Thursday, November 02, 2006

Tanyaken Napa: An Answer

Tadinya mau nulis soal yang lain, tapi tergelitik sama komentarnya Mbak Wiet di entry sebelumnya, gw mau ngomentarin komentar yang ini ah:

Tapi gk semua org mau nge-tack seat sblm yakin jadual keberangkatan tdk ada perubahan.. krn jika sudah issued tiket dan confirm seat dan tiba2 pd saat keberangkatan org itu terlambat datang atau membatalkan keberangkatan krn berhalangan atau sebagainya, tiket tsb sdh otomatis hangus... krn dianggap sdh check in..

Tinggal pilih deh... mau cari gampangnya nge-tack seat jauh2 hari tapi ketika pd hari keberangkatan ada halangan, gk jadi berangkat dan tiketnya hangus.... atau check in pd hari H keberangkatan dan mendapatkan seat tersisa tdk sesuai yg diharapkan??... hehehe

Hehehe.. ternyata emang check in 24 sebelumnya bukan peraturan baru ya? Gw aja yang nggak ngeh, ya,.. maklum, gak pernah pesan tiket sendiri ;-)

So, OK deh.. mungkin gw yang kurang tanggap sama perubahan jaman *halah!*. Masih berpegang pada aturan kuno bahwa yang namanya check in harus 2 jam sebelum berangkat, dan resiko gak dapat tempat duduk enak adalah kalau check ini mepet (baca: dalam kurun waktu kurang dari 2 jam). Tapi gw masih nggak rela nih kalau dibilang: tinggal pilih deh... mau cari gampangnya nge-tack seat jauh2 hari tapi ketika pd hari keberangkatan ada halangan, gk jadi berangkat dan tiketnya hangus.... atau check in pd hari H keberangkatan dan mendapatkan seat tersisa tdk sesuai yg diharapkan?

..profesionalisme mengijinkan memberikan servis ISTIMEWA pada mereka yang membayar lebih, tapi mewajibkan memberikan servis memuaskan pada yang membayar tarif biasa. Menjadi tidak profesional jika: servis memuaskan hanya diberikan pada mereka yang membayar lebih, sementara yang membayar tarif biasa diberikan servis di bawah standard..

Nggak relanya karena gw nggak ingat (tahu?) bahwa ada pengumuman terbuka bahwa check in 24 jam sebelumnya sudah menjadi default (baca: wajib), dan check in 2 jam sebelumnya hanya menjadi minimum requirement. Sampai kemarin pulang dari Yogya, ground crew masih mengatakan bahwa check in 24 jam sebelum keberangkatan adalah optional, dan selambat2nya adalah 30 menit sebelum boarding (baca: 1 jam sebelum keberangkatan). So, technically, gw masih mengikuti peraturan dengan check in 2 jam sebelum berangkat. So.. it is not fair, kalau sudah mengikuti peraturan, tapi dapat pelayanan ala kadarnya karena ada orang yang check in lebih dulu daripada kita.

Let me put it this way: seandainya tarif seorang dokter adalah Rp 50,000. Bolehkah bila dokter tersebut memberikan pelayanan istimewa pada pasien yang membayarnya Rp 150,000? Menurut gw sangat boleh. Lha wong pasien itu memang bayar lebih besar. Tapi.. bolehkah lantas dokter itu meminggirkan pasien yang membayar tarif Rp 50,000? Menurut gw juga boleh, tapi dengan satu syarat: dia sudah bilang bahwa sekarang tarifnya Rp 150,000, jadi orang2 yang cuma mau atau mampu bayar Rp 50,000 gak usah berobat ke sana. Selama dia masih menyebut tarif Rp 50,000, dia masih mempunyai kewajiban untuk memberikan servis yang baik (baca: tidak istimewa, tapi juga tidak buruk) kepada orang2 tersebut.

Bottom line-nya: profesionalisme mengijinkan memberikan servis ISTIMEWA pada mereka yang membayar lebih, tapi mewajibkan memberikan servis memuaskan pada yang membayar tarif biasa. Menjadi tidak profesional jika: servis memuaskan hanya diberikan pada mereka yang membayar lebih, sementara yang membayar tarif biasa diberikan servis di bawah standar ;-).

So.. sebenarnya, either maskapai penerbangan secara resmi menjadikan 24 jam sebelumnya sebagai dimulainya countdown check in, atau memberlakukan sistem PJKA. PJKA menjual tiket sejak seminggu sebelumnya, namun tidak semua tiket dijual seminggu sebelumnya. Tetap ada tiket yang dijual pada hari H. Sistem ini bisa diterapkan di masalah tempat duduk: tidak semua tempat duduk bisa dipesan 2 minggu sampai 24 jam sebelumnya (baca: meminta hak istimewa), masih tetap disediakan pilihan untuk orang yang datang 2 jam sebelumnya (baca: mengikuti peraturan yang belum diubah).

Gw rasa sistem ini wajar saja. Di rumah sakit saja, kalau ruang VIP atau VVIP habis, dan tersisa kelas II, maka calon pasien harus rela masuk kelas II atau cari RS lain. Nggak bisa dong, karena ada pasien yang mau bayar kelas VIP tapi kehabisan ruangan, lantas pasien kelas II diusir supaya ruang kelas II itu bisa disulap jadi ruang VIP ;-).

.. Secara nggak langsung, konsumen mengajarkan dan merestui penyedia jasa untuk tidak lagi bekerja secara profesional. Penyedia jasa tidak lagi belajar memberikan servis istimewa pada mereka yang membayar lebih, tapi take it for granted bahwa semua orang harus bayar lebih.

And it will lead to corruption ;-)..

IMAO (= in my arrogant opinion), ini bukan masalah pilihan, tapi masalah profesionalisme ;) Dan satu hal yang bikin gw ngeri ketika konsumen sudah mulai berpikir bahwa ini sekedar masalah pilihan. Secara nggak langsung, konsumen mengajarkan dan merestui penyedia jasa untuk tidak lagi bekerja secara profesional. Penyedia jasa tidak lagi belajar memberikan servis istimewa pada mereka yang membayar lebih, tapi take it for granted bahwa semua orang harus bayar lebih.

And it will lead to corruption ;-).

Iya, mulainya korupsi kan dari hal yang gini2. Tarif bikin KTP sekian ribu perak, tapi karena petugasnya lamban, orang2 mulai ngasih duit lebih biar KTP-nya didahulukan. Lama2 semua orang melakukan hal itu, sehingga uang sogokan itu dianggap sebagai hak ;-). Lama2, karena semua orang melakukan seperti itu, dan sangat tidak mungkin untuk memberikan layanan istimewa pada setiap orang, maka layanan istimewa berubah menjadi layanan standard. Dan yang mengikuti peraturan pun lantas turun kelas: mendapat pelayanan yang di bawah standard.

So.. wanna fight the corruption? Start with fighting this ;-)

Wah.. rasanya gw jadi dapat jawaban buat pertanyaan di iklannya Sampoerna A Mild: Tanyaken Napa? Hehehe.. Kira2 jawaban ini bisa gw duitin gak ya? Enaknya dijual ke mana? Ke Sampoerna, atau ke ad agency-nya? HAHAHA ;-)

***

PS: baidewei, soal seat dari Yogya itu, mau cerita akhirnya ah.. ;-) Sekitar 20 menit sebelum boarding, Mbak Ground Crew yang manis itu nyusul gw ke Periplus (setelah manggil2 gw ke loket dan gak muncul walaupun gw tunggu 5 menit). Dia kasih gw boarding pass baru karena: ada satu rombongan (5 orang) yang sudah check in 24 jam sebelumnya gagal mencapai bandara Yogya pada jam yang ditentukan karena mobil mereka masih dari sebuah kota kecil di Jawa Tengah ;-). Gw sih cuma senyum manis dan bilang terima kasih sama si Mbak Ground Crew, tapi dalam hati gw bilang: I told you ;-) Secara ini Indonesia gitu loh, gak usah ada jalan rusak, sisa gempa, dan jalan macet aja orang belum tentu tepat waktu, eeeh.. lho, kok memberlakukan check in 24 jam sebelumnya dan menterlantarkan orang yg sudah pasti bisa datang 2 jam sebelumnya ;-). Nggak tahu ya, bahwa orang masih sering kemaruk, takut nggak kebagian, termasuk dalam soal check in ;-)?

Oops.. udah ah! Bosen nulis kasus yang ini.. HAHAHAHAHA.. HH