Monday, May 08, 2006

It takes two to Tango..

.. but it takes only one to stop the tango

***

Jeng ini menuliskan sesuatu yang singkat, padat, tapi bisa menimbulkan perdebatan yg panjang:

If you have already got the warning or schema or story from your friends about someone, should you use those when you meet that person? Or you prefer to make your own warning or schema or stories about that person?

Ada yang mengatakan bahwa sebaiknya hal itu disimpan di belakang kepala saja. Ready to confirm our own experience. Dan mengatakan bahwa jika cerita yang sama diterima dari berbagai sumber, maka itu sebaiknya dipercaya.

Unfortunately, I don’t share their belief.

Gw pikir, kalau kita sudah menyimpan suatu cerita di belakang kepala kita, maka cerita itu akan tetap merembes keluar. Kepala [baca: otak] manusia bukanlah program komputer, yang bisa menyimpan suatu file dalam folder tertentu, dan file itu tidak akan masuk ke file2 kita yg lainnya. Nope! Human mind tidak terkotak2 sesempurna itu. Sekali kita membiarkan sebuah cerita masuk ke kepala kita, maka yang sangat mungkin terjadi bukanlah konfirmasi terhadap pengalaman, melainkan self-fulfilling prophecy. Secara tidak sadar, kita akan mengharap2kan terjadinya hal yang sesuai dengan cerita itu, dan berteriak “Eureka!” ketika menemukan hal itu terjadi pada diri kita. In the process, kita akan menafikan hal2 yang bertolak belakang dengan cerita itu. Hal2 yg tidak sesuai dengan cerita itu akan menjadi hal2 yang tidak kita perhatikan karena – sekali lagi secara tak sadar – kita tidak memfokuskan perhatian kita terhadapnya.

Benarkah kalau cerita yang sama diterima dari berbagai sumber, maka cerita itu sebaiknya dipercaya? Well.. gw pikir malah hal ini adalah yang the most dangerous of them all. Semakin banyak cerita, semakin banyak ‘tangan’ yang bermain di dalamnya. Bagaimana kita bisa mempercayai keabsahannya? Jika untuk satu cerita saja kita bisa mengkhawatirkan efek self-fulfilling prophecy, bagaimana kita bisa yakin bahwa jumlah yang banyak itu bukan a chain of self-fulfilling prophecy?

Contoh yang gampang aja deh.. gosip artis yang rame beberapa minggu lalu tentang Gusti Randa dan Nia Paramita. Penggemar infotainment atau tabloid tentu pernah mendengar Gusti bercerita tentang betapa tidak care-nya Nia terhadap keempat anak mereka. Cerita itu mungkin bersemayam dengan damai di belakang kepala Anda. Lantas.. katakanlah suatu hari Anda bertemu Nia Paramita sedang luluran di salon terkenal. Anaknya merengek minta pulang, sementara Nia masih terkapar di meja lulur, sehingga gak bisa buru2 pulang. Apa yang akan muncul di pikiran Anda? Sanggupkah Anda mengatakan bahwa Anda akan bersikap obyektif mengatakan bahwa Nia memang tidak bisa buru2 pulang (setidaknya dia butuh beberapa menit untuk mandi)? Ataukah.. Anda berani mengakui bahwa cerita Gusti Randa akan merayap ke bagian depan kepala Anda dan membentuk sebuah konfirmasi bahwa Nia memang tidak care pada anaknya, sehingga dia membiarkan anaknya menangis menjerit2?

Dan kemudian cerita berlanjut. Anda bercerita kepada teman arisan Anda tentang pengalaman itu: “Eh, Jeng, ternyata bener lho, Nia itu gak care sama anaknya.. bla, bla, bla..”. Berarti teman arisan Anda itu, yang kebetulan juga hobi memelototi infotainment, sekarang sudah mendapatkan dua cerita senada: dari Gusti Randa dan dari Anda. Apakah itu lantas berarti prejudice itu benar? Bahwa semua orang harus percaya bahwa Nia tidak perduli pada anaknya

*uhm.. anyway.. ini cuma contoh lho ya! Aslinya gw gak tahu Nia Paramita tuh kayak apa orangnya.. ;-) Gak kenal ;-)*

Gw selalu berpendapat bahwa It takes two to tango. Pengalaman interaksi antara dua orang adalah hasil dari dua orang itu, bukan hanya hasil dari salah satunya. Kalau pengalaman itu tidak mulus, berarti ada salah pada keduanya. Kalau pengalaman itu mulus, berarti juga merupakan hasil dari kedua orang tersebut. So.. untuk apa kita mengotori kepala dengan cerita dari satu sisi saja?

Start fresh. Dance without any prejudice towards your partner. Free your mind from the poisonous story; coming from a former dancing partner.

Atau katakanlah semua yang dikatakan oleh orang2 itu memang benar. Pada akhirnya Anda memang ber-tango juga dengan dia, seperti yang terjadi pada orang2 lainnya. Then I have to remind you that It Takes Only One to Stop the Tango. Kapan pun Anda bisa menghentikan irama tango, dan menggantinya dengan yang lain. Siapa bilang kalau dia penari tango, dia gak akan bisa menari Waltz, atau Salsa, atau Swing, atau tarian apa pun yang Anda sukai dan anggap lebih indah daripada Tango ;-)?

***

Note: Buku “It Takes Only One to Stop the Tango” ditulis oleh Khaira M. Petranto. Bukunya belum saya baca, but I promise I will, Mbak.. ;-)