Thursday, March 27, 2008

Banyak Anak Banyak Rejeki

.. peribahasa itu pasti diciptakan oleh pemilik rumah bersalin atau dokter kandungan ;-) Nggak mungkin sama orangtua yang beranak banyak ;-)

***

Setelah berhasil menyiasati biaya periksa kandungan selama 9 bulan yang nggak sedikit, plus berhasil “mendaur ulang” sebagian besar perlengkapannya Ima untuk dipakai adiknya, sekarang tiba waktunya untuk menghadapi kenyataan: hal yang membutuhkan biaya terbesar justru tidak bisa didaur ulang.

Yup! I’m talking about delivery expenses.

Di kota Jakarta yang “kencing pun harus bayar” dan “berhenti parkir sebentar kena tarif Rp 2,000 (atau Rp 1,500 kalau pakai senyum manis buat tukang parkirnya)”, nggak heran memang kalau biaya melahirkan terbilang besar. Tapi.. gw baru sadar betapa banyak angka nol-nya setelah browsing ke dua rumah sakit incaran.

Tadinya gw sudah mantap mau melahirkan di Medistra aja. Sejak hamil Ima, gw periksa juga di sana. Melahirkan di sana. Dirawat karena demam berdarah sampai 2x juga di sana. Masuk UGD gara2 mimisan nggak berhenti2 sepanjang malam juga di sana (sampai bapaknyaima “dicurigai” sama orang2 di UGD melakukan KDRT lantaran bawa istri yang mukanya berdarah2.. hehehe..). Terus.. dari rumah dan kantor, rumah sakit ini juga sepelemparan batu. Tidak butuh banyak waktu untuk ke sana in case gw tiba2 impulsif mau melahirkan saat masih ngantor. Lewat jalan belakang kompleks Patra nggak sampai 10 menit.

Jadi.. rasanya pilihan melahirkan (lagi) di sana juga nggak aneh. Kan semua rekam medik gw ada di sana. The fact bahwa dokter kandungan gw sudah nggak praktek di sana lagi nggak menyurutkan langkah gw. Toh, kata Pak Dokter, beliau masih on-call di sana.

Tapi, lantaran Pak Dokter sekarang prakteknya di Brawijaya Women & Children Hospital, gw jadi mempertimbangkan rumah bersalin baru ini sebagai pilihan kedua (hehehe.. kayak Proyek Perintis, Sipenmaru, UMPTN SPMB aja, ada pilihan I & II ;-)). Plan B. Takutnya, Pak Dokter nggak bisa datang cepat ke Medistra lantaran lagi praktek di Brawijaya. Kan nggak lucu kalau gw udah bukaan 10 terus nggak boleh mengejan karena dokter belum datang ;-). Kayak waktu melahirkan Ima, bidannya sampai panik gara2 dokternya kejebak pawai kemenangan pasca pemilu 1999, sementara gw udah bukaan 10 ;-)

Ditambah lagi.. gw dapat rekomendasi dari teman sekantor bahwa tempat ini bagus, masih baru, dan masih kasih ”harga bersaing”. Walaupun bertempat di lokasi elit Jakarta, harganya masih wajar. Kalau saja ini sebuah warung steak, mottonya mungkin: rasa bintang lima, harga kaki lima ;-)

So, dengan semangat 45, gw kemarin browsing membandingkan harga antara Plan A dan Plan B. Kan nggak sampai sebulan lagi melahirkan, maka gw udah mesti punya rencana yang jelas dong ;-) Lagipula, walaupun asuransi dari kantor mencakup pula biaya melahirkan, tetap saja gw harus berhitung. Berdasarkan pengalaman teman yang istrinya melahirkan tahun lalu, ada klausul2 kecil dalam polis asuransi yang harus diperhatikan.

Di antara klausul2 kecil itu adalah: walaupun anak yang dilahirkan ter-cover asuransi sejak nol hari, tapi... selama dia belum keluar rumah sakit, maka dia belum dianggap ”ada” oleh asuransi. Maksudnya.. segala biaya yang keluar untuknya ”dibebankan” pada plafon ibunya, karena yang melahirkan adalah ibunya. Itu impact-nya besar, karena kamar rumah sakit umumnya membedakan antara biaya kamar (perawatan) ibu dan biaya kamar (perawatan) bayi. Jadi.. kalau misalnya plafon harian biaya kamar gw adalah X rupiah, kalau masuk rumah sakitnya adalah dengan agenda melahirkan, maka plafon harian kamar gw disunat menjadi X-Y rupiah, dimana Y merupakan biaya kamar (perawatan) bayi.

*sampai di sini gw beruntung bahwa gw bukan kucing yang sekali beranak bisa 4 ekor. Bayangin kalo plafon kamar gw X – 4Y.. hehehe.. bisa tekor, bow!*

Begitu perhitungannya, kecuali kalau begitu mbrojol tuh anak langsung diajak check out dari rumah sakit, dan baru check in lagi sebagai entity baru ;-) Tapi, emang ada ibu2 yang baru melahirkan langsung check out lantas check in lagi? Sekali lagi, gw kan bukan kucing yang kalo beranak anaknya mesti dipindah2 sampai 7x.. hehehe..

Semangat 45 gw mem-browsing ternyata malah bikin gw tambah pusing ;-). Bukan pusing mencongak, kalau itu sih gw masih lumayan lah, kan bisa dibantuin sama Microsoft Excel. Tapi.. gw jadi pusing melihat DIGIT biaya persalinan.. hehehe.. Gila, digitnya banyak, dengan nol berderet ke belakang. Duit semua tuh? Nggak bisa dibayar pakai daun sebagian?

Gw nggak tega memindahkan angka2 itu ke dalam blog gw.. hehehe.. jadi kalau berminat window shopping, monggo dilihat sendiri. Daftar menu paket normal di Brawijaya WC Hospital bisa dilihat di sini. Kalau paket spesial pakai iris2 pisau bedah ada di sini. Yaaah.. kira2 harga bayi paket normal yang paling murah sama lah, dengan satu smart phone. Kalau pakai paket spesial pakai iris2 harga termurah bisa dapat satu motor Honda.. hehehe.. Itu juga kalau ”tega” sama si bayi dilahirkan di kelas yang paling rendah.

*you know lah.. di sini kan pelayanan rumah sakit berbanding lurus dengan tingginya kelas. Wong yang di kelas tinggi aja sering keleleran, apalagi yang di kelas bulu*

Kalau harga di Medistra nggak pakai paket2an, boleh dilihat di sini. Mereka menerapkan unsur “calistung-wow”: silakan baca sendiri, tulis2 di kertas, berhitung, dan... WOW! Kaget baca jumlahnya ;-) Yaaah.. kalau soal jumlah, temen gw bener lah! Setali tiga uang antara Brawijaya dan Medistra.

Eh, angka2 ini boleh dilihat sebagai wacana buat yang belum pada nikah atau belum punya anak, biar lebih prepare. Prepare, maksudnya menyiapkan barang2 apa aja yang bakal dijual kalau memutuskan punya anak kelak.. HAHAHAHA.. atau buat bahan pertimbangan biar nggak sembarangan bikin anak. Bikinnya sih emang enak.. tapi.. ngeluarinnya, bow, mesti banyak pertimbangan ;-)

Banyak anak banyak rejeki memang bener.. hehehe.. Tapi bukan berarti [yang punya] banyak anak [identik dengan] banyak rejeki. Antara yang punya banyak anak dengan yang punya banyak rejeki itu korelasinya tidak tinggi, kalau nggak bisa dibilang negatif.. hehehe.. Peribahasa itu baru benar kalau yang banyak anak adalah orang lain, dan kita pemilik rumah bersalinnya ;-)

Anyway.. setelah berhitung, gw jadi mempertimbangkan usul Umminya Ankaa untuk melahirkan di Malang aja. Biaya melahirkan plus naik pesawatnya ke sana dihitung2 masih lebih murah daripada melahirkan di Jakarta.. hehehe.. Tapi kan gw udah gak boleh terbang ya? Lagian, kalau boleh terbang, ngapain cuma sampai Malang doang? Mending ikutan ke Hongkong sekalian.. hehehe..