Friday, November 10, 2006

The Kite Runner: the Insights

Udah lama pingin baca The Kite Runner (Khaled Hosseini), tapi baru dua minggu lalu gw berhasil nemu versi aslinya di Periplus bandara Soekarno Hatta.

Well, IMO, it is a must-read book for everybody ;-). Nggak salah kata pengantar yang diberikan Isabel Allende: It is so powerful that for a long time after, everything I read seemed bland. Buat gw sendiri, sudah lama gw gak baca novel se-touching ini dan se-insightful ini. Buat yang pingin tahu ceritanya, tapi malas baca buku, bisa baca sinopsisnya di sini. Buat yang pingin baca, cepetan gih beli bukunya! Jangan baca spoiler-nya -)

Touching-nya buku ini terutama adalah di setengah bagian pertama. Bagian yang mengulas pergulatan batin Amir saat menyaksikan pengorbanan Hassan, konflik diri antara menolong sahabat dan mendapatkan perhatian ayahnya, totalitas pengabdian Hassan dan ayahnya (Ali).. sampai bagaimana Amir tidak sanggup hidup dengan rasa bersalahnya sendiri dan mencari jalan keluar yang [dalam perhitungannya] paling baik buat semua orang: dengan menyakiti Hassan sekali lagi untuk terakhir kalinya.

Memaafkan diri sendiri memang paling sulit. Kalau orang lain melakukan suatu kesalahan pada kita, kita bisa menuntut balas. Cacimaki, pukul, siksa, bunuh.. you name it. Tapi bagaimana caranya menuntut balas pada diri kita sendiri? Keinginan untuk menyakiti dan menghukum untuk mendapatkan kepuasan akan bertentangan dengan naluri untuk bertahan dan menyelamatkan diri. Nggak heran, jika terpojok pada rasa malu dan bersalah, kadang perilaku yang muncul adalah anomali: bukannya bersikap baik, tapi bersikap lebih buruk. Bukannya menunjukkan penyesalan, malah melakukan hal yang lebih buruk lagi. Entahlah. Mungkin dengan bersikap buruk itu kita berharap orang akan terpancing untuk membalas, sehingga kita mendapatkan justifikasi bahwa kesalahan kita telah diberi hukuman setimpal. Atau mungkin alasannya sesederhana Amir: dengan bersikap buruk kita berharap orang itu pergi menjauh. Kita tak perlu lagi melihatnya. Dan dengan tidak melihatnya, waktu akan berbaik hati membantu kita melupakan kesalahan kita.

Or so we thought.., karena cerita Amir memberikan insight bahwa you cannot bury the past; because the past claws its way out (p.1). Masa lalu, atau tepatnya kesalahan masa lalu, akan terus muncul ke permukaan hingga kita menemukan jalan untuk menebusnya. Dan jika kita merasakan kesalahan itu mendera kita, maka kita sudah sepantasnya bersyukur, karena itu berarti kita masih diberi kata hati yang baik. A man who has no conscience, no goodness, does not suffer, demikian petuah akhir Rahim Khan untuk Amir (p. 276).

Sungguh suatu nikmat tersendiri jika pada suatu waktu kita berhasil mendapatkan the peace of mind. Khaled Hosseini menggambarkan keadaan itu dengan analogi yang sangat sederhana, tetapi begitu mengena:

I wondered if that was how forgiveness budded, not with the fanfare of epiphany, but with pain gathering its things, packing up, and slipping away unannounced in the middle of the night (p. 329)

Penebusan itu tidak ditandai dengan sebuah kemeriahan. Hanya sebuah beban yang diam2 terangkat dan hilang.

Buat gw, selain insight dari inti cerita di atas, masih banyak lagi insight yang gw dapat. Seperti kisah tentang Baba (=ayah) Amir, yang melanggar berbagai aturan agama seenaknya, tidak percaya Tuhan, menyuruh anaknya belajar mengaji hanya karena trend.. tapi toh juga satu2nya orang yang berani menghadapi tentara Rusia mabuk yang hendak memperkosa seorang pengungsi wanita. Di saat orang lain hanya menunduk demi keselamatannya sendiri dan (tanpa mengecilkan arti doa) hanya bisa medoakan si calon korban, Baba adalah pria yang berdiri menantang laras Kalashnikov; mencoba melindungi si pengungsi wanita dengan perbuatan nyata. Nekad, tapi nyata. Membuat kita berpikir: sebenarnya apakah yang dinamakan orang baik itu? Bagaimanakah yang disebut orang yang mengikuti jalan kebenaran? Apakah kebaikan dan kebenaran itu hanya ditentukan oleh mengikuti aturan secara prosedural? Dan yang paling penting: apakah seorang manusia bisa dikatakan baik atau buruk, karena toh di tengah yang buruk ada nilai kebaikan, dan di tengah kebaikan ada keburukan

..there is only one sin, only one. And that is theft. Every other sin is just a variation of theft... When you kill a man, you steal a life.. When you tell a lie, you steal the right to the truth.. When you cheat, you steal the right to fairness.. (p.17)

Demikian prinsip Baba. Prinsip yang sederhana, tapi begitu kuat membentuk karakter seorang manusia untuk selalu melakukan hal yang baik. Tidak membunuh, tidak berbohong, tidak berbuat curang.. Pada akhirnya, dia menjadi baik karena sadar bahwa itulah yang benar. Bukan karena takut pada hukuman, termasuk hukuman dari Tuhan. Menurut gw ini cara yang indah sekali untuk mengingatkan kita semua: berapa sering kita mencuri dari orang lain tanpa kita sadari? Parkir tidak tepat di area yg disediakan, terlambat menginjak pedal gas ketika lampu hijau menyala, terlambat menginjak rem saat lampu merah, motor nyelip, motor jalan di trotoar sehingga pejalan kaki harus minggir, menghentikan kendaraan umum di tempat yang tidak semestinya .. contoh2 kecil dari variation of theft yang [mungkin] tidak disadari.

Begitu banyak yang dapat dipelajari dari buku ini. Memang, ada satu alur cerita yang cukup mengganggu, setidaknya nggak penting untuk dimasukkan dalam plot, yaitu kenyataan bahwa Hassan lebih daripada sekedar anak pelayan yang tumbuh bersama Amir. Akan lebih bermakna jika apa yang dilakukan Amir di akhir cerita adalah sesuatu yang tulus, atas nama persahabatan, bukan karena kenyataan ini ikut ambil bagian. Tapi bumbu ini tidak mengurangi keindahan isi keseluruhan.

Satu lagi yang patut dicatat dari buku ini: buku ini terasa begitu dekat, begitu nyata, karena kemiripan budaya Afghanistan (pra-Taliban) dengan budaya Indonesia (terutama pra-kemerdekaan). Emotional bond antara tuan dan hamba dalam cerita ini juga lazim terjadi pada keluarga2 bangsawan beberapa suku di Indonesia dengan pembantu2nya. Cara Afghan (terutama suku Pashtun) memandang bibit, bobot, bebet serta pentingnya keluarga besar juga begitu mirip dengan keadaan di sini. In a way, it really helps me (us?) feeling connected with the story.. and embracing the significance of the insight(s).