Wednesday, October 15, 2008

"One-stop Shopping", Not...

Hari Minggu kemarin, ada 2 jenis barang dalam daftar belanja bulanan yang biasanya tidak ada: blender dan susu formula.

Susu formula perlu dibeli karena sejak seminggu sebelum libur Lebaran Nara sudah drop-out dari program ASI Eksklusif ;-) Sekarang, kaleng kecil susu formula yang dibeli pada sebuah convenient store sebelum akhir cuti melahirkan sudah habis. Sementara blender juga dibeli dalam rangka mempersiapkan si pangeran kecil yang akan segera makan buah. Minggu depan umurnya sudah 6 bulan lho... dan sejak 5 hari lalu Nara sudah mulai makan biskuit. Memang nggak saklek menuruti anjuran pemerintah untuk memberi makanan pendamping ASI setelah usia 6 bulan, karena pada kenyataannya Nara sudah nggak sabar ingin makan ;-) Tiap kali melihat orang makan, Nara segera mencecap2 sambil ngomong, ”Mamam... mamam...”

Selain dua benda tambahan ini, daftar belanja juga mencakup perlengkapan Nara yang selalu dibeli tiap bulan: minyak telon dan minyak tawon.

Tak disangka tak dinyana... gara2 tambahan daftar belanja ini, pengalaman belanja gw jadi kurang menyenangkan!

Bermula ketika gw mengambil susu formula. Seperti barang2 lainnya, susu formula itu gw masukkan begitu saja ke dalam troli. Tapi baru beberapa langkah, tiba2 gw dipanggil oleh salah satu SPG. Katanya susu itu harus DIBAYAR DULU sebelum dimasukkan troli. Ia menunjukkan kasir khusus di sudut lorong penuh susu formula itu.

Mengingat pengalaman gw beberapa bulan lalu, waktu gw ngeyel mau bayar minyak telon di kasir utama bareng belanjaan lainnya dan ternyata ditolak (alasan kasirnya: item tersebut nggak ada dalam database-nya, hanya ada di database kasir counter obat), gw terpaksa menuruti anjuran itu. Antrilah gw di belakang beberapa orang ibu. Dan... berhubung harga susu formula tuh cukup mencekik leher, plus rata2 pelanggan di depan gw beli 2 – 4 kaleng gede2, para ibu itu pun cenderung menyodorkan kartu kredit untuk digesek.

And the disaster began... karena ternyata, oh, ternyata... KASIR COUNTER SUSU FORMULA NGGAK PUNYA MESINNYA!

Jadilah, setiap kali seorang ibu bertransaksi, si kasir segera lari2 ke kasir utama buat nggesek kartu kredit ;-) Dan hampir 10 menit waktu gw terbuang di antrian sambil melihat si mbak kasir latihan sprint ke kasir utama. Gw rasa, si mbak kasir ini bisa jadi atlit Indonesia cabang atletik nomor lari 100m putri pada olimpiade yang akan datang ;-)

Bak buah simalakama; kalau gw tinggal antriannya untuk beli barang2 yang lain, pas balik belum tentu lebih sepi. Tapi kalau nggak gw tinggal, waktu yang terpakai untuk belanja lebih molor lagi. Padahal gw masih harus mengalokasikan waktu untuk ngantri bayar di kasir counter obat setelah membeli minyak telon dan minyak tawon. Beruntung ada ”mom’s shopping partner” yang sigap dan terpercaya ;-) Beruntung juga gw kemarin hanya butuh beli minyak telon dan minyak tawon, nggak perlu beli obat2an lain, sehingga nominal rupiah di dompet cukup bagi the shopping partner untuk membelikan kebutuhan adiknya - selama sang ibu ”terjebak” di counter susu formula ;-)

Coba kalau gw gak punya shopping partner, kan berarti gw harus antri bayar 4x hari itu!

Dan untung juga... shopping partner gw tidak hanya satu ;-) Sekali ini bapaknya anak2 lagi butuh beli tetikus ala kadarnya. Jadi gw bisa menghemat waktu, nggak harus terjebak di kasir counter elektronik buat bayar blender. Coba kalau gw belanja sendiri, kan berarti gw harus antri bayar 4x hari itu!

Jadi ngerti deh sekarang kenapa hipermarket itu sering memposisikan diri sebagai one-stop shopping ;-) Sebab yang dijanjikan memang bahwa di situ tersedia segala macam barang ;-) One-stop shopping bukan berarti otomatis one-stop payment ;-) Yang menjanjikan one-bill itu memang bukan hipermarket... hehehe...

*Persis kayak jalan tol yang memposisikan diri hanya sebagai bebas hambatan ;-) Karena emang nggak bebas macet ;-)*

***

Menanggapi omelan gw terhadap ketidakefisienan sistem pembayaran ini, bapaknya anak2 – si conformist sejati ituh! – cuma ngomong, ”Pastinya mereka udah mikir panjang dan menemukan bahwa sistem seperti ini yang paling efektif untuk mengatasi masalah yang kita tidak tahu”

Huh! Efektif buat mereka kali ya... tapi jelas nggak efisien buat gw ;-)

Dan... sebenernya efektif buat apa sih? Gw mencoba mereka-reka masalah apa yang mereka hadapi. Apakah mereka takut terjadi pencurian barang? Mungkin begitu ;-) Mengingat susu formula pun dipasangi security tag yang alat untuk membukanya gw perhatikan hanya ada di kasir counter susu formula. Tapi... kalau masalahnya pencurian, kan nggak harus ditanggulangi dengan harus bayar di tempat toh? Bisa pakai sistem bon kayak konsinyasi begitu... jadi ntar bayarnya tetap di kasir utama, dan baru ngambil barangnya di meja pengambilan barang. Jangan diambil di tempat pembelian... males aja kalau udah belanja satu troli, terus kudu balik masuk lagi ngambil susu formula ;-). Naah.. daripada nggaji kasir buat susu formula, mungkin lebih murah menggaji pegawai buat ulang-alik mengantarkan susu formula yang dipesan ke meja pengambilan.

Atau masalahnya karena sebenernya itu adalah ”toko berbingkai”? Hehehe... Seperti cerita berbingkai, gitu, alias cerita di dalam cerita ;-) Mungkin begitu di kasus Carrefour yang di Mall of Indonesia ini ;-) Karena counter obatnya pun sebenarnya adalah Century Health Care. Malah gw pernah tuh dikasih selebaran pas beli minyak telon di situ; isinya tentang fasilitas antar obat dari Century Health Care cabang Mall of Indonesia ke daerah seputaran Cempaka Putih & Kelapa Gading.

Tapi... meskipun demikian, theoretically bisa dibuat suatu sistem sehingga apa pun yang terbeli di Century-Health-Care-di-dalam-Carrefour-yang-ada-di-Mall-of-Indonesia ini tercatat dalam data penjualan Century Health Care, meskipun dibayarkan melalui kasir Carrefour dong? Ini kan masalah pencatatan aja ya? Masalah sistem pendataannya? Kan semua kasir menggunakan komputer, bukan sempoa... hehehe... Jadi datanya elektronik, bisa dipertukarkan dan dihubungkan. Ya toh ;)? Jadi nggak ada alasan dong bahwa pelanggan harus dipersulit dengan bayar di kasir2 berbeda ;-).

Eh... ngatur sistem seperti ini bidang kajiannya ERP bukan sih ;-)? Kalau iya, monggo, yang katanya ahli bikin proposal ke hipermarket itu untuk memperbaiki sistemnya ;-) Siapa tahu hokkie-nya emang di proposal project, bukan proposal ”yang lain2” ... hehehe...

***

Intinya, coba deh kembali ke khittah ;-) Pelanggan kan memilih tempat belanja yang one-stop shopping untuk menghemat waktu. Dan penghematan waktu pula yang konon kabarnya ditawarkan oleh konsep one-stop shopping, iya toh? Lha, kalau ternyata nggak one-stop payment, kan jadinya bertentangan dengan apa yang ditawarkan oleh konsep itu sendiri.

Iya, iya, gw tahu bahwa kita bukan bangsa penggila efisiensi dan efektivitas. Pengangguran juga masih banyak di republik ini, sehingga padat karya yang bisa menyerap banyak tenaga lebih disukai daripada padat modal. Tapi jangan dengan alasan mau padat karya lantas diada2kan posisi yang nggak perlu ada, sehingga jalur menjadi panjang dan nggak efisien. Kreatiflah dalam melakukan padat karya ;-).