Saturday, January 12, 2008

Jangan Doakan Beliau Sembuh

“Mohon doanya, ya, semoga cepat sembuh,” papar putri bungsu Soeharto, Sri Hutami Endang Adiningsih, Kamis. Semalam, Halimah Trihatmodjo dan Elsye Hardjojudanto, menantu Soeharto, pun meminta masyarakat untuk mendoakan agar Soeharto lekas sembuh.

(Kompas, Jumat, 11 Januari 2008, hal. 1)

.. di kediaman keluarga Soeharto di Kemusuk, Kecamatan Argomulyo, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, semalam digelar pengajian khusus untuk mendoakan pemulihan kesehatan presiden kedua Indonesia itu.

(Kompas, Sabtu, 12 Januari 2008, hal. 15)

---

Hmm.. nggak tahu ya, gw kok ngerasa ada yang nggak sreg dengan berita2 di atas. Entah wartawan yang salah kutip, ucapan keluarga diperhalus, atau memang pada kenyataannya keluarga masih berharap bantuan doa agar Soeharto lekas sembuh? Gw sih setengah berharap bahwa wartawan salah kutip atau dengan sengaja memperhalus kata2 keluarga, karena kalau memang keluarga mengucapkan itu.. alangkah kasihannya Soeharto.

Iya, kasihan sekali beliau! Keluarga masih nggandholi (= menahan2) supaya beliau tidak segera berpulang. Meski berbagai organ tubuhnya sudah gagal berfungsi, paru2nya terendam cairan yang harus dipompa keluar setiap kali, dan ginjalnya sudah tidak mampu mencuci darah sendiri.

Gw pernah berada dalam posisi seperti anak-menantu Soeharto. Dan ya, pada awal2nya gw juga menggantang asap minta orang2 mendoakan kesembuhan. Tapi toh, setelah melihat penderitaan si sakit, lama2 gw merasa terlalu egois kalau masih mengharapkan kesembuhan. Perlahan2, doa pun berganti minta agar diberikan yang terbaik. Yang terbaik adalah yang terbaik, entah apa pun bentuknya. Kalau memang waktunya belum sampai, ya minta Tuhan untuk memberikan kesembuhan segera. Tapi kalau memang sudah harus meninggal, ya minta supaya Tuhan meringankan deritanya. Meninggal segera, tanpa kesulitan, dan diterima di sisi-Nya. Dan kepada keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan.

Dan pada saat berharap yang terbaik, gw sudah nggak bisa juga lip service untuk tetap bilang kepada penjenguk untuk mendoakan kesembuhan. Biar aja lah dibilang pesimis, menyerah.. itu tidak lagi penting. Bukan juga udah males usaha.. usaha sih jalan terus, walaupun siap dengan kegagalan. Juga, bukannya gw merasa sudah sanggup ditinggal, bahwa kematian tidak akan membawa dampak apa2 bagi kami yang ditinggalkan. Hanya saja, pada titik tertentu, yang namanya kesembuhan itu tidak lagi menjadi yang paling penting. Sesedih2nya perasaan ditinggalkan, setakut2nya akan keadaan tak menentu setelah pemakaman, rasanya kok egois ya kalau menghalang2i kematian seseorang?

Terus terang, gw sih kasihan banget melihat Pak Harto yang [maaf] kayaknya susaaaaah banget untuk meninggal. Keadaan beliau sudah seperti itu, tapi seutas nyawa belum putus2 juga. Hidup pun mungkin nggak enak kalau dalam keadaan seperti itu. Kalaupun bisa membaik, dengan segala organ yang degenerasi seperti itu, hidup seperti apa yang akan dijalani?

Nah.. yang gw heran, kok ya keluarganya masih minta didoakan agar sembuh? Apakah kesembuhan dan kehidupan segitu pentingnya? Lebih penting daripada kesejahteraan bapaknya?

Sebenarnya, kalau Pak Harto bisa sembuh dan tetap hidup, itu demi kepentingannya siapa sih? Kepentingan Pak Harto sendiri? Kepentingan bangsa? Atau.. sekedar untuk kepentingan keluarga yang belum merasa siap ditinggal sang pengayom?

Apa nggak sebaiknya sang bapak ini diikhlaskan saja? Didoakan saja supaya beliau diberikan yang terbaik – walaupun yang terbaik itu berupa kematian yang cepat. Harapan memang selalu ada, tapi.. kalau bercermin dari pengalaman gw (dan beberapa pengalaman lain), membaiknya keadaan si sakit itu justru bukan tanda yang bagus. Itu seperti perhentian terakhir buat sprint menuju garis finish.

Kata orang2 Jawa, kalau keluarga terus nggandholi, kematian seseorang bisa terhambat. Nggak tau benar atau enggak, tapi.. seandainya benar, kasihan sekali kalau yang hidup memberatkan “jalan” beliau.

Tapi.. gw nggak tahu juga apakah perlu mendahului dengan membuat skenario dan persiapan2 semacam ini; pakai bikin kartu ID Pemakaman Soeharto segala. Menyiapkan ID sih boleh2 saja, wong yang mau dimakamkan tuh orang terkenal. Yang datang juga mestinya pembesar2 negeri. Keamanan harus berlipat ganda dan ekstra ketat, jangan sampai ada yang menyusul nasib Benazir Bhutto di acara ini. Tapi.. nggak tahu ya, gw kok ngerasa nggak nyaman aja dengan header ID berbunyi: “Pemakaman Bp Jendral Purn. HM Soeharto”, karena toh yang disebut itu belum meninggal. Apa nggak enaknya dibuat ID khusus tanpa penyebutan seperti itu ya? Toh, yang penting dari penggunaan ID adalah dapat dibedakannya mereka yang berhak dari yang tidak berhak masuk area – tak perduli apa headernya.

Ah.. sudahlah.. gw jadi ngomongin prosedur panitia.. hehehe.. Suka2 panitianya lah!

Cuma.. jahat nggak sih kalau gw nggak ikut mendoakan kesembuhan? Habis, gw malah kasihan kalau beliau hidup dengan kualitas seperti itu.

-----

Nambah - 14 Januari 2008

Kalau gw menunda sehariiii aja nulis, dan keburu baca entry bapak ini, serta berita di Kompas tanggal 13 Januari 2008 tentang perlakuan tidak sepantasnya pada Presiden Soekarno menjelang wafat beliau... I wonder, apakah gw masih akan tergelitik oleh kata2 diplomatis anak-menantunya ini ya?