Friday, September 26, 2008

Maka Pada Puncaknya adalah PRT

*Sebuah posting cepat di sela2 'membabu'.. ;-)*

Sebenarnya, plan A gw adalah ngambil cuti 5 hari SETELAH cuti bersama pekan depan. Jadi... istirahat di rumah agak lamaan. Apa daya... rencana berubah karena gw harus 'alih profesi' lebih cepat ;-)

Semuanya bermula ketika Mbak yang bantu2 di rumah menterjemahkan kata2 gw mengenai "Kamu pulangnya minggu sebelum Lebaran aja ya.. kan kamu nggak mau balik ke Jakarta" secara harafiah. Maksud gw dengan "minggu sebelum Lebaran" adalah hari Minggu sebelum Lebaran. Tapi... si Mbak yang udah kangen berat sama anak sulungnya (anak bungsunya sih tinggal di rumah bareng kami sejak 2 bulan lalu), menterjemahkannya sebagai 1 minggu sebelum Lebaran. Jadi... dengan teliti dia menghitung kapan itu 7 hari sebelum tanggal 1 Oktober, dan nggak bisa ditawar2 lagi: harus kudu musti pulang Rabu, 24 September ;-)

Dan karena kampungnya di Lampung, dimana dia mesti naik kapal instead of bis malam, makanya persyaratannya nambah: harus kudu musti pulang Rabu, 24 September jam 6:00 pagi. Biar nggak kesorean sampai Lampung ;-)

Jadilah gw pusing ngatur ulang urusan cuti ;-) Karena kalau tinggal Mbak yang momong Nara sendirian di rumah, kerjaan bakal nggak beres. Nggak ada yang masak buat sahur dan buka. Kalau nunggu gw belikan makanan, bisa2 orang rumah baru buka puasa jam 20:00, secara sejak jam 15:00 tuh depan kantor udah kayak showroom mobil... hehehe... Gak mungkin aja gw pulang tenggo! Harus nunggu buka puasa baru mobil bisa keluar.

Setelah atur sana-sini, nggeser meeting dengan klien yang harusnya Kamis, 25 September menjadi Rabu, 24 September segala, akhirnya gw bisa cuti mulai kemarin. Masalah selesai... ;-)

Tapi.... masalah baru muncul!

Mbak yang momong Nara, yang sebenarnya udah janji mau pulang hari Minggu, 28 September, ternyata harus pulang hari Jumat, 26 September. Secara dia itu pulangnya nebeng naik mobil saudaranya, dan saudaranya itu memutuskan pulang Jumat sore aja, biar bisa lamaan di kampung.

Nah lho! Tanpa staf garda belakang, padahal punya bayi umur 5 bulan??? It's too much to handle ;-) Terpaksa... keluarkan jurus sakti: minta bapaknya anak2 supaya cuti juga! Biar gw bisa ngurus Nara, sementara dia bantuin ngepel dan bersih2.

*Catatan: jarang2 lhooo... gw sampai minta tolong sama laki gw... hehehe... Biasanya nunggu doski nyadar sendiri ;-)*

Ternyata... bapaknya anak2 masih punya kerjaan di kantor sampai Jumat. Dan... yang gawat: hari Sabtu itu dia masih harus nguji mahasiswa. Full, dari pagi sampai sore nguji beberapa kelas. Dia kudu hadir, karena ujiannya komprehensif, bukan tertulis.

Ini namanya keadaan gawat darurat ya... hehehe... jadi harap maklum kalau gw keluarkan jurus pamungkas: melototin bapaknya anak2 ;-) Pilih mereka atau kami, begitu kira2 ancamannya... HAHAHAHAHA... Dan, entah karena cinta atau karena takut istri, bapaknya anak2 ngalah ;-) Ujian digeser sampai habis Lebaran ;-)

Hehehehe... jadilah sebuah temuan baru mengenai
pecking order, yaitu: ternyata, pada puncaknya, hirarki patuk-mematuk ini dihuni oleh.... PEMBANTU RUMAH TANGGA ;-)

Iya lho, bener! Anak gw aja nggak bisa memaksa gw cuti ;-) Pernah, Ima sakit panas, gw tetap terbang ke Pekanbaru urusan kerjaan. Tapi... justru pembantu rumah tangga bikin gw manut saja mengubah jadwal cuti... hehehe...

Malah, bukan saja jadwal si nyonya yang diatur oleh pembantu rumah tangga ;-) Jadwal ujian mahasiswa seangkatan aja ditentukan oleh mereka! Hebat gak pengaruh para staf garda belakang ini... hehehe....

Maka... pada puncaknya adalah Pembantu Rumah Tangga. Mereka mematuk sang nyonya. Sang nyonya mematuk si tuan. Dan si tuan... mematuk mahasiswa di bawah pengawasannya ;-) Siapa bilang si nyonya dan si tuan yang lebih kuasa daripada pembantu rumah tangga ;-)?

*Eh, tapi kalau mau full circle, para mahasiswa bisa gantian mematuk para pembantu rumah tangga lho ;-) *

Begitulah... ;-) Dengan adanya krisis garda belakang ini, mau nggak mau sekarang terpaksa membabi buta beta membabu ;-) Hingga krisis teratasi, gw bukan lagi ibu2 rumpi sok tahu yang bisa nyilet sana nyilet sini ;-) Oleh karenanya... sekarang aja ya gw ngucapin:

Selamat Hari Raya Idul Fitri
Sorry dory memory kalau ada salah2 selama ini

Yuuuk, mari... Tante pergi dulu ya ;-) Selama Tante pergi, jangan pada nge-junk di mari ;-)

Saturday, September 20, 2008

Bagaimana Datang?

Buat yang gemar nonton DVD bajakan, tentunya familiar dengan terjemahan yang “pasti modalnya cuma kamus bahasa Melayu di tangan”. Terjemahan yang malah bikin pusing, bukan membantu ngerti isi cerita. Bayangin aja, pada suatu hari, gw pernah nonton film yang adegannya berantem rebutan anak kecil. Terus... subtitle-nya bunyinya begini:

Tampak wajah! Anak kambing itu adalah ranjau darat!

Pusing nggak loe? HAHAHAHA... Itu terjemahan harafiah dari, “Look! That kid is mine!

Kata per kata sih emang bener ;-) Look itu bisa diartikan penampilan wajah. Kid itu memang aslinya anak kambing. Dan mine memang bisa diartikan ranjau darat. Tapi... kalau digabung ;-)?

Tambah pusing lagi waktu Ima pakai tanya, “Maksudnya apa sih, Bu? Anak kambingnya mana? Kok bisa jadi ranjau darat?”

Padahal, pekerjaan menerjemahkan bahasa itu kan seni, ya AyahnyaAra, ya ;)? Bukan cuma harus ngerti kedua bahasa tersebut, tapi pakai perasaan. Biar terjemahannya tidak mereduksi arti sesungguhnya. Apalagi kalau sudah pakai idiom dan sebangsanya, kan nggak bisa diterjemahkan harafiah ;-)

Tapi ya namanya beli barang bajakan. Nggak bisa nuntut macem2 dong ;-) Ada harga ada rupa. Cuma Rp 7,000 per keping kok minta bagus... hehehe... Sama kayak lelucon tukang becak jaman dulu. Kalau ditawarnya kebangetan, si tukang becak ntar ngebut. Sambil ngomong, “Bayar segitu kok minta selamet”... hehehe...

Itu kalau bicara DVD bajakan. Kalau bicara Mall of Indonesia? Mall gede yang masih under construction di bilangan Kelapa Gading? Mestinya sih nggak berlebihan kalau gw berharap nggak ketemu bahasa2 aneh di sini ya... hehehe...

Dan karena itulah, ketika pekan lalu gw & bapaknyaimanara belanja ke salah satu hypermarket di sana, kami tertawa2 melihat rambunya. Sebab... rambu parkirnya seperti ini:



Hihihihi.... ke kanan "Way Out" ke kiri "No Left Turn".

Ya, ya, secara perbendaharaan kata, artinya benar ;-) "Way Out" itu jalan keluar, dan "No Left Turn" itu dilarang belok kiri. Tapi... ada yang aneh nggak sih dengan penggunaannya dalam konteks lahan parkir sebuah pusat perbelanjaan ;)?

Way Out, walaupun artinya adalah "Jalan Keluar", setahu gw lebih lazim digunakan dalam konteks "keterperangkapan". Jadi... kalau orang tersesat di hutan, lantas menemukan jalan keluar, itu disebutnya way out. Atau... kalau seseorang pusing memikirkan suatu masalah, lantas menemukan jalan keluar pemecahannya, itu disebutnya juga way out. Jadi, way out ini artinya lebih dekat pada solusi, daripada dengan jalan keluar fisik.

No Left Turn... hmm... setahu gw istilah ini lazimnya dipakai di negeri yang mengendarai mobil di sebelah kanan (kemudi di sisi kiri mobil). Seperti diceritakan di artikel ini, tanda ini digunakan untuk "keep traffic flowing on the major arterial street". Sebab, kalau boleh belok kiri, ntar banyak mobil yang masuk di lajur tersebut menunggu lampu belok kiri hijau dan menghambat jalan mobil2 lainnya.

Nah... dengan demikian, rambu no left turn ini nggak lazim di negeri yang nyetirnya di kiri jalan (kemudi di sisi kanan mobil). Kalau di sini mestinya rambunya adalah turn left direct (hihihi... ini terjemahan bebas dari "Belok Kiri Langsung" ;-))

Lebih jauh lagi, gw berasumsi bahwa "No Left Turn" ini mengandung arti tersirat. Nggak tahu apa... tapi seperti di artikel ini dan ini, kesannya ada sesuatu di balik frasa ini. Something political... hehehe...

So... sebenernya kenapa ya, Mall of Indonesia memilih kedua frasa ini? Sekedar pingin beda? Atau modalnya cuma kamus bahasa Inggris di tangan? Hehehe... Atau mungkin, secara ini adalah mall yang diposisikan untuk para kaum the haves yang suka wara-wiri belanja ke negeri berbahasa Inggris, makanya mereka mencomot istilah yang juga ditemui di negeri berbahasa Inggris? Yang penting kedengeran dan kelihatan kayak di luar negeri... gak peduli konteksnya ;-)

Yaaah... mungkin kata "EXIT" dan "NO ENTRY" kedengerannya kurang keren buat mall semewah ini ;-)

Atau mungkin juga sebenarnya itu menunjukkan hasrat terpendam dalam pembuatan mall ini: mall ini diharapkan membuat orang "trapped" di dalamnya, sehingga harus mencari "way out"... hehehe... Kalau begitu, mungkin lahan parkir ini nama kerennya "Problem Solving Maze". Satpamnya nggak disebut satpam, atau security officer, tapi disebut "Advisor" atau "Counselor"

Anyway... rambu ini selain bikin kami tertawa tergelak2, juga menimbulkan tebak2an baru. Tebakannya: coba, apa KATA yang ada di atas pintu keluar darurat di mall ini? Biasanya kan tulisannya "Emergency Exit".

Tebakan gw sih, tulisannya: "ESCAPE ROUTE", hehehe.... Biar sama kerennya dengan dua yang lain ;-)

---------------
PS: Setelah baca tentang major arterial street di atas, gw jadi ngerti kenapa Ima harus menghafalkan jalan propinsi dan jalan kabupaten. Mungkin biar ntar dia gak salah bikin rambu... hehehe... Memang, rambu dan kode itu kalau nggak jelas bisa menyesatkan ;-) Jangan heran kalau orang nggak ngerti maksudnya ;-)

Saturday, September 13, 2008

Bikin PR? Googling Dulu dooong!

Ima adalah anakku
Rajin mengerjakan PR
Dengan Classmate PC di meja
Mencari jawaban soalnya

(dinyanyikan dengan nada Ruri Abangku)

Jaman memang sudah banyak berubah sejak Abangku Ruri menyandang tas di bahu menuju sekolah ;-) Jaman sekarang, mengulang berhitung-menulis-membaca di rumah aja nggak cukup. Perlu ditambah dengan rajin selancar maya ;-) Kalau enggak, boro2 naik kelas! Bikin PR aja susah... hehehe...

Nggak percaya? Boleh tanya sama Ima ;-)

Sejak masuk kelas 4, guru2 selalu memberi Ima PR dari LKS (= Lembar Kerja Siswa). Bukan lagi PR dari guru sesuai materi yang sudah diajarkan, atau soal berlatih dari buku cetak. Melainkan "soal nasional" yang muncul dalam buku tersendiri. Katanya sih sebagai langkah persiapan menghadapi Ujian Nasional kelas 6 kelak. Biar anak lebih terbiasa dengan "soal nasional".

Well... gw sih nggak keberatan, sebenarnya. Sebab, dengan begitu, Ima jadi terpacu untuk belajar di luar materi yang diberikan. Nggak cuma jadi robot pasif penerima informasi yang sekedar memindahkan isi catatan dari short-term memory ke long-term memory. Masalahnya... kayaknya kurikulum sekolah ini belum standard. Antara pembuat buku cetak - guru - pembuat soal kayaknya tidak ada komunikasi dan standardisasi. Semua bergerak sendiri. Akibatnya... boro2 anak tambah pengetahuan. Yang ada anak2 jadi bingung, dan ortu ikut pusing bantuin bikin PR.

Beberapa minggu yang lalu, misalnya, Ima mendapat PR Sains tentang rangka tubuh. Kalau lihat dari buku cetak dan catatan guru, materinya hanya melingkupi nama2 tulang pada rangka manusia. Tapi... di antara soal PR-nya ada pertanyaan:

Berapakah jumlah tulang rusuk palsu?
a. 7 pasang
b. 5 pasang
d. 3 pasang
e. 11 pasang


Nah lho! Cari dimana? Ibunya udah jelas2 nggak ingat jumlah tulang rusuk ;-) Untung sejak punya kompie sendiri, dan sejak bapaknya pasang router, Ima udah berkenalan dengan Google dan Wiki-ID.

Tapi ternyata susah banget nyari jumlah tulang rusuk. Nemu gambarnya di blog ini, tapi penulisnya sendiri mengakui bahwa jumlah tulang rusuk antar buku berbeda. Trus... gimana anak kelas 4 SD bisa jawab kalau yang udah gede aja susah jawabnya??

Lagi, di materinya hanya memperkenalkan nama tulang dalam rangka manusia. Nggak dijelaskan tentang jenis tulangnya. Tapi... tiba2 ada pertanyaan:


Manakah di antara tulang berikut ini yang merupakan tulang pipih?
a. Tulang rusuk
b. Tulang pinggul
c. Tulang selangka
d. Tulang belikat


Googling lageeee... :)

Tadinya gw mengira kesulitan itu terjadi karena gw gak jago Biologi. Bener deh! Mata pelajaran yang paling gw benci di SMP - SMA adalah Biologi! Gara2 Biologi gw dulu gak mau masuk A1... hehehe... Soalnya gw gak mau ikut praktikum Biologi yang "kejam" itu. Sampai sekarang gw masih ngerasa nggak adil lho, kenapa jurusan A1 harus dapat Biologi juga? Kenapa nggak cukup dengan Fisika, Kimia, Matematika aja? Harusnya para pendidik di negeri ini ingat bahwa menyiksa binatang adalah langkah awal calon kriminal... HAHAHAHA... Kok malah di-encourage?

*Speaking of which, mungkin itu sebabnya ya, di negeri kita banyak koruptor? Kan orang2 pada berlomba masuk jurusan IPA tuh. Katanya IPS jurusan buangan ;-) Tanpa sadar, saat praktikum biologi belah2 kodok atau marmut, terpiculah otak2 kriminal itu ;-)*

Tapi ternyata memang pelajaran anak2 sekarang nauzubillah min zalik deh! Memang udah bukan jamannya Bang Ruri lagi! Kesulitan juga gw temui dalam bidang pelajaran IPS!

Kemarin, Ima dapat PR IPS yang [lagi2] dari LKS. Pertanyaannya ternyata lebih ajaib, karena luasnya ilmu sosial membuka pintu pada ketidakstandardan yang tak terbatas ;-)

Mulanya, gw gembira waktu Ima bilang, "Ibu, bantuin aku bikin PR ya! PR-nya bidang kesukaan Ibu: peta". Hehehe... Gw haqqul yaqin bisa jawabnya, secara gw kan maniak peta ;-)

Tapi... ternyata, soalnya sama ajaibnya dengan Sains. Salah satu pertanyaan yang bikin gw repot adalah:

Dalam peta, ibukota provinsi digambarkan dengan simbol:
a. Kotak dengan lingkaran di dalamnya
b. Lingkaran
c. Kotak
d. Segitiga


Sebenarnya sih setahu gw jawabannya adalah A. Tapi... coba perhatikan legenda dari 2 atlas yang berbeda berikut ini:



Legenda pertama diambil dari atlas yang dipakai di kelasnya (termasuk dalam buku paket tahun ajaran ini). Legenda kedua diambil dari atlas yang gw pilih dengan seksama beberapa bulan lalu.

Nyata benar bedanya kan? Dalam buku paket, kotak dengan lingkaran di dalamnya adalah simbol dari ibukota negara, sementara ibukota provinsi simbolnya kotak saja. Dalam atlas pilihan gw, terbalik: ibukota negara simbolnya kotak saja, sementara ibukota provinsi kotak dengan lingkaran di dalamnya.

Terus... mesti jawab yang mana dong?

Bapaknya sih lebih santai... dia bilang: jawab aja salah satu. Toh PR ini. Kalau salah, ya ntar dibenerin :) Yeeee... ini bukan sekedar PR, lageee! Ini simulasi Ujian Nasional, tauk! Kalau Ima ntar di Ujian Nasional salah milih, nggak ada kesempatan memperbaiki. Salah pilih, nilai berkurang satu. Kalau banyak salah pilih, bisa nggak lulus :(

Bapaknya baru ikut mati ucap setelah sampai pada soal berikutnya, yang berbunyi:

Jalan yang menghubungkan ibukota provinsi dengan ibukota kabupaten disebut:
a. Jalan Provinsi
b. Jalan Kabupaten
c. Jalan Nasional
d. Jalan Kotamadya

Nah lho! Kami aja nggak tahu bedanya jalan provinsi tuh apaan. Paling banter kami tahu ada bis yang disebut AKAP, alias Antar Kota Antar Provinsi. Apakah bis itu lewat jalan provinsi atau jalan kabupaten... meneketehe! Emang gw pikirin?? Gw kan bukan pegawai Departemen Perhubungan. Pegawai Jasamarga aja bukan.. hehehe..

Hehehe... 2 komputer langsung nge-browse internet ;-). Gw pakai kompie-nya Ima, bapaknya pakai kompie-nya sendiri.

Bapaknya nemu duluan! Katanya sih di situs bikinan seorang dosen ITB (?). Gw nggak tahu alamat situsnya, tapi gw nemu juga di situs Binamarga Kalbar. Komplitnya adalah sebagai berikut:

1)Jalan Nasional.
a) Jalan Arteri Primer.
b) Jalan Kolektor Primer yang menghubungkan ibukota Propinsi.
c) Jalan yang mempunyai nilai strategis terhadap kepentingan nasional

2) Jalan Propinsi.
a) Jalan Kolektor Primer yang menghubungkan ibukota Propinsi dengan ibukota Kabupaten/Kotamadya.
b) Jalan Kolektor Primer yang menghubungkan antar ibukota Kabupaten/Kota.
c) Jalan yang mempunyai nilai strategis terhadap kepentingan propinsi.

3) Jalan Kabupaten.
a) Jalan Kolektor Primer selain Jalan butir 1).b) dan 2).b).
b) Jalan Lokal Primer.
c) Jalan yang mempunyai nilai strategis terhadap kepentingan kabupatnen.

4) Jalan Kotamadya adalah jaringan jalan sekunder di dalam Kotamadya.


OK, PR terjawab dengan sukses. Tapi... habis itu bikin gw mikir: buat apaan sih anak SD disuruh menghapalkan kayak beginian? Kenapa sih materinya harus diluaskan hingga sedemikian? Sampai seluas materi tingkatan pendidikan formal yang lebih tinggi (atau bahkan tinggiiiiiii sekali, kalau benar bahwa situs temuan bapaknya itu adalah materi kuliah anak ITB... hehehe...). Lagian, kayaknya materi ini bukan buat anak2 deh. Mana ngerti anak kelas 4 SD "Jalan Kolektor Primer" dengan "Jalan Lokal Primer". Gw aja yang udah lulus SD lebih dari 20 thn lalu nggak tahu kok :(

Anak kelas 4 SD mah cukup ngapalin ibukota provinsi aja, nggak usah ngapalin sampai tingkat ibukota kabupaten ;-) Emang mereka mau jadi petugas sensus, apa ;)?

OK deh, kalau emang anak2 SD mau dipacu hafalannya biar pada menang Olimpiade Ilmiah semua. Yang jadi masalah buat gw: KENAPA NGGAK DISTANDARDISASIKAN SIH? Jadi ada kesinambungan antara yang bikin buku paket, buku soal, dan guru pengajar. Paling tidak si guru dikasih tahu lah, bahwa walaupun buku paketnya ngajarin sampai sini, soal yang dibuat bakal nanya sampai situ, jadi si guru mesti nambah ngajarin apa aja.

Ima masih beruntung karena punya akses ke internet dan mampu mengoperasikannya sendiri. Lha... anak2 lain gimana? Orangtua2 lain gimana? Apa nggak pada tebak2 buah manggis ;-)?

Bener deh! Lama2 gw pikir mendingan gw bikin homeschooling aja... hehehe...

*Atau gw kudeta aja ya, tim penyusun soalnya? Biar bikin soalnya agak membumi, gitu!*

***

Iseng-iseng baca UU Sisdiknas yang sedang jadi topik hangat di milis Psiindonesia, gw nggak jadi heran kenapa nasib anak2 Indonesia harapan bangsa ini semengenaskan ini ;-) Coba aja baca tulisan Pasal 12 mengenai Peserta Didik ;-) Hak peserta didik memang tidak mencakup mendapatkan soal yang konsisten dengan materi pelajarannya... HAHAHAHA...

***

Ngomong2.. OOT nih... ada yang ngerasa bahwa nama Ruri terlalu feminin buat seorang abang, nggak? Hehehe... Tebakan gw: Bang Ruri ini orang Ambon. Makanya dipanggil Broer sama saudara2nya. Naah... adiknya kan masih cadel, jadi nggak bisa bilang Broer, bilangnya Rur. Lama2 namanya jadi Ruri deh... HAHAHAHA...

Sunday, September 07, 2008

Main Cangkulan ala Orang Jawa

Dari mana awalnya mitos "banyak anak, banyak rejeki"? Gw yakin, yang bikin gara2 pasti orang Jawa ;-) Nggak percaya? Lihat saja aturan tentang Ruwatan Sukerta itu ;-)

Ruwatan (= upacara membersihkan diri) itu ada macam2 jenisnya. Salah satunya adalah membersihkan diri dari kesialan bagi orang yang tergolong sukerta. Sukerta? Apa pula itu? Kalau dari etimologinya, sukerta itu berarti "sangat berbahagia". Iya, kerta itu artinya bahagia. Makanya ada istilah adem ayem tata titi tentrem kertaraharja, yang kurang lebih menggambarkan bagaimana keadaan tenang tentram penuh keteraturan itu akan membawa banyak kebahagiaan. Su sendiri adalah kata dalam bahasa Jawa yang menggambarkan 'lebih'. Jadi, kalau kerta adalah bahagia, maka sukerta adalah bahagia banget!

Kalau udah bahagia, kenapa perlu "buang sial"? Yaaah... itulah orang Jawa ;-) Sering menggunakan antonim (= lawan kata) dalam menggambarkan sesuatu yg buruk. Maksudnya memberikan "energi positif" pada sesuatu yang buruk itu. Termasuk pada kasus Sukerta ini, karena yang disebut Sukerta adalah orang2 yang dianggap "sial".

Cerita tentang orang2 Sukerta dan ruwatan ini berawal dari kepercayaan Kejawen yang banyak dipengaruhi Hinduisme. Alkisah, menurut versi wayang Jawa, Batara Guru
(= CEO para dewa Jawa, in the same league dengan Oom Jupiter dan Paman Zeus di Romawi dan Yunani) membuat suatu kesalahan fatal. Saat bertamasya naik lembu Nandini bersama istrinya, Dewi Uma, dia melakukan pelanggaran berat terhadap RUU APP ;-) Nah... anak yang lahir dari pornoaksi inilah yang bernama Batara Kala.

Versi "pembuatannya" sendiri ada macem2. Ada yang bilang Dewi Uma beneran hamil, dan kemudian melahirkan bayi berwujud raksasa. Ada yang bilang air mani sang CEO jatuh ke laut dan tumbuh sendiri jadi Batara Kala. Malah, pernah juga gw baca dimanaaaa gitu, bahwa air mani yang jatuh ke laut itu dimakan oleh si lembu Nandini dan kemudian melahirkan Betara Kala. Versi yang terakhir ini, gw kira, adalah versi bikinan penderita Zoophilia... hehehe...

Nggak penting mana versi yang benar tentang lahirnya Betara Kala. Yang pasti kelanjutan ceritanya sama: karena lahir dari indecent act, si anak juga berperangai indecent. Dia rakus sekali; mungkin cerminan dari tingkah laku bapaknya yang nggak bisa tahan nafsu. Untuk memuaskan rasa laparnya, Betara Kala memakan manusia banyaaaaak sekali. Bahkan sampai
makan bulan saking laparnya. Sang Batara Guru, antara rasa sayang pada anak, guilty feeling, dan punya kewajiban menjaga kemaslahatan umat manusia, akhirnya membuat negosiasi: anaknya ini hanya boleh makan jenis2 orang tertentu.

*OOT: emang bener, Pak Guru. Anak-anak nggak boleh makan orang sembarangan. Nanti bisa kena tifus! Kita kan nggak tahu orangnya diolah pakai air mateng atau air nggak mateng ;-)*

Naaah... "daftar menu halal" yang disusun oleh Batara Guru buat anaknya inilah yang disebut sukerta ;-) Jumlahnya puluhan, terakhir gw lihat ada yang bisa mendata sampai 60. Di bawah ini gw cuma tulis 25 jenis aja, yang berkaitan dengan urutan kelahiran. Sisanya baca sendiri di sini.

1. Ontang-anting : Anak tunggal lelaki
2. Unting-unting : Anak tunggal perempuan
3. Anggana : Anak tunggal karena saudaranya meninggal dunia
4. Kedhana-kedhini : Dua bersaudara, laki-laki dan perempuan
5. Uger-uger lawang : Dua bersaudara laki-laki semua
6. Kembang sepasang : Dua bersaudara perempuan semua
7. Gotong Mayit : Tiga bersaudara laki-laki semua
8. Cukit Dulit : Tiga bersaudara perempuan semua
9. Sendhang Kapit Pancuran : Tiga bersaudara, permpuan berada ditengah
10. Pancuran Kapit Sendhang : Tiga bersaudara, laki-laki berada ditengah
11. Serimpi : Empat bersaudara, perempuan semua
12. Seramba : Empat bersaudara, laki-laki semua
13. Pandawa : Lima bersaudara, laki-laki semua
14. Pancaganti/Pancalaputri : Lima bersaudara, perempuan semua
15. Ipil-ipil (Pupuan) : Lima bersaudara 1 lelaki,4 perempuan
16. Padhangan : Lima bersaudara 1 perempuan,4 laki-laki
17. Lumpat Kidang : Bersaudara dengan urutan tidak teratur
18. Gilir Kacang : Bersaudara 3 orang /lebih dengan urutan laki Perempuan atau sebaliknya
19. Gendhong : Banyak bersaudara, perempuan ditengah
20. Pathok : Banyak bersaudara, laki-laki ditengah
21. Semara : Bersaudara lebih 5 orang,laki/perempuan semua
22. Kembar : Lahir bersamaan, jenis kelamin sama, dari satu rahim ibu
23. Dampit : Lahir bersamaan, laki dan perempuan
24. Gondang Kasih : Lahir bersamaan, putih atau cemani
25. Tawang Gantungan : Lahir bersamaan dari satu rahim ibu, tetapiberbeda hari (1 hari)

Nah... terus, hubungannya sama banyak anak banyak rejeki apa? Hubungannya sama cangkulan apa? Lha, mosok belum kelihatan sih? Kalau dilihat dari daftar menu di atas, kan manusia harus punya anak banyak supaya anaknya nggak jadi sukerta yang perlu diruwat... hehehe...


Perhatikan daftar menu di atas. Kalau cuma punya anak 1-2 aja, maka sudah pasti anaknya tergolong sukerta. Lihat daftar menu nomor 1 - 6 ;-)

Punya anak minimal musti 3, karena kalau jumlahnya 3 maka ada kemungkinan tidak tergolong sukerta. Kalau sudah punya anak sepasang cowok-cewek (menu 4), dan punya anak ketiga jenis kelaminnya sama dengan anak kedua, maka tidak akan jadi sukerta. Juga, kalau sudah punya anak dua dengan jenis kelamin yang sama (menu 5 dan 6), kemudian anak ketiga jenis kelaminnya berbeda.

Tapi... pada prinsipnya, punya anak 3 itu juga masih gambling itungannya. Coba simak menu 4, Kedhana-Kedhini. Kalau punya anak satu lagi dan jenis kelaminya sama dengan anak pertama, kan jadinya menu 9 (Sendhang Kapit Pancuran) atau menu 10 (Pancuran Kapit Sendhang). Gak jadi bebas deh... harus nambah satu lagi... hehehe... Dan yang keempat jenis kelaminnya nggak boleh sama dengan yang nomor 2, karena nanti akan jadi menu 18: Gilir Kacang ;-)

Juga, kalau punya anak menu 5 (Uger-uger Lawang) atau menu 6 (Kembang Sepasang). Kalau nambah satu lagi dan jenis kelaminnya masih sama, maka jadilah menu 7 (Gotong Mayit) atau menu 8 (Cukit Dulit). Harus "nyangkul" lagi deh... hehehe... Tapi hati2, "ngaduk adonannya" mesti pas ;-) Kalau dapat jenis kelamin sama lagi bakal jadi menu 11 - 12 (Serimpi atau Seramba). Terpaksa "nyangkul" lagi deh... dan kalau masih nggak pas juga ngaduknya, dapat jenis kelamin sama lagi, jadilah menu 13 - 14 (Pandhawa atau Pancagati).

Hehehe... kayak cangkulan ya? Yang lain udah keluar kartu keriting, dan kita nggak punya, jadi harus minuuuuuummm terus. Eeeh.. sialnya, saban minum dapatnya kartu hati lagi, kartu hati lagi ;-) Numpuk deh semua kartu di kita ;-)

Anyway... bener kan, filosofi "banyak anak, banyak rejeki" itu asalnya dari orang Jawa ;-)? Soalnya, kalau lihat daftar menu di atas, mungkin yang paling aman adalah kalau punya anak minimal 6 ekor ;-) Jadi, daripada rencana punya anak 1, atau 2, atau 3, yang terpaksa nambah2 terus, mendingan sejak awal aja dicanangkan yang udah pasti angka hoki: minimal 6 ;-)

Hmm... gw rasa itu juga yang terjadi pada keluarga Ibu gw ;-) Sampai anak ke-4, masih jadi menu 18: Gilir Kacang. Cowok-cewek-cowok-cewek. Baru yang kelima memecahkan kebuntuan; merusak tatanan gilir kacang, karena lahir cewek. Tapi mungkin eyang2 gw nggak mau repot dan stres mikirin urutan, jadi emang sengaja dicanangkan punya anak 6. Baru berhenti setelah angka aman... hehehe... Mungkin Plan A-nya memang punya anak 6, kalau ternyata gilir kacang sampai anak ke-6, baru pakai Plan B: nambah anak lagi ;-)

Tapi yang heran kenapa keluarga Bapak gw punya anak 9 ya? Padahal yang perempuan cuma yang sulung. Mungkin ini Plan A yang gagal setelah punya anak 5... hehehe... sebab dengan 1 anak perempuan dan 4 anak laki2, jadilah menu 16: Padhangan. Makanya diantepin aja nambah anak lagi... hehehe... Jadi deh 9 ;-) Atau... mungkin gw mesti tanya sama paman2 gw: apakah Eyang dulu memang hobi main cangkulan ;-)?