Tadinya hanya ingin jadi silent member di milis Psikologi Transformatif. Pingin menjadi pengamat saja, seperti apa sih pendekatan non konvensional dalam mempelajari manusia itu? Tapi gw hanya tahan beberapa minggu, lama2 nyemplung juga; karena pembicaraan yang hot di
*yaah.. bukan salah milisnya kali, kalau gw gak bisa silent. Gw
Anyway, setelah nyemplung, gw menemukan beberapa kesimpulan menarik. Karena pas nyemplung lagi rame2nya menyalahkan terorisme yang disinonimkan dengan jihad, maka asumsi awalnya adalah:
1.
2.
Setelah ngobrol2 seminggu (dan belasan email.. hehehe..), kesimpulannya adalah banyak dari mereka masuk kelompok ke-2. Ketemu irisan himpunan antara gw dan mereka. Kami sama2 skeptis bahwa penganut agama akan bisa mengamalkan agama sesuai grand design-nya Tuhan (whatever the grand design is). Manusia, dengan segala keterbatasannya, akan selalu jatuh ke lubang yang sama: salah interpretasi apa kata Tuhan, pakai persepsinya sendiri dan menggunakan kata2 Tuhan sebagai justifikasi.
Nah.. bedanya: lantaran keskeptisan terhadap penganut agama, mereka menafikan semua agama yang ada. Tepatnya sebenarnya adalah menafikan orang2 yang mengajarkan agama, karena mereka tidak yakin orang2 ini bebas dari bias. Mereka berusaha mencari agama yang sejati, inti dari seluruh agama, yang tidak dibungkus dengan label agama apa pun. Sementara gw, gw yakin bahwa agama diturunkan Tuhan, dan yang diturunkan Tuhan itu benar. Kesalahan2 perilaku (baik nyata maupun tidak nyata) yang dilakukan manusia, tidak membuat kesejatian dan kebenaran agama itu berkurang atau hilang.
Gw kasih analogi pelajaran Kimia. Konon kabarnya pelajaran Kimia ini
So.. at the end, kami menemukan bagian yang bisa agree to disagree. Sama2 tidak bisa mengubah yang lain, tapi saling menghormatinya. Dan di masa depan, kalau ada perbedaan pendapat lagi di antara kami, kami tahu aspek mana yang harus dilihat untuk memahami cara berpikir kami masing2.
Akar permasalahan di dunia ini, menurut gw, adalah karena sebagian orang nggak bisa mendengarkan pendapat orang lain (merasa dirinya satu2nya yang benar) dan karena sebagian lagi tidak mau mengatakan pendapatnya pada orang lain (karena takut ribut). Jadi, bukannya tambah saling mengerti, malah tambah saling salah sangka. |
We are heading to different directions, however, we come to conclusion that there is still a big probability that we will meet at the destination. Kalau dari
Hehehe.. jadi inget Celebration of Diversity ;-). Kalau nggak diomongin, nggak diperdebatkan, apa iya kami bisa sampai konklusi bawa tujuan kami sama? Jangan2 malah nggak jadi berangkat gara2 ngeributin enakan makan lumpia di
***
Masih soal milis ini, gw berkenalan dengan Mas Goenardjoadi Goenawan (note: bukan orang yg sama dengan siapa yang gw bahas di atas ;-)). Sempat ngobrol2 tentang konsep jiwa berkaitan dengan buku terbarunya Piramida 7 Kebutuhan Jiwa. Yang ditanyakan Mas Goen adalah konsep jiwa dalam Islam. Waduh.. sebenernya ilmu gw masih cetek banget, nggak berani ngasih pendapat atas nama Islam. Tapi.. kalau pendapat gw tentang isi bukunya yang dikaitkan dengan pendapat gw tentang konsep2 yang gw tahu dalam Islam, kurang lebih jawaban gw berikut ini (note: beberapa bagian sudah direvisi, disesuaikan dari bentuk diskusi dua orang menjadi tulisan untuk blog yang audiensnya lebih luas):
Mas Goen yang baik,
Saya coba menjawab pertanyaan Anda tentang JIWA yang dikaitkan dengan apa yang saya interpretasikan dari ajaran Islam. Tentu, tulisan saya masih sangat dangkal ilmu Islamnya; masih berupa interpretasi saya sendiri yang belum tentu benar.
Membaca beberapa posting Anda, terminologi JIWA yang Anda pakai bukan mengacu pada nyawa, melainkan pada suatu konsep manusia mulia. Nah.. dari apa yang saya baca sekilas maka saya menyimpulkan bahwa apa yang Anda sebut JIWA itu dekat dengan konsep Chusnul Chotimah: kehidupannya berakhir dengan baik. Hasil akhirnya masuk surga; menjadi ahli surga. Bagaimana resepnya? Yaitu dengan selalu berbuat kebaikan. Menjadikan dirinya bermanfaat buat orang lain, berbuat kebaikan sepanjang hidupnya.
Bagaimanakah perbuatan baik menurut Islam itu? Setahu saya, dalam Islam, setiap apa yang kita lakukan bisa menjadi ibadah ataupun dosa, karena tergantung niat dan eksekusinya. Membagikan sedekah, itu perbuatan baik
Nah.. karena konsep Chusnul Chotimah ini, maka salah satu rahmat terbesar bagi manusia adalah: diberi umur panjang. Kenapa? Karena dengan umur panjang, kita punya banyak kesempatan untuk berbuat kebaikan dan investasi kebaikan yang akan terus berlanjut hingga kita mati. Selama hidup, kita bisa beramal (fisik & non fisik) serta mendidik anak kita menjadi orang yang baik selama kita masih hidup. Sesudah mati, semoga amalan ini terus berlanjut, karena ada 3 hal yang bisa meneruskan ibadah seseorang walaupun dia sudah mati: memiliki anak yang shaleh, amal (dalam bentuk fisik) yang masih bisa berguna untuk orang lain, dan ilmu yang diajarkannya (serta masih digunakan) orang lain. Intinya: walaupun dia tidak lagi bisa melakukan apa2, hitungan poin pahalanya tetap jalan selama anaknya masih berbuat kebaikan, sumbangan/pemberian (amal fisik) masih digunakan orang, dan ilmu yang diajarkannya (amal non-fisik) masih dipergunakan orang.
Dengan berumur panjang dan berbuat baik selama hidupnya, semoga kita mendapatkan Chusnul Chotimah. Dan tidak ada yang paling menyedihkan daripada diberi umur panjang tapi berbuat keburukan sepanjang hidupnya. Alih2 mengumpulkan pahala, malah neracanya minus karena dipotong dosa ;).
So, saya setuju dengan bahasan Mas Goen bahwa untuk mencapai JIWA dibutuhkan mejadi kemampuan menekan ambisi (sampai pada level yang tidak mengganggu). Dan itu sangat tergambar dalam ajaran Islam. Penting sekali untuk menekan nafsu, karena nafsu itu sering menodai niat kita. Cloud our judgment. Dan penting sekali mendengarkan hati nurani, karena kata hati adalah quality control kita: untuk mempertanyakan apakah perbuatan kita ini benar2 dilandasi niat baik. Sebaik2nya kita, kita hanya manusia biasa, kita tidak pernah bisa tahu apakah perbuatan kita itu benar2 bersih seperti yang digariskan Tuhan.
Itu sebabnya saya sejak kemarin bilang bahwa yang paling penting adalah manusianya. Agama hanya tools, hanya manual. Tapi yang paling menentukan adalah bagaimana manusia mengamalkannya: apakah niatnya baik dan dilaksanakan dgn baik, niatnya baik tapi pelaksanaannya buruk, niatnya buruk tapi pelaksanaannya baik, atau niatnya buruk dan pelaksanaannya buruk. Menurut apa yang saya yakini, hanya Tuhan yang bisa menilai. Kita sebagai manusia sih berbuat sebaik2nya yang kita mampu; berusaha mengontrol diri sebaik2nya dari nafsu dan berusaha sebaik2nya mendengarkan kata hati.
Mudah2an jawaban ini cukup membantu ya, Mas.
Salam,
Anyway.. seperti gw bilang di atas, ini interpretasi gw sendiri. Mungkin ada yang bisa memberi pandangan lain; mengoreksi, memberi sudut pandang lain, atau memberi referensi yang lebih jelas. Hehehe.. ditunggu kok masukannya ;-). Kan bisa berguna buat mereka yang belum ngerti juga. Jangan lupa, siren is gold.. hehehe.. ;-) Yang penting bukan mematikan sirene, tapi mengatur volumenya agar enak didengar orang lain ;-).