Friday, February 29, 2008

Buat Dji Sam Soe, Sebelum Dia Lahir

Sekitar 4 tahun lalu, seorang teman memutuskan ikut terbang ke Prancis saat usia kandungannya hampir 3 bulan. Teman itu memang aktif dalam suatu perkumpulan kesenian yang rutin tampil di luar Indonesia setahun sekali. Negaranya selalu ganti2, and I fully understood why she didn’t want to miss that particular opportunity. Prancis terlalu romantis untuk diabaikan begitu saja ;-)

Baru beberapa hari di sana, she lost her baby. Mungkin juga bukan karena perjalanannya sih, karena diagnosa kegugurannya adalah janin tidak berkembang dengan baik. Artinya, nggak terbang ke Prancis pun besar kemungkinan dia akan keguguran. Tapi, tetap saat itu membuat gw berpikir: kalau gw yang ada di posisinya, apakah gw berani ambil resiko kehilangan bayi?

Waktu itu gw berpikir2, dan dengan yakin gw memutuskan: tidak, gw tidak akan berani. Jalan2 bisa lain kali, tapi kalau bayi gw kenapa2.. apa gw nggak bakal menyesal seumur hidup?

Hampir setengah dasawarsa berlalu, dan tiba2 gw dihadapkan pada dilema yang sama. Membuat gw kembali berpikir: am I sure that I would not take her path, if I were in her position?

***

Akhir Maret - awal April ini gw bakal kesepian di kantor selama seminggu. Kantor gw dengan baik hati menghadiahi kami sebuah tur selama 4 hari ke Hong Kong Disneyland. Penghargaan atas ”kerja keras bagai kuda” selama setahun kemarin.. hehehe..

*Bilang sejuta terima kasih dulu sama kantor gw yang penuh pengertian ini ;-)*

But I will not join the parade, T_T. I will be left behind, T_T. Jaga kandang. Seperti Cinderella yang gak boleh ikut ke pesta istana, tapi bedanya nggak bakal ada Ibu Peri yang bisa mengubah labu menjadi pesawat terbang pribadi datang menghampiri gw.. HAHAHAHA..

Bukaaan.. bukannya kantor gw pilih kasih. Tapi.. memang nggak memungkinkan kalau gw ikut ke sana. Waktunya nggak tepat. Tiga minggu menjelang ETA Dji Sam Soe ke dunia, gw rasa gw juga bakal didepak sama maskapai penerbangan kalau berani nekad boarding ;-) Atau.. kalaupun cukup beruntung berhasil mencapai imigrasi Hong Kong, mungkin gw akan dideportasi ;-)

*eh, Hong Kong itu menganut ius soli atau ius sanguinis ya ;-)? Kalau masih ikut sistemnya UK sih ius soli ;-)*

Jadi, dengan berat hati, mesti gw lepaskan teman2 gw pergi. Soalnya nggak fair juga buat mereka kalau jalan2nya mesti nunggu si Mrs Tambourine Mom selesai melahirkan dan menyusui. Iya kalau menyusuinya cuma 6 bulan kayak Ima dulu.. lha, kalau sampai 2 tahun ;-)?

So.. logically, gw sangat bisa mengerti bahwa gw nggak boleh ikutan. Tapi.. emotionally, tetap aja ada rasa sedih dan teralienasi. Sedih juga melihat teman2 yang belum punya paspor bergantian ijin mengurusnya, sementara paspor gw yang ready to be stamped bakal nganggur, n_n. Teralienasi juga rasanya mendengar teman2 gw menyusun rencana foto2 narsis di sana. Mana tujuannya ke Disneyland, lagi! The last time I visited Disneyland was 21 years ago.. in 1987, waktu gw masih SMP. Udah lama banget yaks?

Dan.. tak pelak, gw jadi ingat kisah teman gw 4 tahun lalu itu. Jika waktunya bukan 3 minggu menjelang due date, gw masih hamil sekitar 4-6 bulan gitu (the prime time of pregnancy.. hehehe.. mual2 udah menghilang, tapi badan masih kuat seperti kuda Sumba untuk melakukan aktivitas fisik ;-)) apakah gw nggak bakal nekad ikut terbang ya?

Untuk pertama kalinya gw jadi bisa benar2 memahami – not only on the cognitive level, but also in the affective level – mengapa waktu itu teman gw nekad terbang.

***

Tapi nggak tahu juga ya, apakah gw akan berani terbang kalau gw dihadapkan pada dilema ini saat masih punya pilihan. Malah, gw harusnya senang dilema ini muncul saat pilihan yang harus gw ambil sudah pasti: nggak ikutan. Jadi.. gw nggak perlu repot2 mikir, panik, dan being indecisive.. HAHAHAHA.. Knowing myself, kalau gw dihadapkan pada dilema ini 3-4 bulan lalu, pasti keputusan gw adalah nggak berangkat karena takut kenapa2. Tapi.. habis itu, kalau udah pasti nggak kenapa2, bakal bete dan nyesel sendiri (dan mungkin uring2an juga ;-)) kenapa nggak berani ambil resiko.. hehehe..

Jadi.. ya sudah deh, diterima aja, bahwa ini bukan rejeki gw.. hehehe.. Walaupun berat hati ini, T_T. Kan Insya Allah diganti sama rejeki yang lain: mencetak hattrick untuk kategori beating the odds ;-) Dan siapa tahu, insya Allah, nanti rejeki yang luput kali ini bakal diganti dengan rejeki yang mirip. Misalnya aja, ternyata ntar2 kalau Dji Sam Soe gede, dia yg ngajak gw ke Disneyland ;-) Atau.. gw dapat kesempatan ikut The Amazing Race Asia bareng Dji Sam Soe.. hehehe..

*mulai berkhayal yang enggak2 untuk menghibur diri.. HAHAHAHA.. *

Anyway.. posting ini ditulis untuk Dji Sam Soe. Biar nanti2 kalau dia nakal bisa gw suruh baca dan gw bilangin, “Nih, Ibu udah nggak ikut jalan2 demi kamu! Jadi kamu jangan nakal2! Awas, kalau nakal2 terus, nanti Ibu format ulang!”.. HAHAHAHA..

Saturday, February 23, 2008

Istri Sexy: Lebih dari Sekedar Urusan Ranjang

Ini sebuah kabar gembira untuk cowok2 yang belum punya istri, sedang mikir2 untuk ganti istri, atau nimbang2 mau nambah istri ;-)

Sekarang... Anda semua memiliki justifikasi untuk mencari istri [baru] yang body-nya bak jam pasir, atau gitar Spanyol, atau istilah lokalnya “toge pasar” (=tok*t gede pan**t besar). Alasannya.. PERBAIKAN KETURUNAN, karena curvy mothers have brainier kids ;-)

Sumpah! Gw tidak sedang bercanda nih! Ini temuan terbaru yang pertama kali gw baca di Reader’s Digest Asia [edisi berbahasa Inggris] Februari 2008. Ada di halaman 64 ;-) Di situ dituliskan:

US research has found women with hourglass figures are more likely to be intelligent and to have brighter children, too. After examining data from 16,000 women and their children, researchers from the universities of Pittsburgh and California concluded that women with shapely hips and thighs scored higher on intelligence test than women with linear figures. Long-chain polyunsaturated fatty acids such as DHA, necessary for brain growth, are stored around the hips and thighs; the researchers believe carrying a little extra in these areas may be a good thing.

Tuh, kan, gw nggak bohong ;-)

Selanjutnya, seperti biasa, I did a little on-line research for that topic. Dan nemu beberapa literatur yang memperjelas lagi temuan tersebut. Rujukan paling OK sih dari 02318 Magazine, yang menuliskan pendapat Dr Steven Gaulin, seorang Evolutionary Psychologist dan professor of anthropology yang turut serta dalam penelitian ini:

“The brain is 20 percent fat,” says Gaulin. “And not just any old fat—not French-fry fat. The brain is made up of arachidonic acid and docosahexaenoic acid. These two fatty acids can’t be substituted; brains are literally built out of those two things, and women store those in the hips and thighs.” The more of this crucial material available to the developing brain, the better that brain should be. In a species experiencing such rapid neural growth as humans, where the demand for specialized fats is highest, “selection on women to acquire and store these fats and selection on men to recognize which women have more of them would be especially intense,” says Gaulin.

Jadi, tayangan iklan2 susu pertumbuhan di TV yang tanya, “Anak siapa sih?” dan dijawab, “Anak mama!” itu sudah on the right track. Memang ternyata yang berperan membuat anak2 jadi pintar itu ibunya.. hehehe.. alias lemak di pinggul dan paha ibunya yang berperan aktif dalam trimester ketiga kehamilan membentuk otak ;-) Give us some credit ya, bapak2 sekalian.. kalian tuh cuma nyumbang kromosom X atau Y aja untuk menentukan jenis kelamin, soal kepintaran... itu hak prerogatif ibunya... HAHAHAHAHAHA..

*senyum2 busuk sambil memperhatikan pinggul dan paha gw yang penuh lemak.. hehehe.. ;-) Moga2 berkah buat adiknya Ima ;-)*

Memang sih temuan ini masih punya banyak catatan untuk didiskusikan lebih lanjut. Misalnya saja.. apakah lemak2 di paha & pinggul itu punya perbedaan mutu. Maksud gw.. misalnya saja berapa besar kemungkinan seorang perempuan yang punya pinggul-paha ideal tapi kecerdasannya so-so aja akan menghasilkan brainy kids. Makanya, gw nggak sabar nunggu seorang artis yang bohay, berinisial N (itu lho.. bekas pacarnya P yang sekarang udah jadi suaminya J ;-)) punya anak untuk membuktikannya. Lebih bagus lagi kalau kita bisa bandingkan dengan anaknya seorang artis berinisial P yang suka “pusiiiinggg...”; yang body-nya rata tapi dari cara ngomongnya kelihatan cerdas ;-) Mana yang anaknya lebih brainy ;-)

Tapi untuk sementara, seandainya ini benar, maka cowok2 punya justifikasi untuk ganti pacar, atau poligami.. HAHAHAHAHA..

Untuk cewek2 yang nggak berbadan jam pasir.. jangan mati gaya ;-) Nggak perlu khawatir jatuh pasaran. Bedah plastik sekarang udah banyak kok! Mungkin sekarang dokter2 bedah plastik itu akan melayani juga suntik silikon di paha & pinggul, sesuai permintaan pasar. Tenaaaanggg.. pasti adaaaa aja cowok2 yang [masih] bisa ditipu dengan bedah plastik seperti ini. Untuk amannya sih, sebelum menjerat seorang cowok, lihat dulu bentuk tubuh ibunya. Kalau si calon ibu mertua itu bentuk badannya nggak kayak gitar Spanyol, lebih besar kemungkinan cowok ini cukup tidak cerdas untuk dijerat ;-) Soalnya, waktu dalam kandungan ibunya, dia tidak mendapat asupan lemak pembentuk otak yang cukup dari pinggul dan paha ibunya ;-)

As for me, ada satu pertanyaan usil yang pingin gw usulkan untuk diteliti selanjutnya. Yaitu: apakah insting laki-laki yang selalu tertarik melihat body2 sexy itu merupakan sekedar nafsu syahwat aja, atau sebuah mekanisme survival bawah sadar untuk menghasilkan keturunan unggulan ;-)?

Ada yang berminat melakukan penelitiannya ;-)?

Friday, February 22, 2008

Squib

Kalau dunia pendidikan itu seperti dunia sihir dalam saga Harry Potter, maka gw pasti termasuk kategori squib. Iya, squib, yaitu sama sekali nggak bisa nyihir walaupun lahir dari kalangan penyihir. Kebalikan dari yang disebut sebagai muggle-born, yaitu penyihir yang lahir dari kalangan muggle alias non-penyihir.

Gimana nggak pure-blood? Dari kedua belah pihak, keluarga gw isinya tenaga pengajar melulu ;-)

Dari 10 bersaudara di keluarga bapak, ada 2 orang yang mengabdi sebagai dosen hingga akhir hayatnya. Yang pertama Bude gw yang sulung, seorang sarjana Sastra Indonesia, yang melanglang buana mengajarkan bahasa nasional kita ini di berbagai universitas. Kebetulan Bude memang ikut suaminya, yang berpindah2 tugas di beberapa negara Eropa & Amerika, sebelum akhirnya menetap di New Zealand. Yang satunya lagi Oom gw yang nomor 4. Sejak lulus sekitar awal 70-an, beliau tetap setia mengajar di almamaternya hingga wafat akhir tahun 2006. Bapak sendiri juga sempat menjadi dosen di almamaternya sebelum hijrah ke Jakarta, dan di Jakarta pun sempat menjadi dosen tamu di berbagai universitas.

Mundur satu generasi, maka Eyang Putri (ibunya Bapak) adalah salah satu pemrakarsa pendirian Yayasan Pemeliharaan Anak & Bayi di Surakarta. Menurut sejarahnya, lembaga yang memelihara anak terlantar sekaligus menjadi institusi pendidikan non-formal bagi perawat anak ini bermula di garasi rumah Eyang di Jebres, Solo. Eyang Putri sendiri yang turun tangan mengajar semua calon perawat anak. Sementara Eyang Kakung, setelah tidak terlalu aktif lagi di kantor, mengisi masa tuanya sebagai dosen notariat di sebuah perguruan tinggi negeri di Yogyakarta.

Darah pendidikan yang kental juga muncul dari garis Ibu. Eyang Kakung (bapaknya Ibu) adalah seorang guru Sekolah Rakyat, yang pensiun sebagai Penilik Sekolah se-Jawa Tengah. Eyang Putri memang ibu rumah tangga biasa, namun.. menurut cerita adik2nya, beliau adalah orang yang mengajar Eyang Buyut Putri (neneknya Ibu) untuk belajar membaca/menulis huruf latin serta berbahasa Belanda. Maklum, Eyang Buyut Putri gw itu umurnya sepantaran dengan Ibu Kita Kartini, jadi tentunya tidak termasuk generasi yang mendapatkan manfaat dari gerakan emansipasi wanita ;-)

Ibu sendiri juga pernah jadi guru lho! Lantaran nggak boleh kuliah di luar Solo, sementara waktu itu Universitas Sebelas Maret belum berdiri, maka Ibu terpaksa masuk satu2nya perguruan tinggi yang ada di kotanya waktu itu: IKIP. Sempat mengajar beberapa waktu di sebuah SD di kawasan Margoyudan (Solo), sebelum akhirnya diboyong Bapak hijrah ke Jakarta.

Hehehe.. dengan garis seperti ini, bener kan, gw squib ;-)? Kalau keluarga gw seperti keluarganya Sirius Black, pasti nama gw udah dihapus dari pohon silsilah ;-)

***

Tapi.. sebagai squib, kadang2 sisi pure-blood gw menyeruak juga sih ;-). Yang jelas, gw itu kan orangnya sok tahu. Dan maunya ngebeneriiiiiin melulu pendapat orang lain ;-) Persis seperti ibu guru yang titi teliti. Yang jelas juga, gw selalu merasa terganggu kalau ada penyimpangan atau ketidakpasan dalam sudut ilmu pengetahuan. Seperti waktu Ima TK dulu, gw sering terganggu kalau ibu gurunya mengajarkan lagu anak2 yang syair/nadanya salah. Lantas, waktu Ima kelas I, gw pernah protes pada gurunya karena mengajarkan bahwa yang termasuk segi empat adalah empat persegi panjang dan bujur sangkar saja (belah ketupat, jajaran genjang, dan trapesium tidak termasuk). Gw juga bukan jago geometri sih, tapi.. bukannya definisi segi empat itu adalah bidang datar 2 dimensi yang memiliki 4 sisi ;-)? Setidaknya, salah satu komentar di situs ini sih mendukung pendapat gw ;-) Belum lagi soal pendidikan seks yang bikin gw agak eyel2an sama gurunya karena beda orientasi ;-)

Naah.. kasus terakhir yang bikin gw terganggu adalah soal Lomba Sains yang dikerjakan Ima minggu lalu.

Jadi, ceritanya, Sabtu pekan lalu (16 Februari 2008) Ima menjadi anggota kontingen sekolahnya pada Lomba Sains yang diadakan oleh Komik Sains Kuark. Pulangnya, Ima membawa serta soal yang tadi dikerjakan. Baru baca soal pertama aja, gw udah merasa terusik. Sebab, soal pertamanya berbunyi demikian:

Dari keempat hewan di bawah ini, manakah hewan yang jenis makanannya berbeda dari yang lain?

a. Kantong Semar

b. Katak

c. Lebah

d. Laba-laba

Nah, kalau pertanyaannya gini, jawabannya A atau C? Kalau dari segi makanannya sih yang paling beda memang lebah. Tapi.. setahu gw sih yang namanya Kantong Semar itu tumbuhan, bukan hewan ;-). Memang Kantong Semar itu makan serangga seperti katak dan laba-laba, tapi kategorinya bukan hewan. Jadi gw sih nggak bisa nyalahin kalau kemudian ada yang bingung dan nggak bisa jawab soal ini. Dan jangan lupa lho, Kantong Semar itu bukan cuma bisa makan serangga seperti Katak & Laba-laba, tapi bisa juga makan anak kodok (yang masih kecil dan lompat ke dalamnya), makan lebah, dan makanan2 lain yang nggak dimakan oleh 3 pilihan jawaban lainnya.

Kenapa sih soalnya harus menyebut ”dari keempat hewan”, kalau hewannya hanya tiga? Kenapa nggak disebut ”dari keempat mahluk” atau apa gitu? Kalau pertanyaannya begini, kan menyesatkan pengetahuan anak, hehehe.. Lha ngajarin Sains, tapi pemahamannya tentang kategori flora/fauna malah salah ;-)

Itu salah satu ”kesalahan bahasa” yang menurut gw fatal akibatnya terhadap pemahaman Sains anak. Masih ada beberapa kesalahan lain (yang nggak kalah fatal) di soal2 berikutnya. Makanya, begitu Ima nanya apakah boleh langganan Majalah Kuark, gw bilang mau gw pikir2 dulu. Bukannya apa2, kredibilitas majalah tersebut sebagai sumber ilmu pengetahuan langsung turun beberapa tingkat di mata gw.. hehehe.. Nggak mau juga gw bayar mahal2 untuk membuat anak gw sesat pengetahuan ;-)

***

Dipikir2, ada untungnya juga gw jadi squib ya? Ada untungnya buat anak2 gw maksudnya ;-)

Setidaknya, karena gw squib, nggak bisa mengajar, jadinya reaksi gw terbatas pada merasa terganggu aja. Coba, kalau gw bisa ngajar juga, bisa2 gw segitu nggak percayanya sama lembaga pendidikan di Indonesia dan anak2 gw semua ikut homeschooling aja ;-) Kan lagi nge-trend tuh di Indonesia ;-) Biar bisa gw pastikan bahwa semua informasi yang masuk adalah benar.. HAHAHAHAHA..

Eh, kira2, kalo gw bikin homeschooling, anak2 gw jadi tambah pinter atau enggak ya? Yang pasti tambah stres, soalnya gw kan bukan tipe guru yang sabar. Gw guru yang demanding.. hehehe.. Dan lagi gw termasuk yang setuju sama pendapatnya Daoed Joesoef tentang kemungkinan dampak negatif sistem ini pada kemampuan sosial anak2 (tautan aslinya sudah hilang, tapi untung ada yang meng-kopas-nya di sini)

Tuesday, February 19, 2008

The Last Block He Stumbles Upon

Gara2 baca shoutbox di friendster seorang teman (yang sebaiknya tidak disebut siapa ;-)), berupa kutipan Elie Wiesel yang persis seperti di posting ini, gw jadi baca2 lagi posting itu. Terus.. loncat ke blog-nya Hans yang tertaut di situ, dan baca komentar gw di posting Hans tentang winning ini. Jadi deh.. muncul emotional push untuk mempublikasikan draft yang tadinya udah mau pindah ke recycle bin karena basi ;-)

Well.. ini cerita lain tentang winning. Dan tentang The Amazing Race Asia 2.

***
With all the odds in their favor, it just came as a terrible shock to accept that my Tanguy & Laverdure in reverse has lost. Track record mereka sangat meyakinkan: dari 11 babak, mereka 8x menduduki tempat pertama (tujuh di antaranya berurutan), dan 3x menduduki tempat kedua. Menduduki tempat ketiga pun mereka tak pernah.

.. kecuali pada babak terakhir, babak final, The Amazing Race Asia 2. Dimana tampang mereka akan terpampang abadi sebagai sekedar pemenang ketiga. Apes bener... sekali2nya di posisi ketiga, kok pas kebetulan di babak terakhir yang pesertanya tinggal 3 ;-)

Sampai tantangan terakhir, my T&L-in-R masih memimpin. Mendarat di Singapura, lokasi tempat babak terakhir berlangsung, mereka langsung menderap (eh, menggelinding deh, soalnya naik taksi, bukan naik kuda ;-)) menuju Patung Raffles. Kemudian, mereka langsung menggelinding lagi ke Tanjong Beach di Sentosa Island, untuk menyelesaikan tantangan (roadblock, it is) terakhir. Jauh meninggalkan kedua pesaingnya.

Tapi.. sampai di Tanjong Beach, the disaster began n_n.

Roadblock adalah tantangan yang hanya dapat dilakukan oleh salah satu anggota dari team yang terdiri atas 2 orang ini. Masing2 anggota team hanya boleh maksimal mengerjakan road block sebanyak 6x sepanjang pertandingan. Dan Marc, the Laverdure-outside-but-Tanguy-inside, baru saja menghabiskan kuotanya pada babak sebelumnya. Tinggallah Rovilson, the Tanguy with Laverdure’s trait, yang harus mengerjakannya. Entah scripted atau tidak, tantangan terakhir ini kok ya ”nggak Rovilson banget”. Marc, the other half of this team, langsung frustrasi melihatnya.

Rovilson, he says, is not ever good with flags. Explains Marc, "It's very frustrating to watch this, especially when you know the flags and see your teammate picking the wrong one."

"I have seen the flags come up for countries that we haven't been to and it was a little frustrating. But I know it must have been so much more frustrating for Rovilson."

"That's the Australian flag you idiot," he says to himself, as Rovilson pulls the wrong flag from the pile.

(Cerita komplit ada di sini)

Dan cerita berakhir di sini, n_n.

Adrian Yap, dari team Singapura, tunarungu yang punya 2 gelar sarjana (eh, atau malah Master ya? Entar gw cek di Reader’s Digest Asia bulan lalu dulu deh ;-)), bak ninja yang melemparkan senjata rahasia: meraup sepuluh bendera dan.. zap.. zap.. zap.. memancangkan bendera2 itu di tempatnya. Correct answer. Dan melengganglah tim Singapura menuju finish line. Diikuti duo cantik favoritnya Dodol: Pam & Van dari Malaysia. Sementara Marc Nelson & Rovilson jadi tim terakhir yang memasuki garis akhir, T_T.

***
Kata bapaknyaima (yang selalu nggak bisa paham kenapa gw jadi banci reality show), yang begitu2 pasti scripted lah! Walaupun tanpa skenario yang pasti, tapi dikondisikan untuk memperbesar kemungkinan kemenangan/kekalahan suatu kontestan. Dengan memperhatikan kelebihan/kekurangan masing2 kontestan, lantas kemudian menciptakan suatu kondisi yang secara hipotetis memperbesar probabilitas terjadinya suatu hasil akhir yang diinginkan. Apalagi, akan lebih dramatis jika underdog team, apalagi underdog team yang beranggotakan tunarungu, memenangkan pertandingan melawan alpha male team.

(BTW, Zil, inget nggak gw pernah ngebahas ini juga pas ngomongin Penghuni Terakhir di sini? Duluuuuuu banget ;-). Emang gw sama bapaknyaima sejiwa.. hehehe.. jodoh kali ya? HAHAHAHA.. Atau jangan2 bapaknyaima nyontek gw? Hmmm.. ntar deh gw kupas tuntas ;-))

Tapi dengan mengesampingkan kemungkinan scripted, gw tertarik sekali dengan fenomena kekalahan the alpha male team ini. Betapa kadang kerikilpun cukup untuk membuat raksasa jatuh. Iya, seperti Allan Wu, the host, bilang, “You [Marc & Ro] race well the whole legs. No other team can even come near your caliber team”. Tapi tetap saja.. sebuah “kerikil kecil” sealed their fate. Atau kalau pinjam kata2 Allan Wu lagi, “But it all came down with one road block.. “

Iya, ya, memang yang namanya nasib itu nggak pernah bisa dipastikan. Mau usaha sekeras apa pun, kalau memang bukan rejekinya, ya pasti adaaaaa aja yang bikin rencana berantakan. Dan seringkali, yang bikin berantakan itu sesuatu yang kecil banget, yang sepele, yang nggak diduga. Jadi inget juga cerita tentang tentara gajah yang dikalahkan oleh pasukan burung yang masing2 membawa sebutir kerikil. Mungkin dari situ ya, ide bahwa kalau anak2 suit tuh gajah (=jempol) kalah lawan semut (=kelingking)? Dan mungkin dari situ juga ya, salah satu adegan dalam buku/film The Chronicles of Narnia: The Lion, the Witch, and the Wardrobe menunjukkan burung2 yang menjatuhkan kerikil untuk mengalahkan pasukannya si penyihir diilhami?

Yang tak kalah menariknya juga adalah bagaimana Marc menghadapi blunder yang dilakukan Rovilson dalam tantangan terakhir itu. Frustrated as he was, he did not blame his teammate. Not at all. Pun ketika akhirnya mereka menjadi tim terakhir yang meninggalkan arena menuju garis akhir; menjadi tim juru kunci. Tetap, mereka berdua menginjak garis akhir sebagai tim yang solid, sambil berlari mengibarkan bendera Filipina di tangan.

Alasannya? Dalam wawancara di pesta penutupan TARA-2, Marc yang mengatakan demikian:

.. We have said in the beginning that everything we do, we do it as a team..

(Komplitnya bisa dilihat di sini)


I wish I could be a little bit like Marc.. ;-)

Orang2 bisa bilang bahwa itu cuma lip-service seorang bintang jaim saja. Marc bisa begitu karena dia – sebagai model profesional dan pembaca acara TV - sudah terbiasa di depan kamera dan tahu bagaimana jaga image. Still.. lip-service atau bukan, menurut gw nggak mudah berlaku seperti itu.

And for that alone, I can admire him.. and inspired by him. Or more accurately: inspired by the two of them.

Yah.. faktanya adalah mereka hanya memenangkan tempat ketiga. Juru kunci. Dan seperti beberapa orang bilang: ”Who cares about the small winner? It is the grand winner they always care about”. Ingin gw menimpali dengan: “Who cares about the small winner who wins 8 out of 12 legs, and only stumbles on the last task? Why, of course, the people who cares about the PROCESS, not merely the END RESULT” ;-)

Mengutip tulisan gw sendiri di blognya Hans itu: “Kemenangan baru manis jika kita dapatkan melalui perjuangan keras dari pesaing yg seimbang". Tapi sekarang gw bisa nambahin kata2 seperti ini: “Kekalahan pun tetap manis jika kita dapatkan setelah melalui perjuangan keras”. Dan the last block he stumbles upon adalah jalan untuk membuktikan itu; melalui bagaimana mereka bersikap dalam menerimanya. Ah… so sweet, n_n

---
PS: Makasih juga buat Zilko atas tayangan Rovilson’s b*tt. Sexy juga.. hehehe.. Tapi gw malah paling suka bagian dimana Rov hugs Van ;-). Heran gw, kenapa ya, peserta reality show yang jadi favorit gw selalu dapat ”bonus” di akhir acara: dapat pacar ;-) Dari AFI-2, Penghuni Terakhir-2, dan sekarang.. The Amazing Race Asia-2. Jangan2 gw ini Dewi Cinta yang mengejawantah ke bumi ya.. HAHAHAHA..

PPS: sekedar glossary aja buat yang mengira gw salah ketik.. hehehe.. n_n itu dibacanya ”mata berkaca2”, sementara T_T itu artinya ”nangis tersedu2”. Courtesy of teman2 remaja gw di sini :-)

Thursday, February 14, 2008

The Inqilabi Girl

Being pregnant cost me some intellectual capacity.. hehehe.. gw jadi lemot, ketinggalan buku2 bagus terbaru, dan kemampuan gw membaca menurun.

Saking lemotnya, gw baru tahu A Thousand Splendid Suns (awas spoiler!) sudah terbit bebeberapa bulan yang lalu. Itu pun gara2 Iwan casually nanya apakah gw sudah baca ;-) Buru2 deh gw ke Kinokuniya PS, dan.. ternyata.. bukunya sudah habis! Akhirnya lari ke Periplus di lantai yang sama. Untungnya masih ada 1 copy yang tersisa, dan sudah dikorting 20% saking nggak laku2. Blessing in disguise ;-)

Buku kedua Khaled Hosseini ini memang nggak rugi untuk dikejar dengan usaha keras. Buku ini berkisah tentang kehidupan dua orang wanita dari dua generasi yang berbeda, dan dari lingkungan yang berbeda pula. Hanya saja, melalui persilangan jalan yang serba kebetulan, keduanya terikat dalam satu jalinan nasib. Yang satu Mariam, Cinderella-in-reverse, yang nasib buruknya berubah menjadi malapetaka. Lahir sebagai anak di luar nikah dari seorang pria kaya beristri tiga, Mariam segera dicarikan jodoh oleh ketiga ibu tirinya sepeninggal ibu kandungnya. Namanya juga Cinderella-in-reverse, maka suami Mariam bukanlah pangeran berkuda putih, melainkan a bully misogyny bergigi kuning ;-).

Sementara yang satunya lagi, Laila, adalah seorang gadis Afghanistan kota besar yang dibesarkan dalam masa penjajahan komunis Sovyet. Masa2 dimana derajat manusia di Afghanistan ditentukan oleh orientasi politiknya (pro vs kontra revolusi), bukan oleh jenis kelaminnya. Lahir dari keluarga terpelajar dan moderat, Laila kecil dididik untuk berani berpikir, bicara, dan bersikap bebas. Perjalanan hidup Laila berubah ketika kehilangan seluruh keluarga akibat bom dalam perang saudara antar faksi2 pemerintahan Mujahidin, setelah Sovyet angkat kaki dari Afghanistan. Karena satu dan lain hal (nggak mau kasih spoiler ;-)), Laila terpaksa menerima pinangan Rasheed – yang tak lain tak bukan adalah suami Mariam, si bully misogyny bergigi kuning tersebut.

Dan dari situlah nasib mereka berdua terjalin. Kisah yang mengharukan, tentang bagaimana perubahan iklim politik mempengaruhi masing2 individu dalam budaya tersebut. Seperti yang disebutkan dalam sinopsis di sampul belakang: It is a tale of two generations of characters, brought jarringly together by the tragic sweep of war, where personal life – the struggle to survive, raise a family, find happiness – are inextricable from the history playing out around them.

Walaupun Laila mendapatkan bagian penceritaan yang sama banyaknya, sebenarnya fokus cerita ini tetap Mariam. Kehadiran Laila adalah sebuah batu injakan untuk akhir kisah hidup Mariam, yang dianalogikan dengan manis sebagai a legitimate end to a life of illegitimate beginning (hal.329). Namun, buat gw pribadi, tokoh Laila di sini lebih menarik perhatian daripada the lady of the show, Mariam.

Gw dengan mudah merasa connected dengan Laila karena kesamaan latar belakang keluarga. Dan karenanya, gw tidak bisa membayangkan jika hidup gw berubah 180 derajat seperti Laila dalam pemerintahan Taliban: suddenly gw [sebagai perempuan] terbatasi segala haknya.

Attention women:

You will stay inside your home at all times. It is not proper for women to wander aimlessly about the streets. If you go outside, you must be accompanied by a mahram, a male relative. If you are caught alone on the street, you will be beaten, and sent home.

You will not, under any circumstance, show your face. You will cover with burqa when outside. If you do not, you will be severely beaten.

Cosmetics are forbidden

Jewelry is forbidden

You will not wear charming clothes.

You will not speak unless spoken to.

You will not make eye contact with men.

You will not laugh in public. If you do, you will be beaten,

You will not paint your nails. If you do, you will lose a finger.

Girls are forbidden from attending school. All schools for girls will be closed immediately.

Women are forbidden from working

(hal. 248 – 249)

Kalau itu terjadi di Indonesia, gw cuma punya dua pilihan: bunuh diri, atau dipukuli Taliban sampai mati.. hehehe.. Eh, ada pilihan ketiga dan keempat sih: jadi gila, BARU bunuh diri atau dipukuli Taliban sampai mati ;-)

Dipaksa pakai burqa saja sudah membuat gw bakal tersiksa, mengingat gw nggak tahan kepanasan dan keringetan. Apalagi nggak boleh baca, nggak boleh nonton TV, nggak boleh sekolah, nggak boleh kerja, nggak boleh keluar rumah.. bahkan ketawa pun nggak boleh! Terus.. apa jadinya hidup gw kalau nggak boleh jalan2 sendiri tanpa muhrim, lha wong nggak boleh nyetir sendiri selama hamil pun sudah membuat diri gw menderita ;-)

Dan gw benar2 kagum pada tokoh Laila yang survive dari segala kekejaman ini. Before her life turned upside down, Laila never would have believed that a human body could withstand this much beating, this viciously, this regularly, and keep functioning, demikian kata sang penulis di halaman 287. Before I read your story, Laila, I never would have believed that a human SANITY could withstand this much, and keep functioning, itu kata gw ;-).

Ya, Laila menjadi lebih menarik daripada Mariam, karena gw bayangkan bahwa penderitaan (mental)nya jauh lebih besar daripada si tokoh utama. Sama2 mengalami penderitaan fisik dan mental, sejak kecil Mariam sudah diajar oleh ibunya untuk menerima bahwa “Like a compass needle that points north, a man’s accusing finger always finds a woman. Always” (hal. 7) dan “It’s our lot of life, Mariam. Women like us. We endure. It’s all we have.(hal. 18).

Ya, Mariam memang menderita. Tapi setidaknya sejak kecil she knows what fate will come. Bandingkan dengan Laila yang tidak dipersiapkan untuk mengalami keadaan seperti ini. Seorang gadis yang sejak kecil digadang2 oleh ayahnya:

Marriage can wait, education cannot. You can be anything you want, Laila” (hal. 103)

***

Yang tak kalah menariknya, adalah kata2 ayah Laila menyikapi pendudukan Rusia di Afghanistan:

Women have always had it hard in this country, Laila, but they’re probably more free now, under the communists, and have more rights than they’ve ever had before” (hal. 121)

Hmm.. sangat menarik. Selama ini gw dibesarkan dalam konsep bahwa komunis itu adalah sesuatu yang buruk. Nggak ada baik2nya. Gimana enggak.. hehehe.. gw kan angkatan yang masih dipaksa nonton film ”Janur Kuning” dan ”Pemberontakan G-30-S/PKI” setiap tahun ;-) Menarik bahwa ternyata di budaya yang berbeda, situasi yang berbeda, manusia yang berbeda, komunisme adalah sebuah berkah ;-)

”Of course, women’s freedom is also one of the reasons people out theretook up arms in the first place.”

By “out there”.. [he] meant the tribal areas, especially Pashtun regions in the south and in the east near the Pakistani border, where women were rarely seen on the streets and only then in burqa and accompanied by men. He meant those regions where men who live by ancient tribal laws had rebelled against the communists and their decrees to liberate women, to abolish forced marriage, to raise the minimum marriage age to sixteen for girls. There, men saw it as an insult to their centuries-old tradition, to be told by the government – and a godless one at that – that their daughters had to leave home, attend school, and work alongside them.

(hal. 121)

Seperti buku pertamanya, The Kite Runner, Khaled Hosseini benar2 berhasil menyentuh hati para pembaca, dan membuat kita menyadari betapa tipis antara yang benar dan yang kita anggap benar. Antara yang benar dengan feel insult karena disalahkan. Walaupun dengan cara dan sudut penceritaan yang berbeda; dalam The Kite Runner ia mengambil sudut psikologis seseorang yang merasa bersalah (dengan perubahan politik sebagai latar belakang cerita), sementara dalam A Thousand Splendid Suns ia mengambil sudut sosiologis perubahan politik Afghanistan yang tak kunjung selesai, dengan mengambil hidup dua wanita sebagai latar belakangnya.

Either way, Khaled Hosseini is a damn good writer!

Kalaupun ada kekurangan, itu adalah kecenderungan Hosseini untuk “manjang2in” cerita. Seperti The Kite Runner yang memaksakan happy end dengan Amir yang mengambil anak Hassan untuk diasuh, dalam buku ini Hosseini juga memaksakan happy end dalam beberapa lembar terakhir bukunya. Well, mungkin memang Hosseini-agha punya bakat untuk bikin sinetron seperti bapak2 di Multivision itu.. hehehe.. Tapi setidaknya, walaupun dipanjang2in, ceritanya begitu nyata dan insightful. Beda sama sinetron yang “cuma” dipanjang2in doang.

***

BTW, inqilabi girl itu artinya adalah “gadis revolusi”. Itu nickname Laila, karena dilahirkan pada malam dimana Sovyet mulai memasuki Afghanistan.

Thursday, February 07, 2008

When the Smoke is Going Down

Di salah satu baterai tes psikologi tuh ada pertanyaan yang kira2 bunyinya: Apa yang akan Anda lakukan jika Andalah orang pertama yang menyadari adanya kebakaran di gedung bioskop yang penuh orang?

Eh, selama bertahun2, gw mikirin lho.. apa yang akan gw lakukan kalau mengalami kejadian seperti itu.. hehehe.. Dan gw sibuk mempersiapkan Plan A, Plan B, Plan C untuk mengatasinya. Tapi.. akhirnya gw baru dapat kesempatan menjalankan rencana gw hari Kamis, 24 Januari 2008 yang lalu, ketika ada kebakaran di kantor gw ;-)

Pada hari itu, sekitar jam 10:30, tiba2 ada pengumuman dari pihak GA bahwa kami semua diminta turun ke lobby, dengan membawa barang berharga seperlunya, karena ada kebakaran di gedung kami. Lokasi kebakaran dan penyebab pastinya sih belum ketahuan, tapi yang jelas 3 lantai terbawah dan [surprisingly] 2 lantai teratas sudah penuh asap. Untuk amannya, seluruh penghuni akan dievakuasi.

Setelah memastikan bahwa ini bukan salah satu “latihan” yang menyebalkan itu, gw pun lantas menjalankan rencana darurat yang sudah gw pikirkan bertahun-tahun yang lalu, yaitu:

1. Jangan panik! Kemasi barang-barang berharga yang seringkali tergeletak di meja: HP (checked), PDA (checked), iPod (checked), charger HP (checked, penting banget, jangan sampai nggak bisa dihubungi karena low-batt dalam kondisi darurat begini)

2. Hibernate laptop, masukkan ke tas, bersama kabel, adaptor, dan mouse cantik hadiah ultah dari suami tercinta. Apa pun yang terjadi, jangan biarkan laptop yang sudah didapat dengan susah payah pakai nangis darah ini tertinggal di gedung yang terbakar.

3. Bawa tas berisi barang berharga dan laptop keluar, kunci pintu ruangan. Penting banget untuk mengunci ruangan, karena kita nggak bisa jamin tak ada orang yang cari kesempatan dalam kesempitan; lha wong rumah gw aja pernah hampir kemalingan ketika jenazah Bapak sedang dipersiapkan dibawa ke bandara kok! Yang mau nyolong itu pura2 jadi pembawa krans, tau2 udah masuk rumah!

4. Turun lewat tangga darurat! Jangan coba2 lewat lift, walaupun lift belum dimatikan. Bahaya banget kalau lift tiba2 dimatikan ketika kita masih di dalamnya dan gedung terbakar. (Psst.. syukurlah kantor gw cuma di lantai 5, jadi turunnya nggak terlalu capek. Bayangin gimana coba kalau Mrs Tambourine Mom harus turun - misalnya - 18 lantai.. hehehe.. menggelinding aja kali ya?)

5. Segera cari taksi untuk menuju mall terdekat. Lebih baik menunggu di tempat yang nyaman sampai keadaan aman terkendali. Pilihan gw: Setiabudi One, biar bisa makan siang sekalian sambil browsing via WiFi dan nyambi kerja ;-)

6. Beberapa meter sebelum Setiabudi One, siapkan uang untuk membayar taksi. Naaah.. now you can be panic, karena ternyata DOMPET tidak termasuk barang berharga yang dicek sebelum turun ke lobby ;-)

Hehehe.. iya, rencana bertahun2 yang gw susun ambyar di langkah ke-6, karena “sedikit keteledoran” pada langkah pertama: lupa memastikan bahwa dompet masih berada di tas ;-) Gw terlalu fokus pada benda2 berharga lain yang biasanya suka gw letakkan di meja kerja untuk mempermudah akses, sampai2 lupa bahwa ketika datang ke kantor dompet itu gw jinjing di tangan (karena habis bayar taksi). Dan karena gw bawa di tangan, dompet itu kemudian gw letakkan di meja kecil di samping meja kerja gw. Jauh dari tas, jauh dari gadget yang lain ;-)

So.. moral of the story-nya: nggak perduli betapa hebatnya persiapan Anda, a disaster is still a disaster.. hehehe.. pasti ada aja hal yang kelupaan, hal yang nggak sempurna. Never be so sure of anything ;-)

Akhirnya.. gak jadi deh gw menikmati makan siang sambil browsing ;-) Yang ada taksi gw suruh balik ke kantor yang terbakar itu, sambil sibuk menelepon teman2 gw minta kucuran dana buat bayar taksi.. hehehe.. Terpaksa cukup puas duduk berpanas2 di luar gedung, sampai menatap kepulan asap yang menyelinap keluar dari lantai 1-3 ;-) Habiiisss... mosok gw mesti menggadaikan salah satu gadget gw untuk bayar taksi dan makan siang? Nggak banget deh.. hehehe.. ;-)

Untung.. nggak sampai 2 jam kemudian, ketahuan bahwa sumber kebakarannya kecil saja: ada kabel yang korslet di lantai 3, namun segera dapat diatasi dan dipadamkan. Cuma asapnya aja yang heboh ;-)

Anyway.. judul postingnya When the Smoke is Going Down. Itu dipinjam dari salah satu lagu band favorit gw: Scorpions. Gw suka lagunya, tapi sebenernya dari sisi syair sih nggak nyambung sama tulisan ini.. hehehe.. Cuma nyambung judulnya doang: gw baru tahu lho, bahwa asap tuh bisa going down ;-) Kebakaran di lantai 3, asapnya heboh di lantai 1-3, sementara lantai 4 – 12 nggak kenapa2. Dulu gw kira asap selalu membumbung ke tempat yang lebih tinggi, sementara yang going down itu air. Ternyata asap juga bisa going down ya? Jadi Scorpions nggak lagi sok puitis filosofis waktu nulis syair itu ya.. hehehe..

Saturday, February 02, 2008

Si Jago Nge-Bluff

Kemarin, sambil menikmati terjebak banjir selama 4 jam, di daerah Kemayoran yang – swear – nggak ada asyik2nya acan, gw mencoba menghibur diri sendiri. Bacaan gw udah habis, lagu di iPod juga udah entah berapa kali mengulang, sehingga gw mulai ngobrak-abrik bacaannya Teguh, si pengendara mobil kantor. Nemu free magazine-nya Indosat, M+, edisi hampir setahun lalu yang gw tengarai dibawa2 Teguh lantaran sampulnya bergambar Ju-Pe (baca: Julia Perez, buat yang pingin tahu si JuPe, browsing sendiri ya.. gw gak berani kasih link ;-)). Iseng2 gw baca. Eeeeh.. di sana ada sebuah artikel hasil wawancara dengan seorang SKuTer (baca: Selebriti Kurang Terkenal) yang bikin minat menyilet gw ON ;-)

Alkisah, si SKuTer berinisial E-D-I-S-O-N ini mengatakan bahwa:

“Ponsel itu ibarat nyawa kedua. Jadi harus selalu diperbarui, supaya mood kerja smooth. Makanya jangan heran kalau tiap bulan HP gue ganti-ganti. Soalnya, sebulan itu buat gue udah lama banget, gue nggak mau dibilang ketinggalan teknologi terbaru

Waaah.. baca kalimat itu, awalnya gw langsung tertarik! What a techie guy! Gw tuh kalau sebulan baru fasih lho, ngutak-atik teknologi anyar di gadget terbaru gw! Malah kadang sebulan nggak cukup. Eeeh.. ini ada orang yang sebulan udah merasa harus ng-update teknologi lagi!

Tapi langsung turn off deh gw begitu baca paragraf selanjutnya:

Tertarik untuk coba 3G? “Kayaknya males, soalnya nanti kalau ditelepon pacar, gue nggak bisa bohong, hahaha. Bilangnya lagi syuting, nggak tahunya gambar belakang diskotik. Iya kan, kalau pakai 3G kan yang nelepon bisa melihat kita secara langsung. Makanya gue males pakai yang begituan”

Huh? Ditanyain 3G, kok jawabannya tentang video call sih? Emang sih.. kalau pakai 3G, sebagai salah satu keuntungannya adalah memungkinkan kita memanfaatkan fasilitas video call. Tapi.. 3G kan bukan cuma buat video call? Yang jelas, 3G itu teknologi yang memungkinkan transfer data yang lebih efisien, karena menawarkan higher data rates at lower incremental cost than 2G. Itu kata kuncinya, bukan bisa/nggak saling melihat jika sedang telepon2an.

Yaah.. jawaban ini nggak aneh kalau keluar dari orang yang gaptek. Tapi.. considering dia baru saja cuap2 bahwa “sebulan itu udah lama banget” dan “nggak mau dibilang ketinggalan teknologi terbaru” dalam satu tarikan nafas yang sama, gitu loh!

Selanjutnya si SKuTer itu bilang lagi:

“Apalagi yang namanya GPRS, nggak penting banget! Udah biayanya mahal, koneksitasnya lama”

Gw jadi bertanya2.. sebenernya dia beneran ngerti teknologi atau enggak sih? Nggak mau dibilang ketinggalan teknologi terbaru, tapi kok pengetahuan teknologinya jauh lebih parah daripada ibu2 kayak gw ya? Hehehe.. Udah nggak ngerti 3G, sekarang bicara tentang GPRS seolah2 itu adalah teknologi yang berbeda jenis dengan 3G lagi ;-) Ya emang, kalau udah pakai 3G, yang namanya GPRS itu bisa dibilang nggak terlalu penting. Lha wong GPRS itu sekelas di bawah 3G kok.. hehehe.. Tapi, secara dia bilang nggak tertarik pakai 3G, kirain dia masih mau pakai GPRS gitu ;-).

Jadi, sebenernya, dia ganti2 HP tiap bulan buat apaan sih, kalau nggak ngerti teknologinya? Keingintahuan gw terjawab di paragraf selanjutnya:

“Dari ponsel, fitur yang paling sering gue pakai MP3. Kalau SMS jarang, gue lebih suka nelepon langsung”

Hehehe.. untuuuuungggg... gw bukan wartawan M+. Kalau gw wartawannya, sampai di sini pasti tuh SKuTer gw silet dengan tajam ;-) Udah sesumbar ganti teknologi setiap bulan biar nggak ketinggalan, ternyata yang dibilang teknologi di HP “cuma” masalah MP3. Kalo gitu ngapain ganti2 HP tiap bulan? Mendingan ganti iPod aja tiap bulan ;-) Tuh.. pakai iPod touch yang bikin air liur gw keluar tak henti2 ;-)

Eh, tapi nggak worth it juga kali ya, kalau dia pakai iPod touch.. hehehe.. Kan cuma buat MP3 ;-). Ntar malah dia terganggu dengan fasilitas maps-nya. Soalnya nanti dia nggak bisa bohong, bilangnya lagi syuting, nggak tahunya dari map ketahuan dia lagi di diskotik.. HAHAHAHAHA..

*eh, nggak mungkin ya? Itu kan hanya mungkin terjadi kalau iPod touch ada GPS-nya, dan si pacar pakai gadget yang bisa track GPS juga ;-) Tapi.. siapa tahu si SKuTer itu mikirnya sampai ke sini. Mungkin aja dia pikir GPS itu sejenis GPRS kan.. HAHAHAHA.. *

Hehehe.. gini ya, gw tuh bukannya mau ngetawain orang2 yang gaptek. Menurut gw gaptek atau tidaknya seseorang itu sangat tergantung pada MINAT dan KESEMPATAN. Punya minat pada teknologi, tapi nggak punya kesempatan, ya orang bisa gaptek. Punya kesempatan tapi nggak punya minat, ya orang bisa gaptek juga.

Cumaaa... gimana ya... gw paling alergi sama orang yang nge-bluff. Contohnya, ya seperti bilang gonta-ganti HP tiap bulan karena “sebulan tuh udah lama banget” dan “nggak mau dibilang ketinggalan teknologi”, tapi ternyata nggak ngerti apa2 tentang teknologi. It’s es-ti-yu-pi-ai-di deh ;-) Kalau ganti HP tiap bulan cuma buat gaya, bilang aja buat gaya ;-) Nggak usah sok sophisticated bilang supaya nggak ketinggalan teknologi. Otherwise, kalau udah mau nge-bluff membentuk citra techie, ya usaha lah untuk kelihatan credible.. hehehe.. Jangan kemudian nggak bisa mbedain GPRS, 3G, dan video call ;-)

Yaaah.. tapi memang di dunia ini yang bisa berhasil itu orang2 yang suka nge-bluff kali ya? Selain si SKuTer ini, ada juga jago nge-bluff lainnya yang kemarin punya andil bikin hidup gw susah. Itu lhooo.. yang waktu kampanye sesumbar “Serahkan pada Ahlinya”, dan ternyata cuma ahli ngeles doang.. hehehe.. Waktu ditanyain masalah banjir cuma bisa ngeles bahwa, “Memang tidak ada solusi cepat untuk mengatasi banjir”, terus diam aja nggak berusaha cari solusi tidak cepat ;-) Akibatnya, baru juga banjir gede tgl 3 Februari 2007, tanggal 1 Februari 2008 udah banjir lagi ;-)

Heran deh, belajar planologi jauh2 sampai ke Jerman, ternyata cuma jago ngeles doang kalau ditanyain perencanaan kota.. hehehe.. Dan tetap aja memimpin kota dengan planless ;-)

***

Tambahan nggak penting.. ;-) Ngomong2 soal nge-bluff ini, jadi inget sebuah lagu jadul, sekitar tahun 70-an, yang judulnya Si Jago Nge-bluff Mogok. Lupa siapa penyanyinya, tapi syairnya begini:

Kawanku punya mobil mewah
Diajaknya ‘ku pergi keliling kota
Dan tiba-tiba mogok di jalan
Pulangnya jalan kaki berdua

Si jago nge-bluff mogok
Nama yang kuberikan
Keluar bengkel
Sebulan masuk lagi

Kata kawanku,
“Jangan gitu ah, namanya!”
Dengan alasan
Bapaknya nanti marah

Kalau mobilnya dilihat sebagai fokus, memang judulnya si jago mogok. Tapi kalau fokusnya si teman yang [ngakunya] punya mobil mewah, judulnya jadi si jago nge-bluff kan ;-)?