Saturday, July 29, 2006

Plagiator

Kemarin gw eyel2an sama seorang bocah, gara2 masalah tulis menulis. Awalnya nggak serius; ada yg bercanda bilang bahwa bocah ini sebaiknya bikin buku, lantaran dia suka sekali nge-post artikel2 panjang yang dia copy dari tempat lain di komunitas virtual kami. Gw nyambar umpan lambung; bilang bahwa kalo nulis buku bocah ini bisa dibilang plagiator, krn artikelnya hanya copy paste dari tempat lain, gak nulis sendiri. Nah.. si bocah ini nggak terima dibilang sekedar copy paste. Menurut dia, dia itu merangkum, karena dia mengganti beberapa hal dari artikel2 itu. Misalnya aja: di artikel tentang Thomas Alva Edison, dia mengganti kalimat Edison sudah menemukan sekitar 3.000 penemuan dengan kalimat Edison sudah menemukan sekitar 1.000 penemuan. Cuma ngganti 1 angka aja, tapi menurut dia itu sudah merangkum, dan nggak bisa dibilang sekedar copy paste, karena kalau copy paste itu harus 100% sama.. ;-)

Lebih jauh lagi, dia nggak terima dibilang copy paste karena artikel yg dia post jauh lebih panjang. Lha.. padahal lebih panjangnya itu karena dia menambahkan copy paste dari artikel lain.. hehehe.. Payahnya lagi: dia ngaku2 menterjemahkan dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia. Contohnya: kata phonograph dia ganti jadi fonograf sesuai kaidah bahasa Indonesia.. ;-)

Gw tentu aja nggak setuju. Dan ngakak berat. Bilang bahwa kalau yg begitu sih namanya baru mengedit; bukan merangkum apalagi menterjemahkan. Merangkum itu kan proses kreatif mempersingkat sesuatu (atau berbagai sumber) dengan bahasanya sendiri menjadi artikel baru yang lebih singkat. Kalau meng-copy satu artikel, lalu menambahkan kopian artikel lain, paling jauh bisa gw kasih nama: kompilasi.. ;) Dan gw himbau dia untuk give the writers the credit they deserve dengan mengakui bahwa dia copy paste, tidak ngeyel bahwa dia merangkum. Sampai2 gw post-kan artikel asli yg dia kutip secara-identik-minus-satu-dua-kata itu untuk menyadarkan dia.

Nah.. nyolotlah dia!

Kalau tadi2nya dia masih sibuk membela diri bahwa dia tidak mencontek, sekarang sudah mulai kalap melemparkan segala argumen yg bisa dilempar. Mulanya argumennya masih lumayan nyambung: Kalau tiap artikel gw kasih referensinya, bisa2 artikel gw penuh dgn referensi doang. Lama2 mulai mengatakan bahwa, Ini kan bukan karangan ilmiah, jadi nggak bisa dibilang plagiator, terus mempertanyakan Kan website bisa dikasih script supaya nggak di-copy paste, kalau nggak dikasih script berarti boleh di-copy paste, sampai Toh hanya sanksi sosial yang diberikan kalau gw copy paste punya orang, jadi jangan salahin gw kalau gw copy paste.. dan terakhir, dia copy paste posting gw yg kemarin, sambil ngata2in gw munafik ngomongin soal copy paste padahal gw sendiri suka beli DVD bajakan.

HAHAHAHA.. kalau udah gini gw memutuskan diam aja deh.. ;-) Males berdebat sama orang yg defensif.. ;-) Jadi gw tulis di blog aja deh.. ;-)

Pertama2, sebenernya apa sih plagiatisme itu? Buku panduan ekskul jurnalistik gw jaman SMA udah hilang (iyalah! Hampir 2 dasawarsa lalu gitu loh!), tapi gw nemu referensi yg agak baruan dikit di Publication Manual APA (1994). Di situ dituliskan tentang Ethics of Publication, dan dibawah judul Plagiarism, dituliskan:

Quotation marks should be used to indicate the exact words of another. Summarizing a passage or rearranging the order of a sentence and changing some of the words is paraphrasing. Each time a source is paraphrased, a credit for the source needs to be included in the text. The key element of this principle is that an author does not present the work of another as if it were his or her own work.

(p. 292)

Udah jelas bahwa publikasi apa pun, kalau pakai the exact words of another (= rangkaian kata2 yg sama persis merupakan milik orang lain) merupakan suatu kutipan yg harus ditandai dgn tanda kutipan. Kalau tidak, namanya plagiat.. ;-). Jelas juga kan, bahwa summarizing (=merangkum) itu beda dengan menggunakan rangkaian kalimat orang? Jadi gak bisa lah kalo pakai rangkaian kalimat orang (apalagi artikel seseorang dikopi plek seluruh artikel sampai titik komanya) lantas ngakunya merangkum.. ;-) Dan satu lagi: nggak penting dia menyebut namanya atau tidak sebagai penulis artikel. Memberikan artikel orang tanpa menyebut sumbernya saja sudah bisa dibilang melanggar, karena itu present the work of another as if it wer his/her own work. Menyajikan hasil kerja orang lain seolah2 itu tulisan sendiri.

Hmm.. kalau dilihat dari situ, jelas bahwa nggak ada alasan buat bocah itu untuk tidak mengatakan bahwa tulisannya sekedar copy paste. Malah harusnya dia bersyukur gw cuma bilang copy paste, belum bener2 nuduh dia plagiator.. ;)

Heran.. ada ya, orang udah jelas2 bahwa itu barang orang lain, masih ngeyel nggak mau ngakuin bahwa itu adalah barang pinjaman. Padahal cuma disuruh ngaku doang, disuruh memperjelas aja siapa pemilik yang sah.. ;-) Nggak disuruh ngembaliin. Dan nggak diancam hukuman apa2.. ;-) Gimana kalau diancam hukuman pancung ya ;-)?

Segitu susahnya ya, ngaku jadi makelar.. HAHAHAHA..

Atau segitu mahalkah sebuah gengsi?

Atau.. menurut dia, meminjam rangkaian kata2 orang itu tidak penting untuk diakui? Toh cuma sekedar rangkaian kata2? Hmm.. bocah ini lupa bahwa rangkaian kata2 itu muncul dari sebuah proses panjang. Menuangkan ide, menuangkan data, menjadi sebuah rangkaian tulisan yg jelas dan enak dibaca itu tidak mudah. Itu butuh proses berpikir, kreativitas, dan empati. Sebuah karya yang harus diapresiasi, diakui.

Gw yakin kok, semua penulis bakal seneng kalau artikelnya dikutip dan dibaca lebih banyak orang. Kalau itu bukan sesuatu yg komersil, memperbanyak suatu artikel supaya lebih banyak yg baca, sebenernya sangat membantu si penulis. Tapiiii.. memang ada satu syaratnya: sebutkan siapa yg menulis. Sebutkan siapa penulis aslinya. Hargai kerja keras mereka, jangan dinafikan hanya karena itu sekedar rangkaian kata2.. ;-)

Jangan seenaknya mengatakan malas nulis referensi, kalau nulis referensi nanti jadi panjang. Itu kewajiban loe! Tanggung jawab loe terhadap penulis artikel yg loe pinjam. Jangan bilang toh nggak ada sanksi, cuma sanksi sosial, jadi ngapain juga gw lakukan. Deuh! Kasihan banget orang2 yg berani/tidak berani melakukan sesuatu hanya karena ada/tidaknya hukuman. Betapa lemahnya kontrol dirinya.. ;-)

Dan yang paling penting: jangan bilang merangkum kalau bahkan mengetik ulang pun tidak.. ;-). Gak ada yg lebih menyebalkan buat penulis daripada melihat rangkaian kata2 buah karyanya diakui sebagai rangkuman orang lain.. ;-)

-----

PS: Dan, bocah, menjawab pertanyaan loe tentang DVD bajakan.. Yup! I know it is wrong. That is why I admit it on my blog.. ;-) Buat gw gampang banget menyembunyikan fakta yg gw lakukan.. ;-) Gw bisa aja gak nulis kata bajakan di blog, sehingga pembaca gak tahu itu bajakan atau original, dan jika ada yg nuduh gw beli bajakan memberi gw kesempatan untuk ngeyel habis2an.. ;-) Tapi gw tahu gw gak boleh menyembunyikan fakta itu.. ;-) Dan lagi, bocah, gw membeli dan menonton DVD bajakan, lho.. bukan sengaja membajak DVD itu.. ;-)