Thursday, February 07, 2008

When the Smoke is Going Down

Di salah satu baterai tes psikologi tuh ada pertanyaan yang kira2 bunyinya: Apa yang akan Anda lakukan jika Andalah orang pertama yang menyadari adanya kebakaran di gedung bioskop yang penuh orang?

Eh, selama bertahun2, gw mikirin lho.. apa yang akan gw lakukan kalau mengalami kejadian seperti itu.. hehehe.. Dan gw sibuk mempersiapkan Plan A, Plan B, Plan C untuk mengatasinya. Tapi.. akhirnya gw baru dapat kesempatan menjalankan rencana gw hari Kamis, 24 Januari 2008 yang lalu, ketika ada kebakaran di kantor gw ;-)

Pada hari itu, sekitar jam 10:30, tiba2 ada pengumuman dari pihak GA bahwa kami semua diminta turun ke lobby, dengan membawa barang berharga seperlunya, karena ada kebakaran di gedung kami. Lokasi kebakaran dan penyebab pastinya sih belum ketahuan, tapi yang jelas 3 lantai terbawah dan [surprisingly] 2 lantai teratas sudah penuh asap. Untuk amannya, seluruh penghuni akan dievakuasi.

Setelah memastikan bahwa ini bukan salah satu “latihan” yang menyebalkan itu, gw pun lantas menjalankan rencana darurat yang sudah gw pikirkan bertahun-tahun yang lalu, yaitu:

1. Jangan panik! Kemasi barang-barang berharga yang seringkali tergeletak di meja: HP (checked), PDA (checked), iPod (checked), charger HP (checked, penting banget, jangan sampai nggak bisa dihubungi karena low-batt dalam kondisi darurat begini)

2. Hibernate laptop, masukkan ke tas, bersama kabel, adaptor, dan mouse cantik hadiah ultah dari suami tercinta. Apa pun yang terjadi, jangan biarkan laptop yang sudah didapat dengan susah payah pakai nangis darah ini tertinggal di gedung yang terbakar.

3. Bawa tas berisi barang berharga dan laptop keluar, kunci pintu ruangan. Penting banget untuk mengunci ruangan, karena kita nggak bisa jamin tak ada orang yang cari kesempatan dalam kesempitan; lha wong rumah gw aja pernah hampir kemalingan ketika jenazah Bapak sedang dipersiapkan dibawa ke bandara kok! Yang mau nyolong itu pura2 jadi pembawa krans, tau2 udah masuk rumah!

4. Turun lewat tangga darurat! Jangan coba2 lewat lift, walaupun lift belum dimatikan. Bahaya banget kalau lift tiba2 dimatikan ketika kita masih di dalamnya dan gedung terbakar. (Psst.. syukurlah kantor gw cuma di lantai 5, jadi turunnya nggak terlalu capek. Bayangin gimana coba kalau Mrs Tambourine Mom harus turun - misalnya - 18 lantai.. hehehe.. menggelinding aja kali ya?)

5. Segera cari taksi untuk menuju mall terdekat. Lebih baik menunggu di tempat yang nyaman sampai keadaan aman terkendali. Pilihan gw: Setiabudi One, biar bisa makan siang sekalian sambil browsing via WiFi dan nyambi kerja ;-)

6. Beberapa meter sebelum Setiabudi One, siapkan uang untuk membayar taksi. Naaah.. now you can be panic, karena ternyata DOMPET tidak termasuk barang berharga yang dicek sebelum turun ke lobby ;-)

Hehehe.. iya, rencana bertahun2 yang gw susun ambyar di langkah ke-6, karena “sedikit keteledoran” pada langkah pertama: lupa memastikan bahwa dompet masih berada di tas ;-) Gw terlalu fokus pada benda2 berharga lain yang biasanya suka gw letakkan di meja kerja untuk mempermudah akses, sampai2 lupa bahwa ketika datang ke kantor dompet itu gw jinjing di tangan (karena habis bayar taksi). Dan karena gw bawa di tangan, dompet itu kemudian gw letakkan di meja kecil di samping meja kerja gw. Jauh dari tas, jauh dari gadget yang lain ;-)

So.. moral of the story-nya: nggak perduli betapa hebatnya persiapan Anda, a disaster is still a disaster.. hehehe.. pasti ada aja hal yang kelupaan, hal yang nggak sempurna. Never be so sure of anything ;-)

Akhirnya.. gak jadi deh gw menikmati makan siang sambil browsing ;-) Yang ada taksi gw suruh balik ke kantor yang terbakar itu, sambil sibuk menelepon teman2 gw minta kucuran dana buat bayar taksi.. hehehe.. Terpaksa cukup puas duduk berpanas2 di luar gedung, sampai menatap kepulan asap yang menyelinap keluar dari lantai 1-3 ;-) Habiiisss... mosok gw mesti menggadaikan salah satu gadget gw untuk bayar taksi dan makan siang? Nggak banget deh.. hehehe.. ;-)

Untung.. nggak sampai 2 jam kemudian, ketahuan bahwa sumber kebakarannya kecil saja: ada kabel yang korslet di lantai 3, namun segera dapat diatasi dan dipadamkan. Cuma asapnya aja yang heboh ;-)

Anyway.. judul postingnya When the Smoke is Going Down. Itu dipinjam dari salah satu lagu band favorit gw: Scorpions. Gw suka lagunya, tapi sebenernya dari sisi syair sih nggak nyambung sama tulisan ini.. hehehe.. Cuma nyambung judulnya doang: gw baru tahu lho, bahwa asap tuh bisa going down ;-) Kebakaran di lantai 3, asapnya heboh di lantai 1-3, sementara lantai 4 – 12 nggak kenapa2. Dulu gw kira asap selalu membumbung ke tempat yang lebih tinggi, sementara yang going down itu air. Ternyata asap juga bisa going down ya? Jadi Scorpions nggak lagi sok puitis filosofis waktu nulis syair itu ya.. hehehe..