Friday, May 05, 2006

Yogya Mengglobal

Akhirnya pulang juga gw dari Yogya. Ternyata Yogya aman tentram sejahtera.Gw malah ditertawai supir hotel yang menjemput ke bandara saat menanyakan kondisi Yogya. Kata bapak itu, gak ada dalam sejarahnya (kota) Yogya kena lahar, karena gak mungkin Kasultanan dan Pakualaman mendirikan pusat kerajaan di daerah rawan lahar. Yogya memang sedikit lebih berdebu, tapi toh tetap masih kalah berdebu dibandingkan Jakarta.. ;-) Dan memang, Gunung Merapi terlihat manis2 saja dari balkon kamar hotel gw, dengan puncaknya yang tertutup awan. Indah banget kalau dilihat lepas subuh. Gak kelihatan sama sekali lahar yang kabarnya mulai turun gunung itu.

Tapi memang Yogya sudah berubah sejak perjalanan dinas gw ke sana hampir setahun lalu. Perubahannya bukan gara2 gunung berapi, tapi lantaran globalisasi. Pas gw ke sana pertengahan 2005, yang namanya Plaza Sapphire itu masih desas-desusnya akan dibangun. Pro-kontra pembangunan mal di Hotel Ambarukmo bahkan belum mulai. Lha.. sekarang kedua plaza megah itu sudah berdiri, plus ada Carrefour yang baru buka bulan lalu. Bener2 mengagetkan! Yogya jadi semakin mirip Jakarta!

Globalisasi lainnya juga tampak di sepanjang Malioboro. Gw tuh kalo ke Yogya seneng jalan di sepanjang emperan Malioboro sampai masuk Pasar Beringharjo. Banyak barang2 lucu di sana. Lagian, kapan lagi gw bisa cas-cis-cus pakai bahasa Jawa? Seneng aja kalo bisa nawar dan berkomunikasi dengan bahasa setempat, walaupun tetap aja harga yang gw dapat hanya beda2 tipis dengan turis lokal lainnya. Maklum, biarpun logat gw masih cukup medhok, konon kabarnya gesture dan gaya berpakaian gw tetap aja menunjukkan gw bukan penduduk setempat. Bau Jakartanya masih kecium ;-).

Nah.. kemarin, seperti biasa gw juga nawar2 di sepanjang Malioboro, sambil nungguin klien2 gw yang sibuk ngeborong di Mirota Batik. Tapi gw kok curiga, karena banyak pedagang yang gak menjawab pertanyaan gw dengan bahasa Jawa. Gak perduli gw nawar gimana pun, mereka tetap jawab dalam bahasa Indonesia. Sempat panik juga gw.. hehe.. gw kira gw udah segitu ora njawani-nya, sampai2 mereka pun ogah jawab pakai bahasa Jawa, karena menganggap bahasa Jawa gw hafalan belaka. Tapi lama2 gw pikir ada yang aneh dengan logat para pedagang itu. Ada hint logat Melayu di situ. Alih2 belanja daster, akhirnya gw malah mewawancarai si pedagang.. ;-) Dan.. ternyata dugaan gw benar! Mereka ini perantau2 dari Minang! Ada yang tadinya jualan di Pasar Jatinegara, tapi karena hidup di Jakarta makin sulit akhirnya pindah dagang di Malioboro. Harapannya, banyaknya turis asing di sana membawa rejeki yang lebih besar. Banyak yang baru beberapa bulan di sini, sehingga belum bisa bahasa Jawa. Hmm.. ternyata Tanah Jawa mulai dijajah nih.. ;-).

Anyway, akhirnya gw memang beli beberapa daster. Dari pedagang yang Jawa. Bukan masalah primordialitas! Murni karena si pedagang ini yang kasih harga wajar. Bayangin aja, si uda2 rantau itu kasih harga 25rb per daster, dan gak mau turun dari 20rb. Padahal gw tahu bener bahwa daster dengan kualitas itu harga pasarannya di Yogya gak lebih dari 15rb. Makanya, gw gak nawar lagi pas si mas Jawa itu kasih harga telu las ewu (= tiga belas ribu) di bukaan pertama. Walaupun masih seribu-dua ribu lebih mahal dari harga pasaran, anggap aja amal buat sesama wong Jowo, hehehe.. yang penting bisa mengibar2kan kantong plastik isi daster di depan lapak uda2 rantau.. ;-) Seenaknya aja mau ngambil untung gede dari gw di kandang gw sendiri.. ;-)

Indikasi globalisasi lainnya terlihat dari responden2 gw. Sekitar 2-3 thn lalu, kalau gw bikin penelitian di Yogya, dengan sample criteria ibu rumah tangga, maka hampir tidak ada responden yang merupakan penduduk pendatang. Bisa dibilang minimal 95% responden asli Yogya, setidaknya asli Jawa yang budaya dan cara berpikirnya gak beda jauh dari orang asli Yogya. Di project kali ini, 2 dari 18 responden adalah pendatang; satu orang Palembang dan satu Betawi, yang dua2nya pindah ke Yogya karena diboyong suami asli Yogya. Plus, ada satu responden yang bener2 asli Yogya, tapi menikah dengan pria Arab-Betawi kelahiran Jakarta, sehingga otomatis budaya dan proses pengambilan keputusannya sudah mulai berbeda dari tipikal keluarga Jawa. Kelihatannya sedikit kan? Tapi kalau dilihat persentasenya adalah 11% (bahkan jadi 16% kalo si mbak yang suaminya bukan Jawa itu dihitung), yang artinya jauh lebih tinggi dari 2-3 thn lalu.

Gejala ini sebenarnya sudah terlihat sejak tahun lalu. Tiga dari 40 responden terekrut adalah perempuan pendatang. Waktu itu gw kira recruitment team gw kurang hati2, tapi melihat hasil yang sekarang, gw mulai curiga bahwa ini efek globalisasi Yogya. Dari <5% pada 2-3 thn lalu, menjadi 7.5% di tahun lalu, dan 11% di tahun ini. Kalau hal ini menjadi parameter, maka bisa dibilang pelan tapi pasti Yogya mulai menjadi metropolitan kecil.

Well.. mungkin udah waktunya Yogya mengglobal. Tapi mudah2an globalisasi gak sampai menggilas tradisi. Jangan sampai kayak Jakarta yang akhirnya benar2 kehilangan identitas kebetawiannya.

Anyway.. selalu ada yang terpinggirkan dalam globalisasi. Dalam kasus Yogya, mungkin tukang2 becak menjadi salah satunya. Gw bener2 trenyuh ketika naik becak mengantar klien2 gw ke Mirota malam itu. Tukang becak yang antri di depan hotel memberikan penawaran harga yang menggiurkan: Rp 20,000 sepuasnya, keliling kota Yogya. Gw pikir dengan harga 20rb itu, paling juga yang namanya keliling kota tuh rutenya cuma dari hotel – Malioboro – Keraton – balik hotel. Ternyata enggak! Bener2 sepuasnya! Dua becak yang mengantar kami berempat ke Mirota berkeras menunggu kami belanja, walaupun kami berniat membayarnya biar mereka bisa cari penumpang lain. Lantas, setelah itu mereka mau mengantar kami makan Gudeg Wijilan di beteng (= perkampungan di dalam tembok keraton, tempat kerabat keraton tinggal). Mereka gak mau cari penumpang lain, ngotot menunggu kami makan. They insisted to wait for us, for nearly 2 hours, all for 20 thousand! Kebayang kan, betapa besar arti uang ini bagi mereka? Untuk memperebutkan 20rb itu saja mereka jungkir balik.

Dalam perjalanan pulang yang panjang itu, gw sempat ngobrol dengan Pak Parno, si pengendara becak yg gw tumpangi. Pak Parno ini asalnya dari Magelang. Anaknya tiga, yang paling kecil sudah di SMU. Sehari2nya jadwal Pak Parno tuh 4-1, alias 4 hari narik becak, dan sehari libur pulang ke Magelang. Dia nggak punya rumah atau kamar di Yogya, jadi selama di Yogya tidur di becaknya saja. Semua uang hasil menarik becak, kecuali yang dia pakai untuk makan, dikumpulkan untuk membiayai belanja rumah tangga dan sekolah anak bungsunya (dua anak tertuanya sudah bekerja; yang satu jadi buruh pabrik, yang satu lagi bertani). And you know how much money he earns daily?

“Nggih mboten tentu, Mbak, teng hotel niku antri. Nek nembe rejekine kathah nggih saged kalih penumpang muter2 kutha”

(Ya nggak tentu, Mbak, kan di hotel itu antri [dengan becak yang lain]. Kalau lagi banyak rejeki ya bisa [dapat] dua penumpang muter2 kota [begini]”

Jadi, dalam hari baiknya, dia bisa mendapatkan 2x20rb dari dua penumpang! Hanya 40rb rupiah! Bagaimana kalau sedang nggak banyak rejeki?

“Nggih ngaplo. Biasane pindhah, pados penumpang teng nggen liya”

(Ya melongo. Biasanya pindah, cari penumpang di tempat lain)

Kadang, selama sehari bisa saja Pak Parno ini tidak mendapat penumpang sama sekali. Tapi kalau ada tamu yang baik, biasanya dia sering diberi uang lebih dari harga 20rb, lebihannya sekitar 5rb – 10rb. Dan untuk uang lebihan yang tidak seberapa itu Pak Parno sudah bersyukur, karena sekarang narik becak itu susah. Banyak saingan, baik dari sesama pengemudi becak, dokar, dan taksi yang makin menjamur.

Gw jadi kebayang, jika Yogya semakin maju, maka mungkin taksi akan semakin banyak pula. Logikanya, kalau Yogya menjadi modern, orang tidak lagi ke sana untuk bernostalgia ataupun mencari fasilitas tradisional yang lamban. Mereka akan berpacu dengan waktu, mencari fasilitas yang sesuai dengan kota yang modern: taksi. Maka makin terpinggirkanlah pengendara becak.

Tapi mudah2an Yogya tetap bijak dalam berkembang ya? Seperti Pak Parno yang masih punya harapan seperti ini:

“Mrapi watuk niku mpun biasa kanggene tiyang ndeso. Lha berkahe teng mriku kok, Mbak. Biasane mbeta rejeki niku”

(Merapi batuk2 itu sudah biasa kalau buat orang desa. Lha, berkahnya di situ kok, Mbak. Biasanya membawa rejeki itu)

Mudah2an saja harapan Pak Parno itu terpenuhi; dalam bentuk tetap mendapat rejeki yang lumayan di tengah Yogya yang makin menjadi metropolitan kecil.