Friday, May 19, 2006

Ahmadinejad

Minggu lalu, 2x hidup gw dibikin sengsara oleh Presiden Iran: Mahmoud Ahmadinejad. Pertama, tanggal 10 Mei di Hotel Mulia. Selama hampir 40 menit gw dipaksa berdiri di lobby, mobil kantor yg udah selangkah lagi meluncur ke lobby dihentikan, dan gw gak boleh turun menghampiri mobil, karena harus nunggu sampai rombongan beliau masuk dgn selamat ke hotel. Yang kedua, menurut kabar suami gw, kemacetan parah yg kami alami di Salemba Raya tanggal 12 Mei adalah lantaran Mister President berkenan berkunjung ke PBNU. Nah, yg ini gw gak tahu suami gw serius atau lagi ngerjain gw, tapi gw tahu bahwa PBNU memang punya kantor di Salemba Raya.

Tapi gak papa deh! Walaupun sempat bikin hidup gw rada2 sengsara, bapak presiden ini termasuk yg cara berpikirnya gw kagumi.. ;-)

Awal2nya gw no comment terhadap tuntutan Bapak Presiden atas hak Iran di bidang program nuklir. Tapi setelah baca2 lebih detil, salah satunya adalah pernyataan beliau ini, gw mulai kagum. Argumennya tentang logis banget, tapi dinyatakan dengan sangat tenang tanpa harus menjadi terdengar kejam. A combination I aspire, but still fail to achieve.. ;). Simak nih kutipannya:

"Iran's government volunteered to implement the Additional Protocol merely for confidence building and even cooperated with the UN nuclear watchdog beyond the framework of the law to allow inspection of the country's nuclear installations without the ratification of Majlis.

This is while, no other IAEA member state has ever agreed with such inspection. Besides, to do away with any excuses, Iran even went so far as declaring its readiness for participation of other countries in the process of its nuclear fuel cycle. However, even this effective and unprecedented proposal did not stop the opposition of the said countries”

Dengan argumen di atas, orang2 yang masih mempertahankan obyektivitasnya tentu bisa berpikir: iya ya, kenapa Iran yg sudah amat kooperatif diublek2, sementara ada negara2 lain –yang bahkan tidak sekooperatif ini- dibiarkan? Keberatan2 dunia internasional ini obyektif, atau berdasarkan prejudice? Karena kalau dilihat dari argumen President Ahmadinejad di atas, harusnya, logikanya, Iran boleh melenggang dong dengan aktivitas nuklirnya?

Terus.. ada lagi tulisan tentang beliau yang gw baca di CNN ini. Entah sengaja atau tidak sengaja, CNN justru meng-highlight bagian yang salah. Yang digarisbawahi justru dekorasinya tentang Holocaust was a Myth. Padahal, kalau disimak baik2, ada inti yg lebih penting yang harusnya dibahas. Coba deh baca kutipan berikut:

"The West has given more significance to the myth of the genocide of the Jews, even more significant than God, religion, and the prophets," he said. "(It) deals very severely with those who deny this myth but does not do anything to those who deny God, religion, and the prophet."

"If you have burned the Jews, why don't you give a piece of Europe, the United States, Canada or Alaska to Israel," Ahmadinejad said.

"Our question is, if you have committed this huge crime, why should the innocent nation of Palestine pay for this crime?"

Apa yang Anda tangkap dari kutipan ini?

Kalau yang gw tangkap sih intinya beliau mencoba mengembalikan masalah ini pada logika: loe (Jerman/Eropa) yg bikin susah, loe (Jerman/Eropa) dong yg bayar! Jangan loe (Jerman/Eropa) yang makan nangka, orang lain (Palestina) yg disuruh kena getahnya.. ;).

Kalau beliau menyebut mitos, well.. yang gw lihat sih bukan the whole massacre-nya yg dianggap mitos, melainkan posisi kejadian ini yg sudah disetarakan dgn mitos. Apa sih yg terjadi pada mitos? Pada mitos, orang gak perlu lihat lagi benar-salahnya secara logis kan? Cukup percaya, dan melakukan apa pun yg bisa membuat perasaan kita lebih enak. Kalo mitosnya bagus, ya kita gak perlu tanya logikanya, cukup ikuti apa yg disarankan. Kalo mitosnya jelek, kita gak perlu tanya logikanya, cukup hindari sesuai saran.

Nah.. mungkin (mungkin lho ya, ini interpretasi gw sendiri) begitulah yang ingin digambarkan oleh Ahmadinejad. Di dunia sudah ada mitos bahwa Israel adalah tunawisma yang harus dikasihani dan diberi rumah. Bagaikan mitos, maka gak penting lagi siapa yg harus kasih rumah.. ;) Kalau Israel maunya rumah di tanah yang itu, maka yg memiliki tanah itu harus mau ngasih rumahnya. Kalau gak, berarti dia salah.. ;). Segala hal yang mengarah pada kemungkinan lain harus disangkal dan ditindak dgn keras.. ;-)

Hehehe.. di sini gw setuju banget sama Ahmadinejad. Kalau mau fair, harusnya memang kembali ke logika dasar yang diajukan oleh beliau. Kalau masih sibuk dengan mitos, antara penderitaan Yahudi vs. kepercayaan Palestina, jadinya berat sebelah tergantung mitos mana yg lebih menggugah hati.. ;-).

Well.. baca sekilas2 tentang beliau aja udah bikin gw kagum. Apalagi ketika ada teman yang kebetulan ikut kuliah beliau di UI cerita tentang how soft spoken he is. Betapa menarik dan smart-nya beliau menjabarkan isi pikirannya.. Konon kabarnya, dengerin omongannya dia enak banget!

Tambah2 kagum lagi pas baca ceritanya Rosiana Silalahi di Kompas Minggu. Betapa humble-nya Mister President meminta maaf HANYA karena protokolernya salah bikin jadwal sehingga dia gak tahu harus ada wawancara dgn SCTV. Sampai2 Rossy ditelepon dan sebuah bingkisan diantarkan ke rumahnya *Ros, you really have to share this experience in our mailing list.. ;)* Jarang banget ada orang yg sudah di posisi dia mau minta maaf untuk hal sekecil ini, kan ;-)?

Hehehe… kalau saja jari tangan gw jempol semua, maka sepuluh-sepuluhnya bakal gw kasih buat Presiden Mahmoud Ahmadinejad ini deh! Tapi sayangnya jempol gw cuma 2, jadi.. two thumbs up, Mr. President! Ini yg namanya benar2 mengikuti ilmu padi, semakin berisi semakin merunduk.. hehehe.. bukan ilmu tua2 keladi, makin tua makin jadi.. ;-)