Saturday, May 27, 2006

Movie Goofs

Pertama2 niatnya mau nge-bahas The Da Vinci Code. Tapi ternyata gak banyak juga kok yg bisa dibahas. Menurut gw itu udah sebagus2nya film yang dibuat berdasarkan buku. Malah, film ini lebih bagus dari yang gw bayangkan. Sebelumnya, gw agak2 penasaran bagaimana mereka akan menterjemahkan skema berpikir dan alur sejarah yang begitu naratifnya ke dalam bahasa gambar; pasti sangat membosankan! Ternyata, sutradara dan produsernya cukup cerdas untuk membuat ilustrasi yang begitu indah untuk menggambarkan bagian2 yg berbentuk sejarah. Ceritanya juga disederhanakan, tidak serumit di buku aslinya. Dan gw menghargai banget bagian2 yang sensitif tidak diterjemahkan.. ;-)

Soal bagian yang tidak diterjemahkan ini.. hmm.. awalnya gw sempat nggak ngeh kenapa gak diterjemahkan. Top of mind gw malah menyalahkan translatornya. Baru setelah pulang dari bioskop, gw ngeh bahwa bagian yg tidak diterjemahkan itu adalah bagian yang paling sensitif.. ;-)

Dari segi pemain juga gak ada masalah. Walaupun Tom Hanks kurang good looking dibandingkan bayangan gw tentang Robert Langdon, tapi permainannya tetap prima. Audrey Tautou sesuai banget dengan bayangan gw tentang la petite Sophie Neveu yang imut tapi terlihat aristokrat dan bersikap matter-of-factly.

Kalaupun ada yang gw rasakan kurang dari film ini adalah peran Aringarosa yang terkesan tempelan banget. Hanya beberapa scene yang menampilkan Aringarosa, dan itu pun gak terlalu terelaborasi, sehingga kurang bikin orang [yang belum pernah baca bukunya] mengira2 bahwa Opus Dei, dan Aringarosa, adalah dalang di balik misteri ini. Padahal, di bukunya, hal inilah yang sejak awal tergambar. Tapi mungkin ini memang bagian dari kompromi supaya filmnya nggak sekeras bukunya ya? Mengingat Opus Dei adalah organisasi yang benar2 ada, jangan sampai filmnya benar2 memojokkan mereka.

Anyway.. buat yang belum baca bukunya, film ini memang masih terlalu mengenyangkan seperti macaroni schoetel dengan ekstra keju. Terlalu banyak informasi yang harus dicerna dalam waktu yang singkat. Tapi mau gimana lagi? Bukunya sendiri memang penuh dengan alur pikiran untuk memecahkan teka-teki demi teka-teki. Menurut gw, udah bagus banget bisa diterjemahkan menjadi gambar2 bergerak seindah ini.

*walaupun kata si penggila film ini masih kurang banyak ya, gambar Musee du Louvre et al-nya ;-)?*

Berhubung gak banyak yang bisa dibahas tentang film itu, gw ngebahas Lentera Merah aja deh.. ;-) Iya, gak sampai seminggu setelah nonton The Da Vinci Code, gw nonton Lentera Merah. Loncatan seleranya jauh juga ya? HAHAHA.. ;-) Gara2nya Ima agak sirikiti mendengar ibunya pulang malam demi seorang Tom Hanks. Dia langsung mengagendakan nonton film di bioskop juga, dan kebetulan PG-13 yang ada tuh Lentera Merah. Kebetulan dia emang tergila2 film horor, walaupun kalau nonton banyakan meremnya. Jadilah kita nonton film itu hari Jumat lalu.

Well.. gw sih gak berharap film ini punya dasar berpikir yg bisa bikin gw teriak Wow! seperti The Da Vinci Code. Tapi.. setidaknya, gw berharap film ini masuk akal lah! Sesuai common sense, atau setidaknya urband legend lah! Secara film ini dibuat oleh sutradara pemenang (?)Citra gitu! Tapi yang ada, sepanjang film gw malah asyik nyela goofs-nya.. ;)

Film ini kelihatannya mau agak serius dengan menceritakan kembalinya arwah seorang jurnalis di koran kampus Lentera Merah. Si jurnalis ini, Risa, mati dikurung di gudang arsip koran kampus karena tulisannya terlalu keras dan dianggap kekiri2an. Arwah Risa muncul kembali di tahun 2006 untuk menuntut balas, sekaligus minta kebenaran yg sudah terkubur sejak 1965 ditegakkan. Makanya setiap kali dia membunuh, selalu tertulis angka 65 di dekat korban.

Well.. sampai sini ceritanya masih logis sih. Tapi denger dong alasannya kenapa arwah Risa mulai membunuh lagi setelah menunggu 41 tahun (di film disebut 39 thn, tapi baru nyadar nih mereka salah hitung ;-)): sebab Risa meninggal 20 Juni 1965. Tanggal 20 bulan 06, get it? HAHAHAHA.. Gw baru denger ada arwah (Indonesia) penasaran suka utak-atik angka kayak togel! Mitosnya sih mereka suka membunuh di malam Jumat Kliwon, Selasa Anggara Kasih, malam 1 Sura, pada hari & pasaran kematiannya, atau membunuh orang secara insidental (atau random) di tempat2 tertentu.. Kalau hantu2 bule sukanya ngebunuh pas Halloween, pas Friday the 13th.. gak pernah gw denger ada yang harus togel2an dulu untuk balas dendam.. ;-).

Belum lagi detil2 lain yang bikin gw pingin ngakak di bioskop. Misalnya aja, pas arwah Risa membunuh Wulan, si wakil pemimpin redaksi. Pas dibunuh di ruang arsip, Wulan tuh pakai celana jeans hipster dengan udel kemana2. Lha, kok pas digantung, Wulan udah pakai gaun renda2 ala noni Belanda. Dan seterusnya, setelah jadi hantu, hantu Wulan terus berbusana gaun renda2 itu. Well.. emang sih, hantu jadi kelihatan lebih menyeramkan dengan gaun renda2 putih gitu, daripada ada hantu pakai hipster.. ;-) Tapi.. gw gak ngerti kenapa tuh arwah sempat2nya ngeganti baju korbannya ya? Hehehe.. Jangan2 gara2 pakai hipster keren, tuh hantu menyangka korbannya adalah Barbie girl:

You can brush my hair
Undress me everywhere

(Aqua-Barbie Girl)

*BTW, hantu kalo pakai hipster masih nyeremin gak ya ;-)?*

Yang bikin lebih mengganggu lagi 4 cheerleaders yang teriak2 mulu! Well.. sebenernya sih di film itu mereka tercatat sebagai 4 calon redaktur baru koran kampus Lentera Merah angkatan 50. Tapi aktingnya gak jauh2 dari cheerleaders; ke sana teriak, ke sini teriak, dimana2 teriak.. hehehe..

Masih banyak lagi sih yang bisa dianggap goofs dari film ini. Misalnya aja, bapaknya si pemimpin redaksi thn 2005 (yg juga mantan pemimpin redaksi Lentera Merah thn 1965 sekaligus TTM-nya Risa), melarikan diri ke luar negeri karena takut dibunuh arwah Risa.. ;). Hmm.. gw baru tahu bahwa arwah penasaran itu kena cekal juga, gak boleh membunuh korban di luar daerah yuridiksinya.. hehehe.. Apa mungkin arwah juga butuh visa dan mesti bayar fiskal kalau ke luar negeri ya? Hehehe.. ;) Terus.. fakta yang kebetulan banget bahwa semua pengurus Lentera Merah thn 2005 (dan calon pengurus 2006) adalah putra-putri dari pengurus Lentera Merah thn 1965. Hmm.. kebetulan yg maksa bener .. ;)

Tapi.. seperti kata si Mas, mungkin sebaiknya gw berhenti mencela2 film ini.. ;-). Katanya, kalau semua film dibikin ala Garin Nugroho, perfilman Indonesia bakal mati lagi. Jadi setidaknya gw bisa memberikan dukungan pada perfilman Indonesia (tsah!) dengan berhenti mencela film ini.. ;-) Jadi, gw kasih goof yang terakhir aja deh: di filmnya, Risa dikurung di ruang arsip sempit berdebu setelah dipanggil dari ruang kuliahnya tanggal 20 Juni 1965, dan langsung mati beberapa jam kemudian karena sesak napas. Nah.. gw baru baca Primbon Almanak 1900-2025 tulisan Putri Wong Kam Fu.. dan.. tanggal 20 Juni 1965 jatuh pada hari Minggu Pon, 20 Sapar 1897, alias 21 Safar 1384 H. Rasanya nggak ada deh yang kuliah di hari Minggu.. ;-)