Monday, June 20, 2005

Bagaimana Saya Melihat "Sepatu Kaca Cinderella"

Sejak kecil saya sangat tertarik dengan sepatu kaca Cinderella. Ada dua misteri yang melingkupi benda bersejarah dalam kisah klasik ini:

1. Kenapa, ketika semua kembali menjadi seperti semula pada tengah malam, sepatu kaca itu tetap menjadi sepatu kaca?

2. Kenapa tidak satu pun gadis di seluruh negeri yang bisa mengenakan sepatu Cinderella dengan pas?

Saya ingat kedua pertanyaan ini pernah menjadi pain in the ass untuk ibu saya, karena saya tidak pernah puas dengan jawaban beliau. Kedua pertanyaan ini juga pernah membuat jengkel suami saya (waktu itu masih jadi pacar) dan membuatnya berkata: Hey, Non, tidak semua-mua harus ada penjelasan logisnya! Nikmati aja, namanya juga cerita anak2!

Tak perduli reaksi mereka, saya selalu mencari jawabnya. Dan ternyata saya menjawabnya secara berbeda dari tahun ke tahun:

Di usia pra TK:

Semua adalah tentang sihir. Ibu peri memang menyihir sepatu itu supaya tetap tidak berubah, supaya pangeran bisa mencari Cinderella dengan sepatu itu. Tidak ada gadis lain yang bisa mengenakan sepatu itu dengan pas karena pengaruh sihir ibu peri. Setiap kali ada gadis yang mencoba, sepatu itu mulur atau mungkret (artinya membesar dan mengecil). Hanya ketika Cinderella memakainyalah sihir itu tertangkal.

Di usia awal SD:

Buat saya yang masih belum mampu berpikir abstrak, penjelasannya sangat konkrit: hukum kekekalan benda. Sepatu kaca itu tetap menjadi sepatu kaca, karena yang sebelah tertinggal di tangga istana. Logikanya: kalau naik sepeda, lalu rodanya hilang satu, kan sepedanya nggak bisa dinaikin untuk pulang.

Tidak ada satupun gadis yang bisa memakainya, karena sepatu itu dibuat khusus untuk kaki Cinderella. Pas sampai ke cm dan mm-nya. (tentu saja saya waktu itu belum bisa berpikir jauh KENAPA gadis yang punya sepatu satu nomor di bawahnya nggak bisa pakai dengan pas, seperti kalau ukurannya 36,5 pasti nggak terlalu bermasalah pakai nomor 37)

Tahun-tahun awal di Fakultas Psikologi:

Ini periode di mana saya sedang tergila-gila dengan ilmu baru: psikologi dan filsafat yang mendasarinya. Jadi tak heran jika saya punya versi yang rada2 berbau kedua ilmu itu: MUNGKIN semua yang terjadi hanyalah merupakan PERSEPSI.

Jadi, sebenarnya gaun pestanya nggak berubah jadi butut, tapi karena Cinderella memikirkan peringatan ibu peri, maka dia mengalami delusi seolah2 semua kembali jadi butut. Demikian pula dengan kasus sepatu. Karena pangeran sudah kadung jatuh cinta, dia tidak bisa melihat ada gadis lain yang juga bisa pakai sepatu itu kalau gadis itu tidak mirip dengan putri-yang-tadi-malam

Sekarang:

Sekarang ini saya belajar untuk lebih tenang, lebih pakai hati, lebih memperhatikan tanda-tanda di sekitar kita. Dan ketika saya mempertanyakan kedua hal tadi, amazingly jawabannya sudah berubah menjadi lebih filosofis lagi. Sepatu itu adalah tanda-tanda alam yang disiapkan untuk mempersatukan Cinderella dan sang Pangeran. Oleh karena itu ia tidak berubah ketika semuanya berubah, karena tugasnya belum selesai, bahkan baru saja dimulai: mempersatukan Cinderella dan Pangeran.

Tidak ada satupun gadis yang bisa mengenakan sepatu itu, karena semua sudah diatur. Dan seperti semua yg telah diatur, tidak ada satu pun yang bisa menggagalkannya. Kita selalu akan bisa bilang bahwa harusnya gini, harusnya gitu, tapi sering terjadi hal2 yg di luar logika kita karena ada skenario yang sudah mengaturnya.

Well, kisah Cinderella itu hanyalah contoh dari begitu banyak kejadian nyata di kehidupan ini. Bukan hanya kisah Cinderella yang bisa diinterpretasikan secara beda, tetapi semua hal di dunia ini. Life is a matter of choice. And sometimes, the choice is about how we should see the problem.

**mungkin beberapa tahun lagi saya akan kembali dengan sudut pandang yang baru**