Thursday, December 07, 2006

Dewi Keadilan pun Menutup Mata

Sekitar setahun lalu gw membaca catatan pinggir Goenawan Mohammad di majalah Tempo. Lupa edisi berapa tepatnya, tapi isinya tentang keadilan. Salah satu paragrafnya membahas tentang Dewi Keadilan, yang dipatungkan sebagai wanita yang ditutup matanya, sebelah tangan memegang sebilah pedang dan tangan lainnya memegang timbangan. Timbangan melambangkan pertimbangan sebelum mengambil keputusan, sementara pedang melambangkan aksi yang diambil. Mata yang ditutup? Simbol bahwa keadilan itu adalah masalah rasa, bukan masalah sensoris. Asalnya dari kata hati, atau hati nurani, bukan dari panca indera. Tanpa fear and favor yang muncul akibat stimulus2 sensoris.

Gw pikir2.. bener juga ya! Kalau kita sudah melihat penderitaan orang lain, mendengar keluhan orang lain.. sedikit banyak kita sudah terdistorsi. Padahal, kemampuan panca indera kita terbatas. Adakah pendapat kita murni adanya? Atau jangan2 semua pendapat kita itu udah menjadi persepsi belaka, yang sangat dipengaruhi berbagai faktor. Cuma masalah mana persepsi yg mendekati mainstream, maka yang agak jauh di titik ekstrim. Tapi tetap tidak menjamin kemurniannya.

Nah.. kalau pendapat kita aja udah nggak murni, bagaimana bisa bersikap adil ya? Bukankah untuk bersikap (baca: berperilaku) adil, maka kita harus melalui sebuah proses pertimbangan dulu? Proses yang melibatkan banyak kalkulasi dengan menggunakan pendapat2 pribadi kita? Seperti Dewi Keadilan kan; sebelum mengayunkan pedang, dia harus menggunakan timbangannya dulu? Lha, bagaimana jika timbangan kita udah nggak murni lagi? Bisakah kita berbuat adil?

Dan gw mulai mikir2 lagi: iya ya, keadilan sendiri tuh apa?

Orang2 punya definisi sendiri tentang keadilan. Buat sekelompok orang, yang namanya adil tuh sama rata sama rasa. Apa pun kemampuannya, apa pun kontribusinya, maka yang didapatnya juga sama dengan orang yang kemampunnya lebih tinggi dan kontribusinya lebih banyak. Tapi pada sekelompok orang lain, yang namanya keadilan itu adalah jika orang mendapatkan sesuatu sesuai dengan proporsi kontribusinya. Nggak sama rata sama rasa, ada yang dapat lebih dan ada yang dapat kurang, malah ada yang nggak dapat sama sekali. Tapi semua itu disesuaikan dengan kontribusinya.

Nah.. mana keadilan yang sebenarnya? Gw yakin keadilan versi 1 dan keadilan versi 2 sama2 ada pendukungnya. Masing2 pendukung sama2 punya argumentasi yang baik, dan sama2 memiliki logika yang tepat. Tapi mana yang paling dekat dengan construct keadilan yang sebenarnya?

Pertanyaannya.. kalau keadilan sendiri sebuah konsep abstrak, yang bisa berbeda pada tiap orang, bisakah kita menggunakan keadilan sebagai argumen untuk melarang atau melegalkan sesuatu? Jangan2 kembali ke pertanyaan awal: keadilan versi siapa nih, yang mau dipakai? Jangan2 kita udah ribut bilang si A melakukan ketidakadilan pada si B, eeeh.. ternyata si B ngerasa fine2 aja, karena pendapatnya tentang keadilan sama dengan si A (dan berbeda dengan kita).

Makanya, kalau gw sendiri sih nggak mau meributkan masalah keadilan. Karena keadilan itu selalu punya dua sisi. Adil menurut si A belum tentu adil menurut si B. Keadilan yang sebenarnya, gw nggak tahu. Gw rasa keadilan yang sebenarnya baru bisa didapat jika kita menutup mata seperti sang dewi, kemudian membiarkan timbangan dan pedang itu bergerak sendiri. Berharap bahwa hati kita cukup peka untuk menimbang sedekat2nya dengan keadilan yang hakiki, sehingga keputusan mengayunkan pedang adalah keputusan yang sebaik2nya.

Atau.. mendingan kita nggak usah melakukan apa2 saja ya, karena takut bahwa kita nggak bisa adil? Hehehe.. Bisa juga sih. Pilihannya kan dua: melakukan suatu aksi, yang pastinya nggak mungkin memuaskan atau menguntungkan semua orang. Atau.. tidak melakukan apa2, sehingga tidak merugikan siapa2, tapi juga mungkin tidak memberi manfaat apa2 ;).

Nggak tahu ah! Gw sendiri pusing sama konsep keadilan.. HAHAHAHA..

BTW busway.. posting sekali ini tentang keadilan lho ya.. ;-) Tapi kalau mau mengaitkan dengan poligami Aa Gym ya monggo2 saja ;-). Soalnya kemarin gw juga posting tentang idola, dengan Aa Gym & Siti Nurhaliza sebagai konteksnya, tetap juga pada rame2 ngomentarin poligami si Aa.. ;-). Dan.. ohya, biarpun gw udah upload posting baru, ngomentarin posting sebelumnya, Ketika Aa Gym Kawin Lagi, juga masih boleh.. ;-)

*Komentar iseng gw: hebat, euy, si Aa.. bikin posting gw jadi box office.. HAHAHAHA..*