Friday, October 09, 2009

Bersakit-sakit dahulu... Malah Mati Kemudian?

Salah satu yang haram hukumnya dalam syariah Star Trek adalah melakukan kontak dengan pre-warp civilization. Jika dilanggar, maka hal ini akan mengkontaminasi budaya mereka dan mengubah kodrat evolusi masyarakat tersebut.

Gw rasa, para pembuat kedua film ini bukan penggemar Star Trek. Makanya mereka tidak mengindahkan alegori tersebut dan melakukan kontak pada semacam masyarakat pre-warp di dunia nyata.... and resulted in disaster ;-)

Artikel paling menarik di Reader's Digest Asia edisi Oktober 2009, menurut gw berjudul "Slumdog Millionaire Kids: The Reality" Isinya tentang kisah Azharuddin Ismail Sheikh dan Rubina Ali, pemeran Salim dan Latika kecil, pasca kemenangan film ini di Academy Award.

Awal2nya, gw sempat ikut tempra juga tuh membaca bahwa Azhar - dua bulan setelah menapaki karpet merah yang sama dengan Brad Pitt dan Angelina Jolie - kembali tinggal di rumah berukuran 2,5 x 3 meter dan beratapkan plastik bocor. Bayangkan! Rumahnya si Azhar bahkan lebih kecil daripada garasi rumah gw! Dan garasi rumah gw, yang "cuma" buat nyimpen mobil aja, punya atap permanen. Sementara Azhar harus tidur berempat di gubuk kecil itu, dengan panci besar sebagai toiletnya.

Ikut marah juga waktu baca bahwa Azhar "cuma" dibayar US$ 2,400 untuk berperan di film yang mendapatkan untung kotor US$ 360,000,000 ini. Sengaja gw tuliskan angkanya secara numerik untuk menunjukkan keironisan. Mau yang lebih ironis lagi? Total biaya film ini adalah US$ 15,000,000 ;-) Bandingkan betapa signifikannya honor yang diterima Azhar!

Dengan kesenjangan seperti ini, gw menjadi memaklumi ketika ayah Rubina Ali dituduh berniat "menjual" anaknya dengan seharga US$ 365,000. Ikut mengutuki kapitalis2 Amerika itu yang tega2nya nggak memberikan bonus kepada anak2 ini.

Tapi nanti dulu!

Paruh kedua artikel tersebut membuat gw melunak. Sebab, in their defense, para pembuat film ini mengatakan bahwa mereka sebenarnya sudah melakukan kewajiban moral mereka. Mereka membuat trust fund bagi Rubina dan Azhar, yang masing2 akan mencapai jumlah sekitar US$ 100,000 saat mereka mencapai usia 18 tahun. Jumlah yang lumayan bagi anak2 ini untuk memulai kehidupan baru yang lebih baik. Syaratnya cuma satu: kedua anak ini harus terus bersekolah hingga mencapai usia itu.

Di sini pangkal masalahnya ;-)

Buat orang tua Rubina dan Azhar, yang kebutuhannya masih pada D-Needs yang paling bawah dari piramida Maslow, it's silly untuk menunggu sekian tahun sebelum mendapatkan uang. Apalagi pakai prasyarat harus sekolah segala! Wong makan aja susah, kok harus menyekolahkan anak. Alhasil, mereka melihat hal ini hanya sebagai akal2an para pembuat film untuk menghindari kewajiban moralnya ;-) Mereka melihat bahwa sebenarnya pembuat film nggak rela membayar lebih, sehingga dikondisikan agar Azhar & Rubina nggak akan mencapai hal tersebut.

Padahal, setelah mendengar klarifikasi sang produser Christian Colson, persyaratan ini cukup masuk akal. Persyaratan ini justru dibuat untuk memotivasi Azhar, Rubina, dan orang tuanya untuk menghargai pendidikan. Bersakit-sakit dahulu, bersenang2 kemudian. Atau kalau balik ke piramida Maslow, para pembuat film ini "meletakkan" orang tua Azhar & Rubina pada tataran G-Needs. Makanya mereka malah complain dengan cara ortu mereka mendidik anaknya

"We want to give Azhar and Rubina an incentive," Colson says. "What we are trying to do - to ensure that the kids do not drop out of school - is to give them a monthly stipend. And at the end of the rainbow, there will be a pot of gold"

"We were succeeding," he says. "They enrolled in June 2008, and Danny and I went to see them in January. They were in school, and happy as larks."

But then the film become a worldwide hit. Rubina and Azhar begin getting offers to appear in ads and in fashion shows, and the parents willingly let them miss school to make money.


Dan inilah yang membuat gw teringat pada dalil Star Trek di atas... hehehe... Serta mengamini bahwa dalil tersebut benar adanya ;-) Inilah contoh nyata ketika sebuah masyarakat yang "belum siap" dipaksa mencapai sebuah tahap tertentu. Chaos.

Amerika punya Hollywood, India punya Bollywood. Tapi... Amerika - India itu jauhnya.... ya sejauh Amerika - India... hehehe... Ada perbedaan budaya. Apalagi kalau kemudian kita menyandingkan para pemain industri film Hollywood dengan keluarga sederhana di Garib Nagar, tempat kumuh yang terkumuh di India. Ya "bahasa"-nya nggak nyambung! Biarpun pernah menapaki karpet merah acara bergengsi internasional, keluarga Azhar dan Rubina belum siap bertransformasi menjadi taipan2 Hollywood yang hilir mudik di Beverly Hills ;-) They are still pre-warp civilization. Sentuhan dengan the warp civilization seperti industri film Hollywood menjungkirbalikkan hidup mereka.

At the end of the day, nggak heran kalau semakin meruncing perseteruan ini. Pada saat akhirnya Azhar sudah menempati rumah baru yang dibelikan para pembuat film (seharga US$ 50,000 alias separuh dari jumlah yang akan diterima di usia 18), Rubina Ali malah nggak dapat apa2. Bapaknya masih ngeyel minta seluruh jatah Rubina diberikan di awal, untuk dikelola sendiri. Belakangan malah ibu kandung dan ibu tirinya Rubina cakar2an berebut si anak.

***

Kekacauan yang berbeda juga dialami oleh pemeran Kite Runner. Tetapi penyebabnya sama: "sentuhan" industri film Amerika pada masyarakat yang "belum siap". The violation of the prime directive, kalau bahasanya Star Trek sih ;-)

Yang pernah baca buku luar biasa ini tentu masih ingat bahwa poros kisahnya adalah suatu adegan pemerkosaan yang dilakukan seorang bully terhadap Hasan si anak pelayan. Kejadian yang menimbulkan rasa bersalah pada Amir. Seluruh kisah bertumpu pada "penebusan rasa bersalah" Amir akibat kejadian ini. So, sudah pasti, adegan pemerkosaan ini kudu harus mesti ada di filmnya, kan ;-)?

Not a big deal, sebenarnya. Apalagi adegannya sudah diperhalus. Seingat gw, cuma terlihat Asef membuka ikat pinggangnya, dan kemudian adegan berikutnya Hasan berjalan tertatih2 dengan darah menetes di atas salju putih.

Tapi... menjadi masalah serius ketika film itu dibuat dengan pemeran anak2 Afghanistan. Bertahun2 di bawah Taliban yang mengharamkan segala jenis film, tentu tak mudah bagi masyarakatnya untuk menerima bahwa trik kamera sudah sedemikian canggih. Bahwa "gambar hidup" itu tidak selalu menunjukkan hal yang sebenarnya.

Hasilnya? Chaos. Keempat pemeran yang terlibat dalam adegan itu harus diungsikan ke UAE, agar nyawanya selamat. Bertahun2 sesudahnya, para pemeran ini masih tetap mendapatkan ancaman pembunuhan. Meskipun mereka telah menetap di UAE.

***

Dalam salah satu wawancaranya, Christopher Colton mengakui bahwa mereka telah melakukan kesalahan dalam kasus Rubina dan Azhar. Mereka mengira bahwa orang tua anak2 ini akan merasa diuntungkan dengan insentif jangka panjang bagi anak2nya.

Ya, mereka akhirnya menyadari bahwa the prime directive is not to be violated ;-) Setidaknya, harus dikenali dulu budaya dan cara pandang para pihak yang akan terlibat, supaya tidak terjadi kekisruhan seperti ini.

Baguslah kalau mereka menyadari hal itu... hehehe... Memang bagus sekali jika mereka membuat rencana jangka panjang bagi para pemainnya yang berasal dari budaya yang berbeda ini. Bagus jika mereka mengangankan bersakit2 dahulu, bersenang2 kemudian.

Tetapi hendaknya lebih hati2 lagi memastikan bahwa masyarakatnya memang sudah punya visi yang sama. Jangan take it for granted bahwa semua budaya sama. Karena, alih2 bikin hidup mereka terangkat harkat dan martabatnya setelah main di film Amerika, malah jadinya membuat hidup mereka bak lagu Jamrud yang ini:

Bersakit dahulu
Senangpun tak datang
Malah mati kemudian