Tuesday, May 16, 2006

Dust under her Carpet

Okay, mari kita bicara tentang hal2 domestik. Pertanyaan pertama: bagaimana cara menyapu lantai? Kemana kotorannya harus dibuang? Ke tempat sampah, atau ke bawah karpet?

Gw jenis orang yang sudah pasti tidak akan membuang kotoran ke bawah karpet. Bukan berarti gw langsung masukkan kotorannya ke pengki lantas membuangnya ke tempat sampah lho! Kadang2 kotorannya gw onggokkan saja dulu di dekat dinding, ditindih sapu, sambil gw melakukan pekerjaan lain. Emang sih pemandangannya gak bagus, kalau ada tamu yang datang saat gw belum sempat membuat kotoran itu, bisa2 tamu bergidik ngeri. Tapi setidaknya tamu jadi tahu di bagian mana ada debu, dan bisa menghindarinya. Menurut gw itu lebih baik daripada gw simpan di bawah karpet, seolah2 siap menerima tamu setiap saat, tapi sebenernya bisa bikin orang TBC dgn onggokan debu tersebut.

Tapi nggak semua orang seperti gw kan? Ada yg lebih suka menyembunyikan kotoran di bawah karpet, dan lantas bersikap seolah2 semuanya sudah bersih. Orang2 seperti ini mungkin sekali tidak terima jika dibilang jorok. Mereka bisa tersinggung setengah mati, lha wong karpetnya bagus, gak kelihatan ada debu, kok dibilang jorok? Apalagi kalau yg bilang dia jorok itu gw, yang jelas2 suka mengumpulkan debu di dekat dinding dan ngerjain hal lain sebelum membuangnya ;-).

Ini masalah perbedaan prinsip sih, perbedaan definisi dan gaya hidup. Gak bisa disatukan, karena memang prinsipnya beda.

Bertahun2 lalu gw pernah mencoba mencereweti seseorang tentang cara menyapu yang gw percayai sebagai lebih bersih. Dari mulai gw kasih mitos bahwa kalo nyapunya gak bersih entar suaminya berewokan, sampai gw kasih alasan ilmiah tentang bagaimana bahayanya debu terhadap kesehatan saluran pernafasan. Tapi dia gak mau dengar, menurutnya gw terlalu rese, cerewet, belagu. So.. akhirnya gw biarkan dia terus dengan kebiasaannya menyimpan debu di bawah karpet. Gw gak kasih nasihat lagi. Gw hanya bilang bahwa gw gak bisa ke rumahnya, krn prinsip kebersihan kami berbeda. Daripada gw masuk rumahnya dan bikin komentar yg menyakitkan hati, mendingan kalau mau ketemu on the neutral ground aja.

Rasanya ini sudah merupakan win-win solution. Selama bertahun2 kami hidup tenang. Tetap cipika-cipiki kalo ketemu. Ngobrol. Bercanda. Nggak sekalipun kami membicarakan masalah sapu-menyapu.

Sampai beberapa bulan lalu, debu2 di bawah karpetnya membuat dia didiagnosa menderita TBC.

Okay, even setelah dia menderita TBC pun I still keep my mouth shut. Gw abaikan kesempatan untuk nyinyir bilang: I told you! Dia butuh diantar ke RS, ya diantar rame2. Dia butuh dikasih obat, ya dikasih obat. Gw hanya berharap ini jadi pelajaran buat dia supaya dia bisa mengkaji ulang cara hidupnya.

Sayangnya, memang ada orang2 yang tidak belajar dari pengalaman. Begitu badannya merasa agak enak, agak sehat, mulai lagi cara hidupnya yg gak sehat dimulai lagi. Bahkan dengan bangga dia bilang bahwa nggak usah takut jadi TBC, toh ada obat yg bisa bikin sembuh dalam sekejab. Bener2 bikin gw capek hati dengernya.. ;-).

But still.. I keep my mouth shut. Toh gw gak harus hidup di rumahnya dia. Toh gw sudah janji sama dia bahwa selama dia gak memaksa gw ke rumahnya, I do not give a damn about how she lives her life.

Namun rupanya keadaan pasca-TBC ini berbeda. Gara2 gw mau ikut nganter dia ke RS, gara2 gw mau ikut berperan serta (walaupun seminimal mungkin) terhadap penyembuhannya, dan gara2 gw (gak seperti beberapa orang lain) gak nyinyir bilang I told you!, mungkin dia berpikir gw sudah mau berkompromi dengan prinsipnya dia. Sudah mau menerima prinsipnya dia. Sudah melupakan perjanjian di antara kami. Maka mulailah dia minta perhatian lebih: minta gw menginap di rumahnya untuk curhat2an.

Waduh.. gimana nih? Gw tahu dia mau curhat soal TBC-nya, dan kenapa orang2 menjauhinya. Sesuatu yg emang gak pingin gw dengar, karena akan memicu gw bilang I told you!. Gw kan orang yg kalo A ya bilang A. Gak bakal kalo A gw bilang B atau hanya bilang A di dalam hati supaya orangnya gak tersinggung.. ;-). Dan bukan model gw untuk dengerin, pasang wajah manis, terus entar nggosipin dia di belakang.. ;-) Nasihat (yg bisa jadi penuh kata2 pedas) dan kesempatan curhat yg gw berikan itu satu paket, nggak bisa di-keteng. Yang jelas dia sudah terbukti gak bisa terima nasihat pedasnya, jadi ya dia gak bisa dapat kesempatan curhat.

So, for the sake of the peace and harmony of the humankind, pertama2 gw menolak permintaannya dgn halus. Gw bilang gw gak bisa nginep, banyak kerjaan. Masih aja dia maksa.

Lama2 gw bilang yang agak menjurus ke masalah sebenernya. Gw alergi debu, daripada gw ngebersihin sendiri kamar yg mau gw pakai nginep dan bikin dia tersinggung, mendingan gak usah nginep2an deh ;). Nah.. ngambeklah dia! Muncullah victim mentality-nya; bilang ke sana kemari bahwa memang dia tidak berharga, semua orang benci sama dia, bla.. bla.. bla.. Semua ucapan gw di-edit, bagian yg mendukung role of victim-nya dia di-highlight. Mirip2 deh sama beberapa teman ngobrol online gw yang baca paragraf/kalimat sepotong2, untuk kemudian mengutipnya ulang dalam konteks yg berbeda.. ;-)

Nah.. kalau udah gini diapain ya?

Kalau menurut gw sih udah waktunya dia belajar bahwa reality bites, dengan memberitahukan alasan gw yg sebenarnya tanpa tedeng aling2:

Dulu loe gak terima gw nasihati untuk gak jorok, untuk mencegah hal ini terjadi. Jadi sekarang gw juga gak bisa dengerin keluh kesah loe atas apa yg sudah gw peringatkan. Ini kan konsekuensi pilihan loe sendiri untuk tetap jorok. Kalau loe ngeluh sama gw sekarang, terpaksa gw bakal bolak-balik ngulang apa yg udah pernah gw bilang. Bahkan dgn kata yg lebih pedas, karena sekarang udah kejadian, bukan mencegah lagi

Bukannya gw gak tahu bahwa dia pasti tersinggung. Bukannya gw gak sadar dia mungkin bakal ngember kemana2, dan ini jadi konsumsi umum. Tapi.. gak papa deh, selama ada kemungkinan dia belajar bahwa kenyataan itu menyakitkan.. ;-). Toh, selama ini dia sudah diajari dengan cara yg halus, tetap gak berhasil kan? Disuruh belajar dari pengalamannya sendiri, gak berhasil juga toh? So.. let us try the hard way now.. ;-).

Buat gw.. gw gak terlalu perduli akan diberi label apa. Kejam? Jahat? Sadis? Hehehe.. Silakan! I do not mind.. ;-). Nothing comes for free, and it is the price I am ready to pay for saying and doing what I think is right.. ;-).

***

PS: cerita ini sebuah analogi.. ;) Bukan tentang menyapu lantai dalam arti harafiah.. ;-)

PPS: cerita ini juga didedikasikan untuk Shinichi Kudo yang lagi demen pasang emoticon ngetuk2 meja pakai jari gara2 kasus yg serupa-tapi-tak-sama.. ;-)