Thursday, November 23, 2006

Pak Karman

Tiap akhir bulan, deket2 hari gajian, ada tamu tetap di kantor gw. Namanya Pak Karman. Profesinya bukan jual mobil, walaupun namanya car man (halah!), tapi jualan parfum. Entah parfumnya dapat darimana; yang dijual selalu tanpa kotak, kadang2 tutupnya juga udah nggak ada, atau punya cacat2 lainnya.. tapi mau nuduh palsu juga nggak berani, soalnya wanginya sama persis dan tahan sama lamanya seperti parfum2 yang dijual di outlet resmi. Gw duga sih dia punya akses ke parfum2 import yang di-reject karena cacat selama perjalanan.

Lantaran kualitas parfumnya sebanding sama yang di outlet resmi, sementara harganya setengah dari harga resmi plus boleh nyicil 2x, rata2 teman sekantor (termasuk gw yang agak parfum-mania) jadi pelanggannya Pak Karman. Tapi.. yang namanya beli parfum tuh kan emang nggak kayak beli kacang atom ya? Semurah2nya harga parfum Pak Karman, setahun tuh kita butuh beli berapa parfum sih? Paling banter 2 atau 3 parfum kan? Nah.. dari tahun ke tahun, selalu ada saat dimana nggak satu pun teman sekantor gw yang beli. Biasanya kalau sudah begitu, Pak Karman bakal off dulu 1-2 bulan sebelum menawarkan barang ke kantor kami lagi.

Waktu akhir Juli 2006 Pak Karman nggak datang, kita nggak mikir panjang. Paling juga dia lagi off karena bulan Juni nggak ada yang beli. Waktu akhir Agustus 2006 dia nggak muncul, kami juga masih belum cemas. Masih yakin akhir September 2006 Pak Karman bakal muncul. Lagipula, akhir September kan udah puasa; biasanya banyak yang beli parfum buat lebaran.

*atau setidaknya Pak Karman getol pakai momen lebaran untuk ngebujuk kami beli parfum ;-)*.

Nah.. waktu September 2006 dia nggak muncul juga, kami baru mulai mikir: ini orang kemana sih? Teman2 di kantor mulai ngitung jumlah cicilan yang belum dibayarkan ke Pak Karman. Jumlah totalnya (dari kantor gw) ternyata bukan jumlah yang kecil: hampir satu setengah juta rupiah. Lha, mosok uang segede gitu dicuekin sih? Apa Pak Karman menang lotere, atau menang Who Wants to be a Millionaire, kok nggak niat nagih piutangnya?

Mulailah teman2 sekantor gw sibuk menelepon Pak Karman. HP-nya nggak pernah diangkat, bahkan terakhir suara mekanis mengatakan bahwa nomor itu belum terdaftar.

Sampai pertengahan November 2006, yang berarti hampir 5 bulan, Pak Karman bak lenyap ditelan bumi. Dari yang nge-joke bahwa Pak Karman sudah kaya, kami jadi mulai cemas: jangan2 Pak Karman sudah tiada? Jangan2 Pak Karman kecelakaan, HP-nya tergilas atau dicuri orang, sehingga dia meninggal sendirian tanpa ada yang tahu identitasnya? Jangan2 dia sudah jadi cadaver mahasiswa FKUI?

*kan biasanya mayat tak dikenal dibawa ke RSCM, dan kalau nggak ada yang claim, bisa jadi cadaver buat mahasiswa*

Dan kemarin.. Rabu, 22 November 2006, tiba2 seorang teman berteriak..

Pak Karman datang! Di depan ada Pak Karman!

Langsung berbondong2 kami keluar. Semua kerjaan ditinggal. Pak Karman masih seperti yang dulu dengan tas besar berisi botol2 parfum yang dibungkus kain. Botol2 parfum yang ada cacatnya. Tapi kali ini parfum yang dibawa tidak sebanyak biasanya.

Kemana Pak Karman selama ini?

Saya pulang kampung, Bu, empat bulan saya di kampung. Waktu bulan Juni itu anak saya kecelakaan, jatuh dari sepeda motor, kakinya patah.

Kami semua mengangguk dan mengungkapkan duka cita kami. Tapi.. kalau pulang kampung, kenapa HP-nya nggak diangkat? Apa nggak ada sinyal?

Oh.. HP saya hilang, Bu. Ya itu, waktu mau pulang ke kampung nengok anak saya yang kecelakaan, HP saya dicopet orang di bis.

Sekali lagi kami kompak mengeluarkan paduan suara: ooooh.. kecopetan! Dan sekali lagi kami mengungkapkan ikut belasungkawa. Lha, tapi, kan pulang kampungnya 4 bulan. Yang sebulan lagi kemana?

Pulang dari kampung, ternyata kontrakan saya di Manggarai udah nggak ada, Bu. Kebakaran waktu saya di kampung. Botol parfum saya yang belum kejual, ada 50 botol, semua ikut kebakar. Jadi saya cari modal dulu sama cari kontrakan baru.

Sekali ini paduan suara kami terhenti. Terlalu banyak informasi yang kami serap. Sudah jatuh tertimpa tangga, demikian kata pepatah untuk menggambarkan kemalangan yang beruntun. Lha, kalau yang kayak Pak Karman ini, rasanya sudah lebih dari itu. Sudah jatuh, tertimpa tangga, sampai njebur selokan.

Buru2 semua teman yang punya hutang pada Pak Karman ambil uang di ATM sebelah kantor. Sambil menunggu teman2 yang ambil uang, gw sempat ngobrol2 sama Pak Karman. Gw bilang bahwa gw takjub, setelah semua yang dialaminya, Pak Karman masih nampak biasa sekali. Wajahnya tetap sabar, tetap tenang, seolah2 nggak ada kejadian apa2. Padahal jelas dia kehilangan penghasilan beberapa bulan, modalnya terbakar, dan sekarang dia harus mulai dari nol lagi.

Dan Pak Karman, masih dengan wajahnya yang tenang dan sabar, hanya menjawab begini:

Rejeki itu kan dari Gusti Allah, Bu. Nanti juga ada lagi rejeki saya. Kemarin balik dari kampung saya udah nggak punya apa2 lagi, tapi ternyata juga ada rejeki. Ada ibu-ibu yang lama nggak bayar2, susah ditemui, kemarin langsung bayar. Ada juga yang ngasih saya voucher perdana HP, katanya dapat gratis dan dia nggak butuh. Ini Insya Allah duit bayaran ibu-ibu di sini sebagian mau saya belikan HP bekas, jadi kalau ada yang nanyakan parfum gampang.

Ah.. gw jadi malu sama Pak Karman. Kadang, kehilangan materi yang nggak seberapa dibandingkan Pak Karman, udah bikin gw ngerasa nggak punya apa2. Di sini, di depan gw, ada orang yang kehilangan semua materinya, dan dia masih sangat percaya bahwa itu bukan apa2. Masih bisa bilang: rejeki akan datang lagi.

Sometimes we learn a lot from someone we expect the least.