Monday, May 29, 2006

Si Keras Hati

Sekitar 1.5 bulan lalu, Ima minta agar dia boleh membagikan bingkisan pada teman2 sekelas pada hari ulang tahunnya 12 Juni nanti. I said no, karena memang perjanjiannya Ima gak akan merayakan ultahnya lagi setelah masuk SD. Umur 7 thn sudah terlalu besar untuk dirayakan di kelas, walaupun hanya dengan bagi2 goody bag.

Selain alasan itu, ada alasan lain juga sih. Pertama, teman2 sekelasnya Ima tergolong berkecukupan, kalau nggak bisa dibilang berlebih. Gak ada urgency-nya juga untuk memberikan bingkisan pada 30 anak seperti ini, lepas dari pelit gak pelitnya gw.. ;-) Kedua, gw gak pingin ikut arus beberapa ortu murid yang sudah menjurus ke arah show off; dengan berlomba2 memberikan bingkisan mahal pada teman2 sekelas anaknya. Aje gileee.. mosok sih ada ortu temannya Ima yg goody bag ultah anaknya berisi tas 40rb-an? Dikali 30 anak kan udah lebih dari 1 jeti tuh untuk goody bag doang.. ;-)

Bapaknya Ima sempat mencoba bernegosiasi dengan Ima: gimana kalau goody bag-nya dibagikan ke anak2 jalanan atau anak panti asuhan aja? Toh sama juga, bagi2 juga, dan bingkisannya jatuh ke tangan orang yang lebih membutuhkan. Tapi dengan kekeuh Ima menggelengkan kepala sambil matanya berkaca2 dan muka mellow. Bikin gw gemes dan khawatir anak gw udah ikut konsumtif.. ;-). Tapi ternyata alasannya gak sekonsumtif itu:

“Mbak Ima ingin membalas kebaikan teman2. Selama ini Mbak Ima dikasih bingkisan kalau mereka ulang tahun”

Dengar alasannya seperti ini, gw & bapaknya jadi mati ucap. Bak buah simalakama, kalau diijinkan berarti harus keluar dana tambahan, tapi kalau gak diijinkan bisa2 anak gw malah mengambil pesan yang salah: bahwa membalas kebaikan itu gak perlu.

So.. as always, bapaknya Ima punya solusi yang canggih: Mbak Ima harus menabung, nanti awal Juni tabungannya dihitung, dan bapaknya akan menyumbang 100% dari jumlah tersebut. Jumlah total tabungan plus subsidi itulah yang boleh digunakan untuk membeli goody bag. Toh, masih ada waktu 5 – 6 minggu hingga akhir Mei.

Kami berpikir keadaan aman terkendali. Berapa lama sih seorang anak umur 7 thn bisa tahan menabung sebanyak2nya? Paling setelah 1-2 minggu, dia berhenti dan berubah pikiran. Kantin sekolah tentu lebih menarik daripada celengan, apalagi buat anak yang nafsu makannya gede banget kayak Ima. Atau.. paling2 dia hanya bisa nabung Rp 1,000 – Rp 1,500 sehari. Dalam 6 minggu, paling mentok dapat Rp 50,000. Ntar bisa dibilangin bahwa gak cukup beli goody bag.

Akhir minggu pertama, pengasuhnya Ima laporan bahwa Ima sama sekali gak jajan seminggu itu. Semua uang sakunya masuk ke celengan. Tapi gw masih cuek. Baru minggu pertama! Paling jauh minggu ke-3 dia nyerah.. ;-)

Yang gw dan bapaknya Ima lupa, dengan orang tua sekeras kepala kami, mana bisa anaknya gak keras kepala?

Dan begitulah! Kemarin gw baru aja ngitung uang tabungan Ima. Jumlahnya.. ah.. pokoknya, gw trenyuh banget lihatnya! Jumlah itu baru bisa didapat jika Ima nyaris gak pernah jajan selama 6 minggu ini!

Jumlahnya, jika ditambah 100% subsidi dari bapaknya, sudah cukup untuk beli goody bag sederhana. Cukup juga untuk beli barang2 lain yang lebih dia inginkan. Makanya, sebagai upaya terakhir mengubah pikirannya, Ima ditanya: mau bagi2 goody bag atau beli barang yang diinginkannya?

Dan jawabannya tetap: Mbak Ima mau bagi2 kantongan untuk teman2 sekelas, karena kalau teman2 ulang tahun Mbak Ima juga selalu dikasih kantongan.

Her answer makes me proud, and a little ashamed of myself.. ;-). Bangga, karena dia tidak mudah tergoda dari tujuannya semula. Dan bangga, karena tujuannya begitu baik. Dia tidak berniat bagi2 kantongan supaya sama dengan teman2nya, tapi untuk membalas apa yg sudah diberikan padanya. Jawabannya juga bikin gw rada2 malu, karena gw yang udah setua ini pun gak punya pikiran seperti itu (hehehe.. ibunyaima emang rada2 merki ;-))

*Ohya, jadinya gw nyumbang juga.. hehehe.. itung2, sebuah komplimen untuk kekerashatiannya Ima. Moga2 keras hatinya terus berlanjut sampai dewasa.. dan mudah2an.. temen2 masa remajanya nanti gak punya ide bagi2 HP pas ultah. Bisa susah gw, kalau Ima mau membalas kebaikan hati teman2nya bagi2 HP.. ;-)*

Saturday, May 27, 2006

Movie Goofs

Pertama2 niatnya mau nge-bahas The Da Vinci Code. Tapi ternyata gak banyak juga kok yg bisa dibahas. Menurut gw itu udah sebagus2nya film yang dibuat berdasarkan buku. Malah, film ini lebih bagus dari yang gw bayangkan. Sebelumnya, gw agak2 penasaran bagaimana mereka akan menterjemahkan skema berpikir dan alur sejarah yang begitu naratifnya ke dalam bahasa gambar; pasti sangat membosankan! Ternyata, sutradara dan produsernya cukup cerdas untuk membuat ilustrasi yang begitu indah untuk menggambarkan bagian2 yg berbentuk sejarah. Ceritanya juga disederhanakan, tidak serumit di buku aslinya. Dan gw menghargai banget bagian2 yang sensitif tidak diterjemahkan.. ;-)

Soal bagian yang tidak diterjemahkan ini.. hmm.. awalnya gw sempat nggak ngeh kenapa gak diterjemahkan. Top of mind gw malah menyalahkan translatornya. Baru setelah pulang dari bioskop, gw ngeh bahwa bagian yg tidak diterjemahkan itu adalah bagian yang paling sensitif.. ;-)

Dari segi pemain juga gak ada masalah. Walaupun Tom Hanks kurang good looking dibandingkan bayangan gw tentang Robert Langdon, tapi permainannya tetap prima. Audrey Tautou sesuai banget dengan bayangan gw tentang la petite Sophie Neveu yang imut tapi terlihat aristokrat dan bersikap matter-of-factly.

Kalaupun ada yang gw rasakan kurang dari film ini adalah peran Aringarosa yang terkesan tempelan banget. Hanya beberapa scene yang menampilkan Aringarosa, dan itu pun gak terlalu terelaborasi, sehingga kurang bikin orang [yang belum pernah baca bukunya] mengira2 bahwa Opus Dei, dan Aringarosa, adalah dalang di balik misteri ini. Padahal, di bukunya, hal inilah yang sejak awal tergambar. Tapi mungkin ini memang bagian dari kompromi supaya filmnya nggak sekeras bukunya ya? Mengingat Opus Dei adalah organisasi yang benar2 ada, jangan sampai filmnya benar2 memojokkan mereka.

Anyway.. buat yang belum baca bukunya, film ini memang masih terlalu mengenyangkan seperti macaroni schoetel dengan ekstra keju. Terlalu banyak informasi yang harus dicerna dalam waktu yang singkat. Tapi mau gimana lagi? Bukunya sendiri memang penuh dengan alur pikiran untuk memecahkan teka-teki demi teka-teki. Menurut gw, udah bagus banget bisa diterjemahkan menjadi gambar2 bergerak seindah ini.

*walaupun kata si penggila film ini masih kurang banyak ya, gambar Musee du Louvre et al-nya ;-)?*

Berhubung gak banyak yang bisa dibahas tentang film itu, gw ngebahas Lentera Merah aja deh.. ;-) Iya, gak sampai seminggu setelah nonton The Da Vinci Code, gw nonton Lentera Merah. Loncatan seleranya jauh juga ya? HAHAHA.. ;-) Gara2nya Ima agak sirikiti mendengar ibunya pulang malam demi seorang Tom Hanks. Dia langsung mengagendakan nonton film di bioskop juga, dan kebetulan PG-13 yang ada tuh Lentera Merah. Kebetulan dia emang tergila2 film horor, walaupun kalau nonton banyakan meremnya. Jadilah kita nonton film itu hari Jumat lalu.

Well.. gw sih gak berharap film ini punya dasar berpikir yg bisa bikin gw teriak Wow! seperti The Da Vinci Code. Tapi.. setidaknya, gw berharap film ini masuk akal lah! Sesuai common sense, atau setidaknya urband legend lah! Secara film ini dibuat oleh sutradara pemenang (?)Citra gitu! Tapi yang ada, sepanjang film gw malah asyik nyela goofs-nya.. ;)

Film ini kelihatannya mau agak serius dengan menceritakan kembalinya arwah seorang jurnalis di koran kampus Lentera Merah. Si jurnalis ini, Risa, mati dikurung di gudang arsip koran kampus karena tulisannya terlalu keras dan dianggap kekiri2an. Arwah Risa muncul kembali di tahun 2006 untuk menuntut balas, sekaligus minta kebenaran yg sudah terkubur sejak 1965 ditegakkan. Makanya setiap kali dia membunuh, selalu tertulis angka 65 di dekat korban.

Well.. sampai sini ceritanya masih logis sih. Tapi denger dong alasannya kenapa arwah Risa mulai membunuh lagi setelah menunggu 41 tahun (di film disebut 39 thn, tapi baru nyadar nih mereka salah hitung ;-)): sebab Risa meninggal 20 Juni 1965. Tanggal 20 bulan 06, get it? HAHAHAHA.. Gw baru denger ada arwah (Indonesia) penasaran suka utak-atik angka kayak togel! Mitosnya sih mereka suka membunuh di malam Jumat Kliwon, Selasa Anggara Kasih, malam 1 Sura, pada hari & pasaran kematiannya, atau membunuh orang secara insidental (atau random) di tempat2 tertentu.. Kalau hantu2 bule sukanya ngebunuh pas Halloween, pas Friday the 13th.. gak pernah gw denger ada yang harus togel2an dulu untuk balas dendam.. ;-).

Belum lagi detil2 lain yang bikin gw pingin ngakak di bioskop. Misalnya aja, pas arwah Risa membunuh Wulan, si wakil pemimpin redaksi. Pas dibunuh di ruang arsip, Wulan tuh pakai celana jeans hipster dengan udel kemana2. Lha, kok pas digantung, Wulan udah pakai gaun renda2 ala noni Belanda. Dan seterusnya, setelah jadi hantu, hantu Wulan terus berbusana gaun renda2 itu. Well.. emang sih, hantu jadi kelihatan lebih menyeramkan dengan gaun renda2 putih gitu, daripada ada hantu pakai hipster.. ;-) Tapi.. gw gak ngerti kenapa tuh arwah sempat2nya ngeganti baju korbannya ya? Hehehe.. Jangan2 gara2 pakai hipster keren, tuh hantu menyangka korbannya adalah Barbie girl:

You can brush my hair
Undress me everywhere

(Aqua-Barbie Girl)

*BTW, hantu kalo pakai hipster masih nyeremin gak ya ;-)?*

Yang bikin lebih mengganggu lagi 4 cheerleaders yang teriak2 mulu! Well.. sebenernya sih di film itu mereka tercatat sebagai 4 calon redaktur baru koran kampus Lentera Merah angkatan 50. Tapi aktingnya gak jauh2 dari cheerleaders; ke sana teriak, ke sini teriak, dimana2 teriak.. hehehe..

Masih banyak lagi sih yang bisa dianggap goofs dari film ini. Misalnya aja, bapaknya si pemimpin redaksi thn 2005 (yg juga mantan pemimpin redaksi Lentera Merah thn 1965 sekaligus TTM-nya Risa), melarikan diri ke luar negeri karena takut dibunuh arwah Risa.. ;). Hmm.. gw baru tahu bahwa arwah penasaran itu kena cekal juga, gak boleh membunuh korban di luar daerah yuridiksinya.. hehehe.. Apa mungkin arwah juga butuh visa dan mesti bayar fiskal kalau ke luar negeri ya? Hehehe.. ;) Terus.. fakta yang kebetulan banget bahwa semua pengurus Lentera Merah thn 2005 (dan calon pengurus 2006) adalah putra-putri dari pengurus Lentera Merah thn 1965. Hmm.. kebetulan yg maksa bener .. ;)

Tapi.. seperti kata si Mas, mungkin sebaiknya gw berhenti mencela2 film ini.. ;-). Katanya, kalau semua film dibikin ala Garin Nugroho, perfilman Indonesia bakal mati lagi. Jadi setidaknya gw bisa memberikan dukungan pada perfilman Indonesia (tsah!) dengan berhenti mencela film ini.. ;-) Jadi, gw kasih goof yang terakhir aja deh: di filmnya, Risa dikurung di ruang arsip sempit berdebu setelah dipanggil dari ruang kuliahnya tanggal 20 Juni 1965, dan langsung mati beberapa jam kemudian karena sesak napas. Nah.. gw baru baca Primbon Almanak 1900-2025 tulisan Putri Wong Kam Fu.. dan.. tanggal 20 Juni 1965 jatuh pada hari Minggu Pon, 20 Sapar 1897, alias 21 Safar 1384 H. Rasanya nggak ada deh yang kuliah di hari Minggu.. ;-)

Friday, May 19, 2006

Ahmadinejad

Minggu lalu, 2x hidup gw dibikin sengsara oleh Presiden Iran: Mahmoud Ahmadinejad. Pertama, tanggal 10 Mei di Hotel Mulia. Selama hampir 40 menit gw dipaksa berdiri di lobby, mobil kantor yg udah selangkah lagi meluncur ke lobby dihentikan, dan gw gak boleh turun menghampiri mobil, karena harus nunggu sampai rombongan beliau masuk dgn selamat ke hotel. Yang kedua, menurut kabar suami gw, kemacetan parah yg kami alami di Salemba Raya tanggal 12 Mei adalah lantaran Mister President berkenan berkunjung ke PBNU. Nah, yg ini gw gak tahu suami gw serius atau lagi ngerjain gw, tapi gw tahu bahwa PBNU memang punya kantor di Salemba Raya.

Tapi gak papa deh! Walaupun sempat bikin hidup gw rada2 sengsara, bapak presiden ini termasuk yg cara berpikirnya gw kagumi.. ;-)

Awal2nya gw no comment terhadap tuntutan Bapak Presiden atas hak Iran di bidang program nuklir. Tapi setelah baca2 lebih detil, salah satunya adalah pernyataan beliau ini, gw mulai kagum. Argumennya tentang logis banget, tapi dinyatakan dengan sangat tenang tanpa harus menjadi terdengar kejam. A combination I aspire, but still fail to achieve.. ;). Simak nih kutipannya:

"Iran's government volunteered to implement the Additional Protocol merely for confidence building and even cooperated with the UN nuclear watchdog beyond the framework of the law to allow inspection of the country's nuclear installations without the ratification of Majlis.

This is while, no other IAEA member state has ever agreed with such inspection. Besides, to do away with any excuses, Iran even went so far as declaring its readiness for participation of other countries in the process of its nuclear fuel cycle. However, even this effective and unprecedented proposal did not stop the opposition of the said countries”

Dengan argumen di atas, orang2 yang masih mempertahankan obyektivitasnya tentu bisa berpikir: iya ya, kenapa Iran yg sudah amat kooperatif diublek2, sementara ada negara2 lain –yang bahkan tidak sekooperatif ini- dibiarkan? Keberatan2 dunia internasional ini obyektif, atau berdasarkan prejudice? Karena kalau dilihat dari argumen President Ahmadinejad di atas, harusnya, logikanya, Iran boleh melenggang dong dengan aktivitas nuklirnya?

Terus.. ada lagi tulisan tentang beliau yang gw baca di CNN ini. Entah sengaja atau tidak sengaja, CNN justru meng-highlight bagian yang salah. Yang digarisbawahi justru dekorasinya tentang Holocaust was a Myth. Padahal, kalau disimak baik2, ada inti yg lebih penting yang harusnya dibahas. Coba deh baca kutipan berikut:

"The West has given more significance to the myth of the genocide of the Jews, even more significant than God, religion, and the prophets," he said. "(It) deals very severely with those who deny this myth but does not do anything to those who deny God, religion, and the prophet."

"If you have burned the Jews, why don't you give a piece of Europe, the United States, Canada or Alaska to Israel," Ahmadinejad said.

"Our question is, if you have committed this huge crime, why should the innocent nation of Palestine pay for this crime?"

Apa yang Anda tangkap dari kutipan ini?

Kalau yang gw tangkap sih intinya beliau mencoba mengembalikan masalah ini pada logika: loe (Jerman/Eropa) yg bikin susah, loe (Jerman/Eropa) dong yg bayar! Jangan loe (Jerman/Eropa) yang makan nangka, orang lain (Palestina) yg disuruh kena getahnya.. ;).

Kalau beliau menyebut mitos, well.. yang gw lihat sih bukan the whole massacre-nya yg dianggap mitos, melainkan posisi kejadian ini yg sudah disetarakan dgn mitos. Apa sih yg terjadi pada mitos? Pada mitos, orang gak perlu lihat lagi benar-salahnya secara logis kan? Cukup percaya, dan melakukan apa pun yg bisa membuat perasaan kita lebih enak. Kalo mitosnya bagus, ya kita gak perlu tanya logikanya, cukup ikuti apa yg disarankan. Kalo mitosnya jelek, kita gak perlu tanya logikanya, cukup hindari sesuai saran.

Nah.. mungkin (mungkin lho ya, ini interpretasi gw sendiri) begitulah yang ingin digambarkan oleh Ahmadinejad. Di dunia sudah ada mitos bahwa Israel adalah tunawisma yang harus dikasihani dan diberi rumah. Bagaikan mitos, maka gak penting lagi siapa yg harus kasih rumah.. ;) Kalau Israel maunya rumah di tanah yang itu, maka yg memiliki tanah itu harus mau ngasih rumahnya. Kalau gak, berarti dia salah.. ;). Segala hal yang mengarah pada kemungkinan lain harus disangkal dan ditindak dgn keras.. ;-)

Hehehe.. di sini gw setuju banget sama Ahmadinejad. Kalau mau fair, harusnya memang kembali ke logika dasar yang diajukan oleh beliau. Kalau masih sibuk dengan mitos, antara penderitaan Yahudi vs. kepercayaan Palestina, jadinya berat sebelah tergantung mitos mana yg lebih menggugah hati.. ;-).

Well.. baca sekilas2 tentang beliau aja udah bikin gw kagum. Apalagi ketika ada teman yang kebetulan ikut kuliah beliau di UI cerita tentang how soft spoken he is. Betapa menarik dan smart-nya beliau menjabarkan isi pikirannya.. Konon kabarnya, dengerin omongannya dia enak banget!

Tambah2 kagum lagi pas baca ceritanya Rosiana Silalahi di Kompas Minggu. Betapa humble-nya Mister President meminta maaf HANYA karena protokolernya salah bikin jadwal sehingga dia gak tahu harus ada wawancara dgn SCTV. Sampai2 Rossy ditelepon dan sebuah bingkisan diantarkan ke rumahnya *Ros, you really have to share this experience in our mailing list.. ;)* Jarang banget ada orang yg sudah di posisi dia mau minta maaf untuk hal sekecil ini, kan ;-)?

Hehehe… kalau saja jari tangan gw jempol semua, maka sepuluh-sepuluhnya bakal gw kasih buat Presiden Mahmoud Ahmadinejad ini deh! Tapi sayangnya jempol gw cuma 2, jadi.. two thumbs up, Mr. President! Ini yg namanya benar2 mengikuti ilmu padi, semakin berisi semakin merunduk.. hehehe.. bukan ilmu tua2 keladi, makin tua makin jadi.. ;-)

Tuesday, May 16, 2006

Dust under her Carpet

Okay, mari kita bicara tentang hal2 domestik. Pertanyaan pertama: bagaimana cara menyapu lantai? Kemana kotorannya harus dibuang? Ke tempat sampah, atau ke bawah karpet?

Gw jenis orang yang sudah pasti tidak akan membuang kotoran ke bawah karpet. Bukan berarti gw langsung masukkan kotorannya ke pengki lantas membuangnya ke tempat sampah lho! Kadang2 kotorannya gw onggokkan saja dulu di dekat dinding, ditindih sapu, sambil gw melakukan pekerjaan lain. Emang sih pemandangannya gak bagus, kalau ada tamu yang datang saat gw belum sempat membuat kotoran itu, bisa2 tamu bergidik ngeri. Tapi setidaknya tamu jadi tahu di bagian mana ada debu, dan bisa menghindarinya. Menurut gw itu lebih baik daripada gw simpan di bawah karpet, seolah2 siap menerima tamu setiap saat, tapi sebenernya bisa bikin orang TBC dgn onggokan debu tersebut.

Tapi nggak semua orang seperti gw kan? Ada yg lebih suka menyembunyikan kotoran di bawah karpet, dan lantas bersikap seolah2 semuanya sudah bersih. Orang2 seperti ini mungkin sekali tidak terima jika dibilang jorok. Mereka bisa tersinggung setengah mati, lha wong karpetnya bagus, gak kelihatan ada debu, kok dibilang jorok? Apalagi kalau yg bilang dia jorok itu gw, yang jelas2 suka mengumpulkan debu di dekat dinding dan ngerjain hal lain sebelum membuangnya ;-).

Ini masalah perbedaan prinsip sih, perbedaan definisi dan gaya hidup. Gak bisa disatukan, karena memang prinsipnya beda.

Bertahun2 lalu gw pernah mencoba mencereweti seseorang tentang cara menyapu yang gw percayai sebagai lebih bersih. Dari mulai gw kasih mitos bahwa kalo nyapunya gak bersih entar suaminya berewokan, sampai gw kasih alasan ilmiah tentang bagaimana bahayanya debu terhadap kesehatan saluran pernafasan. Tapi dia gak mau dengar, menurutnya gw terlalu rese, cerewet, belagu. So.. akhirnya gw biarkan dia terus dengan kebiasaannya menyimpan debu di bawah karpet. Gw gak kasih nasihat lagi. Gw hanya bilang bahwa gw gak bisa ke rumahnya, krn prinsip kebersihan kami berbeda. Daripada gw masuk rumahnya dan bikin komentar yg menyakitkan hati, mendingan kalau mau ketemu on the neutral ground aja.

Rasanya ini sudah merupakan win-win solution. Selama bertahun2 kami hidup tenang. Tetap cipika-cipiki kalo ketemu. Ngobrol. Bercanda. Nggak sekalipun kami membicarakan masalah sapu-menyapu.

Sampai beberapa bulan lalu, debu2 di bawah karpetnya membuat dia didiagnosa menderita TBC.

Okay, even setelah dia menderita TBC pun I still keep my mouth shut. Gw abaikan kesempatan untuk nyinyir bilang: I told you! Dia butuh diantar ke RS, ya diantar rame2. Dia butuh dikasih obat, ya dikasih obat. Gw hanya berharap ini jadi pelajaran buat dia supaya dia bisa mengkaji ulang cara hidupnya.

Sayangnya, memang ada orang2 yang tidak belajar dari pengalaman. Begitu badannya merasa agak enak, agak sehat, mulai lagi cara hidupnya yg gak sehat dimulai lagi. Bahkan dengan bangga dia bilang bahwa nggak usah takut jadi TBC, toh ada obat yg bisa bikin sembuh dalam sekejab. Bener2 bikin gw capek hati dengernya.. ;-).

But still.. I keep my mouth shut. Toh gw gak harus hidup di rumahnya dia. Toh gw sudah janji sama dia bahwa selama dia gak memaksa gw ke rumahnya, I do not give a damn about how she lives her life.

Namun rupanya keadaan pasca-TBC ini berbeda. Gara2 gw mau ikut nganter dia ke RS, gara2 gw mau ikut berperan serta (walaupun seminimal mungkin) terhadap penyembuhannya, dan gara2 gw (gak seperti beberapa orang lain) gak nyinyir bilang I told you!, mungkin dia berpikir gw sudah mau berkompromi dengan prinsipnya dia. Sudah mau menerima prinsipnya dia. Sudah melupakan perjanjian di antara kami. Maka mulailah dia minta perhatian lebih: minta gw menginap di rumahnya untuk curhat2an.

Waduh.. gimana nih? Gw tahu dia mau curhat soal TBC-nya, dan kenapa orang2 menjauhinya. Sesuatu yg emang gak pingin gw dengar, karena akan memicu gw bilang I told you!. Gw kan orang yg kalo A ya bilang A. Gak bakal kalo A gw bilang B atau hanya bilang A di dalam hati supaya orangnya gak tersinggung.. ;-). Dan bukan model gw untuk dengerin, pasang wajah manis, terus entar nggosipin dia di belakang.. ;-) Nasihat (yg bisa jadi penuh kata2 pedas) dan kesempatan curhat yg gw berikan itu satu paket, nggak bisa di-keteng. Yang jelas dia sudah terbukti gak bisa terima nasihat pedasnya, jadi ya dia gak bisa dapat kesempatan curhat.

So, for the sake of the peace and harmony of the humankind, pertama2 gw menolak permintaannya dgn halus. Gw bilang gw gak bisa nginep, banyak kerjaan. Masih aja dia maksa.

Lama2 gw bilang yang agak menjurus ke masalah sebenernya. Gw alergi debu, daripada gw ngebersihin sendiri kamar yg mau gw pakai nginep dan bikin dia tersinggung, mendingan gak usah nginep2an deh ;). Nah.. ngambeklah dia! Muncullah victim mentality-nya; bilang ke sana kemari bahwa memang dia tidak berharga, semua orang benci sama dia, bla.. bla.. bla.. Semua ucapan gw di-edit, bagian yg mendukung role of victim-nya dia di-highlight. Mirip2 deh sama beberapa teman ngobrol online gw yang baca paragraf/kalimat sepotong2, untuk kemudian mengutipnya ulang dalam konteks yg berbeda.. ;-)

Nah.. kalau udah gini diapain ya?

Kalau menurut gw sih udah waktunya dia belajar bahwa reality bites, dengan memberitahukan alasan gw yg sebenarnya tanpa tedeng aling2:

Dulu loe gak terima gw nasihati untuk gak jorok, untuk mencegah hal ini terjadi. Jadi sekarang gw juga gak bisa dengerin keluh kesah loe atas apa yg sudah gw peringatkan. Ini kan konsekuensi pilihan loe sendiri untuk tetap jorok. Kalau loe ngeluh sama gw sekarang, terpaksa gw bakal bolak-balik ngulang apa yg udah pernah gw bilang. Bahkan dgn kata yg lebih pedas, karena sekarang udah kejadian, bukan mencegah lagi

Bukannya gw gak tahu bahwa dia pasti tersinggung. Bukannya gw gak sadar dia mungkin bakal ngember kemana2, dan ini jadi konsumsi umum. Tapi.. gak papa deh, selama ada kemungkinan dia belajar bahwa kenyataan itu menyakitkan.. ;-). Toh, selama ini dia sudah diajari dengan cara yg halus, tetap gak berhasil kan? Disuruh belajar dari pengalamannya sendiri, gak berhasil juga toh? So.. let us try the hard way now.. ;-).

Buat gw.. gw gak terlalu perduli akan diberi label apa. Kejam? Jahat? Sadis? Hehehe.. Silakan! I do not mind.. ;-). Nothing comes for free, and it is the price I am ready to pay for saying and doing what I think is right.. ;-).

***

PS: cerita ini sebuah analogi.. ;) Bukan tentang menyapu lantai dalam arti harafiah.. ;-)

PPS: cerita ini juga didedikasikan untuk Shinichi Kudo yang lagi demen pasang emoticon ngetuk2 meja pakai jari gara2 kasus yg serupa-tapi-tak-sama.. ;-)

Wednesday, May 10, 2006

Honda Jazz Semalam

UPDATE!

Gw sempat googling untuk cari teman senasib, dan menemukan beberapa artikel terkait. Menakjubkan! Kalau diruntut kronologinya, para penipu ini senantiasa menyesuaikan diri seperti bunglon. Tengok pengalaman Bung Eko ini; kop surat masih beralamat di Arkadia Hijau. Tapi surat yg gw terima alamatnya sudah disesuaikan (mencetak kop surat baru pastinya.. modal banget gak sih?) menjadi Jl. Lebak Bulus Raya sesuai dgn alamat Carrefour yg asli. Selanjutnya baca pengalaman Pipit, tentunya ini dilakukan saat si penipu kehabisan surat ber-kop (mungkin yg alamatnya Lebak Bulus Raya masih naik cetak, sementara udah basi kalo pakai yg Arkadia Hijau, ya.. ;)?).

Sorry, Carrefour, bukan berniat melangkahi tanggung jawab sosial perusahaan Anda. Tapi boleh kan, pelanggan proaktif saling mengingatkan, setidaknya melalui media blog ini ;-). Jangan anggap enteng blog lho, beberapa waktu lalu Newsweek (atau Time ya? Entar gw cek lagi di rumah) memuat artikel tentang bagaimana ketar-ketirnya RRC karena blogger2 China mulai menulis tentang keadaan negerinya..;)

***

Waktu pertama kali terima surat pemberitahuan pemenang, gw shock campur seneng. Bayangin aja, gw dinyatakan memenangkan 1 unit Honda Jazz! Sejak produk ini diluncurkan ke pasaran, gw memang udah dibikin kesengsem. Makanya berasa kejatuhan bulan deh!

Sempat juga gw curiga ini sebuah bentuk penipuan. Kan sekarang sering banget tuh penipuan berkedok undian berhadiah. Tapi kecurigaan itu sedikit pupus melihat bahwa surat tersebut berkop surat Carrefour. Lengkap dengan logo dan cap-nya. Kecurigaan benar2 pupus ketika di halaman ke-2 gw menemukan lampiran kupon undian yang memang pernah gw isi. Kop surat bisa dipalsu, cap bisa dipalsu, tapi kupon undian yang gw isi itu pasti nggak bisa dipalsu. Tulisan di atas kupon itu benar2 tulisan gw!

Satu hal saja yang bikin gw deg-deg plas! Surat itu baru gw terima tanggal 8 Mei 2006. Padahal, di dalam surat itu dikatakan pajak undian sebesar 25% jatuh tempo pembayarannya 8 Mei 2006. Nah lho! Ngeden dari mana tuh duit buat nebus hadiahnya? Tapi gw sedikit terhibur melihat cap pos di amplop adalah 7 Mei 2006. Berarti ini kesalahan mereka yg mengirimkan surat terlalu mepet.

So, dengan pede gw telfon nomor yang ada. Berhubung sudah jam 9 malam, gw memutuskan untuk tidak menelfon ke nomor yang berkepala 021. Siapa juga yang masih ngendon di kantor jam segitu? Gw memutuskan menghubungi HP 081384026719 atas nama Ir. Tri Indarto yang disebut sebagai penanggung jawab hadiah. Buat gw gak terlalu aneh kalau ada nomor HP seorang penanggung jawab di situ. Gw sendiri terbiasa memberikan nomor HP ke klien2 gw, dan setahu gw di banyak bisnis jasa, sudah lazim menyertakan HP untuk dapat dihubungi sewaktu2.

Ir. Tri Indarto ini cukup ramah, tapi sedikit menyalahkan gw yang baru mengkonfirmasi hadiah di detik2 terakhir. Menurut beliau, beliau sudah menunggu konfirmasi gw sejak beberapa hari lalu. Jika sampai jam 12 malam nanti tidak di-claim, maka hadiah itu akan diserahkan ke balai lelang. Gw tentu aja gak terima disalahkan begitu. Langsung aja dong gaya intonasi-lembut-tapi-sarkastik gw kumat:

Surat pemberitahuannya baru sampai ke rumah saya hari ini, Pak. Saya orang kerja, baru saja pulang kantor, jadi saya baru baca suratnya sekarang. Dan lagi, ada buktinya bahwa pihak Carrefour yang terlambat mengirimkan kepada saya. Cap posnya 7 Mei 2006, which is yesterday, rite? Kalau suratnya saja baru dikirim kemarin, bagaimana Bapak bisa mengharapkan saya mengkonfirmasi beberapa hari lalu? I am not a psychic; I cannot foresee my fortune kalau nggak ada yang memberi tahu saya. Kenapa pihak Carrefour tidak mencoba menghubungi saya? Kan ada nomor telepon rumah saya di kupon itu?

Mungkin, mendengar gw nyerocos and put the blame on him, Ir. Tri Indarto ini mengalah dan mengundang saya datang ke kantor pusat Carrefour di Lebak Bulus keesokan harinya.

So.. di pagi yang cerah 9 Mei 2006 itu gw diantar si Mas menuju Carrefour. Tapi.. baru saja masuk gedung dan menunjukkan surat pemberitahuan itu, satpam sudah mengatakan bahwa saya ditipu. Hah? Ditipu? Bagaimana bisa ditipu? Kan kupon yang dilampirkan asli, gak mungkin dipalsu, dan hanya mungkin dipegang oleh Carrefour? Makanya kami tetap ngotot untuk mendapatkan keterangan yang lebih kredibel.

Si satpam kayaknya lumayan bete. Sambil agak bersungut dia mempersilahkan kami ke lantai 3 sambil menggumam: Silakan aja kalau mau konfirmasi, saya hanya bertugas memberi tahu, kalau nggak percaya ya silakan!

Di lantai 3, seorang resepsionis cantik langsung mengkonfirmasi pernyataan satpam. Dia langsung menyodorkan fotokopi pengumuman pemenang yang asli. Ini adalah penipuan; kop suratnya palsu, nama2 yang ada di dalamnya adalah fiktif. Tidak ada Ir. Tri Indarto di situ.

OK. Gw bisa terima kenyataan bahwa itu sebuah penipuan. Tapi gw jadi curious: bagaimana kupon asli yang berisi data pribadi gw itu bisa jatuh ke tangan orang tak bertanggung jawab? It should be confidential and become the proprietary of Carrefour, rite?

Mbak resepsionis itu punya penjelasan sebagai berikut:

Waktu itu kami mengadakan undian dengan tayangan langsung di Trans TV. Acaranya diatur oleh sebuah Event Organizer. Waktu itu semua kupon undian kami serahkan ke mereka. Setahu kami semua kupon undian itu sudah dimusnahkan, tapi ternyata belum. Sudah beberapa kali kejadian seperti ini, dan Carrefour sudah minta pertanggungjawaban pada Trans TV dan Event Organizer-nya, serta sudah melaporkan kejadian ini pada pihak kepolisian.

Begitu penjelasannya. Period. Seolah2 masalah selesai hingga di situ. Kesalahan ada pada pihak penyelenggara, Carrefour gak bertanggung jawab karena di kasus ini juga merupakan korban.

Well.. sebagai orang yang tiap hari bergulat dengan kerahasiaan data (baik kerahasiaan klien ataupun kerahasiaan responden penelitian), jujur aja gw sangat kecewa dengan penjelasan dan penyelesaian seperti ini. Betul, bukan Carrefour yang melakukan penipuan. Betul, Carrefour hanya korban dari wanprestasi pihak ketiga. Tapi.. sebagai pengisi kupon, pelanggan tidak punya urusan dengan pihak ketiga. Pelanggan hanya berurusan dengan Carrefour. Pelanggan mau mengisi kupon, dan menyerahkan kupon, karena percaya pada Carrefour. Kami menyerahkan kepercayaan pada Carrefour. Kalau kemudian kupon itu bisa jatuh ke tangan orang yang tidak bertanggung jawab, itu adalah urusan Carrefour dengan pihak ketiga. Yang perlu kami pertanyakan adalah: bagaimana Carrefour mempertanggungjawabkan kepercayaan yang sudah kami berikan?

*dan tentunya pertanggungjawaban ini tidak cukup dengan hanya melemparkan tanggung jawab pada pihak ketiga ;-)*

Gw termasuk calon korban yang cukup beruntung: para penipu itu hanya menggunakan data yang mereka dapat untuk mengirimkan surat tipuan. Dan alhamdulillah Tuhan masih sayang sama gw, sehingga gw diselamatkan dari kerugian materi (cuma rugi waktu aja mendatangi kantor Lebak Bulus yg jauhnya amit2 dari rumah gw). Tapi.. bagaimana nasib orang2 yang tidak seberuntung gw? Orang2 yang karena euphoria sesaat, yang mengira surat itu benar karena ada lampiran bukti otentik (yang setahu mereka hanya bisa dilampirkan oleh Carrefour) sudah mentransfer sejumlah uang ke mereka? Atau.. mungkin ada orang2 yg lebih tidak beruntung lagi: para penipu itu menggunakan data yang didapat untuk menyatroni rumah mereka.. dan.. ah.. gw gak tega membayangkan kemungkinan2 buruk yg terjadi!

Well.. gw nulis posting ini bukan untuk menyalahkan siapa2 sih. Tapi sekedar untuk bahan pelajaran kita semua: lebih hati2lah mengisi kupon undian atau hal2 yg berisikan data pribadi Anda. Penipu sekarang canggih2, nekad, dan bermodal pula! Beberapa waktu lalu gak kebayang kan, ada penipu yang berani nantang korbannya datang ke kantor asli? Gak kebayang juga kan, demi menipu mereka mau keluar modal bikin kop surat, stempel, nyatut nama notaris, dan.. memanfaatkan celah yang ada untuk mendapatkan dokumen2 rahasia seperti kupon undian yg gw isi itu. Makin lama, makin sulit membedakan yang asli dari yang palsu. Kita harus semakin jeli.

As for me, gagal dapat Honda Jazz gak bikin gw kecewa. Somehow, gw malah ngerasa lega gak harus membuat keputusan sulit antara mbobol celengan buat bayar pajak undian atau merelakan mobil impian di depan mata melayang pergi ;-) Setidaknya gw bersyukur udah bisa mimpi punya tuh mobil walaupun hanya semalam.. hehehe.. Tapi sekarang sih mendingan gw nyanyi aja:

Khayalan ini setinggi-tingginya
Seindah-indahnya

Berpura memilikinya

(Khayalan Tingkat Tinggi, by Peterpan)

Emang rejeki itu harus dicari dengan kerja keras, bukan mengharapkan rejeki jatuh dari langit. Doain aja suatu hari gw bisa datang ke showroom-nya dan bilang: Saya beli dua!

*eh.. emangnya gw mau beli Honda Jazz atau Yakult sih ;-)?*

----

PS: Tulisan senada, dalam bentuk yang lebih formal, sudah gw kirimkan kepada harian Kompas sebagai Surat Pembaca. Semoga dianggap layak tayang ;-).

Monday, May 08, 2006

It takes two to Tango..

.. but it takes only one to stop the tango

***

Jeng ini menuliskan sesuatu yang singkat, padat, tapi bisa menimbulkan perdebatan yg panjang:

If you have already got the warning or schema or story from your friends about someone, should you use those when you meet that person? Or you prefer to make your own warning or schema or stories about that person?

Ada yang mengatakan bahwa sebaiknya hal itu disimpan di belakang kepala saja. Ready to confirm our own experience. Dan mengatakan bahwa jika cerita yang sama diterima dari berbagai sumber, maka itu sebaiknya dipercaya.

Unfortunately, I don’t share their belief.

Gw pikir, kalau kita sudah menyimpan suatu cerita di belakang kepala kita, maka cerita itu akan tetap merembes keluar. Kepala [baca: otak] manusia bukanlah program komputer, yang bisa menyimpan suatu file dalam folder tertentu, dan file itu tidak akan masuk ke file2 kita yg lainnya. Nope! Human mind tidak terkotak2 sesempurna itu. Sekali kita membiarkan sebuah cerita masuk ke kepala kita, maka yang sangat mungkin terjadi bukanlah konfirmasi terhadap pengalaman, melainkan self-fulfilling prophecy. Secara tidak sadar, kita akan mengharap2kan terjadinya hal yang sesuai dengan cerita itu, dan berteriak “Eureka!” ketika menemukan hal itu terjadi pada diri kita. In the process, kita akan menafikan hal2 yang bertolak belakang dengan cerita itu. Hal2 yg tidak sesuai dengan cerita itu akan menjadi hal2 yang tidak kita perhatikan karena – sekali lagi secara tak sadar – kita tidak memfokuskan perhatian kita terhadapnya.

Benarkah kalau cerita yang sama diterima dari berbagai sumber, maka cerita itu sebaiknya dipercaya? Well.. gw pikir malah hal ini adalah yang the most dangerous of them all. Semakin banyak cerita, semakin banyak ‘tangan’ yang bermain di dalamnya. Bagaimana kita bisa mempercayai keabsahannya? Jika untuk satu cerita saja kita bisa mengkhawatirkan efek self-fulfilling prophecy, bagaimana kita bisa yakin bahwa jumlah yang banyak itu bukan a chain of self-fulfilling prophecy?

Contoh yang gampang aja deh.. gosip artis yang rame beberapa minggu lalu tentang Gusti Randa dan Nia Paramita. Penggemar infotainment atau tabloid tentu pernah mendengar Gusti bercerita tentang betapa tidak care-nya Nia terhadap keempat anak mereka. Cerita itu mungkin bersemayam dengan damai di belakang kepala Anda. Lantas.. katakanlah suatu hari Anda bertemu Nia Paramita sedang luluran di salon terkenal. Anaknya merengek minta pulang, sementara Nia masih terkapar di meja lulur, sehingga gak bisa buru2 pulang. Apa yang akan muncul di pikiran Anda? Sanggupkah Anda mengatakan bahwa Anda akan bersikap obyektif mengatakan bahwa Nia memang tidak bisa buru2 pulang (setidaknya dia butuh beberapa menit untuk mandi)? Ataukah.. Anda berani mengakui bahwa cerita Gusti Randa akan merayap ke bagian depan kepala Anda dan membentuk sebuah konfirmasi bahwa Nia memang tidak care pada anaknya, sehingga dia membiarkan anaknya menangis menjerit2?

Dan kemudian cerita berlanjut. Anda bercerita kepada teman arisan Anda tentang pengalaman itu: “Eh, Jeng, ternyata bener lho, Nia itu gak care sama anaknya.. bla, bla, bla..”. Berarti teman arisan Anda itu, yang kebetulan juga hobi memelototi infotainment, sekarang sudah mendapatkan dua cerita senada: dari Gusti Randa dan dari Anda. Apakah itu lantas berarti prejudice itu benar? Bahwa semua orang harus percaya bahwa Nia tidak perduli pada anaknya

*uhm.. anyway.. ini cuma contoh lho ya! Aslinya gw gak tahu Nia Paramita tuh kayak apa orangnya.. ;-) Gak kenal ;-)*

Gw selalu berpendapat bahwa It takes two to tango. Pengalaman interaksi antara dua orang adalah hasil dari dua orang itu, bukan hanya hasil dari salah satunya. Kalau pengalaman itu tidak mulus, berarti ada salah pada keduanya. Kalau pengalaman itu mulus, berarti juga merupakan hasil dari kedua orang tersebut. So.. untuk apa kita mengotori kepala dengan cerita dari satu sisi saja?

Start fresh. Dance without any prejudice towards your partner. Free your mind from the poisonous story; coming from a former dancing partner.

Atau katakanlah semua yang dikatakan oleh orang2 itu memang benar. Pada akhirnya Anda memang ber-tango juga dengan dia, seperti yang terjadi pada orang2 lainnya. Then I have to remind you that It Takes Only One to Stop the Tango. Kapan pun Anda bisa menghentikan irama tango, dan menggantinya dengan yang lain. Siapa bilang kalau dia penari tango, dia gak akan bisa menari Waltz, atau Salsa, atau Swing, atau tarian apa pun yang Anda sukai dan anggap lebih indah daripada Tango ;-)?

***

Note: Buku “It Takes Only One to Stop the Tango” ditulis oleh Khaira M. Petranto. Bukunya belum saya baca, but I promise I will, Mbak.. ;-)

Friday, May 05, 2006

Yogya Mengglobal

Akhirnya pulang juga gw dari Yogya. Ternyata Yogya aman tentram sejahtera.Gw malah ditertawai supir hotel yang menjemput ke bandara saat menanyakan kondisi Yogya. Kata bapak itu, gak ada dalam sejarahnya (kota) Yogya kena lahar, karena gak mungkin Kasultanan dan Pakualaman mendirikan pusat kerajaan di daerah rawan lahar. Yogya memang sedikit lebih berdebu, tapi toh tetap masih kalah berdebu dibandingkan Jakarta.. ;-) Dan memang, Gunung Merapi terlihat manis2 saja dari balkon kamar hotel gw, dengan puncaknya yang tertutup awan. Indah banget kalau dilihat lepas subuh. Gak kelihatan sama sekali lahar yang kabarnya mulai turun gunung itu.

Tapi memang Yogya sudah berubah sejak perjalanan dinas gw ke sana hampir setahun lalu. Perubahannya bukan gara2 gunung berapi, tapi lantaran globalisasi. Pas gw ke sana pertengahan 2005, yang namanya Plaza Sapphire itu masih desas-desusnya akan dibangun. Pro-kontra pembangunan mal di Hotel Ambarukmo bahkan belum mulai. Lha.. sekarang kedua plaza megah itu sudah berdiri, plus ada Carrefour yang baru buka bulan lalu. Bener2 mengagetkan! Yogya jadi semakin mirip Jakarta!

Globalisasi lainnya juga tampak di sepanjang Malioboro. Gw tuh kalo ke Yogya seneng jalan di sepanjang emperan Malioboro sampai masuk Pasar Beringharjo. Banyak barang2 lucu di sana. Lagian, kapan lagi gw bisa cas-cis-cus pakai bahasa Jawa? Seneng aja kalo bisa nawar dan berkomunikasi dengan bahasa setempat, walaupun tetap aja harga yang gw dapat hanya beda2 tipis dengan turis lokal lainnya. Maklum, biarpun logat gw masih cukup medhok, konon kabarnya gesture dan gaya berpakaian gw tetap aja menunjukkan gw bukan penduduk setempat. Bau Jakartanya masih kecium ;-).

Nah.. kemarin, seperti biasa gw juga nawar2 di sepanjang Malioboro, sambil nungguin klien2 gw yang sibuk ngeborong di Mirota Batik. Tapi gw kok curiga, karena banyak pedagang yang gak menjawab pertanyaan gw dengan bahasa Jawa. Gak perduli gw nawar gimana pun, mereka tetap jawab dalam bahasa Indonesia. Sempat panik juga gw.. hehe.. gw kira gw udah segitu ora njawani-nya, sampai2 mereka pun ogah jawab pakai bahasa Jawa, karena menganggap bahasa Jawa gw hafalan belaka. Tapi lama2 gw pikir ada yang aneh dengan logat para pedagang itu. Ada hint logat Melayu di situ. Alih2 belanja daster, akhirnya gw malah mewawancarai si pedagang.. ;-) Dan.. ternyata dugaan gw benar! Mereka ini perantau2 dari Minang! Ada yang tadinya jualan di Pasar Jatinegara, tapi karena hidup di Jakarta makin sulit akhirnya pindah dagang di Malioboro. Harapannya, banyaknya turis asing di sana membawa rejeki yang lebih besar. Banyak yang baru beberapa bulan di sini, sehingga belum bisa bahasa Jawa. Hmm.. ternyata Tanah Jawa mulai dijajah nih.. ;-).

Anyway, akhirnya gw memang beli beberapa daster. Dari pedagang yang Jawa. Bukan masalah primordialitas! Murni karena si pedagang ini yang kasih harga wajar. Bayangin aja, si uda2 rantau itu kasih harga 25rb per daster, dan gak mau turun dari 20rb. Padahal gw tahu bener bahwa daster dengan kualitas itu harga pasarannya di Yogya gak lebih dari 15rb. Makanya, gw gak nawar lagi pas si mas Jawa itu kasih harga telu las ewu (= tiga belas ribu) di bukaan pertama. Walaupun masih seribu-dua ribu lebih mahal dari harga pasaran, anggap aja amal buat sesama wong Jowo, hehehe.. yang penting bisa mengibar2kan kantong plastik isi daster di depan lapak uda2 rantau.. ;-) Seenaknya aja mau ngambil untung gede dari gw di kandang gw sendiri.. ;-)

Indikasi globalisasi lainnya terlihat dari responden2 gw. Sekitar 2-3 thn lalu, kalau gw bikin penelitian di Yogya, dengan sample criteria ibu rumah tangga, maka hampir tidak ada responden yang merupakan penduduk pendatang. Bisa dibilang minimal 95% responden asli Yogya, setidaknya asli Jawa yang budaya dan cara berpikirnya gak beda jauh dari orang asli Yogya. Di project kali ini, 2 dari 18 responden adalah pendatang; satu orang Palembang dan satu Betawi, yang dua2nya pindah ke Yogya karena diboyong suami asli Yogya. Plus, ada satu responden yang bener2 asli Yogya, tapi menikah dengan pria Arab-Betawi kelahiran Jakarta, sehingga otomatis budaya dan proses pengambilan keputusannya sudah mulai berbeda dari tipikal keluarga Jawa. Kelihatannya sedikit kan? Tapi kalau dilihat persentasenya adalah 11% (bahkan jadi 16% kalo si mbak yang suaminya bukan Jawa itu dihitung), yang artinya jauh lebih tinggi dari 2-3 thn lalu.

Gejala ini sebenarnya sudah terlihat sejak tahun lalu. Tiga dari 40 responden terekrut adalah perempuan pendatang. Waktu itu gw kira recruitment team gw kurang hati2, tapi melihat hasil yang sekarang, gw mulai curiga bahwa ini efek globalisasi Yogya. Dari <5% pada 2-3 thn lalu, menjadi 7.5% di tahun lalu, dan 11% di tahun ini. Kalau hal ini menjadi parameter, maka bisa dibilang pelan tapi pasti Yogya mulai menjadi metropolitan kecil.

Well.. mungkin udah waktunya Yogya mengglobal. Tapi mudah2an globalisasi gak sampai menggilas tradisi. Jangan sampai kayak Jakarta yang akhirnya benar2 kehilangan identitas kebetawiannya.

Anyway.. selalu ada yang terpinggirkan dalam globalisasi. Dalam kasus Yogya, mungkin tukang2 becak menjadi salah satunya. Gw bener2 trenyuh ketika naik becak mengantar klien2 gw ke Mirota malam itu. Tukang becak yang antri di depan hotel memberikan penawaran harga yang menggiurkan: Rp 20,000 sepuasnya, keliling kota Yogya. Gw pikir dengan harga 20rb itu, paling juga yang namanya keliling kota tuh rutenya cuma dari hotel – Malioboro – Keraton – balik hotel. Ternyata enggak! Bener2 sepuasnya! Dua becak yang mengantar kami berempat ke Mirota berkeras menunggu kami belanja, walaupun kami berniat membayarnya biar mereka bisa cari penumpang lain. Lantas, setelah itu mereka mau mengantar kami makan Gudeg Wijilan di beteng (= perkampungan di dalam tembok keraton, tempat kerabat keraton tinggal). Mereka gak mau cari penumpang lain, ngotot menunggu kami makan. They insisted to wait for us, for nearly 2 hours, all for 20 thousand! Kebayang kan, betapa besar arti uang ini bagi mereka? Untuk memperebutkan 20rb itu saja mereka jungkir balik.

Dalam perjalanan pulang yang panjang itu, gw sempat ngobrol dengan Pak Parno, si pengendara becak yg gw tumpangi. Pak Parno ini asalnya dari Magelang. Anaknya tiga, yang paling kecil sudah di SMU. Sehari2nya jadwal Pak Parno tuh 4-1, alias 4 hari narik becak, dan sehari libur pulang ke Magelang. Dia nggak punya rumah atau kamar di Yogya, jadi selama di Yogya tidur di becaknya saja. Semua uang hasil menarik becak, kecuali yang dia pakai untuk makan, dikumpulkan untuk membiayai belanja rumah tangga dan sekolah anak bungsunya (dua anak tertuanya sudah bekerja; yang satu jadi buruh pabrik, yang satu lagi bertani). And you know how much money he earns daily?

“Nggih mboten tentu, Mbak, teng hotel niku antri. Nek nembe rejekine kathah nggih saged kalih penumpang muter2 kutha”

(Ya nggak tentu, Mbak, kan di hotel itu antri [dengan becak yang lain]. Kalau lagi banyak rejeki ya bisa [dapat] dua penumpang muter2 kota [begini]”

Jadi, dalam hari baiknya, dia bisa mendapatkan 2x20rb dari dua penumpang! Hanya 40rb rupiah! Bagaimana kalau sedang nggak banyak rejeki?

“Nggih ngaplo. Biasane pindhah, pados penumpang teng nggen liya”

(Ya melongo. Biasanya pindah, cari penumpang di tempat lain)

Kadang, selama sehari bisa saja Pak Parno ini tidak mendapat penumpang sama sekali. Tapi kalau ada tamu yang baik, biasanya dia sering diberi uang lebih dari harga 20rb, lebihannya sekitar 5rb – 10rb. Dan untuk uang lebihan yang tidak seberapa itu Pak Parno sudah bersyukur, karena sekarang narik becak itu susah. Banyak saingan, baik dari sesama pengemudi becak, dokar, dan taksi yang makin menjamur.

Gw jadi kebayang, jika Yogya semakin maju, maka mungkin taksi akan semakin banyak pula. Logikanya, kalau Yogya menjadi modern, orang tidak lagi ke sana untuk bernostalgia ataupun mencari fasilitas tradisional yang lamban. Mereka akan berpacu dengan waktu, mencari fasilitas yang sesuai dengan kota yang modern: taksi. Maka makin terpinggirkanlah pengendara becak.

Tapi mudah2an Yogya tetap bijak dalam berkembang ya? Seperti Pak Parno yang masih punya harapan seperti ini:

“Mrapi watuk niku mpun biasa kanggene tiyang ndeso. Lha berkahe teng mriku kok, Mbak. Biasane mbeta rejeki niku”

(Merapi batuk2 itu sudah biasa kalau buat orang desa. Lha, berkahnya di situ kok, Mbak. Biasanya membawa rejeki itu)

Mudah2an saja harapan Pak Parno itu terpenuhi; dalam bentuk tetap mendapat rejeki yang lumayan di tengah Yogya yang makin menjadi metropolitan kecil.