Monday, March 27, 2006

Sewindu

Saat membuat ticket & allowance request untuk salah satu project gw tadi pagi, gw baru sadar bahwa beberapa hari lagi pernikahan kami memasuki usia 8 thn. Tepatnya tanggal 4 April nanti. Tapi nggak ada waktu untuk romantis2an, karena subuh tanggal 5 April gw dan si Mas bertolak ke kota yg berbeda untuk project masing2: gw ke Medan, si Mas ke Surabaya. So, sudah jelas bahwa malam sebelumnya kami bakal sibuk membereskan kopor masing2. Benar2 potret keluarga urban Jakarta ;-).

Kenapa waktu itu kami memilih hari Sabtu tanggal 4 bulan 4?

Hmm.. sebenarnya tanggal incaran gw adalah Sabtu, 18 April 1998. Kami berdua ingin menikah di hari Sabtu, supaya urusan akad nikah hingga resepsi bisa dilakukan pada 1 hari libur; tidak menyulitkan tamu undangan dengan kemacetan dan ketergesa2an seperti jika dilakukan di hari kerja, tapi juga tidak harus merampok “hari keluarga” seperti jika kami mengundang di hari Minggu. Secara khusus ingin tanggal 18 April karena baik si Mas maupun gw lahir pada tanggal 18. It would be nice to add another 18 to our memory. Secara penanggalan Jawa, tanggal ini jatuh pada Sabtu Pon, hari pasaran yang ‘just right’ untuk gw & si Mas.

Bagi orang Jawa, setiap hari dan pasaran memiliki nilai sendiri. Dan salah satu cara menentukan “hari baik” adalah dengan menjumlahkan nilai hari/pasaran kedua mempelai serta nilai hari/pasaran tanggal pernikahan, untuk kemudian dibagi 3. Jika hasilnya bersisa 1, disebut SRI (hari baik). Jika hasilnya bersisa 2, disebut LARA (hari yang kurang baik). Dan jika hasilnya habis dibagi 3, maka disebut PATI (hari buruk). Jumlah hari/pasaran gw & si Mas adalah 21, jumlah yg habis dibagi 3. Oleh karenanya, hari baik bagi kami adalah hari2 yang jumlah nilai hari/pasarnnya bersisa 1 jika dibagi 3. Sabtu Pon (jumlahnya 16), Sabtu Wage (jumlahya 13), serta Minggu Legi (jumlahnya 10) adalah beberapa “pilihan terbatas” kami. So.. betapa sempurnanya tanggal 18 April itu kan? Sayangnya, walaupun secara jumlah hari/pasaran sangat baik, salah satu klausul yg harus diperhitungkan dalam memilih hari baik menetapkan bahwa Sabtu Pon termasuk dalam “11 hari terburuk untuk membuat keputusan besar”. Dengan demikian, tentu saja keluarga besar gw – yang sangat Jawa itu – tidak mengijinkan gw menikah di tanggal tersebut. Alternatifnya, kami memilih Sabtu Wage, 4 April 1998 sebagai tanggal pernikahan.

Well.. ada untungnya juga sih menikah di tanggal itu. Waktu gw menikah, gw belum genap 1 thn bekerja di kantor pertama gw. Belum punya jatah cuti, jadi harus hemat2 advance cuti. Selain jatah cuti menikah sebanyak 3 hari, gw hanya boleh advance cuti tambahan selama 3 hari. Untungnya Selasa, 7 April adalah libur Idul Adha, sementara Jumat, 10 April adalah Jumat Agung (wafat Isa Almasih). Dengan demikian, walaupun secara de jure hanya cuti 6 hari sejak tanggal 1 April, secara de facto gw punya 12 hari libur: 3 hari sebelum menikah, dan sisanya setelah menikah.

Menikah di usia muda, masih pegawai baru (fresh grad lagi ;-)), menimbulkan permasalahan urban lainnya. Sampai hari terakhir sebelum cuti, gw masih “disiksa” untuk “memperkaya perusahaan” (oops ;-)!). Cuti tanggal 1 April, tanggal 31 Maret gw masih menjalankan sebuah proyek penelitian di Yogya. Boro2 sempat luluran, facial, atau merawat tubuh layaknya calon pengantin lain. Entah seperti apa tampang gw waktu menikah dulu, mungkin kusut masai kali ya.. ;-) Boro2 juga dipingit seperti layaknya calon ratu sehari. Lha wong tanggal 3 April sudah upacara Siraman dan Midodareni, tanggal 2 April MALAM gw & si Mas masih kelayapan di Arion Plaza untuk… BELI GELAS… ! Iya, saking hebohnya menyiapkan “yang besar2”, lepas maghrib baru gw sadar bahwa belum ada yang mempersiapkan gelas untuk upacara Dodol Dhawet (=jual cendol). Padahal semua orang sudah sibuk dgn tugas masing2. Jadilah gw & si Mas lari sendiri ke mal terdekat untuk beli gelas.

Tapi.. lepas dari unsur superstitious-nya, memang benar lho kata orang2 tua bahwa sebaiknya calon pengantin tidak saling bertemu (alias dipingit). Kata orang tua, ora ilok kalo calon pengantin saling bertemu, bisa2 malah nggak jadi menikah. Hal itu kejadian juga antara gw & si Mas tgl 2 April itu. Udah tinggal selangkah ke pelaminan, kami justru bertengkar hebat di depan Arion Plaza. Pasalnya sederhana, salah satu mikrolet M02 yang mbencekno itu menyerempet mobil gw. Entah gimana mulainya, akhirnya gw & si Mas saling salah menyalahkan. Hampir aja gak jadi menikah! Untung cepat sadar ;-).

Kalo dipikir2 lagi, memang tekanan psikologis pada calon mempelai berbanding lurus dengan kecepatan mendekati hari H. Semua pengantin tentu ingin perhelatannya sempurna. Setelah sibuk mempersiapkan segala sesuatu, memastikan segalanya sempurna, tentu saja fisik dan mental sudah lelah. Dan kalau orang sudah lelah, tentunya lebih mudah menimbulkan percikan2 emosi, yang akhirnya menimbulkan pertengkaran.

Di lain pihak, di luar segala kebahagiaan yg ditawarkannya, pernikahan itu kan sebenarnya point of no return. Sekali janji diucapkan di depan Tuhan, maka tidak ada jalan untuk berputar. The show must go on. In sickness and health, in poor and wealth. Semakin dekat titik itu, tentu semakin cemas seseorang; benarkah keputusan yang saya ambil? Benarkah he/she is the one? Dan sadar tak sadar, sengaja tak sengaja, sang calon pengantin mulai lebih titi-teliti memperhatikan pasangannya untuk mencari justifikasi bahwa keputusannya memang benar. Hal2 kecil yang selama ini terlewatkan olehnya mulai diperhatikan secara lebih serius. Tak heran kalau semakin dekat hari, semakin banyak rasanya kita menemukan ketidaksempurnaan pasangan kita.

Makanya, memang semakin dekat hari pernikahan, semakin rentan hubungan kedua calon mempelai. Bener kata orang2 tua: jangan ketemu menjelang hari pernikahan! Kalo gak ketemu, gak sempat titi-teliti memperhatikan kekurangannya kan? Gak sempat menimbulkan gesekan emosi karena sama2 capek kan?

Anyway.. perjalanan dari tanggal 2 April (semalam sebelum upacara pertama) hingga resepsi selesai 4 April malam, gw bagaikan terbang di awang2. Bukan! Bukan karena kegirangan! Tapi karena itu puncak2nya pikiran gw. Sepanjang upacara, gw sibuk mikir apakah semuanya beres. Gw sempat deg2an ketika penghulu sudah datang sementara kain batik si Mas belum selesai dijahit (hehehe.. bapaknya Ima itu tinggi banget, sehingga kainnya harus disambung ;-)). Hingga di pelaminan pun, saat gw menyalami sekian banyak tamu, pikiran gw juga terbagi2 dengan apakah para penjaga buku tamu menjalankan tugas dgn baik, apakah makanannya cukup, apakah mobil pengantin siap, dll, dll. Jangan tanya siapa aja yg hadir atau tidak hadir di resepsi, gw gak inget! Pikiran gw gak di sana.. hehehe.. dan sayangnya nggak mikirin malam pertama juga.. ;-).

Gw baru akhirnya merasa lega setelah tamu resepsi mulai pulang. Dan baru benar2 lega adalah ketika sudah sampai di rumah kembali. Asli, saking sibuknya, gw & si Mas gak sempat mencicipi hidangan di resepsi kami sendiri.. hehehe.. Kami baru makan setelah di rumah, ketika sisa katering yang dibawa pulang sudah mencapai rumah.

***

Looking back after 8 years, gw hanya merasa senang bahwa kami sudah mencapai titik ini. Waktu pertama menikah, semuanya tampak indah dan ideal. Kemudian satu persatu masalah mulai bermunculan. Biarpun kami sudah lama berteman dan berpacaran, ternyata hidup bersama tetap membutuhkan penyesuaian diri yang tidak sedikit. Jangan dikira pernikahan kami adem ayem tentrem gemah ripah loh jinawi… ;-) We have our shares of marital arguments. Seperti pasangan2 yang lain, kami sering lupa bahwa yang penting bukan saja “who decides”, tapi juga “decide who decides”.  Kami bertengkar untuk triffling matters; untuk setiap kejudesan yg muncul di kala lelah, setiap kecuekan yang muncul tanpa disengaja, pintu yang lupa ditutup setelah masuk, sepatu yang tidak dibuka padahal lantai baru dipel, …

Tapi toh kami melewati 7 tahun pertama yang sering disebut sebagai tahun2 rawan. Di awal2 kami melewati dengan tertatih2, tapi makin lama our feet grown stronger. Dan moga2, semuanya nggak berhenti sampai di sini. Moga2 kaki kami akan semakin kuat dan saling menopang.

Well, it’s not an easy journey, but it’s not an impossible one!