Sunday, September 07, 2008

Main Cangkulan ala Orang Jawa

Dari mana awalnya mitos "banyak anak, banyak rejeki"? Gw yakin, yang bikin gara2 pasti orang Jawa ;-) Nggak percaya? Lihat saja aturan tentang Ruwatan Sukerta itu ;-)

Ruwatan (= upacara membersihkan diri) itu ada macam2 jenisnya. Salah satunya adalah membersihkan diri dari kesialan bagi orang yang tergolong sukerta. Sukerta? Apa pula itu? Kalau dari etimologinya, sukerta itu berarti "sangat berbahagia". Iya, kerta itu artinya bahagia. Makanya ada istilah adem ayem tata titi tentrem kertaraharja, yang kurang lebih menggambarkan bagaimana keadaan tenang tentram penuh keteraturan itu akan membawa banyak kebahagiaan. Su sendiri adalah kata dalam bahasa Jawa yang menggambarkan 'lebih'. Jadi, kalau kerta adalah bahagia, maka sukerta adalah bahagia banget!

Kalau udah bahagia, kenapa perlu "buang sial"? Yaaah... itulah orang Jawa ;-) Sering menggunakan antonim (= lawan kata) dalam menggambarkan sesuatu yg buruk. Maksudnya memberikan "energi positif" pada sesuatu yang buruk itu. Termasuk pada kasus Sukerta ini, karena yang disebut Sukerta adalah orang2 yang dianggap "sial".

Cerita tentang orang2 Sukerta dan ruwatan ini berawal dari kepercayaan Kejawen yang banyak dipengaruhi Hinduisme. Alkisah, menurut versi wayang Jawa, Batara Guru
(= CEO para dewa Jawa, in the same league dengan Oom Jupiter dan Paman Zeus di Romawi dan Yunani) membuat suatu kesalahan fatal. Saat bertamasya naik lembu Nandini bersama istrinya, Dewi Uma, dia melakukan pelanggaran berat terhadap RUU APP ;-) Nah... anak yang lahir dari pornoaksi inilah yang bernama Batara Kala.

Versi "pembuatannya" sendiri ada macem2. Ada yang bilang Dewi Uma beneran hamil, dan kemudian melahirkan bayi berwujud raksasa. Ada yang bilang air mani sang CEO jatuh ke laut dan tumbuh sendiri jadi Batara Kala. Malah, pernah juga gw baca dimanaaaa gitu, bahwa air mani yang jatuh ke laut itu dimakan oleh si lembu Nandini dan kemudian melahirkan Betara Kala. Versi yang terakhir ini, gw kira, adalah versi bikinan penderita Zoophilia... hehehe...

Nggak penting mana versi yang benar tentang lahirnya Betara Kala. Yang pasti kelanjutan ceritanya sama: karena lahir dari indecent act, si anak juga berperangai indecent. Dia rakus sekali; mungkin cerminan dari tingkah laku bapaknya yang nggak bisa tahan nafsu. Untuk memuaskan rasa laparnya, Betara Kala memakan manusia banyaaaaak sekali. Bahkan sampai
makan bulan saking laparnya. Sang Batara Guru, antara rasa sayang pada anak, guilty feeling, dan punya kewajiban menjaga kemaslahatan umat manusia, akhirnya membuat negosiasi: anaknya ini hanya boleh makan jenis2 orang tertentu.

*OOT: emang bener, Pak Guru. Anak-anak nggak boleh makan orang sembarangan. Nanti bisa kena tifus! Kita kan nggak tahu orangnya diolah pakai air mateng atau air nggak mateng ;-)*

Naaah... "daftar menu halal" yang disusun oleh Batara Guru buat anaknya inilah yang disebut sukerta ;-) Jumlahnya puluhan, terakhir gw lihat ada yang bisa mendata sampai 60. Di bawah ini gw cuma tulis 25 jenis aja, yang berkaitan dengan urutan kelahiran. Sisanya baca sendiri di sini.

1. Ontang-anting : Anak tunggal lelaki
2. Unting-unting : Anak tunggal perempuan
3. Anggana : Anak tunggal karena saudaranya meninggal dunia
4. Kedhana-kedhini : Dua bersaudara, laki-laki dan perempuan
5. Uger-uger lawang : Dua bersaudara laki-laki semua
6. Kembang sepasang : Dua bersaudara perempuan semua
7. Gotong Mayit : Tiga bersaudara laki-laki semua
8. Cukit Dulit : Tiga bersaudara perempuan semua
9. Sendhang Kapit Pancuran : Tiga bersaudara, permpuan berada ditengah
10. Pancuran Kapit Sendhang : Tiga bersaudara, laki-laki berada ditengah
11. Serimpi : Empat bersaudara, perempuan semua
12. Seramba : Empat bersaudara, laki-laki semua
13. Pandawa : Lima bersaudara, laki-laki semua
14. Pancaganti/Pancalaputri : Lima bersaudara, perempuan semua
15. Ipil-ipil (Pupuan) : Lima bersaudara 1 lelaki,4 perempuan
16. Padhangan : Lima bersaudara 1 perempuan,4 laki-laki
17. Lumpat Kidang : Bersaudara dengan urutan tidak teratur
18. Gilir Kacang : Bersaudara 3 orang /lebih dengan urutan laki Perempuan atau sebaliknya
19. Gendhong : Banyak bersaudara, perempuan ditengah
20. Pathok : Banyak bersaudara, laki-laki ditengah
21. Semara : Bersaudara lebih 5 orang,laki/perempuan semua
22. Kembar : Lahir bersamaan, jenis kelamin sama, dari satu rahim ibu
23. Dampit : Lahir bersamaan, laki dan perempuan
24. Gondang Kasih : Lahir bersamaan, putih atau cemani
25. Tawang Gantungan : Lahir bersamaan dari satu rahim ibu, tetapiberbeda hari (1 hari)

Nah... terus, hubungannya sama banyak anak banyak rejeki apa? Hubungannya sama cangkulan apa? Lha, mosok belum kelihatan sih? Kalau dilihat dari daftar menu di atas, kan manusia harus punya anak banyak supaya anaknya nggak jadi sukerta yang perlu diruwat... hehehe...


Perhatikan daftar menu di atas. Kalau cuma punya anak 1-2 aja, maka sudah pasti anaknya tergolong sukerta. Lihat daftar menu nomor 1 - 6 ;-)

Punya anak minimal musti 3, karena kalau jumlahnya 3 maka ada kemungkinan tidak tergolong sukerta. Kalau sudah punya anak sepasang cowok-cewek (menu 4), dan punya anak ketiga jenis kelaminnya sama dengan anak kedua, maka tidak akan jadi sukerta. Juga, kalau sudah punya anak dua dengan jenis kelamin yang sama (menu 5 dan 6), kemudian anak ketiga jenis kelaminnya berbeda.

Tapi... pada prinsipnya, punya anak 3 itu juga masih gambling itungannya. Coba simak menu 4, Kedhana-Kedhini. Kalau punya anak satu lagi dan jenis kelaminya sama dengan anak pertama, kan jadinya menu 9 (Sendhang Kapit Pancuran) atau menu 10 (Pancuran Kapit Sendhang). Gak jadi bebas deh... harus nambah satu lagi... hehehe... Dan yang keempat jenis kelaminnya nggak boleh sama dengan yang nomor 2, karena nanti akan jadi menu 18: Gilir Kacang ;-)

Juga, kalau punya anak menu 5 (Uger-uger Lawang) atau menu 6 (Kembang Sepasang). Kalau nambah satu lagi dan jenis kelaminnya masih sama, maka jadilah menu 7 (Gotong Mayit) atau menu 8 (Cukit Dulit). Harus "nyangkul" lagi deh... hehehe... Tapi hati2, "ngaduk adonannya" mesti pas ;-) Kalau dapat jenis kelamin sama lagi bakal jadi menu 11 - 12 (Serimpi atau Seramba). Terpaksa "nyangkul" lagi deh... dan kalau masih nggak pas juga ngaduknya, dapat jenis kelamin sama lagi, jadilah menu 13 - 14 (Pandhawa atau Pancagati).

Hehehe... kayak cangkulan ya? Yang lain udah keluar kartu keriting, dan kita nggak punya, jadi harus minuuuuuummm terus. Eeeh.. sialnya, saban minum dapatnya kartu hati lagi, kartu hati lagi ;-) Numpuk deh semua kartu di kita ;-)

Anyway... bener kan, filosofi "banyak anak, banyak rejeki" itu asalnya dari orang Jawa ;-)? Soalnya, kalau lihat daftar menu di atas, mungkin yang paling aman adalah kalau punya anak minimal 6 ekor ;-) Jadi, daripada rencana punya anak 1, atau 2, atau 3, yang terpaksa nambah2 terus, mendingan sejak awal aja dicanangkan yang udah pasti angka hoki: minimal 6 ;-)

Hmm... gw rasa itu juga yang terjadi pada keluarga Ibu gw ;-) Sampai anak ke-4, masih jadi menu 18: Gilir Kacang. Cowok-cewek-cowok-cewek. Baru yang kelima memecahkan kebuntuan; merusak tatanan gilir kacang, karena lahir cewek. Tapi mungkin eyang2 gw nggak mau repot dan stres mikirin urutan, jadi emang sengaja dicanangkan punya anak 6. Baru berhenti setelah angka aman... hehehe... Mungkin Plan A-nya memang punya anak 6, kalau ternyata gilir kacang sampai anak ke-6, baru pakai Plan B: nambah anak lagi ;-)

Tapi yang heran kenapa keluarga Bapak gw punya anak 9 ya? Padahal yang perempuan cuma yang sulung. Mungkin ini Plan A yang gagal setelah punya anak 5... hehehe... sebab dengan 1 anak perempuan dan 4 anak laki2, jadilah menu 16: Padhangan. Makanya diantepin aja nambah anak lagi... hehehe... Jadi deh 9 ;-) Atau... mungkin gw mesti tanya sama paman2 gw: apakah Eyang dulu memang hobi main cangkulan ;-)?