Sunday, November 19, 2006

The LOST Quotes

My choice of entertainment this past 2 weeks is LOST.

Iya.. maksudnya film seri Lost, yang sempat diputar di Indosiar beberapa waktu lalu. Sekarang gw udah sampai season 2. Emang gw terusin nonton film yang alurnya super duper lambretta ini dan alurnya bolak-balik flashback (biarpun bapaknyaima sudah nyerah beberapa episode lalu; katanya mau nunggu summary dari gw aja.. hehehe..), karena ide ceritanya menarik. Puluhan survivors ditempatkan di sebuah pulau tanpa kontak dengan dunia lain, what do they have in common but the place of destination ;-)? Pasti menarik melihat bagaimana orang2 yang hanya punya kesamaan semu ini saling berinteraksi untuk tetap bisa selamat sampai God knows when.

Lepas dari detil2 yang agak mengganggu (i.e. si dokter bedah yang tetap ganteng bin klimis walaupun udah 50 hari terdampar, stok obat2an yang nggak habis2, komputer di bunker penelitian yang masih berfungsi dengan baik walaupun tidak pernah mati dalam 6 tahun terakhir dengan bentuk monitor dan tampilan layar yang mengingatkan gw pada WS-5 yang terakhir gw pakai tahun 1993-an), penggambaran karakter2 di film ini menarik. Banyak yang bisa dipelajari dari menonton karakter2 ini; karakter2 yang pastinya banyak kita temui dalam kehidupan nyata sehari2. Tokoh John Locke yang rada sufi dan Jack Shepphard, misalnya, benar2 menggambarkan pertentangan seorang yang sangat percaya pada rencana alam versus seseorang yang sangat rasional.

Locke: why do you find it so difficult to believe?
Jack: Why do you find it so easy?

Dialog model ini selalu mewarnai tiap kali ada sebuah keputusan yang harus diambil. Locke selalu percaya bahwa apa pun yang terjadi itu adalah bagian dari rangkaian peristiwa yang harus terjadi. Pun jika yang terjadi itu menyangkut hilangnya nyawa seseorang. Jack, on the other hand, punya masalah besar dengan letting go. Ini episode yang tiap saat selalu terjadi dalam kehidupan nyata, kan? Menarik melihat bagaimana Locke & Jack mengambil keputusan untuk mengatasi perbedaan ini.

Di lain waktu, si mantan polisi Ana Lucia Cortez bereaksi terlalu cepat dan menembak Shannon Rutherford hingga tewas. Diwarnai dengan pengalaman masa lalunya, ketika di kehidupan nyata dia diistirahatkan sementara karena terlibat dalam kasus tembak-menembak, Ana mengambil langkah tegas: semua yang terlibat dan menjadi saksi disanderanya. Tak boleh pergi karena yakin jika berita ini sampai ke telinga survivors lain, semua akan menyalahkannya juga.

Libby (to Ana Lucia): What is your plan?
Ana Lucia: *no answer*
Sayid Jarrah: She has no plan. She only has her guilt.. and a gun

Yup! Sering dalam kehidupan kita, kita sibuk sendiri dengan pikiran2 yang didasari perasaan kita sendiri. Yaah, kalau nggak powerful sih mungkin hanya membahayakan diri sendiri. Tapi akan menjadi sangat berbahaya jika dia punya power; seperti Ana Lucia yang memiliki sepucuk senjata. Memang harus sangat hati2 memberikan senjata dan kekuatan pada seseorang atau sekelompok orang. Nggak ada yang lebih membahayakan orang banyak daripada seseorang yang dikuasai pendapat2 subyektif dengan senjata di tangannya.

Cerita lain adalah tentang Mr Eko, seorang altar-boy di Nigeria yang menjadi penyelundup obat2an. Suatu hari dia mendatangi adik lelakinya, Yemi, yang menjadi pastur; ingin menyewa pesawat misionaris (satu2nya pesawat yang boleh keluar masuk Nigeria) untuk menyelundupkan narkoba ke luar Nigeria. Adiknya mengatakan bahwa Eko adalah pendosa besar, dan mengusirnya pergi untuk tidak kembali menginjakkan kaki di gereja lagi.

Eko: Have you forgotten how you became like this? What I did that day, was that a sin or a blessing, considering that it what made you a priest?

Yup! Segerombolan pengedar narkoba menangkap penduduk di depan gereja. Ada seorang pria yang melawan, dan si bandit menangkap Yemi, meletakkan pistol ke tangannya, dan memaksanya menembak si pria. Yemi, si altar boy, begitu ketakutan hingga hampir ditembak oleh si bandit. Eko, cutting the loss, mengambil alih tugas Yemi. Lebih baik satu mati, daripada keduanya mati. Tapi Eko tak pernah pulang; detik itu juga dia diambil oleh si bandit, dipaksa menjadi bagian dari mereka.

Dari sisi kita, mungkin kita bisa bilang: harusnya Eko lebih berprinsip. Lebih baik si pria dan Yemi mati daripada dia membunuh orang tak berdosa. Kalau nggak mau jadi bandit, ya kabur, atau terima disiksa, kalau perlu mati sebagai martir. Yeah! It is easy for us to say that. Masalahnya.. is that so easy for a boy around 12 or 13? Seorang bocah yang harus mengambil splitting second decision?

***

Nah.. yang di atas itu tadi sisi2 bagus dari film seri Lost. Tapi.. nonton beberapa episode terakhir, ada satu bagian yang menurut gw lemah banget. Bukan sekedar hal kecil yang nggak penting tentang staying-handsome-castaway ;), tapi masalah membangun karakter salah satu tokohnya: Sayid Jarrah. Sayid digambarkan sebagai seorang Iraq, mantan communication officer of Republican Guards di masa Perang Teluk. Seorang interogator (baca: torturer) yang kini menyesali apa yang diperbuatnya semasa perang. Hmm.. lihat port-folionya, kita terbayang a very integrated man, rite? Sayang sekali, tokoh yang bisa sangat menarik ini lebih banyak digambarkan sebagai tokoh menye2 yang meratapi cinta. Membujuk temannya menjadi bom hidup demi mendapatkan alamat Nadia, gadis idamannya, dari tangan CIA. Nangis2 darah sampai garuk2 tanah *not literally, but you know what I mean* ketika cin-loknya di pulau ini, Shannon, tertembak mati.

Well.. a member of Republican Guard, hardened by the Gulf War, cannot control himself so badly? Secara psikologis benar2 aneh! Bukaaan.. bukan gw bilang bahwa cowok nggak bisa jatuh cinta sampai segitunya.. ;-). Gw tahu kok, cowok2 kalau udah jatuh cinta reaksinya suka lebih ajaib daripada cewek ;-) Tapi.. it just does not fit the whole character. Apalagi jika kita tempatkan Sayid dalam konteks pria Iraq, yang dibesarkan dalam budaya kelompok etnis yang cenderung memandang wanita di bawah pria, dan tidak sepantasnya seorang pria menunjukkan afeksi terhadap wanita (apalagi yang bukan istrinya) di depan umum.

Forgive my not-so-objective judgment, but it seems like a propaganda to me ;) Entah propaganda anti-Iraq, atau propaganda pro-Amerika ;).

Makin kelihatan jadi propaganda ketika di episode yang baru gw tonton ini, Sayid menjadi tangan yang dipinjam tentara Amerika untuk menyiksa commanding officer-nya sendiri karena diberi tontonan rekaman pasar yang dihancurkan dengan gas sarin. Kalau dia segampang itu berbalik arah membantu Amerika, mestinya karakternya tidak kuat, dan kalau karakternya tidak kuat, why the hell did he become a Republican Guard in the first place? Dengan bahasa Inggris yang digambarkan bagus sekali (walaupun beraksen), sehingga bisa menjadi tawanan perang yang dipaksa menjadi penterjemah, bisa terbayangkan bahwa Sayid berasal dari kelompok sosial yang cukup tinggi di Iraq. Kelompok sosial yang lebih punya akses ke dunia barat, setidaknya punya pendidikan yang cukup tinggi. Orang seperti ini, logikanya, menjadi tentara karena punya niat dan keyakinan yang kuat; bukan sekedar pengikut buta ;).

Ya nggak tahu juga sih, ini propaganda atau bukan. Tapi yang jelas, perannya Sayid di film ini terbatas pada tukang ngebenerin alat2 elektronik, cinta2an sama Shannon.. dan tukang siksa ;-). Agak lucu buat gw melihat Sayid bisa bobok2 sama2 Shannon tanpa sungkan.. where in Iraq did he learn to hold the hand of a woman, yang tidak punya hubungan darah dengan dia ;-)?

Well, tampaknya, sutradara dan penulis lupa mengamalkan dialog yang mereka buat di film ini untuk tokoh the bad-boy-ex-con Sawyer: everything is in the details. Dialog ini muncul ketika Sawyer sedang mengajari pacarnya menipu orang:

Cassidy: These necklaces are junks. A 5-year-old will notice it immediately

Sawyer (writing the incredibly high price on each of the tag) : Yet they will see the price tag. Everything is in the details, Cass.

Yeah! You forget the details about Sayid, hon ;-)

Intermezzo: UPDATE 22 November 2006:

Penasaran dengan info Jeng Dian ini, gw ngublek2 episode guides dan berbagai sumber lainnya. Akhirnya nemu fictional biography ini, nggak jadi nge-revisi tulisan sesuai masukan Jeng Dian deh ;)

***

Anyway.. gara2 ngomongin propaganda, gw jadi ingat Bush besok mau datang ke sini. Sebagian orang menganggapnya propaganda; harus ditolak. Tadi udah ada demo yang bikin macet Jakarta. Gw? Gw termasuk yang menganggapnya propaganda juga. Entah karena Indonesia cukup strategis untuk dijadikan sekutu, dinetralkan, atau setidaknya nggak jadi sekutunya Iran *secara Ahmadinejad udah duluan ke sini, gitu loh ;-)*. Apalagi Indonesia kan terpilih sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB periode 2007-2008. Tapi gw cukup setuju dengan keputusan pemerintah untuk menerima Bush. Bagaimana pun kita bangsa yang ramah tamah, mosok mau nolak tamu ;-)? Kan nggak sopan ;-).

Setidaknya, dengar dulu apa tawaran Bush. Kalau bisa menguntungkan kita, dan tidak merugikan siapa2, kan enak. Tapi kalau proposalnya adalah membuat kita jadi boneka Amerika, ya setuju sama Amin Rais: kasih minum, suruh duduk, dijamu dikit2, lalu.. bubye Mr President, thank you for coming! Baru juga lepas dari mulut IMF, kan nggak lucu kalau masuk ke mulut Amerika ;-).