Thursday, July 27, 2006

Everyone has a little Dirty Laundry

Jujurlah padaku
Atau pada ibuku
Yang dijual orang

(persilangan antara Jujur by Radja dan Hati Yang Luka by Betharia Sonata)

***

Baca curhatnya Zilko di sini, gw jadi punya dorongan untuk menjadikannya case study untuk dibahas.. ;-) Zilko menganalisanya sebagai suatu kebohongan untuk menutupi time management yang buruk. Tapi gw punya kemungkinan lain: penggunaan time management yang buruk untuk mengkamuflase alasan sebenernya.. ;-)

Hehehe.. kronologi aslinya baca sendiri ya! Gw hanya mau highlight bagian2 yg gw jadikan clue.. ;-)

Sekitar sebulan yang lalu dan sebelumnya, kalo aku dan temen-temenku mengajaknya untuk pergi jalan-jalan, dia pasti (gak selalu sih, tapi sekitar 85%) ngomong klo dia udah ada janji sama temen-temennya yang lain. Trus, 2 minggu yang lalu, aku ngajak dia mau nggak ikut pergi ke Solo tanggal 24 Juli. Dia bilang oke, tapi dia juga bilang klo dia mungkin nggak bisa pergi kalau ada hal-hal tak terhindarkan misalnya: dia harus pergi ke Singapore untuk perjalanan kesehatan, dia harus menghadiri upacara pemakaman, dsb. Oke, aku setuju.

Hari Sabtu kemarin (22 Jul), aku ngirim ke dia (sebut aja X) sms untuk mengingatkan dia tentang perjalanan hari Senin, tapi X nggak membalasnya. Jadi, aku misscall dia beberapa kali, tapi tetep saja nggak ada respon. Jadi, Minggu malam, aku nelpon X dan mengingatkanya tentang perjalanan besoknya. X ngomong: "Sorry, aku harus pergi sama temenku". APA!?!?!?!? Aku shock banget mendengarnya tapi aku mencoba untuk mendinginkan kepala dan mencari tahu alasannya (mungkin alasannya tuh salah satu dari hal-hal yang tak terhindarkan).

Hehehe.. see the pattern here?

Orang ini memang menghindar sejak awal. Pertama menghindar secara halus dengan bilang bahwa dia sudah ada janji setiap kali diajak pergi. Kalau diibaratkan Gunung Merapi, ini udah status AKTIF NORMAL. Kemudian, ketika terus2an menghindar, dan teman2nya masih ngajak dengan agenda yg masih 2 minggu ke depan, tentunya dia gak bisa lagi pakai alasan udah ada janji. Makanya dia pakai if condition, untuk membuat komitmen itu tidak terlalu kuat. Membuat komitmen yg longgar pada dasarnya adalah sebuah bentuk menghindar juga kan.. ;-)?  Di Gunung Merapi ini mungkin setara dengan status WASPADA.

Lanjut lagi, saat dikonfirmasi dia makin jelas menghindar. SMS tak berbalas, miscall tak berespons. Ini sudah bentuk yang lebih tegas dari dari penghindaran.. ;-). Tapi sayangnya masih dikejar juga sehingga terpaksa dia masuk ke layer yang lebih tegas lagi: bilang bahwa if condition yg diajukan ternyata tidak terpenuhi, sehingga dia harus membubarkan komitmennya. Sebagai pengamat, gw bilang ini adalah status SIAGA.

Susahnya, dia masih dikejar lagi, ditanya alasannya, sehingga dia masuk ke layer yang lebih tegas lagi: bikin alasan yang gak bisa ditawar2 walaupun kelihatan gak logisnya. Secara gak langsung dia menunjukkan bahwa dia emang gak mau aja ikutan pergi. Hehehe.. kalau di Gunung Merapi.. ini status AWAS kali ya? Hehehe…

Untung temen2nya berhenti di sini. Kalau masih nge-desak lagi, mungkin akhirnya bener2 keluar alasan yang sesungguhnya, alasan yang ingin (dan mungkin memang perlu) dia sembunyikan.. ;-) Dan sekali keluar, mungkin akan banyak korbannya.. ;-) Kalau Gunung Merapi.. ini sampai pada titik bener2 MELETUS kali ya… ;-)

***

Jujur, memang kadang gak mudah. Kalau motto-nya Desperate Housewives di Season 1 mah: everyone has a little dirty laundry. Laundry, alias baju cucian, walaupun bersih pun tidak pada tempatnya ditunjuk2an kepada orang lain. Apalagi dirty laundry, kan ;-)?

Kadang ini jadi dilema; kita gak pingin bohong, tapi juga ngerasa bahwa dirty laundry gak boleh ditunjukkan kemana2. Apalagi kalau dirty laundry itu menyangkut nama banyak orang. So, biar sama2 enak, pola menghindarlah yg dipakai. Nggak bohong, tapi juga gak sepenuhnya transparan. Harapannya? Moga2 orang cukup peka untuk meninggalkannya tanpa harus ngublek2 dan melihat pakaian kotornya.

Terus.. kalau kita ketemu orang seperti ini.. apa yg harus kita lakukan? Menghindar? Atau mengejarnya hingga mengungkapkan yang sebenernya?

Gak ada yang bener dan gak ada yg salah sih. Gak ada manualnya.. ;-) Tapi sebelum kita mengambil keputusan, kita mesti bertanya pada diri kita sendiri: apa yg mau kita lakukan selanjutnya? Kalau kita kira2 nggak mungkin membantu apa2.. ya mungkin sebaiknya kita menghindar ya? Jangan sampai mereka sudah berkorban banyak, sudah kita paksa menunjukkan dirty laundry-nya, for nothing. Tapi.. kalau kita merasa care, merasa mau membantu, gak ada salahnya juga untuk terus mengejar dan setelah itu berbagi beban dengannya.

Asal jangan ngejar2 dia menunjukkan dirty laundry-nya hanya untuk memuaskan keingintahuan kita. Sebagai teman, pikirkanlah kesejahteraannya, bukan kesejahteraan kita semata.. ;-)

Anyway.. kadang, yang seperti ini juga terjadi pada orang2 yang we care about. Pada teman, pada sahabat, pada pacar, pada pasangan hidup.. Dan kadang, walaupun kita bersedia berbagi beban dengannya, the people we care about tetap menghindar. Yaah.. kalau sudah gini sih mungkin memang ada saatnya kita berhenti mengejar. Menghindarlah seperti yg mereka inginkan. Give them privacy.. while ready anytime they need us to help with their dirty laundry.

Yang penting udah menunjukkan niat baik kita kan? Sudah menunjukkan usaha kan? Selanjutnya terserah pada kesiapan dan kepercayaan mereka pada kita untuk membagi dirty laundry-nya.

***

PS: kalau ada yg bingung baca komentarnya Zilko yang ini di posting sebelumnya, well, komentarnya itu mungkin lebih cocok ditaruh di posting yg ini.. hehehe.. ;-)