Monday, December 18, 2006

Cinta Pertama: Fast-forward Seorang Gadis Remaja

Salah satu resiko memperlakukan anak sebagai manusia dewasa kecil adalah: seleranya juga sudah selera remaja walaupun umurnya baru 7 tahun ;-). Ima tidak tertarik nonton Open Season atau Cars, tapi merengek2 minta nonton Cinta Pertama. Sudah sejak iklannya muncul di TV Ima minta nonton, dan makin menjadi2 setelah melihat novel adaptasinya Tante Okke ada di meja ibunya ;-).

***

Well.. waktu gw baru baca novelnya, spontan gw mengomentari sang penulis via SMS. Komentarnya bukan komentar manis, tapi mempertanyakan sejauh mana dia dapat kebebasan dalam bermain2 dengan imajinasinya saat mengadaptasi skrip film tersebut. Maklum, walaupun bahasa novelnya Okke banget, tapi eksplorasi karakter tokoh2nya maupun kejadian2nya nggak seperti tulisan2 Okke lainnya.

*Bocoran: kebetulan gw pernah dikasih ijin ngintip dua cikal bakalnya novel Jeng Okke, plus tentunya KamarCewek dan edisi2 sepatumerah. Menurut gw kekuatan utama tulisan Jeng Okke ini adalah pada pendalaman karakter tokoh2nya. Kalau tokohnya sudah kuat karakternya, maka ceritanya pun menjadi lebih logis dan membumi ;-)*

OK, gw cerita dulu sinopsis novelnya, ya ;) Cinta Pertama bercerita tentang Wulan, yang didiagnosa menderita kanker otak sehari setelah pertunangannya dengan Abimanyu. Wulan tidak pernah sadar lagi hingga meninggal beberapa hari kemudian. Yang tersisa buat Abi hanyalah sebuah buku harian Wulan semasa SMA; buku harian yang baru diisinya kembali pada malam pertunangan. Dari buku itu Abi mengetahui tentang Surya, cinta pertama Wulan semasa SMA. Menyadari perasaan Wulan pada Surya, Abi pun lantas mencari Surya untuk membahagiakan Wulan; supaya Wulan bisa bertemu dengan Surya untuk terakhir kali.

Dengan kerangka seperti ini, gw terbayang Okke (seandainya dia punya kebebasan penuh) akan mengeksplorasi dinamika keterkejutan Abi mengetahui ada pria lain yang begitu bermakna bagi Wulan dan mengeksplorasi bagaimana sebuah cinta SMA menjadi begitu bermakna sehingga membuat Wulan bimbang di hari pertunangannya. Cinta Wulan dan Abi adalah cinta dewasa. Cinta yang sudah selangkah lagi ke pernikahan, tentunya sudah melibatkan logika yang tidak akan mudah terbimbangkan hanya dengan kenangan manis cinta SMA. Kecuali.. jika ada yang signifikan pada cinta SMA itu.

Memang, sedikit tereksplorasi di halaman 69, ketika Abi berkontemplasi bahwa dia tidak pernah mengajak Wulan bermain gerimis seperti yang dilakukan Surya. Padahal Wulan sangat menyukai gerimis yang dianggapnya lebih romantis daripada hujan. Namun, ini adalah sesuatu yang wajar, bukan? Wajar jika gaya pacaran seseorang ketika SMA berbeda dengan pacaran yang menuju ke jenjang pernikahan. Dating is always different from going steady, sebagian karena kematangan kita sebagai manusia juga bertambah. So, jika Wulan sampai begitu bimbang di malam pertunangannya, hingga membuka lagi buku harian semasa SMA, tentu ada sesuatu yang amat sangat spesial dengan hubungan saat SMA itu.. kecuali jika Wulan mengalami keterbelakangan mental sehingga terfiksasi pada cinta romantis semasa SMA ;-).

Ketika seorang wanita memutuskan untuk menikah dengan seorang pria, pertimbangannya rasionya selalu lebih besar daripada pertimbangan romantisnya.. Ini masa dimana romantisme adalah bonus, bukan pertimbangan utama.

Mungkin, karena gw sudah menikah bertahun2 lalu, dan meninggalkan masa SMA satu setengah dasa warsa yang lalu, *gila.. am I really that old? HAHAHAHA.. * gw jadi merasa ada sesuatu yang nggak pas di sini. Masa2 yang dilalui Wulan & Surya memang indah, dan akan tetap menjadi kenangan indah seumur hidup Wulan. Tapi.. dari apa yang digambarkan, gw ragu masa2 itu cukup signifikan untuk membuat Wulan bimbang di ambang pernikahan. Ketika seorang wanita memutuskan untuk menikah dengan seorang pria, pertimbangannya rasionya selalu lebih besar daripada pertimbangan romantisnya. Dia bisa mempertimbangkan apakah dengan menikahi pria ini dia menyenangkan orang tuanya, apakah pria ini mampu menghidupi dia dan anak2 mereka, apakah pria ini bisa menjadi partner dalam menjalani hidup ini,.. dan banyak pertanyaan logika lainnya. Ini masa dimana cinta menjadi dasar, tapi tidak menjadi segalanya; saat dimana romantisme adalah bonus, bukan pertimbangan utama.

Hal lain yang menurut gw kurang tereksplorasi adalah reaksi Abi. Rasa cemburu dan dikhianati pasti ada setelah membaca buku harian tersebut. Tapi.. kembali ke konteks bahwa Abi dan Wulan adalah dua orang dewasa yang hendak menikah: apa iya seorang pria dewasa akan mengusut tuntas siapa pria dari masa lalu itu? Seimpulsif itu tracking down alamat Surya, lantas memintanya menjenguk dan menunggui Wulan walaupun tahu Surya sudah menikah? Mendatangkan Surya mungkin akan menyenangkan Wulan. But then, so what? Mungkin malah membuat Wulan justru jengah berada di antara tunangan dan cinta pertamanya, dan yang pasti membuat istri Surya tidak nyaman.

Nah.. apakah seorang pria dewasa (wait.. DUA pria dewasa) akan seimpulsif dan tidak memikirkan resiko seperti ini? Impulsive gentlemen agreement begini memang bisa terjadi antara dua remaja pria.. tapi menjadi aneh ketika diletakkan pada konteks pria dewasa yang sudah dan akan menikah.

Well.. insight pertama yang gw dapat saat membaca novel tersebut adalah: menulis sebuah buku fiksi bukanlah sesuatu yang mudah. Tidak cukup hanya dengan perbendaharaan kata yang banyak saja; tapi juga harus punya sense untuk merangkaikan kata2 sehingga benar2 menggambarkan nuansa cerita dan membawa pembaca melebur dalam kehidupan tokoh2nya. Menulis sebuah buku fiksi menjadi lebih sulit ketika ceritanya didasarkan pada script film yang sudah hampir tayang. Sang penulis tidak bisa sepenuhnya memainkan imajinasi dan kata2, karena sebelah tangannya terbelenggu pada cerita yang sudah baku.

Namun kemudian punya pikiran lain ;-). Buku ini memang ditulis sebagai flashback kehidupan orang2 dewasa (Abi dewasa, Wulan dewasa, dan Surya dewasa). Gw juga membaca juga sebagai seorang perempuan dewasa. Sementara.. tampaknya target pembaca utama dari buku (dan film) ini adalah gadis2 remaja. Jadi.. bukan buku (dan film)nya yang salah, tapi cara pandang gw.. hehehe.. Dalam membaca buku (dan menonton film) ini dibutuhkan kacamata remaja: remaja yang sedang mengalami cinta pertama di SMA, yang menganggap cinta pertamanya ini adalah segala2nya, dan percaya bahwa first love never dies. Kacamata remaja yang memproyeksikan bahwa jika cinta ini tidak berlanjut, maka di titik krusial kelak (baca: beberapa saat sebelum menikah), love will lead you back.. ;-) Buku ini tidak boleh dibaca sebagai flashback Wulan-Surya, tapi dibaca sebagai fast forward Wulan-Surya ;-).

Dalam membaca buku (dan menonton film) ini dibutuhkan kacamata remaja.. yang memproyeksikan bahwa jika cinta ini tidak berlanjut, maka di titik krusial kelak, love will lead you back

Ketika gw mencoba meletakkan diri gw sebagai anak SMP atau SMA, dengan mengingat masa2 remaja gw, well.. maka apa yang gw pertanyakan di atas tadi tidak jadi muncul. Jika gw anak SMP atau SMA, maka Abi adalah orang yang membosankan, karena tidak pernah mau mengajak cewek main hujan2an. Abi terlalu serius, workaholic, selesai tunangan jam 1 malam pun besoknya ngeyel masuk kantor nggak mau cuti. Sementara Surya adalah pria idola sejati; jago basket, pintar, cool, dan romantis. Jika gw anak SMP atau SMA, gw juga akan pejah gesang ndherek Surya (hidup matiku untuk Surya).. dan akan terbayang oleh gw bahwa jika Surya mencampakkan gw, gw akan merana seumur hidup, sehingga ketika akan menikah pun gw bimbang karena teringat Surya.

Hehehe.. gw inget ketika nonton Eiffel, I’m in Love di TV beberapa waktu lalu. Gw complain pada adegan Samuel Rizal sudah mempersiapkan kamar serba putih dengan taburan bunga mawar putih untuk Shandy Aulia. Menurut gw lompatan kepribadiannya agak jauh, dari tokoh yang super cuek menjadi super romantis. Lagian, apa kata ortunya Sammy nanti, lihat putranya berlaku begitu? Cowok seusia itu biasanya takut banget ketahuan nggak cool sama ortunya.. hehehe.. Tapi lantas gw dicela sama bapaknyaima: kalo mau nonton film remaja, berpikirlah sebagai remaja, jangan sebagai ibu2 ;-) Dan yup! Buat remaja SMP, kejutan seperti ini adalah their ultimate dream ;-) Buat remaja SMP, perilaku Sammy mah wajar2 aja.. malah gw yang kelewat rese mempertanyakan apa yang harusnya tidak dipertanyakan.. hehehe..

Jika kasusnya memang seperti ini, berarti Okke sudah berhasil dengan baik menterjemahkan cerita film ini ke dalam sebentuk novel remaja.

***

Menonton filmnya kemarin, gw jadi semakin yakin bahwa kacamata yang gw pakai saat membaca novel Okke itu salah. Harusnya gw pakai kacamata remaja, tapi malah pakai kacamata remako (= Remaja Kolot, istilah tahun 80-an saat gw masih remaja.. halah!).

Dalam bahasa gambar, makin terlihat betapa film ini bukanlah flashback orang dewasa, melainkan fast forward seorang gadis remaja. Pernyataan Surya (dalam film namanya diganti jadi Sanny, mungkin biar match sama OST-nya yang berjudul Sunny) pada istrinya bahwa dia-memilikiku-di-masa-lalu-kau-memilikiku-di-masa-kini-dan-yang-akan-datang.. bener2 merupakan cita2 romantis-egois seorang gadis remaja. Juga adegan ketika Surya mencium pipi Alia (nama Wulan di film) dan mengakui bahwa sejak dulu dia sudah ingin melakukannya, sayang dia tidak tahu bahwa Alia juga mencintainya.. ini juga penegasan dari khayalan gadis remaja terhadap apa yang terjadi di masa depan jika cinta kandas di tengah jalan. Dua adegan ini [CMIIW] sudah dipangkas dari novel adaptasinya ;-)

Setidaknya, novel adaptasi itu masih menyisakan beberapa bentuk logika dan tidak terlalu menye2 seperti filmnya ;-) Novelnya masih menyajikan sedikit elaborasi tentang Abi yang menyadari bahwa dirinya terlalu serius, kurang fun dalam berpacaran dengan Wulan (baca: kurang memenuhi need for romantism Wulan ;-)).

*Walaupun, teteup deh, Kke, kalau loe bikin jadi 300 halaman dengan memperkuat penokohan tokoh2nya, gw bakal lebih suka lagi sama tuh novel.. HAHAHAHA.. tapi ntar anak2 SMP gak bakal beli kali yeee.. karena novelnya jadi kelewat serius ;-)*

Anyway.. lepas dari novel dan filmnya, gw jadi teringat sebuah lagu yang dulu merupakan lagu favorit gw.

Maybe first love never ever dies
That’s why I’m still in love with you
Hold me close and look into my eyes
And tell me you don’t feel it too
The way it used to be when you told me
It would be forever, you and me together

And, we never really said goodbye
We never really said it’s over
We never really said goodbye
First love never dies
When I saw you I could hardly speak
You’re just as beautiful as ever babe
I guess it’s still the same mystique
First love never dies

(First Love Never Dies, Eugene Wilde and Joanna Wilder)

Dulu gw nggak tahu nama penyanyinya lho, baru tahu setelah googling cari syair online-nya. Ternyata nama belakang penyanyinya lucu ya, nyambung banget: Wilde dan Wilder ;). Mengingatkan gw pada Dumb and Dumber

Update 19 Desember 2006:

Lupa menuliskan bahwa waktu gw nonton sama Ima, bioskopnya penuh nuh, didominasi oleh remaja2 pacaran. Yaah.. kira2 seumuran SMU deh! Dan tidak ada pasangan yang keluar sebelum filmnya habis. Ini indikasi bahwa cerita ini diterima dengan baik oleh mereka