang baik,

Saya coba menjawab pertanyaan Anda tentang JIWA yang dikaitkan dengan apa yang saya interpretasikan dari ajaran Islam. Tentu, tulisan saya masih sangat dangkal ilmu Islamnya; masih berupa interpretasi saya sendiri yang belum tentu benar.

Membaca beberapa posting Anda, terminologi JIWA yang Anda pakai bukan mengacu pada nyawa, melainkan pada suatu konsep manusia mulia. Nah.. dari apa yang saya baca sekilas maka saya menyimpulkan bahwa apa yang Anda sebut JIWA itu dekat dengan konsep Chusnul Chotimah: kehidupannya berakhir dengan baik. Hasil akhirnya masuk surga; menjadi ahli surga. Bagaimana resepnya? Yaitu dengan selalu berbuat kebaikan. Menjadikan dirinya bermanfaat buat orang lain, berbuat kebaikan sepanjang hidupnya.

Bagaimanakah perbuatan baik menurut Islam itu? Setahu saya, dalam Islam, setiap apa yang kita lakukan bisa menjadi ibadah ataupun dosa, karena tergantung niat dan eksekusinya. Membagikan sedekah, itu perbuatan baik kan? Tapi kalau membagikan sedekah dengan niat dapat nama baik, hitungannya jadi riya (=pamer), dan menjadi dosa. Shalat pun, yang jelas2 ritual agama, jika dilakukan untuk jaga image, bisa2 malah jadi dosa. So.. sangat penting untuk memiliki niat yang baik dan dilakukan sebagai perbuatan nyata yang baik.

Nah.. karena konsep Chusnul Chotimah ini, maka salah satu rahmat terbesar bagi manusia adalah: diberi umur panjang. Kenapa? Karena dengan umur panjang, kita punya banyak kesempatan untuk berbuat kebaikan dan investasi kebaikan yang akan terus berlanjut hingga kita mati. Selama hidup, kita bisa beramal (fisik & non fisik) serta mendidik anak kita menjadi orang yang baik selama kita masih hidup. Sesudah mati, semoga amalan ini terus berlanjut, karena ada 3 hal yang bisa meneruskan ibadah seseorang walaupun dia sudah mati: memiliki anak yang shaleh, amal (dalam bentuk fisik) yang masih bisa berguna untuk orang lain, dan ilmu yang diajarkannya (serta masih digunakan) orang lain. Intinya: walaupun dia tidak lagi bisa melakukan apa2, hitungan poin pahalanya tetap jalan selama anaknya masih berbuat kebaikan, sumbangan/pemberian (amal fisik) masih digunakan orang, dan ilmu yang diajarkannya (amal non-fisik) masih dipergunakan orang.

Dengan berumur panjang dan berbuat baik selama hidupnya, semoga kita mendapatkan Chusnul Chotimah. Dan tidak ada yang paling menyedihkan daripada diberi umur panjang tapi berbuat keburukan sepanjang hidupnya. Alih2 mengumpulkan pahala, malah neracanya minus karena dipotong dosa ;).

So, saya setuju dengan bahasan Mas Goen bahwa untuk mencapai JIWA dibutuhkan mejadi kemampuan menekan ambisi (sampai pada level yang tidak mengganggu). Dan itu sangat tergambar dalam ajaran Islam. Penting sekali untuk menekan nafsu, karena nafsu itu sering menodai niat kita. Cloud our judgment. Dan penting sekali mendengarkan hati nurani, karena kata hati adalah quality control kita: untuk mempertanyakan apakah perbuatan kita ini benar2 dilandasi niat baik. Sebaik2nya kita, kita hanya manusia biasa, kita tidak pernah bisa tahu apakah perbuatan kita itu benar2 bersih seperti yang digariskan Tuhan.

Itu sebabnya saya sejak kemarin bilang bahwa yang paling penting adalah manusianya. Agama hanya tools, hanya manual. Tapi yang paling menentukan adalah bagaimana manusia mengamalkannya: apakah niatnya baik dan dilaksanakan dgn baik, niatnya baik tapi pelaksanaannya buruk, niatnya buruk tapi pelaksanaannya baik, atau niatnya buruk dan pelaksanaannya buruk. Menurut apa yang saya yakini, hanya Tuhan yang bisa menilai. Kita sebagai manusia sih berbuat sebaik2nya yang kita mampu; berusaha mengontrol diri sebaik2nya dari nafsu dan berusaha sebaik2nya mendengarkan kata hati.

Mudah2an jawaban ini cukup membantu ya, Mas.

Salam,

Anyway.. seperti gw bilang di atas, ini interpretasi gw sendiri. Mungkin ada yang bisa memberi pandangan lain; mengoreksi, memberi sudut pandang lain, atau memberi referensi yang lebih jelas. Hehehe.. ditunggu kok masukannya ;-). Kan bisa berguna buat mereka yang belum ngerti juga. Jangan lupa, siren is gold.. hehehe.. ;-) Yang penting bukan mematikan sirene, tapi mengatur volumenya agar enak didengar orang lain ;-).


Tuesday, November 14, 2006

Human Information Processing

Sabtu lalu gw pergi bareng Ima. Gw nyetir, Ima duduk di sebelah gw. Tiba2 dia ngomong:

Oh, Mbak Ima kira di belakang kita masih truk gede yang mengerikan tadi, yang rodanya sepuluh. Untung udah disalib sama mobil Atoz

Gw ngelirik lewat spion tengah, yang pertama kali gw lihat adalah logo di kap mobil. Betul, logonya Hyundai. Jadi tentu varian mobilnya Atoz, dilihat dari bentuk mobilnya. Tapi.. bentar deh! Gw kan tahu itu Atoz dari logonya, sementara Ima yg lihat lewat spion kiri sudah pasti gak akan melihat logonya. Darimana dia tahu?

Kan Mbak Ima hafal bentuk depan mobilnya, Ibu! Kalau bentuknya gitu, itu mobil Atoz!

Hehehe.. sepele ya? Tapi menggambarkan betapa berbedanya skema penyimpanan data dan pemrosesan informasi di kepala kami. Dari jawabannya, Ima terlihat cenderung membentuk template bentuk2 mobil di kepalanya. Dengan demikian, begitu lihat bagian samping mobil, dia langsung bisa menentukan jenis mobilnya, karena sudah dicocokkan dgn template di kepalanya. Gw cenderung mirip Windows Explorer dengan banyak folder di kepala gw. Untuk menentukan nama mobilnya, gw butuh lihat logonya, membuka folder yg tepat di kepala gw. Tanpa logo, mungkin gw gak akan bisa membedakan Atoz dari Visto atau Karimun, apalagi kalau cuma lihat sampingnya dari spion ;-).

Hehehe.. gw memang sangat terokupasi pada struktur dan keteraturan. Beberapa minggu lalu, misalnya, gw tiba2 panik karena baru sadar bahwa selama 34 bulan ini pembayaran angsuran suatu pinjaman kami ternyata selalu kurang Rp 11. Pasalnya, gw mengikuti perjanjian awal, yang masih lisan, bahwa jumlah angsuran nominalnya per bulan berakhiran Rp 489. Padahal, di surat kontrak yang diberikan beberapa minggu sesudahnya, angsuran per bulan digenapkan menjadi Rp 500. Gw jadi panik lantaran salah satu klausulnya berbunyi: dikenai bunga berbunga harian untuk tiap tunggakan. Rp 11 rupiah, tapi kalau dikali 34 bulan x 30 hari, kan banyak!

Tabel buatan Bapaknyaima

Tgl

Januari

Februari

1

12,000

12,020

24,637

24,678

2

12,020

12,040

24,678

24,719

3

12,040

12,060

24,719

24,761

4

12,060

12,080

24,761

24,802

Bapaknyaima tahu: percuma menenangkan gw. Gw hanya percaya bukti, bukan janji.. HAHAHAHA.. Makanya dia langsung buka MSExcel dan menghitung jumlah bunga berbunganya. Gw juga buka MSExcel di komputer lain dan menghitung untuk menghilangkan kecemasan gw.

*Jangan heran! We are nerd couple yang benar2 memaknai PC sebagai PERSONAL Computer, dengan penekanan pada kata personal ;-)*

Hasilnya kurang lebih sama, tapi.. ternyata metodenya beda! Perhatikan kutipan tabel bikinan bapaknyaima di samping kiri, dan bikinan gw di samping kanan.

See?

Tabel buatan Ibunyaima

Tgl

Januari

Februari

1

Rp 11,00

Rp 22,56

2

Rp 11,02

Rp 22,60

3

Rp 11,04

Rp 22,64

4

Rp 11,06

Rp 22,68

Bapaknyaima pakai cara cepat, dengan angka yang dilebihkan dari jumlah asli, tapi tampilannya asli nggak indah ;). Kolomnya kebanyakan, dan banyak pengulangan isi tabel. Sebaliknya, gw menghitung detil secara persis. Kalau selisihnya Rp 11, ya gw tulis Rp 11, bukan Rp 12 ;-). Dan gw mencoba membuat rumus yang seefektif mungkin, sehingga kolomnya nggak terlalu banyak. Tampilannya jauh lebih cantik dan lebih tidak membingungkan. Tapi bikinnya jauh lebih lama.. hehehe..

Ini juga sebenarnya masalah sepele. Tapi menggambarkan betapa cara pemrosesan informasi bisa sangat berbeda antar orang. Ada orang2 seperti bapaknyaima dan Ima yang act first. Bukannya gak pinter, bukannya nggak mikir, tapi selalu spontan dan tidak memikirkan detilnya. Ada orang yang meticulously memikirkan seluruh detilnya dulu, merapikan dulu semuanya, baru bertindak kayak gw.

Mana yang lebih bagus?

Well.. nggak bisa dibilang mana yang lebih bagus juga kali ya! Masing2 punya kelebihan dan kekurangan, kekuatan dan kelemahan. Gw, misalnya, selalu ketinggalan kereta kalau harus mengerjakan sesuatu. Kalah cepat dari orang2 spontan seperti bapaknyaima (dan mungkin, kalau Ima sudah besar, gw bakal kalah cepat dari Ima juga ;-)). Tapi.. gw jarang bikin revisi besar.. hehehe.. Gw jarang harus membuat sesuatu dua kali. Dan.. karena informasi tersimpan secara rapi di kepala gw, mendengar satu keyword aja gw bisa menyambungkan ke data2 lain yang [buat banyak orang] jaka sembung nyetir VW, nggak nyambung, weeek.. ;-)

Tapi ya itu.. sekali gw panik atau bingung, udah kayak komputer korslet deh! Prosesor jalan, RAM jalan, tapi gak bisa baca data.. hehehe.. Gw lebih teratur, lebih akurat, tapi.. juga lebih susah bermanuver kalau ada hambatan di tengah jalan.

Anyway.. kenapa ya gw nulis posting ini? Yaah.. gak ada niat khusus sih! Tiba2 aja gw lagi takjub sama hal2 kecil sepele, sehari2 banget, yang ternyata mengacu pada hal yang sangat mendasar: skema pengolahan dan penyimpanan informasi manusia. Betapa banyak yang bisa dipelajari tentang manusia dari memperhatikan detil2 yang kecil seperti ini. Dan betapa hal2 seperti ini sebenarnya (atau seharusnya?) bisa digunakan untuk menempatkan orang yang tepat di tempat yang tepat, sehingga semua hasil kerjanya bisa optimal ;-). Jangan sampai orang2 spontan diberi job desc yang menuntut tingkat ketelitian dan keteraturan yg tinggi. Sebaliknya, jangan sampai orang yang kayak gw dikasih job desc yang menuntut spontanitas tinggi. Bisa berabe.. hehehe.. ;-)