Wednesday, June 22, 2005

Membandingkan "Apel" dan "Jeruk"

Kemarin gw diprotes sama salah satu teman gw karena bilang bahwa “apel” lebih enak daripada “jeruk”. Katanya, hal itu nggak bisa dibandingkan. Kan keduanya adalah buah yang berbeda; masing-masing punya kelebihan dan kekurangannya sendiri.

Hmm… iya juga ya, masing-masing punya kelebihan dan kekurangan sendiri. Dan kita memang nggak bisa menuntut “apel” jadi “jeruk”, dan sebaliknya. Kan bakal aneh banget kalo kita maksain makan kulit jeruk, hanya karena kulit apel bisa dimakan. Atau sebaliknya, ngupas apel pakai tangan ala ngupas jeruk. Bisa lecet-lecet tuh tangan, lha wong daging buah apel itu nempel pel sama kulitnya… ;)

Tapi apa iya, bahwa karena mereka berbeda, lalu gw nggak boleh membandingkan?

Hmmm… lantas gw ingat apa yang pernah gw baca di novelnya Umberto Eco: Foucault’s Pendulum. Kutipan itu sebenarnya mengacu pada suatu pergerakan fisik – putaran bumi, orbit tatasurya, lubang hitam. Tapi, rasanya itu berlaku juga untuk pergerakan non-fisik: bagaimana kita memandang “apel” dan “jeruk”.

The Pendulum told me that, as everything moved – earth, solar system, nebulae, and black holes, all the children of the great cosmic expansion – one single point stood still: a pivot, bolt, or hook around which the universe could move

(Eco in Foucault’s Pendulum)

Anggaplah “apel” dan “jeruk” itu adalah benda di tata surya kita. Masing-masing punya orbitnya sendiri, punya gravitasinya sendiri, punya atmosfirnya sendiri. Kita nggak bisa mengharuskan Mars sama dan sebangun dengan Bumi. Kita nggak bisa bilang “Bumi aja bisa, mosok Mars enggak?” dan menuntut agar manusia bisa hidup di Mars, dan marah-marah karena sulit bernafas begitu kita membuka masker oksigen di Mars. Kita nggak bisa menganggap sang pencipta alam semesta tidak adil, karena membuat sesuatu yg berbeda.

Tapi kita bisa menggeser diri kita ke apa yang disebut Eco sebagai “one single point stood still”; sebuah titik dimana kita bisa memandang keduanya secara bersamaan, tanpa terpengaruh oleh gerakan salah satu di antara kedua hal itu. Menghilangkan perbedaan antara Mars dan Bumi, sehingga kedua hal yang tidak setara ini bisa kita perbandingkan.. Kita harus memperbandingkannya karena at the end kita harus memilih yang terbaik buat kita. Kita kan nggak bisa mengkloning diri kita sendiri supaya bisa tinggal di Mars dan Bumi sekaligus toh? Kita harus memilih mau tinggal di Mars, atau di Bumi… ;)

Hehehe… gw rasa, teman gw itu protes karena gw pernah ngomong “Jangan pernah membandingkan satu dengan yang lainnya”. Well… teman, gw inget banget konteksnya gw ngomong gitu karena ada orang yg menuntut Mars jadi Bumi, mengatakan “Coba kalau Mars bisa seperti Bumi”, atau menilai Mars dengan menggunakan Bumi sebagai referensi (lebih tepatnya “Orang Mars itu pasti kakinya sakit, makanya dia nggak bisa jalan cepat waktu berkunjung ke Bumi kemarin” - tanpa mempertimbangkan gravitasi yang berbeda antara kedua planet, hanya mengacu bahwa biasanya kalo dia gak bisa jalan cepat hanyalah karena dia kakinya sakit.... ;)).

Well… I’ve never said anything – yet – about how we should compare Mars and Earth in the context of choosing which planet we should live on… ;) But now I do… ;)

So, teman, hal yang sama juga terjadi pada apel dan jeruk. Ada kalanya kita harus memilih mau apel atau jeruk sebagai pencuci mulut, atau sebagai buah tangan pada orang yang kita jenguk di RS, atau sebagai pohon yang harus kita cangkok. Mungkin perut kita cukup untuk menyantap keduanya, keranjang kita cukup untuk menampung keduanya, atau kebun kita cukup untuk menanam apel dan jeruk sekaligus. Tapi seringkali kita hanya punya satu tempat, dan kita harus memilih. Dan di saat itulah keduanya harus kita bandingkan.

Yang terpenting adalah cara dan tujuan kita membandingkan, serta implementasi dari perbandingan itu. Bukan perbandingannya itu sendiri.

Dan juga jangan lupa: memilih dan menganggap yang satu lebih enak/asyik daripada yang lainnya (sebagai hasil dari perbandingan yg kita lakukan), bukan berarti mengatakan bahwa yang lainnya sama sekali nggak punya kelebihan dibandingkan pilihan kita… ;)

Credit Title: Teknik membuat kutipan samping ala majalah itu gw pelajari sendiri. Tapi gw berhutang inspirasi ke blognya Okke