Thursday, January 24, 2008

Sarno

Dulu, di kampung kami, ada seorang penjual kembang tahu keliling. Namanya Sarno. Sepanjang ingatan gw, Sarno sudah menjadi langganan Bapak sejak gw kelas 3 SD. Setiap Sabtu-Minggu, atau hari libur, Sarno pasti mampir ke rumah kami menjajakan kembang tahu, yang disayat tipis2 dengan sendok pipih serta disantap dengan kuah air jahe itu.

Awalnya Sarno berjualan dengan pikulan. Satu sisi pikulannya berisi kompor dan dandang tempat air jahe. Sementara ujung pikulannya yang lain berisi dandang kembang tahu, mangkok2 kecil, dan sendok2 kecil. Lama-kelamaan, setelah memiliki langganan setia di kompleks rumah kami, Sarno mampu membeli sebuah sepeda mini untuk berjualan. Kemudian, usahanya pun berkembang; selain menjual kembang tahu yang disantap hangat, di sepedanya juga selalu bergantungan kantong2 kecil berisi susu kedelai. Enak disantap hangat2 maupun didinginkan di kulkas.

Sarno bukan sekedar bagian dari nostalgia masa kecil gw. Ketika Bapak meninggal, dan kami tinggal di rumah almarhum, gw masih setia menjadi pelanggan Sarno. Malah pelanggan Sarno mencapai generasi ketiga: Ima, yang mengadopsi hobi minum susu kedelai dari gw.

Saat Ima berusia 3 tahun, tiba2 saja Sarno tidak muncul di rumah kami. Berminggu2 ia tidak muncul, sampai beberapa waktu kemudian dia datang lagi. Tidak dengan sepeda, melainkan dengan pikulan yang sudah lama ditinggalkannya.

”Sepeda saya patah, Neng. Belum ada uang untuk beli lagi. Juragan nggak mau tahu. Saya harus tetap jualan. Terpaksa saya sewa pikulan saja”

Sekian belas tahun telah berlalu sejak terakhir kali Sarno menyusuri jalan Klender – Cipinang dengan pikulan.

”Ya, begini ini, Neng. Udah lama nggak mikul. Rasanya berat di pundak. Sebentar-sebentar saya harus istirahat. Tapi ya namanya orang jualan, Neng. Nanti kalau saya nggak jalanin, nggak dapat uang saya”

Trenyuh hati mendengar cerita Sarno, hingga terbersit memberikan sedikit ”uang lebihan” untuk ditabung membeli sepeda bekas. Kata Sarno, sepeda bekas yang masih bagus bisa didapat dengan harga sekitar Rp 150,000 di Pasar Jatinegara.

Beberapa waktu kemudian Sarno datang menunjukkan sepeda bekas yang dibelinya. Warnanya merah, sedikit lebih kecil daripada sepeda yang biasa dipakainya dulu. Tapi tak apa, tubuh Sarno pun kecil mungil. Sekalian dia mengucapkan terima kasih pada pelanggan2 setianya di seputaran kompleks kami atas bantuan yang membuatnya dapat membeli sepeda.

Itu kali terakhir Sarno muncul di kompleks kami. Setelah itu ia tak muncul lagi; justru pedagang2 kembang tahu lain yang muncul setiap Sabtu. Sempat bertanya pada salah satu penjual kembang tahu itu, apakah mereka mengenal Sarno. Mereka jawab bahwa daerah jualan Sarno sekarang adalah Rawamangun, bukan Cipinang lagi.

Kami bertanya2, apa sebab Sarno tak mau lagi hadir di kampung kami. Apakah ia terbebani dengan pemberian kami? Merasa tak enak hilir mudik, menjajakan jualan, pada orang2 yang ”punya andil” memodalinya?

Ternyata tidak sesederhana itu masalahnya. Ketika suatu kali menjemput Ima dari taman kanak-kanaknya, kebetulan gw bertemu dengan Sarno yang sedang mangkal di depan Terminal Rawamangun.

”Soalnya kan saya lama nggak jualan waktu itu, Neng. Jadi sama juragan saya, udah ada orang baru yang disuruh jualan ke kompleks Neng. Saya kan waktu itu pakai pikulan nggak kuat jalan jauh, saya dikasih seputar Klender aja. Waktu udah bisa beli sepeda lagi, kata juragan udah nggak bisa jualan di kompleks Neng. Jadi saya dikasih tempat baru di Rawamangun sini”

Senang hati ini bahwa ternyata bukan Sarno yang berniat meninggalkan kami. Tapi.. ketrenyuhan baru muncul: hidup Sarno dan keluarganya ditentukan oleh jumlah Rp 150,000. Karena tidak punya Rp 150,000 Sarno harus kehilangan pelanggan tetapnya. Belasan tahun membina hubungan baik hilang begitu saja hanya karena ia tidak memiliki cukup uang untuk membeli sepeda baru. Ia harus memulai lagi dari nol, mengayuh sepedanya beberapa [belas?] kilometer lebih jauh, mendatangi calon2 pembeli yang belum mengenalnya, meyakinkan mereka untuk membeli dagangannya. Entah berapa lama lagi waktu yang dibutuhkannya untuk dapat membentuk customer loyalty seperti yang ditinggalkannya di kampung kami.

Semua itu hanya dipisahkan oleh Rp 150,000 yang buat sebagian orang mungkin hanya sekali hang out di mal.

***

Lantas, beberapa waktu lalu gw membaca berita yang mengharukan di Kompas. Tentang seorang pedagang gorengan di Pandeglang, Slamet, yang memilih bunuh diri karena tidak sanggup lagi berdagang setelah harga bahan dasar (tempe/tahu), terigu, dan minyak goreng yang melambung tinggi. Jalan pintas yang dilihatnya sebagai to cut the loss, daripada hidup makin susah lebih baik meninggalkan hidup sekalian. Makin trenyuh membaca Catatan Pinggir GM di Tempo edisi pekan ini:

Cerita Slamet bukanlah hanya cerita tentang tempe dan kekuasaan dan kebebalan. Ia juga cerita sebuah keadaan, ketika seorang bisa begitu putus asa dililit utang yang tinggal separuh dari Rp 5 juta, sementara tak jauh dari tempat ia menggantung diri ada orang-orang yang menghabiskan beratus juta untuk satu malam perhelatan.

Tiba2 gw ingat Sarno; seorang pedagang kembang tahu yang juga berbahan-dasar kedelai. Seorang pedagang yang juragannya tidak mau tahu ketika Rp 150,000 can make a lot of difference in his life.

Dan gw bertanya2.. bagaimana nasibnya kini? Mau tahukah juragannya jika barangnya tidak lagi menghasilkan untung sebesar dulu? Mau tahukah si juragan, jika harga barangnya dinaikkan dan dagangan Sarno tidak laku?

Sarno dan Slamet.. orang2 kecil yang hanya bisa pasrah karena sepenuh nasibnya ditentukan oleh ”tuhan-tuhan kecil” – dari juragan, juga [meminjam analisa GM] "birokrat di Departemen Pertanian dan Departemen Perdagangan, bahkan the other side of the universe: ladang2 di Amerika Serikat, cuaca di Brazil, hingga struktur agribisnis di Argentina". Karena kita hanya mampu memproduksi 800rb ton kedelai, dan mengimport 1,2jt ton.

Tuesday, January 22, 2008

The Antero Van

Akhir2 ini gw lagi suka nonton The Amazing Race Asia 2, dan tergerak menulis tentang “kejadian seru” di episode ke-9 Kamis lalu: the Antero Van case ;-) Ya, akhirnya, melalui acara ini, gw dapat first hand example tentang [gejala] amnesia, khususnya [gejala] amnesia anterograde. Dari jaman kuliah sih udah tahu definisi dan penjabaran gejala amnesia (baik yang anterograde maupun retrograde amnesia) secara teoritis, tapi.. baru di episode ini gw melihat contoh nyatanya.

Kejadiannya adalah ketika tim favoritnya Dodol, the Malaysian hot sisters, menjalani tantangan terjun dari menara loncat indah setinggi 10m. Hanya satu dari dua orang anggota tim yang boleh menjalani tugas ini, dan tadinya gw kira Pamela, the more athletically-built sister, yang akan maju. Nggak tahunya malah Vanessa, the prettier-and-sexier sister yang mengajukan diri.

Alih2 jatuh tegak lurus, badan Van jatuh dengan kemiringan sekitar 45 derajat. Bibirnya berdarah karena kontak yang tidak mulus dengan air. Ouch, gw udah kebayang pasti sakit banget, terutama bagian dada yang terbentur air, tapi gw sama sekali nggak nyangka bahwa kepalanya cedera. Baru setelah di luar lokasi, kelihatan jelas there is something about Vanessa: tampangnya yang memang sering blank itu tambah kelihatan blank. Diajak nyebrang jalan bingung, seperti disorientasi begitu. Dan benar! Dia lantas bertanya2 pada adiknya, ”Pam, I’m confused, what did I just do?”. 

Gw yang dari awal udah nyimak, langsung lebih nyimak sepenuh hati. Kayaknya gejala amnesia nih! Dan benar, detil demi detil berikutnya mempertebal keyakinan gw. Soalnya pertanyaan yang sama diulang2 terus oleh Vanessa, dengan variasi kalimat seperti, ”I forgot”, atau ”I can’t remember, what did I just do?”. 

Amnesia, atau keadaan kehilangan ingatan karena trauma kepala, memang terbagi atas 2 macam: kehilangan ingatan atas kejadian sebelum terjadinya trauma kepala, atau kehilangan kemampuan mengingat pasca terjadinya trauma kepala. Kondisi yang pertama disebut Retrograde Amnesia, sementara kondisi yang kedua disebut Anterograde Amnesia. So, trauma kepala selalu menjadi penyebab, sekaligus starting point dari kondisi lupa ingatan tersebut. Tinggal masalah starting point untuk ingatan sebelumnya, atau starting point untuk tidak mampu mengingat informasi2 yang diterima sesudahnya. Tentu saja karena manusia bukan perhitungan matematis, selalu ada plus-minus beberapa saat dari starting point tersebut yang dilupakan. Ini memang hal yang biasa terjadi pada pasien anterograde amnesia, seperti dijelaskan di situs ini. Dalam kasus Vanessa di atas, ketidakmampuan mengingat informasi yang masuk setelah kondisi trauma lebih mendominasi, walaupun dia juga kehilangan beberapa saat sebelum trauma terjadi: seperti tidak bisa mengingat mereka sedang berada di mana.

Amnesia sendiri, baik yang anterograde maupun yang retrograde, bisa mempengaruhi ingatan episodik ataupun ingatan semantik. Ingatan episodik mencakup data diri yang terkait dengan ruang dan waktu, misalnya: apa pekerjaan saya, berapa anak saya, siapa suami saya. Sementara ingatan semantik mencakup hal yang berkaitan dengan konsep, seperti: apa artinya presiden, merah itu seperti apa, dll. Jadi, kalau kejadian seperti Vanessa itu, tampaknya cedera kepalanya lebih mempengaruhi ingatan episodik. Dia kesulitan mengingat apa2 saja yang baru dilakukannya. Sementara ingatan semantik tampaknya tidak terganggu, karena ia masih dapat memahami penjelasan adiknya tentang konsep2. Misalnya aja, dia tidak bingung ketika dikatakan bahwa dia baru saja meloncat dari menara setinggi 10m. Itu berarti, konsep menara masih ada di benaknya, konsep 10m juga masih ada.

Selama ini, yang tampaknya lebih dikenal secara umum adalah Retrograde Amnesia, dimana orang kehilangan ingatan sebelum terjadinya trauma kepala. Memang Retrograde Amnesia ini, terutama yang mempengaruhi ingatan episodik, lebih seru untuk diangkat sebagai tema di film2 atau cerita2.. hehehe.. seseorang mengalami kecelakaan, lantas lupa siapa dirinya sebelum kecelakaan itu terjadi.

*FUN TRIVIA: ayo, sebutkan tokoh2 dalam film/serial TV yang mengalami retrograde amnesia terhadap ingatan episodiknya. Hadiahnya? Lho, emangnya berhasil membuktikan bahwa loe nggak mengalami amnesia jenis apa pun dengan mampu menyebutkan nama2 tokoh tersebut belum cukup sebagai hadiah? Hehehe.. *

Anterograde Amnesia memang kurang ngetop, dan jujur aja.. sampai melihat kejadian pada Vanessa kemarin, gw sering bingung membayangkan bagaimana mekanisme terjadinya anterograde amnesia ini. Persisnya gimana orang kehilangan kemampuan mengingat, gw kurang bisa membayangkan. So, thanks to Vanessa, finally I get the picture ;-) Ternyata seperti itu toh, proses ingatannya berhenti di short-term memory.

Anyway.. tidak seperti di film2, menyembuhkan orang dari amnesia tidak berarti harus “mencederai kepalanya” sekali lagi kok.. hehehe.. Itu terlalu klise ;-) Dan lagi pula “kecelakaannya”  Vanessa nggak parah. Jadi kemungkinan besar amnesianya nggak permanen, karena trauma kepalanya nggak terlalu berat. Dengan sedikit pengobatan, dan istirahat yang cukup, moga2 ia dapat segera berfungsi kembali. Yaaah.. kita lihat aja di episode berikutnya, apakah 12 jam mandatory rest di setiap akhir episode (leg, menurut istilah The Amazing Race) cukup untuk memulihkan kondisi Vanessa.

Soalnya, kalau Vanessa nggak pulih dari kondisi amnesianya ini, kasihan banget! Ntar dia bisa jadi seperti Lucy Whitmore dalam 50 First Dates, yang diputar di Trans7 beberapa waktu lalu. Hmm.. it’s a scary life, ya, nggak bisa ingat apa pun yang baru terjadi. But kind of adventurous too.. bayangin aja, berasa first date setiap hari.. hehehe.. walaupun dengan orang yang itu2 juga. There would be no boredom in life, karena seperti Lucy bilang (berulang kali), “There is nothing like a first kiss” ;-)

*hmm.. imagine that you have your first kiss 50 times.. HAHAHAHA.. *

I wonder.. kalau Vanessa jadi seperti Lucy Whitmore, kira2 yang mau jadi Henry Roth siapa ya? Pasti yang ngantri banyak, secara Van cukup cantik ;-)

***

Yang ini nggak ada hubungannya sama amnesia, permanen ataupun sekedar gejala ;-). Tapi berhubungan sama The Amazing Race musim terkini yang baru saja diputar season finale-nya tadi malam. Well.. gw tahu dua orang ini mendukung pasangan Papa Ron dan Christina, dan gw juga udah sempat yakin bahwa mereka berdua yang bakal menang, secara udah beberapa episode mereka di urutan pertama melulu. It’s a surprise bahwa ada pasangan lain yang “nyalip di tikungan”, pada tantangan terakhir.

*eh.. tapi tantangan yang memutarbalikkan keadaan itu masih bisa disambung2in dengan amnesia sih! Soalnya tantangan itu membutuhkan ingatan yang kuat: karena harus mencocokkan 10 benda (yang pernah dipakai sebagai tantangan) dengan lokasi tempat tantangan berlangsung. Setelah berkeliling hampir 30.000 mil (hampir 48.280km), menjalani tantangan di 10 kota pada 4 benua, dan masing2 kota beberapa tantangan sekaligus, it’s not an easy task ;-)*

Jadi mikir.. kejadian yang sama bisa terjadi juga dong ya, di TAR Asia ;-)? Waduuuh.. padahal my favorite team Tanguy & Laverdure in reverse selalu berada di urutan pertama nih dalam hampir sepanjang permainan ;-) Iya, dua orang ini gw juluki Tanguy & Laverdure in reverse, karena mengingatkan gw pada dua pilot jagoan dalam komik yang ngetop thn 80-an: si darkly handsome, mature Michel Tanguy, dan si seradak-seruduk, have-fun-go-mad blonde Ernst Laverdure. Cuma, pasangan ini terbalik: yang modelnya mirip Tanguy malah ngocol abis, sementara yang modelnya mirip Laverdure malah lebih serius (walaupun berusaha untuk tampil ngocol juga).

Tapi biarin deh, like Papa Ron said, it’s not over until it’s really over, eh ;-)?

Wednesday, January 16, 2008

Mrs. Tambourine Mom

Mrs. Tambourine Mom itu julukan baru bapaknyaima buat gw ;-) Diambil dari lagu tua si gaek Bob Dylan: Mr. Tambourine Man, dan memang cocok buat menggambarkan penampang gw saat ini. Maklum, di kehamilan kali ini gw tidak melebar seperti jaman hamil Ima dulu. Cuma diameter perut aja nambah terus. Malah ukuran vital gw sekarang lebih kecil (baca: lingkar lengan dan paha – ukuran vital buat beli baju ;-)). Sampai memasuki bulan ke-7 ini berat badan gw cuma nambah 3kg. Dulu waktu hamil Ima juga nambahnya cuma 3kg sih.. tapi per bulan.. hehehe..

Anyway.. being a Mrs. Tambourine Mom, membuat gw menyadari beberapa hal yang selama ini nggak pernah terpikir oleh gw.

Yang pertama, tentu aja, menyadari betapa nggak sehatnya pola makan gw dulu. Buktinya sekarang setelah mengubah drastis pola makan, rasanya lebih sehat dan technically lebih kurus. Ternyata menyugesti diri sendiri bahwa makanan2 tertentu (yang kurang bermanfaat buat kesehatan) nggak enak itu lumayan mudah. Contohnya, gw dulu tuh hobi banget makan duren. Kalau lagi tugas ke Medan, bisa berjam2 nongkrong di lapak duren menikmati butir demi butir yang keemasan itu. Pulang ke Jakarta masih ngeborong duren yang cukup buat dicemil selama 3-4 hari (harus habis dalam 4 hari, soalnya kalau enggak rasanya keburu asem ;-)). Sekarang, begitu duren dinyatakan haram buat gw, ternyata mudah aja tuh untuk meredam keinginan makan duren. Gw sekarang nggak tergoda kalau lewat toko buah yang jual duren ;-)

Tapi.. ternyata, yang lebih susah adalah menyugesti diri sendiri untuk menyukai makanan2 tertentu (yang sebenarnya cukup baik buat kesehatan)! Sampai sekarang, gw tetap nggak bisa mengubah mind-set bahwa ikan adalah makanan enak. Udah nyoba berbagai macam teknik CBT maupun NLP, teteeeup.. aja yang namanya tenggorokan gw susah menelan ikan. Maklum, dari dulu masakan ikan yang gw sukai cuma ikan bakar dan sashimi.. hehehe.. Keseringan makan ikan bakar lama2 bosen juga, sementara sashimi juga itungannya haram buat gw – karena mentah.

Ternyata memerintahkan perasaan untuk ”membenci” memang lebih sulit daripada ”mencintai” ya.. HAHAHAHA..

Terus.. being a Mrs. Tambourine Mom, juga membuat gw lebih menyadari betapa carut-marutnya pengaturan milik publik di Indonesia. Pertama2, gw jadi lebih menyadari betapa ngawurnya orang2 membuat polisi tidur. Dari beberapa bulan sebelum hamil sih gw udah dengar adik gw sering ngomelin “polwan bunting” di depan kompleks.. hehehe.. Memang gundukan penghambat laju kendaraan itu sedemikian tinggi dan curam, sehingga lebih cocok dibilang polwan bunting daripada ”sekedar” polisi tidur. Mobil adik gw yang ceper itu seringkali (atau selalu ya?) tergesek saat melewatinya.

Dulu2 sih gw nggak sadar karena mobil gw lumayan tinggi. Baru, setelah menjadi tergantung sama taksi dan bajaj, gw menyadari penderitaan orang2 lain ;-) Asli lho, kalau gw lupa ngasih tahu pengemudi taksi, bisa dipastikan badan gw akan terhempas berkali2 di medan yang tidak bersahabat itu. Nggak baik kan, buat kesehatan ibu hamil? Hehehe.. Nah, bayangin aja kalau gw lagi naik bajaj! Nggak usah dihempaskan gundukan aja, naik bajaj itu udah bikin badan terhempas2.

Semenjak jadi pelanggan taksi, gw juga jadi tambah menyadari betapa menyebalkannya para pengendara motor itu (no offense ya, para pengendara motor ;-) I’m talking about statistic, not about individual.. hehehe.. dan modenya masih berkutat pada perilaku pengendara motor yang “nggak sopan” ;-)). Sekarang kan tiap sore gw jadi Hantu Casablanca, hehehe.. alias nungguin taksi pas di samping underpass [yang katanya] seram itu. Naah.. penderitaan gw dimulai sepanjang trotoar sejak mulai keluar kantor. Para pengendara motor dengan semena2 menggelinding di jalur pejalan kaki tersebut, membuat gw mesti minggiiiiiir banget, nunggu mereka ”berkenan” turun ke jalur kendaraan bermotor. Padahal kan nggak gampang meminggirkan perkusi sebesar ini.. hehehe.. Coba aja lihat marching band tuh, yang pada pegang perkusi kan jalan aja susah, apalagi minggir ;-)

Pernah sih mencoba2 nggak mau minggir, pasang body aja, biar mereka yang minggir. Eh, ternyata efeknya nggak sedahsyat seperti kalau gw bermobil.. hehehe.. Yang ada malah para pengendara motor itu ngomel2in gw yang nggak mau minggir. Ternyata urutan mematuk berlaku banget di sini.. hehehe.. pengendara mobil kalah sama metromini raja jalanan, motor kalah sama pengendara mobil, naaah.. giliran pengendara motor deh menganiaya kaum pejalan kaki. Pertanyaannya.. sekarang siapa yang bisa gw aniaya ya.. untuk melestarikan urutan ini ;-)?

Gw jadi berasa trenyuh ingat penderitaan Umminya Ankaa jaman hamil dulu, yang kalau naik bis atau kereta nggak ada yang nawarin duduk. Pasti lebih berat lagi daripada cuma harus jalan minggir2 sejauh 500-an meter di jalur-pejalan-kaki-yang-diakuisi-oleh-pengendara-motor-dengan-semena-mena.

Eh.. takjubnya, pas gw sempat keceplosan sharing tentang penderitaan ibu hamil di bis, beberapa teman gw ternyata responsnya begini:

“Ya, habis gimana? Saya itu juga capek, kerja seharian. Mosok sesudah kerja seharian, dapat tempat duduk susah2, harus berdiri lagi cuma karena ada ibu-ibu hamil? Nggak adil juga, memangnya cuma orang hamil yang boleh capek?”

“Habis gimana ya, gw sendiri suka sebal sama ibu2 [hamil] itu. Manipulatif! Gw tuh demi dapat tempat duduk kadang2 naik bis yang rutenya berlawanan, sehingga saat orang2 udah turun di terminal, gw dapat tempat duduk. Gw udah rugi waktu, bayar ongkos 2x, mosok harus berdiri lagi karena ada ibu2 [hamil] sih? Ya kalau mereka mau duduk, usaha dong kayak gw”

Well, gw tahu, udah nggak jamannya jadi knight in shining armor. Lagian, kalaupun masih jaman, kan tugasnya pangeran berkuda putih itu menyelamatkan putri cantik, bukan ibu2 hamil.. HAHAHAHA.. Tapi.. tetap aja, takjub juga mendengar responsnya ;-)

Yaah.. sebenarnya pendapat mereka masuk akal juga sih; mereka juga capek, mereka udah susah2 usaha cari tempat duduk. Tapi di sisi lain, secara gw udah pernah hamil (dan lagi hamil juga), gw ragu kalau ibu2 hamil ini sekedar manipulatif. Dengan keadaan hamil, terus terang sih kondisi tubuh dan ambang ketahanan terhadap lelah tuh menurun drastis. Kalau yang kerja seharian aja capek, apalagi yang kerja seharian dalam kondisi hamil. Dan setidaknya, yang kerja seharian masih punya sisa tenaga untuk rute memutar (biar bisa dapat tempat duduk saat orang2 turun di terminal yang bukan tujuannya). Gw nggak yakin ibu2 hamil punya stamina yang sama untuk melakukannya.

Anyway.. penderitaan terbaru gw berkaitan dengan kelangkaan kedelai ;-)

Setelah nggak berhasil menyugesti diri sendiri bahwa ikan itu adalah makanan yang enak, gw agak tergantung pada tempe dan tahu. Pengusaha kecil tahu/tempe terancam gulung tikar karena harga kedelai yang melonjak. Lha, kalau sekarang tempe dan tahu hilang juga dari pasaran, gw mau makan apa dong?

Bener2 deh, gw jadi pingin nyanyi lagunya Bob Dylan itu:

Hey! Mr Tambourine Man, play a song for me
I'm not sleepy and there is no place I'm going to
Hey! Mr Tambour
ine Man, play a song for me
In the jingle jangle morning I'll come followin' you

Then take me disappearin' through the smoke rings of my mind,
Down the foggy ruins of time, far past the frozen leaves,
The haunted, frightened trees, out to the windy beach,
Far from the twisted reach of crazy sorrow.
Yes, to dance beneath the diamond sky with one hand waving free,
Silhouetted by the sea, circled by the circus sands,
With all memory and fate driven deep beneath the waves,
Let me forget about today until tomorrow.

Interpretasi tentang lagu ini sendiri beragam. Konon, banyak yang menginterpretasikan lagu ini sebagai kisah tentang pengedar narkoba. ”Play a song for me” itu eufemisme dari “loe jual nggak?”. Tapi Bob Dylan sendiri mengatakan tidak, liriknya lebih menggambarkan jiwa dan pikiran yang bebas.

Well, apa pun interpretasi aslinya, kayaknya lagu ini nyambung sama hidup gw lebih dari sekedar penggambaran penampang. Soalnya kayaknya gw juga butuh a song untuk let me forget about today until tomorrow ;-)

Saturday, January 12, 2008

Jangan Doakan Beliau Sembuh

“Mohon doanya, ya, semoga cepat sembuh,” papar putri bungsu Soeharto, Sri Hutami Endang Adiningsih, Kamis. Semalam, Halimah Trihatmodjo dan Elsye Hardjojudanto, menantu Soeharto, pun meminta masyarakat untuk mendoakan agar Soeharto lekas sembuh.

(Kompas, Jumat, 11 Januari 2008, hal. 1)

.. di kediaman keluarga Soeharto di Kemusuk, Kecamatan Argomulyo, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, semalam digelar pengajian khusus untuk mendoakan pemulihan kesehatan presiden kedua Indonesia itu.

(Kompas, Sabtu, 12 Januari 2008, hal. 15)

---

Hmm.. nggak tahu ya, gw kok ngerasa ada yang nggak sreg dengan berita2 di atas. Entah wartawan yang salah kutip, ucapan keluarga diperhalus, atau memang pada kenyataannya keluarga masih berharap bantuan doa agar Soeharto lekas sembuh? Gw sih setengah berharap bahwa wartawan salah kutip atau dengan sengaja memperhalus kata2 keluarga, karena kalau memang keluarga mengucapkan itu.. alangkah kasihannya Soeharto.

Iya, kasihan sekali beliau! Keluarga masih nggandholi (= menahan2) supaya beliau tidak segera berpulang. Meski berbagai organ tubuhnya sudah gagal berfungsi, paru2nya terendam cairan yang harus dipompa keluar setiap kali, dan ginjalnya sudah tidak mampu mencuci darah sendiri.

Gw pernah berada dalam posisi seperti anak-menantu Soeharto. Dan ya, pada awal2nya gw juga menggantang asap minta orang2 mendoakan kesembuhan. Tapi toh, setelah melihat penderitaan si sakit, lama2 gw merasa terlalu egois kalau masih mengharapkan kesembuhan. Perlahan2, doa pun berganti minta agar diberikan yang terbaik. Yang terbaik adalah yang terbaik, entah apa pun bentuknya. Kalau memang waktunya belum sampai, ya minta Tuhan untuk memberikan kesembuhan segera. Tapi kalau memang sudah harus meninggal, ya minta supaya Tuhan meringankan deritanya. Meninggal segera, tanpa kesulitan, dan diterima di sisi-Nya. Dan kepada keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan.

Dan pada saat berharap yang terbaik, gw sudah nggak bisa juga lip service untuk tetap bilang kepada penjenguk untuk mendoakan kesembuhan. Biar aja lah dibilang pesimis, menyerah.. itu tidak lagi penting. Bukan juga udah males usaha.. usaha sih jalan terus, walaupun siap dengan kegagalan. Juga, bukannya gw merasa sudah sanggup ditinggal, bahwa kematian tidak akan membawa dampak apa2 bagi kami yang ditinggalkan. Hanya saja, pada titik tertentu, yang namanya kesembuhan itu tidak lagi menjadi yang paling penting. Sesedih2nya perasaan ditinggalkan, setakut2nya akan keadaan tak menentu setelah pemakaman, rasanya kok egois ya kalau menghalang2i kematian seseorang?

Terus terang, gw sih kasihan banget melihat Pak Harto yang [maaf] kayaknya susaaaaah banget untuk meninggal. Keadaan beliau sudah seperti itu, tapi seutas nyawa belum putus2 juga. Hidup pun mungkin nggak enak kalau dalam keadaan seperti itu. Kalaupun bisa membaik, dengan segala organ yang degenerasi seperti itu, hidup seperti apa yang akan dijalani?

Nah.. yang gw heran, kok ya keluarganya masih minta didoakan agar sembuh? Apakah kesembuhan dan kehidupan segitu pentingnya? Lebih penting daripada kesejahteraan bapaknya?

Sebenarnya, kalau Pak Harto bisa sembuh dan tetap hidup, itu demi kepentingannya siapa sih? Kepentingan Pak Harto sendiri? Kepentingan bangsa? Atau.. sekedar untuk kepentingan keluarga yang belum merasa siap ditinggal sang pengayom?

Apa nggak sebaiknya sang bapak ini diikhlaskan saja? Didoakan saja supaya beliau diberikan yang terbaik – walaupun yang terbaik itu berupa kematian yang cepat. Harapan memang selalu ada, tapi.. kalau bercermin dari pengalaman gw (dan beberapa pengalaman lain), membaiknya keadaan si sakit itu justru bukan tanda yang bagus. Itu seperti perhentian terakhir buat sprint menuju garis finish.

Kata orang2 Jawa, kalau keluarga terus nggandholi, kematian seseorang bisa terhambat. Nggak tau benar atau enggak, tapi.. seandainya benar, kasihan sekali kalau yang hidup memberatkan “jalan” beliau.

Tapi.. gw nggak tahu juga apakah perlu mendahului dengan membuat skenario dan persiapan2 semacam ini; pakai bikin kartu ID Pemakaman Soeharto segala. Menyiapkan ID sih boleh2 saja, wong yang mau dimakamkan tuh orang terkenal. Yang datang juga mestinya pembesar2 negeri. Keamanan harus berlipat ganda dan ekstra ketat, jangan sampai ada yang menyusul nasib Benazir Bhutto di acara ini. Tapi.. nggak tahu ya, gw kok ngerasa nggak nyaman aja dengan header ID berbunyi: “Pemakaman Bp Jendral Purn. HM Soeharto”, karena toh yang disebut itu belum meninggal. Apa nggak enaknya dibuat ID khusus tanpa penyebutan seperti itu ya? Toh, yang penting dari penggunaan ID adalah dapat dibedakannya mereka yang berhak dari yang tidak berhak masuk area – tak perduli apa headernya.

Ah.. sudahlah.. gw jadi ngomongin prosedur panitia.. hehehe.. Suka2 panitianya lah!

Cuma.. jahat nggak sih kalau gw nggak ikut mendoakan kesembuhan? Habis, gw malah kasihan kalau beliau hidup dengan kualitas seperti itu.

-----

Nambah - 14 Januari 2008

Kalau gw menunda sehariiii aja nulis, dan keburu baca entry bapak ini, serta berita di Kompas tanggal 13 Januari 2008 tentang perlakuan tidak sepantasnya pada Presiden Soekarno menjelang wafat beliau... I wonder, apakah gw masih akan tergelitik oleh kata2 diplomatis anak-menantunya ini ya?

Sunday, January 06, 2008

"Cari Duit itu Ternyata Capek!"

Sejak pertama kali mendengar bahwa Kidzania akan dibuka di Jakarta, gw sudah bertekad bulat untuk tidak membocorkan informasi ini pada Ima. Bukannya nggak sayang anak.. tapi.. pasti kalau Ima tahu, dia bakal minta berkunjung. Sementara gw males aja kalau harus ngantri karcis berdesak2an. Maklum, selain aktivitas/kondisi yang bikin gw keringetan, satu hal lagi yang gw benci adalah: TERJEBAK DALAM ANTRIAN YANG NGGAK MAJU2, baik yang ber-setting kemacetan lalu lintas maupun antrian karcis ;-)

Dasar anak gw anak gaul, tetap aja Ima akhirnya tahu dari teman2nya. Dan mulailah permintaan untuk berkunjung terdengar. Mulanya sih gw bilang bahwa nanti aja berkunjungnya, kalau adiknya sudah lahir dan "Ibu cuti panjaaaang banget!" ;-) Tapi lama2 nggak tega juga, apalagi setelah beberapa temannya berkunjung ke wahana itu lebih dari 2x dalam liburan sepanjang 2 minggu lalu.

Jadi, setelah Ima diajak karibnya sekelas, Dennisa, untuk main bareng di Kidzania tanggal 3 Januari, akhirnya gw luluh juga. Dengan janji bahwa Ima main sendiri, nggak usah ditemani ibu atau mbak pengasuhnya, akhirnya gw rela juga antri karcis tanggal 1 Januari kemarin. Iya, ngambil karcisnya juga harus beberapa hari sebelumnya, karena kalau baru beli hari-H bisa2 nggak bakal dapat.

Berhubung gw ini jenis orang yang nggak suka ngerepotin orang lain dengan memakai fasilitas umum terlalu lama (baca: nanya2 di counter sementara banyak orang lain ngantri di belakang gw) dan selalu butuh kepastian, sebelum beli karcis gw survey dulu. Nge-browse situsnya untuk memastikan segala hal; gimana cara beli karcis, bagaimana sistem keamananya kalau anak bermain sendiri tanpa pendampingan orang dewasa, dll.

So, berangkatlah gw di hari Tahun Baru yang berawan-akan-hujan menuju Kidzania dengan bekal pengetahuan yang cukup dan rencana yang matang ;-) Plan A: gw beli karcis 1 karcis aja untuk tanggal 3 Januari sesi pagi hari, dimana Ima bisa masuk sendiri bareng temannya. Plan B: kalau karcis yang gw inginkan habis, gw beli tanggal berikutnya, atau berikutnya lagi, tapi Ima masuk bareng mbak pengasuhnya. Jadi nggak ada ceritanya gw bakal bingung di depan counter.

Sayang, ternyata tidak semua ibu2 seperti gw.. hehehe.. Semua rencana matang gw hancur berantakan karena.. ibu2 yang lain memilih bertanya on the spot ;-) Mengandalkan kompas bacot ;-) Jadi, bayangkan saja berapa waktu yang terbuang karena tidak ada counter informasi khusus untuk menjawab ibu2 yang gagap informasi ini. Transaksi yang maksimal membutuhkan waktu 3 menit/orang (sudah termasuk dialling dan nunggu approval via satelit buat yang bayar dengan kartu kredit), molor jadi sekitar 10 menit per orang. Sebabnya? Ya itu tadi! Masing2 ibu bertanya panjang lebar di counter sebelum bertransaksi.

Iih.. kalau nggak sayang anak, gw udah kabur deh dari tempat itu. Mendingan dianggap kuper daripada ngantri panjang lebar.. HAHAHA.. Itu aja muka gw udah mulai berasap gara2 jengkel lihat ibu2 pada tanya yang itu lagi itu lagi, sampai akhirnya bapaknyaima ngalah dan menggantikan gw di antrian ;-)

*Saran buat yang rencana ngantri karcis di Kidzania: silakan bawa makanan, minuman, cemilan, buku bacaan, kalau perlu DVD player dan DVD-nya sekalian.. hehehe.. Soalnya antriannya puaaaanjang. Dan luaaaama.*

Well.. akhirnya sampai juga giliran gw, dan gw menyelesaikan transaksi kurang dari 1 menit. Petugasnya sampai bingung kenapa gw nggak nanya2 kayak ibu2 yang lain.. hehehe.. sempat ditanyain apakah gw udah pernah ke Kidzania sebelumnya. Yeee.. emangnya semua ibu2 gagap informasi dan cuma bisa mengandalkan kompas bacot ;-)? Malu bertanya memang sesat di jalan, Mas, tapi kebanyakan bertanya itu menjengkelkan orang lain.. hehehe..

Jadi, akhirnya Ima main juga bareng temannya Dennisa sesuai rencana. Cuma diantar mbak-nya sampai pintu masuk, dan dijemput di pintuk keluar 5 jam kemudian. Ima senang banget bisa main sendiri tanpa diikuti mbak-nya. Dia merasa jadi anak gede ;-) Dan dia juga senang sekali bisa main2 di Kidzania yang menurutnya asyik banget ;-) Walaupun, dia agak kecewa juga karena hanya sempat bermain di 3 wahana; salon, apotik, dan klinik gigi. Kidzania-nya penuh banget seperti Dufan di hari Minggu ;-) Lamaan ngantrinya daripada mainnya ;-) Dan dia agak kecewa karena wahana impiannya: nursery room serta SPBU, nggak bisa dimasukinya. Antrian sudah terlalu panjang saat dia mencapai wahana tersebut.

Tapi yang paling menarik buat gw adalah kesan2 Ima berikut ini seputar pengalaman pertama main di Kidzania:

"Cari duit itu ternyata capek, ya, Bu!"

"Udah capek-capek kerja, dapat Kidzos (= mata uang di Kidzania), ternyata nggak bisa dipakai buat beli makanan. Restorannya minta dibayar pakai rupiah. Uangku yang beneran udah habis, jadi aku nggak bisa makan. Padahal aku laper banget tadi"

"Main sama Dennisa ternyata ada nggak asyiknya juga. Dennisa itu kayak Ibu, maunya kerjaaaaa melulu! Aku baru duduk sebentar udah diajak2 kerja lagi, katanya, 'Ayo, Ima, kita kerja! Kalau kita nggak kerja kita nggak dapat duit! Ayo, jangan males!'. Padahal kan aku udah capek, maunya duduk aja"
Hehehehe.. nggak rugi deh gw ngantri karcis sampai bete, karena ternyata bagian terpenting dari segala role play di situ adalah mengajarkan the facts of life ;-). Iya, Nak, di dunia nyata juga kayak di Kidzania kok! Cari duit itu capeeeeeekkk banget. Untuk dapat pekerjaan aja kita mesti ngantri. Sekalinya dapat kerjaan, digaji, belum tentu hasilnya seperti yang diharapkan. Kalau Mbak Ima kan udah capek2 kerja, ternyata duit Kidzos-nya nggak laku buat beli makanan ya.. kalau di dunia nyata, bayarannya sering kali cuma numpang lewat aja. Habis buat bayar ini-itu ;-) Apalagi sekarang bahan bakar naik, dan semua barang2 ikut naik harganya. Gado-gado langganan Ibu aja harganya baru naik, dari Rp 4,000 jadi Rp 6,000 karena, "Minyak tanahnya (untuk ngerebus bahan2 dan nggoreng kerupuk) mahal, Bu, kalau harga nggak naik saya nggak ada untungnya".

Dan soal kalimat yang terakhir.. yaaaah, maaf deh, Nak. Bukannya Ibu workaholic (well, mungkin sedikit sih, tapi nggak banyak2 kok ;-)). Tapi emang bener kata Dennisa tuh: kalau santai2 terus kapan bisa jadi orang terkaya di Indonesia versi Majalah Forbes .. hehehe.. Oops, boro2 masuk daftar Forbes, bisa beli makanan aja enggak ;-) Capek nggak capek, ya mesti kerja terus, Nak. Namanya juga rakyat jelata.. hehehe..

Jadi sekarang Mbak Ima tahu kan, kenapa Ibu mesti kerja terus ;-)? Ntar deh, Nak, kalau bulu ketek udah laku jadi alat pembayaran, kita bisa santai2 sedikit.. HAHAHA.. ;-)