Thursday, July 20, 2006

Bintang Kecil di dekat Matahari

Senin lalu Ima masuk di kelas baru. Kelas II-b; kelas reguler saja, bukan kelas unggulan a.k.a kelas akselerasi a.k.a kelas yang belajarnya lebih banyak dan membuka kemungkinan lompat kelas a.k.a simbol kebanggaan banyak orang tua murid. Ima terpaksa berpisah dengan teman2 baiknya yang rata2 masuk ke kelas unggulan. Ya, saat kelas I, Ima memang berada di kelas unggulan. Makanya, di kelas II unggulan ini, separuh kelas didominasi mantan teman sekelas Ima. Baru yang separuh kelas lainnya berasal dari 3 kelas berbeda.

Well.. gw sih OK-OK aja Ima masuk kelas reguler. Gw malah lega bahwa dia masuk kelas yang biasa2 aja, yang tuntutannya gak terlalu tinggi. Dengan demikian gw berharap Ima bisa lebih seimbang hidupnya; bisa mengembangkan minat2nya yang lain. Tapi ternyata.. di mata ibu2 lain gw tergolong obyek yang harus dikasihani.. ;-)

Padahal Ima rankingnya gak jelek, kok nggak masuk ya, Mama Ima? Nggak dicoba tanyakan ke kepala sekolah? *hehehe... padahal gw gak tahu Ima ranking berapa. Di raportnya gak ada ranking, dan gw gak kerajinan nanya ke gurunya. Apalagi minta daftar ranking yang lengkap sekelas.. ;-)*

Memang nilainya rapat sekali, persaingannya ketat sekali di kelas I-a kemarin. Jadi kurang nol koma nol sekian udah nggak masuk kelas unggulan. Ya, mudah2an tahun depan Ima bisa masuk kelas unggulan lagi, ya Mama Ima!

Memang kalau kita pingin masuk kelas unggulan, ibunya juga harus ikut rajin belajar sih. Saya aja tiap hari harus nge-drill anak saya belajar. Kalau enggak, mana bisa masuk kelas unggulan?
Itu sebagian ungkapan keprihatinan yang gw terima dari ibu2 lain. Gw sih cuma mesam-mesem sambil mengucapkan terima kasih aja. Habis mau gimana lagi? Mau gw ajak berdebat bahwa menurut gw kelas unggulan gak penting? Hehehe.. Bisa2 gw disangka sekedar menghibur diri. Atau lebih parah lagi: disangka punya arogansi intelektual.. hehehe.. ;-)

Padahal, swear, gw gak perduli. Gw sudah bangga bahwa Ima naik kelas dengan nilai2 yang jauh melebihi standard kompetensi. Dari standard kompetensi 70 yang harus dicapai di tiap mata pelajaran, Ima mendapatkan nilai antara 95-98. Nah.. kalau banyak teman sekelasnya membukukan angka berkisar 97-100, sehingga cut point untuk masuk kelas unggulan adalah sedikit di atas angka rata2 Ima, bukan berarti Ima yang prestasinya jelek kan? Nggak ada perbedaan yg signifikan antara prestasi yang dicetak Ima dengan teman2nya di kelas unggulan, walaupun kini Ima tidak lagi sekelas dengan mereka.. ;-)

Kalau ada ibu2 yang menganggap bahwa kelas unggulan vs kelas reguler adalah perbedaan yang signifikan, ya silakan saja. Tapi gw sih gak melihat itu sebuah goal yang harus dicapai. Gw nggak ngerasa perlu men-drill anak gw tiap hari belajar melampaui kurikulumnya, gak merasa perlu membebani anak gw dengan berbagai les Kumon dan pelajaran.. ;-) Dan gw gak merasa perlu dikasihani hanya karena anak gw gak masuk kelas yang sama dengan anak2 mereka.. hehehe..

Dan lagi.. yang mungkin ibu2 itu nggak tahu, kelas unggulan tidak terlalu menarik bagi gw karena I have been there. And trust me.. it was not exactly an amusement center.. ;-)

Gw dibesarkan dalam keluarga besar yang prestasi akademisnya amit2 mengerikan. Mengerikan bagusnya, maksud gw.. hehehe.. Memang sih, di satu sisi hal itu membanggakan dan memacu gw buat berprestasi baik. Tapi.. itu juga bikin gw gak pede dan rendah diri; karena apa pun yang gw raih ternyata selalu selangkah di belakang yang lain2.. ;-) Pada saat gw mampu jadi juara kelas, misalnya, salah satu sepupu gw menjadi Bintang Pelajar Nasional, sementara satu sepupu lainnya menjadi Bintang Pelajar tingkat Provinsi. Waktu gw berhasil lolos ujian masuk UI, empat sepupu gw lainnya bahkan sudah melenggang masuk ke other reputable university tanpa tes masuk. Saat gw lulus sarjana pun, satu sepupu gw mencetak IPK akhir sempurna 4,00 tanpa sekalipun mengulang mata kuliah, sementara sepupu gw yang lain tinggal tunjuk aja beasiswa S2 yang mana yang dia berkenan ambil. Jiper gak sih? Hehehe..

Hhhh.. kalau loe cuma sebuah bintang kecil, nggak enak terus2an berada di dekat matahari! Seberapa pun terangnya loe bersinar, loe akan selalu kalah terang. Dan dalam jangka panjang, bisa2 loe kehilangan keyakinan bahwa loe bisa bersinar.. ;-) Atau sebaliknya: loe bakal jadi kurang fleksibel, gak bisa meredupkan sinar loe saat loe keluar dari orbit matahari. Tombolnya udah rusak, karena selama ini selalu dipasang maksimum.. hehehe..

So.. biarin aja Ima di kelas reguler. Biarin aja orbitnya menjauh dari kelompok matahari; hanya sesekali bertemu dalam perputaran hidupnya.. ;-). Capek, lagi, terus2an mengejar matahari.. ;-)

Nggak semua bintang punya kesempatan jadi matahari, tapi kan bukan berarti mereka gak punya sinar sama sekali. Biarlah mereka bersinar di tempat lain, supaya mereka tetap punya percaya diri bahwa mereka bukan sekedar benda angkasa yang menerima sinar dari bola api.. ;-).