Wednesday, June 08, 2005

Tentang Seorang Anak yang Mati

Sebuah message gw terima di mailbox gw, forwardan dari teman gw Luki. Sebuah tulisan yg menjungkirbalikkan emosi gw:

Salemba, Warta Kota

PEJABAT Jakarta seperti ditampar. Seorang warganya harus menggendong mayat anaknya karena tak mampu sewa mobil jenazah.

Penumpang kereta rel listrik (KRL) jurusan Jakarta-Bogor pun geger Minggu (5/6). Sebab, mereka tahu bahwa seoran pemulung bernama Supriono (38 thn) tengah menggendong mayat anak, Khaerunisa (3 thn). Supriono akan memakamkan si kecil di Kampung Kramat, Bogor dengan menggunakan jasa KRL. Tapi di Stasiun Tebet, Supriono dipaksa turun dari kereta, lantas dibawa ke kantor polisi karena dicurigai si anak adalah korban kejahatan. Tapi di kantor polisi, Supriono mengatakan si anak tewas karena penyakit muntaber. Polisi belum langsung percaya dan memaksa Supriono membawa jenazah itu ke RSCM untuk diautopsi.

Di RSCM, Supriono menjelaskan bahwa Khaerunisa sudah empat hari terserang muntaber. Dia sudah membawa Khaerunisa untuk berobat ke Puskesmas Kecamatan Setiabudi. "Saya hanya sekali bawa Khaerunisa ke puskesmas, saya tidak punya uang untuk membawanya lagi ke puskesmas, meski biaya hanya Rp 4.000,- saya hanya pemulung kardus, gelas dan botol
plastik yang penghasilannya hanya Rp 10.000,- per hari". Ujar bapak 2 anak yang mengaku tinggal di kolong perlintasan rel KA di Cikini itu. Supriono hanya bisa berharap Khaerunisa sembuh dengan sendirinya. Selama sakit Khaerunisa terkadang masih mengikuti ayah dan kakaknya, Muriski Saleh (6 thn), untuk memulung kardus di Manggarai hingga Salemba, meski hanya terbaring digerobak ayahnya.


Karena tidak kuasa melawan penyakitnya, akhirnya Khaerunisa menghembuskan nafas terakhirnya pada Minggu (5/6) pukul 07.00.Khaerunisa meninggal di depan sang ayah, dengan terbaring di dalam gerobak yang kotor itu, di sela-sela kardus yang bau. Tak ada siapa-siapa, kecuali sang bapak dan kakaknya. Supriono dan Muriski termangu. Uang di saku tinggal Rp 6.000,- tak mungkin cukup beli kain kafan untuk membungkus mayat si kecil dengan layak, apalagi sampai harus menyewa ambulans. Khaerunisa masih terbaring di gerobak. Supriono mengajak Musriki berjalan menyorong gerobak berisikan mayat itu dari Manggarai hingga ke Stasiun Tebet, Supriono berniat menguburkan anaknya di kampong pemulung di Kramat, Bogor. Ia berharap di sana mendapatkan bantuan dari sesama pemulung.

Pukul 10.00 yang mulai terik, gerobak mayat itu tiba di Stasiun Tebet. Yang tersisa hanyalah sarung kucel yang kemudian dipakai membungkus jenazah si kecil. Kepala mayat anak yang dicinta itu dibiarkan terbuka, biar orang tak tahu kalau Khaerunisa sudah menghadap Sang Khalik. Dengan menggandeng si sulung yang berusia 6 thn, Supriono menggendong Khaerunisa menuju stasiun. Ketika KRL jurusan Bogor datang, tiba-tiba seorang pedagang menghampiri Supriono dan menanyakan anaknya. Lalu dijelaskan oleh Supriono bahwa anaknya telah meninggal dan akan dibawa ke Bogor spontan penumpang KRL yang mendengar penjelasan Supriono langsung berkerumun dan Supriono langsung dibawa ke kantor polisi Tebet. Polisi menyuruh agar Supriono membawa anaknya ke RSCM dengan menumpang

ambulans hitam.


Supriono ngotot meminta agar mayat anaknya bisa segera dimakamkan. Tapi dia hanya bisa tersandar di tembok ketika menantikan surat permintaan pulang dari RSCM. Sambil memandangi mayat Khaerunisa yang terbujur kaku. Hingga saat itu Muriski sang kakak yang belum mengerti kalau adiknya telah meninggal masih terus bermain sambil sesekali memegang tubuh adiknya. Pukul 16.00, akhirnya petugas RSCM mengeluarkan surat tersebut, lagi-lagi Karena tidak punya uang untuk menyewa ambulans, Supriono harus berjalan kaki menggendong mayat Khaerunisa dengan kain sarung sambil menggandeng tangan Muriski. Beberapa warga yang iba memberikan uang sekadarnya untuk ongkos perjalanan ke Bogor. Para pedagang di RSCM juga memberikan air minum kemasan untuk bekal Supriono

dan Muriski di perjalanan.


Psikolog Sartono Mukadis menangis mendengar cerita ini dan mengaku benar-benar terpukul dengan peristiwa yang sangat tragis tersebut karena masyarakat dan aparat pemerintah saat ini sudah tidak lagi perduli terhadap sesama. "Peristiwa itu adalah dosa masyarakat yang seharusnya kita bertanggung jawab untuk mengurus jenazah Khaerunisa. Jangan bilang keluarga Supriono tidak memiliki KTP atau KK atau bahkan tempat tinggal dan alamat tetap. Ini merupakan tamparan untuk bangsa Indonesia", ujarnya.

Koordinator Urban Poor Consortium, Wardah Hafidz mengatakan peristiwa itu seharusnya tidak terjadi jika pemerintah memberikan pelayanan kesehatan bagi orang yang tidak mampu. Yang terjadi selama ini, pemerintah hanya memerangi kemiskinan, tidak mengurusi orang miskin kata Wardah.

*** mohon maaf karena telah mengutip ulang berita ini***

Yang pertama membuat gw sedih adalah kecurigaan masyarakat bahwa anak itu adalah korban kejahatan. Separah itukah krisis kepercayaan di negeri kita? Kalau Supriyono disuruh turun karena mengganggu ketertiban masyarakat, menggunakan KRL untuk hal yang tidak seharusnya, gw nggak akan terlalu sedih. Tapi dipaksa turun karena dicurigai membawa korban pembunuhan? Begitu sulitkah kita percaya pada orang lain? Seorang ayah yang kehilangan anak tentu punya ekspresi yang berbeda dengan seorang penjahat yang membawa korban pembunuhannya. Walaupun si pelaku bisa berpura-pura sedih, tapi akan ada gesture yg membedakannya dari ayah yang benar-benar kehilangan anak. One way or another, we’ll be able to recognize a grieving father in Supriyono. “Percaya” atau “curiga” adalah pilihan yang harus dibuat berdasarkan apa yg kita dengar dari hati kita, atau kesimpulan yang ditawarkan dari pemikiran kita. Sebagian orang punya hati yg peka, yang dapat membedakan apa yang harus dipercayai dari apa yg harus dicurigai. Sebagian orang lagi bertahan pada kesimpulan logisnya pada apa yg ditawarkan oleh data sensoris.

It’s okay which route you want to take, karena yg penting adalah mendapatkan kebenaran yg hakiki. Nah… yang menjadi masalah pada kasus ini, orang cenderung berlaku setengah2: dia tidak mendengarkan kata hatinya, tapi juga nggak memanfaatkan rasionya to the full limit. Akhirnya… dia mencurigai apa yang seharusnya dia percayai. Krisis kepercayaan yg muncul karena manusia tidak bisa mengontrol hati dan pikirannya, bukan karena lingkungan tidak lagi terkendali. Ini yang akan menghancurkan peradaban manusia.

Hal kedua yang membuat gw sedih adalah: seorang anak harus meninggal karena orang tuanya tidak sanggup mempertahankan nyawanya, karena orang tuanya tidak mampu membayar biaya pengobatan. Kepada siapa gw harus marah? Pada pemerintah yang tidak bisa memenuhi janjinya memberikan pelayanan pengobatan gratis pada Ga-Kin? Kepada rumah sakit yang tidak mau menerima pasien tanpa uang deposit yang jelas? Kepada masyarakat yang tidak bisa menjaga kebersihan lingkungan, sehingga virus muntaber mengganas?

Atau kepada Supriyono yang berani memiliki anak tanpa memperhitungkan resikonya?

Perasaan gw memang bercampur aduk. Di satu sisi, gw kasihan pada Supriyono yang harus kehilangan anak, hanya karena dia tidak mampu mencukupi kebutuhan si anak, dan setelah meninggalpun masih tidak mampu memuliakan jenazah anaknya dengan layak. Betapa sakitnya hati seorang ayah yang tidak mampu menjaga titipan Tuhan.

Tapi… di sisi lain, gw juga marah pada Supriyono. How could he father a child without calculating whether he will be capable to take care – materially and immaterially – of her? Anak adalah titipan Tuhan. Tugas yang harus kita selesaikan. Sebelum memutuskan untuk menerima tugas itu, kita harus berhitung matang-matang. Jangan terima suatu tugas untuk kemudian berkata, “well, I give up!”. Jangan pernah menerima sesuatu dan “let the fate decide”.

Memang, pada akhirnya kita harus menerima bahwa kalau Tuhan menghendaki, Dia akan mengambil si anak kembali. Tapiii… paling tidak, sebelum kehendak Tuhan itu terjadi, kita harus bisa menunjukkan pada Tuhan bahwa kita benar-benar berusaha; bahwa kita sudah mengupayakan yg terbaik bagi anak kita, bahwa kita sudah menyiapkan (paling tidak) hal-hal yang mendasar buat dia. Di kasus anak sakit, paling tidak kita sudah mempersiapkan/menabung sejumlah uang untuk membawanya ke dokter, atau paling tidak berusaha meminjam uang jika persiapan kita benar-benar tidak cukup. Dan itu yang membuat gw marah pada Supriyono: how could he bring her daughter down the street and wishing that “she would recover by herself”?

Ya, ya, deep inside I understand that I cannot expect Supriyono to have that “elaborated consideration of risk and pleasure” before making a decision to marry a girl – and later to father a child. Dan itu yang membuat perasaan gw campur aduk: seorang anak harus mati karena orang tuanya tidak mampu berpikir panjang, dan karena penguasa di masyarakat tempat orang tuanya itu tinggal tidak mampu (atau tidak mau?) melakukan suatu perbaikan untuk membuat orangtua2 ini mampu berpikir panjang. Dengan kata lain, seorang anak harus menjadi korban atas kesalahan yang dibuat oleh orang tuanya, dan oleh masyarakat.

Di Kompas Senin lalu ada yg bicara soal “anak sebagai property”. Seharusnya, fenomena seperti inilah yang disorot, bukan tentang Rani Djody yang kebingungan menjawab pertanyaan tentang ayahnya, atau Gina yang berorasi membela ayahnya.