Wednesday, December 26, 2007

"I Did my Best, but I guess My Best wasn't Good Enough"

Beberapa kali gw membaca, atau mendengar, komentar pejabat negara yang kurang manis jika menyangkut data2 penelitian yang kurang sesuai dengan maunya mereka. Komentarnya senada seirama dalam isi; meragukan apakah data2 penelitian itu dapat diandalkan karena toh “itu hanya survei, yang disurvei belum tentu tahu masalahnya”. Namun demikian, intonasi penyampaian komentarnya berbeda-beda.

Komentar dengan intonasi paling berapi2 penuh defense dan perasaan terhina dipamerkan seorang pejabat negara di Metro TV beberapa waktu lalu ketika instansinya dipersepsikan masyarakat sebagai instansi pemerintahan terkorup, berdasarkan hasil penelitian TII dan Gallup International. Dengan berapi2, pejabat negara tersebut menantang presenter untuk menunjukkan siapa2 saja responden penelitian ini, menuduh bahwa penelitian ini bersampelkan para kriminal dan ditunggangi musuh-musuh negara. Pun ketika sang pembawa acara menunjukkan rekaman yang mendukung hasil penelitian itu ;-)

Gw jadi geli melihat pengkambinghitaman penelitian seperti ini. Sebenarnya, ini murni pameran kedefensivan, atau memang nggak ngerti tentang seluk beluk penelitian ya?

Gw ambil aja asumsi yang kedua: bahwa ini bukan sekedar defensif, tapi karena memang nggak ngerti bahwa dalam penelitian yang dilakukan lembaga2 penelitian profesional, pertanyaan tentang validitas dan reliabilitas sampel penelitian, metodologi penelitian, dan hasil penelitian adalah sesuatu yang tidak relevan. Hal-hal ini adalah yang pertama kali diperhatikan dalam tahap menyusun rancangan penelitian – yaitu tahap dimana pengumpulan data bahkan belum dimulai.

Gw pribadi punya pengalaman kerja bareng Gallup International saat masih di kantor terdahulu. Pengalaman gw membuktikan bahwa mereka bukan perusahaan riset kacangan yang sampling dan metodologinya masih perlu dipertanyakan ;-) Hanya orang2 yang nggak ngerti riset (atau yang defensif) yang akan mengatakan, "Ini seperti masukan sampah, karena dari proses mereka melaksanakan penelitian sulit untuk dipertanggungjawabkan"

Lha, tapi kok, hasilnya (baca: persepsi masyarakat tentang diri instansi kami) nggak sesuai dengan apa yang sudah susah payah dilakukan oleh anggota instansi? Atau seperti dikatakan oleh sang pejabat itu: instansi kami sudah banyak melakukan perbaikan, jadi hasil ini seperti fitnah karena seolah2 kami tidak berusaha memperbaiki diri.

Well, kalau itu sih, Pak, masalahnya bukan pada salah sampling atau salah metodologi ;-) Itu adalah kondisi ALAMIAH dari sebuah penelitian ;-) Memang tugasnya peneliti menemukan kesenjangan seperti itu

Buat gampangnya, gw kasih bocoran sebuah bagan yang gw bikin untuk memberikan pengarahan awal pada junior researcher. Ini memang bagan tentang marketing research, tapi prinsipnya universal kok, bisa diterapkan ke dalam penelitian sosial lain.

Jadi, memang posisinya penelitian itu untuk menggali akar masalah antara klien (penyedia barang/jasa) dan konsumen (pengguna barang/jasa). Dari jaman Adam masih pakai celana monyet, yang namanya penyedia dan pengguna itu punya pandangan masing2, yang seringkali bertolak belakang. Gimana nggak bertolak belakang, lha wong penyedia barang/jasa itu menciptakan barang/jasa berlandaskan apa yang mereka ketahui tentang kriteria bagus/buruknya sebuah barang secara obyektif. Sementara, pengguna barang/jasa menilai sebuah barang/jasa berdasarkan pengalaman subyektif mereka. Nggak akan pernah ketemu; yang paling memungkinkan adalah memperkecil kesenjangan antara kriteria obyektif dengan harapan subyektif tersebut.

Dan dalam rangka memperkecil kesenjangan itu, pertama kali yang harus diketahui oleh pihak pembuat jasa/barang adalah KESENJANGAN APA yang ada antara dirinya dan diri konsumennya. Apakah sebenarnya hanya terjadi kesenjangan persepsi, dimana sebenarnya si produsen sudah seperti yang diangankan konsumen, namun informasi tersebut tidak sampai ke tangan konsumen. Atau apakah ada kesenjangan antara kebutuhan konsumen dengan apa yang ditawarkan produsen; yang terbaik di mata produsen ternyata tidak cukup baik di mata konsumen.

Di situlah letaknya penelitian! Sebagai pihak ketiga yang menengahi konsumen dan produsen, diharapkan peneliti akan bisa lebih bersifat obyektif dan menemukan kesenjangan antar keduanya. Bersifat obyektif, karena sebagai pihak yang tidak memproduksi, ia diharapkan lebih tenang untuk menerima komentar negatif dari konsumen. Dan kemudian bersikap obyektif pula untuk menelaah dimana letak penyebab komentar negatif itu; karena konsumen kurang pengetahuan, atau karena produsennya memang belum cukup baik.

Dengan demikian, saran yang diberikan pada produsen untuk mengurangi kesenjangan dengan konsumen ini juga obyektif. Kalau memang kesenjangan lebih disebabkan oleh kurangnya pengetahuan konsumen, maka saran yang diberikan lebih ke arah edukasi konsumen, strategi komunikasi, dll. Tapi.. kalau memang kesenjangan lebih disebabkan oleh kurang baiknya kinerja produsen, ya peneliti tanpa sungkan juga berani memberikan saran tentang bagaimana kinerja itu harus diperbaiki.

So.. kalau kemudian hasil penelitian menunjukkan bahwa masih ada kesenjangan antara persepsi/harapan konsumen dengan apa yang terbaik yang sudah diberikan, maka bukan penelitiannya yang harus diusut ;-) Justru hasil itu menjadi masukan yang sangat baik bagi kita; kita jadi tahu ke arah mana lagi kita harus mengembangkan diri.

Jadi, buat the-institution-who-cannot-be-named, berbesar hati sajalah dalam membaca hasil penelitian ini. Nggak perlu nyebar intel segala untuk mengungkap teori konspirasi di balik penelitian ini ;-) Justru, jadikan ini sebagai masukan untuk mengembangkan diri.

Kalau Anda sudah merasa melakukan yang terbaik, tapi persepsi rakyat masih demikian, berarti mungkin ada yang salah dalam mengkomunikasiannya. Coba susun strategi komunikasi yang lebih baik.

Namun, Anda juga harus berbesar hati jika memang banyaknya perbaikan yang Anda lakukan ternyata tetap belum sesuai harapan masyarakat. Mungkin arah perbaikan Anda kurang tepat, atau simply belum cukup baik aja. Ini sangat bisa terjadi kok, kan udah dinyanyikan sama Quincy Jones & James Ingram: I did my best, but I guess my best wasn't good enough ;-) Coba lagi aja ;-)

Berterimakasihlah karena Anda masih mendapat masukan seperti ini, sehingga Anda punya arahan ke mana harus memperbaiki diri. Berbesarhatilah untuk memperbaiki lagi kinerja Anda. Sikap begini lebih baik kan, daripada sibuk menuduh ada konspirasi untuk menjatuhkan Anda?

Dan.. sikap begini lebih meyakinkan masyarakat bahwa Anda memang ingin melakukan perbaikan2 lho! Lha, kalau dikritik begini lantas nyolot; menantang untuk melabrak respondennya, dan menuduhkan teori konspirasi segala macam, masyarakat mana yang akan melihat Anda berniat melakukan perbaikan ;-)? Lha wong perbaikan itu baru bisa dilakukan kalau tahu dimana letak kekurangan kita kok, eeeeh.. pas ditunjukkan kekurangannya malah marah2 dan tidak mau mendengar.. hehehe..

Monday, December 24, 2007

Humuhumunukunukuapua'a

Dulu, untuk membuat gw tertarik dan semangat belajar bahasa Inggris, Bapak memanfaatkan peer pressure. Waktu itu teman2 gw lagi seneng2nya pamer bisa nyanyi lagu berbahasa Inggris dalam pelajaran Seni Musik. Yaah.. standard sih, seperti lagu My Bonnie is Over the Ocean atau Doe a Deer, tapi tetap aja selalu bisa bikin teman-teman sekelas tercengang. Naah.. gw lantas tanya ke Bapak apakah Bapak hafal lagu2 itu, dan Bapak bilang lebih baik nyanyi lagu bahasa Inggris yang lain aja, yang teman2 belum pernah dengar. Jadilah, gw diajari lagu How Much is that Doggie in the Window? Tapi, biar gw belajar, beberapa kata dihilangkan Bapak, dan gw harus mengisinya. Baru setelah itu baris per baris diterjemahkan bareng. Susah sih, tapi gw semangat aja, ya karena peer pressure tadi ;-)

Hampir 30 thn kemudian, ternyata trik yang sama masih bisa dilakukan untuk memotivasi anak belajar bahasa Inggris.. hehehe.. Walaupun perbedaan jaman dan teknologi membuat harus ada modifikasi di sana sini ;-)

Sekitar dua minggu terakhir ini Ima hobby banget mengurung diri di kamar gw dan mengatakan pada orang2 serumah untuk tidak diganggu. Di kamar, dia asyik nonton High School Musical 2 sampai khatam. Plus memutar fitur Sing-along-Song juga. Rupa2nya, ada peer pressure di kelas: gadis2 kecil kelas III-SD ini sedang kerajingan nyanyi lagu2 dari sequel film layar lebar remaja ini. Makanya, Ima khusyuk menghafalkan bait demi bait. Nggak perduli ibunya sudah sakit kuping tiap hari disuguhi film yang itu lagi itu lagi.. hehehe.. Untung dari sekian banyak lagu yang itu2 juga, ada satu yang cukup catchy di telinga gw: Humuhumunukunukuapua’a

Yang bikin catchy dari lagu itu, selain iramanya yang riang, adalah refrain-nya yang bunyinya lucu:

Humuhumunukunuku apua’a
Makihiki malahiniwhoo
Humuhumunukunuku apua’a
Oooh, hawana wakawakawaka niki pu pu pu

Sementara gw sering belepotan kelebihan kata humu (dan bingung sendiri kenapa iramanya nggak pas, baru ngomong humuhumuhumunuku, belum nuku yang kedua, kok udah harus ngomong apua’a) atau salah menyebut makihiki malahiniwhoo menjadi makahiki malahiniku, Ima dengan fasihnya menyanyikan lirik itu. Membuat gw berpikir: kalau dia bisa hafal syair yang bahasanya tidak familiar buat dia, mestinya dia lebih mudah menghafalkan bagian lain dari lagu ini yang berbahasa Inggris, bahasa yang familiar buat dia.

Iseng-iseng, gw menuliskan syair lagu ini di selembar kertas. Nggak semua syairnya bener, selain karena gw nggak terlalu nyimak (jadi ngarang deh, gw pas2in sama konteks lagunya ;-)), gw emang sengaja juga pingin lihat seberapa Ima berhasil menghafalkan setelah berulang2 sing-along. Dan ini sebagian teks-nya, dalam versi asli tulisan gw plus revisi Ima berdasarkan hafalannya:

Long time ago in the land faraway
Lived a pineapple princess, Tiki
She was sweet as a peach in a pineapple way
But so sad that she hardly speaky

Still if you listen well, you’ll hear the her secret wish:
“Aloha everybody, my name is Tiki
I long to be free a truly remarkable fish:
My Sweet Prince”

Reff

She dreamed of a boy who was under her the spell
And that has left him so wet and scaly
“I sing from the heart of the power of love
Like Just a girl with a ukulele

Come to me my sweet one and be still
I’ll brush your scale grasp your tail and
Remove all Stroke each tender gill
My Sweet Prince”

Reff

(lagu bisa didengar di sini)

Ternyata emang Ima hafal betulan lho.. hehehe.. sekian banyak jam nonton film itu nggak sia2 rupanya ;-)

Yaah.. jaman memang sudah berubah. Jaman gw kecil dulu, kan nggak ada yang namanya karaoke atau sing along DVD kayak gini. Jadi.. Bapak bisa menghilangkan sebagian kata dari syair lagu, dan bikin gw mencoba menebak dengan mendengarkan lagu yang sama berulang2 di tape. Kalau sekarang gw menggunakan taktik yang sama, ya nggak ng-efek lah.. hehehe.. Ima tinggal melihat sing-along DVD sekali saja, dan langsung bisa mengisi jawabannya ;-) Gw harus agak lebih taktis sedikit: mengubah kata2 dari lagu yang sedang menarik perhatiannya ;-)

So, setelah Ima “merevisi” teks lagu gw, baru deh gw tanya sama dia, kira2 apa beda arti dari syair yang gw tulis dengan syair yang aslinya. Lumayan lho, karena dia lagi senang lagunya, dia semangat berpikir dan menjelaskan bedanya, misalnya: I’ll brush your scale itu artinya aku akan menyikat sisikmu, sementara I’ll grasp your tail itu aku akan menangkap ekormu.

Sama seperti hampir 30 thn yang lalu kan? Learning English by singing ;-) Memanfaatkan peer pressure untuk menggiring anak mempelajari apa yang kita inginkan ia pelajari ;-)

Hehehe.. untunglah ada peer pressure ini, jadi gw nggak harus pakai jurus mertua gw yang dulu “terpaksa” memotivasi anaknya (ya bapaknyaima itu!) untuk belajar bahasa Inggris dengan memberikan buku “yang ada adegan ranjangnya”.. hehehe.. Yaah, adegannya nggak seru2 banget sih, sebenernya, cuma buku2nya Harold Robbins seperti The Betsy gitu. Tapi.. kan jaman berubah. Jangan2 kalau gw pakai taktik seperti ini, gw mesti memberikan buku yang lebih “seram” lagi.. HAHAHAHA..

Anyway busway, balik ke humuhumunukunuku thing ;-)

Dari pertama denger lagu ini, gw udah menduga bahwa syair refrain itu bukan sekedar non-sense syllables, tapi merupakan bahasa beneran dari salah satu negara di Samudera Pasifik sana. Awalnya gw kira bahasa Maori, karena ada kata waka. Kan di Amazing Race Asia beberapa episode lalu, yang di New Zealand, salah satu tantangannya adalah mendayung Waka Ama; sejenis kano tradisional Maori. Ternyata jawabannya lebih mudah dari yang gw kira.. hehehe.. ini adalah bahasa Hawaii. Yah, masuk akal sih, secara ini film Hollywood, mestinya gw mikir tentang Hawaii dulu.. HAHAHAHA... nggak usah jauh2 ke New Zealand ;-) Maaf deh, gw kan emang suka mikir kejauhan ;-)

Tapi.. gw tetap kaget lho waktu menemukan arti dari humuhumunukunuku apua-a di google barusan. Ternyata, kata ini adalah sebutan bagi ikan kebanggaan negara bagian Hawaii. Kalau dilihat dari fotonya sih kayaknya ikan dory ya, seperti yang di Finding Nemo ;-) Kasihan banget temen2nya tuh ikan ya, kalau mau manggil belibet karena namanya kepanjangan ;-)

Friday, December 14, 2007

Aisyah, Dewi, dan Kue Lapis

Dalam kuis jadul Berpacu Dalam Melodi mungkin pertanyaannya akan berbunyi begini: ”Lagu ini menceritakan kedongkolan seorang pria ketika kekasihnya menangis, minta dibelikan baju tipis buatan Inggris.”

Dan gw akan cukup pede untuk menawar satu not saja, untuk kemudian menyanyikan refrain-nya (bener, kan, Dol, refrain tuh f-nya satu biarpun singkatannya reff ;-)?):

Abang sayang, kumau baju yang tipis
Jangan, Adik. Kau cantik berkebaya
Tidak, Abang! Kumau baju yang tipis!
Jangan, Adik! Kau BUKAN KUE LAPIS!

Hehehe.. tapi gw lupa itu lagunya siapa, apalagi judulnya. Kayaknya sih lagunya Bimbo. Tapi nggak tahu juga deh, gw googling nggak ketemu ;-) Gw memang cenderung gampang ingat syair, tapi parah dalam mengingat judul dan penyanyi ;-)

*OOT dulu: jadi.. kayaknya gw lebih cocok ikutan kuis MeLirik. Sayang ya, acara ini kayaknya udah nggak ada lagi :-(*

Dulu lagu itu suka dinyanyikan di kantin, sambil gitaran dan ketawa2. Sekitar dua hari yang lalu, lagu ini terngiang2 lagi di telinga, biarpun nggak ada yang nyanyiin, lantaran.. tayangan infotainment tentang sidang cerainya Dewi Persik dan Saiful Jamil.

Lho, apa hubungannya ;-)? Apa karena persik dan kue lapis sama2 enak dimakan?

Gw sih belum pernah makan persik, jadi gw nggak tahu apakah memang seenak kue lapis. Mungkin kudu tanya Saiful Jamil yang udah kenyang makan kue lapis.. eh.. persik ;-). Tapi.. lagu itu teringat lagi memang karena urusan ”bungkus” ;-)

Jadi, di salah satu segmen berita itu, tiba2 si Dewi Persik curhat tentang kenapa dia mau aja dicerai suaminya. Kira2 curhatnya bunyinya gini:

“Dulu saya juga sudah pernah menyatakan kalau saya bersedia meninggalkan dunia entertainment, mengganti busana saya, jadi istri yang baik. Kalau memang itu yang diminta suami saya, saya rela meninggalkannya. Tentu teman-teman wartawan punya dokumentasinya. Tapi kemudian, kalau memang suami saya menginginkan itu, mengapa saya masih disuruh kerja? Mengapa saya tidak boleh berhenti?..”

*kira2 begitulah yang gw tangkap. Kalau bahasanya kedengeran ”nggak Dewi Persik banget”, yaaah.. maaf, gw terpaksa merekonstruksi terminologinya ;-) Kapasitas memory gw nggak cukup untuk mengingat terminologi dan struktur bahasanya yang agak asing buat gw ;-)*

Aaanyway.. telinga gw langsung nyimak begitu mendengar dua kalimat terakhir itu ;-) Ternyata pangkal perceraiannya masih yang dulu2 juga toh.. hehehe.. masalah ”bungkus” ;-)

Uhm.. sebenernya sih gw nggak nyalahin Saiful Jamil kalau pingin istrinya terbungkus lebih rapi. Boleh2 aja sih kalau kue lapisnya mau dinikmati sendiri, orang lain nggak boleh lihat ;-). Tapi.. ya, gw setuju sama curhatnya si Dewi Persik itu: kalau memang nggak boleh dinikmati orang lain, ya jangan disuruh kerja di luaran. Diperam saja dalam rumah ;-)

Yang namanya orang itu kan harus memilih. Nggak bisa dooong, pingin dapat segalanya ;-) Pingin istrinya penampilan yang berubah, tapi tetap memberikan pemasukan (materi) seperti dulu. Yang namanya ngerubah brand identity itu kan nggak bisa sembarangan, resikonya selalu besar sekali. Sudah pasti hasil penjualan terpengaruh.

Suka nggak suka, brand identity-nya si Dewi Persik sudah terbentuk. Nilai jualnya memang terletak pada goyangannya yang mirip jurus merontokkan buah persik dari pohonnya itu, plus bungkusannya yang mirip kue lapis itu ;-) Nggak bisa dong, kalau sekarang dia disuruh dandan dan bergaya seperti Siti Nurhaliza. Target marketnya memang bukan itu ;-)

Gw sendiri sih nggak memperhatikan Dewi Persik banget2 sih. Tapi.. sejauh yang gw lihat, penampilannya sudah banyak berubah. Goyangannya memang masih mampu merontokkan buah persik dari pohonnya sih, tapi.. dari segi bungkus, sekarang dia udah lebih cocok dibilang Dewi Nagasari.. HAHAHAHA.. Biarpun bungkusnya masih lekat di badan, tapi udah nggak mempertontonkan semua seperti dulu. Persis seperti kue nagasari yang dibungkus daun pisang ;-)

Lha.. kalau masih disuruh membungkus diri lagi.. mau dibungkus jadi seperti apa lagi? Jadi cheesecake gitu, pakai kotak kardus? HAHAHAHA.. Mesti disadari dong, mana ada yang mau beli jajan pasar yang dibungkus pakai kotak kardus Seven Grain ;-)?

Lagian.. nggak kebayang kalau ”goyangan merontokkan buah persik dari pohon” juga harus diganti jadi ”gerakan ular boa kenyang habis makan seekor kambing”. Nanti dia harus ganti nama jadi Dewi Nagagini ;-)

Kadang2 suami tuh suka nggak jelas maunya ya ;-)? Wong waktu beli udah jelas2 bayar kue lapis, kok habis itu mau dijual sebagai cheesecake. Di-nego jadi nagasari aja nggak mau. Lha.. gimana? Kan bahan dasarnya emang beda ;-)

Beda kasus ya, kalau sama lagu di atas. Kalau pada awalnya si pacar manis ini berkebaya, lantas aeng2 minta baju tipis buatan negeri Inggris, baru deh suami bisa ngomel2 dan menggugat istri. Lha wong sudah cantik berkebaya, kok tiba2 aya2 wae minta baju ala kue lapis ;-). Tapi.. kalau awalnya udah kue lapis, ya suaminya yang aya2 wae minta istrinya jadi cheesecake ;-)

Kalau emang pingin punya istri yang seperti Siti Nurhaliza, mestinya dulu Saiful Jamil jangan menikah sama Dewi Persik, hehehe.. Menikah saja sama Jeng Siti ;-). Tapi.. untuk bisa menikah dengan Jeng Siti, Saiful Jamil mesti jadi Datuk K dulu ;-). Siti Nurhaliza kan juga punya selera.. HAHAHAHA..

Eh, atau kalau mau versi Indon-nya, mestinya Saiful Jamil menikah saja dengan.. AISYAH!

Lho, siapa pula Aisyah ini? Itu lho.. Aisyah-nya Bimbo. Nama lengkapnya Aisyah Adinda Kita ;-) Dulu Bimbo ceritanya begini:

Aisyah adinda kita yang sopan dan jelita
Angka SMP dan SMA sembilan rata - rata
Pandai mengarang dan organisasi
Mulai Muharam 1401 memakai jilbab menutup rambutnya
Busana muslimah amat pantasnya

Aisyah adinda kita yang sopan dan jelita
Index Prestasi tertinggi tiga tahun lamanya
Calon insinyur dan bintang di kampus
Bulan Muharam 1404 tetap berjilbab menutup rambutnya
Busana muslimah amat pantasnya

Jadi, Bung Ipul, kalau udah resmi cerai nanti, jangan lupa sowan ke Bimbo ya.. ;-) Tanya dimana bisa kenalan dengan Neng Aisyah, yang nilai rata2nya di sekolah sembilan, IP-nya pas kuliah tertinggi, sehingga [mudah2an] nilai jualnya bukan pada baju tipis dan bergoyang2 ;-). Tapi nggak dijamin Neng Aisyah mau sama situ lho ya ;-)

Dan buat cowok2 yang belum sampai tahap W-plan.. please make up your mind, guys! Jangan aneh2.. beli kue lapis tapi habis itu ngomel2 karena nggak bisa diubah jadi cheesecake ;-).

Tuesday, December 11, 2007

Sang Guru

Saya pertama kali berada di kelasnya pada Studium Generale semester ganjil, yang kalau tidak salah terjadi tahun 1994.

Isi Studium Generale-nya apa, terus terang saya juga sudah tidak ingat. Hanya menduga bahwa isinya nggak akan jauh dari materi kesukaan beliau: potensi perkembangan (mental) manusia. Sebab saya ingat bahwa di satu titik beliau mengeluarkan pertanyaan, berupa sebuah kutipan yang tidak selesai, dan meminta mahasiswa peserta untuk menyelesaikan kalimat itu:

Beauty is in the eye of.. ? Ada yang tahu?“

Saya, yang menyimak isi kuliah umumnya sepenuh hati (dan sepenuh pendengaran ;-)), serta kebetulan menyukai frasa itu, menyahut pelan saja.

“.. of the beholder

Pelan saja saya menjawab, dengan suara yang nyaris tak terdengar. Sebab saat itu saya masih terlalu grogi dan tidak percaya diri untuk menjawab pertanyaan Sang Guru Besar, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu. Namun mata Sang Guru Besar sangat tajam untuk menangkap gerak bibir saya, yang duduk di baris kedua Aula Fakultas Psikologi UI itu.

“Ya, benar! Beauty is in the eye of the beholder

Sang Guru Besar mengulangi jawaban saya untuk seluruh peserta. His eyes twinkled, ketika beliau menatap saya sepersekian detik, sebelum kembali berjalan menuju papan tulis.

Saya tidak mengira beliau akan mengingat peristiwa itu. Saya rasa, bukanlah hal yang luar biasa untuk tahu dan dapat menjawab frasa seumum itu. Itu bukan frasa yang hanya diketahui oleh para filsuf, atau kutubuku, atau orang-orang pintar. Namun ternyata beliau mengingatnya, karena ketika pertanyaannya tidak terjawab dalam mata kuliah Kapita Selekta Filsafat beberapa waktu kemudian, beliau bertanya langsung pada saya,

”Anda, yang waktu itu menjawab pertanyaan saya, apa buku yang paling istimewa?”

Duuh.. tentu saja saya tidak tahu bahwa maksud beliau adalah An Essay on Man, buah karya Ernst Cassirer. Buku yang menurut beliau paling istimewa karena sejak diterbitkan tidak pernah mengalami revisi. Menurut beliau, sebuah buku yang tidak perlu direvisi, dan tidak digugat untuk direvisi, adalah buku yang istimewa; penulisnya benar-benar tahu apa yang ia bicarakan sehingga tidak menyisakan ruang untuk revisi.

Setelah membaca buku itu sebagai tugas bacaan, saya akui memang buku itu bagus. Namun.. tak pelak saya tergelak juga beberapa tahun kemudian, saat membaca tulisan istri beliau dalam Fuad Hassan: di Antara Hitam dan Putih. Dalam tulisan para sahabat menyambut ulang tahun beliau yang ke-70 itu, Ibu Tjiptaningroem Hassan menulis:

”Saya pertama kali mengenal Fuad Hassan ketika ia datang ke perpustakaan tempat saya bekerja. Fuad bermaksud meminjam buku E. Cassirer yang berjudul An Essay on Man. Karena kebetulan saya punya bukunya, saya pinjamkan. Dari situ mungkin kemudian awalnya kita berkenalan… Waktu mengembalikan buku, dia bilang dia menulis sesuatu di buku saya yang dipinjamnya. Ternyata sebuah lagu gubahannya sendiri..”

(hal. 69)

Betul, Pak! An Essay on Man memang benar-benar bagus ;-) Dan lebih bagus lagi karena ada ikan cupang di balik ganggang laut seperti ini kan, Pak ;-)?

Mata kuliah Kapita Selekta Filsafat, satu-satunya mata kuliah dimana beliau mengajar saya, masih saya kenang sebagai salah satu mata kuliah paling menyenangkan. Beliau sangat pandai mengulas pemikiran para filsuf, dan memberikan makna di balik yang tersurat. Mengaitkan pendapat filsuf yang ini, dengan filsuf yang itu, dari aliran yang berbeda, untuk menemukan inti sejati dari pemikiran-pemikiran mereka. Bertahun-tahun kemudian, ketika beberapa teman menghebohkan Dunia Sophie (Jostein Gaarder) yang mengajarkan filsafat dengan gaya bahasa ringan dan asyik, saya hanya punya satu komentar:

”Kuliahnya Pak Fuad juga kayak gitu. Malah lebih asyik lagi, lebih dalam pemaknaannya”

Ya, mendengarkan kuliah beliau lebih asyik daripada membaca novel Gaarder. Kita bagai dininabobokkan dengan dongeng, walaupun tokoh-tokohnya adalah filsuf dunia. Meminjam kata-kata Goenawan Mohammad dalam buku yang sama:

”Dia kurus, pakaiannya putih-putih, tapi lebih penting lagi: kalimat-kalimatnya ringan seperti tubuhnya dan terang seperti bajunya. Ia mengutip Nietzsche dan lain-lain, tapi mahasiswa-mahasiswa mengerti.”

(hal. 33)

Namun tidak semua bagian dari kuliah beliau mengasyikkan. Ada pula bagian yang kurang mengasyikkan. Menjelang ujian akhir semester, beliau memberikan kejutan yang sama sekali tidak menyenangkan buat saya; yaitu tentang tata cara penilaian ujian akhir. Kurang lebihnya beliau mengatakan begini:

”Saya sebenarnya tidak suka dengan penilaian. Tapi di fakultas ini kan ujian harus diberi nilai. Jadi begini saja.. peserta kuliah di sini ada berapa? Lima puluh? Enam puluh? Sepuluh orang yang keluar pertama akan mendapatkan nilai A. Sepuluh yang kedua nilai B, begitu seterusnya hingga yang keluar terakhir”

Tentu saja saya menganggapnya tidak menyenangkan! Dengan pemberian nilai sesuai urutan keluar ruang ujian, tentunya memperbesar kemungkinan bahwa mereka yang mencontek akan mendapatkan nilai yang lebih baik daripada mereka yang benar-benar mengerjakan. Dimana letak keadilan? Tentu saja saya memprotes hal ini, dan beginilah jawaban beliau:

”Lho, Anda ini kuliah, belajar, untuk mencari pengetahuan atau mencari nilai?”

Jawaban yang membuat saya diam, namun tetap masygul ;-). Saya mengerti bahwa yang dikatakan beliau benar, bahwa bagaimana pun nilai ujian tidak selalu berbanding lurus dengan pengetahuan. Namun, di sisi lain, saya juga tidak rela jerih payah saya dihargai dengan tidak semestinya.

Saya belajar keras untuk ujian akhir. Namun tetap saja, ketika ujian berlangsung, saya masih menemui kesulitan mendedah kata-kata beberapa filsuf. Dengan masygul dan sedih, saya melihat satu per satu teman-teman saya - beberapa di antaranya saya ketahui sebagai ahli membuat contekan dan memindahkan contekannya ke kertas ujian - keluar lebih dahulu. Saya baru berhasil keluar ketika peserta ujian tinggal kurang lebih separuhnya. Sibuk menata hati untuk menerima kenyataan pahit bahwa hidup ini bukan dongeng anak-anak, dimana the good ones always win, and the bad ones always lose. Bahwa dalam hidup ini kadang jerih payah jujur seringkali dikalahkan juga kecurangan yang lihai.

But I got an A.. ;-)

Beliau tidak menafikan jerih payah saya. Beliau ”menyalahi janji”, namun dalam konotasi yang baik.

Demikianlah, Sang Guru memberi saya pelajaran hingga detik terakhir ujian: bahwa walaupun dunia ini tidak ideal, banyak ketidakadilan, namun selalu ada tempat bagi mereka yang mau berusaha. Maka teruslah berusaha, karena pada akhirnya usaha itulah yang memberikan ”nilai” pada hasil yang kita dapatkan; apakah kita sekedar mendapatkan nilai A, atau mendapatkan nilai A dengan kepala tetap tegak dan bangga.

Selamat jalan, Pak! Selamat menjalani hari-hari dimana kopi dan rokok tak lagi dibatasi oleh ketersediaan barang dan/atau kondisi kesehatan ;-)

***

Mengenang Sang Guru, Prof. DR. Fuad Hassan, yang wafat Jumat, 7 Desember 2007.

Friday, December 07, 2007

Serat Ulem

Sekitar seminggu yang lalu gw dibikin repot dengan pertanyaan seorang teman: “Does your husband love you?”

Reaksi awal gw sih pingin jawab dengan jutek, “It’s none of your business”. Namun.. berhubung intuisi (tsah!) gw bilang bahwa it’s – just like always – his indirect method of crying for help, nggak jadi jutek deh ;-) Diikuti aja permainannya sampai di mana ;-)

Tapi ngejawabnya juga gak gampang, sebab gw nggak pernah nanya2 sama suami gw apakah he loves me.. hehehe.. We’ve known each other for nearly 17 years, and married for nearly 10 years.. Anak juga udah mau dua. Cinta? Kayaknya udah bukan hot topic lagi deh! Kalah sama responsibility dan commitment ;-) Emang mau makan cinta doang.. HAHAHAHA..

Dan lagi.. bahkan jaman pacaran pun kata2 cinta seingat gw nggak pernah diumbar ;-). Malah gw sampai sekarang nggak ingat kapan sih tepatnya kami jadian. It must be sometime between waktu dia ngasih buku Scientific Method in Psychology dengan bonus tentoring seharian di Sabtu yang cerah and.. waktu dia ngasih satu set SPSS User’s Manual.

Buku pertama diberikan waktu gw masih semester II, pastinya belum pacaran sama dia, karena masih terjerat sama yang lain.. hihihi... Buku kedua diberikan pas gw udah mau bikin skripsi. Waktu itu pastinya udah pacaran, karena gw sempat “dituduh” seorang dosen bakal gampang bikin skripsi karena punya pacar yang jago statistik (dan program komputer penghitungan statistik). Waktu itu memang belum banyak anak psikologi yang menguasai SPSS, makanya pacar gw sering jadi Dewa Penolong bagi para pembuat skripsi yang nggak bisa ngitung datanya sendiri ;-) Tapi.. penghinaan deh kalo gw dituduh bakal memanfaatkan pacar! Emang gw kurang jago, sampai ngitung data doang aja butuh dibantuin pacar? Gw bela2in tuh baca satu set manualnya biar bisa ngitung data sendiri.. hehehe..

Iya, emang, suami gw modelnya scientifically romantic.. hehehe.. Kalau pun ada kata2 cinta, mungkin bahasanya juga penuh dengan command syntax dan diselipkan dalam command prompt ;-) Dia bukan model yang suka bikin puisi terbungkus metafora cantik seperti ini:

Terlalu cepat, katamu?
Bukankah sesaat setelah Hawa diciptakan
Adam berucap, “Ya Tuhan,
Aku jatuh cinta padanya”?

Lalu firdaus pun berpesta
Menyambut kedatangan sepasang kekasih
Yang bersatu karena takdir dan usaha
Bukankah untuk itu bumi diciptakan
Meski skenario mengatur
Sebuah kecelakaan bagi mereka?

..

(mohon maaf buat penulisnya. Sengaja nggak ditulis namanya. Considering your upcoming wedding.. mendingan dituduh melanggar hak cipta deh ;-))

Jadi.. yaaa.. gitu deh!

Bingung juga gw jawab pertanyaan si teman itu.. hehehe.. Lha wong gw nggak tahu dulu bukti cintanya ada di syntax yang mana, secara bahasanya bahasa programming.. HAHAHAHA.. Nggak bisa diterjemahkan segamblang sebuah metafora cantik ;-). Gw suruh tanya sama suami gw aja, dianya nggak mau ;-)

Untung, akhirnya dia puas juga dengan jawaban gw ;-) Atau sebenernya dia belum puas juga, tapi udah nggak tahan pingin nyolong curhat ya ;-)? Akhirnya keluar juga inti cerita yang ditunggu2: an invitation of something with a W.

Well.. sebenernya ceritanya juga masih nggak jelas sih.. nggak tahu whose W, dan what W stands for. Cumaaa.. gw menduga sih the W stands for the stage that follows en-CAGE-ment stage ;-)

*Oops, sorry.. I mean.. en-GAGE-ment ;-) Eventhough, in reality, sometimes engagement is indeed the first step of lifetime encagement.. hehehe… *

Cerita tentang W-plan selalu membuat hati gw senang. Nggak tahu ya, mungkin itu bagian yang tersisa dari naluri kewanitaan gw.. HAHAHAHA.. senang dengan sweet romantic drama ;-) Tapi gw juga selalu khawatir dengan jalan cerita drama romantis itu.

Ya, ya, gw sadar bahwa cinta tidak selalu harus diterjemahkan dengan kata2 dan tindakan nyata. Seringkali cinta hanya bisa dirasakan, as it radiates through every single act of the person who loves us. Cinta juga tidak dapat ditentukan dengan waktu. Kadang, cinta yang berjalan bertahun2, kandas hanya dalam hitungan hari. Sebaliknya, pertemuan yang hanya hitungan hari, ternyata memang benar2 cinta sejati. We never know.

Tapi.. nggak tahu ya.. tetap gw agak ragu bila pace-nya terlalu cepat. Rasanya cinta pun tetap membutuhkan waktu untuk tumbuh. Bahwa apa yang terasa dari setiap tindakannya adalah bukan sesaat. Besides, it doesn’t hurt anybody to enjoy it a little more, before making any further decision. Karena toh kita bukan Adam yang bertemu Hawa.

*OOT: ngomong2, kenapa ya, Adam bisa berkata “Ya Tuhan! Aku jatuh cinta padanya” hanya sesaat setelah Hawa diciptakan? Karena cinta sejati? Atau karena nggak punya pilihan lain.. HAHAHAHA.. Cinta sejati kali yee.. secara hidupnya sudah dibikin susah oleh Hawa pun (disuruh mencuri dan ikut kena hukum buang), Adam tetap setia ;-)*

Dan secara kebetulan, pagi ini ternyata ada tulisan baru dari Fertob. Judulnya Gokhon Dohot Jou-Jou. Tadinya ini gw kira pengumuman bahwa si Fertob bakal segera menikah lho, secara kata “Gokhon Dohot Jou-Jou” lazimnya gw baca di bagian atas Undangan Pernikahan teman2 gw yang Batak. Gw kira artinya “Undangan Pernikahan”.. HAHAHAHA.. Nggak tahunya dia cerita tentang sebuah lagunya Joy Tobing toh ;-). Tentang pernikahan yang batal padahal undangan telah disebar, dan kecamuk emosi yang mengikutinya – setidaknya begitu menurut terjemahan bebas dan tidak tuntas a la Fertob.

I just don’t want any of my friends experience this tragic end.. ;-)

So, gw pingin ngutip lagu yang sayup2 sering gw dengar dinyanyikan Ima:

No, no, no, no, tunggu dulu
Cinta jangan buru-buru
Karena kurasa terlalu cepat
Kutakut semua palsu

No, no, no, no, tunggu dulu
Cinta jangan buru-buru
Masih ada banyak waktu
Biarkan cinta mengalir

Slow down, Baby, take it easy. Just let it flow ;-)

Tapi tetap ditunggu kok Serat Ulem-nya ;-). Whenever you’re ready and everything is fixed ;-). Dan kalaupun you’re sure that now is the right time for the W-plan, titip lagu aja untuknya:

Kalau nanti kau jadi istri temanku
Hati-hati dengan mataku ya!
Jika sampai kulihat wajahnya murung
Kupanggil orang sekampung

Jika nanti temanku jadi suamimu
Hati-hati dengan matanya
Kalau sampai dia nangis karna ulahmu
Kucukur sebelah alismu

From me to her.. ;-)

(Ternyata bukan body gw doang yang setali tiga uang dengan Tika Panggabean. Ngancem-nya juga.. HAHAHAHA..)

----

Catatan: Serat Ulem = Surat Undangan (bahasa Jawa halus). Jadi nggak ada hubungannya dengan serat tanaman, serat kain, atau produk2 seperti Vegeta gitu ya!

***

KLARIFIKASI 11 Des 2007

Menghindari kemungkinan kesalahan tafsir seperti yang diindikasikan beberapa japri dari teman, dengan ini gw klarifikasi bahwa penulis puisi dan the one with the W-plan adalah dua subyek yang berbeda ;-) My mistake ;-)

Saturday, December 01, 2007

Dan Saya pun Berdakwah

Eits! Jangan tertipu dengan judul ;-). Gw tidak sedang bermetamorfosa menjadi Luthfiah Sungkar atau Neno Warisman ;-) Jadi Inneke Koesherawati aja enggak (walaupun gw yakin bapaknyaima nggak nolak kalau istrinya jadi mirip Inneke.. HAHAHAHA..). Dan terakhir gw cek, di kepala gw belum tumbuh halo. Kalau HaloScan sih tetap ada di blog ;-)

Tapi memang gw berdakwah.. berdakwah tentang mazhab siletiyah ;-)

Kejadiannya udah sekitar 2 minggu yang lalu, tapi baru punya mood (lagi) buat nulis setelah baca posting Ardho tentang rencana film terbarunya Geert Wilders.

Jadi, ceritanya, sekitar 2 minggu lalu di salah satu milis yang gw ikuti ada gontok2an standard. A stupid Moslem moron (catatan: jangan lupa ada kata ”a” di situ, artinya singular, jangan terpaku pada kata Moslem-nya ;-)) mulai nulis2 tentang kekafiran umat lain, penuh dengan nada bertobatlah-atau-azab-Tuhan-akan-jatuh-padamu. Tadinya gw udah nggak mau ikut2an, biarlah yang punya agama membela agamanya sendiri. Gw nggak mau ikutan, apalagi ngebelain ”saudara seiman” (tsah!) yang emang bikin gara2. Mestinya sebagai ”saudara seiman”, dia cukup tahu bahwa ”jika kamu berbuat kejahatan maka akibatnya bagi dirimu sendiri” ;-)

Cumaaaaa.. gw akhirnya tergelitik untuk nyilet2 setelah menemukan salah satu pembelaan yang diberikan berbunyi demikian:

Quran s.An Nisaa 171 mengatakan: "Innamal Masihu 'Isa bnu Maryam~ Rasululahi wa Kalimatuhu alqahaa ila Maryama wa Rohu, minhu..-' (Sesungguhnya Almasih Isa ibnu Maryam itu, adalah utusan Allah dan Firman-Nya yang ditumpahkanNya kepada Maryam dan Roh daripadaNya)-

Tidak ada satu ayatpun dari Al-Quran secara tegas menolak ajaran Alkitab di atas mengenai sebutan "Anak Allah" bagi Jesus Kristus. Yang Al Quran tolak adalah jika Jesus dianggap Anak Allah dalam pengertian walad, yaitu anak secara seksuil biologis kemanusiawian.

Juga Quran s.An Nissa 171c mengatakan: "Janganlah kamu katakan Allah itu Tiga" (wa la taqulu syalasyht).
Ayat-ayat Quran ini sering dikemukakan oleh saudara-saudara kita yang beragama Islam, sebagai dalil untuk menolak faham Tritunggal yang dianut oleh iman orang-orang Kristen. Ayat-ayat Quran ini jelas menolak faham Tritheisme (ke-Tiga Allah-an) dan bukanlah menolak faham-Allah Tri-tunggal (Trinitas) ajaran imannya orang-orang Kristen.
Well.. gw bukanlah muslim yang baik. But still I’m a Moslem, dan masih tergelitik kalau suatu tafsir interpretasikan secara bertolak belakang. I mean.. gw tahu bahwa dalam Al Quran memang ada ayat2 yang muhkamat (terang maknanya) dan ada ayat2 yang mutasyabihat (tidak terang maknanya), maka gw tidak menolak adanya tafsir2 baru yang bunyinya bertolak belakang dengan tafsir yang gw kenal sebelumnya.

Tapi toh, yang namanya menafsirkan sesuatu itu membutuhkan tiga hal kan? Data yang tepat, logika, DAN konteks yang tepat ;-)

Jadi.. terus terang gw agak tergelitik ketika seseorang memotong2 QS 4: 171 menjadi beberapa bagian terpisah, seolah2 satu kalimat dengan kalimat yang lain tidak berhubungan, dan kemudian menginterpretasikan berdasarkan konteks (agama) LAIN. Dengan memotong data menjadi terpisah, data menjadi tidak tepat. Hasil interpretasi sudah dapat dipertanyakan keabsahannya. Apalagi ketika ia menggunakan konteks (agama) lain untuk menginterpretasikan data yang tidak tepat itu.

It’s one thing to defend your faith.. but it’s another thing to defend your faith by twisting the other’s faith ;-) By fitting the data into your theory, instead of sticking into the data and use the theory to understand it. To find the truth.

Berhubung gw belum jadi Muslim yang baik, pengetahuan gw tentang Islam masih minim (even setelah 10 thn jadi menantunya orang NU.. hahaha.. Nggak banyak efeknya buat gw ;-)), gw pakai pendekatan Mazhab Siletiyah aja. Gw “dakwahkan” dalil dalam Siletiyah bahwa siletan yang baik harus seperti menyembelih hewan; sekali silet lawan tak berkutik lagi. Dan siletan seperti itu hanya dapat dihasilkan jika kita menggunakan data yang tepat, logika, dan konteks yang tepat ;-)

So, balasan gw berbunyi begini:

Ah, Jeng ini :) Jangan suka mengebiri ah.. HAHAHAHAHA.. :) An-Nisaa QS 4: 171 itu ayat panjang, mosok cuma diambil segitu :) QS 4: 171 itu komplitnya berbunyi begini:

"Hai Ahli Kitab, janganlah engkau berlebih-lebihan dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Hanya sesungguhnya Al Masih, Isa putra Maryam itu adalah utusan Allah, dan (dijadikan) dengan kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) ruh dari pada-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasulnya, dan janganlah kamu mengatakan "Tuhan itu tiga". Berhentilah kamu (dari pengakuan itu), itu lebih baik bagimu. Hanya sesungguhnya Allah adalah Tuhan Yang Esa, Maha Suci Dia dari mempunyai anak. Milik-Nya apa yang di langit dan di bumi. Dan cukuplah Allah menjadi pelindung"

(catatan kaki: Yang dimaksud "berlebih-lebihan di dalam agama" di sini adalah mengada-ada dalam agama, seperti orang Yahudi menjadikan Uzair sebagai anak Allah, dan orang Nasrani menjadikan Isa AS sebagai anak Allah)

Boleh Jeng Sisc cek di Al Quran mana pun :). Pasti QS 4: 171 ini jauh lebih panjang dari yang Jeng Sisc kutip :). Pun catatan kaki-nya ada :)

Begini, Jeng, setahu saya dalam Islam Nabi Isa AS ini memang seorang rasul yang istimewa. Beliaulah yang sejak dalam konsepsi pun sudah ditetapkan sebagai rasul (sementara nabi dan rasul lainnya baru mendapatkan wahyu di usia dewasa). Nabi Isa AS ini sejak dalam buaian sudah menunjukkan mukjizat, dengan mampu berbicara. Dan.. dipercayai pula bahwa di akhir jaman nanti Nabi Isa AS ini yang akan turun kembali ke dunia.

Namun jika Jeng kemudian mengatakan: "Tidak ada satu ayatpun dari Al-Quran secara tegas menolak ajaran Alkitab di atas mengenai sebutan "Anak Allah" bagi Jesus Kristus", maka memang timbul question mark besar :) Seperti tertulis dalam QS 4: 171 itu (dan ayat itu tidak dibagi2 menjadi a, b, c, d lho.. harus dibaca utuh ;)), dalam Islam jelas dinyatakan bahwa: Hanya sesungguhnya Al Masih, Isa putra Maryam itu adalah utusan Allah, dan (dijadikan) dengan kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) ruh dari pada-Nya.

Isa Almasih bin Maryam, seistimewa apa pun dia, dalam Islam adalah UTUSAN Allah. Dia bukan penjelmaan Allah :)

Kalau gw lihat2 sih poin gw sudah jelas ya ;-)?

Yang membuat gw berkeberatan adalah ayat Al Quran dipenggal untuk memutarbalikkan artinya dalam Islam. Kalau dia menggunakan seluruh ayat KEMUDIAN punya interpretasi baru, gw sih dengan senang hati akan mempertimbangkan logikanya. Tapi.. memotong ayat sebagian saja, lantas meng-claim bahwa Islam sebenarnya tidak menentang bahwa Yesus itu putra Allah.. menurut gw sih agak kelewat berani ya ;-)? Dasarnya apa? Ayat yang dipakai cuma sepotong, lebih banyak bagian yang dibuang, sementara bagian yang dibuang itu sangat memungkinkan interpretasi yang 180 derajat berbeda.

Dan mengatakan bahwa Islam tidak menentang penyebutan itu karena toh Isa Al Masih bukan dianggap sebagai anak biologis Tuhan, melainkan jelmaan Tuhan sendiri? Well.. itu menurut siapa? Bahwa sebutan ”anak Tuhan” itu hanya metafora bagi ”jelmaan Tuhan” di dunia, itu kan menurut keyakinan Kristiani. Bukan keyakinan Islam, kan ;-)? Dalam Islam, menganggap Tuhan menjelmakan diri menjadi manusia bernama Isa anak Maryam saja sudah tidak tepat. Lha wong Allah SWT itu tidak perlu menjelma sebagai apa2 kok ;-) Allah SWT di luar batas rupa, bentuk, bahkan ruang dan waktu ;-)

So.. itulah yang gw gw coba sampaikan padanya. Bahwa boleh2 saja umat Kristiani punya keyakinan bahwa Isa al Masih itu jelmaan Tuhan. I don’t care, it's their faith, and I respect theirs ;-). Tapi.. kalau kemudian mengatakan bahwa Islam pun tidak keberatan dengan itu, bahwa hanya [sebagian] umat Islam saja yang salah kaprah mengartikannya sebagai tidak setuju dengan Trinitas, well.. gw terpaksa mempertanyakan dasarnya ;-). Apalagi ketika dasarnya adalah sepotong kecil dari bagian ayat itu sendiri PLUS konteks mereka sendiri ;-)

Wrong move, ternyata.. hehehe.. malah akhirnya gw dituduh telah ”terprogram” sedemikian rupa, telah ”membentengi diri dengan tembok yang tebal dari kemungkinan lain”, cenderung ”defensif” dan menyerang ”pendapat innocent”.. hehehe..

Innocent opinion ;-)? Kiss my ass.. hehehe.. naivete is the best term I can give ;-). Naivete, is the term I’ll give if I’m polite enough not to label it as plain stupid.. HAHAHAHA..

Plain stupid, bukan karena nggak percaya sama ajaran agama gw, tapi.. karena mencoba berargumentasi dengan data yang tidak lengkap, konteks yang tidak tepat, tapi sok berlogika ;-) Udah gitu masih ngeyel, lagi! Defensif, dan ngatain gw defensif ;-)

Still, karena gw percaya pepatah yang mengatakan bahwa never argue with the idiots; they’ll drag you to their level and beat you with experience, gw akhirnya berhenti mendebat deh ;-) Ambil jurus seperti menghadapi kasus psikotik: diketawain aja, kalau nggak mempan suruh minum obat, atau sekalian disuntik obat aja, kalau perlu di-ECT, atau di-lobotomy kalau yang lain tidak mempan.. HAHAHAHA..

Terus.. tadinya gw nggak pingin nulis ini di blog. Menghindari hal2 yang tidak diinginkan ;-) Tapi jadi tergelitik lantaran baca tulisan tentang Geert Wilders tadi.

Jadi pingin mengirimkan satu eksemplar buku Jeffrey Lang yang sedang gw baca: Aku Beriman, Maka Aku Bertanya (judul asli: Losing My Religion). Seperti karya2 sebelumnya (Struggling to Surrender dan Even Angels Ask – sorry, nggak tahu judul edisi bahasa Indonesianya), tulisan beliau tentang Islam bagus dan LOGIS sekali. Di buku ketiga ini Lang menulis tentang logika2 dalam Al Quran. Logika2 yang membuatnya yakin untuk memeluk Islam – setelah dilahirkan sebagai Kristen dan menjadi Agnostik.

Anyway.. gw tidak memaksa seseorang untuk percaya terhadap apa yang gw yakini. Seperti gw tidak mau (dan susah juga kali yeee ;-)?) dipaksa meyakini apa yang mereka yakini. Tapi.. gw cuma mau menunjukkan satu hal: telitilah sebelum menyilet pendapat/keyakinan orang lain ;-). Pahami isinya, pahami maksudnya, dan.. jika kemudian kita menemukan "bolong" logika pada sudut pandangnya, itulah yang kita serang. Dengan membalikkan logikanya sendiri ;-)

So.. that's okay kalau misalnya seseorang seperti Geert Wilders atau si Jeng ini mempelajari Al Quran dan Islam, setidaknya membaca tulisan2 logis tentang Islam seperti buku2 Jeffrey Lang, kemudian tetap tiba pada kesimpulan bahwa Islam itu mengajarkan kekerasan. Kalau memang dia bisa memberikan alasan yang masuk akal, gw sih dengan senang hati akan mempertimbangkan.

Tapi.. kalau mempelajari aja nggak pernah, ngambil datanya sepotong2, lantas merangkaikannya berdasarkan logikanya sendiri.. well.. that's plain prejudice and stupidity.

Mengutip kata Dostoyevsky: “Nothing is easier than denouncing the evildoer. Nothing more difficult than understanding him.”

Ya, mencerca suatu keburukan itu adalah perbuatan yang sangat mudah. Tapi.. sebelum itu, ada satu tahap yang harus dilalui: mencoba memahami sehingga kita tidak salah mencerca ;-)

Saturday, November 24, 2007

Number of the Beast

Ngelanjutin soal misteri, sekarang ngomongin misteri angka ;-) Tepatnya angka setan: 666.

Dulu, pernah ada seorang teman kuliah yang ngeledekin gw dan anaknya mertua gw (anaknya mertua gw yang sekaligus mantunya ortu gw, maksud gw.. hehehe.. Soalnya, mertua gw punya anak banyak, tapi cuma satu yang jadi mantunya ortu gw ;-)). Katanya, kami berdua adalah Beast Couple ;-). Gw tentu saja nggak terima.. lha wong menurut gw kami itu adalah Beauty & the Beast kok, mosok dibilang Beast Couple ;-) Tapi memang bukan tanpa alasan julukan Beast Couple itu muncul. Tak lain tak bukan, karena angka keramat 666 di seputar hidup kami.

Yup! Angka 666, yang ngetop dengan julukan Number of the Beast, itu muncul di tanggal lahir kami ;-)

Gw lahir 180672, anaknya mertua yang jadi mantunya ortu gw itu lahir 181266. Ada unsur 6 di tanggal lahir, ada unsur 6 di bulan kelahiran, dan ada unsur 6 di tahun kelahiran.. ;-) Total jendral, 666 kan ;-) Belum lagi, antara bulan ke 6 dan bulan ke 12 itu jaraknya adalah 6 bulan ;-). Dan.. antara thn 66 ke thn 72 itu jaraknya juga 6 tahun.

Dan.. ohya, dari pertama kenal di thn 1991, sampai lamaran resmi di tahun 1997, itu jaraknya juga 6 thn.. HAHAHAHAHA.. Nggak salah juga kalau dibilang penuh dengan angka 6.

Sebenernya, gw nggak terlalu mikirin angka ini lho! Maksud gw, alasan gw pacaran sama anaknya mertua gw dulu juga bukan karena “kemiripan” tanggal lahir, apalagi karena pingin membangkitkan “Kerajaan Setan” di dunia ini (plis deh, walaupun gw suka berlagak jadi Devil’s Advocate, and so does my husband, nama suami gw BUKAN Damien Thorn, tokoh utama dalam film The Omen.. HAHAHAHA.. ).

Tapi.. emang dipikir2 lucu juga kebetulan yang muncul ini. Ini tandanya jodoh, kali ;-)?

Saking lucunya angka tanggal lahir yang bisa diutak-atik gathuk ini, gw sempat merencanakan menikah tanggal 180498 lho ;-). Biar aja tahun pernikahannya nggak mengacu pada angka 6 (soalnya kalau menunggu kelipatan 6, gw baru nikah thn 2002. Keburu lumutan dong ;-)), tapi kan tanggalnya 18 juga! Sayangnya, menurut Eyang Putri gw, tanggal itu jatuh di hari buruk untuk menikah. Jadi, nikahnya maju 2 minggu menjadi 040498 deh!

Lepas dari angka setan karena nggak jadi nikah di tanggal yang dipilih? Enggak juga.. hehehe.. Kalau di kepercayaan Cina dan Jepang, angka 4 itu angka sial. Kanjinya pun sama persis dengan kanji yang berarti “kematian”. Dan gw pakai tanggal Double-Four, kanji kematiannya dobel ;-) Jadi.. sebenernya, gw tetap saja tak pernah lepas dari “Kuasa Kegelapan”... hehehe..

Dan ternyata “Kuasa Kegelapan” nggak berhenti di hari pernikahan doang lho ;-) Masih mengikuti hingga lahirnya Ima ;-)

Pada awalnya, due date lahirnya Ima adalah 040699. Unsur 6 pada tanggal perkiraan lahirnya tidak separah bapak-ibunya ;-). Tapi.. ternyata Ima keenakan di dalam perut. Atau simply niru bapaknya yang suka prokrastinasi (ooops!). Jadi, dia nggak lahir2 sampai seminggu kemudian. Baru, setelah “dipaksa” lahir dengan induksi, akhirnya dia mau keluar dari perut: 120699. Ring a bell? Hehehe.. Iya, dong, lagi2 ada unsur 6 di tanggal lahirnya, unsur 6 di bulan lahirnya.. dan... tahun lahirnya adalah perfect symmetry dari 66 ;-)

Eh.. ada lagi yang lucu soal lahirnya Ima: waktu Ima lahir, bapaknya hampir berumur 33. Kalau dijumlah, 3 tambah 3 sama dengan 6 kan ;-)? Waktu itu bapaknya masih umur 32 sih, tapi.. 3 dikali 2, jadinya 6 juga kan.. HAHAHAHA.. Terus, umur gw 26, ada unsur 6-nya. Ima juga lahir tepat 6 hari sebelum ultah gw yang ke-27. Angka 2 dan 7 itu kalau dijumlahkan jadi 9, dan 9 kalau dibalik jadi 6 ;-)

Maksa ya? Tapi lucu.. ;-) Namanya juga utak-atik gathuk ;-)

Namun.. tradisi “Number of Beast” ini tampaknya akan berhenti di adiknya Ima. Due date-nya diperkirakan 230408. Nggak ada unsur 6-nya kan ;-)? Kecuali kalau lahirnya mundur sehari, jadi 240408, naaah.. baru deh ada unsur 6 di tanggal lahirnya ;-). Atau kalau lahirnya mundur 2 bulan, ke bulan 6.. hehehe.. Tapi yang kedua ini nggak mungkin, karena walaupun gw mungkin punya ingatan yang mirip gajah (iyaaa... dan ukuran tubuh juga sih ;-)), gw tidak berniat berguru kepada gajah dalam soal kehamilan. Gilaaa.. gajah tuh kalau hamil 22 bulan, bo! Lama beneeer yaks.. ;-)

Jadi.. untuk sementara, gw ikutin kata dokter aja bahwa due date-nya tanggal 230408. Bertepatan dengan Hari Buku & Hak Cipta Dunia, jadi mudah2an the baby juga jadi tukang baca yang rajin. Dan untuk sementara the baby dikasih nama sandi yang sesuai kelahirannya: DJI SAM SOE ;-)

Kenapa Dji Sam Soe? Yaaa.. soalnya perkiraan lahirnya 234, tanggal 23 bulan 4 ;-) Dji Sam Soe itu artinya 234 kan? Utak-atik gathuk lagi ;-) Lagian, gw juga yakin (setidaknya berharap) bahwa the baby ini bakal jadi anak “kualitas eksport” seperti merek Dji Sam Soe

Uhm.. tapi ngomong2 soal Dji Sam Soe, 234 itu kalau dijumlahkan jadi 9 ya? Sembilan? Sem-bi-lan? Bukannya 9 itu perfect symmetry dari 6? HAHAHAHAHA.. Haiyah! Enam lagi, enam lagi!

Tapi biarin deh, toh.. angka 666 kalau diutak-atik gathuk dengan cara lain, bisa mengacu pada kebaikan ;-) Seperti yang dituangkan di situs ini ;-).

So.. Hakuna Matata, deh ;-)

Thursday, November 22, 2007

Unbreakable

Judul di atas tentunya tidak mengacu pada judul lagu terbaru andalan Shanty yang jadi jingle iklan sebuah produk pencuci rambut ;-)

Nope! Judul itu berkaitan dengan unbreakable code, lantaran gw tiba2 mikirin kode2 rahasia.. hehehe.. Well, nggak tiba2 juga sih, semua berawal dari pembicaraan dengan seorang teman yang menanyakan ”Dimana kemampuan analisa yang kamu bangga2kan itu?”, gara2 gw nggak bisa memecahkan kode yang dia berikan ;-).

Dan tiba2 saja gw jadi inget The Navajo Code. Sandi rahasia yang even the best cryptographer failed to break.

Navajo Code ini adalah sandi yang digunakan Amerika Serikat dalam Perang Dunia II. Rasanya nggak berlebihan jika dikatakan bahwa Navajo Code ini merupakan salah satu titik krusial yang membuat Amerika Serikat (dan sekutu) memenangkan perang dunia. The unbreakable code that even the best cryptographer failed to break.

Kenapa Navajo Code ini sulit sekali untuk dipecahkan, padahal para Jepang itu nggak kalah pintar dalam soal memecahkan kode?

Ternyata bukan lantaran kode ini rumit banget lho! Melainkan karena alasan2 yang sangat sederhana: tidak lebih dari 30 orang non-Navajo di dunia (pada saat itu) yang mengerti, apalagi dapat bicara menggunakan, bahasa salah satu suku Indian ini. Menurut Wikipedia, struktur tata bahasanya juga tidak biasa, sehingga menambah kesulitan bagi mereka2 yang cukup pintar untuk mengenali pola tata bahasa. Jadi.. semakin kecil kemungkinan untuk para kriptografer memecahkan kode ini, atau meniru kode ini untuk mengirimkan sandi palsu.

On top of that, sebagai pemanis, kode itu dikembangkan hanya dalam kelompok kecil. Hanya 29 orang dari suku Navajo yang direkrut, untuk kemudian diminta membuat sandi dari bahasa tersebut. So.. hanya 29 orang ini yang tahu seluk beluknya sandi; bahwa kuncinya adalah kata2 tertentu harus diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, dan kemudian diambil huruf pertamanya. Komplitnya baca di Navajo Code Talker’s Dictionary ini deh ;-)

Dengan demikian, tanpa kamus, apalagi tanpa salah satu dari 29 orang ini, adalah hil yang mustahal untuk memecahkan kode.

Jangan dikira nggak ada yang berusaha memecahkan lho! Masih menurut Wikipedia, Hitler sendiri bahkan menugaskan beberapa antropolog untuk mempelajari bahasa Navajo ini. He has analyzed that much, sampai ke tahap mengenalinya sebagai bahasa Navajo. Tapi karena memang bahasanya susah, para antropolog itu gagal belajar dalam waktu yang ditetapkan. Jepang malah lebih hebat lagi! Mereka berhasil menangkap seorang serdadu Navajo, yang kemudian ”dipaksa” untuk mengartikan kode2 itu. They have analyzed that much, bahwa kode itu hanya bisa dipecahkan oleh mereka yang menguasai bahasa tersebut.

Toh.. semuanya gagal, karena untuk memecahkan kode kali ini bukan saja kecerdasan yang dibutuhkan, melainkan .. code book ;-)! Sebenarnya malah dengan kecerdasan rata2 saja, kode ini bisa dipecahkan. Asal saja pegang buku kodenya ;-).

Dipikir2, memang sebenarnya sandi itu bisa digolongkan jadi dua kelompok besar ya? Sandi yang terstruktur dan terpola, serta sandi yang sederhana tapi sangat spesifik. Sandi yang terstruktur dan terpola itu yang jadi ”mainannya” kriptografer. Sandi2 yang bisa dipikirin, dianalisa, diputar balik, dicari polanya, dan.. dipecahkan dengan kemampuan intelektual semata. Sementara yang satunya, sandi sederhana yang spesifik, baru baru bisa dipecahkan kalau kita punya kunci jawabannya ;-)

Kalau di cerita2 detektif, biasanya yang lebih menonjol adalah sandi terstruktur dan terpola ini. Lihat aja buku2nya Dan Brown, isinya selalu tentang sandi yang terstruktur dan terpola. Nggak usah jauh2 ke Dan Brown deh, kita lihat saja ke Alfred Hitchcock yang mungkin seangkatan bapaknya Dan Brown. Ingat nggak, ada salah satu buku "Trio Detektif" yang sandinya begini:

Take one lily, and kill my friend eli
Positively number one
Take a broom and sweep a bee
..

(jangan tanya judulnya, gw lupa ;-))

Nah.. ini model sandi yang bisa dipecahkan dengan logika. Seperti the chubby Jupiter Jones yang menemukan bahwa artinya adalah: “one lily A broom..” alias dibaca “Only a Room..”.

*Catatan iseng: Hitchcock itu memang kira2 seumur mbah-nya JK Rowling. Makanya, jaman dia, nomor 1 tuh asosiasinya masih nilai A. Makanya masih pada bangga sama nilai A atau jadi nomor 1. Apalagi kalau bisa ngumpulin banyak.. bangsa 3 atau 4 gitu.. hehehe.. Dia nggak tahu bahwa di Harry Potter, A (acceptable) itu cuma angka pas2an buat lulus. Nilai tertingginya O (outstanding), dan nilai keduanya E (exceed expectation).. HAHAHAHA.. ;-) *

Sementara kalau novel yang ngomongin sandi sederhana-tapi-butuh-kunci-jawaban, sejauh gw baca baru The Key to Rebecca (Ken Follett) doang. Di cerita itu, sandinya mengacu pada kata2 tertentu dalam novel tulisan Daphne du Maurier yang berjudul Rebecca. Novel ini begitu sederhana, nggak menarik perhatian, hingga nggak ada yang menyangka bahwa di situlah kunci dari sandi yang tak terpecahkan. Nggak ada yang nyangka seorang sipil kucel yang membawa novel kucel ini dalam tas-nya adalah the code talker.

Eh.. gw salah! Ada lagi ding yang menceritakan tentang sandi seperti ini! Episode terakhir "Criminal Minds" di season 1 (yang bersambung ke episode pertama di season 2). Di situ sandi yang diberikan the unsub memang harus dipecahkan dengan membaca kata di halaman/paragraf/baris tertentu dari buku karangan John Fowles. Bukunya berjudul The Collector, dan harus yang cetakan tahun 1963. Jadi.. biar sepintar apa pun, kalau nggak punya that specific copy, nggak mungkin berhasil memecahkan kodenya ;-) Mau diutak-atik kayak apa pun nggak bakal gathuk (= nyambung)

Mana yang lebih baik?

Hmm.. kalau buat dipakai mainan, gw lebih suka pakai yang pertama. Terstuktur dan terpola. It will be a triumph to be able to decode it. Makanya, kecenderungan gw juga selalu mencari2 the similar code di semua hal yang gw lihat.. hehehe.. Emang setelan gw gitu kali, ya ;-)

Tapi kalau gw mesti menjaga suatu rahasia, apalagi demi bangsa dan negara (tsah!), mungkin yang kedua lebih efektif. Tanpa pola dan struktur yang jelas, tentu lebih sulit buat musuh untuk mengetahuinya. Apalagi kalau yang tahu dan punya kunci jawabannya hanya orang2 tertentu. Maximum security.. hehehe.. The Navajo Code sudah membuktikannya kan ;-)? Nggak heran sandi rahasia ini baru di-deklasifikasi akhir 90-an, hampir 50 thn setelah pembuatannya. Malah.. sandi yang sama sempat digunakan lagi di Perang Korea dan Perang Vietnam.

Nggak heran juga, kalau di film ini diceritakan bahwa setiap code talker punya seorang guardian; tentara yang tugasnya menjaga supaya the code talker tidak jatuh ke tangan musuh. Dan jika perlu.. tugas tentara ini adalah untuk membunuh si code talker daripada jatuh ke tangan musuh.

*Ya, ya.. kalimat terakhir ini nggak pernah diakui oleh Amerika Serikat. Cuma rumor doang. Lagian, Amerika Serikat kan pembela hak azasi manusia nomor wahid, nggak mungkin lah memerintahkan membunuh bangsa sendiri, biarpun cuma Indian doang ;-)*

Aaaanyway.. ngomongin The Navajo Code, gw jadi kepikiran bahwa bangsa kita tuh berpotensi besar untuk memiliki our own Navajo code ;-) Pernah ngitung nggak, berapa jumlah bahasa dan dialek di negeri berpulau lebih dari 13,000 ini? Pas gw ke Ende, Flores, awal tahun lalu, gw sih menemukan bahwa beda desa di Flores aja orang bisa saling nggak bisa ngerti bahasa masing2. Jadi.. bayangkan berapa varian sandi yang bisa kita ciptakan ;-)

Kalau kita punya unbreakable code, mau ngajak perang negara lain juga lebih afdol gitu! Biar kata persenjataan kita kalah OK, kalau strateginya bagus, dan didukung dengan kode tak terpecahkan gini, kan peluang menang masih ada. Bukannya bangsa kita selalu membanggakan masa lalu: berhasil ”mengusir” Belanda dengan senjata bambu runcing ;-)? Hehehe.. Apa susahnya ngganyang negara yang suka mencuri kebudayaan kita ;-)?

Dan mungkin negara2 lain juga lebih hati2 mau nyolong lagu daerah, alat musik tradisional, atau seni batik ;-) Nggak berani macem2 sama kita, karena takut dihajar balik.. hehehe..

Atau.. kalau negara kita ini mau mempertahankan citranya yang ”cinta damai”, trained code talker ini bisa kita sewakan ke negara2 lain yang doyan perang. Jadi kan kita nggak cuma bisa memasok TKW atau TKI doang, tapi juga yang lebih ”bergengsi dikit”: well-trained military code expert ;-) Negara2 lain yang mau nggebukin TKI/TKW asal Indonesia juga mikir seribu kali.. hehehe.. takut sama ”tentara bayaran” Indonesia. Apalagi kalau negaranya pernah pakai servis ini.. hehehe.. tambah takut lagi karena ada ”tentara profesional” Indonesia yang sedikit2 ngerti isi perut negaranya ;-)

Tentu.. mereka yang berwenang mengatur penyewaan code expert ini kudu hati2 menyusun surat kontrak. Jangan sampai senjata makan tuan.. negara2 yang habis menyewa jasa kita malah kemudian berbalik menyerang kita.. hehehe.. Tapi, coba deh dipikirkan baik2. Siapa tahu bisa menjadi sumber devisa baru buat Indonesia ;-)

Gimana? Ada yang tertarik mengembangkan usul gw? HAHAHAHA..

---

PS: BTW busway, sebelum ada yang nulis di comment box gw tentang Criminal Minds gara2 salah satu alinea di atas.. Iyaaa, gw udah tahu season 3 udah keluar, dan Jason Gideon (Mandy Patinkin) diganti sama David Rossi (Joe Mantegna). Tapi menurut gw sih asyik2 aja.. sama menariknya ;-)

---

FUN TRIVIA: Ada Apa dengan Rebecca?

Eh.. gw baru ngeh bahwa nama Rebecca muncul di tiga tautan yang gw berikan. Selain buku "The Key to Rebecca", ternyata korban di "Criminal Minds" episode itu juga bernama Rebecca Bryant. Dan.. salah satu filmnya Alfred Hitchcock juga berjudul Rebecca.

Jadi.. ada apa dengan Rebecca? HAHAHA..