Saturday, September 13, 2008

Bikin PR? Googling Dulu dooong!

Ima adalah anakku
Rajin mengerjakan PR
Dengan Classmate PC di meja
Mencari jawaban soalnya

(dinyanyikan dengan nada Ruri Abangku)

Jaman memang sudah banyak berubah sejak Abangku Ruri menyandang tas di bahu menuju sekolah ;-) Jaman sekarang, mengulang berhitung-menulis-membaca di rumah aja nggak cukup. Perlu ditambah dengan rajin selancar maya ;-) Kalau enggak, boro2 naik kelas! Bikin PR aja susah... hehehe...

Nggak percaya? Boleh tanya sama Ima ;-)

Sejak masuk kelas 4, guru2 selalu memberi Ima PR dari LKS (= Lembar Kerja Siswa). Bukan lagi PR dari guru sesuai materi yang sudah diajarkan, atau soal berlatih dari buku cetak. Melainkan "soal nasional" yang muncul dalam buku tersendiri. Katanya sih sebagai langkah persiapan menghadapi Ujian Nasional kelas 6 kelak. Biar anak lebih terbiasa dengan "soal nasional".

Well... gw sih nggak keberatan, sebenarnya. Sebab, dengan begitu, Ima jadi terpacu untuk belajar di luar materi yang diberikan. Nggak cuma jadi robot pasif penerima informasi yang sekedar memindahkan isi catatan dari short-term memory ke long-term memory. Masalahnya... kayaknya kurikulum sekolah ini belum standard. Antara pembuat buku cetak - guru - pembuat soal kayaknya tidak ada komunikasi dan standardisasi. Semua bergerak sendiri. Akibatnya... boro2 anak tambah pengetahuan. Yang ada anak2 jadi bingung, dan ortu ikut pusing bantuin bikin PR.

Beberapa minggu yang lalu, misalnya, Ima mendapat PR Sains tentang rangka tubuh. Kalau lihat dari buku cetak dan catatan guru, materinya hanya melingkupi nama2 tulang pada rangka manusia. Tapi... di antara soal PR-nya ada pertanyaan:

Berapakah jumlah tulang rusuk palsu?
a. 7 pasang
b. 5 pasang
d. 3 pasang
e. 11 pasang


Nah lho! Cari dimana? Ibunya udah jelas2 nggak ingat jumlah tulang rusuk ;-) Untung sejak punya kompie sendiri, dan sejak bapaknya pasang router, Ima udah berkenalan dengan Google dan Wiki-ID.

Tapi ternyata susah banget nyari jumlah tulang rusuk. Nemu gambarnya di blog ini, tapi penulisnya sendiri mengakui bahwa jumlah tulang rusuk antar buku berbeda. Trus... gimana anak kelas 4 SD bisa jawab kalau yang udah gede aja susah jawabnya??

Lagi, di materinya hanya memperkenalkan nama tulang dalam rangka manusia. Nggak dijelaskan tentang jenis tulangnya. Tapi... tiba2 ada pertanyaan:


Manakah di antara tulang berikut ini yang merupakan tulang pipih?
a. Tulang rusuk
b. Tulang pinggul
c. Tulang selangka
d. Tulang belikat


Googling lageeee... :)

Tadinya gw mengira kesulitan itu terjadi karena gw gak jago Biologi. Bener deh! Mata pelajaran yang paling gw benci di SMP - SMA adalah Biologi! Gara2 Biologi gw dulu gak mau masuk A1... hehehe... Soalnya gw gak mau ikut praktikum Biologi yang "kejam" itu. Sampai sekarang gw masih ngerasa nggak adil lho, kenapa jurusan A1 harus dapat Biologi juga? Kenapa nggak cukup dengan Fisika, Kimia, Matematika aja? Harusnya para pendidik di negeri ini ingat bahwa menyiksa binatang adalah langkah awal calon kriminal... HAHAHAHA... Kok malah di-encourage?

*Speaking of which, mungkin itu sebabnya ya, di negeri kita banyak koruptor? Kan orang2 pada berlomba masuk jurusan IPA tuh. Katanya IPS jurusan buangan ;-) Tanpa sadar, saat praktikum biologi belah2 kodok atau marmut, terpiculah otak2 kriminal itu ;-)*

Tapi ternyata memang pelajaran anak2 sekarang nauzubillah min zalik deh! Memang udah bukan jamannya Bang Ruri lagi! Kesulitan juga gw temui dalam bidang pelajaran IPS!

Kemarin, Ima dapat PR IPS yang [lagi2] dari LKS. Pertanyaannya ternyata lebih ajaib, karena luasnya ilmu sosial membuka pintu pada ketidakstandardan yang tak terbatas ;-)

Mulanya, gw gembira waktu Ima bilang, "Ibu, bantuin aku bikin PR ya! PR-nya bidang kesukaan Ibu: peta". Hehehe... Gw haqqul yaqin bisa jawabnya, secara gw kan maniak peta ;-)

Tapi... ternyata, soalnya sama ajaibnya dengan Sains. Salah satu pertanyaan yang bikin gw repot adalah:

Dalam peta, ibukota provinsi digambarkan dengan simbol:
a. Kotak dengan lingkaran di dalamnya
b. Lingkaran
c. Kotak
d. Segitiga


Sebenarnya sih setahu gw jawabannya adalah A. Tapi... coba perhatikan legenda dari 2 atlas yang berbeda berikut ini:



Legenda pertama diambil dari atlas yang dipakai di kelasnya (termasuk dalam buku paket tahun ajaran ini). Legenda kedua diambil dari atlas yang gw pilih dengan seksama beberapa bulan lalu.

Nyata benar bedanya kan? Dalam buku paket, kotak dengan lingkaran di dalamnya adalah simbol dari ibukota negara, sementara ibukota provinsi simbolnya kotak saja. Dalam atlas pilihan gw, terbalik: ibukota negara simbolnya kotak saja, sementara ibukota provinsi kotak dengan lingkaran di dalamnya.

Terus... mesti jawab yang mana dong?

Bapaknya sih lebih santai... dia bilang: jawab aja salah satu. Toh PR ini. Kalau salah, ya ntar dibenerin :) Yeeee... ini bukan sekedar PR, lageee! Ini simulasi Ujian Nasional, tauk! Kalau Ima ntar di Ujian Nasional salah milih, nggak ada kesempatan memperbaiki. Salah pilih, nilai berkurang satu. Kalau banyak salah pilih, bisa nggak lulus :(

Bapaknya baru ikut mati ucap setelah sampai pada soal berikutnya, yang berbunyi:

Jalan yang menghubungkan ibukota provinsi dengan ibukota kabupaten disebut:
a. Jalan Provinsi
b. Jalan Kabupaten
c. Jalan Nasional
d. Jalan Kotamadya

Nah lho! Kami aja nggak tahu bedanya jalan provinsi tuh apaan. Paling banter kami tahu ada bis yang disebut AKAP, alias Antar Kota Antar Provinsi. Apakah bis itu lewat jalan provinsi atau jalan kabupaten... meneketehe! Emang gw pikirin?? Gw kan bukan pegawai Departemen Perhubungan. Pegawai Jasamarga aja bukan.. hehehe..

Hehehe... 2 komputer langsung nge-browse internet ;-). Gw pakai kompie-nya Ima, bapaknya pakai kompie-nya sendiri.

Bapaknya nemu duluan! Katanya sih di situs bikinan seorang dosen ITB (?). Gw nggak tahu alamat situsnya, tapi gw nemu juga di situs Binamarga Kalbar. Komplitnya adalah sebagai berikut:

1)Jalan Nasional.
a) Jalan Arteri Primer.
b) Jalan Kolektor Primer yang menghubungkan ibukota Propinsi.
c) Jalan yang mempunyai nilai strategis terhadap kepentingan nasional

2) Jalan Propinsi.
a) Jalan Kolektor Primer yang menghubungkan ibukota Propinsi dengan ibukota Kabupaten/Kotamadya.
b) Jalan Kolektor Primer yang menghubungkan antar ibukota Kabupaten/Kota.
c) Jalan yang mempunyai nilai strategis terhadap kepentingan propinsi.

3) Jalan Kabupaten.
a) Jalan Kolektor Primer selain Jalan butir 1).b) dan 2).b).
b) Jalan Lokal Primer.
c) Jalan yang mempunyai nilai strategis terhadap kepentingan kabupatnen.

4) Jalan Kotamadya adalah jaringan jalan sekunder di dalam Kotamadya.


OK, PR terjawab dengan sukses. Tapi... habis itu bikin gw mikir: buat apaan sih anak SD disuruh menghapalkan kayak beginian? Kenapa sih materinya harus diluaskan hingga sedemikian? Sampai seluas materi tingkatan pendidikan formal yang lebih tinggi (atau bahkan tinggiiiiiii sekali, kalau benar bahwa situs temuan bapaknya itu adalah materi kuliah anak ITB... hehehe...). Lagian, kayaknya materi ini bukan buat anak2 deh. Mana ngerti anak kelas 4 SD "Jalan Kolektor Primer" dengan "Jalan Lokal Primer". Gw aja yang udah lulus SD lebih dari 20 thn lalu nggak tahu kok :(

Anak kelas 4 SD mah cukup ngapalin ibukota provinsi aja, nggak usah ngapalin sampai tingkat ibukota kabupaten ;-) Emang mereka mau jadi petugas sensus, apa ;)?

OK deh, kalau emang anak2 SD mau dipacu hafalannya biar pada menang Olimpiade Ilmiah semua. Yang jadi masalah buat gw: KENAPA NGGAK DISTANDARDISASIKAN SIH? Jadi ada kesinambungan antara yang bikin buku paket, buku soal, dan guru pengajar. Paling tidak si guru dikasih tahu lah, bahwa walaupun buku paketnya ngajarin sampai sini, soal yang dibuat bakal nanya sampai situ, jadi si guru mesti nambah ngajarin apa aja.

Ima masih beruntung karena punya akses ke internet dan mampu mengoperasikannya sendiri. Lha... anak2 lain gimana? Orangtua2 lain gimana? Apa nggak pada tebak2 buah manggis ;-)?

Bener deh! Lama2 gw pikir mendingan gw bikin homeschooling aja... hehehe...

*Atau gw kudeta aja ya, tim penyusun soalnya? Biar bikin soalnya agak membumi, gitu!*

***

Iseng-iseng baca UU Sisdiknas yang sedang jadi topik hangat di milis Psiindonesia, gw nggak jadi heran kenapa nasib anak2 Indonesia harapan bangsa ini semengenaskan ini ;-) Coba aja baca tulisan Pasal 12 mengenai Peserta Didik ;-) Hak peserta didik memang tidak mencakup mendapatkan soal yang konsisten dengan materi pelajarannya... HAHAHAHA...

***

Ngomong2.. OOT nih... ada yang ngerasa bahwa nama Ruri terlalu feminin buat seorang abang, nggak? Hehehe... Tebakan gw: Bang Ruri ini orang Ambon. Makanya dipanggil Broer sama saudara2nya. Naah... adiknya kan masih cadel, jadi nggak bisa bilang Broer, bilangnya Rur. Lama2 namanya jadi Ruri deh... HAHAHAHA...