Monday, June 27, 2005

Hukuman Cambuk: Manusiawi?

Paman saya yang nomor 4 pernah tinggal di Riyadh selama 2 tahun. Beliau pernah bercerita tentang pelaksanaan hukuman di sana. Hukuman lazimnya dijalankan usai shalat Jumat di lapangan mesjid. Sebelum hukuman dilaksanakan si terhukum diperlakukan dengan sangat baik, diberi tempat terhormat dalam shalat Jumat: di barisan pertama bersama para pengawalnya. Usai shalat Jumat, si terhukum dibawa ke lapangan, dan tanpa basa-basi hukuman dilakukan. Seusai hukuman, si terhukum lantas mendapatkan perlakuan yang baik lagi: sang terhukum cambuk langsung dirawat oleh tim medis, dan sang terhukum pancung langsung diperlakukan sebagaimana memperlakukan jenazah yang mulia.

Paman saya itu beberapa kali melihat hukuman cambuk dilaksanakan. Dan hukuman itu dilakukan dengan tidak mengabaikan keadilan dan kebaikan. Bagian yang berayun dari tubuh sang algojo hanyalah tangan kanan yang memegang cambuk, bukan tubuhnya, bukan pula tangan kirinya yang memegang Al Quran. Dengan demikian cambukan demi cambukan yang mampir di badan si terhukum tidaklah sekuat lemparan bola baseball dari sang pitcher (yang mendapatkan tenaga tambahan dari ayunan tangan kiri dan kaki). Cambuknya sendiri terbuat dari sebilah rotan kaku, sehingga cambuk itu tidak mendapat gaya percepatan dari kelenturan geraknya.

Jangan bayangkan seperti di film The Passion of the Christ, tentara Romawinya mencambuk Yesus sekuat tenaga, dengan cambuk lentur yang ujungnya tajam. Itu sih memang tidak manusiawi, kekuatannya berlipat ganda karena ada impact gerakan si pencambuk dan gerak lentur cambuknya itu sendiri. Bayangkan saja seperti joki yang menyabet kudanya dengan sebilah rotan, atau hukuman anak jaman dulu yang ditelungkupkan di paha ayah lalu dipukul pantatnya dengan rotan. Memang menyakitkan, tapi tidak di luar batas. Dan mungkin yang lebih menyakitkan adalah rasa malunya,” demikian kata paman saya.

(*well, admit it, bayangan kita tentang hukuman cambuk pasti didominasi oleh film2 yang menggunakan cambuk sebagai alat penyiksaan kan?*)

Malam seusai pelaksanaan hukuman, selalu ada pengumuman tentang hal itu di TV lokal. Pengumuman dilakukan dengan sangat khidmat. Si pembaca berita akan mengucapkan berita itu dengan intonasi yang lembut, dan berita tidak akan diselingi dengan iklan-iklan atau hal lain yang bersifat gembira. Dengan kata lain, mereka memang menghukum, tapi juga tidak memperlakukan si terhukum sebagai sampah masyarakat yang tidak lagi patut dihormati.

Minggu lalu media massa dipenuhi cerita tentang penerapan hukuman cambuk yang pertama di Aceh. Sebagian orang mendukungnya, dan sebagian orang mencacinya sebagai sesuatu yang tidak manusiawi. Benarkah hukuman ini tidak manusiawi? Atau sekedar menjadi kurang manusiawi karena orang tidak bisa melihat/mempertahankan sisi kemanusiawiannya?

Bercermin pada cerita paman saya, sebenarnya hukuman cambuk ini tidak perlu dipertanyakan kemanusiawiannya asalkan dilakukan dengan tatacara yang benar. Enam hingga delapan kali cambukan memang menyakitkan, tapi tetaplah merupakan luka fisik yang mudah disembuhkan. Apalagi sebelum dicambuk si terhukum diperiksa dulu kesehatannya.  Jika ‘ketidakmanusiawian’ itu dilihat dari ‘mempertontonkan hukuman’, maka perlakuan hormat terhadap si terhukum akan mengurangi ketidakmanusiawian itu. Ini kan masalah positioning; kalau kita masih memandang hukuman itu sekedar sebagai punishment (= “balasan setimpal” bagi kesalahannya), maka mempertontonkan hukuman itu akan kita lihat sebagai sekedar mempermalukan si terhukum – menambahi hukuman fisiknya dengan hukuman psikis berupa rasa malu. Namun jika kita mau memandang dari sisi yang lain, bahwa hukuman itu juga reinforcer negatif bagi orang yg tidak melakukan (= konsekuensi tidak enak yang membuatnya menghindar dari melakukan sesuatu), maka sebenarnya acara hukuman ini memiliki tempat terhormat: sebagai lahan kita belajar. Dan dengan sendirinya kita  juga memperlakukan si terhukum sebagai sesuatu yang membawa kebaikan. Tidak berarti kita menafikan kesalahannya, tapi menerima bahwa kesalahannya itu membawa blessing in disguise yang harus kita hargai pula.

Kalau sekarang banyak kekecewaan dan rasa diperlakukan tidak adil yang muncul dari hukuman cambuk ini, saya melihat hal ini sebagai kesalahan kemasan dan promosi. Bukan kesalahan dari “produk” itu sendiri. Tidak ada yang salah dengan hukumannya itu sendiri. Yang salah mungkin adalah pelaksanaannya. Yang kurang tepat mungkin adalah cara pandang kita terhadap suatu hukuman.

Sejauh ini memang saya masih melihat ada kesenjangan antara promosi dan kemasannya. Para petinggi Aceh mempromosikannya sebagai bagian dari menegakkan syariah Islam di Aceh. Tapi mereka mengemasnya sebagai suatu ritual protokoler yang (maaf) mungkin agak jauh dari esensi hukuman itu sendiri. Hukuman ini dikemas menjadi tontonan (yang memiliki kandungan politik). Hukuman ini dipromosikan sebagai bentuk rasa percaya penduduk Serambi Mekah itu pada ajaran agamanya. Tapi, pelaksanaannya lebih menyerupai suatu ajang memamerkan bahwa mereka mengikuti ajaran tersebut. Jika kita percaya, kita tidak usah pameran bukan? Jalankan saja hukuman itu, tidak perlu didahului berbagai kata sambutan seperti yang dilakukan kemarin. Jika kita percaya, maka kita tahu bahwa Tuhan tidak menginginkan kita menyiksa sesama makhluk hidup, dan bahwa memperlama/menunda pelaksanaan (apalagi demi sekedar kata pengantar) pada dasarnya adalah suatu siksaan psikis. Toh, kalau mereka memang ingin menggunakan kata sambutan, hal itu bisa dilakukan setelah pelaksanaan hukuman. Si terhukum tidak perlu mendengarkan dan menunggunya, dengan segala kecemasan yang mendera tentang bagaimana tubuhnya menerima hukuman. Hey, we are going to flog him, not to award him! There’s no need to prolong his anxiety!

Saya tidak paham benar bagaimana petinggi2 Aceh memilih algojonya. Tapi saya harapkan pemilihan algojo ini mendapat perhatian yang paling utama. Jangan sampai mereka mendapatkan algojo yang memang kejam, yang memang sadis dan senang membuat si terhukum menderita. Jenis2 orang yang akan melayangkan cambuk sekuat tenaga. Saya berharap algojo adalah orang yang benar2 mengerti tentang keadilan, yang paham bahwa hukuman ini bukanlah untuk menyakiti orang yang tidak pantas lagi dihormati. Karena hanya dengan inilah kita menjamin kemanusiawian pelaksanaannya.

Well, saya tidak menentang penerapan syariah (umumnya) dan hukuman cambuk (khususnya) di mana pun. Untuk Aceh saya ucapkan selamat atas keberaniannya menerapkan hukum ini. Namun, himbauan saya, moga-moga di masa depan kita dapat lebih jeli lagi menangkap apa yang tersirat dari hukum itu, bukan hanya menerapkan yang tersurat saja. Dengan demikian kita dapat melaksanakan hukum Tuhan tanpa mengabaikan sisi kemanusiaannya.