Sunday, December 24, 2006

Yang Tersisa dari Nayla

Tadinya gw pingin nulis ini setelah Nayla meninggal, tapi karena kayaknya dia mirip kucing yang punya 9 nyawa, nggak meninggal2 walaupun kena serangan parah berkali2, jadi gw tulis sekarang aja deh ;-) Keburu lupa kalau nunggu lama2 ;-) Gw nggak mau mencela fakta bahwa sinetron ini karya plagiat lho ya.. udah banyak ya bahas. Mulai dari pencinta dorama sampai seleb blog. Klik aja link-nya untuk baca bahasan mereka. Gw mau mencela hal yang lain aja ;-).

Motivasi awal gw nonton Buku Harian Nayla cuma karena tertarik sama doa Bapa Kami yang dibacakan utuh2 di salah satu episodenya. Sungguh, waktu itu gw nggak tahu sinetron ini adalah jiplakan dari Ichi Rittoru no Namida, jadi nggak ada niatan nonton buat mencela [seperti biasanya.. oops ;-)] ;-). Gw cuma tertarik aja dengan fenomena sinetron seri menjelang Natal.. hehehe.. jadi pingin tahu isinya kayak apa: penuh miracle seperti trademark-nya drama2 Natal Hollywood, atau penuh intrik ala Bollywood seperti sinetron2 Ramadhan? Maklum, rata2 sinetron Ramadhan kita kan diproduksi Tak Ada Rotan, Raam Pun Jabi ;-).

Gw tambah tertarik karena mendengar disebut2nya penyakit ataxia. Gw pikir: canggih juga nih sinetron, ngomongin penyakit yang tidak biasa. Sayangnya, baru 2-3x nonton, gw langsung berubah haluan pingin nyela.. hehehe.. karena walaupun [sekali lagi] gw belum tahu bahwa ini adalah sinetron bajakan, tapi udah mulai kelihatan deh keanehan2 yang bikin gw pingin bilang: yaaah.. cuma gitu doang!

Yang pertama kali bikin gw pingin nyela pasangan Yadi Timo & Moudy Wilhelmina. Yadi Timo memang cukup ada tampang untuk jadi pemilik warung nasi, tapi.. Moudy kelewat cantik dan rapi untuk ukuran istri pemilik warung. Udah gitu, kayaknya antara tokoh yang mereka perankan nggak ada chemistry-nya deh ;-) Bolak-balik Yadi Timo menyapa “istrinya” dengan nama kecil Martha, tapi Ibu Martha ini dengan kekeuh-nya tetap membahasakan diri sebagai “Ibu” kepada “suaminya”.. hehehe.. Kompakan dulu, atuh! Belum lagi rumah mereka yang kelewat mewah untuk ukuran kelas ekonomi tersebut. Gw sempat mikir2 alih profesi jadi pedagang warung nasi (kayak bapaknya Nayla) atau guru TK aja (kayak ibunya Nayla) kalau ternyata pekerjaan ini menghasilkan materi seperti yg mereka miliki.. hehehe..

Lama-kelamaan gw juga gemes melihat interaksi Nayla-sekolah-teman2nya. Gw gemes lihat Nayla yang sudah naik kursi roda dan nggak bisa ke kamar mandi sendiri masih diijinkan datang ke sekolah dan tetap harus naik ke kelasnya di lantai 2 atau 3. Dan yang bikin gw lebih gemes lagi: teman2nya yang harus menolong Nayla! Gw nggak habis pikir: sekolah mana di Indonesia ini yang nggak mengambil langkah apa2 dalam kasus seperti ini? Yang paling masuk akal buat sekolah umum sih murid itu dikeluarkan atau dianjurkan belajar sendiri di rumah. Kalau di sekolah2 swasta besar biasanya akan dianjurkan bawa perawat sendiri ATAU kegiatan belajar mengajarnya dipindah ke tempat lain (misalnya di lantai 1). Waktu SMA, gw juga punya teman yang sejak naik kelas III kena epilepsi, sering pingsan di kelas. Setelah kejadian 3-4x, kepala sekolah gw memutuskan bahwa teman gw itu boleh tetap ikut belajar tapi harus ada perawat yang menunggui sepanjang jam sekolah supaya nggak terlalu mengganggu murid2 lain. Jadi.. gw simply cannot understand bahwa ada sekolah yang ngebiarin Nayla tetap sekolah dan teman2nya harus bertindak sebagai perawat ;-).!

Di lain episode, gw gemes melihat Nayla tiba2 sudah naik kursi roda elektrik. Gilaaa! Harganya berapa juta tuh? Dapat dari mana uangnya, sementara bapaknya hanya pedagang warung nasi (yang jelas bukan kategori retail Waroeng Podjok ;-)) dan ibunya hanya guru TK? Mana adiknya ada 3 lagi! Sementara di episode lain ibunya Nayla yang impulsif mau berhenti kerja untuk menemani Nayla ditentang sang bapak dengan alasan si ibu adalah pencari nafkah utama?

Belum lagi di episode2 terakhir ini diceritakan Nayla “minta” tinggal di rumah sakit. Weleh2.. rumah sakit kan mahal banget, to? Beberapa bulan lalu guru SMA gw dirawat di rumah sakit karena penyakit yang nggak kalah beratnya dengan Nayla. Waktu itu dalam sehari biaya pengobatannya menghabiskan 3jt. Padahal, itu pun kamar dan dokter gratis karena dirawat oleh alumni yang jadi dokter di sana. Nah.. untuk Nayla, sehari habis berapa juta tuh orang tuanya ya? Hehehe.. Kalau orang tuanya kaya raya seperti Lorenzo Odone di Lorenzo’s Oil (yang secara kebetulan ditayangulangkan oleh HBO tadi pagi) sih masuk akal aja punya duit banyak untuk mengusahakan macam2.. ;-)

Konsep sekolah khusus yang diikuti Nayla juga terlihat sangat tidak nyata. Dari pengalaman gw praktek di bagian Perkembangan Anak dulu, SLB dan sekolah khusus tuh jumlahnya masih kurang, dan rata2 hanya berfungsi membekali siswa dengan ketrampilan2 yang disesuaikan dengan kondisi cacatnya. Lha, kok tiba2 ada sekolah khusus yang membekali siswanya dengan pelajaran umum segala?

..nyontek aja jelek, apalagi kalau harus bikin cerita sendiri..

Bahkan nama Nayla sendiri membuat gw bertanya2 karena gak nyambung dengan nama adik2nya: Joanna, Gio[vanni?], dan Lulu. Pada saat nama adik2nya terdengar kristiani, nama Nayla kok malah rada kearab2an sendiri.. hehehe.. Naila dalam bahasa Arab kalo nggak salah artinya "suka memberi" atau "keberuntungan". Gw takjub aja kalau ada orang tua yang memberi nama anak2nya dengan pakem yg berbeda, apalagi kalau pakemnya bertolak belakang ;-).

*dan ngomong2.. menurut gw peran adik2nya Nayla di sini redundant lho! Gw lihat si Gio dan Lulu tuh nggak pernah ada fungsinya di sinetron ini, kecuali rantang-runtung kesana-kemari menggenapi jumlah anggota keluarga ;-)*

Well.. gw sendiri belum nonton dorama aslinya. Gw cuma pernah baca salah satu curhatnya pencinta dorama bahwa versi aslinya hanya terdiri dari 11 episode dan jauh lebih pendek dari jiplakan Indonesia-nya ini. Jadi, to be fair, gw juga gak bisa nuduh bahwa ketercelaan Buku Harian Nayla mutlak dari penulis skenarionya. Tapi kalau gw bandingkan dengan Lorenzo’s Oil yang tadi pagi diputar.. waduh.. memang kelihatan beda banget kelasnya! Dalam Lorenzo’s Oil, tidak banyak yang gw pertanyakan.

Mungkin karena Lorenzo’s Oil ini didasarkan pada kisah nyata, sementara Buku Harian Nayla adalah [seperti tertulis di credit title] “kisah fiktif belaka, persamaan cerita/karakter adalah kebetulan belaka”. Walaupun terbukti mirip banget dengan sebuah dorama Jepang yang berdasarkan kisah nyata, kan harus tetap terlihat fiktif-nya ya ;-)? Dengan demikian, supaya tetap jadi “kisah fiktif”, Buku Harian Nayla tidak boleh persis sama dengan Ichi Rittoru no Namida. Harus ada bumbu2nya yang membuat orang percaya bahwa ini sekedar kisah fiktif.. hehehe..

Yaaah.. gw harap saja memang kejadiannya begitu. Bahwa bumbu2 nggak penting dan aneh ini sengaja ditambahkan biar orang percaya bahwa ini kisah fiktif belaka. Sebab, kalau tidak, maka alternatif hipotesanya lebih buruk lagi: udah nyontek aja jelek, apalagi kalau harus bikin cerita sendiri ;-) Jadi plagiator aja gagal bikin yang bagus, apalagi kalo harus mikir sendiri ;-)

Atau mungkin gw bisa usulin aja *sarkastik mode: ON*: kalau mau jadi plagiator, jangan tanggung2. Contek aja semuanya. Kalau nyonteknya separuh2, jadinya aneh gini.. hehehe..

Thursday, December 21, 2006

The Profiler

Dari dulu, kegiatan profiling selalu merupakan keasyikan tersendiri buat gw. Asyik aja rasanya memperhatikan dan mengumpulkan detil2 kecil, lantas menjajarkannya untuk mendapatkan pola, untuk kemudian mengambil kesimpulan tentang sesuatu. Selalu ada kepuasan tersendiri jika gw bisa memprediksi dengan tepat suatu kejadian berdasarkan kesimpulan gw itu. Sebaliknya, selalu menjadi tantangan baru yang membuat penasaran jika kesimpulan gw salah, atau kesimpulannya benar tapi gagal dipakai untuk memprediksi dengan tepat.

Segala perilaku yang dihasilkan manusia menurut gw bisa dijadikan sumber untuk memprofile. Kalau ketemu langsung ya segala gerak-geriknya yang jadi data. Kalau ketemunya via tulisan saja, ya tulisannya yang dijadikan data. Toh.. tulisan itu sendiri sebenarnya merupakan cerminan pikiran, perasaan, dan aspek2 kepribadian lainnya. Ada memang beberapa orang yang bilang bahwa tulisan dan aslinya belum tentu sama. Tapi menurut gw ini masalah self mana yang ditampilkan dalam tulisan saja; apakah real self-nya, apakah ideal self-nya, atau perceived self-nya. Kalau diamat2i, lama2 terlihat kok tulisan itu menggambarkan self yang mana. Kalau kita sudah ketemu self mana yang digambarkan tulisannya, maka tinggal kita tarik garis untuk mengetahui real self-nya ;-)


Anyway.. soal self2an ini lihat sendiri deh di sini ;-). Hari ini gw pingin cerita aja tentang pola tulisan yang gw temukan di beberapa novelis. Menemukan pola tuh merupakan dasar dari memprofile. Baru, setelah kita temukan polanya, bisa kita analisa alias bikin profilenya.

Seingat gw, pertama kali gw menyadari pola tulisan ini adalah di novel2nya Sidney Sheldon. Tulisan2nya selalu tentang perempuan2 biasa, yang survive dari keterpurukan karena kegigihan luar biasa dan malah bounce back meraih ultimate success, untuk kemudian jatuh karena suatu perkara, dan kembali menjadi perempuan biasa2 saja. Dua yang paling gw ingat adalah Noelle dalam The Other Side of Midnight dan Tracy Whitney dalam If Tomorrow Comes, namun pola yang sama juga muncul dalam The Rage of Angel, Master of the Game, Sands of Times, dan banyak lagi judul lainnya. Hehehe.. gw gak tahu juga sih apakah Sidney Sheldon ini memang-pencinta-wanita-tapi-dia-bukan-buaya.. ;-) Yang jelas dalam novel2nya Sidney selalu bercerita tentang wanita dan kegigihannya.

Pola yang juga jelas terlihat adalah dalam buku2 Dan Brown. Perhatikan deh, tokoh antagonisnya selalu orang yang bermaksud baik dan percaya bahwa apa yang dilakukannya itu adalah for the greater good. Selalu tentang orang2 yang playing God; bukan karena mereka merasa hebat, tapi justru mereka concern terhadap kelangsungan dunia. Ada ironi yang muncul dalam keempat buku Dan Brown; seseorang mencoba menyelamatkan dunia dengan melakukan sesuatu yang buruk, namun akhirnya terjebak untuk menutup keburukan itu dengan keburukan lainnya. Da Vinci Code gak usah gw bahas.. gw asumsikan semua sudah nonton, kalau belum silakan nonton atau baca bukunya ;-). Tapi perhatikan Ensei Tankado dan sang komandan dalam Digital Fortress, sang Camerlengo dan big boss dalam Angels & Demons, serta sang NASA administrator dalam Deception Point. All shows the same irony. Entah profilnya Dan Brown seperti apa.. yang jelas dia kelihatan sekali sebagai orang pintar yang suka memberikan antitesis pada tesis2 yang dianggap baku ;-). Memutarbalikkan apa yang dianggap benar, dan bermain di wilayah abu2. So.. biarpun pola tulisannya Dan Brown udah ketebak, gw tetap menunggu2 munculnya buku terbaru dia: The Solomon Key.

Akhir2 ini gw lagi suka banget pada Michael Connelly. Gw lupa apa yang pertama bikin gw suka sama dia, tapi yang jelas setelah baca The Concrete Blonde komentar gw cuma: Whoa! This guy is good. Really good! Baru setelah bolak-balik ketemu kata yang sama di dalam novel2nya, Behavioral Science Unit, gw baru nyadar kenapa gw cocok sama tulisan2nya. Connelly senang menulis tentang profiler dan kegiatan memprofile itu sendiri. Gw senang tulisan2nya karena sesuai banget sama hobby dan latar belakang gw: kegiatan sehari2 para agen dalam Behavioral Science Unit itu persiiiis seperti yang gw lakukan: menggunakan ilmu2 tentang perilaku manusia untuk membuat profile. Bedanya, gw dibayar buat memprofile konsumen, sementara Rachel Walling dan Terry McCaleb untuk memprofile pelaku kriminalitas ;-). So far, Terry masih tokoh favorit gw. Gw malah gak suka2 amat pada Harry Bosch, tokoh utama Michael Connelly.

Ngomong2 soal profiling, ada hal menarik yang gw temukan di salah satu novel Michael Connelly: A Darkness More Than Night. Di buku ini diceritakan bagaimana Terry sedang memprofile seorang pembunuh berantai. Korban2nya adalah pelaku kejahatan yang lolos dari jerat hukum. Si pembunuh berantai selalu meninggalkan petunjuk yang mengarah pada Hieronymus Bosch, pelukis Belanda yang lukisannya selalu bertema dosa dan kejatuhan moral manusia. Mulai dari meninggalkan patung burung hantu di tempat pembunuhan (dalam abad pertengahan, burung hantu adalah lambang setan), meninggalkan korban dalam posisi mirip penghuni neraka dalam lukisan2nya (salah satunya The Garden of Earthly Delight. Klik deh! It’s awesome!), sampai penggunaan nama samaran Jeroen van Aiken (nama asli Bosch) maupun Lubbert Das (julukan bagi orang2 yang dianggap menderita “penyakit” kejahatan di abad pertengahan).

Lantaran Detective Harry Bosch bernama asli Hieronymus, maka hipotesa yang masuk akal adalah either Detective Bosch dijebak oleh orang yang dendam padanya, atau Detective Bosch pelakunya. Belakangan Terry mulai lebih yakin bahwa hipotesa pertama bisa ditolak karena beberapa aspek yang fit the serial killer profile, seperti pada halaman 236:

“He also spoke of something he called ‘the big wheel’. It’s part of his belief system. He doesn’t see the hand of God in things. He sees the big wheel. What goes around comes around. He said guys like Gunn don’t really get away. Something always catches up to them. The wheel.. He said he could deal with the plague as long as he got shots at the carrier. It’s all very subtle, Jaye, but it’s all there. He’s [even] a Bosch print on the wall in the hallway. The Garden of Earthly Delight”

“So? He’s named after the guy. If my name was Picasso, I’d have a Picasso print on the wall”

“I acted like I’ve never seen it before and asked him what it meant. All he said that it was the big wheel turning. That’s what it meant for him”

It turns out, tentunya, bahwa bukan Detective Harry Bosch-lah si pelaku pembunuhan itu. Nah.. point gw.. ternyata memang perilaku manusia itu rumit sekali. Kita nggak pernah tahu apakah observasi yang kita lakukan sudah cukup, data untuk menganalisa sudah cukup, dan apakah kesimpulan kita sudah tepat. Kita hanya bisa menduga, melontarkan kesimpulan kita, namun tetap terbuka pada kemungkinan salah. Makanya, kita tetap harus hati2 sekali mengemukakan kesimpulan tentang seseorang.. apalagi bila kesimpulan itu adalah kesimpulan buruk. Salah2 jadinya malah labeling ;-)

Still.. menurut gw, kegiatan profiling ini bagus lho! Kapan ya di Indonesia ada Behavior Science Unit? Hehehe.. Siapa tahu penyelidikan kasus Alda jadi lebih fokus dan ilmiah; nggak melebar meluas kemana2 kayak sekarang. Pusing juga gw lihat tadi pagi berita di koran: Alda Korban Ritual Pengusiran Setan. Mana di TV ada paranormal bilang arwah Alda gentayangan di hotel lah! Halah! Klenik banget.. hehehe.. Dan kasihan kan keluarganya kalau ternyata kesimpulan kita salah? Kasihan juga almarhumah yang jadi omongan.. lha wong udah meninggal kok masih diomongin yang enggak2.

Ah.. rupanya gw melantur lagi. Ya sudahlah, berhenti sampai sini aja.. daripada melantur lebih jauh lagi ;-) Titip aja mengucapkan: HAVE A WONDERFUL CHRISTMAS buat yang merayakan ;-).

Monday, December 18, 2006

Cinta Pertama: Fast-forward Seorang Gadis Remaja

Salah satu resiko memperlakukan anak sebagai manusia dewasa kecil adalah: seleranya juga sudah selera remaja walaupun umurnya baru 7 tahun ;-). Ima tidak tertarik nonton Open Season atau Cars, tapi merengek2 minta nonton Cinta Pertama. Sudah sejak iklannya muncul di TV Ima minta nonton, dan makin menjadi2 setelah melihat novel adaptasinya Tante Okke ada di meja ibunya ;-).

***

Well.. waktu gw baru baca novelnya, spontan gw mengomentari sang penulis via SMS. Komentarnya bukan komentar manis, tapi mempertanyakan sejauh mana dia dapat kebebasan dalam bermain2 dengan imajinasinya saat mengadaptasi skrip film tersebut. Maklum, walaupun bahasa novelnya Okke banget, tapi eksplorasi karakter tokoh2nya maupun kejadian2nya nggak seperti tulisan2 Okke lainnya.

*Bocoran: kebetulan gw pernah dikasih ijin ngintip dua cikal bakalnya novel Jeng Okke, plus tentunya KamarCewek dan edisi2 sepatumerah. Menurut gw kekuatan utama tulisan Jeng Okke ini adalah pada pendalaman karakter tokoh2nya. Kalau tokohnya sudah kuat karakternya, maka ceritanya pun menjadi lebih logis dan membumi ;-)*

OK, gw cerita dulu sinopsis novelnya, ya ;) Cinta Pertama bercerita tentang Wulan, yang didiagnosa menderita kanker otak sehari setelah pertunangannya dengan Abimanyu. Wulan tidak pernah sadar lagi hingga meninggal beberapa hari kemudian. Yang tersisa buat Abi hanyalah sebuah buku harian Wulan semasa SMA; buku harian yang baru diisinya kembali pada malam pertunangan. Dari buku itu Abi mengetahui tentang Surya, cinta pertama Wulan semasa SMA. Menyadari perasaan Wulan pada Surya, Abi pun lantas mencari Surya untuk membahagiakan Wulan; supaya Wulan bisa bertemu dengan Surya untuk terakhir kali.

Dengan kerangka seperti ini, gw terbayang Okke (seandainya dia punya kebebasan penuh) akan mengeksplorasi dinamika keterkejutan Abi mengetahui ada pria lain yang begitu bermakna bagi Wulan dan mengeksplorasi bagaimana sebuah cinta SMA menjadi begitu bermakna sehingga membuat Wulan bimbang di hari pertunangannya. Cinta Wulan dan Abi adalah cinta dewasa. Cinta yang sudah selangkah lagi ke pernikahan, tentunya sudah melibatkan logika yang tidak akan mudah terbimbangkan hanya dengan kenangan manis cinta SMA. Kecuali.. jika ada yang signifikan pada cinta SMA itu.

Memang, sedikit tereksplorasi di halaman 69, ketika Abi berkontemplasi bahwa dia tidak pernah mengajak Wulan bermain gerimis seperti yang dilakukan Surya. Padahal Wulan sangat menyukai gerimis yang dianggapnya lebih romantis daripada hujan. Namun, ini adalah sesuatu yang wajar, bukan? Wajar jika gaya pacaran seseorang ketika SMA berbeda dengan pacaran yang menuju ke jenjang pernikahan. Dating is always different from going steady, sebagian karena kematangan kita sebagai manusia juga bertambah. So, jika Wulan sampai begitu bimbang di malam pertunangannya, hingga membuka lagi buku harian semasa SMA, tentu ada sesuatu yang amat sangat spesial dengan hubungan saat SMA itu.. kecuali jika Wulan mengalami keterbelakangan mental sehingga terfiksasi pada cinta romantis semasa SMA ;-).

Ketika seorang wanita memutuskan untuk menikah dengan seorang pria, pertimbangannya rasionya selalu lebih besar daripada pertimbangan romantisnya.. Ini masa dimana romantisme adalah bonus, bukan pertimbangan utama.

Mungkin, karena gw sudah menikah bertahun2 lalu, dan meninggalkan masa SMA satu setengah dasa warsa yang lalu, *gila.. am I really that old? HAHAHAHA.. * gw jadi merasa ada sesuatu yang nggak pas di sini. Masa2 yang dilalui Wulan & Surya memang indah, dan akan tetap menjadi kenangan indah seumur hidup Wulan. Tapi.. dari apa yang digambarkan, gw ragu masa2 itu cukup signifikan untuk membuat Wulan bimbang di ambang pernikahan. Ketika seorang wanita memutuskan untuk menikah dengan seorang pria, pertimbangannya rasionya selalu lebih besar daripada pertimbangan romantisnya. Dia bisa mempertimbangkan apakah dengan menikahi pria ini dia menyenangkan orang tuanya, apakah pria ini mampu menghidupi dia dan anak2 mereka, apakah pria ini bisa menjadi partner dalam menjalani hidup ini,.. dan banyak pertanyaan logika lainnya. Ini masa dimana cinta menjadi dasar, tapi tidak menjadi segalanya; saat dimana romantisme adalah bonus, bukan pertimbangan utama.

Hal lain yang menurut gw kurang tereksplorasi adalah reaksi Abi. Rasa cemburu dan dikhianati pasti ada setelah membaca buku harian tersebut. Tapi.. kembali ke konteks bahwa Abi dan Wulan adalah dua orang dewasa yang hendak menikah: apa iya seorang pria dewasa akan mengusut tuntas siapa pria dari masa lalu itu? Seimpulsif itu tracking down alamat Surya, lantas memintanya menjenguk dan menunggui Wulan walaupun tahu Surya sudah menikah? Mendatangkan Surya mungkin akan menyenangkan Wulan. But then, so what? Mungkin malah membuat Wulan justru jengah berada di antara tunangan dan cinta pertamanya, dan yang pasti membuat istri Surya tidak nyaman.

Nah.. apakah seorang pria dewasa (wait.. DUA pria dewasa) akan seimpulsif dan tidak memikirkan resiko seperti ini? Impulsive gentlemen agreement begini memang bisa terjadi antara dua remaja pria.. tapi menjadi aneh ketika diletakkan pada konteks pria dewasa yang sudah dan akan menikah.

Well.. insight pertama yang gw dapat saat membaca novel tersebut adalah: menulis sebuah buku fiksi bukanlah sesuatu yang mudah. Tidak cukup hanya dengan perbendaharaan kata yang banyak saja; tapi juga harus punya sense untuk merangkaikan kata2 sehingga benar2 menggambarkan nuansa cerita dan membawa pembaca melebur dalam kehidupan tokoh2nya. Menulis sebuah buku fiksi menjadi lebih sulit ketika ceritanya didasarkan pada script film yang sudah hampir tayang. Sang penulis tidak bisa sepenuhnya memainkan imajinasi dan kata2, karena sebelah tangannya terbelenggu pada cerita yang sudah baku.

Namun kemudian punya pikiran lain ;-). Buku ini memang ditulis sebagai flashback kehidupan orang2 dewasa (Abi dewasa, Wulan dewasa, dan Surya dewasa). Gw juga membaca juga sebagai seorang perempuan dewasa. Sementara.. tampaknya target pembaca utama dari buku (dan film) ini adalah gadis2 remaja. Jadi.. bukan buku (dan film)nya yang salah, tapi cara pandang gw.. hehehe.. Dalam membaca buku (dan menonton film) ini dibutuhkan kacamata remaja: remaja yang sedang mengalami cinta pertama di SMA, yang menganggap cinta pertamanya ini adalah segala2nya, dan percaya bahwa first love never dies. Kacamata remaja yang memproyeksikan bahwa jika cinta ini tidak berlanjut, maka di titik krusial kelak (baca: beberapa saat sebelum menikah), love will lead you back.. ;-) Buku ini tidak boleh dibaca sebagai flashback Wulan-Surya, tapi dibaca sebagai fast forward Wulan-Surya ;-).

Dalam membaca buku (dan menonton film) ini dibutuhkan kacamata remaja.. yang memproyeksikan bahwa jika cinta ini tidak berlanjut, maka di titik krusial kelak, love will lead you back

Ketika gw mencoba meletakkan diri gw sebagai anak SMP atau SMA, dengan mengingat masa2 remaja gw, well.. maka apa yang gw pertanyakan di atas tadi tidak jadi muncul. Jika gw anak SMP atau SMA, maka Abi adalah orang yang membosankan, karena tidak pernah mau mengajak cewek main hujan2an. Abi terlalu serius, workaholic, selesai tunangan jam 1 malam pun besoknya ngeyel masuk kantor nggak mau cuti. Sementara Surya adalah pria idola sejati; jago basket, pintar, cool, dan romantis. Jika gw anak SMP atau SMA, gw juga akan pejah gesang ndherek Surya (hidup matiku untuk Surya).. dan akan terbayang oleh gw bahwa jika Surya mencampakkan gw, gw akan merana seumur hidup, sehingga ketika akan menikah pun gw bimbang karena teringat Surya.

Hehehe.. gw inget ketika nonton Eiffel, I’m in Love di TV beberapa waktu lalu. Gw complain pada adegan Samuel Rizal sudah mempersiapkan kamar serba putih dengan taburan bunga mawar putih untuk Shandy Aulia. Menurut gw lompatan kepribadiannya agak jauh, dari tokoh yang super cuek menjadi super romantis. Lagian, apa kata ortunya Sammy nanti, lihat putranya berlaku begitu? Cowok seusia itu biasanya takut banget ketahuan nggak cool sama ortunya.. hehehe.. Tapi lantas gw dicela sama bapaknyaima: kalo mau nonton film remaja, berpikirlah sebagai remaja, jangan sebagai ibu2 ;-) Dan yup! Buat remaja SMP, kejutan seperti ini adalah their ultimate dream ;-) Buat remaja SMP, perilaku Sammy mah wajar2 aja.. malah gw yang kelewat rese mempertanyakan apa yang harusnya tidak dipertanyakan.. hehehe..

Jika kasusnya memang seperti ini, berarti Okke sudah berhasil dengan baik menterjemahkan cerita film ini ke dalam sebentuk novel remaja.

***

Menonton filmnya kemarin, gw jadi semakin yakin bahwa kacamata yang gw pakai saat membaca novel Okke itu salah. Harusnya gw pakai kacamata remaja, tapi malah pakai kacamata remako (= Remaja Kolot, istilah tahun 80-an saat gw masih remaja.. halah!).

Dalam bahasa gambar, makin terlihat betapa film ini bukanlah flashback orang dewasa, melainkan fast forward seorang gadis remaja. Pernyataan Surya (dalam film namanya diganti jadi Sanny, mungkin biar match sama OST-nya yang berjudul Sunny) pada istrinya bahwa dia-memilikiku-di-masa-lalu-kau-memilikiku-di-masa-kini-dan-yang-akan-datang.. bener2 merupakan cita2 romantis-egois seorang gadis remaja. Juga adegan ketika Surya mencium pipi Alia (nama Wulan di film) dan mengakui bahwa sejak dulu dia sudah ingin melakukannya, sayang dia tidak tahu bahwa Alia juga mencintainya.. ini juga penegasan dari khayalan gadis remaja terhadap apa yang terjadi di masa depan jika cinta kandas di tengah jalan. Dua adegan ini [CMIIW] sudah dipangkas dari novel adaptasinya ;-)

Setidaknya, novel adaptasi itu masih menyisakan beberapa bentuk logika dan tidak terlalu menye2 seperti filmnya ;-) Novelnya masih menyajikan sedikit elaborasi tentang Abi yang menyadari bahwa dirinya terlalu serius, kurang fun dalam berpacaran dengan Wulan (baca: kurang memenuhi need for romantism Wulan ;-)).

*Walaupun, teteup deh, Kke, kalau loe bikin jadi 300 halaman dengan memperkuat penokohan tokoh2nya, gw bakal lebih suka lagi sama tuh novel.. HAHAHAHA.. tapi ntar anak2 SMP gak bakal beli kali yeee.. karena novelnya jadi kelewat serius ;-)*

Anyway.. lepas dari novel dan filmnya, gw jadi teringat sebuah lagu yang dulu merupakan lagu favorit gw.

Maybe first love never ever dies
That’s why I’m still in love with you
Hold me close and look into my eyes
And tell me you don’t feel it too
The way it used to be when you told me
It would be forever, you and me together

And, we never really said goodbye
We never really said it’s over
We never really said goodbye
First love never dies
When I saw you I could hardly speak
You’re just as beautiful as ever babe
I guess it’s still the same mystique
First love never dies

(First Love Never Dies, Eugene Wilde and Joanna Wilder)

Dulu gw nggak tahu nama penyanyinya lho, baru tahu setelah googling cari syair online-nya. Ternyata nama belakang penyanyinya lucu ya, nyambung banget: Wilde dan Wilder ;). Mengingatkan gw pada Dumb and Dumber

Update 19 Desember 2006:

Lupa menuliskan bahwa waktu gw nonton sama Ima, bioskopnya penuh nuh, didominasi oleh remaja2 pacaran. Yaah.. kira2 seumuran SMU deh! Dan tidak ada pasangan yang keluar sebelum filmnya habis. Ini indikasi bahwa cerita ini diterima dengan baik oleh mereka

Saturday, December 16, 2006

Camelia Snicket: A Series of Unfortunate Events

Gw pernah baca bahwa pohon yang disiram dan dirawat sambil diajak ngobrol dengan kata2 manis tumbuh lebih subur daripada pohon yang hanya dirawat dengan membisu. Sementara, gw baca juga, pohon yang dirawat dan disiram sambil dimaki2 akan cepat mati. Prinsipnya: pohon juga mahluk hidup, punya rasa punya hati.. hehehe.. Itu prinsipnya Seurieus ;-) Kalau Masaru Emoto mengatakan bahwa telah terjadi resonansi energi pada pohon atas energi yang diberikan perawatnya.

Ternyata.. prinsip yang sama bisa diterapkan juga pada pekerjaan. Pekerjaan yang dilakukan dengan cinta *tsah!* mungkin berhasil, sementara pekerjaan yang sejak awal sudah diberi energi negatif, bisa menjadi a series of unfortunate events ;-) Nggak tepat juga dibilang sebagai self-fulfilling prophecy, karena tidak dimulai dengan proyeksi bahwa projectnya gagal atau berlangsung buruk. Dan nggak seperti kejadian di sini yang lebih mirip ujian anger management.

Project ke Medan minggu ini sejak awal diketahui sebagai project perpisahan dengan my favorite client *mohon maaf, nama klien tidak boleh disebut dan blognya tidak boleh di-link, takut kantor gw kena wanprestasi ;-)*. Ini projectnya si Jeng Klien yang terakhir dengan bendera perusahaannya yang sekarang. Pada project berikutnya *yang gw yakin pasti ada, ya kan, Jeng ;-)?* benderanya udah lain. Nah.. lantaran ini project perpisahan, nuansanya udah beda. Pinginnya semua berlangsung dengan baik, sebagai perpisahan yang manis. Tapi.. lantaran perpisahan itu sendiri mengandung aura gloomy, entah kenapa projectnya jadi gloomy sejak awal, walaupun semua berusaha untuk membuat perpisahan yang indah.

Dimulai dari project yang harus dimundurkan, padahal di Medan all is set, lantaran nggak yakin stimulus selesai pada hari yang ditentukan. Padahal inti dari penelitiannya sendiri adalah uji stimulus, lha kalau stimulusnya nggak ada, ngapain ke Medan? Ya toh? Akhirnya, semua disusun ulang. Hotel tempat pelaksanaan terpaksa ganti tanggal booking, team recruiter di Medan memohon2 calon responden untuk bisa datang ke jadwal yang baru, tiket pesawat terpaksa digeser. Demi si stimulus tercinta, kami book jadwal pesawat yang mepet dengan pelaksanaan. Pelaksanaan penelitian jam 11:00, kita berencana naik pesawat terpagi. Padahal biasanya kami berangkat sehari sebelum pelaksanaan untuk mengantisipasi pesawat yang delayed, atau no operation.

Walaupun sudah dimundurkan sedemikian rupa, ternyata tetap saja bikin ketar-ketir. Ketar-ketir yang pertama: sehari sebelum berangkat (baca: sehari sebelum penelitian), pihak Garuda Indonesia menyampaikan bahwa pesawat terpagi yang akan kami naiki no operation! Kami mendapat penggantian pesawat jam 11:00, tapi itu pun waiting list! Nah lho! Gimana coba? Terpaksa deh grabag-grubug lagi mengatur jadwal. Itu pun jadwal tentatif, karena baru dapat dipastikan berangkat sore hari. Baru jam 16:00 kami bisa bernafas lega; tiket sudah di tangan, dan lantaran bencana no operation itu, tiket kami di-upgrade menjadi executive class. Sip lah! Kapan lagi gw naik kelas executive? HAHAHAHA.. Gw dan Mira, another researcher yg ikut ke Medan, sudah siap2 mau foto2 dengan noraknya di kabin ;-) *maaf ya, memang norak. Soalnya biasanya terima nasib naik kelas ekonomi.. hehehe.. *

Begitu tiket di tangan, baru kami nyadar: lha, stimulusnya mana?? Sudah hampir jam pulang kantor, stimulus belum di tangan? Buru2 telfon klien, yang ternyata juga udah setengah bete karena baru dapat kabar: stimulus baru bisa selesai jam 12 malam! Hehehe.. berhubung klien gw udah kedengeran bete, gw gak berani ngeledekin kenapa Cinderella disuruh bikin stimulus ;-) Kan mendingan nyuruh Sangkuriang yang bisa bikin telaga dan perahu semalam, ya ;-)?

So, sampai tiba saatnya ke Medan, baik gw & Mira (yang harus mengujikan stimulusnya) maupun kliennya belum sempat melihat stimulusnya.. hehehe.. Beli kucing dalam karung ya? Full of improvisation banget deh! Gw cinta pekerjaan gw karena banyak tantangannya, tapi.. tantangan yang model gini enggak gw banget deh! Tahu aja, gw suka jadwal rapi ;-).

Kalau Anda pikir kami sudah cukup sial, well.. jawaban Anda salah.. HAHAHAHA.. Gw dan Mira sudah nongkrong di bandara sejak jam 9 pagi. Tapi nggak bisa check in. Alasannya? Computer Network Garuda Indonesia mati! Hehehe.. Jadi kami terima nasib menunggu di Garuda Lounge, tanpa tiket ataupun boarding pass. Entah bisa berangkat atau tidak ;-). Baru sekitar 10 menit menjelang berangkat kami mendapatkan boarding pass.

Jakarta-Medan biasanya ditempuh 120 menit, malah kadang2 dalam 110 menit sudah sampai. Tapi.. kali ini.. perjalanan memakan waktu 155 menit! Kurang lebih setengah jam lebih lama dari biasanya! Kalau menurut jadwal, kami tiba di Medan pukul 13:00, langsung makan siang ala kadarnya, dan mulai kerja jam 15:00. Lha.. kalau sampai Medan saja sudah 13:30, tentunya nggak sempat makan ya? Udah bagus bisa mulai kerja pada waktunya, lha wong video device (standard operation procedur kami adalah merekam semua pengambilan data) belum di-setup.

Dan di saat yang panik dengan segala jadwal inilah bom waktu meledak.. hehehe.. Waktu gw mau menyalakan kembali HP gw.. ternyata.. HP GW SUDAH RAIB! Entah kemana HP gw! Perkiraan gw sih tertinggal di kursi pesawat, jadi gw buru2 balik dan memohon2 untuk mencari ke pesawat. Gw nggak boleh naik, dan kata petugasnya HP gw nggak ada. Jadi HP gw tercinta hanya diganti dengan selembar kertas untuk bukti ke Telkomsel bahwa nomor gw hilang.

Benar2 project perpisahan yang berkesan, walaupun kesan yang teringat bukan kesan yang ingin diciptakan ;-) A series of unfortunate events ;-).

Anyway.. gw jadi mikir2 juga. Jangan2 nama projectnya yang bikin sial.. hehehe.. alias energi negatif berasal dari namanya, selain dari sifat projectnya yang perpisahan ini. Kan superstition di research agency adalah: nama menentukan prestasi.

Nah.. oleh researcher in charge-nya, project ini diberi nama sandi Camelia. Researcher-in-chargenya lahir tahun 80-an sih, jadi nggak kenal lagu Camelia. Dia pikir nama ini bagus karena berbau bunga2an aja. Tapi waktu itu gw meng-approved nama project ini karena ingat lagu Ebiet G Ade ini berbau perpisahan dan permohonan maaf atas segala khilaf dan salah. Baru, setelah serangkaian kejadian buruk ini, gw nyadar ada bagian lain dari liriknya yang kena banget sama kejadian ini:

Sekarang
Setelah kau pergi
Kurasakan makna tulisanmu
Meski samar tapi jelas tegas
Engkau hendak tinggalkan kenangan
dan kenangan

Sekarang, setelah HP gw pergi, gw rasakan makna nama [project] ini. Meski samar, tapi jelas tegas, project ini hendak tinggalkan kenangan.. dan kenangan.. HAHAHAHA..

Yang bikin gw nyesel, ada foto2 Ima di outbond minggu lalu yang belum gw pindahkan ke komputer. Hilang deh semua bukti Ima mengayuh kayak dan menyeberangi Burma Bridge dengan gagah berani :-(

Anyway.. mohon maaf buat semua yang mencoba menghubungi gw beberapa hari terakhir dan gak gw jawab. Bukannya gw sombong, tapi mungkin HP gw sekarang sudah berada di salah satu lapak HP second, atau dalam genggaman seseorang yang sedang mencoba memecahkan password HP gw. Untuk sementara.. kalau mau menghubungi gw, Imel Surimel dulu aja ya.. sampai gw ada waktu ngurus nomor ke Telkomsel dan ada rejeki beli HP baru.

*Ngomong2, Imel Surimel sama Dodol Surodol itu sodaraan gak ya ;-)?*

Wednesday, December 13, 2006

Orang Campur Ikut Luar

Ini apaan sih, orang campur ikut luar?

Itu gerutuan standardnya temen gw, Rulas, kalau ada orang yang tahu2 nimbrung. Entah nimbrung ikutan nyanyi *maklum, kantor kami adalah kantor yang riang gembira, selalu bekerja sambil bernyanyi. Jenis lagunya bisa apa aja, tergantung siapa yang mulai ;-)*, nimbrung nyomot makanan *ohya, kantor kami biasanya kelebihan beli kue untuk menjamu responden, sehingga sering ada upeti di salah satu meja researcher ;-)*, atau nimbrung2 lainnya. Memang sih ungkapan ini sekedar canda, tapi gw sering geli melihat bagaimana kekacauan kalimat tersebut merepresentasikan kekacauan yang terjadi saat orang luar ikut campur. Yaah.. sebelas-duabelas lah sama hobi gw ngomong Jaka Sembung main gitar, nggak nyambung, jreng jreng.. dimana ke-tidakberima-an sampiran dan isi pantun tersebut menegaskan ke-tidaknyambung-an yang gw komentari ;-).

Ikut campurnya orang luar memang selalu bikin keadaan tambah runyam. Kadang, malah si orang luar itu yang bikin runyam keadaan yang sudah aman terkendali. Skripsi gw dulu mengeksplorasi psychological well-being wanita dewasa muda yang orang tuanya bercerai ketika dia masih kanak2. Skripsi itu dibuat pertengahan 1990-an; jadi perceraian ortu subyek gw terjadi dekade 80-an, dimana broken home [masih] diasosiasikan sangat kuat dengan kurang kasih sayang orang tua dan narkoba. So, subyek penelitian gw adalah survivors yang berhasil lepas dari stigma tersebut.

Nah.. gw ingat salah seorang subyek skripsi gw berkata kurang lebihnya begini:

Pisahnya mama-papa, biarpun bikin sedih, tapi sudah lumayan siap, Mbak. Proses persidangannya kan lama, jadi kita sudah siap2 juga. Memang ada rasa kehilangan, tapi toh gw masih bisa ketemu papa kapan aja. Cuma bedanya gw harus milih kalau pergi sama papa atau sama mama, nggak bisa sama papa-mama. Yang lebih berat tuh sebenernya ngadepin orang2 luar, Mbak! Tetangga2 yang tadinya nggak begitu kenal sama kita, tiba2 super ramah. Kalau kita pulang sekolah, tiba2 suka nyapa, ngajak mampir.. buntut2nya cuma nanya papa tinggal dimana, mama sekarang sama
siapa, bayar sekolah kita gimana.. pokoknya, hal2 yang sebenernya bukan urusan mereka banget deh! Dasar tukang gosip! Belum lagi tiba2 ada ibu2 yang ngelarang anaknya main sama kita, karena mama janda. Dibilang kalau sering main ke rumah, nanti papanya diambil sama kita. Ini yang bikin gw akhirnya males bergaul sama orang2. Mendingan di rumah aja, atau main sama teman2 sekolah.

Runyamnya keadaan karena campur tangan orang luar juga gw lihat dalam tayangan infotainment beberapa waktu lalu saat Tamara Bleszynski menangis tanpa air mata lantaran tidak bisa bertemu anaknya lagi. Gw bilang menangis tanpa air mata, karena kelihatan banget Jeng Tamara sedih luar biasa. Kurang lebihnya Jeng Tam bilang bahwa sebelumnya si anak baik2 saja, hanya menelepon dan berkata bahwa dia masih ingin dengan ayahnya, namun tiba2 saja keadaan berbalik ketika Komnas Perlindungan Anak melakukan intervensi.

Saya juga bingung. Saya tidak mau menyerahkan anak saya, katanya saya mau dipenjara. Sekarang, anak saya diserahkan, saya juga mau dipenjara juga, katanya saya suka memukul anak saya. Kapan saya memukul anak saya? Kalau memang memenjarakan saya adalah jalan yang terbaik, lebih baik penjarakan saya. Saya rela demi anak saya.

Demikian tangis seorang ibu yang tidak bisa lagi menjumpai anaknya. Karena orang luar yang ikut campur mengatakan (atau memutuskan?) bahwa sang ibu tidak cukup baik bagi anaknya.

Gw jadi pingin menyoroti tentang ikut campur ini setelah kemarin menerima email berikut:

From: -deleted-

Sent: 11 Desember 2006 10:15

Subject: Please read this

Ini saya dapat dari teman saya. Menarik untuk dilihat ketika Aa Gym menganggap bahwa yang membuat sedih istri pertamanya hanyalah pemberitaan atas poligaminya. Dan bukan ketika Aa memutuskan untuk berpoligami. Mungkin dia menganggap bahwa teh ninih menangis hanya ketika berita ini turun dan bukan ketika Aa sendiri menikah dengan orang lain.

Happy reading
-----
ini kesaksian wartawan detik com. atas permintaannya, ini off the record.

–DELIBERATELY DELETED UNTIL THE END OF EMAIL-

Tulisan selanjutnya nggak gw baca, dan tidak ingin gw tampilkan di sini. Gw nggak perduli apakah kesaksian ini benar, mengandung kebenaran walaupun agak terbelokkan di sana2 (dengan sengaja ataupun tidak sengaja), atau sekedar rekayasa memanfaatkan momentum. Yang gw tahu: menyebarkan tulisan2 seperti ini cuma bikin lebih runyam.

Bisa jadi asumsi2 dalam tulisan pengantar dari teman gw itu benar: mungkin si istri bukan hanya sedih lantaran pemberitaan poligaminya, mungkin si istri sedih sejak si suami memutuskan poligami. Mungkin si istri menangis karena suaminya berpoligami, bukan hanya ketika berita ini turun.. Ini asumsi2 yang sangat mungkin benar, tapi kita tidak tahu apakah ini benar.

Tapi yang jelas ada satu hal yang benar: jika gw men-forward tulisan seperti ini, si istri/keluarga akan memiliki satu alasan lagi untuk menangis. Hal itu akan membuat keadaan yang [mungkin] sudah terkendali menjadi runyam. Seperti para tetangga subyek skripsi gw yang malah bikin subyek gw jadi tertutup. Seperti [dengan asumsi kata2 Jeng Tam benar atau setidaknya mengandung kebenaran] Komnas Perlindungan Anak yang justru membuat pembagian custody Tamara-Rafly menjadi runyam.

Gw tidak ingin menjadi orang campur yang ikut luar ;-). Apalagi ketika sumber beritanya tidak jelas.. karena menurut gw orang yang berani menyebarkan kesaksian tapi minta kesaksiannya off the record masih perlu ditelaah lagi keabsahan beritanya. Pada hakikatnya, saksi itu diperlukan untuk membuat segala sesuatu menjadi jelas. Kalau saksinya sendiri tidak jelas, bagaimana bisa membuat yang lain jelas?

So, instead of saying Happy Reading and forwarding the Please Read This email, gw lebih baik bikin seruan baru: if you care, tunjukkan support Anda pada si istri/keluarga dengan tidak menjelekkan nama suami/ayahnya. Kalau Anda tidak bisa mengurangi penderitaannya, setidaknya jangan tambahi penderitaannya :-)

*hehehe.. maaf buat yang bosen ya.. habis emotional push gw masih menggelegak. Tapi yang penting inti ceritanya beda2 kan.. HAHAHAHA.. ;-)*

PS: Setelah nge-post, dan merespons komentar Zilko, gw baru ingat Neng Yanti belum lama ini menelurkan tulisan bagus tentang fitnah dan ghibah yang sama jeleknya ;-). Mungkin apa yang gw anggap emotional push sebagian adalah jejak ingatan gw tentang posting ini ;-) Nah.. sekarang baru gw bisa bilang: Happy Reading ;-)

Saturday, December 09, 2006

The Ibunyaima Trilogy

Mengikuti jejak karya2 besar seperti The Godfather, Lord of the Rings, Star Wars, Cairo Trilogy, Divina Comedia.. gw juga mau bikin trilogi ah! Nggak mau kalah sama Jeffrey Archer yang sudah siap2 meluncurkan buku ketiga dari his Prison Diary ;-). Kalau tulisan pertama mengambil angle ratapan simpatisan yang merasa dikhianati, tulisan kedua ber-angle soal keadilan yang dijadikan argumen untuk menyayangkan (bahkan menuntut undang2 untuk melarang) tindakan poligami, maka tulisan terakhir tentang mereka yang memang anti poligami.

Bedanya apa dengan kelompok yang disoroti di tulisan pertama? Bedanya, kelompok pertama lebih terpukul karena Aa berpoligami daripada karena poligaminya itu sendiri ;-) Sementara di kelompok kedua ini adalah [pinjem istilahnya Nirwana]: the intelligent ones. Mereka2 yang mempertanyakan apakah poligami itu sebaiknya dikategorikan tidak dianjurkan atau sekalian saja dilarang.

Mencermati komentar2 yang mencapai 50 sekian di tulisan pertama (well.. gak semua ngomentarin sih, ada juga yg cuma numpang lewat, atau malah numpang berkomunikasi sama yayang-nya ;-) Hooi.. stop nge-junk di blog gw ;-)), serta blog2 lain yang ngebahas, belum lagi fwd-an email2 yang terus masuk ke inbox gw, secara kasar gw bisa mengelompokkan kaum anti poligami ini menjadi 2 kelompok besar:

1. Mereka yang anti karena poligami hanya diidentikkan dgn poligyni (= beristri banyak). Isyu di sini adalah ketidaksetaraan gender. Dengan demikian mereka bisa saja setuju pada poligyni, dengan syarat poliandri (= bersuami ganda) juga diperbolehkan.

2. Mereka yang anti poligami (sebagai sinonim dari poligyni) karena dianggap tidak adil terhadap istri. Isyu di sini adalah tenggang rasa pada istri para pelaku poligami (aka poligyni). Dengan demikian segala bentuk penggandaan istri dianggap satu kelompok besar karena sama2 menyakiti hati istri. Dalam kelompok ini cenderung tidak dibedakan antara poligami yang dilakukan Aa Gym, Rhoma Irama, Puspowardoyo.. malah ada yang menjadikannya satu dengan the man of the month: YZ ;-)

Salah satu contoh kelompok pertama gw cuplik dari blognya ibu ini: I would agree of poligami, .. but only if poliandry would be allowed, equally

Hehehe.. mengacu pada dua versi keadilan edisi kemarin, berarti ini menggunakan versi keadilan sama rata sama rasa ya ;-)? Semua harus dapat kesempatan yang sama, tanpa memperhatikan perbedaan fisiologis maupun peran sosialnya ;-) Terus.. gw masih belum jelas juga sih, apakah dalam pelaksanaannya menggunakan azas keadilan sama rata sama rasa juga?

Atau pelaksanaannya pakai prinsip keadilan kapitalis seperti kata temannya Neng Yanti: biar adil, istri/suami muda yang masih menggebu2 harus dikasih jatah lebih banyak daripada istri/suami tua yang udah nyaris frigid? HAHAHAHA.. Satu masalah kecil sih: kalau perempuan, secara fisiologis, semakin tua mungkin semakin nggak minat. Apalagi kalau sudah dekat menopause *eh, teorinya sih gitu. Gw belum menopause sih, jadi belum bisa membuktikan.. HAHAHA.. * Tapi.. laki2 kan nggak gitu ya? Lha, ntar kalau suami tua dapat jatah lebih sedikit daripada suami muda, apa jadinya adil ;-)? Hehehe..

Itu PR yang masih harus diselesaikan oleh kelompok satu.

*Jawabannya jangan tanya ke gw ya! Gw tuh bingungan kalau soal prinsip keadilan. Makanya cuma punya suami satu dan anak satu.. ;-)*

Soal kelompok kedua, yang ingin gw soroti adalah generalisasi mereka terhadap para pelaku penggandaan istri. Dari yang bilang Aa Gym sama aja sama YZ, sampai Oom Tulus yang bilang bahwa penyelesaian YZ lebih baik (karena toh YZ putus hubungan sama ME dan istrinya kembali menjadi pemilik tunggal the big dumbo, sementara Teh Nini seumur hidup harus berdampingan sama Teh Rini).

Well.. pertanyaan gw.. apa iya sih sama? Memang ke-4 orang tersebut melakukan penggandaan istri. Tapi sama dan sebangun? Hmm.. gw termasuk orang yang suka ngebahas kasus per kasus sih.. jadi keisengan untuk bikin tabel berikut ini (berdasarkan berita di berbagai media yang diasumsikan sebagai benar):

Aa Gym

Rhoma Irama

Puspowardoyo

YZ

Alasan utama

Menguji umat

Takdir, jodoh

Demi perempuan

-nggak tahu-

Alasan lain

Daripada TTM

Memuliakan istri

Daripada zinah

Takut melanggar takdir Tuhan

Memuliakan istri

Bagian dari remunerasi pegawai

-nggak tahu-

Dengan siapa

Janda anak 3, umur 37 thn

Perawan 20-an

Pegawai berprestasi, bisa perawan/janda

Penyanyi dangdut tanpa anak, dan malah kemudian aborsi

Sosialisasi pada istri tua

Selama 5 thn

Tanpa sosialisasi

Proses sosialisasi beberapa tahun

Diam2 saja

Background istri

Anak kyai (yang mungkin sudah sejak dulu menerima secara teoritis bahwa poligami itu tidak haram)

Bekas bintang film (yang kecil kemungkinan saat menikah menerima poligami secara teoritis)

Dosen (setidaknya cukup cerdas untuk menerima alasan suami ingin berpoligami)

Nggak tahu istrinya yg mana, tapi selingkuh itu bukan wilayah abu2 seperti poligami, jadi sudah pasti tidak bisa diterima

Status pernikahan kedua dst

Resmi

Siri

Resmi

Tanpa pernikahan

Sikap saat terungkap

Mengakui

Berkilah dan menyangkal hingga terdesak

Mengakui dengan bangga

Hingga saat ini belum ada komentar kan?

Well.. kalau dilihat dari tabel di atas sih menurut gw nuansanya beda. Alasannya Puspowardoyo tuh rada pseudo-logis ;-). Alasannya Bang Haji mencatut nama Tuhan: mengatakan itu adalah takdir berupa jodoh dari Tuhan. YZ.. no comment lah gw ;-), sementara si Aa menurut gw sih masih lebih jantan mengakui keputusannya adalah tanggung jawab dia [sebagai manusia] pribadi. Walaupun alasannya bikin kuping merah sih, karena.. siapa sih manusia yang berhak menguji keimanan manusia lain? Apa haknya si Aa menguji umat? Hehehe..

Itu baru dari masalah alasan. Silakan dinilai sendiri perbedaan nuansa dalam aspek yang lainnya. Do not cloud your judgment with prejudice bahwa segala jenis penggandaan istri adalah buruk, maka mungkin akan terlihat bahwa kasus2 ini tidak bisa digeneralisasikan.

Jadi.. kalau ada orang2 yang sekarang ribut minta UU anti poligami disahkan, sampai nge-SMS Pak SBY segala.. think again! Ngapain sih SBY disuruh ngurusin yang beginian? Presiden tuh udah nggak kelasnya ngurusin rumah tangga orang.. mendingan beliau ngurusin hal2 yang lebih penting seperti: bagaimana menumbuhkan hati nurani wakil rakyat biar mau datang ke rapat paripurna untuk membahas nasib negara. Jangan maunya datang untuk ambil honor dan nyewa kamar hotel bareng ME doang *oops, tendensius banget yaks ;-)* Atau untuk ngurusin bagaimana supaya sekian kepala keluarga tidak harus hidup dengan hanya Rp 19,000 per hari.

Masih banyak yang harus diurus, dan lebih tepat untuk diurus, oleh presiden dan kita sendiri ;-). Kalau kita menuduh para laki2 itu terlalu terobsesi soal syahwat, apa dengan ngeributin dan mendesak minta UU seperti ini, apa kita sendiri juga nggak terlalu terobsesi sama urusan syahwat?

*eh.. kalau gw nulis sampai trilogi gini, gw sendiri terobsesi gak ya? Nggak lah ya.. gw kan orangnya emang suka bersambung2 gitu kalo nulis. Tiga sih masih wajar. Kalau jumlahnya udah kayak simfoni Beethoven, 9, baru gw bisa dituduh terobsesi.. HAHAHAHA.. *

Thursday, December 07, 2006

Dewi Keadilan pun Menutup Mata

Sekitar setahun lalu gw membaca catatan pinggir Goenawan Mohammad di majalah Tempo. Lupa edisi berapa tepatnya, tapi isinya tentang keadilan. Salah satu paragrafnya membahas tentang Dewi Keadilan, yang dipatungkan sebagai wanita yang ditutup matanya, sebelah tangan memegang sebilah pedang dan tangan lainnya memegang timbangan. Timbangan melambangkan pertimbangan sebelum mengambil keputusan, sementara pedang melambangkan aksi yang diambil. Mata yang ditutup? Simbol bahwa keadilan itu adalah masalah rasa, bukan masalah sensoris. Asalnya dari kata hati, atau hati nurani, bukan dari panca indera. Tanpa fear and favor yang muncul akibat stimulus2 sensoris.

Gw pikir2.. bener juga ya! Kalau kita sudah melihat penderitaan orang lain, mendengar keluhan orang lain.. sedikit banyak kita sudah terdistorsi. Padahal, kemampuan panca indera kita terbatas. Adakah pendapat kita murni adanya? Atau jangan2 semua pendapat kita itu udah menjadi persepsi belaka, yang sangat dipengaruhi berbagai faktor. Cuma masalah mana persepsi yg mendekati mainstream, maka yang agak jauh di titik ekstrim. Tapi tetap tidak menjamin kemurniannya.

Nah.. kalau pendapat kita aja udah nggak murni, bagaimana bisa bersikap adil ya? Bukankah untuk bersikap (baca: berperilaku) adil, maka kita harus melalui sebuah proses pertimbangan dulu? Proses yang melibatkan banyak kalkulasi dengan menggunakan pendapat2 pribadi kita? Seperti Dewi Keadilan kan; sebelum mengayunkan pedang, dia harus menggunakan timbangannya dulu? Lha, bagaimana jika timbangan kita udah nggak murni lagi? Bisakah kita berbuat adil?

Dan gw mulai mikir2 lagi: iya ya, keadilan sendiri tuh apa?

Orang2 punya definisi sendiri tentang keadilan. Buat sekelompok orang, yang namanya adil tuh sama rata sama rasa. Apa pun kemampuannya, apa pun kontribusinya, maka yang didapatnya juga sama dengan orang yang kemampunnya lebih tinggi dan kontribusinya lebih banyak. Tapi pada sekelompok orang lain, yang namanya keadilan itu adalah jika orang mendapatkan sesuatu sesuai dengan proporsi kontribusinya. Nggak sama rata sama rasa, ada yang dapat lebih dan ada yang dapat kurang, malah ada yang nggak dapat sama sekali. Tapi semua itu disesuaikan dengan kontribusinya.

Nah.. mana keadilan yang sebenarnya? Gw yakin keadilan versi 1 dan keadilan versi 2 sama2 ada pendukungnya. Masing2 pendukung sama2 punya argumentasi yang baik, dan sama2 memiliki logika yang tepat. Tapi mana yang paling dekat dengan construct keadilan yang sebenarnya?

Pertanyaannya.. kalau keadilan sendiri sebuah konsep abstrak, yang bisa berbeda pada tiap orang, bisakah kita menggunakan keadilan sebagai argumen untuk melarang atau melegalkan sesuatu? Jangan2 kembali ke pertanyaan awal: keadilan versi siapa nih, yang mau dipakai? Jangan2 kita udah ribut bilang si A melakukan ketidakadilan pada si B, eeeh.. ternyata si B ngerasa fine2 aja, karena pendapatnya tentang keadilan sama dengan si A (dan berbeda dengan kita).

Makanya, kalau gw sendiri sih nggak mau meributkan masalah keadilan. Karena keadilan itu selalu punya dua sisi. Adil menurut si A belum tentu adil menurut si B. Keadilan yang sebenarnya, gw nggak tahu. Gw rasa keadilan yang sebenarnya baru bisa didapat jika kita menutup mata seperti sang dewi, kemudian membiarkan timbangan dan pedang itu bergerak sendiri. Berharap bahwa hati kita cukup peka untuk menimbang sedekat2nya dengan keadilan yang hakiki, sehingga keputusan mengayunkan pedang adalah keputusan yang sebaik2nya.

Atau.. mendingan kita nggak usah melakukan apa2 saja ya, karena takut bahwa kita nggak bisa adil? Hehehe.. Bisa juga sih. Pilihannya kan dua: melakukan suatu aksi, yang pastinya nggak mungkin memuaskan atau menguntungkan semua orang. Atau.. tidak melakukan apa2, sehingga tidak merugikan siapa2, tapi juga mungkin tidak memberi manfaat apa2 ;).

Nggak tahu ah! Gw sendiri pusing sama konsep keadilan.. HAHAHAHA..

BTW busway.. posting sekali ini tentang keadilan lho ya.. ;-) Tapi kalau mau mengaitkan dengan poligami Aa Gym ya monggo2 saja ;-). Soalnya kemarin gw juga posting tentang idola, dengan Aa Gym & Siti Nurhaliza sebagai konteksnya, tetap juga pada rame2 ngomentarin poligami si Aa.. ;-). Dan.. ohya, biarpun gw udah upload posting baru, ngomentarin posting sebelumnya, Ketika Aa Gym Kawin Lagi, juga masih boleh.. ;-)

*Komentar iseng gw: hebat, euy, si Aa.. bikin posting gw jadi box office.. HAHAHAHA..*

Tuesday, December 05, 2006

Ketika Aa Gym Kawin Lagi

Sebenarnya mau gw kasih judul: Ketika Aa Gym Kawin Lagi dan Siti Nurhaliza Dinikahi Duda Kaya. Tapi kayaknya kepanjangan deh! Makanya gw pilih yang paling aktual aja deh ;-) Ntar gw ceritain kenapa Aa Gym gw sandingkan dengan Encik Siti, bukan sama anggota DPR yang baru melansir MPEG Porno atau menteri yang juga baru kawin lagi.

Uhm.. gw nggak pingin ngebahas poligami. Bosen! Kan udah pernah gw bahas ;-) Gw lebih tertarik ngebahas reaksi orang2 terhadap perkawinan kedua Aa Gym yang bombastis. Baca aja berita di sini. Ada ibu2 yang sampai nangis gara2 nggak rela; sampai si Aa bertanya apakah kalau Teh Nini (istri pertamanya) rela, maka si ibu jadi lebih rela?

UPDATE 6 Desember 2006, SMS dari ibu2 forward-an teman gw, Agnes, menambah daftar petisi anti perkawinan kedua si Aa:

Msh byk jln mcari pahala. Tdk perlu dgn bpoligami, krn pasti ada yg tsakiti. Dan adil hny milik Allah & para nabi. Hilang sdh teladan suami yg baik dimata ibu2. Mshkah kita mau mdengar ceramahnya ttg kel sakinah?? (dr ibu2 sel. Ind yg kecewa)

Intinya semua menyayangkan tindakan Aa Gym. Menyayangkan, marah, nggak rela.. bukan seperti reaksi ketika mendengar Pak Menteri kawin lagi atau Puspowardoyo buka cabang baru (baca: punya istri baru), yang umumnya sekedar mencela: dasar laki2!, atau malah bikin lelucon tentang perkawinan baru itu.

Kenapa giliran Aa Gym kawin lagi, reaksinya beda?

Well.. karena Aa Gym sudah jadi tokoh panutan buat sebagian orang. Dan jika seorang tokoh panutan melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan gambaran ideal yang ada di benak masing2 orang, maka emotional blow-nya akan lebih terasa. Kalau kita menjumpai ketidaksempurnaan pada sesuatu yang kita anggap sempurna, maka kita cenderung lebih kaget dan sedih daripada menjumpai cacat pada sesuatu yang memang kita anggap barang apkiran ;-).

Gw nggak berhasil nemu literatur online tentang proses pembentukan idol. Tapi di salah satu buku kuliah gw dulu pernah dijelaskan bahwa idola terbentuk ketika kita menganggap seseorang ideal karena menunjukkan satu/sekelompok atribut yang sesuai dengan atribut ideal yang kita miliki. Ini masalah persepsi, bukan kenyataan bahwa seseorang itu ideal. Kita hanya menganggapnya ideal.

Masalahnya, kita selalu lupa bahwa keidealan seorang idola itu hanya ada di persepsi kita. Itu hanya persepsi kita berdasarkan satu/sekelompok atribut ideal versi kita yang kita lihat ada padanya. Dalam kenyataannya, dia hanya orang biasa yang punya pikiran, perasaan, dan sistem nilai sendiri yang membuat versinya tentang keidealan berbeda dengan versi kita. Dengan demikian ada suatu titik dimana mau nggak mau perbedaan ini terlihat. Sesuatu yang wajar, sebenarnya, karena memang sejak awal si idola adalah dirinya sendiri, bukan representasi dari sosok ideal yang ada di benak kita. Tapi.. lantaran kita sudah menganggap si idola ini kongruen, sama dan sebangun, dengan sosok ideal di benak kita, jadinya kita terkaget2 melihat ketidakidealannya.

Ini yang terjadi pada Aa Gym. Terlanjur terlalu banyak orang yang lupa bahwa dia adalah Aa Gym dengan segala pikiran, perasaan, dan sistem nilai pribadinya. Terlalu banyak orang yang sudah menganggap Aa Gym adalah representasi dari sosok ideal di benaknya. Entah dilihat sebagai sosok manusia ideal, sebagai sosok suami ideal, sosok laki2 ideal.. they see him as anything ideal ;-) Tak heran mereka merasa sedih, marah, dan dikhianati ketika ternyata si idola hanyalah manusia biasa yang punya cara pandang berbeda ;-).

IMAO, bukan Aa Gym yang mereka tangisi atau sesali, tapi diri mereka sendiri.. atau tepatnya kematian sosok ideal yang ada di benak mereka ;-) Persis kata ibu2 di SMS tadi: Hilang sudah teladan suami yang baik di mata ibu2 ;-) The death of god would [always] lead to unparalled despair and panic, demikian kata Karen Armstrong dalam A History of God.

*note: kata god gw tulis dengan huruf kecil, mengacu pada dewa dan idola yang sering disebut sebagai god, untuk menghindari kerancuan dengan kata Tuhan ;-) Gw cuma meminjam konsep dan kutipannya Armstrong, bukan isi buku Armstrong secara keseluruhan yang memang membicarakan Tuhan*

Itu sebabnya, reaksi terhadap Aa Gym lebih heboh dan emosional daripada terhadap kasus poligami lainnya. Lebih mirip dengan reaksi sekelompok masyarakat beberapa bulan lalu ketika Siti Nurhaliza dinikahi Datuk K ;-). Banyak cowok2 yang ngakunya patah hati, termasuk adik ipar gw, ketika pilihan hati Siti tidak sesuai dengan bayangannya tentang pilihan hati seorang gadis yang ideal ;-).

Siti, bagi sekelompok orang, adalah sosok entertainer ideal. Gadis yang menekuni bidang entertainment dengan baju yang selalu tertutup. Tidak seperti banyak bintang kita yang suka jualan KFC (baca: mau paha atau dada ;-)). Siti tidak dilihat lagi sebagai Siti, seorang dara Malaysia yang dibesarkan dalam budaya Melayu yang kental; dimana berbusana tertutup adalah default, bukan option. Dengan demikian Siti bukanlah entertainer yang ideal, bukan manusia ideal atau gadis ideal, melainkan sekedar gadis manis yang mengikuti arus budayanya dan kebetulan menjadi entertainer ;-). Dan sebagai gadis manis penurut, apa anehnya jika pilihannya terhadap suami adalah pilihan yang merupakan cermin mantu ideal (baca: punya bibit, bebet, bobot yang bisa dibanggakan keluarga besar), bukan pilihan wanita pada umumnya tentang suami ideal ;-)?

Well.. at the end of the day, yang paling tepat memang seperti apa yang dikatakan Aa Gym di sini:

Dengan episode ini ada yang menganggap Aa tak tepat jadi panutan lagi semoga bisa mencari dan menemukan panutan. Aa mohon maaf sekali jika ada hal yang tak berkenan.

Panutan, idola, memang sekedar ada di benak kita. Boleh2 saja cari tokoh panutan, cari idola.. tapi tetap ingat bahwa dia bukan representasi dari sosok ideal kita. Mereka hanya manusia dengan pikiran, perasaan, dan sistem nilainya sendiri. Jadi jangan kaget atau menyalahkan jika sosok idola kita melakukan hal2 yang menurut kita tidak tepat ;-). Kondisi mereka berbeda dengan kita, pertimbangan mereka berbeda dengan kita. Dan yang paling penting: apa yang mereka anggap benar dan ideal mungkin berbeda jauh dengan kita.

*Udah ah, gw mau makan siang. Jam makan siang hampir habis gara2 nge-blog ;-)*