Thursday, January 24, 2008

Sarno

Dulu, di kampung kami, ada seorang penjual kembang tahu keliling. Namanya Sarno. Sepanjang ingatan gw, Sarno sudah menjadi langganan Bapak sejak gw kelas 3 SD. Setiap Sabtu-Minggu, atau hari libur, Sarno pasti mampir ke rumah kami menjajakan kembang tahu, yang disayat tipis2 dengan sendok pipih serta disantap dengan kuah air jahe itu.

Awalnya Sarno berjualan dengan pikulan. Satu sisi pikulannya berisi kompor dan dandang tempat air jahe. Sementara ujung pikulannya yang lain berisi dandang kembang tahu, mangkok2 kecil, dan sendok2 kecil. Lama-kelamaan, setelah memiliki langganan setia di kompleks rumah kami, Sarno mampu membeli sebuah sepeda mini untuk berjualan. Kemudian, usahanya pun berkembang; selain menjual kembang tahu yang disantap hangat, di sepedanya juga selalu bergantungan kantong2 kecil berisi susu kedelai. Enak disantap hangat2 maupun didinginkan di kulkas.

Sarno bukan sekedar bagian dari nostalgia masa kecil gw. Ketika Bapak meninggal, dan kami tinggal di rumah almarhum, gw masih setia menjadi pelanggan Sarno. Malah pelanggan Sarno mencapai generasi ketiga: Ima, yang mengadopsi hobi minum susu kedelai dari gw.

Saat Ima berusia 3 tahun, tiba2 saja Sarno tidak muncul di rumah kami. Berminggu2 ia tidak muncul, sampai beberapa waktu kemudian dia datang lagi. Tidak dengan sepeda, melainkan dengan pikulan yang sudah lama ditinggalkannya.

”Sepeda saya patah, Neng. Belum ada uang untuk beli lagi. Juragan nggak mau tahu. Saya harus tetap jualan. Terpaksa saya sewa pikulan saja”

Sekian belas tahun telah berlalu sejak terakhir kali Sarno menyusuri jalan Klender – Cipinang dengan pikulan.

”Ya, begini ini, Neng. Udah lama nggak mikul. Rasanya berat di pundak. Sebentar-sebentar saya harus istirahat. Tapi ya namanya orang jualan, Neng. Nanti kalau saya nggak jalanin, nggak dapat uang saya”

Trenyuh hati mendengar cerita Sarno, hingga terbersit memberikan sedikit ”uang lebihan” untuk ditabung membeli sepeda bekas. Kata Sarno, sepeda bekas yang masih bagus bisa didapat dengan harga sekitar Rp 150,000 di Pasar Jatinegara.

Beberapa waktu kemudian Sarno datang menunjukkan sepeda bekas yang dibelinya. Warnanya merah, sedikit lebih kecil daripada sepeda yang biasa dipakainya dulu. Tapi tak apa, tubuh Sarno pun kecil mungil. Sekalian dia mengucapkan terima kasih pada pelanggan2 setianya di seputaran kompleks kami atas bantuan yang membuatnya dapat membeli sepeda.

Itu kali terakhir Sarno muncul di kompleks kami. Setelah itu ia tak muncul lagi; justru pedagang2 kembang tahu lain yang muncul setiap Sabtu. Sempat bertanya pada salah satu penjual kembang tahu itu, apakah mereka mengenal Sarno. Mereka jawab bahwa daerah jualan Sarno sekarang adalah Rawamangun, bukan Cipinang lagi.

Kami bertanya2, apa sebab Sarno tak mau lagi hadir di kampung kami. Apakah ia terbebani dengan pemberian kami? Merasa tak enak hilir mudik, menjajakan jualan, pada orang2 yang ”punya andil” memodalinya?

Ternyata tidak sesederhana itu masalahnya. Ketika suatu kali menjemput Ima dari taman kanak-kanaknya, kebetulan gw bertemu dengan Sarno yang sedang mangkal di depan Terminal Rawamangun.

”Soalnya kan saya lama nggak jualan waktu itu, Neng. Jadi sama juragan saya, udah ada orang baru yang disuruh jualan ke kompleks Neng. Saya kan waktu itu pakai pikulan nggak kuat jalan jauh, saya dikasih seputar Klender aja. Waktu udah bisa beli sepeda lagi, kata juragan udah nggak bisa jualan di kompleks Neng. Jadi saya dikasih tempat baru di Rawamangun sini”

Senang hati ini bahwa ternyata bukan Sarno yang berniat meninggalkan kami. Tapi.. ketrenyuhan baru muncul: hidup Sarno dan keluarganya ditentukan oleh jumlah Rp 150,000. Karena tidak punya Rp 150,000 Sarno harus kehilangan pelanggan tetapnya. Belasan tahun membina hubungan baik hilang begitu saja hanya karena ia tidak memiliki cukup uang untuk membeli sepeda baru. Ia harus memulai lagi dari nol, mengayuh sepedanya beberapa [belas?] kilometer lebih jauh, mendatangi calon2 pembeli yang belum mengenalnya, meyakinkan mereka untuk membeli dagangannya. Entah berapa lama lagi waktu yang dibutuhkannya untuk dapat membentuk customer loyalty seperti yang ditinggalkannya di kampung kami.

Semua itu hanya dipisahkan oleh Rp 150,000 yang buat sebagian orang mungkin hanya sekali hang out di mal.

***

Lantas, beberapa waktu lalu gw membaca berita yang mengharukan di Kompas. Tentang seorang pedagang gorengan di Pandeglang, Slamet, yang memilih bunuh diri karena tidak sanggup lagi berdagang setelah harga bahan dasar (tempe/tahu), terigu, dan minyak goreng yang melambung tinggi. Jalan pintas yang dilihatnya sebagai to cut the loss, daripada hidup makin susah lebih baik meninggalkan hidup sekalian. Makin trenyuh membaca Catatan Pinggir GM di Tempo edisi pekan ini:

Cerita Slamet bukanlah hanya cerita tentang tempe dan kekuasaan dan kebebalan. Ia juga cerita sebuah keadaan, ketika seorang bisa begitu putus asa dililit utang yang tinggal separuh dari Rp 5 juta, sementara tak jauh dari tempat ia menggantung diri ada orang-orang yang menghabiskan beratus juta untuk satu malam perhelatan.

Tiba2 gw ingat Sarno; seorang pedagang kembang tahu yang juga berbahan-dasar kedelai. Seorang pedagang yang juragannya tidak mau tahu ketika Rp 150,000 can make a lot of difference in his life.

Dan gw bertanya2.. bagaimana nasibnya kini? Mau tahukah juragannya jika barangnya tidak lagi menghasilkan untung sebesar dulu? Mau tahukah si juragan, jika harga barangnya dinaikkan dan dagangan Sarno tidak laku?

Sarno dan Slamet.. orang2 kecil yang hanya bisa pasrah karena sepenuh nasibnya ditentukan oleh ”tuhan-tuhan kecil” – dari juragan, juga [meminjam analisa GM] "birokrat di Departemen Pertanian dan Departemen Perdagangan, bahkan the other side of the universe: ladang2 di Amerika Serikat, cuaca di Brazil, hingga struktur agribisnis di Argentina". Karena kita hanya mampu memproduksi 800rb ton kedelai, dan mengimport 1,2jt ton.