Sunday, October 11, 2009

The Princess and the Plea

There was once a prince, and he wanted a princess, but then she must be a real Princess.

(dari kisah The Princess and the Pea)

***

Pernah baca cerita itu? Tentang "putri sejati" yang kesejatiannya ditentukan oleh sebutir kacang polong. Judul di seri Pustaka Dunia jaman gw kecil dulu "Putri dan Kacang Polong", bukan "Ibu Kita Kartini" - meskipun yang terakhir itu juga disebut "putri sejati, putri Indonesia, harum namanya" ;-)

Entah apakah dongeng ini sudah kelewat jadul, kayaknya Putri Indonesia kita kayaknya belum sempat baca. Padahal dia kuliahnya di jurusan Sastra .. hehehe... Atau mungkin pernah baca juga sih, tapi tidak dicamkan baik2 di benaknya. Makanya, dia nggak tahu bahwa untuk menjadi "putri sejati" itu tidak identik dengan memenangkan kontes Putri Indonesia ;-)

Oh, nggak, gw nggak akan mulai berkhotbah tentang betapa terkutuknya dia karena membuka "aurat"-nya demi memenangkan kontes ini ;-) Gw mau ngomentarin the aftermath-nya yang dimuat di Kompas, 25 Oktober 2009, halaman 25 ini aja:

"Saya grogi waktu itu, jadi salah menjawab. Maksud saya mau bilang, saya bukan melepas jilbab, tetap memang dari kecil saya tidak pernah pakai jilbab," jelas Qory dalam percakapannya dengan Kompas pekan lalu.

"Yang saya jilbabi adalah perilaku dan kepribadian saya. Saya memiliki hak azasi, termasuk dalam beragama," tambah Qory sama seriusnya.


OK, girl, I agree with you ;-)

Gw juga nggak berjilbab, dan mungkin masih jauuuuuuhhhh perjalanan gw untuk sampai teryakinkan bahwa gw hanya boleh menunjukkan raut wajah serta telapak tangan. Buat gw, berjilbab itu arahnya harus dari dalam ke luar, bukan dari luar ke dalam ;-) Makanya gw memfokuskan dulu pada perilaku dan kepribadian gw, baru kalau sudah beres kita bicarakan lagi gw perlu menutup rambut atau enggak. Kan nggak lucu, kalau sekarang2 gw berjilbab [fisik], tapi masih hobi nyilet2 orang... hehehe... ;-)

Tapi satu hal signifikan yang membedakan gw dan Qory: gw tidak menjadi finalis Putri Indonesia mewakili NAD, daerah istimewa yang disebut Serambi Mekah serta sudah menerapkan syariah Islam. Gw adalah pribadi yang berdiri sendiri, menyuarakan sikap dan pendapat gw sendiri. Dan sebagai individu, gw boleh2 saja bersikap demikian. Gw mau misfit, mau teralienasi dari masyarakat, itu urusan gw sendiri. Asal gw siap dengan konsekuensinya, ya monggo dilanjut.

Sebaliknya, Qory kehilangan [sebagian] identitasnya sebagai individu ketika dia melangkah ke ajang pemilihan putri2an itu. Menyebut diri sebagai Wakil Aceh, membuat dia punya kewajiban menampilkan nilai2 yang umum dianut oleh masyarakat tersebut. Dia tidak bisa lagi memakai batasan nilai2nya sendiri, karena dia adalah wakil Aceh. Bagian dari Aceh.

Keadaan akan beda jika misalnya si Qory ini mewakili DKI Jakarta. Atau mewakili Jawa Barat, propinsi asal ayahnya. Haqqul yaqqin, pasti nggak akan ada yang mempermasalahkan rambutnya yang bak mayang terurai itu. Sebab, dengan mewakili DKI Jakarta atau Jawa Barat, ketidakberjibabannya ini tidak bertentangan dengan nilai2 masyarakat yang diwakilinya. She can be Qory, and she can be the representative of one of those province altogether, since there is no conflicting values between them. Tapi begitu mewakili NAD, ketidakberjibabanya menimbulkan sebuah konflik. Sebuah disonansi kognitif yang harus diselesaikan dengan mengubah sikap terhadap salah satu unsur, atau mengubah perilaku.

Ah ya! Disonansi kognitif ;-) Bahasa "dewa" kita kali ini... hehehe....

Disonansi kognitif adalah sebuah konsep yang diajukan oleh Leon Festinger. Secara umum, definisinya adalah: kondisi tertekan akibat adanya konflik dua pikiran yang bertentangan di dalam kepala kita. Konfliknya bisa berbentuk approach - avoidance (pilihan menyenangkan vs. konsekuensi tidak menyenangkan), approach-approach (dua pilihan yang sama-sama menyenangkan), maupun avoidance-avoidance (dua pilihan yang sama tak menyenangkannya). Dalam bahasa awam, disonansi kognitif ini disebut dilema. Sesuatu yang salah kaprah, karena dilema sebenarnya mengacu pada konfliknya, bukan pada kondisi psikisnya.

Dalam kasus Qory ini, gw membayangkan bahwa dia mengalami suatu disonansi kognitif berkaitan dengan perilaku yang akan dilakukannya: mengikuti pemilihan Putri Indonesia sebagai Wakil Aceh. Di satu sisi udah ngebet banget ingin ikut pemilihan Putri Indonesia, tapi di satu sisi lain kesempatannya kesempatan yang muncul adalah dengan menjadi Wakil NAD, daerah asal ibunya yang menerapkan syariah Islam. Antara ngebet jadi Putri Indonesia (approach) dengan harus menutup rambut indahnya dengan jilbab (avoidance).

Seperti kasus2 disonansi kognitif lainnya, Qory juga memiliki 3 alternatif escape route dari dilemanya ini:

  • Pertama, menyesuaikan perilaku dengan pilihan perilaku lain yang dapat mengurangi konflik tersebut.
  • Kedua, menjustifikasi perilaku yang memang ingin diambil dengan mengubah salah satu paradigma yang menyebabkan konflik tersebut.
  • Ketiga, menambahkan satu elemen kognisi untuk menjustifikasi perilaku yang memang akan kita ambil.

Alternatif pertama jelas tidak diambil oleh Qory, karena sudah jelas kita melihatnya maju sebagai Wakil NAD dengan segala pelanggarannya terhadap nilai yang dianut oleh daerah istimewa tersebut. Kalau dia mengambil alternatif pertama, dia akan meninggalkan kesempatan menjadi Wakil NAD dan mencari peruntungan di provinsi lain. Mencoba jadi wakil DKI Jakarta, atau Ja-Bar, misalnya.

*OOT: Tentang mengapa Qory tidak mengambil alternatif pertama ini, Neng Jen-Ju punya teori menarik: lha wong rebutan peran di Ketika Cinta Bertasbih 2 aja kalah dari Alice Norin, gimana dia mau jadi wakil Jakarta? HAHAHA... ;-) Tapi, Jen, Alice Norin kan juga nggak ikutan pemilihan Putri Indonesia, jadi kesempatan menang masih ada :p*

Alternatif ke-3, menambahkan elemen kognisi baru yang menjustifikasi perilaku, tampaknya merupakan solusi awal yang diambil Qory. Elemen yang ditambahkannya itu adalah "dosa" favorite sang iblis di sini... hehehe... vanity ;-) Dia menambahkan elemen kognisi bahwa rambut adalah keindahan wanita yang harus ditunjukkan, sehingga menutupnya dalam kontes ini adalah dosa besar! Elemen kognisi ini membuat ia mantap meninggalkan budaya daerah istimewa yang diwakilinya ;-)

So, sorry to say, girl, what you claimed as "jawaban yang salah karena grogi" looks perfectly like a simple slip of the tongue ;-)

Sekali menabur angin, maka akan selalu menuai badai. Demikian juga slip of the tongue ;-) Tertempa badai kritik, Neng Qory pun semakin piawai menambahkan elemen kognisi baru. Mungkin karena sudah sempat konsultasi dengan para ahli ;-)? Elemen kognisi baru yang ditambahkannya, seperti terlihat pada wawancara di Kompas, adalah: hak azasi manusia ;-)

Bukan main ;-)!

Dia tidak menyadari bahwa omongannya tentang hak azasi ini sebenarnya terlihat double standard. Dia bicara tentang hak azasinya memilih berjilbab atau tidak berjilbab. Tapi... apakah dia sadar bahwa ia melanggar hak azasi banyak warga/keturunan Aceh yang pro-syariat Islam? Apa dia sadar bahwa ia mempermalukan warga/keturunan Aceh yang bertahun2 memperjuangkan diperbolehkannya menerapkan syariat Islam di daerah istimewa mereka? Thanks to Qory dan hak azasinya, bukan tidak mungkin sekarang banyak orang akan mencemooh NAD ;-) Nilai2 yang diperjuangkan di NAD toh dilecehkan oleh wakilnya sendiri dengan alasan hak azasi ;-)

Dan... bicara tentang hak azasi, memangnya siapa yang meminta Qory jadi Wakil NAD? Apakah NAD nggak punya calon lain selain Qory? Atau NAD merasa harus ikut kontes itu sehingga mau diwakili siapa pun? Sebenarnya yang butuh ikut kontes Putri Indonesia itu Qory atau NAD sih? Hehehe... Kok jadi kayaknya Qory itu berbaik hati sekali mewakili NAD, sehingga NAD harus terima apa pun syaratnya supaya Qory "berkenan" mewakili ;-)

So, bicara tentang "salah menjawab", menurut gw klarifikasinya si Qory ini juga masih merupakan bentuk "jawaban yang salah" ;-) Wong memang nggak ada yang mempermasalahkan dia [sebagai individu] pakai jilbab atau enggak. Yang dipermasalahkan adalah karena dia tidak mengenakan jilbab saat mewakili NAD ;-)

I guess the Aceh's clerics have their point saying "Miss Indonesia Shames Us All". Bukan karena mereka mau memaksakan bahwa semua perempuan [keturunan] Aceh harus pakai jilbab dan menerapkan syariat Islam dimana pun. Toh, si Nova Eliza itu juga dari Aceh kan? Dan gw nggak pernah dengar ulama Aceh meributkan ketiaknya Nova Eliza yang kelihatan dimana2, dan boobs-nya yang selalu tercetak jelas dalam balutan kaus ketat... hehehe... Soalnya Nova Eliza tidak menyebut diri Wakil NAD, apalagi menggunakan keacehannya untuk mencapai tujuan pribadi ;-)

***

Dan hal inilah yang membuat gw teringat pada dongeng HC Andersen di atas. Menurut gw, orang yang menghalalkan segala cara untuk kesenangannya pribadi, adalah orang yang nggak punya integritas ;-) Dan dalam kasus ini, sorry to say, menurut gw Qory adalah orang seperti itu. The princess by title, indeed, but not the princess who cannot sleep when there is a pea under her piles of twenty matresses ;-) Not the real princess ;-)

Dalam lomba yang berbeda, skala yang berbeda, gw pernah melihat pameran integritas yang bertolak belakang dengan apa yang dilakukan Qory. Persis dengan Qory, dalam lomba yang "cuma" rebutan rumah seharga 1M seorang teman dihadapkan pada tantangan yang berat bagi dirinya. Tantangannya adalah mencari koin dalam daging sapi yang sudah disembelih. Tantangan yang biasa2 aja kan? Tapi coba letakkan dalam sistem nilai umat Hindu dan wakil provinsi Bali yang rata2 masyarakatnya menganut agama Hindu ;-)

Well, sampai sekarang gw juga nggak yakin bahwa si teman ini beragama Hindu... hehehe... Tapi yang jelas dia mewakili Bali. Dan dengan mantapnya saat itu dia mundur dari tantangan itu, karena, "... tidak mau menyakiti masyarakat Bali yang saya wakili". Padahal, tanpa memenangkan tantangan tersebut, kelanjutannya dalam lomba ini berada di ujung tanduk!

Now, that's what I call an integrity ;-) Tetap berada di jalan yang "benar", tidak membenar2kan apa yang nggak benar... hehehe.... Ini yang dibutuhkan dari seorang "putri Indonesia sejati", menurut gw ;-)

***

Well, in her defense, menurut gw Qory bukan satu2nya yang bersalah dalam kasus ini. After all, she's just 18. Orang dewasa di sekitarnya ikut andil bersalah.

Pembesar yang memberi ijin baginya untuk mewakili NAD tanpa pakaian tertutup jelas salah. Pembesar tersebut berarti tidak cukup peka terhadap nilai2 masyarakat yang dipimpinnya sendiri.

Tapi Yayasan Putri Indonesia juga salah. Malah salahnya jauh lebih besar. Mestinya, kalau mereka lebih peka terhadap hal2 seperti ini, udah nggak perlu lagi lah bikin kuota bahwa finalis harus mewakili provinsi2 tertentu. Tetapkan aja jumlah finalisnya berapa, lantas semua orang boleh memperebutkan jumlah kursi tersebut.

Ide bahwa seorang finalis bisa mewakili provinsi tertentu berdasarkan garis darah semenda, tempat lahir, atau tempat dibesarkan, sudah cukup bagus. Tapi harus dites lagi apakah benar2 menghayati nilai yang dianut provinsi yang akan diwakilinya tersebut. Apakah benar2 mengerti, paham, dan "dekat" secara emosional dengan provinsi tersebut. Pendeknya, harus dipastikan apakah ia akan mewakili suatu provinsi karena kecintaannya pada provinsi tersebut, atau sekedar mau menunggangi provinsi tersebut agar tercapai cita2nya jadi cewek ngetop... hehehe...

Dan... dengan tidak membuat kuota, gw rasa akan memicu putri2 daerah untuk lebih tampil bersaing. Nggak seperti sekarang, rata2 yang bersaing ya anak2 Jakarta juga - cuma ditempeli selempang provinsi yang berbeda2 :)

Sistemnya harus lebih mirip Miss Universe: negara apa pun bisa tampil, asal mau mengikuti peraturan (yang salah satunya adalah mengikuti kontes baju renang). Nggak pakai kuota bahwa harus ada wakil dari seluruh negara di dunia. Siapa yang merasa nggak cocok dengan aturannya, nggak harus ikut. Toh, Miss Universe nggak sok main kuota2an dengan mengharuskan ada Miss Afghanistan atau Miss Iran di kontesnya kan ;-)?

So... that's my first plea for the next Pemilihan Putri Indonesia ;-) Jangan ada lagi kuota2an yang kesannya keadilan sama rata sama rasa, tapi malah membuat keadilan semu itu. Biarkan saja semua putri berlomba, ambil 33 yang terbaik, regardless provinsinya. Jangan membuka kesempatan orang2 untuk mewakili provinsi yang tidak ia junjung nilai2nya.

And the 2nd plea regarding the princess.... nasi memang sudah jadi bubur. Tapi bubur biar enak bisa ditambah cakwe dan suwiran ayam kan ;-)? Nah, supaya bubur ini lebih enak, dengarkan keberatan NAD ini, dan tunjukkan empati dengan tidak mengikutsertakan Qory di ajang Miss Universe. Tamparan terhadap budaya Aceh akan lebih besar lagi jika si Nona tampil setengah telanjang di ajang itu... hehehe... Runner up-nya bisa menggantikan Qory, kalau boleh oleh panitia MU. Tapi kalau enggak.... well, nggak ikutan satu pemilihan toh nggak apa2 ;-) Masih ada tahun2 depan, toh?

Friday, October 09, 2009

Bersakit-sakit dahulu... Malah Mati Kemudian?

Salah satu yang haram hukumnya dalam syariah Star Trek adalah melakukan kontak dengan pre-warp civilization. Jika dilanggar, maka hal ini akan mengkontaminasi budaya mereka dan mengubah kodrat evolusi masyarakat tersebut.

Gw rasa, para pembuat kedua film ini bukan penggemar Star Trek. Makanya mereka tidak mengindahkan alegori tersebut dan melakukan kontak pada semacam masyarakat pre-warp di dunia nyata.... and resulted in disaster ;-)

Artikel paling menarik di Reader's Digest Asia edisi Oktober 2009, menurut gw berjudul "Slumdog Millionaire Kids: The Reality" Isinya tentang kisah Azharuddin Ismail Sheikh dan Rubina Ali, pemeran Salim dan Latika kecil, pasca kemenangan film ini di Academy Award.

Awal2nya, gw sempat ikut tempra juga tuh membaca bahwa Azhar - dua bulan setelah menapaki karpet merah yang sama dengan Brad Pitt dan Angelina Jolie - kembali tinggal di rumah berukuran 2,5 x 3 meter dan beratapkan plastik bocor. Bayangkan! Rumahnya si Azhar bahkan lebih kecil daripada garasi rumah gw! Dan garasi rumah gw, yang "cuma" buat nyimpen mobil aja, punya atap permanen. Sementara Azhar harus tidur berempat di gubuk kecil itu, dengan panci besar sebagai toiletnya.

Ikut marah juga waktu baca bahwa Azhar "cuma" dibayar US$ 2,400 untuk berperan di film yang mendapatkan untung kotor US$ 360,000,000 ini. Sengaja gw tuliskan angkanya secara numerik untuk menunjukkan keironisan. Mau yang lebih ironis lagi? Total biaya film ini adalah US$ 15,000,000 ;-) Bandingkan betapa signifikannya honor yang diterima Azhar!

Dengan kesenjangan seperti ini, gw menjadi memaklumi ketika ayah Rubina Ali dituduh berniat "menjual" anaknya dengan seharga US$ 365,000. Ikut mengutuki kapitalis2 Amerika itu yang tega2nya nggak memberikan bonus kepada anak2 ini.

Tapi nanti dulu!

Paruh kedua artikel tersebut membuat gw melunak. Sebab, in their defense, para pembuat film ini mengatakan bahwa mereka sebenarnya sudah melakukan kewajiban moral mereka. Mereka membuat trust fund bagi Rubina dan Azhar, yang masing2 akan mencapai jumlah sekitar US$ 100,000 saat mereka mencapai usia 18 tahun. Jumlah yang lumayan bagi anak2 ini untuk memulai kehidupan baru yang lebih baik. Syaratnya cuma satu: kedua anak ini harus terus bersekolah hingga mencapai usia itu.

Di sini pangkal masalahnya ;-)

Buat orang tua Rubina dan Azhar, yang kebutuhannya masih pada D-Needs yang paling bawah dari piramida Maslow, it's silly untuk menunggu sekian tahun sebelum mendapatkan uang. Apalagi pakai prasyarat harus sekolah segala! Wong makan aja susah, kok harus menyekolahkan anak. Alhasil, mereka melihat hal ini hanya sebagai akal2an para pembuat film untuk menghindari kewajiban moralnya ;-) Mereka melihat bahwa sebenarnya pembuat film nggak rela membayar lebih, sehingga dikondisikan agar Azhar & Rubina nggak akan mencapai hal tersebut.

Padahal, setelah mendengar klarifikasi sang produser Christian Colson, persyaratan ini cukup masuk akal. Persyaratan ini justru dibuat untuk memotivasi Azhar, Rubina, dan orang tuanya untuk menghargai pendidikan. Bersakit-sakit dahulu, bersenang2 kemudian. Atau kalau balik ke piramida Maslow, para pembuat film ini "meletakkan" orang tua Azhar & Rubina pada tataran G-Needs. Makanya mereka malah complain dengan cara ortu mereka mendidik anaknya

"We want to give Azhar and Rubina an incentive," Colson says. "What we are trying to do - to ensure that the kids do not drop out of school - is to give them a monthly stipend. And at the end of the rainbow, there will be a pot of gold"

"We were succeeding," he says. "They enrolled in June 2008, and Danny and I went to see them in January. They were in school, and happy as larks."

But then the film become a worldwide hit. Rubina and Azhar begin getting offers to appear in ads and in fashion shows, and the parents willingly let them miss school to make money.


Dan inilah yang membuat gw teringat pada dalil Star Trek di atas... hehehe... Serta mengamini bahwa dalil tersebut benar adanya ;-) Inilah contoh nyata ketika sebuah masyarakat yang "belum siap" dipaksa mencapai sebuah tahap tertentu. Chaos.

Amerika punya Hollywood, India punya Bollywood. Tapi... Amerika - India itu jauhnya.... ya sejauh Amerika - India... hehehe... Ada perbedaan budaya. Apalagi kalau kemudian kita menyandingkan para pemain industri film Hollywood dengan keluarga sederhana di Garib Nagar, tempat kumuh yang terkumuh di India. Ya "bahasa"-nya nggak nyambung! Biarpun pernah menapaki karpet merah acara bergengsi internasional, keluarga Azhar dan Rubina belum siap bertransformasi menjadi taipan2 Hollywood yang hilir mudik di Beverly Hills ;-) They are still pre-warp civilization. Sentuhan dengan the warp civilization seperti industri film Hollywood menjungkirbalikkan hidup mereka.

At the end of the day, nggak heran kalau semakin meruncing perseteruan ini. Pada saat akhirnya Azhar sudah menempati rumah baru yang dibelikan para pembuat film (seharga US$ 50,000 alias separuh dari jumlah yang akan diterima di usia 18), Rubina Ali malah nggak dapat apa2. Bapaknya masih ngeyel minta seluruh jatah Rubina diberikan di awal, untuk dikelola sendiri. Belakangan malah ibu kandung dan ibu tirinya Rubina cakar2an berebut si anak.

***

Kekacauan yang berbeda juga dialami oleh pemeran Kite Runner. Tetapi penyebabnya sama: "sentuhan" industri film Amerika pada masyarakat yang "belum siap". The violation of the prime directive, kalau bahasanya Star Trek sih ;-)

Yang pernah baca buku luar biasa ini tentu masih ingat bahwa poros kisahnya adalah suatu adegan pemerkosaan yang dilakukan seorang bully terhadap Hasan si anak pelayan. Kejadian yang menimbulkan rasa bersalah pada Amir. Seluruh kisah bertumpu pada "penebusan rasa bersalah" Amir akibat kejadian ini. So, sudah pasti, adegan pemerkosaan ini kudu harus mesti ada di filmnya, kan ;-)?

Not a big deal, sebenarnya. Apalagi adegannya sudah diperhalus. Seingat gw, cuma terlihat Asef membuka ikat pinggangnya, dan kemudian adegan berikutnya Hasan berjalan tertatih2 dengan darah menetes di atas salju putih.

Tapi... menjadi masalah serius ketika film itu dibuat dengan pemeran anak2 Afghanistan. Bertahun2 di bawah Taliban yang mengharamkan segala jenis film, tentu tak mudah bagi masyarakatnya untuk menerima bahwa trik kamera sudah sedemikian canggih. Bahwa "gambar hidup" itu tidak selalu menunjukkan hal yang sebenarnya.

Hasilnya? Chaos. Keempat pemeran yang terlibat dalam adegan itu harus diungsikan ke UAE, agar nyawanya selamat. Bertahun2 sesudahnya, para pemeran ini masih tetap mendapatkan ancaman pembunuhan. Meskipun mereka telah menetap di UAE.

***

Dalam salah satu wawancaranya, Christopher Colton mengakui bahwa mereka telah melakukan kesalahan dalam kasus Rubina dan Azhar. Mereka mengira bahwa orang tua anak2 ini akan merasa diuntungkan dengan insentif jangka panjang bagi anak2nya.

Ya, mereka akhirnya menyadari bahwa the prime directive is not to be violated ;-) Setidaknya, harus dikenali dulu budaya dan cara pandang para pihak yang akan terlibat, supaya tidak terjadi kekisruhan seperti ini.

Baguslah kalau mereka menyadari hal itu... hehehe... Memang bagus sekali jika mereka membuat rencana jangka panjang bagi para pemainnya yang berasal dari budaya yang berbeda ini. Bagus jika mereka mengangankan bersakit2 dahulu, bersenang2 kemudian.

Tetapi hendaknya lebih hati2 lagi memastikan bahwa masyarakatnya memang sudah punya visi yang sama. Jangan take it for granted bahwa semua budaya sama. Karena, alih2 bikin hidup mereka terangkat harkat dan martabatnya setelah main di film Amerika, malah jadinya membuat hidup mereka bak lagu Jamrud yang ini:

Bersakit dahulu
Senangpun tak datang
Malah mati kemudian

Friday, October 02, 2009

2 Oktober 2014

Hari ini, 2 Oktober 2009, UNESCO menetapkan batik sebagai warisan budaya Indonesia. Sebagai orang Indonesia, gw tentu bangga dan lega dengan pencapaian ini. Apalagi gw orang Jawa, berselera vintage pula!

Tetapi gw nggak ikut euforia berbatik-ria hari ini ;-) Bukannya gw nggak punya batik ;-) Gw punya beberapa blus batik yang sering gw pakai saat presentasi atau meeting dengan klien. Koleksi batik tulis gw juga lumayan untuk ukuran anak kota Jakarta. Gw juga masih punya beberapa canting serta kompor kecil untuk memanaskan lilin saat membatik. Memang... canting dan kompor ini sudah lama masuk museum... hehehe... karena nggak ada waktu buat membatik.

Tetapi, toh, gw memilih untuk tidak menggunakan batik. Ya, gw memilih demikian justru karena sudah jenuh dengan segala himbauan untuk menggunakan batik yang gw baca lewat [terutama] Facebook. Seakan2 beberapa hari terakhir ini status di FB dan di Twitter semua mengajak rame2 menggunakan batik hari ini. Bahkan, gw sampai terima surat undangannya segala ;-)

Ya, gw memang dengar sih bahwa tujuan gerakan batik ini "mulia"... hehehe... diharapkan ini menjadi cikal-bakal yang menumbuhkan rasa cinta terhadap batik sebagai warisan budaya nusantara. Tetapi... terus terang, gw skeptis terhadap cita2 mulia ini. Gerakan masal seperti ini, menurut gw, hanya seperti ledakan bom. Heboh, masuk berita di mana2, memberi kesan selama beberapa waktu, namun kemudian hilang tak bermakna. Bahkan akan dilupakan ;-) Kalaupun sukses menjadi gerakan yang rutin, seringkali menjadi ritual tak bermakna. Seperti upacara bendera di sekolah2. Seperti penataran P4 yang sempat marak.

Seorang teman berargumen bahwa gerakan ini telah terbukti membuat penjualan batik meningkat. Bukankah ini baik buat industri batik? Hmmm... sebagai marketing researcher, gw terpaksa mengatakan bahwa ini adalah suatu bentuk high trial. Semua orang yang belum punya batik - dan tidak ingin ketinggalan keriaan - buru2 beli batik. Tetapi... sayangnya, high trial tidak selalu menimbulkan high repeat purchase. Seperti terbukti pada produk2 yang promo gede2an tetapi rasanya nggak enak... hehehe... Orang mungkin sekali beli, tapi nggak beli lagi. Makanya, untuk memastikan orang beli dan beli lagi, para brand team di belakang setiap produk itu jungkir balik mengutak-atik produknya supaya menimbulkan brand loyalty ;-)Dan untuk menimbulkan kesetiaan, perlu ditumbuhkan cinta terhadap hal itu ;-)

Kata Kembar Group dalam lagunya, Frustrasi, cinta itu seperti kupu2 yang terbang tinggi. Hinggap di mana saja yang dia ingini. Buat gw, cinta itu seperti metamorfosa kupu2. Harus melalui proses panjang yang tidak instan. Lebih cocok seperti yang digambarkan dalam bagian lagu ini:

Caterpillar in the tree
How you wonder who you'll be
Can't go far but you can always dream
...
I promise you there will come a day
Butterfly, fly away
Flap your wings and fly away
Take those dreams and make them all come true

So, gw simply skeptis bahwa giving batik a pair of instant wings akan membuatnya terbang tinggi. Akan membuat orang2 lebih mencintai batik setelah ini.

Menurut gw, cinta terhadap batik itu harus dibangun secara berkesinambungan. Bukan cuma dengan memakainya, tetapi benar2 "mengenalnya". Tak kenal, maka tak sayang. Dan untuk mengenal, berarti perlu berinteraksi mendalam dengannya.

Mengagendakan belajar membatik dalam salah satu pelajaran prakarya, misalnya, mungkin bisa membantu memberikan dasar pengenalan pada batik. Seperti gw tulis di sini, banyak yang bisa didapat dari pelajaran membatik. Selain melatih motorik halus, juga melatih kesabaran ;-) Seiring sejalan dengan TIU/TIK pelajaran prakarya kan ;-)?

Menurut gw, hal2 seperti inilah yang membuktikan cinta terhadap batik. Involved dan berkesinambungan. Keabadian cinta ;-) Bukan hanya cinta yang sesaat terus menghilang, seperti yang mungkin akan terjadi pada euforia penggunaan batik sehari ini ;-)

Waktu yang akan membuktikan keberhasilan gerakan hari batik ini ;-) Dengan demikian, gw menunggu setidaknya 5 tahun lagi untuk join the club. Jika gerakan ini bertahan hingga 2 Oktober 2014, dan tidak sekedar menjadi ritual tak bermakna, gw akan menggunakan batik di hari itu ;-) Semoga pada hari itu orang sudah tidak mencampuradukkan batik dengan lurik seperti pada gambar di artikel ini ;-)


Gambar dipinjam dari artikel terkait

Hehehe... mentang2 sama2 nge-top di Jawa, lurik dianggap batik juga, kali ya? Hehehe... Di hari batik malah pakai lurik. Padahal, lurik sama batik itu beda. Batik itu motifnya digambar dan diwarnai pada kain. Lurik itu motifnya ditenun dari benang yang warnanya berbeda sehingga menghasilkan kain bergaris2.

Dan... uhm.... ngomong2 tentang gerakan memakai batik untuk menghormati keputusan UNESCO hari ini, gw jadi bertanya2: apakah hari ini saudara2 sebangsa setanah air kita di Papua sana juga menggunakan koteka bermotif batik? HAHAHAHA....