Tuesday, February 19, 2008

The Last Block He Stumbles Upon

Gara2 baca shoutbox di friendster seorang teman (yang sebaiknya tidak disebut siapa ;-)), berupa kutipan Elie Wiesel yang persis seperti di posting ini, gw jadi baca2 lagi posting itu. Terus.. loncat ke blog-nya Hans yang tertaut di situ, dan baca komentar gw di posting Hans tentang winning ini. Jadi deh.. muncul emotional push untuk mempublikasikan draft yang tadinya udah mau pindah ke recycle bin karena basi ;-)

Well.. ini cerita lain tentang winning. Dan tentang The Amazing Race Asia 2.

***
With all the odds in their favor, it just came as a terrible shock to accept that my Tanguy & Laverdure in reverse has lost. Track record mereka sangat meyakinkan: dari 11 babak, mereka 8x menduduki tempat pertama (tujuh di antaranya berurutan), dan 3x menduduki tempat kedua. Menduduki tempat ketiga pun mereka tak pernah.

.. kecuali pada babak terakhir, babak final, The Amazing Race Asia 2. Dimana tampang mereka akan terpampang abadi sebagai sekedar pemenang ketiga. Apes bener... sekali2nya di posisi ketiga, kok pas kebetulan di babak terakhir yang pesertanya tinggal 3 ;-)

Sampai tantangan terakhir, my T&L-in-R masih memimpin. Mendarat di Singapura, lokasi tempat babak terakhir berlangsung, mereka langsung menderap (eh, menggelinding deh, soalnya naik taksi, bukan naik kuda ;-)) menuju Patung Raffles. Kemudian, mereka langsung menggelinding lagi ke Tanjong Beach di Sentosa Island, untuk menyelesaikan tantangan (roadblock, it is) terakhir. Jauh meninggalkan kedua pesaingnya.

Tapi.. sampai di Tanjong Beach, the disaster began n_n.

Roadblock adalah tantangan yang hanya dapat dilakukan oleh salah satu anggota dari team yang terdiri atas 2 orang ini. Masing2 anggota team hanya boleh maksimal mengerjakan road block sebanyak 6x sepanjang pertandingan. Dan Marc, the Laverdure-outside-but-Tanguy-inside, baru saja menghabiskan kuotanya pada babak sebelumnya. Tinggallah Rovilson, the Tanguy with Laverdure’s trait, yang harus mengerjakannya. Entah scripted atau tidak, tantangan terakhir ini kok ya ”nggak Rovilson banget”. Marc, the other half of this team, langsung frustrasi melihatnya.

Rovilson, he says, is not ever good with flags. Explains Marc, "It's very frustrating to watch this, especially when you know the flags and see your teammate picking the wrong one."

"I have seen the flags come up for countries that we haven't been to and it was a little frustrating. But I know it must have been so much more frustrating for Rovilson."

"That's the Australian flag you idiot," he says to himself, as Rovilson pulls the wrong flag from the pile.

(Cerita komplit ada di sini)

Dan cerita berakhir di sini, n_n.

Adrian Yap, dari team Singapura, tunarungu yang punya 2 gelar sarjana (eh, atau malah Master ya? Entar gw cek di Reader’s Digest Asia bulan lalu dulu deh ;-)), bak ninja yang melemparkan senjata rahasia: meraup sepuluh bendera dan.. zap.. zap.. zap.. memancangkan bendera2 itu di tempatnya. Correct answer. Dan melengganglah tim Singapura menuju finish line. Diikuti duo cantik favoritnya Dodol: Pam & Van dari Malaysia. Sementara Marc Nelson & Rovilson jadi tim terakhir yang memasuki garis akhir, T_T.

***
Kata bapaknyaima (yang selalu nggak bisa paham kenapa gw jadi banci reality show), yang begitu2 pasti scripted lah! Walaupun tanpa skenario yang pasti, tapi dikondisikan untuk memperbesar kemungkinan kemenangan/kekalahan suatu kontestan. Dengan memperhatikan kelebihan/kekurangan masing2 kontestan, lantas kemudian menciptakan suatu kondisi yang secara hipotetis memperbesar probabilitas terjadinya suatu hasil akhir yang diinginkan. Apalagi, akan lebih dramatis jika underdog team, apalagi underdog team yang beranggotakan tunarungu, memenangkan pertandingan melawan alpha male team.

(BTW, Zil, inget nggak gw pernah ngebahas ini juga pas ngomongin Penghuni Terakhir di sini? Duluuuuuu banget ;-). Emang gw sama bapaknyaima sejiwa.. hehehe.. jodoh kali ya? HAHAHAHA.. Atau jangan2 bapaknyaima nyontek gw? Hmmm.. ntar deh gw kupas tuntas ;-))

Tapi dengan mengesampingkan kemungkinan scripted, gw tertarik sekali dengan fenomena kekalahan the alpha male team ini. Betapa kadang kerikilpun cukup untuk membuat raksasa jatuh. Iya, seperti Allan Wu, the host, bilang, “You [Marc & Ro] race well the whole legs. No other team can even come near your caliber team”. Tapi tetap saja.. sebuah “kerikil kecil” sealed their fate. Atau kalau pinjam kata2 Allan Wu lagi, “But it all came down with one road block.. “

Iya, ya, memang yang namanya nasib itu nggak pernah bisa dipastikan. Mau usaha sekeras apa pun, kalau memang bukan rejekinya, ya pasti adaaaaa aja yang bikin rencana berantakan. Dan seringkali, yang bikin berantakan itu sesuatu yang kecil banget, yang sepele, yang nggak diduga. Jadi inget juga cerita tentang tentara gajah yang dikalahkan oleh pasukan burung yang masing2 membawa sebutir kerikil. Mungkin dari situ ya, ide bahwa kalau anak2 suit tuh gajah (=jempol) kalah lawan semut (=kelingking)? Dan mungkin dari situ juga ya, salah satu adegan dalam buku/film The Chronicles of Narnia: The Lion, the Witch, and the Wardrobe menunjukkan burung2 yang menjatuhkan kerikil untuk mengalahkan pasukannya si penyihir diilhami?

Yang tak kalah menariknya juga adalah bagaimana Marc menghadapi blunder yang dilakukan Rovilson dalam tantangan terakhir itu. Frustrated as he was, he did not blame his teammate. Not at all. Pun ketika akhirnya mereka menjadi tim terakhir yang meninggalkan arena menuju garis akhir; menjadi tim juru kunci. Tetap, mereka berdua menginjak garis akhir sebagai tim yang solid, sambil berlari mengibarkan bendera Filipina di tangan.

Alasannya? Dalam wawancara di pesta penutupan TARA-2, Marc yang mengatakan demikian:

.. We have said in the beginning that everything we do, we do it as a team..

(Komplitnya bisa dilihat di sini)


I wish I could be a little bit like Marc.. ;-)

Orang2 bisa bilang bahwa itu cuma lip-service seorang bintang jaim saja. Marc bisa begitu karena dia – sebagai model profesional dan pembaca acara TV - sudah terbiasa di depan kamera dan tahu bagaimana jaga image. Still.. lip-service atau bukan, menurut gw nggak mudah berlaku seperti itu.

And for that alone, I can admire him.. and inspired by him. Or more accurately: inspired by the two of them.

Yah.. faktanya adalah mereka hanya memenangkan tempat ketiga. Juru kunci. Dan seperti beberapa orang bilang: ”Who cares about the small winner? It is the grand winner they always care about”. Ingin gw menimpali dengan: “Who cares about the small winner who wins 8 out of 12 legs, and only stumbles on the last task? Why, of course, the people who cares about the PROCESS, not merely the END RESULT” ;-)

Mengutip tulisan gw sendiri di blognya Hans itu: “Kemenangan baru manis jika kita dapatkan melalui perjuangan keras dari pesaing yg seimbang". Tapi sekarang gw bisa nambahin kata2 seperti ini: “Kekalahan pun tetap manis jika kita dapatkan setelah melalui perjuangan keras”. Dan the last block he stumbles upon adalah jalan untuk membuktikan itu; melalui bagaimana mereka bersikap dalam menerimanya. Ah… so sweet, n_n

---
PS: Makasih juga buat Zilko atas tayangan Rovilson’s b*tt. Sexy juga.. hehehe.. Tapi gw malah paling suka bagian dimana Rov hugs Van ;-). Heran gw, kenapa ya, peserta reality show yang jadi favorit gw selalu dapat ”bonus” di akhir acara: dapat pacar ;-) Dari AFI-2, Penghuni Terakhir-2, dan sekarang.. The Amazing Race Asia-2. Jangan2 gw ini Dewi Cinta yang mengejawantah ke bumi ya.. HAHAHAHA..

PPS: sekedar glossary aja buat yang mengira gw salah ketik.. hehehe.. n_n itu dibacanya ”mata berkaca2”, sementara T_T itu artinya ”nangis tersedu2”. Courtesy of teman2 remaja gw di sini :-)