Saturday, July 29, 2006

Plagiator

Kemarin gw eyel2an sama seorang bocah, gara2 masalah tulis menulis. Awalnya nggak serius; ada yg bercanda bilang bahwa bocah ini sebaiknya bikin buku, lantaran dia suka sekali nge-post artikel2 panjang yang dia copy dari tempat lain di komunitas virtual kami. Gw nyambar umpan lambung; bilang bahwa kalo nulis buku bocah ini bisa dibilang plagiator, krn artikelnya hanya copy paste dari tempat lain, gak nulis sendiri. Nah.. si bocah ini nggak terima dibilang sekedar copy paste. Menurut dia, dia itu merangkum, karena dia mengganti beberapa hal dari artikel2 itu. Misalnya aja: di artikel tentang Thomas Alva Edison, dia mengganti kalimat Edison sudah menemukan sekitar 3.000 penemuan dengan kalimat Edison sudah menemukan sekitar 1.000 penemuan. Cuma ngganti 1 angka aja, tapi menurut dia itu sudah merangkum, dan nggak bisa dibilang sekedar copy paste, karena kalau copy paste itu harus 100% sama.. ;-)

Lebih jauh lagi, dia nggak terima dibilang copy paste karena artikel yg dia post jauh lebih panjang. Lha.. padahal lebih panjangnya itu karena dia menambahkan copy paste dari artikel lain.. hehehe.. Payahnya lagi: dia ngaku2 menterjemahkan dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia. Contohnya: kata phonograph dia ganti jadi fonograf sesuai kaidah bahasa Indonesia.. ;-)

Gw tentu aja nggak setuju. Dan ngakak berat. Bilang bahwa kalau yg begitu sih namanya baru mengedit; bukan merangkum apalagi menterjemahkan. Merangkum itu kan proses kreatif mempersingkat sesuatu (atau berbagai sumber) dengan bahasanya sendiri menjadi artikel baru yang lebih singkat. Kalau meng-copy satu artikel, lalu menambahkan kopian artikel lain, paling jauh bisa gw kasih nama: kompilasi.. ;) Dan gw himbau dia untuk give the writers the credit they deserve dengan mengakui bahwa dia copy paste, tidak ngeyel bahwa dia merangkum. Sampai2 gw post-kan artikel asli yg dia kutip secara-identik-minus-satu-dua-kata itu untuk menyadarkan dia.

Nah.. nyolotlah dia!

Kalau tadi2nya dia masih sibuk membela diri bahwa dia tidak mencontek, sekarang sudah mulai kalap melemparkan segala argumen yg bisa dilempar. Mulanya argumennya masih lumayan nyambung: Kalau tiap artikel gw kasih referensinya, bisa2 artikel gw penuh dgn referensi doang. Lama2 mulai mengatakan bahwa, Ini kan bukan karangan ilmiah, jadi nggak bisa dibilang plagiator, terus mempertanyakan Kan website bisa dikasih script supaya nggak di-copy paste, kalau nggak dikasih script berarti boleh di-copy paste, sampai Toh hanya sanksi sosial yang diberikan kalau gw copy paste punya orang, jadi jangan salahin gw kalau gw copy paste.. dan terakhir, dia copy paste posting gw yg kemarin, sambil ngata2in gw munafik ngomongin soal copy paste padahal gw sendiri suka beli DVD bajakan.

HAHAHAHA.. kalau udah gini gw memutuskan diam aja deh.. ;-) Males berdebat sama orang yg defensif.. ;-) Jadi gw tulis di blog aja deh.. ;-)

Pertama2, sebenernya apa sih plagiatisme itu? Buku panduan ekskul jurnalistik gw jaman SMA udah hilang (iyalah! Hampir 2 dasawarsa lalu gitu loh!), tapi gw nemu referensi yg agak baruan dikit di Publication Manual APA (1994). Di situ dituliskan tentang Ethics of Publication, dan dibawah judul Plagiarism, dituliskan:

Quotation marks should be used to indicate the exact words of another. Summarizing a passage or rearranging the order of a sentence and changing some of the words is paraphrasing. Each time a source is paraphrased, a credit for the source needs to be included in the text. The key element of this principle is that an author does not present the work of another as if it were his or her own work.

(p. 292)

Udah jelas bahwa publikasi apa pun, kalau pakai the exact words of another (= rangkaian kata2 yg sama persis merupakan milik orang lain) merupakan suatu kutipan yg harus ditandai dgn tanda kutipan. Kalau tidak, namanya plagiat.. ;-). Jelas juga kan, bahwa summarizing (=merangkum) itu beda dengan menggunakan rangkaian kalimat orang? Jadi gak bisa lah kalo pakai rangkaian kalimat orang (apalagi artikel seseorang dikopi plek seluruh artikel sampai titik komanya) lantas ngakunya merangkum.. ;-) Dan satu lagi: nggak penting dia menyebut namanya atau tidak sebagai penulis artikel. Memberikan artikel orang tanpa menyebut sumbernya saja sudah bisa dibilang melanggar, karena itu present the work of another as if it wer his/her own work. Menyajikan hasil kerja orang lain seolah2 itu tulisan sendiri.

Hmm.. kalau dilihat dari situ, jelas bahwa nggak ada alasan buat bocah itu untuk tidak mengatakan bahwa tulisannya sekedar copy paste. Malah harusnya dia bersyukur gw cuma bilang copy paste, belum bener2 nuduh dia plagiator.. ;)

Heran.. ada ya, orang udah jelas2 bahwa itu barang orang lain, masih ngeyel nggak mau ngakuin bahwa itu adalah barang pinjaman. Padahal cuma disuruh ngaku doang, disuruh memperjelas aja siapa pemilik yang sah.. ;-) Nggak disuruh ngembaliin. Dan nggak diancam hukuman apa2.. ;-) Gimana kalau diancam hukuman pancung ya ;-)?

Segitu susahnya ya, ngaku jadi makelar.. HAHAHAHA..

Atau segitu mahalkah sebuah gengsi?

Atau.. menurut dia, meminjam rangkaian kata2 orang itu tidak penting untuk diakui? Toh cuma sekedar rangkaian kata2? Hmm.. bocah ini lupa bahwa rangkaian kata2 itu muncul dari sebuah proses panjang. Menuangkan ide, menuangkan data, menjadi sebuah rangkaian tulisan yg jelas dan enak dibaca itu tidak mudah. Itu butuh proses berpikir, kreativitas, dan empati. Sebuah karya yang harus diapresiasi, diakui.

Gw yakin kok, semua penulis bakal seneng kalau artikelnya dikutip dan dibaca lebih banyak orang. Kalau itu bukan sesuatu yg komersil, memperbanyak suatu artikel supaya lebih banyak yg baca, sebenernya sangat membantu si penulis. Tapiiii.. memang ada satu syaratnya: sebutkan siapa yg menulis. Sebutkan siapa penulis aslinya. Hargai kerja keras mereka, jangan dinafikan hanya karena itu sekedar rangkaian kata2.. ;-)

Jangan seenaknya mengatakan malas nulis referensi, kalau nulis referensi nanti jadi panjang. Itu kewajiban loe! Tanggung jawab loe terhadap penulis artikel yg loe pinjam. Jangan bilang toh nggak ada sanksi, cuma sanksi sosial, jadi ngapain juga gw lakukan. Deuh! Kasihan banget orang2 yg berani/tidak berani melakukan sesuatu hanya karena ada/tidaknya hukuman. Betapa lemahnya kontrol dirinya.. ;-)

Dan yang paling penting: jangan bilang merangkum kalau bahkan mengetik ulang pun tidak.. ;-). Gak ada yg lebih menyebalkan buat penulis daripada melihat rangkaian kata2 buah karyanya diakui sebagai rangkuman orang lain.. ;-)

-----

PS: Dan, bocah, menjawab pertanyaan loe tentang DVD bajakan.. Yup! I know it is wrong. That is why I admit it on my blog.. ;-) Buat gw gampang banget menyembunyikan fakta yg gw lakukan.. ;-) Gw bisa aja gak nulis kata bajakan di blog, sehingga pembaca gak tahu itu bajakan atau original, dan jika ada yg nuduh gw beli bajakan memberi gw kesempatan untuk ngeyel habis2an.. ;-) Tapi gw tahu gw gak boleh menyembunyikan fakta itu.. ;-) Dan lagi, bocah, gw membeli dan menonton DVD bajakan, lho.. bukan sengaja membajak DVD itu.. ;-)

Friday, July 28, 2006

Just a Few Minutes More

Waktu beli DVD bajakan Ghost Whisperer, niat gw gak muluk2: mau cari hiburan ringan. Dari cerita di sampulnya, plus sempat lihat preview-nya pas berlibur kemarin, gw pikir ini film ini gak beda jauh sama Charmed. Cuma beda cerita; kalau Charmed tiap hari kerjaannya harus memusnahkan demon, maka Ghost Whisperer kerjaannya tiap hari bantuin arwah penasaran nyebrang ke alamnya.

Tapi.. ternyata.. walaupun karakternya tidak terbangun sekuat Desperate Housewives, walaupun ceritanya tidak sekuat Star Trek atau se-analitis CSI, nonton Ghost Whisperer itu menimbulkan pengalaman emosional tersendiri. Serial ini memberikan insight tersendiri tentang kematian dan semua yg terlibat di dalamnya.

Episode2nya memang tidak jauh dari apa yg gw bayangkan: Melinda Gordon (diperankan si sexy Jennifer Love Hewitt), wanita yang bisa berkomunikasi dengan arwah penasaran itu, selalu berada dalam situasi dimana ada arwah yang meminta bantuannya. Arwah itu gak bisa menyeberang ke alamnya karena masih ada urusan yang belum selesai dengan mereka yg ditinggalkan. The idea is as simple as that. Tapi karena setiap kematian adalah pengalaman personal yang tidak bisa digeneralisir, selalu ada cerita yg menyentuh di balik itu.

Ada arwah seorang pembunuh yang ingin minta maaf pada keluarga korbannya, ada arwah seorang prajurit yang menyesal tidak sempat melihat kelahiran anaknya, ada arwah seorang pria yang nggak tega meninggalkan kekasihnya.. Di sisi keluarga yang ditinggalkan ada seorang ibu yang menyalahkan diri sendiri karena tidak melihat anaknya lari menuju perlintasan kereta api, ada seorang anak yang menyesal karena tidak sempat menunggui ibunya meninggal.. Penyelesaiannya selalu sederhana: si arwah dan yang ditinggalkan mendapatkan beberapa menit yang memungkinkan mereka menyelesaikan hal2 kecil yg sederhana, tapi sangat bermakna bagi mereka berdua, sehingga si arwah bisa menyeberang ke alamnya.

Pada akhirnya, episode2 itu menyadarkan gw bahwa kematian selalu meninggalkan sesal di pihak yg ditinggalkan; sesal karena begitu banyak yg kita take it for granted, sesal karena merasa belum cukup melakukan sesuatu buat yang meninggalkannya. Kematian juga meninggalkan tanya bagi yang ditinggalkan, meninggalkan kegamangan akan langkah selanjutnya; apa yg harus dilakukan? Benarkah ini yang dia [almarhum/almarhumah] mau? Dan tak jarang sesal dan tanya itu menjadi kefrustrasian dan kemarahan yang tak tahu harus diarahkan ke mana. Merampok kesejahteraan jiwa.. ;-)

Dan episode2 ini menyadarkan gw betapa beberapa menit tambahan, sebuah kesempatan kedua, adalah pelipur yang paling mujarab untuknya.

Mungkin gw menjadi sangat bisa menempatkan diri di cerita2 ini karena gw pernah mengalaminya. Waktu bapak meninggal, walaupun di satu sisi gw lega beliau terlepas dari rasa sakitnya, dan pasrah melepaskan beliau, rasa sesal itu tetap ada. Rasa sesal karena ada hari2 dimana gw merasa nggak sanggup berada di dekat beliau dan memilih menghindar daripada melihat kesakitannya. Rasa sesal karena di hari2 lalu tidak sanggup memenuhi hal2 kecil (dan besar) yang diinginkan beliau. Dan ketika keputusan2 harus diambil, begitu banyak kegamangan dan tanya; betulkah langkah ini yang harus diambil? Benarkah ini yg akan dipilih oleh beliau? Dan ketika kegamangan dan tanya itu tak terjawab, yang muncul adalah kefrustrasian dan kemarahan. Why? Why did you leave me? I cannot handle this alone.

Di masa2 itu semua orang bicara tentang merelakan. Jangan diberatkan jalannya. Supaya bapak jalannya lapang, nggak ada yang nggandholi. Semua bicara tentang amanah; tentang bagaimana sebaiknya mewujudkan harapan2 bapak di saat2 terakhirnya. Tapi.. begitu banyak tanya di kepala gw: Apa sebenarnya yang diinginkan oleh almarhum? Apa yang bisa membuatnya berjalan menyeberang dengan tenang? Tahukah beliau betapa menyesalnya gw?

I wished for the second chance then. I wished for a few more minutes with him. A few precious minutes; just enough to tell him how sorry I was and for him to tell what he needed me most to do. Gw gak berharap bisa memperbaiki yang lalu2, gak berharap kehidupan berulang dan bisa membuatnya lebih baik. Hanya beberapa menit tambahan, untuk melakukan hal2 kecil yang personal sebagai salam perpisahan.

Hehehehe.. egois ya? Memikirkan diri sendiri ya? Tapi mungkin emang benar bahwa sebenernya kalau ada seseorang yang meninggal, tangisan kita itu lebih untuk diri kita sendiri. Tampaknya itu adalah tangisan sedih karena kehilangan orang yg dicintai. Tapi.. deep down inside, mungkin itu adalah tangisan sesal dan mengasihani diri sendiri, karena harus hidup dengan satu harapan yg gak mungkin terpenuhi: beberapa menit tambahan yg bisa menghapus segala sesal dan ragu.

Karena, dalam kenyataan, gak ada kesempatan kedua seperti di Ghost Whisperer.. ;-)

Thursday, July 27, 2006

Everyone has a little Dirty Laundry

Jujurlah padaku
Atau pada ibuku
Yang dijual orang

(persilangan antara Jujur by Radja dan Hati Yang Luka by Betharia Sonata)

***

Baca curhatnya Zilko di sini, gw jadi punya dorongan untuk menjadikannya case study untuk dibahas.. ;-) Zilko menganalisanya sebagai suatu kebohongan untuk menutupi time management yang buruk. Tapi gw punya kemungkinan lain: penggunaan time management yang buruk untuk mengkamuflase alasan sebenernya.. ;-)

Hehehe.. kronologi aslinya baca sendiri ya! Gw hanya mau highlight bagian2 yg gw jadikan clue.. ;-)

Sekitar sebulan yang lalu dan sebelumnya, kalo aku dan temen-temenku mengajaknya untuk pergi jalan-jalan, dia pasti (gak selalu sih, tapi sekitar 85%) ngomong klo dia udah ada janji sama temen-temennya yang lain. Trus, 2 minggu yang lalu, aku ngajak dia mau nggak ikut pergi ke Solo tanggal 24 Juli. Dia bilang oke, tapi dia juga bilang klo dia mungkin nggak bisa pergi kalau ada hal-hal tak terhindarkan misalnya: dia harus pergi ke Singapore untuk perjalanan kesehatan, dia harus menghadiri upacara pemakaman, dsb. Oke, aku setuju.

Hari Sabtu kemarin (22 Jul), aku ngirim ke dia (sebut aja X) sms untuk mengingatkan dia tentang perjalanan hari Senin, tapi X nggak membalasnya. Jadi, aku misscall dia beberapa kali, tapi tetep saja nggak ada respon. Jadi, Minggu malam, aku nelpon X dan mengingatkanya tentang perjalanan besoknya. X ngomong: "Sorry, aku harus pergi sama temenku". APA!?!?!?!? Aku shock banget mendengarnya tapi aku mencoba untuk mendinginkan kepala dan mencari tahu alasannya (mungkin alasannya tuh salah satu dari hal-hal yang tak terhindarkan).

Hehehe.. see the pattern here?

Orang ini memang menghindar sejak awal. Pertama menghindar secara halus dengan bilang bahwa dia sudah ada janji setiap kali diajak pergi. Kalau diibaratkan Gunung Merapi, ini udah status AKTIF NORMAL. Kemudian, ketika terus2an menghindar, dan teman2nya masih ngajak dengan agenda yg masih 2 minggu ke depan, tentunya dia gak bisa lagi pakai alasan udah ada janji. Makanya dia pakai if condition, untuk membuat komitmen itu tidak terlalu kuat. Membuat komitmen yg longgar pada dasarnya adalah sebuah bentuk menghindar juga kan.. ;-)?  Di Gunung Merapi ini mungkin setara dengan status WASPADA.

Lanjut lagi, saat dikonfirmasi dia makin jelas menghindar. SMS tak berbalas, miscall tak berespons. Ini sudah bentuk yang lebih tegas dari dari penghindaran.. ;-). Tapi sayangnya masih dikejar juga sehingga terpaksa dia masuk ke layer yang lebih tegas lagi: bilang bahwa if condition yg diajukan ternyata tidak terpenuhi, sehingga dia harus membubarkan komitmennya. Sebagai pengamat, gw bilang ini adalah status SIAGA.

Susahnya, dia masih dikejar lagi, ditanya alasannya, sehingga dia masuk ke layer yang lebih tegas lagi: bikin alasan yang gak bisa ditawar2 walaupun kelihatan gak logisnya. Secara gak langsung dia menunjukkan bahwa dia emang gak mau aja ikutan pergi. Hehehe.. kalau di Gunung Merapi.. ini status AWAS kali ya? Hehehe…

Untung temen2nya berhenti di sini. Kalau masih nge-desak lagi, mungkin akhirnya bener2 keluar alasan yang sesungguhnya, alasan yang ingin (dan mungkin memang perlu) dia sembunyikan.. ;-) Dan sekali keluar, mungkin akan banyak korbannya.. ;-) Kalau Gunung Merapi.. ini sampai pada titik bener2 MELETUS kali ya… ;-)

***

Jujur, memang kadang gak mudah. Kalau motto-nya Desperate Housewives di Season 1 mah: everyone has a little dirty laundry. Laundry, alias baju cucian, walaupun bersih pun tidak pada tempatnya ditunjuk2an kepada orang lain. Apalagi dirty laundry, kan ;-)?

Kadang ini jadi dilema; kita gak pingin bohong, tapi juga ngerasa bahwa dirty laundry gak boleh ditunjukkan kemana2. Apalagi kalau dirty laundry itu menyangkut nama banyak orang. So, biar sama2 enak, pola menghindarlah yg dipakai. Nggak bohong, tapi juga gak sepenuhnya transparan. Harapannya? Moga2 orang cukup peka untuk meninggalkannya tanpa harus ngublek2 dan melihat pakaian kotornya.

Terus.. kalau kita ketemu orang seperti ini.. apa yg harus kita lakukan? Menghindar? Atau mengejarnya hingga mengungkapkan yang sebenernya?

Gak ada yang bener dan gak ada yg salah sih. Gak ada manualnya.. ;-) Tapi sebelum kita mengambil keputusan, kita mesti bertanya pada diri kita sendiri: apa yg mau kita lakukan selanjutnya? Kalau kita kira2 nggak mungkin membantu apa2.. ya mungkin sebaiknya kita menghindar ya? Jangan sampai mereka sudah berkorban banyak, sudah kita paksa menunjukkan dirty laundry-nya, for nothing. Tapi.. kalau kita merasa care, merasa mau membantu, gak ada salahnya juga untuk terus mengejar dan setelah itu berbagi beban dengannya.

Asal jangan ngejar2 dia menunjukkan dirty laundry-nya hanya untuk memuaskan keingintahuan kita. Sebagai teman, pikirkanlah kesejahteraannya, bukan kesejahteraan kita semata.. ;-)

Anyway.. kadang, yang seperti ini juga terjadi pada orang2 yang we care about. Pada teman, pada sahabat, pada pacar, pada pasangan hidup.. Dan kadang, walaupun kita bersedia berbagi beban dengannya, the people we care about tetap menghindar. Yaah.. kalau sudah gini sih mungkin memang ada saatnya kita berhenti mengejar. Menghindarlah seperti yg mereka inginkan. Give them privacy.. while ready anytime they need us to help with their dirty laundry.

Yang penting udah menunjukkan niat baik kita kan? Sudah menunjukkan usaha kan? Selanjutnya terserah pada kesiapan dan kepercayaan mereka pada kita untuk membagi dirty laundry-nya.

***

PS: kalau ada yg bingung baca komentarnya Zilko yang ini di posting sebelumnya, well, komentarnya itu mungkin lebih cocok ditaruh di posting yg ini.. hehehe.. ;-)

Saturday, July 22, 2006

Santunilah Orang Gendut

Gambar di samping ini bukan tipuan kamera. Gw memang pernah selangsing ini. Dengan tinggi 166cm yg di SIM dikorting 3cm jadi cuma 163cm, berat badan gw berkisar 49-51kg saja. Langsing kan? Sampai hampir lulus kuliah, I was a size 6.. kalau gak percaya, masih gw simpan tuh memento dari masa2 keemasan gw.. ;-)

Kalau sekarang penampakan gw jauh lebih besar, itu karena proses metamorfosa yang nggak sebentar. Gw punya mekanisme coping terhadap stres yang buruk: kalo stres mulut gw harus ngunyah. Apa yg dikunyah gak penting, yg penting mulutnya gerak. Gw rasa kalau Freud masih hidup, dia akan mencoba menggali gangguan apa yang terjadi pada fase oral gw.. ;-)

Puncak metamorfosa gw terjadi pada saat hamil dan menyusui. Masa2 itu bagaikan kepompong; masuk kepompong sebagai kupu-kupu yang lucu, lantas keluar dari periode tersebut sebagai rama-rama, alias kupu2 gajah.. hehehe..

*mungkin itu sebabnya kenapa gaya kupu2 gw kalau berenang gak selincah dulu. Gaya itu memang tidak diperuntukkan bagi rama2.. ;-)*

Intinya, metamorfosa gw memang tidak seketika seperti Gregor Samsa di Metamorphosis (F. Kafka). Gw punya banyak waktu untuk contemplate, untuk denial waktu kelebihan berat badan baru berkisar 2-3kg, dan untuk bisa mentertawakan diri sendiri setelah melewati ambang psikologis yg membedakan kurus dan gendut.. ;-) Bener deh! Ada sebuah ambang psikologis antara kurus dan gendut. Letaknya di sekitar 3-5kg overweight.. ;-) Itu masa2 kritis karena perbedaan 1-2kg aja signifikan untuk menentukan masuk kelompok yang mana. Tapi.. setelah ambang itu terlampaui, perbedaan antara gendut dan tambah gendut atau gendut banget does not matter anymore. You can safely laugh at yourself then ;-)

Tapi.. walaupun gw udah bisa ketawa2 ngatain diri gw sendiri kupu2-turn-out-to-be-rama2, biarpun gw pede pakai kaos yg tulisannya I AM in shape; ROUND is a shape, tetap aja ada satu hal yg bikin gw nyolot: kalau ada orang yg bilang gw makmur.

Please deh! Paradigma bahwa gendut adalah lambang kemakmuran harus dibuang jauh2! Jaman dulu, jaman perang, waktu makanan susah, mungkin emang bener bahwa orang2 gendut tuh hidupnya makmur. Tapi.. jaman gini, jaman makanan junkfood murah sementara ongkos berobat mahal, paradigmanya harus diubah tuh! Orang gendut adalah orang yang hidupnya kurang makmur.. hehehe..

Waktu masih dalam fase denial, dan bahkan sampai saat gw udah bisa mentertawakan diri sendiri, gw suka iseng cari informasi tentang cara2 yg aman menurunkan berat badan. Kalau untuk seumur gw, jaga pola makan dan olahraga itu fungsinya lebih untuk menjaga kesehatan, bukan untuk menurunkan berat badan. Lemak tubuh tuh sifatnya kayak kambium. Sekali melingkar, susah dikupasnya. Ngilangin lemak gak segampang ngupas kulit bawang.. hehehe.. Kalau mau menghilangkan excess bagage pasca melahirkan, usahanya harus lebih serius. Dan usaha serius itu membutuhkan modal material yang tidak sedikit.

Mau kurus kayak Dian Nitami? Kalau ada dana mah gampangggg! Ambil aja paket di Marie France Bodyline. Ngecilin satu paha kira2 1.5 jeti, kalau 2 lengan dan 2 paha total 6 jeti, tapi dengan biaya segini gratis ngecilin perut.. hehehe..

Mau minum obat2an? Ada beberapa obat yg efektif; baik yang kerjanya memblokir lemak, menekan selera makan, ataupun menguras usus. Dijamin deh kalau ngikutin programnya bisa turun 11kg dalam 3 bulan kayak Sita RSD. Tapi ya itu.. satu butir pil harganya 25rb, sehari harus minum 3 pil. Itung aja.. 30 hari x Rp 75,000 kan udah 2 juta lebih setiap bulannya. Sementara hasil baru fix dalam 6 bulan. Total 12 juta kan? Hehehe..

Apalagi kalau mau ikut caranya Titi DJ. Sedot lemak? Asal kuat bayar beberapa puluh juta, tunggu apa lagi?

Sayangnya, dana gw gak ada... HAHAHA.. Makanya, betapa jengkelnya gw kalau ada yg bilang bahwa gw gendut karena makmur. Hey, gw gendut justru karena gw gak mampu membiayai program penurunan berat badan gw.. ;-)

Jadi.. next time Anda-anda melihat orang gendut, please, have mercy on us.. hehehe.. Janganlah kami dianggap sebagai orang2 makmur, tetapi kasihanilah kami.. ;-) Kalau perlu, santunilah kami agar kami bisa melangsingkan diri.. ;-)

Thursday, July 20, 2006

Bintang Kecil di dekat Matahari

Senin lalu Ima masuk di kelas baru. Kelas II-b; kelas reguler saja, bukan kelas unggulan a.k.a kelas akselerasi a.k.a kelas yang belajarnya lebih banyak dan membuka kemungkinan lompat kelas a.k.a simbol kebanggaan banyak orang tua murid. Ima terpaksa berpisah dengan teman2 baiknya yang rata2 masuk ke kelas unggulan. Ya, saat kelas I, Ima memang berada di kelas unggulan. Makanya, di kelas II unggulan ini, separuh kelas didominasi mantan teman sekelas Ima. Baru yang separuh kelas lainnya berasal dari 3 kelas berbeda.

Well.. gw sih OK-OK aja Ima masuk kelas reguler. Gw malah lega bahwa dia masuk kelas yang biasa2 aja, yang tuntutannya gak terlalu tinggi. Dengan demikian gw berharap Ima bisa lebih seimbang hidupnya; bisa mengembangkan minat2nya yang lain. Tapi ternyata.. di mata ibu2 lain gw tergolong obyek yang harus dikasihani.. ;-)

Padahal Ima rankingnya gak jelek, kok nggak masuk ya, Mama Ima? Nggak dicoba tanyakan ke kepala sekolah? *hehehe... padahal gw gak tahu Ima ranking berapa. Di raportnya gak ada ranking, dan gw gak kerajinan nanya ke gurunya. Apalagi minta daftar ranking yang lengkap sekelas.. ;-)*

Memang nilainya rapat sekali, persaingannya ketat sekali di kelas I-a kemarin. Jadi kurang nol koma nol sekian udah nggak masuk kelas unggulan. Ya, mudah2an tahun depan Ima bisa masuk kelas unggulan lagi, ya Mama Ima!

Memang kalau kita pingin masuk kelas unggulan, ibunya juga harus ikut rajin belajar sih. Saya aja tiap hari harus nge-drill anak saya belajar. Kalau enggak, mana bisa masuk kelas unggulan?
Itu sebagian ungkapan keprihatinan yang gw terima dari ibu2 lain. Gw sih cuma mesam-mesem sambil mengucapkan terima kasih aja. Habis mau gimana lagi? Mau gw ajak berdebat bahwa menurut gw kelas unggulan gak penting? Hehehe.. Bisa2 gw disangka sekedar menghibur diri. Atau lebih parah lagi: disangka punya arogansi intelektual.. hehehe.. ;-)

Padahal, swear, gw gak perduli. Gw sudah bangga bahwa Ima naik kelas dengan nilai2 yang jauh melebihi standard kompetensi. Dari standard kompetensi 70 yang harus dicapai di tiap mata pelajaran, Ima mendapatkan nilai antara 95-98. Nah.. kalau banyak teman sekelasnya membukukan angka berkisar 97-100, sehingga cut point untuk masuk kelas unggulan adalah sedikit di atas angka rata2 Ima, bukan berarti Ima yang prestasinya jelek kan? Nggak ada perbedaan yg signifikan antara prestasi yang dicetak Ima dengan teman2nya di kelas unggulan, walaupun kini Ima tidak lagi sekelas dengan mereka.. ;-)

Kalau ada ibu2 yang menganggap bahwa kelas unggulan vs kelas reguler adalah perbedaan yang signifikan, ya silakan saja. Tapi gw sih gak melihat itu sebuah goal yang harus dicapai. Gw nggak ngerasa perlu men-drill anak gw tiap hari belajar melampaui kurikulumnya, gak merasa perlu membebani anak gw dengan berbagai les Kumon dan pelajaran.. ;-) Dan gw gak merasa perlu dikasihani hanya karena anak gw gak masuk kelas yang sama dengan anak2 mereka.. hehehe..

Dan lagi.. yang mungkin ibu2 itu nggak tahu, kelas unggulan tidak terlalu menarik bagi gw karena I have been there. And trust me.. it was not exactly an amusement center.. ;-)

Gw dibesarkan dalam keluarga besar yang prestasi akademisnya amit2 mengerikan. Mengerikan bagusnya, maksud gw.. hehehe.. Memang sih, di satu sisi hal itu membanggakan dan memacu gw buat berprestasi baik. Tapi.. itu juga bikin gw gak pede dan rendah diri; karena apa pun yang gw raih ternyata selalu selangkah di belakang yang lain2.. ;-) Pada saat gw mampu jadi juara kelas, misalnya, salah satu sepupu gw menjadi Bintang Pelajar Nasional, sementara satu sepupu lainnya menjadi Bintang Pelajar tingkat Provinsi. Waktu gw berhasil lolos ujian masuk UI, empat sepupu gw lainnya bahkan sudah melenggang masuk ke other reputable university tanpa tes masuk. Saat gw lulus sarjana pun, satu sepupu gw mencetak IPK akhir sempurna 4,00 tanpa sekalipun mengulang mata kuliah, sementara sepupu gw yang lain tinggal tunjuk aja beasiswa S2 yang mana yang dia berkenan ambil. Jiper gak sih? Hehehe..

Hhhh.. kalau loe cuma sebuah bintang kecil, nggak enak terus2an berada di dekat matahari! Seberapa pun terangnya loe bersinar, loe akan selalu kalah terang. Dan dalam jangka panjang, bisa2 loe kehilangan keyakinan bahwa loe bisa bersinar.. ;-) Atau sebaliknya: loe bakal jadi kurang fleksibel, gak bisa meredupkan sinar loe saat loe keluar dari orbit matahari. Tombolnya udah rusak, karena selama ini selalu dipasang maksimum.. hehehe..

So.. biarin aja Ima di kelas reguler. Biarin aja orbitnya menjauh dari kelompok matahari; hanya sesekali bertemu dalam perputaran hidupnya.. ;-). Capek, lagi, terus2an mengejar matahari.. ;-)

Nggak semua bintang punya kesempatan jadi matahari, tapi kan bukan berarti mereka gak punya sinar sama sekali. Biarlah mereka bersinar di tempat lain, supaya mereka tetap punya percaya diri bahwa mereka bukan sekedar benda angkasa yang menerima sinar dari bola api.. ;-).

Saturday, July 15, 2006

Dhani Dewa Code

Gw emang selalu jengah kalau dengar lagu ini. Walaupun gw gak tergolong kaum puritan atau konservatif, tetap aja gw gak nyaman mendengar cerita yang menjabarkan birahi secara denotatif (halah!). Gw masih menganggap yang beginian harusnya diceritakan dengan metafora yang konotatif.

Tadinya sih gw diam saja karena tampaknya orang2 lain gak terganggu dengan syairnya. Tahu aja kan, gw tuh suka mikirin serius hal yang sepele? Kadang2 mikirnya kejauhan pula.. hehehe.. Tapi gw jadi lebih pede buat ngebahas karena tadi malam bapaknya Ima, upon hearing the song on TV, tiba2 berkomentar:

Buset ya, fantasinya si Dhani! Jadi, lagu yang jelas2 hanya penghalusan dari I want to F*ck gini gak ada yang demo? HAHAHA.. ;-)

Tahu kan lagu yang gw maksud? Sedang Ingin Bercinta tulisan Ahmad Dhani.. ;)

Sekilas sih bahasa Indonesianya baik2 saja. Sopan. Tapi coba lihat apa yang ingin disampaikan oleh lagu ini. Gw terjemahin pakai bahasa Inggris deh, biar lebih gamblang.. ;-)

Everytime you are there why [does] my heart
beat faster
like a drum marching to a battle
Everytime you are there why [does] my blood
run faster
from toe to head
Everytime you are there my brain plots
how to be with you alone
Reff:
I want to make love
Perhaps because you are there
I want to
Hehehe.. jantung yang berdetak lebih cepat, darah yang mengalir lebih cepat, dan pikiran yang penuh dengan bagaimana caranya bisa berduaan.. bukankah ini gambaran yang sangat gamblang tentang sexual arousal? Kalau ditulis dalam bahasa Inggris lebih terlihat gamblang kan, bahwa lagu ini full of lustful fantasy ;-)?


Hehehe.. either Dhani sedang bercerita tentang mahluk yang sangat gorgeous (sehingga begitu dia muncul aja orang sudah berfantasi macam-macam) atau bercerita tentang a beast (yang lagi masuk mating period sehingga pikirannya aneh2), yang jelas lagu ini bercerita tentang birahi dalam bentuk yang paling gamblang. And get away with it ;-)

Gw gak ngerti kenapa gak didemo.. ;-) Apakah karena orang2 yang selama ini mendemo gak ngerti bahasa Inggris, sehingga luput mengenali paparan yang lazim banget tertulis di adult literature.. ;-)? Mungkin mereka gak ngerti bahwa make love itu tidak selalu mengandung unsur love.. ;-)

Hehehe.. ternyata men-disguise sesuatu tuh gampang ya.. ;-)

Dan pikiran nakal gw: kayaknya pihak yang sekarang sering didemo tuh bisa belajar dari Dhani bagaimana men-disguise jualannya supaya kelihatan sopan.. ;-)

Salut deh atas keberhasilan Dhani yang [sengaja maupun tak sengaja] berhasil creating a brilliant code.. ;-) Just like Da Vinci, I think you're a genius!

Tuesday, July 11, 2006

Make the Most of it!

Final Piala Dunia 2006 sudah berakhir. Gw gak berminat ngebahas permainannya, kekalahan Prancis, ataupun kemenangan Italia. Gak efek, toh bukan Jerman yg juara.. HAHAHA.. Gw lebih berminat ngebahas insiden di partai final tersebut: Zinedine Zidane menanduk Marco Materazzi sehingga mendapatkan kartu merah.



Well.. gw bukan penggemar Zidane. Gw tahu dia pemain bagus, sangat bagus, tapi gw gak tergila2 sama dia. Gw tahu dia salah satu dari sedikit pemain Eropa muslim (mungkin satu2nya pemain muslim di negara yang mayoritasnya bukan muslim); yang gemar shalat sebelum bertanding, dan tetap menjalankan ibadah puasa walaupun di tengah kompetisi liga. Tapi toh, gw bukan seorang fanatik yang mengagumi seseorang karena agamanya atau ibadahnya. Still, gw kasihan banget Zidane mengakhiri karir internasionalnya dengan kartu merah beberapa menit sebelum pertandingan berakhir.

Ya.. Zidane memang kehilangan kontrol emosinya terhadap Materazzi hingga melakukan penyerangan fisik. Sesuai aturan, kartu merah memang ganjaran untuk perilaku seperti ini. So, gw nggak menyalahkan wasit memberikan kartu merah padanya. Tapi.. gw menyesalkan pandangan orang2 bahwa it is all his [Zidane] fault, sementara Materazzi dianggap tidak bersalah apa2. Setidaknya, mereka menganggap bahwa Materazzi tidak perlu dibahas. All the blame is on Zidane.

Sedih deh, banyak banget yg bilang Zidane tidak bermental juara. Zidane immature. Zidane tidak menunjukkan kematangan seorang bintang. Kalaupun ada yang mempermasalahkan, lebih ke masalah teknis: keabsahannya dipertanyakan karena wasit mengambil keputusan hanya berdasarkan tayang ulang (tidak melihat sendiri), atau karena Luis Figo pernah melakukan hal yg sama tapi tidak diberi kartu merah.

Sejauh ini gak banyak yang mau mencoba memahami Zidane. Mau mencoba melihat bahwa Materazzi might have said something very, very venomous, sehingga Zidane yang (biasanya) jinak menjadi buas.

Padahal, kalau kita bicara soal mental juara, bukan hanya Zidane yg harus dipertanyakan. Materazzi juga. Juara sejati lebih senang kalah terhormat, daripada menang dengan menghalalkan yang haram. Pemain seperti apa yang menghalalkan segala cara untuk menang; dengan mengeluarkan kata2 yang tidak pantas? Bukankah permainan sepakbola harusnya merupakan adu kemampuan individu dan kecanggihan strategi?

Sedih sekali baca seorang teman bilang: apa yang dilakukan Materazzi nggak berbeda dengan apa yang dilakukan Klinsmann dengan Sport-spy. Klinsmann toh juga mengupah lembaga untuk mempelajari tendangan penalty lawan, sehingga Lehmann bisa jago, dan Jerman bisa menang lawan Argentina. Materazzi juga sekedar mencari kelemahan Zidane, sehingga timnya bisa menang. Well.. menurut gw sih it is a hell of differences ya! Mempelajari tendangan penalti Ayala sehingga Lehmann bisa menahannya, tentu berbeda dengan mencari tahu kata2 apa yang bisa membuat Zidane marah. Menahan penalti Ayala untuk memperoleh kemenangan, tentunya berbeda dengan mencoba membuat Zidane dihukum dengan mengatainya terrorist atau mengatakan hal2 tak senonoh tentang ibunya.

*Note: hingga posting ini diturunkan, sebenarnya Zidane belum buka mulut tentang apa alasannya. Materazzi juga memilih no comment seperti Ceu Desy jaman dulu. Tapi dari beberapa desas-desus, disinyalir salah satu dari dua kalimat ini yang membuat Zidane marah*

Kalau kita bicara maturity, tentunya juga gak bisa dibilang Zidane gak mature. Maturity itu tidak berarti kesabaran tanpa batas kan? Orang yang mature pun bisa marah juga untuk hal2 yang tepat. Dan untuk tahu tepat atau tidaknya kemarahan Zidane, kita mesti tahu dulu omongan Materazzi keterlaluan atau tidak?

So.. sedih, sedih banget lihat Zidane mengakhiri karirnya seperti ini. Sedih banget melihat orang dengan gampang pass their judgment terhadap Zidane.

Well, anyway, gw tahu, tidak semua orang di dunia ini senang playing psychologist; berusaha memahami dinamika yg terjadi pada individu sehingga terjadinya suatu aksi. Rata2 orang hanya mau menilai reaksi, gak perduli pada aksi. Yah.. mungkin seperti SMS Mas Boy beberapa menit setelah Prancis kalah: Diambil pelajarannya aja, bahwa kehilangan kontrol emosi sekian detik, harga yang harus dibayar sangat mahal.

Yup! Gw setuju sama Mas Boy. Kontrol emosi itu seperti all-you-can-eat-restaurant. Orang gak perduli loe makan banyak atau makan sedikit. Bayarnya sama! Sama2 mahal!

So.. yang terbaik memang menahan emosi. Tapi.. kalaupun terpaksa bobol, perhaps, next time you have to make the most of it, Zizou! Next time, kalau emang ada orang yang keterlaluan, nanduknya jangan tanggung2! Jangan di dada, tapi beberapa centimeter di bawahnya.. ;-) Toh, sekali loe nanduk, loe kena kartu merah dan disalahin semua orang. Kenapa gak sekalian ditanduk sampai si Materazzi gak bakal bisa bikin istrinya gak datang bulan.. ;-)?

*hehehe.. menyitir komentar sarkastiknya Jeng Pops: untung pas ditanduk si Materazzi gak datang bulan.. ;-)*

Gw jahat banget ya, menganjurkan yang buruk pada Zizou? Tapi seperti kata Miss Piggy: sometimes it may be necessary from time to time to give a stupid or misinformed beholder a black eye.. ;-)

---

PS: Posting ini didedikasikan pada beberapa teman pendukung Italia; yang sejak kemarin tiap kali gw bilang Materazzi harusnya kena kartu kuning juga, langsung menjadi defensif dengan bilang Tapi biar gimana pun Italia memang pantas jadi juara dunia kok!.. ;-) Yeee.. lha wong isyunya bukan kemenangan Italia vs kekalahan Prancis kok.. ;-)

PPS: Eh.. masih untung deh, temen2 gw itu berhenti di kalimat itu. Ada skenario yg lebih buruk lagi: Italia memang pantas jadi juara dunia, kok! Kan ada Cannavaro yang sexy, Pirlo yang ganteng, Toni-Totti yang imut2.. Beuh! Ini sepakbola, bukan pemilihan Mr. Universe.. HAHAHA.. ;-)

Monday, July 10, 2006

Serenity Prayer

God, grant me the serenity
To accept the things that I cannot change
The courage to change the things I can
And the wisdom to know the difference
(
Serenity Prayer, Reinhold Niebuhr)

Kutipan itu gw baca di sebuah mug beberapa bulan lalu. Mug itu souvenir dari seorang tante, sepupunya ibu, untuk merayakan tumbuk yuswa 8 windu (ulang tahunnya yang ke 64, dihitung sesuai penanggalan Jawa). Kutipan itu memang cocok untuk menggambarkan tante gw itu; the fun fearless female versi Jawa.. ;-). She is full of courage, sangat berani melakukan perbedaan2 di sekelilingnya. Courage itu membawanya ke puncak karir yang sangat tidak biasa untuk perempuan Jawa seangkatan beliau. Sukses? Tentu. Tapi coba tanya pada tante saya itu. Jawabannya akan berkisar pada: saya baru setengah sukses setelah saya sadar bahwa courage harus berbagi tempat dengan serenity, dan saya baru sukses setelah saya punya wisdom untuk membedakan keduanya.

Ya, tante gw itu merasa sukses, justru karena menjelang masa tuanya dia berhasil menyeimbangkan courage dan serenity-nya. And thus she finally obtains wisdom.. ;-)

Buat gw, kutipan ini bagus sekali. Seperti tante gw, I believe that we can change everything. Yang membedakannya hanya waktu yg dibutuhkan untuk mengubah sesuatu; ada yang cepat, ada yg butuh waktu lama. Just like her, I have the courage. Sayangnya, seperti beliau juga, mungkin gw so full of courage, sehingga sedikit sekali tempat tersisa buat serenity. Dan karena gw hanya punya courage, tidak terbiasa dengan serenity, bagaimana gw bisa mencapai wisdom untuk membedakan keduanya?

Tadi malam, saat nonton Desperate Housewives, gw mendapatkan kutipan yang sama di episode ini. Kutipan yang sudah diletakkan dalam konteks yang tepat, sebagai wrap up narration di akhir episode. Membuat kutipan ini lebih dalam lagi maknanya buat gw:

Bree: God, grant me the serenity to accept the things that I cannot change
For some of us rage at the hand life handles us
Bree: The courage to change the things I can
For some of us are too coward to stand up for what is right
Bree: And the wisdom to know the difference
For some of us lose hope and faith when we hit the wall
The good news is that God always hears whatever prayer we say
The bad news is that sometime the answer to our prayer is: NO

Courage dan serenity memang tidak terpisahkan. Keduanya berpasangan, seperti semua hal yg ada di dunia ini. Dua2nya harus punya porsi yang sama, karena memang tidak semua hal bisa diubah. Ada hal2 yg harus diterima, gak perduli betapa gak adilnya, betapa buruknya, betapa menyakitkannya. Dan kadang hal yang bisa diubah dan tidak bisa diubah tampak begitu mirip, sehingga tidak dapat dibedakan secara kasat mata. And that is why we need wisdom.. :-)

Courage, serenity, dan wisdom memang dimulai dengan C, S, dan W. Tapi bukan berarti harus diikuti sesuai abjad, karena kalau sudah keasyikan sama courage, udah pede bisa ngubah segalanya, mungkin akan lupa mengejar serenity. Padahal wisdom baru bisa didapat kalau udah punya dua2nya secara imbang. Itu mungkin kali ya, kenapa yang disebut serenity duluan.. ;-) Biar orang gak keburu asyik sama courage.. ;-)

Well, anyway, I have the courage. Mudah2an gw gak butuh seumur hidup untuk mendapatkan serenity dan wisdom.. ;-)

Dan gw berharap, Serenity Prayer bukanlah jenis doa yang akan dijawab oleh Tuhan dengan kata: TIDAK.

Thursday, July 06, 2006

The Morning After

Waktu SD-SMA, gw sangat excited menjelang pementasan tahunan sekolah ballet gw. Senang dengan sensasinya; audisi tarian untuk menentukan peran di pementasan, diikuti dengan latihan berbulan2 untuk tarian tersebut. Konser tahunan sekolah musik gw juga memberikan sensasi yang sama; dari memilih lagu yang akan dipentaskan, kemudian melatihnya berbulan2. Sensasi yang sama juga berulang di kelompok karawitan SMA gw yg rutin ikut lomba nasional tahunan, serta saat ikut berbagai kepanitian Senat Mahasiswa di fakultas.

Sensasi itu juga terulang pada saat nonton reality show, nonton Piala Eropa, nonton Piala Dunia. Secara fisik, gw memang gak terlibat apa2. Tapi secara emosional, sensasi itu tetap muncul. Mulai dari memilih jagoan, ngikutin perjalanannya, ikut deg2an setiap kali penyisihan, ikut jingkrak2 setiap kali lolos..

Dan tetap merasakan gak enaknya hangover in the morning after.. ;-)

Konon kabarnya *belum pernah sih.. ;)*, kalau orang habis mabuk2an, paginya rasanya nggak enak bener. Kepala nyut2an; pingin muntah tapi gak bisa. Hilang lenyap kegembiraan luar biasa yang menjustifikasi dirinya untuk mabuk2an malam sebelumnya. Atau.. jika mabuk2an itu terjadi karena ingin melupakan sebuah tragedi, maka in the morning after kesedihan itu muncul kembali; pakai bonus sakit kepala yg kemarin gak ada.. ;-)

Well.. sensasi itu juga muncul the morning after sebuah kegiatan yg gw ikuti. Tiap kali habis pementasan, habis resital, habis lomba karawitan, habis acara kepanitiaan selesai, habis nonton reality show, habis nonton putaran final sepakbola,.. yang muncul adalah perasaan kosong dan kehilangan makna hidup. Rasanya aneh aja, bahwa setelah berbulan2 melatih koreografi, melatih rangkaian musik yang sama, menonton rangkaian acara yang sama.. all of sudden semuanya itu hilang. Setelah puncak acara, semuanya berakhir. Gak perduli akhir acara itu menyenangkan sesuai harapan atau menyedihkan, the morning after selalu menyisakan kekosongan dan ketidakbermaknaan.. ;-)

Di Piala Dunia kali ini, hangover itu sudah terjadi. Jerman kalah dua menit sebelum babak perpanjangan waktu berakhir. Waktu lihat Jerman kalah, lihat Michael Ballack berkaca2 matanya, lihat Odonkor dan Lahm nangis, lihat Klinsmann mukanya dikeras2kan menahan emosi, rasanya memang sedih. Tapi yang lebih gak enak lagi the morning after, beberapa jam setelah itu. Setelah masa shock lewat, setelah sadar Jerman bener2 gak bakal jadi juara dunia di tanahnya sendiri, baru muncul rasa kosong. Nggak ada lagi yg gw tunggu di piala dunia kali ini. Gak ada lagi sumber deg2an gw, sesuatu yg gw harap2kan, sesuatu yang gw takut2kan..

Hehehe.. gw gak tahu mana yg lebih bikin kosong: kekalahan Jerman, atau berhentinya sensasi kenikmatan gw nonton Piala Dunia setelah Jerman kalah.. ;-)

So.. selain mengutip komentar my favorite coach:

We’re obviously very, very disappointed, no question about it; and that is to be expected when there is so much emotion involved and when it turns out that a dream has died.

(J. Klinsmann, after Germany’s defeat in the semi)

Gw mau menambahkan kutipan gw sendiri:

I obviously feel very, very empty, no question about it; and that is to be expected when there is so much emotion involved and when it turns out that a nightmare has lived.

(M. Notodisurjo, also after Germany’s defeat in the semi)

Dan mungkin versi gw kalo Jerman yg menang:

I obviously feel very, very empty, no question about it; and that is to be expected when there is so much emotion involved and when it turns out that a dream has reached the climax.

(M. Notodisurjo, if Germany won the World Cup)

Hehehe.. kalaupun Jerman masuk final, itu hanya menunda the morning after effect saja. Setelah Klinsmann & Ballack mengangkat pialanya tinggi2, the emptiness will come. Tentu, rasanya lebih enak kalo gw baru hangover setelah lihat Klinsmann & Ballack ngangkat piala.. hehehe.. setidaknya gw puas jagoan gw berhasil menang. Tapi.. tetap aja, setelah itu gw membutuhkan asupan energi baru. A new thing to tick me.. ;-)

So.. gw ajukan aja pertanyaan yg tadinya mau gw ajukan setelah Jerman jadi juara dunia 2006: Piala Eropa 2008 kapan mulai? Udah gak sabar dukung Jerman lagi nih.. HAHAHA.. ;-)