Friday, October 31, 2008

Adil Sejak Dalam Pikiran

Catatan: Sebelum membaca lebih lanjut, saya ingatkan terlebih dahulu bahwa pandangan saya terhadap RUU Porno masih seperti di entry ini: saya tidak keberatan dengan RUU Porno, namun saya meragukan bahwa rakyat & aparat siap mengaplikasikannya tanpa bias :-) Jadi, sebelum Anda menuliskan komentar bahwa saya adalah pendukung RUU Porno, tolong dibaca dulu tautan tersebut untuk memahami isi pikiran saya ;-)

***

Sudah lebih dari seminggu ini gw memperhatikan bahwa Surat Terbuka ini menjadi sesuatu yang happening ;-) Dikutip di berbagai blog, milis, sebagai fwd-an yang masuk ke japri. Tak tanggung2, seorang empu sekelas Mas Iman ini pun menjadikannya bahan tulisan ;-)

Dimana pun surat terbuka itu tercantumkan, reaksi publik sungguh seragam: menerima surat terbuka itu sebagai bukti keburukan sang ketua pansus. Menerima surat terbuka itu sebagai fakta yang tidak perlu lagi dipertanyakan, dikritisi, atau dibaca ulang.

Hmmm... tak terhitung tulisan di blog gw yang menyilet2 anggota dewan yang terhormat, sehingga gw yakin sekali bahwa gw BUKAN pro anggota dewan. Bukan pencinta fanatik anggota dewan yang tidak rela dan merasa harus membela membabi buta jika ada anggota dewan yang "diserang". Tapi... apakah hanya gw yang dapat melihat bahwa surat terbuka ini perlu dikritisi kembali? Apakah hanya gw yang melihat bahwa masih ada BEBERAPA kemungkinan lain, selain rasisme, yang melatarbelakangi munculnya pernyataan Balkan Kaplale tersebut?

Ohya, gw setuju bahwa pernyataan Balkan Kaplale itu sangat bisa menyinggung perasaan suku tertentu. Tapi... gw kurang yakin bahwa itu benar2 karena rasisme. Sebodoh2nya politikus, gw rasa dia tidak akan sebodoh itu menunjukkan rasisme terang2an hanya beberapa bulan menjelang pemilu ;-) Ada kemungkinan lain: inappropriate joke. Lelucon yang tidak pantas. Niatnya melucu, tapi karena insensitif terhadap orang lain, leluconnya menjadi tidak pada tempatnya WALAUPUN tanpa berniat menghina.

Itu kalau dilihat dari kemungkinan2 dinamika yang melatarbelakangi munculnya pernyataan Balkan Kaplale tersebut ;-) Dari sisi pendengar, a.k.a penulis surat terbuka, bisa kita lihat kemungkinan2 dinamika yang melatarbelakangi munculnya reaksi tersebut juga, bukan ;-)?

Dan dari segi si penulis surat terbuka, gw memperhitungkan kemungkinan bahwa sang penulis sudah terbawa emosi, sudah sakit hati terlebih dahulu, sehingga terjadi bias dalam memaknai pernyataan yang muncul. Let's face it... banyak di antara kita yang sudah sangat apriori terhadap anggota dewan. Tentu sangat manusiawi jika kita sulit bersikap obyektif pada mereka. Apalagi, ketika harus berdiskusi dengan mereka mengenai suatu RUU yang sangat alot dan kontroversial. Tidakkah saat kita melangkah ke ruang dengar pendapat, hati kita sudah separuh panas? Secara tidak sadar, kita sudah tinggal menunggu dirigen mengayunkan tongkat untuk menabuh genderang perang?

Maka akan sangat wajar jika kita menjadi over-reaktif terhadap semua pernyataan anggota dewan ;-) Ini masalah cognitive dissonance kok! Manakala kita sudah punya sikap negatif terhadap sesuatu, lantas ada suatu elemen yang sifatnya positif terhadap sesuatu itu, secara alamiah akan menimbulkan ketidaknyamanan. Dan... untuk mengembalikan kenyamanan, caranya adalah dengan mengubah sikap kita terhadap salah satunya. Supaya tidak lagi terjadi konflik. Dengan demikian, jika sikap kita pada RUU Porno adalah negatif, dan pernyataan Balkan merupakan elemen netral/positif pada RUU Porno, maka kita disonansi kognisi harus diselesaikan. Either dengan mengubah sikap kita pada RUU Porno menjadi positif, atau.... mengambil angle yang dapat membuat pernyataan Balkan tidak lagi menjadi elemen netral/positif :-)

Dan kemungkinan itu gw tengarai ada, ketika membaca tone surat terbuka itu. Sang penulis berulang kali menyatakan betapa sakit hatinya mendengar hinaan dari Ketua Pansus. Tapi, argumen2 yang digunakan untuk mendukung pendapatnya, menurut gw masih bisa terdengar sebagai inappropriate joke, jika intonasinya tepat. Kata2 yang dipilih Balkan bukan kata2 berbisa yang sudah pasti tak terbantahkan merupakan bentuk rasisme. Jangan2, "perasaan subyektif" ini adalah elemen yang digunakan [secara tidak sadar] untuk menawarkan elemen netral/positif yang muncul dari pernyataan Balkan.

Oleh karena itu, gw merasa perlu mencari rekaman aslinya sebelum menentukan sikap. Sang penulis memberikan catatan bahwa ia memiliki rekaman aslinya, kan ;-)? Maka, pasti akan bisa dilacak untuk mendapatkan raw data sebelum bersikap. Dan... baru saja gw AKHIRNYA menemukan rekaman tersebut beredar di imeem:

Pernyataan Kontroversial - Balkan Kaplale

Uhmmm... setelah mendengarkan rekamannya, dengan terpaksa gw mengambil sikap yang berbeda dengan sikap publik. Gw tidak tahu Balkan Kaplale itu orangnya bagaimana, selama ini bagaimana sikapnya, tapi... dalam kaitannya dengan rasisme yang disebut2 dalam surat terbuka itu, gw terpaksa mengatakan: I don't think this is racism. It is not even an inappropriate joke. It is just a joke gone badly, as the joke is made in the wrong place, in front of the wrong audience.

Sang penulis mengatakan bahwa Balkan Kaplale membentak. Tapi yang gw dengar hanyalah logat standar [maaf] seorang Ambon. Didengarkan dari awal sampai akhir, buat gw lebih terdengar sebagai penekanan saja, bukan bentakan. Bisa terdengar sebagai bentakan bagi orang yang tidak terbiasa dengan logat seperti itu.

Sebagai dasar argumennya, sang penulis surat menulis:

Saat giliran Pansus bicara, Balkan Kaplale langsung menanggapi pernyataan Albert. Balkan menyapa Albert dengan sebutan "Adinda" dan berkata: "Jangan begitu dong ah..overdosis. .tak usah ngapain keluar dari NKRI. Timor-timur aja perdana menterinya kemaren mengadu ke Komisi 10, nangis-nangis, rakyatnya miskin sekarang. Betul, belajarlah ke Ambon, saya kebetulan dari Saparua loh. Kalau mendengar begini tersinggung! Belajar baik-baik dari Jawa! (diucapkan dengan kencang dan bernada bentakan)"

Balkan juga berkata "Belajarlah baik-baik! Kalau perlu kau ambil orang Solo supaya perbaikan keturunan! (membentak)" Sebagian besar peserta forum langsung tertawa mendengar kalimat itu.

Namun yang penulis lupa (atau sengaja?) tidak menuliskan adalah: Balkan TIDAK langsung serta merta menyanggah Albert dengan kalimat ini. Kalimat ini adalah bagian dari sebuah paragraf panjang yang menjelaskan betapa hidup bernegara dengan kebhinnekaan memang tidak pernah mudah. Selalu ada perbedaan pendapat dan keinginan antar orang yang berbeda. Atas dasar itu, Balkan mengatakan janganlah mudah2 pundung atau mutung atau purik. Sedikit perbedaan, lantas penyelesaiannya bombastis: keluar dari NKRI :)

Betul, kata2 yang dikutip adalah kata2 Balkan. Dan betul, jika memang HANYA itu yang diucapkan Balkan, maka kesan menghina dan rasis makin sulit dihindari. Namun, mendengarkan secara lengkap pernyataan Balkan, gw jadi merasa bahwa kita berlebihan jika mengatakannya rasis.

Selanjutnya, lepas dari pemilihan kata2 Balkan yang "kurang manis", gw melihat esensi kata2nya benar: ngapain keluar dari NKRI untuk masalah pakaian doang? Kalau Papua memiliki budaya tidak berpakaian, budaya itu tidak diapa2kan. Seperti diucapkan oleh Balkan selanjutnya (dan dengan nyaman tidak dicantumkan - atau memang si penulis surat terbuka tidak mendengar karena keburu sakit hati ;-)): lex specialis derogat lex generalis. Sebuah hukum yang bersifat khusus menyampingkan hukum yang bersifat umum. So don't worry be happy aja deh ;-) Atau tepatnya don't pundung be calm aja deh ;-)

Belajarlah dari suku lain yang MENGALAMI KESULITAN LEBIH BESAR, tapi tidak pundung ingin keluar dari NKRI. Belajarlah untuk lebih taktis, lebih tenang, dalam meninjau persoalan. Jangan buru2 begitu ada persoalan minta putus hubungan. Putus hubungan belum tentu enak! Bisa jadi malah membawa dampak buruk lainnya, seperti di kasus Timor Timur itu. So, di sini penyebutan suku lain adalah contoh. Bujukan. Bukan meninggikan suku lain. Meskipun pemilihan kata2nya "kurang manis".

***

Begitulah yang gw tangkap dari polemik ini. Yang gw tangkap, kita telah terjebak dalam sebuah prasangka. Sebuah prasangka yang membuat penilaian kita tidak lagi obyektif. Bias.

Tuan Minke, tokoh ciptaan Pramoedya Ananta Toer dalam tetraloginya, pernah mengucapkan suatu kalimat menarik: ADIL SEJAK DALAM PIKIRAN. Kalau gw nggak salah ingat konteksnya, hal itu adalah prinsip pokok jurnalisme, dimana dalam menerima dan mengolah fakta haruslah seobyektif mungkin. Sejak dalam bentuk "pikiran", belum "tertuang" menjadi "tulisan", kita sudah harus adil. Supaya yang keluar pun hasilnya obyektif.

Dan untuk itulah gw bertanya ulang kepada KITA semua (termasuk gw ;-)): sudahkah kita bersikap adil sejak dalam pikiran pada kasus ini? Sudahkah kita bersikap adil sejak dalam pikiran ketika mengeluarkan respon terhadap masalah ini? Sudahkah kita menyingkirkan segala ketidaksukaan, segala kekecewaan, segala harapan yang tidak terpenuhi, dari pikiran kita saat menilai kasus ini?

The answer, my friend, is blowing in the wind. The answer is blowing in the wind;-)