Wednesday, June 29, 2005

Remains of the Day: Lagu2 Gila di Psiko-UI

Bang Pe itu senior gw di kampus. Minggu lalu dia menikah. Gw nggak bisa datang ke pestanya. Tapi Agnes berbaik hati memberikan laporan pandangan mata bahwa: pokoknya kawinannya Bang Pe udah mirip sama Musikantin kita dulu. Band pengisi acaranya Bilikmusik-nya Adoy sama Cozy Street Corner. Tapi nyanyinya lagu beneran, bukan lagu plesetan kayak di kantin.

Hihihi, gw jadi inget jaman2 kuliah dulu. Di kantin Psiko, dulu kami hobi sekali menyanyi. Suara nggak penting, yg penting happy. Lagunya juga lucu2. Mulai lagu asli yang diubah syairnya, hingga lagu2 gubahan sendiri yang asoy-geboy.

Simak syair lagu ini, yang dinyanyikan dengan irama Kuambil Buluh Sebatang. Biasanya dinyanyiin kalau ada angkatan baru yg mulai bergaul sama senior. Kami punya tradisi bahwa dalam kumpul2 multi-angkatan di kantin, angkatan termuda harus bikinin kopi buat seluruh seniornya:

Kuangkat air seember
masuk ke tenda konsumsi
di sana kan direbus pakai api
mau dijadiin kopi

Susahnya anak baru
Musti bikin kopi seember
Biar senior jadi pada teler
Paling enggak jadi beser

Atau yang ini: dari lagunya Iwan Fals.

Pernah kumencoba bunuh diri
Tapi rasanya geli sekali
Oh maafkanlah

Simak juga plesetan2 (yang kadang2 saru) dari syair lagu2 kondang:

I was Sepultura, You re Metallica (Bobby Caldwell: I was a fool to be thinking just of me)

For I cant help, jiwa raga kami (Julio Iglesias: For I cant help falling in love with you)

Dimasukin dong! But it s over now! (Roxette: It must ve been love, but it s over now)

Making love, wearing nothing at all (Air Supply: Making love, out of nothing at all)

Ada juga lagu2 plesetan yg kalau gw tulis di sini mungkin bisa membuat gw dituduh subversif (jadi gw nggak berani tulis di sini, ntar aja via japri). Tapi yang jelas, nyanyi2 di kantin itu juga jadi ajang penulisan lagu kreatif untuk orang2 yg lagi kasmaran. Contohnya lagu ini, yang ditulis senior gw waktu jatuh cinta sama istrinya (dasar jodoh, akhirnya sepasang merpati ini menikah juga walaupun sempat putus-sambung beberapa kali). Grammar dan vocab-nya ngaco abis, tapi waktu itu kita nggak perduli, yang penting happy:

As long as I know
So many people in love
That was happened on me
I need a real love

Say nothing,
Under the sky
Kiss no one
And keep on dreaming

Get those stars
Up high in the sky
A virgin in my mind

Leave it all behind
Or you ll be crazy
Virgin in my mind
Ending with love

Maksa ya? Emang! Karena intinya sebenarnya adalah di huruf awal masing2 kalimat, yg kalo dibaca dari atas ke bawah menghasilkan deklarasi cinta (biar kata agak2 projective dikit, siapa yg suka, siapa yg dibilang suka!). Seperti juga lagunya senior gw yang lain, yang diciptakan waktu jatuh cinta sama seseorang yg sudah punya pacar:

Putus saja dengan dia
Dia belum dewasa
Dan kan membuatmu menderita

Pilihlah aku
Yang lebih dewasa dan lebih perkasa
Pilihlah aku
Lebih berpengalaman
Seribu jam terbang

Aaaahhh, that good old days! I miss them! Masa kuliah memang masa yang paling indah. Yah, beruntunglah teman2 yang mendapatkan kesempatan untuk tetap hidup di dunia yang asyik ini.

Monday, June 27, 2005

Hukuman Cambuk: Manusiawi?

Paman saya yang nomor 4 pernah tinggal di Riyadh selama 2 tahun. Beliau pernah bercerita tentang pelaksanaan hukuman di sana. Hukuman lazimnya dijalankan usai shalat Jumat di lapangan mesjid. Sebelum hukuman dilaksanakan si terhukum diperlakukan dengan sangat baik, diberi tempat terhormat dalam shalat Jumat: di barisan pertama bersama para pengawalnya. Usai shalat Jumat, si terhukum dibawa ke lapangan, dan tanpa basa-basi hukuman dilakukan. Seusai hukuman, si terhukum lantas mendapatkan perlakuan yang baik lagi: sang terhukum cambuk langsung dirawat oleh tim medis, dan sang terhukum pancung langsung diperlakukan sebagaimana memperlakukan jenazah yang mulia.

Paman saya itu beberapa kali melihat hukuman cambuk dilaksanakan. Dan hukuman itu dilakukan dengan tidak mengabaikan keadilan dan kebaikan. Bagian yang berayun dari tubuh sang algojo hanyalah tangan kanan yang memegang cambuk, bukan tubuhnya, bukan pula tangan kirinya yang memegang Al Quran. Dengan demikian cambukan demi cambukan yang mampir di badan si terhukum tidaklah sekuat lemparan bola baseball dari sang pitcher (yang mendapatkan tenaga tambahan dari ayunan tangan kiri dan kaki). Cambuknya sendiri terbuat dari sebilah rotan kaku, sehingga cambuk itu tidak mendapat gaya percepatan dari kelenturan geraknya.

Jangan bayangkan seperti di film The Passion of the Christ, tentara Romawinya mencambuk Yesus sekuat tenaga, dengan cambuk lentur yang ujungnya tajam. Itu sih memang tidak manusiawi, kekuatannya berlipat ganda karena ada impact gerakan si pencambuk dan gerak lentur cambuknya itu sendiri. Bayangkan saja seperti joki yang menyabet kudanya dengan sebilah rotan, atau hukuman anak jaman dulu yang ditelungkupkan di paha ayah lalu dipukul pantatnya dengan rotan. Memang menyakitkan, tapi tidak di luar batas. Dan mungkin yang lebih menyakitkan adalah rasa malunya,” demikian kata paman saya.

(*well, admit it, bayangan kita tentang hukuman cambuk pasti didominasi oleh film2 yang menggunakan cambuk sebagai alat penyiksaan kan?*)

Malam seusai pelaksanaan hukuman, selalu ada pengumuman tentang hal itu di TV lokal. Pengumuman dilakukan dengan sangat khidmat. Si pembaca berita akan mengucapkan berita itu dengan intonasi yang lembut, dan berita tidak akan diselingi dengan iklan-iklan atau hal lain yang bersifat gembira. Dengan kata lain, mereka memang menghukum, tapi juga tidak memperlakukan si terhukum sebagai sampah masyarakat yang tidak lagi patut dihormati.

Minggu lalu media massa dipenuhi cerita tentang penerapan hukuman cambuk yang pertama di Aceh. Sebagian orang mendukungnya, dan sebagian orang mencacinya sebagai sesuatu yang tidak manusiawi. Benarkah hukuman ini tidak manusiawi? Atau sekedar menjadi kurang manusiawi karena orang tidak bisa melihat/mempertahankan sisi kemanusiawiannya?

Bercermin pada cerita paman saya, sebenarnya hukuman cambuk ini tidak perlu dipertanyakan kemanusiawiannya asalkan dilakukan dengan tatacara yang benar. Enam hingga delapan kali cambukan memang menyakitkan, tapi tetaplah merupakan luka fisik yang mudah disembuhkan. Apalagi sebelum dicambuk si terhukum diperiksa dulu kesehatannya.  Jika ‘ketidakmanusiawian’ itu dilihat dari ‘mempertontonkan hukuman’, maka perlakuan hormat terhadap si terhukum akan mengurangi ketidakmanusiawian itu. Ini kan masalah positioning; kalau kita masih memandang hukuman itu sekedar sebagai punishment (= “balasan setimpal” bagi kesalahannya), maka mempertontonkan hukuman itu akan kita lihat sebagai sekedar mempermalukan si terhukum – menambahi hukuman fisiknya dengan hukuman psikis berupa rasa malu. Namun jika kita mau memandang dari sisi yang lain, bahwa hukuman itu juga reinforcer negatif bagi orang yg tidak melakukan (= konsekuensi tidak enak yang membuatnya menghindar dari melakukan sesuatu), maka sebenarnya acara hukuman ini memiliki tempat terhormat: sebagai lahan kita belajar. Dan dengan sendirinya kita  juga memperlakukan si terhukum sebagai sesuatu yang membawa kebaikan. Tidak berarti kita menafikan kesalahannya, tapi menerima bahwa kesalahannya itu membawa blessing in disguise yang harus kita hargai pula.

Kalau sekarang banyak kekecewaan dan rasa diperlakukan tidak adil yang muncul dari hukuman cambuk ini, saya melihat hal ini sebagai kesalahan kemasan dan promosi. Bukan kesalahan dari “produk” itu sendiri. Tidak ada yang salah dengan hukumannya itu sendiri. Yang salah mungkin adalah pelaksanaannya. Yang kurang tepat mungkin adalah cara pandang kita terhadap suatu hukuman.

Sejauh ini memang saya masih melihat ada kesenjangan antara promosi dan kemasannya. Para petinggi Aceh mempromosikannya sebagai bagian dari menegakkan syariah Islam di Aceh. Tapi mereka mengemasnya sebagai suatu ritual protokoler yang (maaf) mungkin agak jauh dari esensi hukuman itu sendiri. Hukuman ini dikemas menjadi tontonan (yang memiliki kandungan politik). Hukuman ini dipromosikan sebagai bentuk rasa percaya penduduk Serambi Mekah itu pada ajaran agamanya. Tapi, pelaksanaannya lebih menyerupai suatu ajang memamerkan bahwa mereka mengikuti ajaran tersebut. Jika kita percaya, kita tidak usah pameran bukan? Jalankan saja hukuman itu, tidak perlu didahului berbagai kata sambutan seperti yang dilakukan kemarin. Jika kita percaya, maka kita tahu bahwa Tuhan tidak menginginkan kita menyiksa sesama makhluk hidup, dan bahwa memperlama/menunda pelaksanaan (apalagi demi sekedar kata pengantar) pada dasarnya adalah suatu siksaan psikis. Toh, kalau mereka memang ingin menggunakan kata sambutan, hal itu bisa dilakukan setelah pelaksanaan hukuman. Si terhukum tidak perlu mendengarkan dan menunggunya, dengan segala kecemasan yang mendera tentang bagaimana tubuhnya menerima hukuman. Hey, we are going to flog him, not to award him! There’s no need to prolong his anxiety!

Saya tidak paham benar bagaimana petinggi2 Aceh memilih algojonya. Tapi saya harapkan pemilihan algojo ini mendapat perhatian yang paling utama. Jangan sampai mereka mendapatkan algojo yang memang kejam, yang memang sadis dan senang membuat si terhukum menderita. Jenis2 orang yang akan melayangkan cambuk sekuat tenaga. Saya berharap algojo adalah orang yang benar2 mengerti tentang keadilan, yang paham bahwa hukuman ini bukanlah untuk menyakiti orang yang tidak pantas lagi dihormati. Karena hanya dengan inilah kita menjamin kemanusiawian pelaksanaannya.

Well, saya tidak menentang penerapan syariah (umumnya) dan hukuman cambuk (khususnya) di mana pun. Untuk Aceh saya ucapkan selamat atas keberaniannya menerapkan hukum ini. Namun, himbauan saya, moga-moga di masa depan kita dapat lebih jeli lagi menangkap apa yang tersirat dari hukum itu, bukan hanya menerapkan yang tersurat saja. Dengan demikian kita dapat melaksanakan hukum Tuhan tanpa mengabaikan sisi kemanusiaannya.

Wednesday, June 22, 2005

Membandingkan "Apel" dan "Jeruk"

Kemarin gw diprotes sama salah satu teman gw karena bilang bahwa “apel” lebih enak daripada “jeruk”. Katanya, hal itu nggak bisa dibandingkan. Kan keduanya adalah buah yang berbeda; masing-masing punya kelebihan dan kekurangannya sendiri.

Hmm… iya juga ya, masing-masing punya kelebihan dan kekurangan sendiri. Dan kita memang nggak bisa menuntut “apel” jadi “jeruk”, dan sebaliknya. Kan bakal aneh banget kalo kita maksain makan kulit jeruk, hanya karena kulit apel bisa dimakan. Atau sebaliknya, ngupas apel pakai tangan ala ngupas jeruk. Bisa lecet-lecet tuh tangan, lha wong daging buah apel itu nempel pel sama kulitnya… ;)

Tapi apa iya, bahwa karena mereka berbeda, lalu gw nggak boleh membandingkan?

Hmmm… lantas gw ingat apa yang pernah gw baca di novelnya Umberto Eco: Foucault’s Pendulum. Kutipan itu sebenarnya mengacu pada suatu pergerakan fisik – putaran bumi, orbit tatasurya, lubang hitam. Tapi, rasanya itu berlaku juga untuk pergerakan non-fisik: bagaimana kita memandang “apel” dan “jeruk”.

The Pendulum told me that, as everything moved – earth, solar system, nebulae, and black holes, all the children of the great cosmic expansion – one single point stood still: a pivot, bolt, or hook around which the universe could move

(Eco in Foucault’s Pendulum)

Anggaplah “apel” dan “jeruk” itu adalah benda di tata surya kita. Masing-masing punya orbitnya sendiri, punya gravitasinya sendiri, punya atmosfirnya sendiri. Kita nggak bisa mengharuskan Mars sama dan sebangun dengan Bumi. Kita nggak bisa bilang “Bumi aja bisa, mosok Mars enggak?” dan menuntut agar manusia bisa hidup di Mars, dan marah-marah karena sulit bernafas begitu kita membuka masker oksigen di Mars. Kita nggak bisa menganggap sang pencipta alam semesta tidak adil, karena membuat sesuatu yg berbeda.

Tapi kita bisa menggeser diri kita ke apa yang disebut Eco sebagai “one single point stood still”; sebuah titik dimana kita bisa memandang keduanya secara bersamaan, tanpa terpengaruh oleh gerakan salah satu di antara kedua hal itu. Menghilangkan perbedaan antara Mars dan Bumi, sehingga kedua hal yang tidak setara ini bisa kita perbandingkan.. Kita harus memperbandingkannya karena at the end kita harus memilih yang terbaik buat kita. Kita kan nggak bisa mengkloning diri kita sendiri supaya bisa tinggal di Mars dan Bumi sekaligus toh? Kita harus memilih mau tinggal di Mars, atau di Bumi… ;)

Hehehe… gw rasa, teman gw itu protes karena gw pernah ngomong “Jangan pernah membandingkan satu dengan yang lainnya”. Well… teman, gw inget banget konteksnya gw ngomong gitu karena ada orang yg menuntut Mars jadi Bumi, mengatakan “Coba kalau Mars bisa seperti Bumi”, atau menilai Mars dengan menggunakan Bumi sebagai referensi (lebih tepatnya “Orang Mars itu pasti kakinya sakit, makanya dia nggak bisa jalan cepat waktu berkunjung ke Bumi kemarin” - tanpa mempertimbangkan gravitasi yang berbeda antara kedua planet, hanya mengacu bahwa biasanya kalo dia gak bisa jalan cepat hanyalah karena dia kakinya sakit.... ;)).

Well… I’ve never said anything – yet – about how we should compare Mars and Earth in the context of choosing which planet we should live on… ;) But now I do… ;)

So, teman, hal yang sama juga terjadi pada apel dan jeruk. Ada kalanya kita harus memilih mau apel atau jeruk sebagai pencuci mulut, atau sebagai buah tangan pada orang yang kita jenguk di RS, atau sebagai pohon yang harus kita cangkok. Mungkin perut kita cukup untuk menyantap keduanya, keranjang kita cukup untuk menampung keduanya, atau kebun kita cukup untuk menanam apel dan jeruk sekaligus. Tapi seringkali kita hanya punya satu tempat, dan kita harus memilih. Dan di saat itulah keduanya harus kita bandingkan.

Yang terpenting adalah cara dan tujuan kita membandingkan, serta implementasi dari perbandingan itu. Bukan perbandingannya itu sendiri.

Dan juga jangan lupa: memilih dan menganggap yang satu lebih enak/asyik daripada yang lainnya (sebagai hasil dari perbandingan yg kita lakukan), bukan berarti mengatakan bahwa yang lainnya sama sekali nggak punya kelebihan dibandingkan pilihan kita… ;)

Credit Title: Teknik membuat kutipan samping ala majalah itu gw pelajari sendiri. Tapi gw berhutang inspirasi ke blognya Okke

Monday, June 20, 2005

Bagaimana Saya Melihat "Sepatu Kaca Cinderella"

Sejak kecil saya sangat tertarik dengan sepatu kaca Cinderella. Ada dua misteri yang melingkupi benda bersejarah dalam kisah klasik ini:

1. Kenapa, ketika semua kembali menjadi seperti semula pada tengah malam, sepatu kaca itu tetap menjadi sepatu kaca?

2. Kenapa tidak satu pun gadis di seluruh negeri yang bisa mengenakan sepatu Cinderella dengan pas?

Saya ingat kedua pertanyaan ini pernah menjadi pain in the ass untuk ibu saya, karena saya tidak pernah puas dengan jawaban beliau. Kedua pertanyaan ini juga pernah membuat jengkel suami saya (waktu itu masih jadi pacar) dan membuatnya berkata: Hey, Non, tidak semua-mua harus ada penjelasan logisnya! Nikmati aja, namanya juga cerita anak2!

Tak perduli reaksi mereka, saya selalu mencari jawabnya. Dan ternyata saya menjawabnya secara berbeda dari tahun ke tahun:

Di usia pra TK:

Semua adalah tentang sihir. Ibu peri memang menyihir sepatu itu supaya tetap tidak berubah, supaya pangeran bisa mencari Cinderella dengan sepatu itu. Tidak ada gadis lain yang bisa mengenakan sepatu itu dengan pas karena pengaruh sihir ibu peri. Setiap kali ada gadis yang mencoba, sepatu itu mulur atau mungkret (artinya membesar dan mengecil). Hanya ketika Cinderella memakainyalah sihir itu tertangkal.

Di usia awal SD:

Buat saya yang masih belum mampu berpikir abstrak, penjelasannya sangat konkrit: hukum kekekalan benda. Sepatu kaca itu tetap menjadi sepatu kaca, karena yang sebelah tertinggal di tangga istana. Logikanya: kalau naik sepeda, lalu rodanya hilang satu, kan sepedanya nggak bisa dinaikin untuk pulang.

Tidak ada satupun gadis yang bisa memakainya, karena sepatu itu dibuat khusus untuk kaki Cinderella. Pas sampai ke cm dan mm-nya. (tentu saja saya waktu itu belum bisa berpikir jauh KENAPA gadis yang punya sepatu satu nomor di bawahnya nggak bisa pakai dengan pas, seperti kalau ukurannya 36,5 pasti nggak terlalu bermasalah pakai nomor 37)

Tahun-tahun awal di Fakultas Psikologi:

Ini periode di mana saya sedang tergila-gila dengan ilmu baru: psikologi dan filsafat yang mendasarinya. Jadi tak heran jika saya punya versi yang rada2 berbau kedua ilmu itu: MUNGKIN semua yang terjadi hanyalah merupakan PERSEPSI.

Jadi, sebenarnya gaun pestanya nggak berubah jadi butut, tapi karena Cinderella memikirkan peringatan ibu peri, maka dia mengalami delusi seolah2 semua kembali jadi butut. Demikian pula dengan kasus sepatu. Karena pangeran sudah kadung jatuh cinta, dia tidak bisa melihat ada gadis lain yang juga bisa pakai sepatu itu kalau gadis itu tidak mirip dengan putri-yang-tadi-malam

Sekarang:

Sekarang ini saya belajar untuk lebih tenang, lebih pakai hati, lebih memperhatikan tanda-tanda di sekitar kita. Dan ketika saya mempertanyakan kedua hal tadi, amazingly jawabannya sudah berubah menjadi lebih filosofis lagi. Sepatu itu adalah tanda-tanda alam yang disiapkan untuk mempersatukan Cinderella dan sang Pangeran. Oleh karena itu ia tidak berubah ketika semuanya berubah, karena tugasnya belum selesai, bahkan baru saja dimulai: mempersatukan Cinderella dan Pangeran.

Tidak ada satupun gadis yang bisa mengenakan sepatu itu, karena semua sudah diatur. Dan seperti semua yg telah diatur, tidak ada satu pun yang bisa menggagalkannya. Kita selalu akan bisa bilang bahwa harusnya gini, harusnya gitu, tapi sering terjadi hal2 yg di luar logika kita karena ada skenario yang sudah mengaturnya.

Well, kisah Cinderella itu hanyalah contoh dari begitu banyak kejadian nyata di kehidupan ini. Bukan hanya kisah Cinderella yang bisa diinterpretasikan secara beda, tetapi semua hal di dunia ini. Life is a matter of choice. And sometimes, the choice is about how we should see the problem.

**mungkin beberapa tahun lagi saya akan kembali dengan sudut pandang yang baru**

Saturday, June 18, 2005

Ngomentarin II-2 ala AFI

Cyber-bro gw, E onE, pasti hari ini sudah meluncurkan review-nya tentang Spektakuler tadi malam. Daripada gw komentarin di kolomnya dia, mendingan gw tulis di sini aja. Biar panjangan dikit… ;).

Banyak yang bilang Meutia Kasim komentarnya bitchy. Tapi gw suka tuh komentarnya dia… hehehe… Menurut gw komentarnya dia yg paling “kena”. Komentarnya Indra selalu mengingatkan gw tentang seorang guru yang “pintar”, tapi gak bisa bagi kepintarannya ke orang lain. Jadi, hanya bisa bilang muridnya salah, tanpa bisa ngasih arah perbaikan. Titi, komentarnya lumayan, benar2 terdengar seperti penyanyi berpengalaman (bukan ahli seni suara), tapi… sebagai mantan anggota Elfa’s, sebenarnya gw mengharapkan dia bisa berkomentar lebih dalam dan lebih ke arah perbaikan yg jelas.

Anyway, komentator favorit gw masih Mbak Iie, yg menurut gw bisa menyatukan antara ahli seni suara dan penyanyi berpengalaman, plus penikmat musik. Dan hari ini gw mo ngomentarin Spektakuler tadi malam ala Mbak Iie:

1.      VIRA: “Dalam menyanyi kita ini berbicara, bukan hanya sekedar menyampaikan nada-nada yang bagus. Kamu harus mengerti lagumu bicara tentang apa. Kalau memang patah hati, memang tak ingin berpisah, tunjukkan dengan matamu”.

2.      HARRY: “Dari teknik bernyanyi sudah lebih baik dari minggu lalu. Minggu lalu kamu terlalu banyak memakai ornamentasi sehingga terasa mengganggu. Tadi sudah jauh lebih baik. Tapi lain kali kamu mungkin bisa meningkatkan aksi panggung supaya lebih sesuai dengan lagunya, sehingga pesan kamu kepada penonton benar-benar sampai. Kalau kita bicara “tanda-tanda jatuh cinta” kita juga harus kelihatan jatuh cinta, jangan mata kemana-mana”

3.      GLENN: “Saya menghargai kamu tidak terjebak dengan penyanyi aslinya, salah satunya dengan mempercepat tempo. Tapi hari ini saya terpaksa mengeluarkan kata-kata APA PENONTON? (tangan melambai ke belakang, dan penonton berteriak, “PITCH CONTROL”). Ya! Pitch Control. Coba kamu pelajari lagi teknik breathing dengan Mbak Ubiet”

4.      MONITA: “Monita, sekali lagi, menyanyi itu berbicara pada penonton. Suara kamu bagus, tapi jiwanya nggak ada. Kurang centil. Padahal lagu ini lagu yang sangat ringan. Coba lebih centil, seperti gadis yang baru menerima surat cinta yang pertama”

5.      FIRMAN: “Kalau soal funky sih memang Firman deh rajanya! Orang seperti kamu gampang dijual! Tapi saya ingin mengingatkan, dalam menyanyikan lagu berbahasa asing, pelajari lafal pengucapannya dengan baik” (sorry ya, Dit, komentar Mbak Iie buat kamu kupinjem… hehehe… Ngomong2, gw jadi inget, gw belum pernah denger Adit nyanyi lagu Inggris solo ya? Baik di AFI-2 maupun KMB)

6.      MAYA: “Suara kamu bagus. Tapi seperti komentar-komentar saya tadi, dalam bernyanyi itu kita berbicara pada penonton. Apalagi kalau kita menyanyi live”  

7.      MIKE: “Mike, tidak mudah bagi seorang penyanyi pria untuk menyanyikan lagu penyanyi wanita. Tapi kamu melakukannya dengan sangat baik malam ini”

8.      JUDIKA: “Sebagai penyanyi kita harus siap membawakan lagu apa pun. Kamu punya cengkok Melayu yang bagus dan itu menjadi ciri khas kamu. Tapi bukan berarti ciri khas itu harus selalu dimunculkan. Alat kontrol dari seorang penyanyi adalah telinga kita sendiri. Cobalah mendengarkan suara kamu sendiri, fokus pada suara kamu, sehingga kamu tahu di bagian mana yang harus diperbaiki”.

9.      YUDI: “Seorang penyanyi harus menjadi dirinya sendiri. Kamu harus bisa menaklukan lagu, jangan sampai kamu yang dipimpin oleh lagu. Dan hari ini kamu terlalu mirip dengan penyanyi aslinya”

So… call me “kampungan”, tapi semakin hari gw memang makin hari memang makin yakin bahwa AFI lebih asyik daripada II (setidaknya buat gw pribadi… ;)).

Di AFI, komentar yang diberikan berupa pengarahan apa yang harus dilakukan, bukan berupa sekedar kritik

Di AFI, penyanyi diajarkan untuk menghibur dalam tampilan total, bukan hanya menjadi penyanyi yg mendendangkan lagu merdu (gw inget mertua gw pernah bilang gini, “Kalau tampil di panggung, atau di TV, gerakan dan tampang itu sama pentingnya sama suara. Kalau hanya mau dengar suara bagus, kita dengerin radio aja. Jadi bintang radio aja, jangan jadi penyanyi di TV”)

Di AFI, penonton dilibatkan sebagai teman bukan sekedar donatur. Sebagai teman, kita diajak ikut terlibat dengan keseharian para akademia, melihat kepribadian mereka secara utuh, berempati dengan kesulitan-kesulitan yang mereka hadapi. Sebuah keterikatan emosional dibentuk antara penonton dan akademia, sehingga dukungan mengalir karena keterikatan itu (kalau di marketing, ini adalah salah satu strategi yang tepat untuk membentuk consumer loyalty)

Di AFI, akademia diajar menjadi “saudara”. Dikarantina berbulan-bulan selama masa belajar membuat mereka terkondisi untuk fokus pada pelajarannya. Dan itu membuat lekatnya rasa persaudaraan karena unsur kedekatan dan kesamaan nasib. Mereka bersaing, tapi mereka juga teman. Dan dampaknya sangat baik untuk akademia itu sendiri maupun dari segi bisnis. Dari segi akademia, mereka mendapatkan lebih dari sekedar pelajaran dan ketenaran; mereka mendapatkan SAUDARA, TEMAN, TEMAN BERBAGI. Dari segi bisnis… well… kalau sudah jadi “saudara”, tentu mereka lebih hati2 untuk mengambil keputusan yg bisa melukai hati saudaranya kan? Mereka nggak lagi lihat sekedar untung-rugi, tapi ada unsur emosional memperhatikan ‘saudaranya’.

Mungkin alasan terakhir itu yang mendasari mengapa Helena dan Joy bisa hengkang HANYA karena tidak puas dengan kontraknya. Kalau kontrak merugikan gw, ngapain gw bertahan? Akibatnya sama kontestan lain, aaaah… itu mah urusan kontestan lainnya. Kami kan hanya teman biasa. Business is business. Di AFI… hmm… hanya Mawar yang terlempar dari kancah itu. Gw yakin beberapa akademia banyak yg nggak puas juga, tapi… sebagian besar dari kita kan nggak berantem urusan uang dengan saudara kan? Dalam berhubungan dengan saudara, kadang kita mentolerir kerugian demi keutuhan keluarga. “He ain’t heavy, he’s my brother”, begitu kata sebuah lagu… ;)

Thursday, June 16, 2005

The Uncracked Code

Tadi malam gw baru aja selesai membaca Deception Point. Dan dengan itu berarti keempat bukunya Dan Brown udah gw baca semua. Masih terbawa euphoria buku itu, gw iseng2 ngunjungin official site-nya. Eh… nggak tahunya ada link ke Secret, yg isinya komplit: dari Photo Gallery untuk semua benda yang dijadikan acuan di Da Vinci Code dan Angels & Demons, Bizzare Facts yang dijadikan acuan pengetahuan di keempat bukunya, dan… CHALLENGE!

Tantangannya adalah Uncover the Code. Kita mesti mengikuti petunjuk2 yang diberikan. Well… my kind of games banget! Iseng2 gw coba. Dan ternyata itu kesalahan besar… hehehe… karena gw jadi nggak berhenti memecahkan rahasia – sampai kelewat makan siang.

Ada 5 challenge yg harus dipecahkan. Tapi sebelumnya ada appetizer-nya dulu 3 pertanyaan. Appetizernya sih gampang… asal udah baca juga bisa. Semua ada di buku, masih seputar Mona Lisa dan Priory of Sion.

1. Habis itu baru deh challenge yang pertama: menebak enigmatic sculpture di koordinat yg dikasih. Lumayan gampang, tinggal browse ke Google sebentar; plenty of information there.

2. Challenge kedua: menebak “Who knows the exact location?” dari pesan yg sudah berhasil diterjemahkan dari Enigmatic Sculpture itu. Masih gampang juga, karena informasi itu juga ada di halaman2 yg didapat dari search engine tadi.

3. Challenge ketiga: menebak sebuah frase dicari huruf per huruf dari jacket-nya Da Vinci Code (yg tersedia online dan sudah diperbesar). Masih gak susah.

4. Challenge keempat: menebak pemilik frase di jawaban nomor 3. Ini mulai tricky! Masalahnya, brotherhood yg memiliki frase ini ejaannya agak tricky, gw butuh sekitar 10 menit meng-crack kodenya.

5. Challenge kelima: sheepishly I have to admit that I haven’t cracked the code yet! Gw tahu arahnya, tapi gak berhasil menebak.

Petunjuk yg harus gw pecahkan adalah sebagai berikut:

A dolphin and an anchor (but no sea)
A triangle on white is also a key
Between the two you’ll find a crimson field
Upon it printed faintly is a seal
Each number to a chapter points the way
Each chapter starts with word in muted gray
The letter that is first is what you seek
Thirteen of them (and though it all looks Greek)
Add three of all-seeing-eye – a perfect square
Began at E and Caesar guides you there

What famous phrase is printed around the seal? (3 kata)

Kata pertama: 1 huruf
Kata kedua: 8 huruf
Kata ketiga: 4 huruf

Hint tambahan: kata ini bukan berupa bahasa Inggris, banyak tertera di karya seni, dan bisa mendapatkan petujuk tambahan dari apa yg disebut Caesar box (dibahas di Digital Fortress).

Well… gw sudah sampai pada kesimpulan bahwa kata itu berhubungan dengan motto: Annuit Coeptis dan/atau Novus Ordo Seclorum. Kata ini tertera di setiap lembar dollar Amerika, artinya kurang lebih adalah “God has favored our undertaking – new secular order”. Ini tentu sangat relevant dengan cerita Da Vinci Code itu sendiri, yang menggambarkan bahwa Priory of Sion dulu pernah diselamatkan oleh Ordo Masonic; brotherhood yg menyebut dirinya sendiri “novus ordo seclorum”. Kata tersebut melingkari sebuah piramid dengan mata di tengahnya – simbol dari “all-seeing-eye”.

Annuit Coeptis sendiri terdiri dari 13 huruf. Kalau ditambah dengan 3, hasilnya adalah 16. Hasil perkalian 4x4, sesuai dengan pakem Caesar Box, yaitu metode pesan rahasia dimana pesan dituliskan dalam “perfect square of alphabets”.

Masalahnya sekarang, bagaimana gw harus men-decode Annuti Coeptis ini menjadi 3 kata – 1, 8, dan 4 huruf? Petunjuk mengatakan supaya memulai Caesar Box ini dari huruf E. Tapi gimana? Gw udah mencoba seluruh kombinasi, dan masih gagal:

E

P

T

I

S

A

N

N

U

I

T

C

O

Nah… bingung kan? Ada dua hal yg bikin bingung: apa huruf yg dimaksud dengan “add three all seeing eye” itu? Dan dimana huruf itu harus ditaruh untuk menggenapkan teka-teki ini menjadi sebuah perfect square? All-seeing-eye sendiri disebut sebagai “Shining Delta”, berarti mungkin huruf yg harus ditambahkan adalah “D” (dari Delta). Tapi harus ditaruh dimana?

Tapi mungkin juga yang dimaksud dengan all-seeing-eye itu adalah “novus ordo seclorum”, ordo yg meng-claim bahwa mereka mengawasi dunia baru. In that case, apa huruf yang harus ditambahkan? N-O-S, atau apa? Dan dimana?

Ada yang berminat ikutan pusing dengan teka-teki ini?

Wednesday, June 15, 2005

Toko "Pengalaman"


Ada yang pernah membuat boneka sendiri di “Make a New Friend”? Hari Sabtu lalu Ima mendapat hadiah “pengalaman membuat boneka sendiri” di sini dari Eyang Piko-nya. It’s quite fun experience!

Pertama-tama kita disuruh milih sendiri boneka “kosong” di situ. Lalu kita memilih baju, sepatu, suara, asesoris (bola, bunga, tas, dll) untuk si boneka tersebut. Kalau sudah ketemu semua, baru kita mulai mengisinya dengan kapas di mesin yang tersedia. Terserah kita mau seempuk atau sekeras apa bonekanya. Setelah itu, kita masukkan “hati” ke dalam boneka yg sudah berisi kapas sebelum boneka itu diikat rapat. It’s a symbolical action, as if we give the doll a heart to live. Di hati itu kita tuliskan nama si pembuat.

Habis itu, boeka kita “mandikan” dengan angin, supaya bersih dari sisa-sisa kapas. Terakhir, kita pakaikan bajunya dan tak lupa membuat birth certificate untuk boneka ini.

Ima really enjoyed this new experience! Dia membuat dua boneka: satu Eeyore yang diberinya baju seragam penjara (asli! Ada nomornya segala seperti di Gerombolan si Berat), dan satu lagi boneka beruang pink yg dikasih rok jeans dengan aksen bunga pink dan sepatu pink juga.

Hmmm… I like the idea! Mereka ‘seolah-olah’ menjual boneka. Tapi sebenarnya, yang dijual adalah emosi. Pengalaman membuat sendiri bonekanya menimbulkan sensasi seolah-olah boneka itu adalah “anak yang dilahirkannya sendiri”. Ini adalah suatu analogi yang luar biasa untuk seorang anak perempuan yg mengidentifikasikan diri pada peran ibu.

Lalu memasukkan “hati” ke dalam boneka yang masih setengah jadi. Ini adalah suatu tindakan sepele, yang buat orang-orang dewasa nggak bermakna apa-apa. Tapi coba letakkan itu pada konteks anak perempuan kecil yg masih dalam tahap “make believe play”. She really feels that she gives her heart! Ini menciptakan emotional bond antara si gadis cilik dengan si boneka.

Tahapan-tahapan selanjutnya juga mungkin akan berkesan ritual; memandikan boneka yang baru jadi, memakaikan baju, memilih nama, dan membuatkan akte kelahirannya. Tapi sekali lagi, kita bicara di dunia anak-anak. Sensasi membuat boneka dari yang “tiada” menjadi “ada”, bukankah itu hanya merupakan skala kecil dari sensasi yg sama di dunia dewasa: sensasi yg muncul ketika yudisium terakhir “melahirkan” kita menjadi sarjana baru setelah tahun-tahun panjang penuh perjuangan, sensasi ketika melihat dan menggendong anak kita pertama kali setelah bulan-bulan panjang penuh harapan dan kecemasan?

So, gw sendiri ikut menikmati pengalaman Ima Sabtu lalu. Sebagai psikolog, gw senang bahwa ilmu gw yg biasa disebut sebagai “ilmu menara gading” bisa diterapkan dalam kehidupan nyata. Sebagai ibu, gw juga senang karena dapat kesempatan bermain peran membimbing anak gw menciptakan sesuatu; sebuah peran yg akan terus menerus gw jalani dalam seluruh hidup gw sebagai ibu.

Satu yg kurang dari pengalaman gw kemarin: sepertinya si pemilik toko tidak melatih karyawannya dengan baik. Ada salah satu karyawan yang maunya membikinkan boneka para customer-nya. Dia tidak mengajak si pembeli menikmati pengalaman itu, tapi berusaha untuk selalu membantunya. Well… kalau boneka itu dibuatkan oleh penjualnya, lalu sebenarnya apa bedanya dengan toko boneka biasa yg menjual boneka jadi? Lha wong yang dijual di sini adalah emosi yg didapat dari pengalaman, kok malah pengalaman itu dihilangkan… ;)

(***Speaking of the devil, apa yg dilakukan oleh si penjual itu juga mungkin bagian dari kenyataan di dunia ini. Perguruan tinggi yang meniadakan skripsi, dokter-dokter kandungan yang menyarankan operasi cesar walaupun tidak ada indikasi medis, dan sebagainya. Pengalaman-pengalaman yg direduksi menjadi sekedar hasil akhir, yg membuat kita kehilangan makna terhadap apa yg kita raih: sarjana-sarjana yg tidak dapat menerapkan ilmunya dengan baik, ibu-ibu yang tidak bisa terlalu attached dengan anaknya***)

Well… life is a matter of choice. Adalah hak orang untuk memilih mendapatkan pengalaman, atau sekedar mendapatkan hasil akhir. Kalau buat gw pribadi sih manis-tidaknya hasil akhir berbanding terbalik dengan manis-tidaknya pengalaman yg mendahuluinya. Hasil akhir nggak bermakna kalau hanya datang sebagai sesuatu yang terberi. Tapi tentunya gw nggak bisa memaksa semua orang seperti gw kan?

Anyway, ini adalah foto Ima di hari ulang tahunnya, dengan seluruh hadiah yang didapatnya. Sitting on the top were the two dolls she created the day before. Moga-moga, pengaturan ini akan juga berlaku untuk hidup Ima yang sesungguhnya: semakin besar usaha yang dilakukannya untuk mendapatkan sesuatu, semakin “tinggi” dia meletakkan hasil itu dalam skala penghargaannya.

Happy 6th Birthday, My Little Girl!



Wednesday, June 08, 2005

Tentang Seorang Anak yang Mati

Sebuah message gw terima di mailbox gw, forwardan dari teman gw Luki. Sebuah tulisan yg menjungkirbalikkan emosi gw:

Salemba, Warta Kota

PEJABAT Jakarta seperti ditampar. Seorang warganya harus menggendong mayat anaknya karena tak mampu sewa mobil jenazah.

Penumpang kereta rel listrik (KRL) jurusan Jakarta-Bogor pun geger Minggu (5/6). Sebab, mereka tahu bahwa seoran pemulung bernama Supriono (38 thn) tengah menggendong mayat anak, Khaerunisa (3 thn). Supriono akan memakamkan si kecil di Kampung Kramat, Bogor dengan menggunakan jasa KRL. Tapi di Stasiun Tebet, Supriono dipaksa turun dari kereta, lantas dibawa ke kantor polisi karena dicurigai si anak adalah korban kejahatan. Tapi di kantor polisi, Supriono mengatakan si anak tewas karena penyakit muntaber. Polisi belum langsung percaya dan memaksa Supriono membawa jenazah itu ke RSCM untuk diautopsi.

Di RSCM, Supriono menjelaskan bahwa Khaerunisa sudah empat hari terserang muntaber. Dia sudah membawa Khaerunisa untuk berobat ke Puskesmas Kecamatan Setiabudi. "Saya hanya sekali bawa Khaerunisa ke puskesmas, saya tidak punya uang untuk membawanya lagi ke puskesmas, meski biaya hanya Rp 4.000,- saya hanya pemulung kardus, gelas dan botol
plastik yang penghasilannya hanya Rp 10.000,- per hari". Ujar bapak 2 anak yang mengaku tinggal di kolong perlintasan rel KA di Cikini itu. Supriono hanya bisa berharap Khaerunisa sembuh dengan sendirinya. Selama sakit Khaerunisa terkadang masih mengikuti ayah dan kakaknya, Muriski Saleh (6 thn), untuk memulung kardus di Manggarai hingga Salemba, meski hanya terbaring digerobak ayahnya.


Karena tidak kuasa melawan penyakitnya, akhirnya Khaerunisa menghembuskan nafas terakhirnya pada Minggu (5/6) pukul 07.00.Khaerunisa meninggal di depan sang ayah, dengan terbaring di dalam gerobak yang kotor itu, di sela-sela kardus yang bau. Tak ada siapa-siapa, kecuali sang bapak dan kakaknya. Supriono dan Muriski termangu. Uang di saku tinggal Rp 6.000,- tak mungkin cukup beli kain kafan untuk membungkus mayat si kecil dengan layak, apalagi sampai harus menyewa ambulans. Khaerunisa masih terbaring di gerobak. Supriono mengajak Musriki berjalan menyorong gerobak berisikan mayat itu dari Manggarai hingga ke Stasiun Tebet, Supriono berniat menguburkan anaknya di kampong pemulung di Kramat, Bogor. Ia berharap di sana mendapatkan bantuan dari sesama pemulung.

Pukul 10.00 yang mulai terik, gerobak mayat itu tiba di Stasiun Tebet. Yang tersisa hanyalah sarung kucel yang kemudian dipakai membungkus jenazah si kecil. Kepala mayat anak yang dicinta itu dibiarkan terbuka, biar orang tak tahu kalau Khaerunisa sudah menghadap Sang Khalik. Dengan menggandeng si sulung yang berusia 6 thn, Supriono menggendong Khaerunisa menuju stasiun. Ketika KRL jurusan Bogor datang, tiba-tiba seorang pedagang menghampiri Supriono dan menanyakan anaknya. Lalu dijelaskan oleh Supriono bahwa anaknya telah meninggal dan akan dibawa ke Bogor spontan penumpang KRL yang mendengar penjelasan Supriono langsung berkerumun dan Supriono langsung dibawa ke kantor polisi Tebet. Polisi menyuruh agar Supriono membawa anaknya ke RSCM dengan menumpang

ambulans hitam.


Supriono ngotot meminta agar mayat anaknya bisa segera dimakamkan. Tapi dia hanya bisa tersandar di tembok ketika menantikan surat permintaan pulang dari RSCM. Sambil memandangi mayat Khaerunisa yang terbujur kaku. Hingga saat itu Muriski sang kakak yang belum mengerti kalau adiknya telah meninggal masih terus bermain sambil sesekali memegang tubuh adiknya. Pukul 16.00, akhirnya petugas RSCM mengeluarkan surat tersebut, lagi-lagi Karena tidak punya uang untuk menyewa ambulans, Supriono harus berjalan kaki menggendong mayat Khaerunisa dengan kain sarung sambil menggandeng tangan Muriski. Beberapa warga yang iba memberikan uang sekadarnya untuk ongkos perjalanan ke Bogor. Para pedagang di RSCM juga memberikan air minum kemasan untuk bekal Supriono

dan Muriski di perjalanan.


Psikolog Sartono Mukadis menangis mendengar cerita ini dan mengaku benar-benar terpukul dengan peristiwa yang sangat tragis tersebut karena masyarakat dan aparat pemerintah saat ini sudah tidak lagi perduli terhadap sesama. "Peristiwa itu adalah dosa masyarakat yang seharusnya kita bertanggung jawab untuk mengurus jenazah Khaerunisa. Jangan bilang keluarga Supriono tidak memiliki KTP atau KK atau bahkan tempat tinggal dan alamat tetap. Ini merupakan tamparan untuk bangsa Indonesia", ujarnya.

Koordinator Urban Poor Consortium, Wardah Hafidz mengatakan peristiwa itu seharusnya tidak terjadi jika pemerintah memberikan pelayanan kesehatan bagi orang yang tidak mampu. Yang terjadi selama ini, pemerintah hanya memerangi kemiskinan, tidak mengurusi orang miskin kata Wardah.

*** mohon maaf karena telah mengutip ulang berita ini***

Yang pertama membuat gw sedih adalah kecurigaan masyarakat bahwa anak itu adalah korban kejahatan. Separah itukah krisis kepercayaan di negeri kita? Kalau Supriyono disuruh turun karena mengganggu ketertiban masyarakat, menggunakan KRL untuk hal yang tidak seharusnya, gw nggak akan terlalu sedih. Tapi dipaksa turun karena dicurigai membawa korban pembunuhan? Begitu sulitkah kita percaya pada orang lain? Seorang ayah yang kehilangan anak tentu punya ekspresi yang berbeda dengan seorang penjahat yang membawa korban pembunuhannya. Walaupun si pelaku bisa berpura-pura sedih, tapi akan ada gesture yg membedakannya dari ayah yang benar-benar kehilangan anak. One way or another, we’ll be able to recognize a grieving father in Supriyono. “Percaya” atau “curiga” adalah pilihan yang harus dibuat berdasarkan apa yg kita dengar dari hati kita, atau kesimpulan yang ditawarkan dari pemikiran kita. Sebagian orang punya hati yg peka, yang dapat membedakan apa yang harus dipercayai dari apa yg harus dicurigai. Sebagian orang lagi bertahan pada kesimpulan logisnya pada apa yg ditawarkan oleh data sensoris.

It’s okay which route you want to take, karena yg penting adalah mendapatkan kebenaran yg hakiki. Nah… yang menjadi masalah pada kasus ini, orang cenderung berlaku setengah2: dia tidak mendengarkan kata hatinya, tapi juga nggak memanfaatkan rasionya to the full limit. Akhirnya… dia mencurigai apa yang seharusnya dia percayai. Krisis kepercayaan yg muncul karena manusia tidak bisa mengontrol hati dan pikirannya, bukan karena lingkungan tidak lagi terkendali. Ini yang akan menghancurkan peradaban manusia.

Hal kedua yang membuat gw sedih adalah: seorang anak harus meninggal karena orang tuanya tidak sanggup mempertahankan nyawanya, karena orang tuanya tidak mampu membayar biaya pengobatan. Kepada siapa gw harus marah? Pada pemerintah yang tidak bisa memenuhi janjinya memberikan pelayanan pengobatan gratis pada Ga-Kin? Kepada rumah sakit yang tidak mau menerima pasien tanpa uang deposit yang jelas? Kepada masyarakat yang tidak bisa menjaga kebersihan lingkungan, sehingga virus muntaber mengganas?

Atau kepada Supriyono yang berani memiliki anak tanpa memperhitungkan resikonya?

Perasaan gw memang bercampur aduk. Di satu sisi, gw kasihan pada Supriyono yang harus kehilangan anak, hanya karena dia tidak mampu mencukupi kebutuhan si anak, dan setelah meninggalpun masih tidak mampu memuliakan jenazah anaknya dengan layak. Betapa sakitnya hati seorang ayah yang tidak mampu menjaga titipan Tuhan.

Tapi… di sisi lain, gw juga marah pada Supriyono. How could he father a child without calculating whether he will be capable to take care – materially and immaterially – of her? Anak adalah titipan Tuhan. Tugas yang harus kita selesaikan. Sebelum memutuskan untuk menerima tugas itu, kita harus berhitung matang-matang. Jangan terima suatu tugas untuk kemudian berkata, “well, I give up!”. Jangan pernah menerima sesuatu dan “let the fate decide”.

Memang, pada akhirnya kita harus menerima bahwa kalau Tuhan menghendaki, Dia akan mengambil si anak kembali. Tapiii… paling tidak, sebelum kehendak Tuhan itu terjadi, kita harus bisa menunjukkan pada Tuhan bahwa kita benar-benar berusaha; bahwa kita sudah mengupayakan yg terbaik bagi anak kita, bahwa kita sudah menyiapkan (paling tidak) hal-hal yang mendasar buat dia. Di kasus anak sakit, paling tidak kita sudah mempersiapkan/menabung sejumlah uang untuk membawanya ke dokter, atau paling tidak berusaha meminjam uang jika persiapan kita benar-benar tidak cukup. Dan itu yang membuat gw marah pada Supriyono: how could he bring her daughter down the street and wishing that “she would recover by herself”?

Ya, ya, deep inside I understand that I cannot expect Supriyono to have that “elaborated consideration of risk and pleasure” before making a decision to marry a girl – and later to father a child. Dan itu yang membuat perasaan gw campur aduk: seorang anak harus mati karena orang tuanya tidak mampu berpikir panjang, dan karena penguasa di masyarakat tempat orang tuanya itu tinggal tidak mampu (atau tidak mau?) melakukan suatu perbaikan untuk membuat orangtua2 ini mampu berpikir panjang. Dengan kata lain, seorang anak harus menjadi korban atas kesalahan yang dibuat oleh orang tuanya, dan oleh masyarakat.

Di Kompas Senin lalu ada yg bicara soal “anak sebagai property”. Seharusnya, fenomena seperti inilah yang disorot, bukan tentang Rani Djody yang kebingungan menjawab pertanyaan tentang ayahnya, atau Gina yang berorasi membela ayahnya.