Wednesday, December 13, 2006

Orang Campur Ikut Luar

Ini apaan sih, orang campur ikut luar?

Itu gerutuan standardnya temen gw, Rulas, kalau ada orang yang tahu2 nimbrung. Entah nimbrung ikutan nyanyi *maklum, kantor kami adalah kantor yang riang gembira, selalu bekerja sambil bernyanyi. Jenis lagunya bisa apa aja, tergantung siapa yang mulai ;-)*, nimbrung nyomot makanan *ohya, kantor kami biasanya kelebihan beli kue untuk menjamu responden, sehingga sering ada upeti di salah satu meja researcher ;-)*, atau nimbrung2 lainnya. Memang sih ungkapan ini sekedar canda, tapi gw sering geli melihat bagaimana kekacauan kalimat tersebut merepresentasikan kekacauan yang terjadi saat orang luar ikut campur. Yaah.. sebelas-duabelas lah sama hobi gw ngomong Jaka Sembung main gitar, nggak nyambung, jreng jreng.. dimana ke-tidakberima-an sampiran dan isi pantun tersebut menegaskan ke-tidaknyambung-an yang gw komentari ;-).

Ikut campurnya orang luar memang selalu bikin keadaan tambah runyam. Kadang, malah si orang luar itu yang bikin runyam keadaan yang sudah aman terkendali. Skripsi gw dulu mengeksplorasi psychological well-being wanita dewasa muda yang orang tuanya bercerai ketika dia masih kanak2. Skripsi itu dibuat pertengahan 1990-an; jadi perceraian ortu subyek gw terjadi dekade 80-an, dimana broken home [masih] diasosiasikan sangat kuat dengan kurang kasih sayang orang tua dan narkoba. So, subyek penelitian gw adalah survivors yang berhasil lepas dari stigma tersebut.

Nah.. gw ingat salah seorang subyek skripsi gw berkata kurang lebihnya begini:

Pisahnya mama-papa, biarpun bikin sedih, tapi sudah lumayan siap, Mbak. Proses persidangannya kan lama, jadi kita sudah siap2 juga. Memang ada rasa kehilangan, tapi toh gw masih bisa ketemu papa kapan aja. Cuma bedanya gw harus milih kalau pergi sama papa atau sama mama, nggak bisa sama papa-mama. Yang lebih berat tuh sebenernya ngadepin orang2 luar, Mbak! Tetangga2 yang tadinya nggak begitu kenal sama kita, tiba2 super ramah. Kalau kita pulang sekolah, tiba2 suka nyapa, ngajak mampir.. buntut2nya cuma nanya papa tinggal dimana, mama sekarang sama
siapa, bayar sekolah kita gimana.. pokoknya, hal2 yang sebenernya bukan urusan mereka banget deh! Dasar tukang gosip! Belum lagi tiba2 ada ibu2 yang ngelarang anaknya main sama kita, karena mama janda. Dibilang kalau sering main ke rumah, nanti papanya diambil sama kita. Ini yang bikin gw akhirnya males bergaul sama orang2. Mendingan di rumah aja, atau main sama teman2 sekolah.

Runyamnya keadaan karena campur tangan orang luar juga gw lihat dalam tayangan infotainment beberapa waktu lalu saat Tamara Bleszynski menangis tanpa air mata lantaran tidak bisa bertemu anaknya lagi. Gw bilang menangis tanpa air mata, karena kelihatan banget Jeng Tamara sedih luar biasa. Kurang lebihnya Jeng Tam bilang bahwa sebelumnya si anak baik2 saja, hanya menelepon dan berkata bahwa dia masih ingin dengan ayahnya, namun tiba2 saja keadaan berbalik ketika Komnas Perlindungan Anak melakukan intervensi.

Saya juga bingung. Saya tidak mau menyerahkan anak saya, katanya saya mau dipenjara. Sekarang, anak saya diserahkan, saya juga mau dipenjara juga, katanya saya suka memukul anak saya. Kapan saya memukul anak saya? Kalau memang memenjarakan saya adalah jalan yang terbaik, lebih baik penjarakan saya. Saya rela demi anak saya.

Demikian tangis seorang ibu yang tidak bisa lagi menjumpai anaknya. Karena orang luar yang ikut campur mengatakan (atau memutuskan?) bahwa sang ibu tidak cukup baik bagi anaknya.

Gw jadi pingin menyoroti tentang ikut campur ini setelah kemarin menerima email berikut:

From: -deleted-

Sent: 11 Desember 2006 10:15

Subject: Please read this

Ini saya dapat dari teman saya. Menarik untuk dilihat ketika Aa Gym menganggap bahwa yang membuat sedih istri pertamanya hanyalah pemberitaan atas poligaminya. Dan bukan ketika Aa memutuskan untuk berpoligami. Mungkin dia menganggap bahwa teh ninih menangis hanya ketika berita ini turun dan bukan ketika Aa sendiri menikah dengan orang lain.

Happy reading
-----
ini kesaksian wartawan detik com. atas permintaannya, ini off the record.

–DELIBERATELY DELETED UNTIL THE END OF EMAIL-

Tulisan selanjutnya nggak gw baca, dan tidak ingin gw tampilkan di sini. Gw nggak perduli apakah kesaksian ini benar, mengandung kebenaran walaupun agak terbelokkan di sana2 (dengan sengaja ataupun tidak sengaja), atau sekedar rekayasa memanfaatkan momentum. Yang gw tahu: menyebarkan tulisan2 seperti ini cuma bikin lebih runyam.

Bisa jadi asumsi2 dalam tulisan pengantar dari teman gw itu benar: mungkin si istri bukan hanya sedih lantaran pemberitaan poligaminya, mungkin si istri sedih sejak si suami memutuskan poligami. Mungkin si istri menangis karena suaminya berpoligami, bukan hanya ketika berita ini turun.. Ini asumsi2 yang sangat mungkin benar, tapi kita tidak tahu apakah ini benar.

Tapi yang jelas ada satu hal yang benar: jika gw men-forward tulisan seperti ini, si istri/keluarga akan memiliki satu alasan lagi untuk menangis. Hal itu akan membuat keadaan yang [mungkin] sudah terkendali menjadi runyam. Seperti para tetangga subyek skripsi gw yang malah bikin subyek gw jadi tertutup. Seperti [dengan asumsi kata2 Jeng Tam benar atau setidaknya mengandung kebenaran] Komnas Perlindungan Anak yang justru membuat pembagian custody Tamara-Rafly menjadi runyam.

Gw tidak ingin menjadi orang campur yang ikut luar ;-). Apalagi ketika sumber beritanya tidak jelas.. karena menurut gw orang yang berani menyebarkan kesaksian tapi minta kesaksiannya off the record masih perlu ditelaah lagi keabsahan beritanya. Pada hakikatnya, saksi itu diperlukan untuk membuat segala sesuatu menjadi jelas. Kalau saksinya sendiri tidak jelas, bagaimana bisa membuat yang lain jelas?

So, instead of saying Happy Reading and forwarding the Please Read This email, gw lebih baik bikin seruan baru: if you care, tunjukkan support Anda pada si istri/keluarga dengan tidak menjelekkan nama suami/ayahnya. Kalau Anda tidak bisa mengurangi penderitaannya, setidaknya jangan tambahi penderitaannya :-)

*hehehe.. maaf buat yang bosen ya.. habis emotional push gw masih menggelegak. Tapi yang penting inti ceritanya beda2 kan.. HAHAHAHA.. ;-)*

PS: Setelah nge-post, dan merespons komentar Zilko, gw baru ingat Neng Yanti belum lama ini menelurkan tulisan bagus tentang fitnah dan ghibah yang sama jeleknya ;-). Mungkin apa yang gw anggap emotional push sebagian adalah jejak ingatan gw tentang posting ini ;-) Nah.. sekarang baru gw bisa bilang: Happy Reading ;-)