Wednesday, May 10, 2006

Honda Jazz Semalam

UPDATE!

Gw sempat googling untuk cari teman senasib, dan menemukan beberapa artikel terkait. Menakjubkan! Kalau diruntut kronologinya, para penipu ini senantiasa menyesuaikan diri seperti bunglon. Tengok pengalaman Bung Eko ini; kop surat masih beralamat di Arkadia Hijau. Tapi surat yg gw terima alamatnya sudah disesuaikan (mencetak kop surat baru pastinya.. modal banget gak sih?) menjadi Jl. Lebak Bulus Raya sesuai dgn alamat Carrefour yg asli. Selanjutnya baca pengalaman Pipit, tentunya ini dilakukan saat si penipu kehabisan surat ber-kop (mungkin yg alamatnya Lebak Bulus Raya masih naik cetak, sementara udah basi kalo pakai yg Arkadia Hijau, ya.. ;)?).

Sorry, Carrefour, bukan berniat melangkahi tanggung jawab sosial perusahaan Anda. Tapi boleh kan, pelanggan proaktif saling mengingatkan, setidaknya melalui media blog ini ;-). Jangan anggap enteng blog lho, beberapa waktu lalu Newsweek (atau Time ya? Entar gw cek lagi di rumah) memuat artikel tentang bagaimana ketar-ketirnya RRC karena blogger2 China mulai menulis tentang keadaan negerinya..;)

***

Waktu pertama kali terima surat pemberitahuan pemenang, gw shock campur seneng. Bayangin aja, gw dinyatakan memenangkan 1 unit Honda Jazz! Sejak produk ini diluncurkan ke pasaran, gw memang udah dibikin kesengsem. Makanya berasa kejatuhan bulan deh!

Sempat juga gw curiga ini sebuah bentuk penipuan. Kan sekarang sering banget tuh penipuan berkedok undian berhadiah. Tapi kecurigaan itu sedikit pupus melihat bahwa surat tersebut berkop surat Carrefour. Lengkap dengan logo dan cap-nya. Kecurigaan benar2 pupus ketika di halaman ke-2 gw menemukan lampiran kupon undian yang memang pernah gw isi. Kop surat bisa dipalsu, cap bisa dipalsu, tapi kupon undian yang gw isi itu pasti nggak bisa dipalsu. Tulisan di atas kupon itu benar2 tulisan gw!

Satu hal saja yang bikin gw deg-deg plas! Surat itu baru gw terima tanggal 8 Mei 2006. Padahal, di dalam surat itu dikatakan pajak undian sebesar 25% jatuh tempo pembayarannya 8 Mei 2006. Nah lho! Ngeden dari mana tuh duit buat nebus hadiahnya? Tapi gw sedikit terhibur melihat cap pos di amplop adalah 7 Mei 2006. Berarti ini kesalahan mereka yg mengirimkan surat terlalu mepet.

So, dengan pede gw telfon nomor yang ada. Berhubung sudah jam 9 malam, gw memutuskan untuk tidak menelfon ke nomor yang berkepala 021. Siapa juga yang masih ngendon di kantor jam segitu? Gw memutuskan menghubungi HP 081384026719 atas nama Ir. Tri Indarto yang disebut sebagai penanggung jawab hadiah. Buat gw gak terlalu aneh kalau ada nomor HP seorang penanggung jawab di situ. Gw sendiri terbiasa memberikan nomor HP ke klien2 gw, dan setahu gw di banyak bisnis jasa, sudah lazim menyertakan HP untuk dapat dihubungi sewaktu2.

Ir. Tri Indarto ini cukup ramah, tapi sedikit menyalahkan gw yang baru mengkonfirmasi hadiah di detik2 terakhir. Menurut beliau, beliau sudah menunggu konfirmasi gw sejak beberapa hari lalu. Jika sampai jam 12 malam nanti tidak di-claim, maka hadiah itu akan diserahkan ke balai lelang. Gw tentu aja gak terima disalahkan begitu. Langsung aja dong gaya intonasi-lembut-tapi-sarkastik gw kumat:

Surat pemberitahuannya baru sampai ke rumah saya hari ini, Pak. Saya orang kerja, baru saja pulang kantor, jadi saya baru baca suratnya sekarang. Dan lagi, ada buktinya bahwa pihak Carrefour yang terlambat mengirimkan kepada saya. Cap posnya 7 Mei 2006, which is yesterday, rite? Kalau suratnya saja baru dikirim kemarin, bagaimana Bapak bisa mengharapkan saya mengkonfirmasi beberapa hari lalu? I am not a psychic; I cannot foresee my fortune kalau nggak ada yang memberi tahu saya. Kenapa pihak Carrefour tidak mencoba menghubungi saya? Kan ada nomor telepon rumah saya di kupon itu?

Mungkin, mendengar gw nyerocos and put the blame on him, Ir. Tri Indarto ini mengalah dan mengundang saya datang ke kantor pusat Carrefour di Lebak Bulus keesokan harinya.

So.. di pagi yang cerah 9 Mei 2006 itu gw diantar si Mas menuju Carrefour. Tapi.. baru saja masuk gedung dan menunjukkan surat pemberitahuan itu, satpam sudah mengatakan bahwa saya ditipu. Hah? Ditipu? Bagaimana bisa ditipu? Kan kupon yang dilampirkan asli, gak mungkin dipalsu, dan hanya mungkin dipegang oleh Carrefour? Makanya kami tetap ngotot untuk mendapatkan keterangan yang lebih kredibel.

Si satpam kayaknya lumayan bete. Sambil agak bersungut dia mempersilahkan kami ke lantai 3 sambil menggumam: Silakan aja kalau mau konfirmasi, saya hanya bertugas memberi tahu, kalau nggak percaya ya silakan!

Di lantai 3, seorang resepsionis cantik langsung mengkonfirmasi pernyataan satpam. Dia langsung menyodorkan fotokopi pengumuman pemenang yang asli. Ini adalah penipuan; kop suratnya palsu, nama2 yang ada di dalamnya adalah fiktif. Tidak ada Ir. Tri Indarto di situ.

OK. Gw bisa terima kenyataan bahwa itu sebuah penipuan. Tapi gw jadi curious: bagaimana kupon asli yang berisi data pribadi gw itu bisa jatuh ke tangan orang tak bertanggung jawab? It should be confidential and become the proprietary of Carrefour, rite?

Mbak resepsionis itu punya penjelasan sebagai berikut:

Waktu itu kami mengadakan undian dengan tayangan langsung di Trans TV. Acaranya diatur oleh sebuah Event Organizer. Waktu itu semua kupon undian kami serahkan ke mereka. Setahu kami semua kupon undian itu sudah dimusnahkan, tapi ternyata belum. Sudah beberapa kali kejadian seperti ini, dan Carrefour sudah minta pertanggungjawaban pada Trans TV dan Event Organizer-nya, serta sudah melaporkan kejadian ini pada pihak kepolisian.

Begitu penjelasannya. Period. Seolah2 masalah selesai hingga di situ. Kesalahan ada pada pihak penyelenggara, Carrefour gak bertanggung jawab karena di kasus ini juga merupakan korban.

Well.. sebagai orang yang tiap hari bergulat dengan kerahasiaan data (baik kerahasiaan klien ataupun kerahasiaan responden penelitian), jujur aja gw sangat kecewa dengan penjelasan dan penyelesaian seperti ini. Betul, bukan Carrefour yang melakukan penipuan. Betul, Carrefour hanya korban dari wanprestasi pihak ketiga. Tapi.. sebagai pengisi kupon, pelanggan tidak punya urusan dengan pihak ketiga. Pelanggan hanya berurusan dengan Carrefour. Pelanggan mau mengisi kupon, dan menyerahkan kupon, karena percaya pada Carrefour. Kami menyerahkan kepercayaan pada Carrefour. Kalau kemudian kupon itu bisa jatuh ke tangan orang yang tidak bertanggung jawab, itu adalah urusan Carrefour dengan pihak ketiga. Yang perlu kami pertanyakan adalah: bagaimana Carrefour mempertanggungjawabkan kepercayaan yang sudah kami berikan?

*dan tentunya pertanggungjawaban ini tidak cukup dengan hanya melemparkan tanggung jawab pada pihak ketiga ;-)*

Gw termasuk calon korban yang cukup beruntung: para penipu itu hanya menggunakan data yang mereka dapat untuk mengirimkan surat tipuan. Dan alhamdulillah Tuhan masih sayang sama gw, sehingga gw diselamatkan dari kerugian materi (cuma rugi waktu aja mendatangi kantor Lebak Bulus yg jauhnya amit2 dari rumah gw). Tapi.. bagaimana nasib orang2 yang tidak seberuntung gw? Orang2 yang karena euphoria sesaat, yang mengira surat itu benar karena ada lampiran bukti otentik (yang setahu mereka hanya bisa dilampirkan oleh Carrefour) sudah mentransfer sejumlah uang ke mereka? Atau.. mungkin ada orang2 yg lebih tidak beruntung lagi: para penipu itu menggunakan data yang didapat untuk menyatroni rumah mereka.. dan.. ah.. gw gak tega membayangkan kemungkinan2 buruk yg terjadi!

Well.. gw nulis posting ini bukan untuk menyalahkan siapa2 sih. Tapi sekedar untuk bahan pelajaran kita semua: lebih hati2lah mengisi kupon undian atau hal2 yg berisikan data pribadi Anda. Penipu sekarang canggih2, nekad, dan bermodal pula! Beberapa waktu lalu gak kebayang kan, ada penipu yang berani nantang korbannya datang ke kantor asli? Gak kebayang juga kan, demi menipu mereka mau keluar modal bikin kop surat, stempel, nyatut nama notaris, dan.. memanfaatkan celah yang ada untuk mendapatkan dokumen2 rahasia seperti kupon undian yg gw isi itu. Makin lama, makin sulit membedakan yang asli dari yang palsu. Kita harus semakin jeli.

As for me, gagal dapat Honda Jazz gak bikin gw kecewa. Somehow, gw malah ngerasa lega gak harus membuat keputusan sulit antara mbobol celengan buat bayar pajak undian atau merelakan mobil impian di depan mata melayang pergi ;-) Setidaknya gw bersyukur udah bisa mimpi punya tuh mobil walaupun hanya semalam.. hehehe.. Tapi sekarang sih mendingan gw nyanyi aja:

Khayalan ini setinggi-tingginya
Seindah-indahnya

Berpura memilikinya

(Khayalan Tingkat Tinggi, by Peterpan)

Emang rejeki itu harus dicari dengan kerja keras, bukan mengharapkan rejeki jatuh dari langit. Doain aja suatu hari gw bisa datang ke showroom-nya dan bilang: Saya beli dua!

*eh.. emangnya gw mau beli Honda Jazz atau Yakult sih ;-)?*

----

PS: Tulisan senada, dalam bentuk yang lebih formal, sudah gw kirimkan kepada harian Kompas sebagai Surat Pembaca. Semoga dianggap layak tayang ;-).