Friday, July 28, 2006

Just a Few Minutes More

Waktu beli DVD bajakan Ghost Whisperer, niat gw gak muluk2: mau cari hiburan ringan. Dari cerita di sampulnya, plus sempat lihat preview-nya pas berlibur kemarin, gw pikir ini film ini gak beda jauh sama Charmed. Cuma beda cerita; kalau Charmed tiap hari kerjaannya harus memusnahkan demon, maka Ghost Whisperer kerjaannya tiap hari bantuin arwah penasaran nyebrang ke alamnya.

Tapi.. ternyata.. walaupun karakternya tidak terbangun sekuat Desperate Housewives, walaupun ceritanya tidak sekuat Star Trek atau se-analitis CSI, nonton Ghost Whisperer itu menimbulkan pengalaman emosional tersendiri. Serial ini memberikan insight tersendiri tentang kematian dan semua yg terlibat di dalamnya.

Episode2nya memang tidak jauh dari apa yg gw bayangkan: Melinda Gordon (diperankan si sexy Jennifer Love Hewitt), wanita yang bisa berkomunikasi dengan arwah penasaran itu, selalu berada dalam situasi dimana ada arwah yang meminta bantuannya. Arwah itu gak bisa menyeberang ke alamnya karena masih ada urusan yang belum selesai dengan mereka yg ditinggalkan. The idea is as simple as that. Tapi karena setiap kematian adalah pengalaman personal yang tidak bisa digeneralisir, selalu ada cerita yg menyentuh di balik itu.

Ada arwah seorang pembunuh yang ingin minta maaf pada keluarga korbannya, ada arwah seorang prajurit yang menyesal tidak sempat melihat kelahiran anaknya, ada arwah seorang pria yang nggak tega meninggalkan kekasihnya.. Di sisi keluarga yang ditinggalkan ada seorang ibu yang menyalahkan diri sendiri karena tidak melihat anaknya lari menuju perlintasan kereta api, ada seorang anak yang menyesal karena tidak sempat menunggui ibunya meninggal.. Penyelesaiannya selalu sederhana: si arwah dan yang ditinggalkan mendapatkan beberapa menit yang memungkinkan mereka menyelesaikan hal2 kecil yg sederhana, tapi sangat bermakna bagi mereka berdua, sehingga si arwah bisa menyeberang ke alamnya.

Pada akhirnya, episode2 itu menyadarkan gw bahwa kematian selalu meninggalkan sesal di pihak yg ditinggalkan; sesal karena begitu banyak yg kita take it for granted, sesal karena merasa belum cukup melakukan sesuatu buat yang meninggalkannya. Kematian juga meninggalkan tanya bagi yang ditinggalkan, meninggalkan kegamangan akan langkah selanjutnya; apa yg harus dilakukan? Benarkah ini yang dia [almarhum/almarhumah] mau? Dan tak jarang sesal dan tanya itu menjadi kefrustrasian dan kemarahan yang tak tahu harus diarahkan ke mana. Merampok kesejahteraan jiwa.. ;-)

Dan episode2 ini menyadarkan gw betapa beberapa menit tambahan, sebuah kesempatan kedua, adalah pelipur yang paling mujarab untuknya.

Mungkin gw menjadi sangat bisa menempatkan diri di cerita2 ini karena gw pernah mengalaminya. Waktu bapak meninggal, walaupun di satu sisi gw lega beliau terlepas dari rasa sakitnya, dan pasrah melepaskan beliau, rasa sesal itu tetap ada. Rasa sesal karena ada hari2 dimana gw merasa nggak sanggup berada di dekat beliau dan memilih menghindar daripada melihat kesakitannya. Rasa sesal karena di hari2 lalu tidak sanggup memenuhi hal2 kecil (dan besar) yang diinginkan beliau. Dan ketika keputusan2 harus diambil, begitu banyak kegamangan dan tanya; betulkah langkah ini yang harus diambil? Benarkah ini yg akan dipilih oleh beliau? Dan ketika kegamangan dan tanya itu tak terjawab, yang muncul adalah kefrustrasian dan kemarahan. Why? Why did you leave me? I cannot handle this alone.

Di masa2 itu semua orang bicara tentang merelakan. Jangan diberatkan jalannya. Supaya bapak jalannya lapang, nggak ada yang nggandholi. Semua bicara tentang amanah; tentang bagaimana sebaiknya mewujudkan harapan2 bapak di saat2 terakhirnya. Tapi.. begitu banyak tanya di kepala gw: Apa sebenarnya yang diinginkan oleh almarhum? Apa yang bisa membuatnya berjalan menyeberang dengan tenang? Tahukah beliau betapa menyesalnya gw?

I wished for the second chance then. I wished for a few more minutes with him. A few precious minutes; just enough to tell him how sorry I was and for him to tell what he needed me most to do. Gw gak berharap bisa memperbaiki yang lalu2, gak berharap kehidupan berulang dan bisa membuatnya lebih baik. Hanya beberapa menit tambahan, untuk melakukan hal2 kecil yang personal sebagai salam perpisahan.

Hehehehe.. egois ya? Memikirkan diri sendiri ya? Tapi mungkin emang benar bahwa sebenernya kalau ada seseorang yang meninggal, tangisan kita itu lebih untuk diri kita sendiri. Tampaknya itu adalah tangisan sedih karena kehilangan orang yg dicintai. Tapi.. deep down inside, mungkin itu adalah tangisan sesal dan mengasihani diri sendiri, karena harus hidup dengan satu harapan yg gak mungkin terpenuhi: beberapa menit tambahan yg bisa menghapus segala sesal dan ragu.

Karena, dalam kenyataan, gak ada kesempatan kedua seperti di Ghost Whisperer.. ;-)