Friday, October 31, 2008

Adil Sejak Dalam Pikiran

Catatan: Sebelum membaca lebih lanjut, saya ingatkan terlebih dahulu bahwa pandangan saya terhadap RUU Porno masih seperti di entry ini: saya tidak keberatan dengan RUU Porno, namun saya meragukan bahwa rakyat & aparat siap mengaplikasikannya tanpa bias :-) Jadi, sebelum Anda menuliskan komentar bahwa saya adalah pendukung RUU Porno, tolong dibaca dulu tautan tersebut untuk memahami isi pikiran saya ;-)

***

Sudah lebih dari seminggu ini gw memperhatikan bahwa Surat Terbuka ini menjadi sesuatu yang happening ;-) Dikutip di berbagai blog, milis, sebagai fwd-an yang masuk ke japri. Tak tanggung2, seorang empu sekelas Mas Iman ini pun menjadikannya bahan tulisan ;-)

Dimana pun surat terbuka itu tercantumkan, reaksi publik sungguh seragam: menerima surat terbuka itu sebagai bukti keburukan sang ketua pansus. Menerima surat terbuka itu sebagai fakta yang tidak perlu lagi dipertanyakan, dikritisi, atau dibaca ulang.

Hmmm... tak terhitung tulisan di blog gw yang menyilet2 anggota dewan yang terhormat, sehingga gw yakin sekali bahwa gw BUKAN pro anggota dewan. Bukan pencinta fanatik anggota dewan yang tidak rela dan merasa harus membela membabi buta jika ada anggota dewan yang "diserang". Tapi... apakah hanya gw yang dapat melihat bahwa surat terbuka ini perlu dikritisi kembali? Apakah hanya gw yang melihat bahwa masih ada BEBERAPA kemungkinan lain, selain rasisme, yang melatarbelakangi munculnya pernyataan Balkan Kaplale tersebut?

Ohya, gw setuju bahwa pernyataan Balkan Kaplale itu sangat bisa menyinggung perasaan suku tertentu. Tapi... gw kurang yakin bahwa itu benar2 karena rasisme. Sebodoh2nya politikus, gw rasa dia tidak akan sebodoh itu menunjukkan rasisme terang2an hanya beberapa bulan menjelang pemilu ;-) Ada kemungkinan lain: inappropriate joke. Lelucon yang tidak pantas. Niatnya melucu, tapi karena insensitif terhadap orang lain, leluconnya menjadi tidak pada tempatnya WALAUPUN tanpa berniat menghina.

Itu kalau dilihat dari kemungkinan2 dinamika yang melatarbelakangi munculnya pernyataan Balkan Kaplale tersebut ;-) Dari sisi pendengar, a.k.a penulis surat terbuka, bisa kita lihat kemungkinan2 dinamika yang melatarbelakangi munculnya reaksi tersebut juga, bukan ;-)?

Dan dari segi si penulis surat terbuka, gw memperhitungkan kemungkinan bahwa sang penulis sudah terbawa emosi, sudah sakit hati terlebih dahulu, sehingga terjadi bias dalam memaknai pernyataan yang muncul. Let's face it... banyak di antara kita yang sudah sangat apriori terhadap anggota dewan. Tentu sangat manusiawi jika kita sulit bersikap obyektif pada mereka. Apalagi, ketika harus berdiskusi dengan mereka mengenai suatu RUU yang sangat alot dan kontroversial. Tidakkah saat kita melangkah ke ruang dengar pendapat, hati kita sudah separuh panas? Secara tidak sadar, kita sudah tinggal menunggu dirigen mengayunkan tongkat untuk menabuh genderang perang?

Maka akan sangat wajar jika kita menjadi over-reaktif terhadap semua pernyataan anggota dewan ;-) Ini masalah cognitive dissonance kok! Manakala kita sudah punya sikap negatif terhadap sesuatu, lantas ada suatu elemen yang sifatnya positif terhadap sesuatu itu, secara alamiah akan menimbulkan ketidaknyamanan. Dan... untuk mengembalikan kenyamanan, caranya adalah dengan mengubah sikap kita terhadap salah satunya. Supaya tidak lagi terjadi konflik. Dengan demikian, jika sikap kita pada RUU Porno adalah negatif, dan pernyataan Balkan merupakan elemen netral/positif pada RUU Porno, maka kita disonansi kognisi harus diselesaikan. Either dengan mengubah sikap kita pada RUU Porno menjadi positif, atau.... mengambil angle yang dapat membuat pernyataan Balkan tidak lagi menjadi elemen netral/positif :-)

Dan kemungkinan itu gw tengarai ada, ketika membaca tone surat terbuka itu. Sang penulis berulang kali menyatakan betapa sakit hatinya mendengar hinaan dari Ketua Pansus. Tapi, argumen2 yang digunakan untuk mendukung pendapatnya, menurut gw masih bisa terdengar sebagai inappropriate joke, jika intonasinya tepat. Kata2 yang dipilih Balkan bukan kata2 berbisa yang sudah pasti tak terbantahkan merupakan bentuk rasisme. Jangan2, "perasaan subyektif" ini adalah elemen yang digunakan [secara tidak sadar] untuk menawarkan elemen netral/positif yang muncul dari pernyataan Balkan.

Oleh karena itu, gw merasa perlu mencari rekaman aslinya sebelum menentukan sikap. Sang penulis memberikan catatan bahwa ia memiliki rekaman aslinya, kan ;-)? Maka, pasti akan bisa dilacak untuk mendapatkan raw data sebelum bersikap. Dan... baru saja gw AKHIRNYA menemukan rekaman tersebut beredar di imeem:

Pernyataan Kontroversial - Balkan Kaplale

Uhmmm... setelah mendengarkan rekamannya, dengan terpaksa gw mengambil sikap yang berbeda dengan sikap publik. Gw tidak tahu Balkan Kaplale itu orangnya bagaimana, selama ini bagaimana sikapnya, tapi... dalam kaitannya dengan rasisme yang disebut2 dalam surat terbuka itu, gw terpaksa mengatakan: I don't think this is racism. It is not even an inappropriate joke. It is just a joke gone badly, as the joke is made in the wrong place, in front of the wrong audience.

Sang penulis mengatakan bahwa Balkan Kaplale membentak. Tapi yang gw dengar hanyalah logat standar [maaf] seorang Ambon. Didengarkan dari awal sampai akhir, buat gw lebih terdengar sebagai penekanan saja, bukan bentakan. Bisa terdengar sebagai bentakan bagi orang yang tidak terbiasa dengan logat seperti itu.

Sebagai dasar argumennya, sang penulis surat menulis:

Saat giliran Pansus bicara, Balkan Kaplale langsung menanggapi pernyataan Albert. Balkan menyapa Albert dengan sebutan "Adinda" dan berkata: "Jangan begitu dong ah..overdosis. .tak usah ngapain keluar dari NKRI. Timor-timur aja perdana menterinya kemaren mengadu ke Komisi 10, nangis-nangis, rakyatnya miskin sekarang. Betul, belajarlah ke Ambon, saya kebetulan dari Saparua loh. Kalau mendengar begini tersinggung! Belajar baik-baik dari Jawa! (diucapkan dengan kencang dan bernada bentakan)"

Balkan juga berkata "Belajarlah baik-baik! Kalau perlu kau ambil orang Solo supaya perbaikan keturunan! (membentak)" Sebagian besar peserta forum langsung tertawa mendengar kalimat itu.

Namun yang penulis lupa (atau sengaja?) tidak menuliskan adalah: Balkan TIDAK langsung serta merta menyanggah Albert dengan kalimat ini. Kalimat ini adalah bagian dari sebuah paragraf panjang yang menjelaskan betapa hidup bernegara dengan kebhinnekaan memang tidak pernah mudah. Selalu ada perbedaan pendapat dan keinginan antar orang yang berbeda. Atas dasar itu, Balkan mengatakan janganlah mudah2 pundung atau mutung atau purik. Sedikit perbedaan, lantas penyelesaiannya bombastis: keluar dari NKRI :)

Betul, kata2 yang dikutip adalah kata2 Balkan. Dan betul, jika memang HANYA itu yang diucapkan Balkan, maka kesan menghina dan rasis makin sulit dihindari. Namun, mendengarkan secara lengkap pernyataan Balkan, gw jadi merasa bahwa kita berlebihan jika mengatakannya rasis.

Selanjutnya, lepas dari pemilihan kata2 Balkan yang "kurang manis", gw melihat esensi kata2nya benar: ngapain keluar dari NKRI untuk masalah pakaian doang? Kalau Papua memiliki budaya tidak berpakaian, budaya itu tidak diapa2kan. Seperti diucapkan oleh Balkan selanjutnya (dan dengan nyaman tidak dicantumkan - atau memang si penulis surat terbuka tidak mendengar karena keburu sakit hati ;-)): lex specialis derogat lex generalis. Sebuah hukum yang bersifat khusus menyampingkan hukum yang bersifat umum. So don't worry be happy aja deh ;-) Atau tepatnya don't pundung be calm aja deh ;-)

Belajarlah dari suku lain yang MENGALAMI KESULITAN LEBIH BESAR, tapi tidak pundung ingin keluar dari NKRI. Belajarlah untuk lebih taktis, lebih tenang, dalam meninjau persoalan. Jangan buru2 begitu ada persoalan minta putus hubungan. Putus hubungan belum tentu enak! Bisa jadi malah membawa dampak buruk lainnya, seperti di kasus Timor Timur itu. So, di sini penyebutan suku lain adalah contoh. Bujukan. Bukan meninggikan suku lain. Meskipun pemilihan kata2nya "kurang manis".

***

Begitulah yang gw tangkap dari polemik ini. Yang gw tangkap, kita telah terjebak dalam sebuah prasangka. Sebuah prasangka yang membuat penilaian kita tidak lagi obyektif. Bias.

Tuan Minke, tokoh ciptaan Pramoedya Ananta Toer dalam tetraloginya, pernah mengucapkan suatu kalimat menarik: ADIL SEJAK DALAM PIKIRAN. Kalau gw nggak salah ingat konteksnya, hal itu adalah prinsip pokok jurnalisme, dimana dalam menerima dan mengolah fakta haruslah seobyektif mungkin. Sejak dalam bentuk "pikiran", belum "tertuang" menjadi "tulisan", kita sudah harus adil. Supaya yang keluar pun hasilnya obyektif.

Dan untuk itulah gw bertanya ulang kepada KITA semua (termasuk gw ;-)): sudahkah kita bersikap adil sejak dalam pikiran pada kasus ini? Sudahkah kita bersikap adil sejak dalam pikiran ketika mengeluarkan respon terhadap masalah ini? Sudahkah kita menyingkirkan segala ketidaksukaan, segala kekecewaan, segala harapan yang tidak terpenuhi, dari pikiran kita saat menilai kasus ini?

The answer, my friend, is blowing in the wind. The answer is blowing in the wind;-)

Monday, October 27, 2008

Necessity is the Mother of Invention

*Sebangsa leftover dari Lebaran lalu ;-)*

Ketika tahu gw akan "sendirian" tanpa staf garda belakang selama libur Lebaran, gw sempat ngeri. Tugas2 domestik kerumahtanggaan sih nggak seberapa bikin bingung, tapi... punya bayi umur 5 bulan? Belum pernah! Di kasus Ima lebaran pertamanya jatuh saat dia sudah 7 bulan. Sudah lepas ASI, sudah makan bubur, dan sudah bisa duduk sendiri. Itupun gw tidak completely alone, karena yang pulang hanya pengasuhnya saja. Tetap ada PRT yang bantu2 mencuci tumpukan celana Ima.

Naaah... sekarang? Gw mesti berlaku bak Betari Durga bertangan 6.. hehehe.. karena harus mencuci tumpukan celana bekas ompol, menggendong bayi yang belum bisa duduk sendiri, sekaligus menjadi pemasok tunggal ASI. Dan... did I mention bahwa Nara ini bayi caper? Yang kalau nggak digendong sebentaaarrr aja, bakal nangis keras2? Dan tangisannya lebih keras daripada lampornya Nyi Roro Kidul? Dan.. ohya, selain caper, Nara juga punya bakat jadi satpam! Pokoknya, sebelum ayam jantan berkokok, pantang buatnya untuk tidur ;-)

Tapi the show must go on. Maka, akhirnya tibalah hari yang ditakutkan: hari dimana tidak satu pun orang tersisa (halah! hiperbola!) untuk membantu gw.

Hari pertama, bangun jam 10 pagi, setelah semalam nemenin Nara bergadang, langsung angkut2 pakaian kotor buat dicuci. Belum juga mulai kerja, baru sampai di service area, gw sudah mati ucap! Alih2 menemukan botol2 dengan merek pelembut, pembersih lantai, dll, gw malah menemukan sederet botol plastik BEKAS minuman. Tidak ada satupun tanda2 botol mana berisi produk apa! Pun, nggak ada kertas petunjuk!

Ah, tapi gw kan tahu baunya! Tinggal dicium kan? Maka mulailah gw menggunakan penciuman untuk melacak masing2 produk ;-) Ada 4 botol yang terlihat, dan gw tengarai sebagai 4 macam produk: pembersih lantai, pelembut pakaian, deterjen cair (yang dipakai untuk baju2 tertentu), dan karbol.

Botol pertama, terkonfirmasi sebagai pembersih lantai. Botol kedua, tidak diragukan lagi, pasti karbol. Botol ketiga, teridentifikasi sebagai deterjen cair. Maka... gw tidak repot2 lagi mencium botol keempat. Pasti pelembut pakaian toh ;-)?

Dengan riang gw mencuci baju, menguceknya, dan kemudian membilasnya beberapa kali. Tolong dicatat, setiap kali membilas tentunya membutuhkan tenaga tak sedikit untuk memeras sisa air di baju. Lega banget ketika akhirnya tiba pada bilasan terakhir. Tinggal menambahkan pelembut, dan... jemur! Tapi... lho, lho... kok pelembutnya berbusa? Bukannya pelembut itu dipakai di bilasan terakhir dan tidak perlu dibilas lagi? Logikanya nggak berbusa dong?

Penuh kecurigaan, gw mencium isi botol keempat itu. Bener kok, wanginya lembut. Mirip wangi bayi. Mirip dengan produk pencuci botol bayi yang selalu gw pakai. Jadi ini pelembut kan?

Eh.. bentar. Balik ke kalimat sebelumnya. Mirip dengan PRODUK PENCUCI BOTOL BAYI. Dan merek yang sama mengeluarkan produk deterjen cair. Dan gw pernah beli produk itu buat coba2. Jadi.... WAAAAAKSSSS, ini deterjen cair juga, tapi khusus untuk baju bayi!!!

Terpaksa deh, ulang dari awal mencucinya... hehehe....

Hari pertama penuh bencana itu belum berakhir, rupanya. Sorenya, gw mau mensterilkan botol2 Nara. Semua botol yang sudah gw cuci masuk dalam panci besaaaar yang kemudian direbus sampai mendidih. Di tengah proses, gw ingat bahwa teething ring Nara udah beberapa hari gak gw minta sterilkan. Jadi... tanpa pikir panjang, gw cemplungkan saja teething ring itu di panci, nyalain kompor, dan... gw tinggal rebusan itu untuk ngurusin Nara.

Sepuluh menit berlalu... botol2 gw angkat dari panci, dan..... teething ring berbentuk buah ceri yang indah itu sudah jadi kismis... HAHAHAHAHA... alias meleleh :-( Oh, oh, oh... ternyata, teething ring itu cuma boleh DICELUP ke air hangat, atau dicuci dengan produk khusus untuk mensterilisasi :-( It's a big no-no to boil the toy!

*Tapi gw udah beliin yang baru kok, buat menebus fuilty geeling gw ;-) Tuh, yang bentuknya es krim*

Bercermin dari kegagalan hari pertama, hari berikutnya bapaknya anak2 yang mencuci baju. Kalau gw orangnya sedikit perfeksionis, ngeyel mau mencuci manual, maka bapaknya lebih praktis: memanfaatkan mesin cuci. Tapi... saking praktisnya, dia main menuangkan aja seluruh isi keranjang baju kotor Nara ke mesin cuci.

Hasilnya? Di tengah mencuci dia bingung sendiri: kok banyak kapas2 ya, yang ngambang di mesin cuci? Tapi kebingungannya nggak lama, karena... sebentar kemudian sebuah disposable diapers menyembul bak lumba2 ;-)

Makanya toh, Pak, kalau mau nyuci lihat2 dulu isinya. Jangan main cemplungin... hehehe... Untung disposable diaper yang ada feces-nya langsung masuk keranjang sampah, nggak pernah mampir ke keranjang pakaian kotor ;-)

Dan bencana demi bencana terus berdatangan, sebagian karena ada mom's helper yang berniat baik membantu semua pekerjaan ibunya. Tapi... seperti layaknya other 9-year-old helper, kerjanya harus mendapat finishing touch (= eufemisme dari dikerjakan ulang) dari orang tuanya ;-)

*Makanya bener banget tuh kalau anak kecil gak boleh dipekerjakan. Kasihan yang mempekerjakan juga... HAHAHAHA... Damn Erik Haerik Erikson dengan Psychosocial Development Theory-nya! Pasti waktu menelurkan teori mengenai Industry vs Inferiority pada anak usia sekolah, dia nggak memperhatikan dampaknya pada si ibu ;-)!

***

Tapi, walaupun hari2 pertama penuh dengan bencana, dari hari ke hari ada juga proses belajarnya. Dan... beruntunglah kami, karena dianugerahi kemampuan berpikir, sehingga semua necessity yang muncul dari kesulitan2 tugas domestik ini benar2 menjadi the mother of invention ;-)

Temuan pertama terjadi pada hari keempat lebaran. Eyangnya Ima & Nara sudah berangkat ke Solo untuk pertemuan keluarga tahunan. Tapi, sebelum berangkat, beliau berbaik hati memasakkan nasi sebanyak2nya dalam magic jar di rumah kami.

Benar2 "sebanyak2nya" dalam arti harafiah... karena... jadi lebih banyak daripada yang mampu kami makan, dan besoknya nyaris basi!

Rasanya pingin nangiiiis deh melihat nasi sebanyak itu nyaris tak termakan. Dibuang kok sayang, sementara banyak orang nggak bisa makan. Tapi... mau dimakan kok juga udah benyek2 gimanaaaaa gitu.

Gw sudah hampir membuang nasi2 itu, ketika tiba2 mendapat pencerahan. Aha! Kenapa nggak digoreng aja? Kan tahan lebih lama?

Berhubung nggak punya bumbu nasi goreng, terpaksa deh mengarang bebas. Beruntung, beberapa tahun lalu sempat dapat tugas mewawancarai dan mengobservasi ibu2 masak nasi goreng. Jadilah, gw buka2 laci memori mengingat bumbunya apa saja. Yang penting bawang putih (rada banyak), bawang merah, cabe, dan... sisanya gw tuangin aja kecap ikan dan kecap asin.

Eh, jadinya enak juga lho! Setidaknya, bisa dimakan tanpa rasa terpaksa... hehehe... Ini temuan #1: bahwa ternyata gw bisa memasak kalau terpaksa ;-) Mengingat biasanya gw nggoreng nugget aja gosong ;-)

Temuan kedua juga masih berkaitan dengan makanan ;-) Berhubung gw tetap nggak jago masak (meskipun bisa berimprovisasi masak nasi goreng ;-)), akhirnya kami lebih banyak makan di luar. Kendalanya - selain dana membengkak - adalah mengatur posisi Nara ;-) Dia kan belum bisa duduk sendiri, jadi nggak bisa ditaruh di kursi makan anak2. Ditaruh di kereta? Coba aja! Pasti ada yang mengira lampor datang ;-). Jadi, kami harus bergantian menggendong Nara.

*Catatan: kami di sini artinya gw & bapaknya ya! Ima kan belum bisa. Eh, bisa sih, tapi kalau Ima nggendong, harus ada yang ngawasin juga, jadi sama aja lah!*

Dan temuan baru dari bapaknya anak2 adalah: makan sambil tetap menggendong Nara ;-) Seperti di gambar samping ini: Nara digendong dengan kantong kangguru, lalu kepalanya ditutupi tisyu, naaah... bisa deh makan tanpa kepalanya Nara kejatuhan makanan ;-)

Tapi temuan baru ini hanya bisa digunakan oleh bapaknya ;-) Soalnya gw kurang tinggi... HAHAHAHA... Atau mungkin gw cukup tinggi, tapi Nara yang terlalu tinggi untuk ukuran bayi ;-) Soalnya, kalau gw pakai posisi seperti itu, maka kepalanya Nara akan tepat berada di depan bibir gw. Dengan demikian... percuma juga kepalanya Nara ditutupin tisyu. Kalau mau nggak kotor, Nara mesti pakai jas hujan ;-) Belum lagi, tetap aja sendok susah masuk ke mulut gw ;-)

***

Dengan pengalaman ini, gw jadi benar2 membuktikan bahwa necessity is the mother of invention ;-) Mungkin, kalau para garda belakang ini pulangnya lebih dari 10 hari, bakal lebih banyak lagi temuan2 yang kami dapatkan ;-)

Tapi... mendingan nggak jadi penemu deh, daripada hidup jungkir balik kayak kemarin... hehehe... Makanya, ketika si Mbak balik dari kampung, langsung kami sambut dengan hangat. She's our savior.. HAHAHAHA...

Rescue me before I lose control
Rescue me from this fire in my soul
There's only you who can stop me from falling
I need a saviour, need my saviour


(Savior - dipopulerkan oleh Anggun)

Saturday, October 18, 2008

Laskar Pelangi: It Would be Perfect if...

Akhirnya, setelah krisis garda belakang teratasi, bisa juga nonton film Laskar Pelangi. Dan... walaupun konsentrasi menonton berulang kali terganggu oleh hilir mudiknya penonton yang telat datang (*sigh!*) serta mas2 cafetaria yang MENGANTARKAN PESANAN MAKANAN para penonton (*double sigh!*), hasil tontonannya cukup untuk membuat sequel tulisan ini.




Laskar Pelangi - Nidji



Dibandingkan dengan film Ayat-ayat Cinta, yang juga merupakan adaptasi novel, film ini menurut gw lebih baik. Perubahan detil ceritanya memang lebih banyak, tapi lebih mulus keterkaitannya dengan cerita asli. Sehingga akhirnya perubahan2 itu malah membumikan ceritanya tanpa mengubah secara signifikan. Nggak seperti AAC yang perubahannya sedikit, tapi signifikan mengalihkan tema cerita.

Sayangnya, perubahan itu membuat semua aksentuasi emosi terkumpul di paruh terakhir cerita. Membuat bagian awal cerita terlalu datar, monoton, dan membosankan.

Separuh pertama filmnya, gw ngantuk ;). Berasa seperti nonton iklan; rangkaian gambar indah, tapi antara satu bagian dengan bagian lain nggak menyatu. Seolah2 sutradara cuma memvisualisasikan bagian cerita aja, nggak mengelaborasi, apalagi merangkaikannya menjadi cerita utuh. Gw rasa, mereka yang belum baca bukunya bakal bingung nonton bagian awal ini.

Pada paruh pertama cerita ini, bisa dibilang semua moral of the story muncul dalam bentuk kata2 Pak Harfan. Pak Harfan pidato. Pak Harfan menasihati Bu Muslimah. Pak Harfan ngobrol dengan Pak Zulkarnain.. Sampai2 gw mikir: kalau emang semuanya harus dari mulut Pak Harfan, kenapa nggak bikin versi sandiwara radio aja ;)?

Padahal, moral of the story mestinya bisa muncul dari bahasa gambar, atau narasi. Misalnya tentang asal mula munculnya sebutan Laskar Pelangi, mungkin akan lebih pas jika Lukman Sardi (= Ikal dewasa) menarasikan. Tidak hanya dengan menggambarkan ke-10 laskar berdiri melihat pelangi, lantas tiba2 Bu Mus berteriak memanggil, "Laskar Pelangiii... sini...". Terus terang, gw merasa makna filosofis di balik kata "pelangi" (yang sudah dijabarkan Andrea) menjadi tak bermakna. Nama Laskar Pelangi hanya menjadi sebutan kebetulan aja. Karena kebetulan Bu Mus melihat mereka melihat pelangi :)

Bahasa gambar juga dapat digunakan untuk menggambarkan perjuangan Lintang. Elaborasilah kesulitannya belajar di dalam kemiskinan dan ketidakpunyaan. Tidak hanya dengan menunjukkan Lintang belajar di bawah lampu teplok, tapi tunjukkan juga kendalanya saat harus juggling belajar dan mengurus adik2. Atau, kalaupun mau menunjukkan perjuangan Lintang mencapai sekolah, KREATIFLAH! Misalnya, tunjukkan betapa Lintang harus mulai mengayuh sepeda dari sebelum terang tanah, dan baru sampai di sekolah saat mentari sudah tinggi. Atau... manfaatkan salah satu cerita yang bikin trenyuh di novelnya: ketika Lintang terhambat perjalanannya, hingga baru mencapai sekolah saat sekolah hampir usai.

Sayangnya, para pembuat film tampaknya agak bingung mau membuat apa di paruh pertama filmnya :). Alih2 kreatif, malah bolak-balik menunjukkan Lintang ketemu buaya lagi, buaya lagi. Dalam paruh pertama, paling tidak gw lihat Lintang ketemu buaya 3x! Sampai2 gw bikin teka-teki gak penting: apa bedanya antara Lintang dengan Gadis Metropolis ;-)?

*Jawabannya: yg satu adalah lelaki yang ketemu buaya berkali2 di darat, sementara yang lainnya berkali2 ketemu lelaki buaya darat ;-)*

Cerita mulai berkembang sekitar adegan karnaval 17 Agustus. Di sini gw puji para pembuat filmnya karena berhasil membumikan cerita: Mahar membuat koreografi tarian Asmat bagi teman2nya. Perubahan ini cukup menunjukkan jiwa seni Mahar, tapi lebih membumi daripada cerita seorang anak kampung yang bisa membuat KOREOGRAFI KOLOSAL mengenai SAPI AFRIKA kan ;)?

Cerita makin berkembang setelah kematian Pak Harfan. Suatu kecerdikan tersendiri menyimpan cerita tentang Lintang yang terhambat oleh buaya dan lomba cerdas cermat untuk disatukan menjadi rangkaian peristiwa pada hari kematian ayah Lintang. Memang jadi deg2an sekali menunggu Lintang yang nggak kunjung datang, padahal lomba segera akan dimulai. Dan memang akhirnya trenyuh sekali ketika Lintang pulang menggenggam piagam kemenangan, ternyata ayahnya sudah hilang di laut.

Bagian cerita Lintang harus berhenti sekolah membuat gw menangis saat membaca novelnya. Dan tetap membuat gw menangis ketika menonton filmnya. Dengan demikian, setidaknya, film ini sudah berhasil menyampaikan bagian penting dari cerita :)

Lomba Cerdas Cermat ini juga menjadikan kecerdasan Lintang lebih membumi. Seperti gw tulis di resensi novelnya, gw merasa Andrea Hirata berhiperbola saat menggambarkan Lintang sebagai jenius. Lomba ini menempatkan Lintang sebagai anak cerdas, very superior, tapi tidak jenius.

Selain itu, Lintang juga tidak berdebat dengan guru PN Timah di lomba cerdas cermat ini. Yang terjadi adalah guru PN Timah (diperankan oleh Tora Sudiro) menggugat dewan juri yang menyalahkan jawaban Lintang. Lebih membumi, menurut gw, selain karena menunjukkan bahwa Lintang masih punya unggah-ungguh, dalam kenyataannya memang biasanya yang bisa protes tuh guru pendamping, toh ;-)? Bukan pesertanya ;-)

Adegan protes guru PN Timah ini juga membuat akhirnya Tora Sudiro ada fungsinya di film ini... hehehe... Dari awal cerita, gw mikir tokoh Pak Mahmud ini gak penting banget ;-) Ada nggak ada, nggak ada pengaruhnya pada cerita. Wong yang di-highlight adalah kisah cinta Ikal - A Ling kok, jadi ngapain bikin tokoh yang naksir Bu Mus ;-)

***

Gw merasa perlu memberikan catatan khusus untuk casting-nya. Pada awalnya, gw merasa kurang sreg Cut Mini memerankan Bu Mus karena citra Mini yang terlalu riang dan sering berperan rada konyol. Tapi, ternyata dia cukup berhasil memerankan guru bersahaja ini. Dan... logat Melayunya enak sekali didengar ;-) Sedikit banyak, logat Mini ini membantu kita connected dengan masyarakat Belitong.

Para anak Belitong yang berperan sebagai Laskar Pelangi juga tak mengecewakan. Memang, di sana-sini masih terdengar dialog bak hafalan belaka. Terutama dialog pemeran Flo yang mengingatkan gw pada anak kelas 1 SD membaca ini-budi-ini-ibu-budi ;-) Tapi... makin lama, kayaknya mereka makin enjoy dengan perannya, dan makin alamiah berdialog.

*Catatan nggak penting: walaupun si Flo ini ngomongnya hafalan, tapi dia cantik banget! Prediksi gw, dalam 4-5 thn lagi, yang pingin kenalan sama Marcella El Jolia Kondo ini harus antri ambil nomor. Siapa siaap ikutan antri ;-p? Suntingan 22 Oktober 2008: yang siaap jadi pedofil boleh ngintip fotonya Marcella di blognya ManSup. As is. Cantik kan ;)? Mirip siapaaaaa gitu potongan rambutnya ;-) *

Kesepuluh jempol gw (ya, jari gw kan jempol semua ;-)) gw acungkan buat pemeran Mahar ;-) Pada saat teman2nya masih mengucapkan hafalan, Verrys Yamarno ini sudah alamiah sekali berakting. Benar2 menghidupkan tokoh Mahar yang nyentrik2 songong, tapi good looking ;-) Dalam beberapa tahun ke depan, mungkin si Verrys ini bisa jadi bintang film pemenang Citra; kalau diarahkan dengan baik :-)

Salah casting malah gw tengarai ada pada para bintang2 besar di film ini ;-) Alex Komang, misalnya, menurut gw terlalu ganteng buat tokoh ayahnya Lintang. Emang sih... Alex itu hitam, kurus, dan rambutnya awut2an... hehehe... Tapi kurang ringkih! Dan... menurut gw sayang banget mempekerjakan aktor sekaliber Alex Komang untuk sebuah peran yg nggak perlu dieksplorasi oleh pemerannya :(

Juga, menurut gw, adalah sebuah kesia2an menempatkan Jajang C Noer serta Rieke Diah Pitaloka; dua2nya untuk peran yang nggak perlu dieksplorasi pemerannya. Apalagi Rieke jelas gagal berlogat Melayu, jadinya malah agak merusak chemistry cerita.

*Ngomong2, gw pribadi merasa Alex Komang lebih cocok untuk peran ayahnya Ikal. Kharismanya ada. Pasti akan lebih cocok daripada Mathias Muchus jika kelak ada adegan "Baju Safari Ayahku" di film "Sang Pemimpi" ;-)*

Tapi... kesalahan casting paling parah adalah.... tokoh Lintang dewasa! Hwaduh! Sumpah! Orang ini terlalu kekar, dan terlalu modis buat jadi Lintang! Dan... posenya si Lintang dewasa saat memangku anaknya sambil menyampaikan pesan sponsor "Setiap anak berhak mendapatkan pendidikan" itu enggak banget deh! Model abis!

Bener deh, kalau Lintang dewasa seperti itu, dia pasti nggak bakal lama2 jadi supir tronton. Pasti bakal jadi bintang iklan, atau bintang sinetron. Apes2 jadi gigolo... hehehe...

***

Anyway... kesimpulan gw: film ini cukup bagus. Akan lebih bagus lagi kalau paruh pertamanya nggak garing, dengan lebih banyak memberikan aksentuasi emosi melalui bahasa gambar. Hilangkan aja bagian2 nggak penting seperti Samson ngejar2 A Kiong untuk "memperbesar dada"nya dengan belahan bola kasti, atau adegan mencari Flo yang cuma beberapa detik itu. Gunakan waktu dari adegan gak penting itu untuk mengelaborasi paruh pertama filmnya supaya lebih menyentuh. Jadi, nggak semua emosi ngumpul di belakang.

And it would be perfect if you don't put too many stars there ;-) Kebanyakan bintang justru silau, men! Dengan sedemikian banyak bintang besar di peran yang nggak perlu, jadinya film ini kayak jadi kursi parlemen ;-) Semua yang "berjasa" di Pemilu dapat jatah kursi... hehehe... tanpa memperhatikan prinsip the right man in the right place ;-)

Wednesday, October 15, 2008

"One-stop Shopping", Not...

Hari Minggu kemarin, ada 2 jenis barang dalam daftar belanja bulanan yang biasanya tidak ada: blender dan susu formula.

Susu formula perlu dibeli karena sejak seminggu sebelum libur Lebaran Nara sudah drop-out dari program ASI Eksklusif ;-) Sekarang, kaleng kecil susu formula yang dibeli pada sebuah convenient store sebelum akhir cuti melahirkan sudah habis. Sementara blender juga dibeli dalam rangka mempersiapkan si pangeran kecil yang akan segera makan buah. Minggu depan umurnya sudah 6 bulan lho... dan sejak 5 hari lalu Nara sudah mulai makan biskuit. Memang nggak saklek menuruti anjuran pemerintah untuk memberi makanan pendamping ASI setelah usia 6 bulan, karena pada kenyataannya Nara sudah nggak sabar ingin makan ;-) Tiap kali melihat orang makan, Nara segera mencecap2 sambil ngomong, ”Mamam... mamam...”

Selain dua benda tambahan ini, daftar belanja juga mencakup perlengkapan Nara yang selalu dibeli tiap bulan: minyak telon dan minyak tawon.

Tak disangka tak dinyana... gara2 tambahan daftar belanja ini, pengalaman belanja gw jadi kurang menyenangkan!

Bermula ketika gw mengambil susu formula. Seperti barang2 lainnya, susu formula itu gw masukkan begitu saja ke dalam troli. Tapi baru beberapa langkah, tiba2 gw dipanggil oleh salah satu SPG. Katanya susu itu harus DIBAYAR DULU sebelum dimasukkan troli. Ia menunjukkan kasir khusus di sudut lorong penuh susu formula itu.

Mengingat pengalaman gw beberapa bulan lalu, waktu gw ngeyel mau bayar minyak telon di kasir utama bareng belanjaan lainnya dan ternyata ditolak (alasan kasirnya: item tersebut nggak ada dalam database-nya, hanya ada di database kasir counter obat), gw terpaksa menuruti anjuran itu. Antrilah gw di belakang beberapa orang ibu. Dan... berhubung harga susu formula tuh cukup mencekik leher, plus rata2 pelanggan di depan gw beli 2 – 4 kaleng gede2, para ibu itu pun cenderung menyodorkan kartu kredit untuk digesek.

And the disaster began... karena ternyata, oh, ternyata... KASIR COUNTER SUSU FORMULA NGGAK PUNYA MESINNYA!

Jadilah, setiap kali seorang ibu bertransaksi, si kasir segera lari2 ke kasir utama buat nggesek kartu kredit ;-) Dan hampir 10 menit waktu gw terbuang di antrian sambil melihat si mbak kasir latihan sprint ke kasir utama. Gw rasa, si mbak kasir ini bisa jadi atlit Indonesia cabang atletik nomor lari 100m putri pada olimpiade yang akan datang ;-)

Bak buah simalakama; kalau gw tinggal antriannya untuk beli barang2 yang lain, pas balik belum tentu lebih sepi. Tapi kalau nggak gw tinggal, waktu yang terpakai untuk belanja lebih molor lagi. Padahal gw masih harus mengalokasikan waktu untuk ngantri bayar di kasir counter obat setelah membeli minyak telon dan minyak tawon. Beruntung ada ”mom’s shopping partner” yang sigap dan terpercaya ;-) Beruntung juga gw kemarin hanya butuh beli minyak telon dan minyak tawon, nggak perlu beli obat2an lain, sehingga nominal rupiah di dompet cukup bagi the shopping partner untuk membelikan kebutuhan adiknya - selama sang ibu ”terjebak” di counter susu formula ;-)

Coba kalau gw gak punya shopping partner, kan berarti gw harus antri bayar 4x hari itu!

Dan untung juga... shopping partner gw tidak hanya satu ;-) Sekali ini bapaknya anak2 lagi butuh beli tetikus ala kadarnya. Jadi gw bisa menghemat waktu, nggak harus terjebak di kasir counter elektronik buat bayar blender. Coba kalau gw belanja sendiri, kan berarti gw harus antri bayar 4x hari itu!

Jadi ngerti deh sekarang kenapa hipermarket itu sering memposisikan diri sebagai one-stop shopping ;-) Sebab yang dijanjikan memang bahwa di situ tersedia segala macam barang ;-) One-stop shopping bukan berarti otomatis one-stop payment ;-) Yang menjanjikan one-bill itu memang bukan hipermarket... hehehe...

*Persis kayak jalan tol yang memposisikan diri hanya sebagai bebas hambatan ;-) Karena emang nggak bebas macet ;-)*

***

Menanggapi omelan gw terhadap ketidakefisienan sistem pembayaran ini, bapaknya anak2 – si conformist sejati ituh! – cuma ngomong, ”Pastinya mereka udah mikir panjang dan menemukan bahwa sistem seperti ini yang paling efektif untuk mengatasi masalah yang kita tidak tahu”

Huh! Efektif buat mereka kali ya... tapi jelas nggak efisien buat gw ;-)

Dan... sebenernya efektif buat apa sih? Gw mencoba mereka-reka masalah apa yang mereka hadapi. Apakah mereka takut terjadi pencurian barang? Mungkin begitu ;-) Mengingat susu formula pun dipasangi security tag yang alat untuk membukanya gw perhatikan hanya ada di kasir counter susu formula. Tapi... kalau masalahnya pencurian, kan nggak harus ditanggulangi dengan harus bayar di tempat toh? Bisa pakai sistem bon kayak konsinyasi begitu... jadi ntar bayarnya tetap di kasir utama, dan baru ngambil barangnya di meja pengambilan barang. Jangan diambil di tempat pembelian... males aja kalau udah belanja satu troli, terus kudu balik masuk lagi ngambil susu formula ;-). Naah.. daripada nggaji kasir buat susu formula, mungkin lebih murah menggaji pegawai buat ulang-alik mengantarkan susu formula yang dipesan ke meja pengambilan.

Atau masalahnya karena sebenernya itu adalah ”toko berbingkai”? Hehehe... Seperti cerita berbingkai, gitu, alias cerita di dalam cerita ;-) Mungkin begitu di kasus Carrefour yang di Mall of Indonesia ini ;-) Karena counter obatnya pun sebenarnya adalah Century Health Care. Malah gw pernah tuh dikasih selebaran pas beli minyak telon di situ; isinya tentang fasilitas antar obat dari Century Health Care cabang Mall of Indonesia ke daerah seputaran Cempaka Putih & Kelapa Gading.

Tapi... meskipun demikian, theoretically bisa dibuat suatu sistem sehingga apa pun yang terbeli di Century-Health-Care-di-dalam-Carrefour-yang-ada-di-Mall-of-Indonesia ini tercatat dalam data penjualan Century Health Care, meskipun dibayarkan melalui kasir Carrefour dong? Ini kan masalah pencatatan aja ya? Masalah sistem pendataannya? Kan semua kasir menggunakan komputer, bukan sempoa... hehehe... Jadi datanya elektronik, bisa dipertukarkan dan dihubungkan. Ya toh ;)? Jadi nggak ada alasan dong bahwa pelanggan harus dipersulit dengan bayar di kasir2 berbeda ;-).

Eh... ngatur sistem seperti ini bidang kajiannya ERP bukan sih ;-)? Kalau iya, monggo, yang katanya ahli bikin proposal ke hipermarket itu untuk memperbaiki sistemnya ;-) Siapa tahu hokkie-nya emang di proposal project, bukan proposal ”yang lain2” ... hehehe...

***

Intinya, coba deh kembali ke khittah ;-) Pelanggan kan memilih tempat belanja yang one-stop shopping untuk menghemat waktu. Dan penghematan waktu pula yang konon kabarnya ditawarkan oleh konsep one-stop shopping, iya toh? Lha, kalau ternyata nggak one-stop payment, kan jadinya bertentangan dengan apa yang ditawarkan oleh konsep itu sendiri.

Iya, iya, gw tahu bahwa kita bukan bangsa penggila efisiensi dan efektivitas. Pengangguran juga masih banyak di republik ini, sehingga padat karya yang bisa menyerap banyak tenaga lebih disukai daripada padat modal. Tapi jangan dengan alasan mau padat karya lantas diada2kan posisi yang nggak perlu ada, sehingga jalur menjadi panjang dan nggak efisien. Kreatiflah dalam melakukan padat karya ;-).

Friday, October 10, 2008

PPS

*Nerusin draft yang sempat dibuat sebelum “alih profesi” ;-)*

Sekitar 10 hari sebelum Lebaran, gw dan bapaknyaimanara harus menghadiri pemakaman jenazah di sebuah TPU di Jagakarsa. TPU-nya kecil, semacam pemakaman desa yang diakuisisi pemerintah. Namanya Kuburan Kelurahan, simply karena letaknya paaas di samping kantor Lurah Jagakarsa.

Kalau dilihat di peta Falkplan, kuburan ini letaknya di halaman 85 matriks C87. Yang artinya, jalan termudah mencapainya dari rumah gw adalah keluar tol di TB Simatupang, masuk Jl Kebagusan, luruuuuus aja sampai masuk Jl Jagakarsa. Tapi… berhubung pingin sekalian nostalgila sepanjang jalan kenangan, kami memutuskan lewat Lenteng Agung aja. Jadi dibela2in muter di dekat Kampus UI dulu, napak tilas masa2 pacaran naik angkot merah 02 yang ngetem di Halte UI.

Tapi ternyata… kenangan itu memang sebaiknya nggak diungkit2… hehehe… Sebab, bisa merusak keindahan kenangan itu sendiri ;-) Bayangin aja, ternyata sekarang depan Pasar Lenteng Agung itu macetnya kebangetan. Pertumbuhan angkot tampaknya mengikuti deret ukur, sementara pertumbuhan penduduk sekitarnya mengikuti deret hitung ;-) Makanya, satu angkot bisa lamaaaaa sekali nunggu penumpang tanpa mempedulikan antrian panjang di belakangnya.

Sumpah! Lama benjet ngantri di jalan bak titian serambut dibelah tujuh itu! Padahal jarak tempuh dari awal jalan hingga melewati pasar hanya kurang lebih 500m. Waktu tempuhnya? Hampir setengah jam!

*OOT: Saking lamanya macet, gw sampai hampir nawar lemari plastik yang ada di pasar… hehehe... Lemarinya gambar Thomas & Friends, cocok buat Nara. Tapi kata bapaknyaimanara nggak boleh beli lemari pakaian Nara di pasar, takut bajunya Nara terkontaminasi dan mengalami nasib seperti peminum susu bayi bermelamin di Cina itu. Ya suds… gw sih nurut aja. Disuruh belanja lemari ke Mothercare juga mau kok, Pak… hehehe… asal sediain dananya aja ;-)*

Anyway... untuk mengurangi kebosanan terjebak macet (dan kengerian juga, sebab kami berhenti di tanjakan, pas di belakang angkot yang kalau mau jalan harus mundur sedikit – pasti kurang jago nahan di setengah koplingnya ;-)), kami ngobrol2. Nggosipin si supir angkot, tepatnya ;-) Menurut bapaknya anak2, itulah bedanya orang2 yang time limit kayak kita2 ini dengan orang yang earning limit kayak mereka. Kalau kayak kita, pekerjaannya kan banyak, waktu itu sungguh berharga. Performa kita ditentukan oleh berapa banyak pekerjaan yang diselesaikan dengan waktu sesingkat2nya. In the long run, performa ini yang berkaitan dengan pendapatan.

Sedangkan, kalau buat mereka para supir angkot itu, waktu itu relatif ya… hehehe… Buat mereka yang pasti hanyalah lahir, jodoh, dan mati, jumlah uang setoran. Dan sumber uang setoran itu cuma satu: narik angkot. Makanya, mereka nggak keberatan nunggu penumpang sampai bermenit2 demi sejumlah tambahan uang setoran. Nggak kepikir buat mereka bahwa dengan menunggu lama begitu maka bahan bakarnya terbakar dan marjin profitnya mungkin lebih rendah daripada kalau dia jalan terus. Dan buat angkot2 di belakangnya, nggak terpikir buat buru2, nglakson2, atau apa gitu. Mereka pasrah aja nunggu nasibnya. Kalau di pasar yang ramai aja saingan di depan belum dapat penumpang, apalagi kalau mereka jalan? Kan di depan lebih sepi ;-) Mendingan nunggu yang pasti2 aja, toh kalau nanti yang depan sudah penuh, yang belakang dapat giliran ngetem ngumpulin penumpang juga. Gitu kali ya, isi benak mereka?

Ngobrol punya ngobrol, dari topik supir angkutan di Pasar Lenteng Agung ke semesta yang lebih besar (baca: supir angkutan umum di Jakarta & sekitarnya), akhirnya tercetus ide dari bapaknyaimanara:

”Sekali2 pingin deh ngirim supir angkot ke luar negeri. Biar mereka belajar bagaimana mengendarai kendaraan umum. Habis, kalau nggak ngetem, ya ngebut”

Demi mendengar celetukan itu, gw langsung dapat ide: Aha! Kenapa kita nggak bikin PPS aja? Program Pertukaran Supir, gitu!

Programnya ya kayak pertukaran pelajar; supir kendaraan umum dikirim ke negeri2 yang tertib berlalu lintas barang setahun, gitu ;-). Di sana ya kegiatannya sama dengan di sini: mengendarai kendaraan umum. Jadi mereka belajar langsung tentang bagaimana tata tertib lalu lintas.

Sebelum praktek langsung para peserta program ikut matrikulasi dulu. Mungkin sebulan pertama di negeri orang cuma orientasi dan matrikulasi, sambil belajar tata tertibnya. Terus baru habis itu sedikit2 praktek. Menurut gw sih 1 tahun cukup buat “mengubah cara pikir” mereka tentang bagaimana berlalu lintas.

Biar efektif, programnya harus berlangsung beberapa tahun. Jangan hanya sekali aja! Biar jumlah supir terdidiknya cukup besar sehingga bisa menjadi pembaharu bagi teman2nya. Jadi, seleksinya mesti ketat dalam memilih leading edge drivers ;-) Biar kita bisa menciptakan Mafia Berkeley, versi supir angkutan umum ;-)

Tapi, tapi... biayanya dari mana?

Nah! Itu! Menurut gw daripada dana negara habis buat ngebiayain pejabat2 pada studi banding ke luar negeri, mendingan dananya dialokasikan saja untuk Program Pertukaran Supir ini ;-) Soalnya, kalau pejabat2 itu yang ke luar negeri, belum tentu hasilnya bisa diimplementasikan langsung kepada rakyat. Wong hidupnya jauh dari rakyat, biarpun katanya sih representasi rakyat. Apalagi ngebiayain KPU ke luar negeri hanya buat sosialisasi Pemilu. Ngapain jugaaaa gitu lho?

Pertama, berapa sih persentase orang Indonesia di luar negeri? Signifikankah untuk mempengaruhi hasil Pemilu?

Kedua, lha wong di Indonesia aja banyak yang masih nggak tertarik ikut Pemilu, masih gol-put, kenapa sosialisasinya nggak diarahkan ke dalam? Orang2 di Indonesia ini yang akan terkait langsung dengan hasil Pemilu kan? Wong hidupnya di sini. Mbok ya yang di sini aja yang dimaksimalkan.

Ketiga, kalau memang rakyat Indonesia di luar negeri itu signifikan jumlahnya untuk mempengaruhi hasil Pemilu, pertanyaannya: apakah hasil Pemilu signifikan untuk meningkatkan harkat hidup rakyat? Sejauh ini sih hasil Pemilu Indonesia masih mengikuti falsafah Teh Botol Sosro: Apa pun yang menang, minumnya Teh Botol Sosro, kehidupan rakyat ya begitu2 aja.

Jadi... mendingan kalau dananya dialokasikan pada memperbaiki sistem transportasi umum secara langsung. Emang perubahannya nggak besar sih, cuma di sektor pelayanan publik angkutan jalan raya aja. Tapi... setidaknya, perubahannya ada pada sektor riil (tsah!).

Kalau masalah sosialisasi Pemilu, kampanye terselubung biar pada kenal dan milih, nggak usah ngirim KPU ke luar negeri. Realisasikan aja reality show ini ;-)

Gimana? OK kan usul gw? Hehehe... Ayo, partai dan kandidat presiden mana yang mau merealisasikan usul gw? Suara gw dalam Pemilu akan gw berikan pada partai yang calon presidennya mau menjalankan ini ;-)

Cuma ada satu masalah kecil aja ;-) Nama programnya nggak bisa Program Pertukaran Supir dong ya? Kan nggak ada supir dari sana yang dikirim ke sini ;-) Atau ada? Hehehe... Jadi, menerima masukan usul nama program. Coba tulis proposalnya, huruf Arial ukuran 11, spasi rangkap dua ya! Hehehe... Tapi kalau proposalnya ditolak jangan marah ya ;-) Usaha lagi, lihat lagi salah dimana ;-)