Saturday, June 18, 2005

Ngomentarin II-2 ala AFI

Cyber-bro gw, E onE, pasti hari ini sudah meluncurkan review-nya tentang Spektakuler tadi malam. Daripada gw komentarin di kolomnya dia, mendingan gw tulis di sini aja. Biar panjangan dikit… ;).

Banyak yang bilang Meutia Kasim komentarnya bitchy. Tapi gw suka tuh komentarnya dia… hehehe… Menurut gw komentarnya dia yg paling “kena”. Komentarnya Indra selalu mengingatkan gw tentang seorang guru yang “pintar”, tapi gak bisa bagi kepintarannya ke orang lain. Jadi, hanya bisa bilang muridnya salah, tanpa bisa ngasih arah perbaikan. Titi, komentarnya lumayan, benar2 terdengar seperti penyanyi berpengalaman (bukan ahli seni suara), tapi… sebagai mantan anggota Elfa’s, sebenarnya gw mengharapkan dia bisa berkomentar lebih dalam dan lebih ke arah perbaikan yg jelas.

Anyway, komentator favorit gw masih Mbak Iie, yg menurut gw bisa menyatukan antara ahli seni suara dan penyanyi berpengalaman, plus penikmat musik. Dan hari ini gw mo ngomentarin Spektakuler tadi malam ala Mbak Iie:

1.      VIRA: “Dalam menyanyi kita ini berbicara, bukan hanya sekedar menyampaikan nada-nada yang bagus. Kamu harus mengerti lagumu bicara tentang apa. Kalau memang patah hati, memang tak ingin berpisah, tunjukkan dengan matamu”.

2.      HARRY: “Dari teknik bernyanyi sudah lebih baik dari minggu lalu. Minggu lalu kamu terlalu banyak memakai ornamentasi sehingga terasa mengganggu. Tadi sudah jauh lebih baik. Tapi lain kali kamu mungkin bisa meningkatkan aksi panggung supaya lebih sesuai dengan lagunya, sehingga pesan kamu kepada penonton benar-benar sampai. Kalau kita bicara “tanda-tanda jatuh cinta” kita juga harus kelihatan jatuh cinta, jangan mata kemana-mana”

3.      GLENN: “Saya menghargai kamu tidak terjebak dengan penyanyi aslinya, salah satunya dengan mempercepat tempo. Tapi hari ini saya terpaksa mengeluarkan kata-kata APA PENONTON? (tangan melambai ke belakang, dan penonton berteriak, “PITCH CONTROL”). Ya! Pitch Control. Coba kamu pelajari lagi teknik breathing dengan Mbak Ubiet”

4.      MONITA: “Monita, sekali lagi, menyanyi itu berbicara pada penonton. Suara kamu bagus, tapi jiwanya nggak ada. Kurang centil. Padahal lagu ini lagu yang sangat ringan. Coba lebih centil, seperti gadis yang baru menerima surat cinta yang pertama”

5.      FIRMAN: “Kalau soal funky sih memang Firman deh rajanya! Orang seperti kamu gampang dijual! Tapi saya ingin mengingatkan, dalam menyanyikan lagu berbahasa asing, pelajari lafal pengucapannya dengan baik” (sorry ya, Dit, komentar Mbak Iie buat kamu kupinjem… hehehe… Ngomong2, gw jadi inget, gw belum pernah denger Adit nyanyi lagu Inggris solo ya? Baik di AFI-2 maupun KMB)

6.      MAYA: “Suara kamu bagus. Tapi seperti komentar-komentar saya tadi, dalam bernyanyi itu kita berbicara pada penonton. Apalagi kalau kita menyanyi live”  

7.      MIKE: “Mike, tidak mudah bagi seorang penyanyi pria untuk menyanyikan lagu penyanyi wanita. Tapi kamu melakukannya dengan sangat baik malam ini”

8.      JUDIKA: “Sebagai penyanyi kita harus siap membawakan lagu apa pun. Kamu punya cengkok Melayu yang bagus dan itu menjadi ciri khas kamu. Tapi bukan berarti ciri khas itu harus selalu dimunculkan. Alat kontrol dari seorang penyanyi adalah telinga kita sendiri. Cobalah mendengarkan suara kamu sendiri, fokus pada suara kamu, sehingga kamu tahu di bagian mana yang harus diperbaiki”.

9.      YUDI: “Seorang penyanyi harus menjadi dirinya sendiri. Kamu harus bisa menaklukan lagu, jangan sampai kamu yang dipimpin oleh lagu. Dan hari ini kamu terlalu mirip dengan penyanyi aslinya”

So… call me “kampungan”, tapi semakin hari gw memang makin hari memang makin yakin bahwa AFI lebih asyik daripada II (setidaknya buat gw pribadi… ;)).

Di AFI, komentar yang diberikan berupa pengarahan apa yang harus dilakukan, bukan berupa sekedar kritik

Di AFI, penyanyi diajarkan untuk menghibur dalam tampilan total, bukan hanya menjadi penyanyi yg mendendangkan lagu merdu (gw inget mertua gw pernah bilang gini, “Kalau tampil di panggung, atau di TV, gerakan dan tampang itu sama pentingnya sama suara. Kalau hanya mau dengar suara bagus, kita dengerin radio aja. Jadi bintang radio aja, jangan jadi penyanyi di TV”)

Di AFI, penonton dilibatkan sebagai teman bukan sekedar donatur. Sebagai teman, kita diajak ikut terlibat dengan keseharian para akademia, melihat kepribadian mereka secara utuh, berempati dengan kesulitan-kesulitan yang mereka hadapi. Sebuah keterikatan emosional dibentuk antara penonton dan akademia, sehingga dukungan mengalir karena keterikatan itu (kalau di marketing, ini adalah salah satu strategi yang tepat untuk membentuk consumer loyalty)

Di AFI, akademia diajar menjadi “saudara”. Dikarantina berbulan-bulan selama masa belajar membuat mereka terkondisi untuk fokus pada pelajarannya. Dan itu membuat lekatnya rasa persaudaraan karena unsur kedekatan dan kesamaan nasib. Mereka bersaing, tapi mereka juga teman. Dan dampaknya sangat baik untuk akademia itu sendiri maupun dari segi bisnis. Dari segi akademia, mereka mendapatkan lebih dari sekedar pelajaran dan ketenaran; mereka mendapatkan SAUDARA, TEMAN, TEMAN BERBAGI. Dari segi bisnis… well… kalau sudah jadi “saudara”, tentu mereka lebih hati2 untuk mengambil keputusan yg bisa melukai hati saudaranya kan? Mereka nggak lagi lihat sekedar untung-rugi, tapi ada unsur emosional memperhatikan ‘saudaranya’.

Mungkin alasan terakhir itu yang mendasari mengapa Helena dan Joy bisa hengkang HANYA karena tidak puas dengan kontraknya. Kalau kontrak merugikan gw, ngapain gw bertahan? Akibatnya sama kontestan lain, aaaah… itu mah urusan kontestan lainnya. Kami kan hanya teman biasa. Business is business. Di AFI… hmm… hanya Mawar yang terlempar dari kancah itu. Gw yakin beberapa akademia banyak yg nggak puas juga, tapi… sebagian besar dari kita kan nggak berantem urusan uang dengan saudara kan? Dalam berhubungan dengan saudara, kadang kita mentolerir kerugian demi keutuhan keluarga. “He ain’t heavy, he’s my brother”, begitu kata sebuah lagu… ;)