Wednesday, June 15, 2005

Toko "Pengalaman"


Ada yang pernah membuat boneka sendiri di “Make a New Friend”? Hari Sabtu lalu Ima mendapat hadiah “pengalaman membuat boneka sendiri” di sini dari Eyang Piko-nya. It’s quite fun experience!

Pertama-tama kita disuruh milih sendiri boneka “kosong” di situ. Lalu kita memilih baju, sepatu, suara, asesoris (bola, bunga, tas, dll) untuk si boneka tersebut. Kalau sudah ketemu semua, baru kita mulai mengisinya dengan kapas di mesin yang tersedia. Terserah kita mau seempuk atau sekeras apa bonekanya. Setelah itu, kita masukkan “hati” ke dalam boneka yg sudah berisi kapas sebelum boneka itu diikat rapat. It’s a symbolical action, as if we give the doll a heart to live. Di hati itu kita tuliskan nama si pembuat.

Habis itu, boeka kita “mandikan” dengan angin, supaya bersih dari sisa-sisa kapas. Terakhir, kita pakaikan bajunya dan tak lupa membuat birth certificate untuk boneka ini.

Ima really enjoyed this new experience! Dia membuat dua boneka: satu Eeyore yang diberinya baju seragam penjara (asli! Ada nomornya segala seperti di Gerombolan si Berat), dan satu lagi boneka beruang pink yg dikasih rok jeans dengan aksen bunga pink dan sepatu pink juga.

Hmmm… I like the idea! Mereka ‘seolah-olah’ menjual boneka. Tapi sebenarnya, yang dijual adalah emosi. Pengalaman membuat sendiri bonekanya menimbulkan sensasi seolah-olah boneka itu adalah “anak yang dilahirkannya sendiri”. Ini adalah suatu analogi yang luar biasa untuk seorang anak perempuan yg mengidentifikasikan diri pada peran ibu.

Lalu memasukkan “hati” ke dalam boneka yang masih setengah jadi. Ini adalah suatu tindakan sepele, yang buat orang-orang dewasa nggak bermakna apa-apa. Tapi coba letakkan itu pada konteks anak perempuan kecil yg masih dalam tahap “make believe play”. She really feels that she gives her heart! Ini menciptakan emotional bond antara si gadis cilik dengan si boneka.

Tahapan-tahapan selanjutnya juga mungkin akan berkesan ritual; memandikan boneka yang baru jadi, memakaikan baju, memilih nama, dan membuatkan akte kelahirannya. Tapi sekali lagi, kita bicara di dunia anak-anak. Sensasi membuat boneka dari yang “tiada” menjadi “ada”, bukankah itu hanya merupakan skala kecil dari sensasi yg sama di dunia dewasa: sensasi yg muncul ketika yudisium terakhir “melahirkan” kita menjadi sarjana baru setelah tahun-tahun panjang penuh perjuangan, sensasi ketika melihat dan menggendong anak kita pertama kali setelah bulan-bulan panjang penuh harapan dan kecemasan?

So, gw sendiri ikut menikmati pengalaman Ima Sabtu lalu. Sebagai psikolog, gw senang bahwa ilmu gw yg biasa disebut sebagai “ilmu menara gading” bisa diterapkan dalam kehidupan nyata. Sebagai ibu, gw juga senang karena dapat kesempatan bermain peran membimbing anak gw menciptakan sesuatu; sebuah peran yg akan terus menerus gw jalani dalam seluruh hidup gw sebagai ibu.

Satu yg kurang dari pengalaman gw kemarin: sepertinya si pemilik toko tidak melatih karyawannya dengan baik. Ada salah satu karyawan yang maunya membikinkan boneka para customer-nya. Dia tidak mengajak si pembeli menikmati pengalaman itu, tapi berusaha untuk selalu membantunya. Well… kalau boneka itu dibuatkan oleh penjualnya, lalu sebenarnya apa bedanya dengan toko boneka biasa yg menjual boneka jadi? Lha wong yang dijual di sini adalah emosi yg didapat dari pengalaman, kok malah pengalaman itu dihilangkan… ;)

(***Speaking of the devil, apa yg dilakukan oleh si penjual itu juga mungkin bagian dari kenyataan di dunia ini. Perguruan tinggi yang meniadakan skripsi, dokter-dokter kandungan yang menyarankan operasi cesar walaupun tidak ada indikasi medis, dan sebagainya. Pengalaman-pengalaman yg direduksi menjadi sekedar hasil akhir, yg membuat kita kehilangan makna terhadap apa yg kita raih: sarjana-sarjana yg tidak dapat menerapkan ilmunya dengan baik, ibu-ibu yang tidak bisa terlalu attached dengan anaknya***)

Well… life is a matter of choice. Adalah hak orang untuk memilih mendapatkan pengalaman, atau sekedar mendapatkan hasil akhir. Kalau buat gw pribadi sih manis-tidaknya hasil akhir berbanding terbalik dengan manis-tidaknya pengalaman yg mendahuluinya. Hasil akhir nggak bermakna kalau hanya datang sebagai sesuatu yang terberi. Tapi tentunya gw nggak bisa memaksa semua orang seperti gw kan?

Anyway, ini adalah foto Ima di hari ulang tahunnya, dengan seluruh hadiah yang didapatnya. Sitting on the top were the two dolls she created the day before. Moga-moga, pengaturan ini akan juga berlaku untuk hidup Ima yang sesungguhnya: semakin besar usaha yang dilakukannya untuk mendapatkan sesuatu, semakin “tinggi” dia meletakkan hasil itu dalam skala penghargaannya.

Happy 6th Birthday, My Little Girl!